Feature

[Prung!] Pertunjukan Wayang Golek “Semar Gugat” oleh Dalang Opick Sunandar Sunarya

Deskripsi Pertunjukan
Pentas wayang golek tradisional merupakan tontonan populer di kalangan masyarakat Jawa Barat, khususnya warga kebanyakan. Karena memiliki akar yang mendalam dan dekat dengan keseharian warga, pertunjukan wayang golek tradisional kerap digunakan sebagai media penyampai pesan untuk khalayak ramai. Di sisi lain masyarakat kebanyakan juga kerap menggunakan karakter dan kisah di dunia perwayangan sebagai referensi ataupun acuan nilai-nilai yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pertunjukan wayang golek tradisional dipandang sebagai media yang efektif dalam membentuk opini dan persepsi tertentu di kalangan masyarakat luas.

Pentas wayang golek “Semar Gugat” secara khusus digelar untuk kegiatan peringatan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) 2015. Pertunjukan ini akan digelar di Sasana Budaya Ganesa ITB pada Kamis, 10 Desember 2015, pukul 21.00 – selesai. Selain menjadi media penyampai 9+1 Nilai Integritas Warga Bergerak, pagelaran ini juga diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HAKI 2015 yang akan berlangsung sampai dengan tanggal 11 Desember 2015. Selain lakon yang ditulis secara khusus, pertunjukan ini juga akan diisi dengan dialog interaktif antara Punakawan dengan para penonton. Keseluruhan pertunjukan akan dipandu oleh dalang Opick Sunandar Sunarya, seorang dalang muda yang aktif mengembangkan seni wayang golek tradisional di Jawa Barat.

Pertunjukan ini juga rencananya akan disiarkan secara langsung melalui media internet (streaming). Melalui pertunjukan ini, diharapkan terjadi proses diseminasi informasi sekaligus refleksi atas 9+1 Nilai Integritas Warga Bergerak di kalangan masyarakat kebanyakan. Selain itu, pagelaran ini juga diharapkan menjadi media yang ikut membantu pembentukan opini publik terkait dengan upaya perlawanan terhadap kejahatan korupsi. Melalui aktivitas yang secara langsung melibatkan para seniman pertunjukan wayang tradisional dan khalayak umum, diharapkan peringatan HAKI 2015 dapat melibatkan masyarakat secara luas dan memicu terbentuknya kesadaran baru.

semar_gugat_small

Sinopsis

“Sanghyang Ismaya dan Sanghyang Antaga dengan terpaksa harus terusir dari Suralaya karena sebuah dosa…”

Selama berabad-abad dua Dewa Kakak beradik itu menjalani hukuman berat dengan cara harus mengabdi kepada Raja-Raja di Marcapada. Bedanya, Ismaya mengabdi pada Raja-Raja adil sedangkan Antaga mengabdi kepada Raja-Raja tak berhati mulya.

Hukuman yang mengatas namakan pengabdian sungguh sangat memberatkan, kejadian ini sangat dirasakan Ismaya yang ketika itu menjalani hukuman. Nama, Wajah dan keadaannya haruslah berubah. Menjadi Semar yang Jelek dan Sengsara.

Dalam menjalankan hukuman itu Semar tidaklah sendirian. Ada “Anak-anaknya” yang menemani. Mereka adalah Astrajingga dan Dawala, juga Gareng dan seorang Istri cantik dan setia, yang bernama Setia Ragen.

Kesengsaraan itu lama-lama membuat jenuh anak-anaknya. Mereka lalu mempengaruhi bapaknya untuk mengubah keadaan agar hidup mereka lebih layak bahkan kaya raya, supaya dapat merasakan bagaimana terlepas dari kesengsaraan. Mereka kemudian enggan mengabdi lagi kepada siapapun, termasuk kepada Pandawa yang selama ini di asuhnya.

Semula Semar menolak, karena sangat bertentangan dengan sumpah juga kesanggupan awal. Namun gesekan terus menerus dilontarkan sehingga luluhlah ketegaran Semar. Ia lalu menuruti semua keinginan anak-anaknya dan mengajak mengheningkan cipta untuk memohon kepada yang maha kuasa agar keinginan anak-anaknya dapat terlaksana.

Hujanpun turun begitu deras. Kilat menghiasi langit, halilintarpun bersahutan seperti sebuah nyanyian kematian yang menghiasi langit Kampung Tumaritis. Tiba- tiba langit menjadi terang. Gubuk reyot menghilang. Bunga-bunga berkembang menyebarkan wewangian seakan menyambut lahirnya keadaan yang indah sekaligus megah.

Semua berubah secepat kilat. Semar bermahkota dan duduk diatas Singgasana, begitupun Astrajingga dan Dawala. Semua bermahkota seperti layaknya Raja. Meski ada yang tak berubah, “wajah” ya wajah!! Tubuh mereka juga sama sekali tak berubah masih seperti beberapa menit yang lalu, tetap saja Jelek.

Lalu merekapun tertawa melihat keadaan diri masing-masing. Gubuk reyot telah berubah menjadi istana megah. Pesawahan menjadi balairung. Kakuspun menjadi pemandian mewah.

Semar lalu menawarkan apakah keadaan harus dikembalikan ke semula? Astrajingga dan Dawala menolak keras. Mereka mengatakan ini adalah kemenangan, kenikmatan, dan tentunya anugrah dalam hidup. Semar hanya mengiyakan tanpa membeberkan sebab juga akibat dari perubahan yang mereka alami. Lalu mereka berembuk untuk merubah nama kampungnya. Terjadilah kesepakatan sebuah nama pengganti nama kampung kumuhnya yang semula adalah Tumaritis lalu menjadi “TUMARITIS ESTATE”.

Semar, Astrajingga dan Dawalapun mengimbuhkan gelar didepan namanya menjadi Prabu Semar, Arya Patih Astrajingga, dan Senapati Agung Dawala. Nun jauh disana, tepatnya di Suryalaya Swargaloka, hawanya menjadi panas. Kawah Candradimuka mendadak mendidih juga mengeluarkan lahar panas. Bunga Swarga yang terkenal indah dan wangi menjadi layu lalu kering dan mengeluarkan aroma busuk.

Keadaan ini membuat panik semua para Dewa. Sang Batara Guru lalu memeriksa penyebabnya. Ia begitu kaget ketika ternyata semua diakibatkan karena adanya perubahan kondisi dan situasi di Kampung tempat bernaungnya Semar beserta keluarga.

Untuk menghentikan sekaligus melawan jelas bukanlah pekerjaan mudah. Karena terlalu beresiko fatal, akhirnya Batara Guru memerintahkan kepada Kerajaan Amarta untuk menindak Semar dan keluarga yang sebagai rakyat sudah dianggap memberontak, dan sebagai pengasuh dianggap penghianat besar.

Lalu para pengagungpun datang untuk membuktikan dan menghentikan keadaan, serta berupaya untuk mengembalikan fungsi Semar sekeluarga sebagai pengasuh kembali. Namun semua ditolak dengan berbagai alasan sehingga terjadilah perselisihan hebat. Semua takluk karena kesaktian Prabu Semar, Arya Patih Astrajingga dan Senapati Agung Dawala bukanlah lawan yang sebanding.

Sebagai titisan Wisnu Batara, Kresna berinisiatif untuk menuntaskan perselisihan antara Pandawa dengan pengasuhnya. Rupanya Arya Patih Astrajingga dan Senapati Agung Dawala selain melawan juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menyinggung perasaan sang Titising Wisnu.

Kresnapun murka. Ia lalu mengubah dirinya menjadi Brahala Sewu dan bertriwikrama bahwa semua yang ada akan dihancurkan. Namun sekali lagi semuanya sia sia, yang dihancurkan dalam sekejap kembali lagi menjadi utuh seperti tak tersentuh apapun. Jelas, ini menjadi olok-olok Arya Patih dan Senapati Agung.

Keadaan seperti ini memaksa Batara Guru untuk turun langsung ke lapangan. Batara Guru lalu memohon agar Semar mengembalikan keadaan seperti semula, karena akibat dari perubahan tersebut adalah kerusakan di alam Swargaloka. Dengan pengakuan dan permohonan Batara Guru, hati Prabu Semarpun luluh. Ia lalu berjanji akan segera mengembalikan keadaan seperti semula asal Batara Guru selaku pemimpin di tiga alam, yaitu jagat Mayapada, Madyapada dan Marcapada berlaku adil, bijaksana, dan hukum berlaku bagi siapa saja tanpa terkecuali.

Namun begitu Prabu Semar tidak begitu saja menuruti permohonan Batara Guru. Sebelum berubah dan mengembalikan keadaan seperti semula, Prabu Semar menetapkan beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh Batara Guru dan semua makhluk yang ada di jagat Mayapada, Madyapada dan Marcapada. Adapun syarat yang ditentukan oleh Prabu Semar adalah pelaksanaan 9 + 1 nilai integritas Warga Bergerak yang terdiri dari beberapa nilai berikut ini:

  1. Jujur
  2. Peduli
  3. Mandiri
  4. Disiplin
  5. Tanggung jawab
  6. Kerja keras
  7. Sederhana
  8. Berani
  9. Adil
  10. Sabar

Batara Guru minta maaf dan segera pamit setelah menyanggupi semua permintaan Prabu Semar. Prabu Semar beserta Arya Astrajingga dan Senapati Dawala saling berpegangan tangan untuk memohon agar Kampung Tumaritis kembali menjadi sediakala. Termasuk juga keadaan mereka yang bermahkota. Langitpun kembali gelap, hujan turun, angin berhembus kencang, dan tiba-tiba cahaya terang ada dalam dekapan mereka ketika ketiganya menyaksikan kembali perubahan Kampung Tumaritis tercinta.

Tamat
~Opick Sunandar Sunarya

*Ditulis khusus untuk Peringatan Hari Anti Korupsi Internasional 2015

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *