<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Theory</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/theory/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 20:27:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>[Seminar Nasional] 55 Lipatan Dunia: Mengurai Pemikiran Yasraf Amir Piliang &#124; Selasa, 25 Oktober 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/seminar-55-lipatan-dunia-mengurai-pemikiran-yasraf-amir-piliang-selasa-25-oktober-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/seminar-55-lipatan-dunia-mengurai-pemikiran-yasraf-amir-piliang-selasa-25-oktober-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 13:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2298</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/10/eflyer55lipatan.jpg" alt="" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/seminar-55-lipatan-dunia-mengurai-pemikiran-yasraf-amir-piliang-selasa-25-oktober-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kondisi Manusia di Awal Abad 21 oleh Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto*</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/kondisi-manusia-di-awal-abad-21-oleh-prof-dr-i-bambang-sugiharto/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/kondisi-manusia-di-awal-abad-21-oleh-prof-dr-i-bambang-sugiharto/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 03:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2162</guid>
		<description><![CDATA[I. Topografi Psikokultural Cyber-Culture: jaringan komunikasi Cyber telah memungkinkan interaksi global. Kepekaan terhadap perbedaan meningkat, kesadaran atas pluralisme menajam, tendensi ke arah relativitas menguat, prinsip “keabsolutan” makin kadaluwarsa. Pola digital dalam budaya cyber juga telah memungkinkan kaburnya “fakta” dan “fiksi”. Segala yang kita tonton atau pun baca selalu bisa merupakan produk rekayasa. Kegiatan penciptaan berbagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I. Topografi Psikokultural</strong></p>
<ol>
<li><em>Cyber-Culture</em>: jaringan komunikasi <em>Cyber</em> telah memungkinkan interaksi global. Kepekaan terhadap perbedaan meningkat, kesadaran atas pluralisme menajam, tendensi ke arah relativitas menguat, prinsip “keabsolutan” makin kadaluwarsa. Pola digital dalam budaya <em>cyber</em> juga telah memungkinkan kaburnya “fakta” dan “fiksi”. Segala yang kita tonton atau pun baca selalu bisa merupakan produk rekayasa. Kegiatan penciptaan berbagai simbol atau cerita pun menjadi cenderung “<em>self-referential</em>”, tak mesti bersentuhan dengan realitas pengalaman.</li>
<li><em>The End of Ideology</em>: Perseteruan ideologi politik besar telah sirna dan usang, wacana-wacana besar kini diragukan, bahkan agama-agama besar mengalami krisis tafsiran internal yang membuatnya tak lagi meyakinkan. Prinsip-prinsip pokok yang mendasari sistem-sistem simbol sentral rusak, menjadi polifonik. Akibatnya tak ada lagi sistem tunggal yang merekat pengalaman-pengalaman yang centang-perenang; tak ada lagi jembatan yang menjamin kesesuaian antara <em>inner</em> dan <em>outer reality</em>; tak ada lagi dasar konstituen kultur yang jelas, yang bisa melahirkan antusiasme, gairah, impian, ketakutan dan kebahagiaan manusia. Tak jelas lagi kapan kita mesti merasa gagal, berdosa, atau pun berhasil; untuk apa loyal, kepada kelompok mana saya perlu loyal.</li>
<li>Kapitalisme yang ambivalen: Di satu sisi kapitalisme mengeruk untung dengan mempermainkan “<em>basic instinct</em>” inderawi kita (seks, makanan, barang-barang dan sensasi memabukkan) dan menjajakan kebebasan tanpa batas hingga menumpulkan hati nurani, melahirkan aneka keliaran dan kekerasan. Di sisi lain kita senang bahkan menginginkan dan memburu segala hal yang ditawarkannya juga.</li>
</ol>
<p><strong>II. Aneka Teori Tentang “Kebenaran”</strong></p>
<p>Manusia zaman sekarang melihat kebenaran juga tidak lagi sederhana, lebih rumit, lebih melihat banyak sisi. Ini pun ikut menambah kebingungan.</p>
<ol>
<li>Teori “Korespondensi”: benar berarti terdapat kesesuaian antara pernyataan dari Subjek dan kenyataan dari wilayah Objek; antara omongan dan kenyataan. Kesesuaian itu dibayangkan satu banding satu, seperti bila orang bercermin.</li>
<li>Teori “Koherensi”: benar berarti terdapat kait mengkait logis yang kokoh dan kompak antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya; tidak mengandung kontradiksi dan tidak saling menyangkal.</li>
<li>Teori Pragmatis : benar berarti “ada manfaatnya, ada gunanya”. Tidak jadi soal apakah sesungguhnya persis sesuai dengan kenyataan ataupun mengandung kontradiksi. Perdebatan teoritis di sini tak terlampau penting. Segala konsep akan benar saja bila dalam praktik hidup kita, itu memang berguna.</li>
<li>Teori “Performatif”: benar atau tidak itu relatif, sebab sebenarnya itu soal bagaimana kita meyakinkan, mempengaruhi dan mengubah pendapat orang lain. Substansinya relatif, sebab banyak unsur ikut berpengaruh di dalamnya.</li>
<li>Teori “Revelasi”: Benar apabila secara otentik diwahyukan oleh pihak yang berotoritas (Tuhan).</li>
<li>Teori “<em>Disclosure</em>”: Benar adalah bila membuat saya menyadari sesuatu yang tadinya saya tidak sadari/ tidak lihat. Yang biasa disebut “pencerahan”.</li>
<li>Teori “eksistensial”: Benar artinya “sangat berarti” bagi saya. Soal nilai dan keberartian, erat terkait dengan pengalaman konkrit.</li>
</ol>
<p><strong>III. Perkembangan Sikap terhadap “Kebenaran”</strong></p>
<ol>
<li>Absolutis: benar itu satu, tak mungkin banyak.</li>
<li>Relativis historis: Segala prinsip itu benar tidaknya tergantung situasi dan kondisi sejarah. Dulu “banyak anak banyak rejeki” itu dianggap benar, kini tidak.</li>
<li>Relativis perspektival: Tiap kebudayaan punya cara pandang yang berbeda tentang apa yang mereka anggap benar.</li>
<li>Relativis linguistik: Tiap bahasa mempunyai pola pikir yang spesifik, maka kebenaran pun relatif.</li>
<li>Relativis hermeneutis: Segala hal tergantung cara melihat dan menafsirnya; segala hal adalah perkara tafsiran. Tak ada kenyataan “murni” objektif. Dunia manusia adalah dunia tafsir.</li>
<li>Relasional: Segala hal adalah “proses”, proses adalah “relasi”. Maka cara melihat segala sesuatu sebagai “substansi” tak lagi relevan. Segala sesuatu selalu dalam proses “menjadi”, maka kebenaran mesti dilihat dalam relasi, “<em>in between</em>”. Siapa itu Tuhan bukan persis seperti yang ada dalam dogma-dogma, tapi Dia yang ada saat kita sembahyang atau sedang memikirkan Dia, yang tak bisa persis dirumuskan, yang ada dalam “peristiwa aku dan Dia”. Hakikat “palu” yang sesungguhnya bukanlah yang ada dalam definisi, tapi yang saya alami saat saya sedang menggenggamnya dan memukulkannya pada paku. Definisi atau dogma hanyalah pegangan awal, gambaran minimal.</li>
</ol>
<p><strong>IV. Beberapa Dampak</strong></p>
<ol>
<li>Secara individual: manusia masa kini kehilangan kerangka-kerangka dasar untuk memahami diri dan kehidupan. Banyak orang sekarang mengalami kecemasan tanpa arah, kemarahan tanpa alamat, kerinduan tanpa sasaran, keterpesonaan tanpa alasan.</li>
<li>Secara sosial: ada berbagai kecenderungan paradoks, saling bertabrakan. Ada hiteria kosmopolitanisme, sekaligus kecenderungan neo-tribalisme; <em>Happy Nihilism</em>, sekaligus <em>Depressive Nihilism</em>; Kerjasama baur antar golongan, sekaligus toleransi tanpa peduli; Konsumerisme trendi dan fanatik, sekaligus paranoia yang marah terhadap dunia.</li>
</ol>
<p><em>* Catatan ini diunggah di laman group FB Yasraf Amir Piliang Institute (<a href="http://www.facebook.com/groups/114301448639268/" target="_blank">YAP Institute</a>) oleh <a href="http://www.facebook.com/alfathri">Alfathri Adlin</a>. Ditampilkan kembali di laman ini atas seizin beliau.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/kondisi-manusia-di-awal-abad-21-oleh-prof-dr-i-bambang-sugiharto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Repost] Menulis Musik Adalah Menulis Tentang Manusia &#124; Oleh M. Taufiqurrahman (http://jakartabeat.net/)</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/menulis-musik-adalah-menulis-tentang-manusia/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/menulis-musik-adalah-menulis-tentang-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 10:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1997</guid>
		<description><![CDATA[Menulis tentang musik sangatlah mudah. Jadi jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bahwa menulis musik dan jurnalisme musik adalah sesuatu yang mustahil. Siapapun yang mengatakan menulis tentang musik adalah seperti menari demi arsitektur (writing music is like dancing to architecture) sebenarnya sedang menilai keterampilan menulis mereka terlalu tinggi. Siapa saja bisa menulis tentang musik—dan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis tentang musik sangatlah mudah. Jadi jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bahwa menulis musik dan jurnalisme musik adalah sesuatu yang mustahil. Siapapun yang mengatakan menulis tentang musik adalah seperti menari demi arsitektur (<em>writing music is like dancing to architecture</em>) sebenarnya sedang menilai keterampilan menulis mereka terlalu tinggi.</p>
<p>Siapa saja bisa menulis tentang musik—dan ini ditunjukkan oleh betapa banyaknya <em>zine, webzines, blogs, Facebook notes, website</em> sampai majalah professional yang mendedikasikan dirinya hanya untuk menulis tentang musik. Yang dibutuhkan tidak banyak. Anda cukup menjadi pecinta musik—dan semua orang adalah pecinta musik—penggemar sebuah atau beberapa kelompok musik, dan anda bisa menjadi penulis yang fasih yang mampu bercerita tentang gitar solo yang menyayat, ketukan drum yang kompleks sampai lengkingan suara yang membahana dari sang vokalis.</p>
<p>Jika anda rajin membaca majalah Spin, NME atau Rolling Stone, tulisan anda bisa menjadi semakin kaya dengan membubuhkan tarikh dari band-band legendaris kesukaan anda, lengkap dengan kata-kata bijak dari sang vokalis atau penulis lirik, siapa yang merancang cover art album legendaris mereka sampai gosip terbaru tentang akan di mana band tersebut akan manggung berikutnya (Sampai pada taraf tertentu kami di Jakartabeat masih harus melakukannya. Pilihan kami terbatas karena beginilah keadaan jurnalisme musik selama hampir 40 tahun terakhir). Dan jika anda sering membaca <a href="http://pitchfork.com/" target="_blank">pitchfork.com</a>, anda bisa banyak menggunakan kata ironi, hip dan “<em>air quote.</em>”</p>
<p><span id="more-1997"></span></p>
<p>Dan jika anda pernah sedikit saja sekolah atau kursus musik, tulisan anda bisa menjadi semakin otoritatif dengan munculnya kata-kata sulit semacam <em>odd time signature, syncopated drum pattern, pizzicato</em> atau Simfoni Kelima Beethoven dimulai dengan tiga G dan E-flat serta referensi-referensi susah yang hanya akan dimengerti oleh teman satu semester anda di sekolah seni. (Kami di Jakartabeat tidak bisa mencegah hal ini untuk terjadi. Kadang seorang penulis memang perlu memberi tahu kepada pembaca bahwa dia punya otoritas penuh atas apa yang sedang dibicarakannya dan dengan mengutip istilah teknis tersebut diharapkan akan semakin kuat kredensial si penulis.)</p>
<p>Namun terus terang itu semua bukan menjadi tujuan utama kami. Bagi kami—atau paling tidak saya—semua itu mengutip Bung Karno hanyalah abu dan bukan api dari musik. Atau mengutip Alex Ross sekali lagi, semua hal di atas adalah hocus pocus, bla bla bla omong kosong tentang musik. Dan tugas kami sebagai penulis itu adalah “<em>try to demistify the art to some extent, dispel the hocus pocus, while respecting the boundless human complexity that gives it life.</em>”</p>
<p>Dan inilah yang kemudian membuat menulis musik menjadi tugas yang sulit dan lebih dari hanya sekedar menari tentang arsitektur. Terlalu mudah untuk menulis Kurt Cobain mati karena overdosis atau odd time signature dari The Mars Volta, misalnya ketimbang menulis tentang pengaruh kemenangan Ekonomi Neo-liberal dari era Reagan dalam menghasilkan apatisme yang kemudian membuat kehamilan grunge atau pengaruh sindrom korban incest pada Omar-Rodriquez Lopes bisa menghasilkan musik sesulit The Mars Volta atau segarang At the Drive In.</p>
<p>Menulis musik menjadi sulit bukan karena keharusan untuk meninterprestasikan warna suara atau harmoni dari beberapa instrumen yang berbeda. Menulis tentang musik menjadi sulit karena menulis musik pada akhirnya menulis tentang manusia.</p>
<p>Menulis tentang musik menjadi semakin sulit lagi karena seiring dengan revolusi industri, musik menjadi sesuatu yang politis. Dalam Listen To This, Alex Ross sekali lagi bahwa “sejak pertengahan abad ke 19, audiens secara rutin telah mengadopsi musik sebagai semacam agama sekuler atau politik spiritual, mendedahkan makna dan pesan yang penting namun sekaligus kabur.”</p>
<p>Para pecinta simfoni Beethoven tentu akan segera mengaitkan karya-karya besarnya dengan janji akan kebebasan politik, ini ketika musik klasik masih memiliki elan vital, lama sebelum masuk ke museum.</p>
<p>Wagner dengan Das Judenthum in der Musik, pertanyaan tentang ke-Yahudi-an dalam musik, dengan segera mengkaitkan superioritas ras dengan keagungan musik, apakah kehadiran komposer-komposer Yahudi membawa pengaruh buruk terhadap musik Barat. Tidak mengherankan jika opera-opera Wagner dengan mudah membangkitkan imajinasi para penyair sekaligus demagog (Hitler adalah salah satu fans terbesar Wagner).</p>
<p>Di era yang lebih dekat dengan kita ada The Velvet Underground yang membalikkan punggung terhadap bunga dan cinta dari Pantai Barat Amerika Serikat di pertengahan dekade 1960-an yang kemudian menjadi inspirasi bagi punk New York untuk tidak hanya menolak bunga dan cinta, namun apapun yang ditawarkan oleh kemapanan.</p>
<p>Di Bandung sendiri, musik pernah dan akan selalu dekat dengan politik dimulai dari Shark Move bercerita tentang pogrom terhadap simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), Deddy Dores di Freedom of Rhapsodia dengan semangat anti-pemerintah (Orde Baru) yang sangat libertarian sampai musik perlawanan Homicide semua adalah bukti betapa musik dan politik begitu dekat dan oleh karenanya membuat menulis musik menjadi relatif lebih sulit.</p>
<p>Kami di <a href="http://jakartabeat.net/" target="_blank">Jakartabeat.net</a> tidak berpretensi untuk mengatakan bahwa kami telah berhasil melakukanya—mendemistifikasi seni (musik), menguliti omong kosongnya dengan tetap menghargai kompleksitas manusia yang memberinya hidup.</p>
<p>Yang paling jauh bisa kami lakukan adalah, menghargai kompleksitas itu. Dan sebagai bagian dari jurnalisme, namun kami selalu mempertahankan rasa curiga dan kritis terhadap bentuk seni musik apapun yang kami terima. Musik jurnalis memiliki fungsi untuk menjadi pihak pertama yang mengacungkan jari untuk mengajukan pertanyaan. Yang inipun juga menjadi sulit karena dalam ranah musik pop, sangat sulit untuk membedakan menjadi fan dan kritik musik.</p>
<p>Musik—sama seperti hasil kebudayaan yang lain—tidak hadir dari ruang kosong dan apapun yang kami tulis di Jakartabeat sebisa mungkin adalah menyusun kembali, merekonstruksi suasana yang memungkinkan karya seni itu dihasilkan. Analisa Idhar Resmadi tentang Sajama Cut—jika masih bisa saya ingat dengan baik—adalah upaya untuk merekonstruksi Sajama Cut sebagai bagian dari kelas menengah baru di Jakarta yang terbiasa berbicara dengan idiom-idiom musik maupun verbal dari moda produksi kapitalisme global. Atau tulisan Fakhri Zakaria tentang Bangkutaman, tulisan ini juga meletakkan Bangkutaman sebagai kolektif dari individu-individu yang ada pada pusaran zaman serta mobilitas sosial di metropolis di periferi kapitalisme global semacam Jakarta. Dengan cara pandang semacam itu tulisan-tulisan tersebut tentu akan sulit gagal untuk menjadi pisau analisa sosial. Dan anda bisa menemukan banyak contoh tulisan di Jakartabeat.</p>
<p>Dan untuk inipun kami belum tentu dan tidak harus benar. Dalam menulis musik kita dikutuk untuk menjadi “<em>presumptuous in the case of the living and speculative in the case of the dead.</em>” Semua adalah perkiraan dan prakiraan dan seperti analisa sosial yang lain kami bisa menjadi salah. Sepuluh tahun dari sekarang ulasan dan tulisan kami bisa menjadi tidak relevan. Tapi seperti kata Pram, paling tidak kami sudah memberi kesaksian dan hanya itulah yang abadi.</p>
<p>Dan bahkan ketika kami tidak berhasil untuk menyusun kembali teka-teki suasana sosial—yang mungkin memang tidak mungkin mengingat hanya sedikit informasi yang bisa dianalisa dari musik atau produk budaya tertentu—kami tetap tidak perlu terlalu larut dalam hingar-bingar industri pop yang tidak perlu—dan yang pasti di Jakartabeat anda tidak akan menemukan tips untuk bisa menjadi superstar atau band berumur panjang dan makmur.</p>
<p>Dan di atas semua itu, Jakartabeat.net—dan siapapun yang merasa dirinya sebagai musik snob, termasuk saya—tulisan tentang musik, sama dengan mendengarkan dan mencintai musik adalah bukti perayaan akan musik sebagai bentuk kesenian adi luhung. Seberapa adi luhung, saya akan mengutip tulisan ini dengan kutipan dari penulis Daniel J. Levittin, profesor neuro-science yang mantan produser musik itu di buku World in Six Songs:</p>
<p>&#8220;<em>Music is not simply a distraction or a pastime, but core element of our identity as a species, an activity that paved the way for more complex behaviors such as language, large-scale cooperative undertakings and the passing down of important information from one generation to the next.</em>&#8221;</p>
<p><em>*tulisan ini dibuat dalam rangka bedah buku “Like This: Kumpulan Tulisan Jakartabeat 2009-2010” dengan tema “Jurnalisme Musik dan Relevansinya Sebagai Media Kritik Sosial”, Common Room, 16 April 2011</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/menulis-musik-adalah-menulis-tentang-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet, Moralitas dan Masyarakat Sipil*</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/internet-moralitas-dan-masyarakat-sipil/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/internet-moralitas-dan-masyarakat-sipil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 13:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1764</guid>
		<description><![CDATA[Selama beberapa dekade terakhir perkembangan teknologi internet dan media digital semakin menjadi komponen yang penting bagi kehidupan masyarakat sipil. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Sejak pertama kali &#8216;diciptakan&#8217; pada tahun 1989 oleh Tim Barners-Lee, sampai saat ini sudah ada sekitar 6,8 milyar pengguna internet yang terhubung hampir di seluruh penjuru dunia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama beberapa dekade terakhir perkembangan teknologi internet dan media digital semakin menjadi komponen yang penting bagi kehidupan masyarakat sipil. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Sejak pertama kali <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Internet">&#8216;diciptakan&#8217;</a> pada tahun 1989 oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tim_Berners-Lee" target="_blank">Tim Barners-Lee</a>, sampai saat ini sudah ada sekitar 6,8 milyar pengguna internet yang terhubung hampir di seluruh penjuru dunia. Teknologi internet dan media digital semakin mempermudah penyebaran data dan informasi, serta memberikan dampak tersendiri bagi perkembangan budaya masyarakat global. Rasanya tidaklah berlebihan apabila disebutkan bahwa teknologi internet memiliki potensi untuk membentuk tatanan masyarakat yang baru di masa depan (<a href="http://www.imaginaryfutures.net/" target="_blank">Barbrook, 2007</a>).</p>
<p>Berdasarkan survey yang dilakukan oleh <a href="http://news.netcraft.com/" target="_blank">Netcraft</a> sampai dengan bulan <a href="http://news.netcraft.com/archives/2010/12/01/december-2010-web-server-survey.html" target="_blank">Desember 2010</a>, sejauh ini sudah ada sekitar 255,287,546 situs internet yang tersebar di seluruh dunia dangan isi yang bermacam-macam. Dari jumlah ini, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (<a href="http://www.apjii.or.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=59&amp;Itemid=53" target="_blank">APJII</a>) mencatat bahwa sampai tahun 2004 jumlah domain internet yang terdaftar di ID-TLD (Indonesia) sudah mencapai angka 21.762. Lebih lanjut, dalam arsipnya APJII juga menyebutkan bahwa sampai dengan tahun 2007 sudah ada sekitar 25.000.000 pengguna internet di Indonesia. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat secara tajam seiring dengan berkembangnya teknologi, mobilitas manusia, serta tumbuhnya infrastruktur teknologi internet di Indonesia.</p>
<p>Perkembangan teknologi internet juga menandai lompatan menuju abad informasi yang melahirkan tata nilai dan proyeksi peradaban yang baru. Teknologi internet tidak hanya memberikan pengaruh terhadap perkembangan teknologi media dan informasi, tetapi juga membawa dampak secara sosial, politik dan ekonomi. Hal ini misalkan ditandai dengan semakin cairnya sekat teritori politik dan budaya sehingga memungkinkan terjadinya pola interaksi trans-regional yang menembus batas-batas negara. Selain itu, teknologi internet juga mendorong lahirnya pola produksi dan penyebaran informasi serta ilmu pengetahuan yang baru. Dalam hal ini, internet telah menjadi kanal bagi beragam pandangan dan tata nilai yang juga membawa kita pada perdebatan mengenai hukum, etika dan moralitas baru yang semakin kompleks. Berbagai bentuk pandangan dan nilai-nilai yang sebelumnya berdiri secara ajeg seakan meluruh dan melebur menjadi satu di jagat internet.</p>
<p><span id="more-1764"></span></p>
<p><a href="http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Sejarah_Internet_Indonesia:Awal_Internet_Indonesia" target="_blank">Secara historis</a>, masyarakat Indonesia mulai mengenal teknologi internet sejak akhir tahun 1980-an. Upaya untuk membangun jaringan internet sudah dirintis sejak tahun 1986-1987, melalui serangkaian eksperimentasi penggunaan jaringan Bulletin Board System (BBS) yang terhubung dengan server BBS di seluruh dunia. Inspirasi awal pengembangan jaringan internet di Indonesia bermula dari kegiatan amatir radio yang dikembangkan oleh Amatir Radio Club (ARC) ITB pada sekitar tahun 1986. Bermodalkan pesawat Transceiver HF SSB Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama dan komputer Apple II milik Onno W. Purbo, sekitar belasan mahasiswa ITB berguru pada para senior amatir radio seperti Robby Soebiakto, Achmad Zaini dan Yos di band 40m. Disebutkan bahwa Robby Soebiakto merupakan pakar diantara para amatir radio di Indonesia, khususnya untuk komunikasi data radio paket yang dikembangkan ke arah TCP/IP.</p>
<p>Teknologi radio paket ini kemudian di adopsi oleh BPPT, LAPAN, UI dan ITB; sehingga bermuara pada pembentukan PaguyubanNet di tahun 1992 -1994. Pada periode ini penyedia jasa Internet Service Provider (ISP) mulai mengembangkan fasilitas internet di Jakarta melalui jaringan yang dikembangkan oleh IndoNet. Langkah ini kemudian diikuti dengan kemunculan para penyedia jasa ISP lainnya, sehingga jaringan internet di beberapa kota besar Indonesia dapat berkembang dengan pesat. Sampai tahun 1995, setidaknya sudah ada sekitar 10.000 pengguna internet di Jakarta, 1000 pengguna di Bandung dan 3000 pengguna di Surabaya. Secara perlahan teknologi internet mulai dimanfaatkan secara luas dan menjadi komponen penting yang mewarnai berbagai bentuk dinamika dan perubahan di masyarakat dalam skala yang sangat masif.</p>
<p>Sebagian pengguna internet di Indonesia mungkin cukup akrab dengan keberadaan mailing list (milis) <a href="http://www.library.ohiou.edu/indopubs/briefhistory.html" target="_blank">“Apakabar”</a> yang dimoderasi oleh John A. MacDougall sejak bulan Oktober 1990 s/d Februari 2002. Melalui milis ini, masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh dunia dapat saling berkomunikasi dan menyampaikan berbagai aspirasi politik mereka secara bebas. Situs internet, blog dan mailing list pada saat itu merupakan sarana komunikasi alternatif. Teknologi internet telah berhasil mencairkan dominasi kontrol media dan informasi di era rezim politik Orde Baru. Selanjutnya kehadiran teknologi internet ikut menunjang proses konsolidasi gerakan pro-demokrasi di Indonesia. Sampai bulan Februari 2002, milis ini setidaknya telah menampung sekitar 175.000 posting berbahasa Indonesia dan Inggris yang diakses oleh sedikitnya 250.000 pembaca dari 96 negara yang berbeda.</p>
<p>Meskipun telah digunakan secara luas oleh masyarakat, pemerintah Indonesia baru memiliki perangkat perundang-undangan yang mengatur penggunaan teknologi internet pada tahun 2008. Maraknya penggunaan teknologi internet ikut memicu kasus penipuan dan kejahatan internet (cyber crime), termasuk penyebaran konten pornografi di jagat virtual. Sebagai respon atas situasi ini, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang disahkan oleh Presiden Republik Indonesia dan diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM pada tanggal 21 April 2008. Selanjutnya pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi) yang disahkan dan diundangkan pada tanggal 26 November 2008.</p>
<p>Kemunculan kedua undang-undang ini memicu polemik tersendiri di masyarakat luas. Sebagian berpendapat bahwa kedua produk perundang-undangan ini telah mengebiri hak masyarakat untuk mengakses informasi dan pengetahuan secara bebas. Dalam klausul yang mengatur penyebaran konten digital di internet, pemerintah juga dinilai telah melampaui kewenangan mereka dengan menggunakan justifikasi moral dan kesusilaan. Lebih jauh, banyak pihak yang kemudian berpendapat bahwa UU ITE dan UU Pornografi juga berpeluang untuk menjadi instrumen kriminalisasi warga sipil oleh negara. Meskipun memancing polemik dan perdebatan di kalangan masyarakat sipil, pemerintah tidak bergeming dan bersikeras menerbitkan kedua undang-undang yang kemudian menuai kontroversi.</p>
<p>Tak lama setelah disahkan, anggota masyarakat yang menjadi korban kriminalisasi mulai bermunculan. Salah satu yang menonjol adalah kasus yang menimpa <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Prita_Mulyasari" target="_blank">Prita Mulyasari</a>. Peristiwa ini berawal dari keluhan Prita atas perawatan R.S Omni International yang menurutnya tidak profesional dan telah melakukan penipuan. Pesan ini dikirimkan melalui email kepada beberapa rekan Prita yang kemudian menyebar di beberapa milis tanpa sepengetahuan pembuatnya. Karena email ini, Prita diadukan atas kasus pencemaran nama baik melalui gugatan perdata dan pidana yang dilayangkan oleh R.S. Omni Internasional pada bulan September 2008. Dalam kasus ini, Prita dijerat pasal 27 ayat 3 UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), pasal 310 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik, serta pasal 311 KUHP tentang Fitnah. Setelah menjalani persidangan panjang yang melelahkan dan sempat keluar masuk penjara, Prita kemudian dibebaskan dari segala tuntutan. Hal ini terjadi berkat dukungan yang luar biasa dari masyarakat yang menggelar Gerakan Koin Keadilan Untuk Prita.</p>
<p>Kasus berikut yang menohok perhatian publik adalah gugatan yang menimpa Nazriel Irham alias <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nazril_Irham" target="_blank">Ariel</a>, vokalis dari kelompok musik Peterpan yang berasal dari kota Bandung. Dalam perkara ini Ariel dijerat 3 pasal sekaligus; yaitu pasal 29 UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi, pasal 27 UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta pasal 282 KUHP. Selain dituduh terlibat dalam pembuatan dan penyebaran video porno, Ariel juga didakwa sengaja dan tanpa hak mendistribusikan/ mentrasmisikan dan mengetahui/ membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan. Berbanding terbalik dengan kasus Prita Mulyasari, dalam perkara ini Ariel langsung disudutkan karena dianggap telah merusak moral bangsa.</p>
<p>Sejak awal penyidikan di Jakarta, tuntutan berbagai elemen masyarakat untuk menghukum Ariel datang silih berganti. Ariel kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan menyerahkan diri ke Mabes Polri pada tanggal 22 Juni 2010. Setelah menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Bandung selama hampir 2 bulan, Ariel dituntut hukuman 5 tahun dan denda sebesar Rp. 250 juta pada tanggal 6 Januari 2011. Meski tidak terbukti melakukan dakwaan yang diajukan, tekanan segelintir kelompok masyarakat terus berlanjut. Proses persidangan berjalan sangat alot. Pada tanggal 31 Januari 2011 majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung kemudian menetapkan vonis 3 tahun 6 bulan dan denda Rp. 250 juta. Dengan dalih telah merusak moralitas bangsa, beberapa ormas terus mengutuk Ariel dan menuntut pengadilan memberi hukuman yang lebih berat. Mereka bahkan menuntut vonis lebih daripada hukuman Gayus Tambunan, terpidana kasus korupsi dan manipulasi pajak yang terbukti telah merugikan negara.</p>
<p>Justifikasi moral dan kesusilaan dalam perkara Ariel semakin membuat kasus ini menjadi sumber perdebatan yang tidak berkesudahan. Alih-alih dapat menjerat pelaku penyebaran video porno di internet, penyelesaian kasus ini tampaknya semakin dekat dengan pepatah jauh panggang daripada api. Selain menjadi ajang kriminalisasi yang menjatuhkan banyak korban, muncul kecurigaan bahwa perkara ini telah dimanfaatkan untuk menutupi kasus lain yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari aparat hukum dan masyarakat luas. Dalam konteks ini justifikasi moral dan kesusilaan yang kerap didengungkan seakan telah kehilangan makna. Aparatus negara seakan telah melakukan pembiaran atas berbagai persoalan yang menggerogoti rasa keadilan masyarakat yang paling mendasar. Institusi hukum yang seharusnya menjadi salah satu pilar penyangga eksistensi negara dan masyarakat sipil di Indonesia saat ini seperti tengah dibajak menjadi arena yang dipenuhi oleh lelucon dan pertunjukan sirkus.</p>
<p>Barangkali saat ini kita juga perlu memahami bahwa media digital dan teknologi internet itu hanya sekedar alat. Selain mampu menyebarkan informasi dan pengetahuan yang dapat membentuk pemahaman dan nilai-nilai yang baru, teknologi internet juga dapat menjadi sumber persoalan yang membawa petaka. Sementara itu, perdebatan mengenai moralitas di kalangan masyarakat sipil seharusnya merupakan ajang negosiasi yang terbebas dari campur tangan negara. Intervensi aparatus negara terhadap pandangan moralitas dan kesusilaan hanya akan melahirkan korban yang menjadi tumbal konflik kepentingan. Di masa depan, teknologi internet akan semakin menjadi komponen yang vital bagi kehidupan kita. Idealnya negara dan masyarakat sipil dapat memberi perhatian pada persoalan yang lebih mendasar. Cita-cita Indonesia adalah menegakan keadilan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Persoalan mengenai internet, moralitas dan masyarakat sipil di Indonesia hanya dapat diurai dengan jernih apabila kita menggunakan nalar, akal sehat dan pengetahuan; bukan dogma dan moralitas palsu.</p>
<p>Kyai Gede Utama, 26 Januari 2011</p>
<p><em>**Tulisan ini diterbitkan dalam rubrik @Jejaring Harian Pikiran Rakyat (07/02/11)</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/internet-moralitas-dan-masyarakat-sipil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa &#124; Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 3-selesai)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/1239/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/1239/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1239</guid>
		<description><![CDATA[Internet, Media, Kuasa dan Politik &#8220;Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine&#8221;[1] (Tim Jordan) Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, provider swasta mulai membuka jaringan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="background-image: url(&quot;<a href="http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg&#038;quot" rel="nofollow">http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg&#038;quot</a>;);" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="389" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/ia5FxoeFJWI&amp;hl=en_US&amp;fs=1" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="background-image: url(&quot;<a href="http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg&#038;quot" rel="nofollow">http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg&#038;quot</a>;);" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="389" src="http://www.youtube.com/v/ia5FxoeFJWI&amp;hl=en_US&amp;fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Internet, Media, Kuasa dan Politik</strong></p>
<p><em>&#8220;Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine&#8221;<a href="#_ftn1">[1]</a></em></p>
<p><em> (Tim Jordan)</em></p>
<p>Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, <em>provider</em> swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai digunakan publik secara luas pada tahun 1995. Pada masa itu penggunaan internet belum terlalu marak karena biaya pemasangan dan kepemilikan jaringan masih mahal dan membutuhkan sambungan telepon pribadi untuk menyambung internet.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Keberadaan internet ternyata mampu menjadi media alternatif bagi masyarakat untuk mencari dan menyebarkan informasi, yang pada masa itu penyebarannya masih sangat dibatasi dan diatur sepenuhnya oleh Negara. Internet seakan menjadi angin segar yang menggugah masyarakat untuk lebih berani dan proaktif. Terbukti, internet menjadi salah satu alat untuk menggulingkan Soeharto dan tatanan Orde Baru yang dibangunnya.<a href="#_ftn3">[3]</a> Caranya?</p>
<p><span id="more-1239"></span></p>
<p><em>“Syafei developed his Jendela Indonesia site running since October 5, 1995, at the Illinois Institute of Technology, Chicago. It hosted a mailing list and news archive which originally catered to university and student matters. But from 1997 onwards it too became a much frequented portal for non-censored news, including material from Apakabar/Indonesia-L.&#8221; (Tangkar, n.d.)</em></p>
<p><em>&#8220;In May 1998, at the time of student occupation of the parliament building and subsequent resignment of Soeharto, frequency of visits at the Jendela Indonesia portal caused the server of the Illinois Institute of Technology to crash again and again. The head of the computer center, Michael Hites, seriously considered closing down Jendela Indonesia, but realizing that frequency of use was actually demonstrating its usefulness and finding that the Indonesian movement for democracy deserved to be supported, he decided instead to invest $35,000 to step up the server’s efficiency.&#8221; (Tangkar n.d.)<a href="#_ftn4">[4]</a></em></p>
<p>Hal ini sama dengan yang tertulis pada sebuah <em>website</em> yang membahas keberadaan internet dan politik, sebagai berikut:</p>
<p><em>“Beberapa waktu yang lalu orang berpendapat bahwa orang yang menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang memiliki kekuasaan, tetapi sekarang pendapat tersebut sedikit berubah karena orang yang dianggap memiliki kekuasaan adalah orang yang menguasai informasi. Politik juga merupakan masalah kekuasaan, sehingga sumber informasi bisa menjadi alat politik yang efektif.&#8221;</em><a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Teknologi Internet dapat dianalogikan sebagai suatu jalan raya informasi bebas hambatan, siapapun yang terkoneksi dengan jaringan, bisa mencari dan memberikan informasi mengenai apapun. Hal ini membawa dampak dalam aspek kehidupan politik. Dalam waktu singkat peristiwa demonstrasi berdarah yang terjadi di Tiananmen Square di Beijing tersebar dan dibicarakan oleh banyak orang di seluruh dunia. Hal yang sama juga terjadi pada berita penyerangan Amerika Serikat terhadap Irak yang semuanya dapat dilihat dengan jelas. Oleh sebab itu Internet dapat digunakan untuk menegakan demokrasi, karena tidak ada hal yang dapat disembunyikan dan siapapun memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat mereka. Tetapi sebaliknya Internet juga dapat dipakai oleh perorangan maupun kelompok untuk membentuk opini publik dengan menyebarkan informasi demi mencapai tujuan politik tertentu.</p>
<p>Ternyata, internet sebagai media <em>‘powerless’</em> mampu menggulingkan kekuasaan yang sangat besar <em>(powerfull)</em>, seperti apa yang terjadi di Indonesia. Barangkali dapat dikatakan apabila seseorang diberikan suatu kuasa kecil untuk bebas, dia dapat menggunakan kuasa itu untuk mengajak orang lain berpartisipasi sehingga menjadi suatu kekuatan yang besar, seperti halnya kekuatan rakyat.</p>
<p>Selanjutnya, batasan antara ranah kultural dan ranah politik  di internet telah menyatu, bercampur, mengalami pembiasan, serta dapat saling mempengaruhi (lihat kasus ‘Cicak vs. Buaya’ dan ‘Koin untuk Prita’).<a href="#_ftn6">[6]</a> Dalam kedua kasus tersebut, informasi mengenai berita keduanya tersebar dengan cepat di internet, lalu dikomentari oleh banyak orang, sehingga membangun simpati dan emosi yang berujung pada aksi nyata yang mempengaruhi opini atas kasus keduanya.</p>
<p>Pengumpulan Koin Prita yang awalnya merupakan simbol simpatik masyarakat dan bentuk perlawanan akan ketidakadilan hukum atas kebebasan berpendapat, berbuah pada kesatuan suara yang mampu merubah suatu tatanan sistem yang dirasa tidak adil. Begitupun pada kasus Cicak vs. Buaya, informasi dihadirkan sebebas-bebasnya, dan membentuk suatu persepsi tertentu di masyarakat.</p>
<p>Dapat dikatakan bahwa Internet tidak netral. Internet dipengaruhi oleh siapa yang memiliki kuasa pada saat tertentu. Namun kekuasaan dapat bergerak melampaui hal-hal yang tidak diinginkan sehingga apapun dapat terjadi di <em>cyberspace.</em> Dalam konteks ini, siapapun dapat melakukan apapun, untuk membangun agenda, identitas, komunitas, atau apapun yang dia inginkan di ruang cyber.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Lalu kini, setelah setiap orang di kota-kota besar, terutama sebagian besar daerah di Pulau Jawa telah mampu mengakses internet, akankah ada perubahan yang mampu dibawa internet? Toh, internet dipercaya telah mengusung semangat kebebasan, dimana kebebasan menjadi dambaan setiap manusia dalam hidup. Namun, apakah kebebasan itu dapat dimaknai dengan bijak? Saat ini internet telah mampu membebaskan informasi sehingga dapat bergerak lalu lalang dan hinggap pada siapapun yang membutuhkan, tanpa ada batasan, dan disuguhkan secara vulgar.<a href="#_ftn8">[8]</a> Semuanya kembali pada pribadi setiap orang. Jika moral mampu menjadi pagar, niscaya, dunia akan baik-baik saja.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Jordan, Tim. <em>Cyberpower: The Culture and Politics of Cyberspace. </em>Diakses di:<em> </em><a href="http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm">http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lim, Merlyna. (2009) <em>Muslim Voices in the Blogosphere: Mosaics of Local-Global Discourses</em>”in Gerard Goggin and Mark McLelland [eds.], Internationalizing Internet: Beyond Anglophone Paradigm, London: Routledge, p. 178-195. Dapat di akses di: <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf">http://www.public.asu.edu/~mlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lim, Merlyna. <em>The Internet, Social Networks, and Reform in Indonesia</em>. <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf">http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Mahdi, Waruno. <em>The Internet Factor in Indonesia: Was that All?</em>. Edisi Revisi 2004. Diakses dari: <a href="http://waruno.de/PDFs/wm_IDinetsaga.pdf">http://waruno.de/PDFs/wm_IDinetsaga.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Diambil dari: <a href="http://go-kerja.com/kehidupan-sosial-vs-internet/">http://go-kerja.com/kehidupan-sosial-vs-internet/</a></p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lim, Merlyna. “<em>[Talk] Pop ‘n Politics: Web 2.0 and Participatory Culture in Indonesia”. </em>2009, dibawakan pada <em>First Annual Digital Media and Learning Conference: “Diversifying Participation”</em> di University of California, San Diego, 19 Februari 2009. Diakses di: <a href="http://merlyna.org/?p=1192">http://merlyna.org/?p=1192</a></p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Jordan, Tim. <em>Cyberpower: The Culture and Politics of Cyberspace. </em>Diakses di:<em> </em><a href="http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm">http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm</a></p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lim, Merlyna. (2009) <em>Muslim Voices in the Blogosphere: Mosaics of Local-Global Discourses</em>”in Gerard Goggin and Mark McLelland [eds.], Internationalizing Internet: Beyond Anglophone Paradigm, London: Routledge, p. 178-195. Dapat di akses di: <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf">http://www.public.asu.edu/~mlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/1239/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa &#124; Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 2)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1228</guid>
		<description><![CDATA[Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya. Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="background-image: url(&quot;<a href="http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg&#038;quot" rel="nofollow">http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg&#038;quot</a>;);" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="388" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/WytNkw1xOIc&amp;hl=en_US&amp;fs=1" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="background-image: url(&quot;<a href="http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg&#038;quot" rel="nofollow">http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg&#038;quot</a>;);" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="388" src="http://www.youtube.com/v/WytNkw1xOIc&amp;hl=en_US&amp;fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.</strong></p>
<p>Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.</p>
<p><em>Anytime, everywhere, anywhere.</em> Itulah sifat teknologi di masa kini yang akan selalu siap kapanpun, dimana pun, dan bagi siapapun yang membutuhkannya. Teknologi memberikan kemudahan, kenikmatan, kesenangan, sekaligus kesementaraan, kemewahan, dan hampir segalanya bagi kita ketika melalui dan memaknai hidup. Akhirnya: mereka menguasai kita.</p>
<p>Dengan segala kemudahan dan kenikmatan yang diberikan, teknologi layaknya mata uang koin bersisi dua, selalu menempel dan membayangi sisi lainnya. Teknologi juga mirip seperti selembar kertas HVS yang pada salah satu sisinya diisi tulisan dan sisi satunya dibiarkan kosong: meng-ada-kan dan men-(t)iada-kan. Akhirnya: mereka mengakar, menggurita dan mengeruk; mengubah pola perilaku dan ritme hidup kita.</p>
<p><span id="more-1228"></span></p>
<p>Saat ini manusia menjadi sangat tergantung dengan keberadaannya, tidak terkecuali internet. Suatu istilah yang kini telah menjadi keseharian, yang bahkan ketiadaannya mampu membuat manusia menjadi gundah gulana, resah, cemas, akan sesuatu yang entah apa, namun terasa. Keberadaan internet seakan menjadi pengada jati diri seseorang, terutama dengan keberadaan situs jejaring sosial, dimana setiap orang dapat terkoneksi secara langsung dengan siapapun berpartisipasi dan terhubung secara langsung, agar dapat <em>update</em> setiap saat. Tidak ada lagi <em>six degrees of separation (human web)</em><a href="#_ftn1">[1]</a>, sebuah hipotesa yang dibuat Frigyes Karinthy yang mengatakan bahwa setiap orang di muka bumi ini berjarak enam langkah dari manusia lainnya. Saat ini keberadaan kita di dunia ini seakan ditentukan oleh <em>status update</em> hari ini, agar mendapat perhatian dari manusia lainnya. Sebagian kecil mungkin, tapi tidak dengan sebagian besar lainnya.</p>
<p>Dalam dunia internet, berbagai percampuran, pembengkokan, pelubangan telah terjadi. Dengan segala bujuk rayunya, internet telah menggerayangi kita untuk selalu lekat dengan dirinya. Menjadi selalu ada dalam dirinya namun menjadi terpisah dengan realitas yang ada. Menjadi candu, ekstasi, serta hingar bingar pesona kemudahan dan kecepatan. Memutus rantai kehidupan dan menjadi dunia yang berdiri sendiri<a href="#_ftn2">[2]</a>. Manusia modern kemudian tercabut dari habitatnya, dari ekosistemnya, dari akarnya. Berdiri sendiri untuk membuat dunia baru yang dapat dikuasai, dia atur, dan diwarnai sesuka hati. Inilah paralel dunia.</p>
<p><strong>Aku, Kamu dan Kita Semua Adalah Masyarakat Tontonan</strong></p>
<p>Bermula dari Friendster dan Facebook, sebuah situs jejaring sosial yang menghubungkan banyak orang dalam suatu wadah (<em>website</em>) dan menjadi situs yang paling sering dibuka oleh hampir setiap orang di Indonesia<a href="#_ftn3">[3]</a>. Kedua situs ini diminati oleh (kebanyakan) anak muda karena menjadi media penghubung untuk berkomunikasi langsung dengan teman lama ataupun mencari teman baru. Saat ini umur tampaknya tidak menjadi batasan pengguna facebook. Segala lapisan umur, pangkat, gaji, status, serta kelas sosial kini telah berbaur dan menjadi pengguna berbagai situs jejaring sosial, demi apapun tujuan mereka menggunakannya.</p>
<p>Dengan fasilitas yang diberikan, situs jejaring sosial memfasilitasi eksistensi diri seseorang untuk selalu ada dan hadir dalam ‘dunia’. Ketika dunia real belum mampu ia jajal, dunia <em>cyber</em> menjadi alternatif bagi orang-orang yang haus akan penghargaan. Tidak hanya itu, dengan kolom ‘status’nya, orang-orang sibuk beradu ‘kehebatan, kemewahan, keanehan, kegayaan, keseharian, dan hal-hal remeh lainnya. Keberadaan kolom yang tertulis <em>“what’s on your mind”</em> diisi dengan laporan akan keberadaan diri atau (sekedar) curahan hati. Yah, ini lah yang terjadi pada masyarakat di sebuah Negara yang masih berbudaya lisan menanggapi teknologi berupa tulisan (<em>text</em>). Tidak ada yang salah di sini, yang ada hanya kejelasan akan kultur yang dimiliki oleh suatu masyarakat akan diadaptasi berbeda oleh kultur masyarakat yang lain.</p>
<p>Gambaran masyarakat yang seperti ini, cocok dengan masyarakat yang disebut Guy Debord sebagai <em>The Society of Spectacle</em> atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi <em>masyarakat tontonan</em>. Walaupun ia mengkritisi keberadaan media yang mempengaruhi perilaku dan pola pikir masyarakat yang menontonnya<a href="#_ftn4">[4]</a>, namun istilah ini menggambarkan kondisi masyarakat yang senang melihat dan mengawasi keberadaan orang lain melalui berbagai situs jejaring sosial. Dalam hal ini segenap individu meng’ada’kan dirinya agar ‘hadir’ dan ‘ditonton’ oleh orang lain, menjadi penonton dan ditonton.</p>
<p>Situs jejaring sosial menjadi salah satu bentuk <em>‘media surveillance’</em>, dimana setiap orang dapat diamati oleh orang lain tanpa sadar dan secara sukarela, sehingga menjadi salah satu sarana eksistensi yang dapat menghadirkan dirinya dalam sebuah dunia.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Diakses dari: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation">http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Piliang, Yasraf Amir. <em>Dunia yang Dilipat: ….</em> . Jalasutra. Yogyakarta. 2004.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Belum ada kajian spesifik dan data pasti.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Debord, Guy. <em>The Societies of Spectacles</em>. 1967  Dapat diakses di: <a href="http://www.bopsecrets.org/">http://www.bopsecrets.org</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa &#124; Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 1)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-yasmin-kartikasari-bagian-1/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-yasmin-kartikasari-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1225</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Baudrillard&#8217;s hyperreality is not a map at all, but a participative process that may shape us, or may allow us to shape our surroundings. There is no other controller. Governance is our own hands but is set to mass agendas. The cybernetic loop has closed on postcapitalist society and cyberspace.&#8221;[1] (Andrea Keay, Hiperreality and Cyberspace) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="background-image: url(&quot;<a href="http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg&#038;quot" rel="nofollow">http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg&#038;quot</a>;);" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="295" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/9hIQjrMHTv4&amp;hl=en_US&amp;fs=1" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="background-image: url(&quot;<a href="http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg&#038;quot" rel="nofollow">http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg&#038;quot</a>;);" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="295" src="http://www.youtube.com/v/9hIQjrMHTv4&amp;hl=en_US&amp;fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><em>&#8220;Baudrillard&#8217;s hyperreality is not a map at all, but a participative process that may shape us, or may allow us to shape our surroundings. There is no other controller. Governance is our own hands but is set to mass agendas. The cybernetic loop has closed on postcapitalist society and cyberspace.&#8221;<a href="#_ftn1">[1]</a></em></p>
<p>(Andrea Keay, <em>Hiperreality and Cyberspace</em>)</p>
<p>Dunia dalam dunia.<a href="#_ftn2">[2]</a> Itulah posisi internet di dunia ini. Dunia yang ada, hadir, dan bersanding secara paralel dengan dunia nyata. Dunia yang bukan lagi sebuah keberadaan fisik, namun sebuah ruang patafisika. Ia tidak dapat diraba, namun hadir; tidak dapat di sentuh, namun ada; seperti yang dijelaskan oleh Baudrillard (diungkapkan oleh Yasraf Amir Piliang) dalam uraian berikut:</p>
<p><em>“Ia adalah sesuatu di luar ada, dalam pengertian sebuah kategori yang melampaui, baik fisika maupun metafisika. Dalam pengertian, ia bukan fenomena fisik, bukan juga metafisik, ia adalah patafisika </em>(<em>phataphysics</em>)<em>. Ia adalah sesuatu yang menfakta, dalam pengertian bisa dirasakan, dilihat, diraba, didengar, tetapi tidak nyata (real), dalam pengertian tidak mengikuti hukum-hukum fisika Newtonian, akan tetapi tidak juga bersifat metafisik, oleh karena ia dapat dicapai oleh kapasitas intuisi, bahkan indra manusia.”</em><a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Itulah (ciri-ciri) internet. Lalu, bila aku yang mengatakan, ia hanya berupa digit-digit yang mereplikasi keberadaan bentuk fisik agar dapat hadir secara bersamaan, di waktu yang sama, namun terpisah oleh jarak, meskipun kemudian keberadaan jarak menjadi irelevan karena membiasnya batasan antara ruang. Dalam hal ini seakan kita semua berada pada satu titik yang sama untuk bisa saling berkomunikasi, bercanda, bercumbu, atau sekedar menjelajah dunia. Semuanya menjadi bertumpuk, namun tidak meluas dan tidak meninggi; menyalahi aturan matematis akan keruangan dan dimensi; mengubah struktur penunjang akan bentuk fisik dunia dan isiannya.</p>
<p><span id="more-1225"></span></p>
<p>Dunia menjadi adimensi, dimana batasan dan ukuran dihilangkan. Dalam konteks ini dunia sudah melampaui batasan limit akan apapun yang membentuknya. Dia hanya dapat dijelaskan oleh dirinya sendiri.</p>
<p>Di Internet, segala hal dimungkinkan. Apa yang tidak terjadi di dunia nyata, di internet segalanya dapat terjadi. Hampir tidak ada batasan, karena batas-batas telah dihilangkan. Itulah yang menjadi keutamaan internet dengan segala kemudahan dan godaan yang diberikan. Menjadikan manusia larut di dalamnya, dan berhibernasi dalam suatu kurun waktu yang tak berbatas dan tidak ada yang membatasi. Karena <em>aku-lah</em> (baca: manusia) yang menjadi pembatas dan pengatur kedirianku (di internet).</p>
<p><strong>Awal Mula</strong><br />
Berawal dari sebuah memo yang ditulis J.C.R Licklider dari Massachuset Institut of Technology (MIT) pada bulan Agustus 1962 yang menguraikan konsep “<em>Galactic Network”</em>, yaitu sebuah jaringan komputer global yang saling terhubung oleh siapapun dan dimanapun dia berada, secara cepat dan tepat<a href="#_ftn4">[4]</a>, itulah asal mula internet.  Bermula dari secarik kertas, yang menjadi wadah sementara ide seseorang, kemudian berkembang, jauh berkembang melampaui apa yang mampu dipikirkan oleh perancang awalnya. Saat ini internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan dunia. Dunia dan internet telah menyatu, keduanya saling mengada, namun keduanya saling meniadakan.</p>
<p>Internet mulai dikembangkan di tahun 60-an, dari penelitian di atas kertas yang mengungkapkan kelayakan komunikasi menggunakan system paket data, hingga penghubungan komputer  yang terpisahkan jarak melalui saluran dial-up berkecepatan rendah; mulai dari hipotesis Kleinrock (xxx) hingga teori Lawrence G. Roberts dan Thomas Merrill (xxxx).</p>
<p>Ternyata apa yang dilakukan oleh tim MIT, dilakukan pula oleh Donald Davies dan Roger Scantlebury dari NPL, di Inggris, serta RAND sebuah kelompok yang menulis makalah berjudul <em>&#8220;Paper on Packet Switching Networks for Secure Voice&#8221;</em> di lingkungan militer pada tahun 1964. Ketiganya kemudian bergabung dan melakukan program riset bernama ARPANET, yang kemudian menjadi cikal bakal internet.</p>
<p>Pada awalnya, ARPANET di desain oleh Departemen Pertahanan Amerika untuk memfasilitasi keamanan di era perang nuklir (Abbate, 1999; Cerf et al.2000), yang memungkinkan suatu gerakan terselubung, baik sekedar mengontrol atau menyensor, menjadi suatu mata, pengamat jarak jauh <em>(surveillance)</em> untuk mengawasi pihak lawan. Bermula dari alat perang, internet kemudian menjadi teknologi ramah (teman manusia) ketika di usung oleh Ivan Illich’s (1973) <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Empat puluh tahun kemudian, internet telah berkembang pesat. Hingga saat ini, internet telah digunakan oleh 945 juta orang di seluruh dunia. Berdasarkan pertumbuhannya yang cepat, internet berdampak besar bagi masyarakat. Baik secara sosial, ekonomi, politik, budaya, dll.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Perkembangan teknologi (cikal bakal internet) yang mulai dirancang di tahun 60-an menjadi ide cerita bagi seorang novelis, William Gibson, dalam memandang dunia dengan keberadaan internet, yang tertuang dalam bukunya, Neuromancer (1984). Buku ini berkisah tentang situasi di tahun 60-an hasil rekaan dunia maya yang dibentuk oleh sebuah jaringan komputer yang terkoneksi secara global. Bahwa apa yang dibayangkannya, tepat seperti kondisi yang seperti sekarang ini, menjadi realitas keseharian yang banal<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Diakses dari: <a href="http://technoist.com/hyperreality-or-cyberspace-real-social-media">http://technoist.com/hyperreality-or-cyberspace-real-social-media</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Secara semantik, konsep dunia sering disamakan dengan konsep ruang (<em>space</em>). Dunia itu selalu meruang, yaitu ada di dalam sebuah ruang (dan tentunya juga mewaktu) (Piliang, Yasraf A. <em>Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan</em>. 2004. Jalasutra, hal 45)</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> ditulis dalam buku <em>Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. </em>Jalasutra. Yogyakarta. 2004.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diakses dari: <a href="http://tskau0.tripod.com/sejarah_singkat_internet.htm">http://tskau0.tripod.com/sejarah_singkat_internet.htm</a></p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lim, M. <em>The Internet, Social Networks, and Reform in Indonesia</em>. <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf">http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> -ibid-</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Piliang, Yasraf Amir.<em> Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. </em>Jalasutra. Yogyakarta. 2004.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-yasmin-kartikasari-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengurai Seni Kontemporer Asia via Seoul &#124; Oleh Gustaff H. Iskandar*</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/mengurai-seni-kontemporer-asia-via-seoul-oleh-gustaff-h-iskandar/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/mengurai-seni-kontemporer-asia-via-seoul-oleh-gustaff-h-iskandar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 11:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Forum]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>
		<category><![CDATA[Visual Arts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, sebuah kompetisi seni kontemporer bertajuk Asia Art Award (A3) diselenggarakan di kota Seoul, Korea Selatan. Perhelatan ini diselenggarakan oleh CJ Culture Foundation, Alternative Space LOOP, dan Korea Sports Promotion Foundation yang juga didukung oleh beberapa institusi budaya yang berasal dari beberapa negara Eropa dan Asia Pasifik. Sejak tanggal 9 April s/d [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Java's Machine: Phantasmagoria by Jompet Kuswidananto (2008)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/jompet_kuswidananto.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah kompetisi seni kontemporer bertajuk Asia Art Award (A3) diselenggarakan di kota Seoul, Korea Selatan. Perhelatan ini diselenggarakan oleh CJ Culture Foundation, Alternative Space LOOP, dan Korea Sports Promotion Foundation yang juga didukung oleh beberapa institusi budaya yang berasal dari beberapa negara Eropa dan Asia Pasifik. Sejak tanggal 9 April s/d 6 Juni 2010, kompetisi ini menampilkan karya dari 6 finalis yang dipamerkan di Soma Museum of Art yang terletak di kompleks Olimpiade Seoul. Mereka terdiri dari Apichatpong Weerasethakul (TH), Ashok Sukumaran (IN), ChimPom (JP), Jompet Kuswidananto (ID), Shi Jin Song (CN) dan Yangachi (KR). Tampil sebagai pemenang pertama yang berhak mendapatkan hadiah sebesar USD. 20.000,- adalah Apichatpong Weerasethakul yang menampilkan karya video dengan judul &#8220;Phantoms of Nabua&#8221; (2009).</p>
<p>Kompetisi ini digadang-gadang sebagai babak baru perkembangan seni kontemporer di wilayah Asia. Suh Jinsuk, kurator dari Alternative Space LOOP yang bertindak sebagai direktur kompetisi ini menuliskan bahwa A3 merupakan titik balik bagi perkembangan seni rupa di Asia yang sebelumnya selalu mengekor perkembangan seni kontemporer barat. Tidak tanggung-tanggung, untuk menyelenggarakan kompetisi ini panitia melibatkan sekitar 42 ahli dari Korea Selatan, Jepang, Cina, India dan beberapa negara di wilayah Asia Tenggara, termasuk kurator Agung Hujatnikajennong yang mewakili Indonesia. Mereka secara khusus diundang untuk merekomendasikan sekitar 42 seniman yang kemudian diseleksi oleh 7 orang juri utama yang diminta untuk mengusulkan 6 finalis. Adapun dewan juri yang dilibatkan dalam kompetisi ini adalah Alexandra Munroe (US), Apinan Poshyananda (TH), Carolyn Christov-Bakargiev (US), Fumio Nanjo (JP), Jonathan Watkins (UK), Kim Honghee (KR) dan Wu Hung (CN).</p>
<p><span id="more-1016"></span></p>
<p><strong>Realitas Asia</strong><br />
Dapat dikatakan bahwa karya para seniman yang tampil di dalam kompetisi ini merefleksikan berbagai aspek yang terkait dengan kehidupan masyarakat di wilayah Asia yang tengah berada di dalam gejolak arus perubahan yang sedemikian pesat. Proses globalisasi yang dirajut kapitalisme global dan teknologi media tampaknya telah menjadi semacam katalis yang melahirkan berbagai kecenderungan baru dalam perkembangan seni kontemporer Asia. Dalam kesempatan ini, masing-masing seniman secara kuat merefleksikan kondisi di sekitar mereka dengan menguak berbagai lapisan sejarah dan narasi lokal yang merekam realitas sosial serta berbagai bentuk ketegangan politik yang disampaikan melalui bahasa visual yang sedemikian beragam. Selain karya video dan instalasi, dalam pameran kita juga dapat menyaksikan karya gambar, fotografi, video, cetak digital, obyek, instalasi dan beragam komposisi bebunyian.</p>
<p>Keragaman bahasa estetik ini misalkan tercermin melalui karya Jompet Kuswidananto yang menampilkan karya instalasi berjudul Java&#8217;s Machine: Phantasmagoria (2008). Karyanya sepintas mirip seperti barisan tentara kerajaan yang tegak berdiri dengan karakter yang begitu anggun. Untuk karya ini, Jompet memanfaatkan pelbagai obyek keseharian, cuplikan video dan instrumen robotik yang dimanfaatkan untuk menghasilkan bebunyian yang mirip seperti arak-arakan kelompok pemain drum band dalam gerak lambat. Secara simbolik karya ini merefleksikan berbagai lapisan narasi sejarah kolonial/ paska-kolonial yang telah menjadi bagian dari realitas sosial masyarakat Jawa. Selain itu, karya ini juga tampaknya menyiratkan pola relasi antara mesin dan manusia yang terlihat begitu unik.</p>
<p>Pada kesempatan yang sama, kelompok ChimPom menampilkan beberapa karya yang mewartakan lapisan imajinasi kolektif masyarakat Jepang yang disampaikan dengan cara yang sangat lugas dan berani. Karya mereka yang berjudul &#8220;Lighting up the sky over Hiroshima&#8221; (2009) menjadi bahan perdebatan khalayak luas di Jepang ketika mereka membuat sebuah teks asap raksasa bertuliskan &#8220;PIKA&#8221; tepat diatas kubah gedung A-Bomb Dome dengan latar belakang langit Hiroshima yang berwarna biru pada tanggal 21 Oktober 2008. Bagi mereka yang mengalami tragedi letusan bom nuklir di Hiroshima, teks &#8220;PIKA&#8221; atau &#8220;PIKADON&#8221; yang artinya kurang lebih &#8220;kilatan atau ledakan cahaya&#8221; secara langsung merujuk kepada bencana bom nuklir yang terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945. Selain merenggut sekitar 80.000 nyawa, bencana ini juga ikut menandai kekalahan Jepang dalam perang dunia ke-2 dan menorehkan luka yang begitu mendalam bagi sebagian besar masyarakatnya.</p>
<p>Karena teks ini, karya kelompok ChimPom kemudian dianggap telah menyebabkan kontroversi sosial yang memancing kritisisme dan perdebatan sengit sehingga pada akhirnya rencana pameran tunggal mereka di Hiroshima City Museum of Contemporary Art (Hiroshima MOCA) harus dibatalkan. Namun begitu, karya mereka tampaknya telah berhasil membuka kembali peluang untuk terus membicarakan  berbagai dampak yang telah dihasilkan oleh penggunaan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Barangkali karya ChimPom merupakan salah satu contoh bagaimana praktik seni kontemporer dapat menjadi instrumen yang efektif untuk membuka ruang dialog dan membicarakan berbagai masalah sosial yang dianggap sensitif di ranah publik.</p>
<p>Dalam nuansa yang berbeda, sebentuk dimensi ketegangan politik juga tercermin melalui karya Apichatpong Weerasethakul. Karya videonya yang berjudul &#8220;Phantoms of Nabua&#8221; diambil di perkampungan Nabua yang sempat menjadi arena pertarungan kekuasaan antara Thailand dan komunitas petani komunis setempat. Daerah ini berada di bawah pengaruh Laos dan Uni Soviet pada sekitar tahun 1960 s/d awal 1980-an. Akibat situasi konfilk yang berkepanjangan, daerah ini juga kerap dikenal sebagai &#8220;kampung janda&#8221; (<em>widow town</em>) karena banyak diantara penduduknya yang memilih untuk melarikan diri ke tengah hutan dan meninggalkan anak istri mereka. Karya video Apichatpong yang berdurasi sekitar 30 menit dibuka dengan sambaran halilintar yang hadir secara bergantian, sebelum kemudian menampilkan adegan sekelompok pemuda yang asyik bermain bola api. Secara sekilas karya ini menampilkan kombinasi aneh yang mempertemukan misteri, ketegangan, rasa getir, gairah dan kegembiraan. Dalam pengantar kuratorial yang ditulis oleh Gridthiya Gaweewong, dituliskan bahwa selama ini Apichatpong dikenal sebagai pembuat karya video yang kerap menyampaikan berbagai persoalan sosial dan ingatan kultural, terutama bagi komunitas subkultur dan kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan.</p>
<p><img title="Presentation by Huang Du (CN)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/presentasi_huang_du.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p><strong>Perdebatan dalam Forum</strong><br />
Sebagai bagian dari program A3, panitia penyelenggara menggelar sebuah konferensi dalam wadah Asia Art Forum 2010 sejak tanggal 9 s/d 15 April 2010. Program ini mengundang lebih dari 50 pembicara yang memiliki latar belakang disiplin ilmu dan kebangsaan yang beragam. Beberapa diantaranya adalah Ruth Knowles (Kepala Global Marketing &amp; Investor Relation, The Fine Art Fund, UK), Zhang Qing (Direktur Shanghai Museum of Art, CN), Huang Du (Kurator independen, CN), Frédéric Paul (Direktur Contemporary Art Centre, FR), Chaitanya Sambrani (Ahli teori seni, AU), Fumihiko Sumitomo (Kurator independen, JP), Heiner Holtappels (Direktur Montevideo, NL), Gridthiya Gaweewong (Direktur The Jim Thompson Art Center, TH), Menene Gras Balaguer (Direktur Casa Asia, ES), dsb. Secara spesifik pembicaraan dalam konferensi ini dibagi ke dalam beberapa tema, yang antara lain adalah Art &amp; Capital, Oriental Metaphor, Art &amp; Technology dan Media Archive Network. Selain itu, ada kuliah umum yang secara khusus membahas perkembangan seni kontemporer di wilayah Asia. Selama hampir satu minggu, khalayak luas diajak untuk terlibat secara langsung untuk mencermati berbagai aspek yang terkait dengan perkembangan seni kontemporer di Asia, mulai dari tinjauan sejarah, teori, sampai pada keterkaitan praktik seni kontemporer dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi.</p>
<p>Dalam pengantar yang dibacakan pada sesi pembukaan, Suh Jinsuk menguraikan bagaimana perkembangan seni kontemporer di Asia saat ini telah berada di bawah pengaruh kapitalisme global, sehingga perkembangan seni kontemporer juga menjadi arena proses komodifikasi finansial yang tidak jauh berbeda dengan komoditas di pasar modal. Fenomena ini diuraikan oleh Ruth Knowles yang melihat aktifitas seni sebagai sebuah proses penciptaan nilai kapital (capital creation), sehingga dapat dikategorikan sebagai sebuah aset ekonomi (<em>new asset class</em>) yang memiliki nilai investasi yang valid. Namun begitu, hal ini bukan berarti pasar seni kontemporer tidak memiliki persoalan. Menurutnya pasar seni kontemporer merupakan wilayah yang tidak memiliki regulasi yang jelas (<em>unregulated market</em>), sehingga tidak mudah untuk menetapkan nilai finansial dari sebuah karya seni. Oleh karena itu, upaya pengembangan pasar seni kontemporer harus dilakukan secara profesional dan hati-hati, selain membutuhkan sokongan kebijakan, strategi dan keberadaan beberapa institusi penunjang semisal museum, galeri, balai lelang, institusi pendidikan sampai pada industri media dan publikasi.</p>
<p>Menyambung hal ini, Massimiliano Gioni (Direktur artistik Gwangju Biennale 2010) menyatakan bahwa saat ini seni sudah menjadi bagian dari industri citra (<em>image making industry</em>). Namun begitu, seni juga merupakan sistem representasi yang memiliki dimensi sosial sehingga beririsan dengan berbagai aspek yang terkait dengan hidup kita, terutama dari segi estetika, sejarah, nilai-nilai, etika, moralitas dan juga politik. Hal ini misalkan tercermin melalui uraian yang disampaikan oleh Carol Lu Yinghua (Kritikus seni, CN), yang memberikan gambaran bagaimana dominasi pasar seni kontemporer di Cina juga ikut mempengaruhi mekanisme penulisan sejarah seni di sana. Dalam hal ini perlu disadari bahwa dominasi pasar yang berlebih juga dapat membahayakan integritas medan sosial seni sehingga dapat memperkecil peluang lahirnya gagasan-gagasan alternatif. Selain itu hegemoni pasar juga dapat memiliki kecenderungan untuk mengeliminasi keberagaman ekspresi artistik, terutama bagi karya seni yang mengedepankan pendekatan konseptual dan wacana intelektual. Idealnya kekuatan kapital yang beroperasi di ranah ekonomi juga dapat bersanding secara harmonis dengan dimensi sosial, intelektual, kultural atau bahkan spiritual. Dalam konteks ini, sebagian peserta berpendapat bahwa perkembangan pasar seni kontemporer di Asia akan kehilangan arah dan tujuannya yang hakiki apabila tidak memiliki visi dan integritas yang teruji.</p>
<p>Perdebatan kritis juga mengemuka dalam sesi Oriental Metaphor yang digelar untuk mengartikulasikan kecenderungan bahasa artistik yang dianggap mampu merepresentasikan identitas Asia. Sesi ini dibuka dengan presentasi Lee Youngchul (Direktur Nam Jun Paik Art Center) yang menelusuri jejak kecenderungan ekspresi artistik Nam Jun Paik dalam makalahnya yang berjudul &#8220;Yellow peril! C&#8217;est moi&#8221;. Dalam salah satu uraiannya, Lee menyebutkan bagaimana Nam Jun Paik kerap disebut sebagai seorang teroris kultural (<em>cultural terrorist</em>) karena memiliki intensi untuk menghancurkan berbagai makna simbol dan metafor yang telah mapan di dalam karya-karyanya. Namun begitu, justru karena hal ini Nam Jun Paik kemudian diakui sebagai seniman pendobrak yang mampu memperlihatkan kecenderungan baru, terutama di bidang seni media dan video. Pembicaraan ini kemudian dilanjutkan oleh Chaitanya Sambrani yang menelusuri kecenderungan bahasa artistik dari beberapa seniman Asia seperti Subodh Gupta (IN), Tallur L.N. (IN/ KR) dan Phaptawan Suwannakudth (TH/ AU). Menurutnya penggunaan simbol dan metafor pada beberapa karya seniman ini tidak pernah memiliki makna yang utuh dan selalu membutuhkan catatan kaki yang komperehensif karena artikulasi bahasa artistik yang mereka kembangkan memiliki lapisan kompleksitas yang luar biasa. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa bahasa ekspresi artistik selalu memiliki kecenderungan untuk melampaui batas-batas teritori geografis, politik dan budaya.</p>
<p>Hal yang senada juga disampaikan oleh Nancy Adajania (Ahli teori budaya &amp; kurator independen, IN), yang menyarankan untuk memeriksa kembali berbagai bentuk penggunaan simbol dan metafor yang selama ini dianggap merepresentasikan kecenderungan artistik seniman Asia. Dalam penjelasannya, Nancy menggunakan terminologi critical trans-regionalism sebagai sebuah diskursus kritis yang perlu untuk dikembangkan agar kita dapat menghindari pemahaman yang superfisial tentang keberadaan simbol, metafor atau struktur bahasa dalam sistem representasi yang merujuk pada sebuah entitas budaya dalam lingkungan geografis tertentu. Menurutnya, pendekatan semacam ini sangat diperlukan untuk melawan proses dikotomi dan hegemoni yang justru dapat menghilangkan peluang bagi terjadinya interaksi, dialog dan kolaborasi. Lebih jauh, upaya semacam ini juga sangat dibutuhkan untuk memperkaya sistem bahasa dan pengetahuan yang mengedepankan prinsip keterbukaan dan kesetaraan. Pola relasi timur (<em>orient</em>) dan barat (<em>occident</em>) yang berkembang selama ini tampaknya sudah kadung terjebak ke dalam sistem berfikir logika biner yang justru berpeluang untuk melanggengkan proses kolonialisasi secara simbolik. Dalam hal ini dipandang perlu untuk melihat kembali hubungan timur dan barat sebagai sebuah teritori kultural yang netral dan ranah politik budaya yang terbebas dari klaim sistem kepemilikan (<em>politics of dispossession</em>).</p>
<p><img title="Presentation by Menene Gras Balaguer (ES)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/presentasi_manene_gras_balaguer.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p><strong>Seni dan Teknologi</strong><br />
Perkembangan teknologi digital di abad ke-21 tak pelak lagi telah melahirkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan kita. Melalui perkembangan teknologi digital, mekanime produksi informasi dan pengetahuan telah mengalami perubahan secara radikal. Dalam konteks ini, praktik seni kontemporer semakin mengalami perluasan dan tidak dapat dipisahkan dari berbagai aspek yang terkait dengan perkembagan teknologi. Sejak manusia primitif melukis di dalam gua, selalu ada aspek-aspek teknis yang secara inheren melekat dalam mekanisme produksi karya artistik dan ekspresi budaya. Hal ini mengemuka pada sesi seminar Art &amp; Technology yang dimoderasi oleh Fumihiko Sumitomo (Kurator independen, JP). Dalam presentasi yang disampaikan oleh Yukiko Shikata (Kurator independen, JP), digambarkan bagaimana perkembangan teknologi media telah menjadi semacam ekstensi indera (extended senses) yang banyak dimanfaatkan oleh para seniman untuk mencermati berbagai situasi dan persoalan yang ada di sekeliling mereka. Dalam hal ini, teknologi juga memiliki peran yang penting dalam melahirkan berbagai pendekatan baru dalam proses penciptaan dan penyebaran karya artistik di kalangan masyarakat luas.</p>
<p>Perkembangan teknologi media juga melahirkan berbagai bentuk pemahaman dan pendekatan yang baru dalam sistem representasi dan simulasi. Hal ini secara rinci dijelaskan dalam materi berjudul &#8220;My Cortext: Media Art and the Sensory Experience&#8221;, yang disampaikan oleh Prof. Yoon Joonsung (Global School of Media, Soongsil University, KR). Menurutnya wilayah irisan antara seni dan teknologi telah memberikan definisi yang baru bagi dunia pengalaman, identitas dan benda-benda, termasuk ruang dan waktu. Beda pengertian antara karya orisinil/reproduksi ataupun material/imaterial menjadi begitu cair karena teknologi media telah memungkinkan kita untuk menterjemahkan sensor indrawi menjadi data dan informasi yang dapat direproduksi dan disebarkan dengan mudah. Melalui aspek-aspek keterbukaan, konektifitas dan interaksi, pengalaman artistik juga telah mengalami perluasan makna, terutama ketika setiap orang dapat terlibat secara aktif dalam proses penciptaan dan penyebaran karya seni. Merujuk pada pemikiran Hans Belting dalam bukunya yang berjudul &#8220;Art History After Modernism&#8221; (2003), Prof. Yoon menyatakan bahwa meleburnya berbagai batasan yang sebelumnya berdiri secara mapan akan menjadi tantangan tersendiri bagi seniman dan medan sosial seni (art world) di masa depan.</p>
<p>Terkait dengan uraian di atas, Jen Mizuik (Direktur Experimenta, AU) memberikan gambaran bagaimana perkembangan di bidang seni dan teknologi juga berimplikasi pada mekanisme presentasi yang menjadi semakin spesifik dan membutuhkan konteks yang tepat. Hal ini misalkan tercermin dalam penyelenggaraan Experimenta, sebuah bienalle internasional seni media yang diselenggarakan di kota Melbourne pada tanggal 12 Februari s/d 14 Maret 2010. Perhelatan ini menampilkan sekitar 25 karya dari para seniman yang berasal dari Australia, Jepang, Austria, India, Jerman, Kanada, Prancis, Taiwan dan Inggris. Selain menyelenggarakan pameran, Experimenta juga menggelar serangkaian kegiatan pemutaran film &amp; video, lokakarya, seminar, diskusi, performance dan konser musik. Salah satu aspek yang penting dari perhelatan ini adalah aktifitas produksi informasi dan pengetahuan yang dikembangkan untuk meningkatkan partisipasi dan apresiasi masyarakat secara luas. Sebagai hasilnya, penyelenggaraan Experimenta berhasil melibatkan sekitar 100.000 pengunjung yang datang bergantian selama kegiatan ini berlangsung. Dalam kesempatan ini, publik luas mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan berbagai aspek yang terkait dengan perkembangan di bidang seni dan teknologi.</p>
<p>Perkembangan teknologi media yang berkembang sedemikian pesat tak luput dari persoalan dan kritik. Pada salah satu sesi presentasi, Dr. Bernhard Serexhe (Kurator kepala ZKM Media Museum, DE) menguraikan bahwa teknologi media telah menawarkan sebuah arena baru dimana informasi dan pengetahuan dapat diakses dan disebarkan oleh siapapun dengan mudah. Namun begitu, teknologi juga menawarkan representasi kenyataan yang telah mengalami proses seleksi dan kodifikasi. Sebagai hasilnya, kenyataan tidak lagi tampil dalam wujudnya yang utuh, melainkan telah dipecah ke dalam berbagai versi. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa saat ini kita semakin sulit untuk berinteraksi dengan kenyataan secara total dan otentik. Dunia pengalaman telah digantikan oleh gambaran yang disebarkan melalui berbagai media yang ada di sekeliling kita. Di lain pihak, penggunaan media digital dan internet juga telah memungkinkan terjadinya aktifitas pengawasan yang melekat (<em>surveillance</em>), melalui penggunaan teknologi filter informasi yang kebanyakan dikembangkan untuk kebutuhan militer dan industri. Untuk itu dapat dikatakan bahwa perkembangan teknologi media juga memiliki aspek-aspek politis berupa kontrol dan hegemoni yang beroperasi secara halus. Dalam konteks ini barangkali seni dapat mempertegas kembali posisinya sebagai wahana inovasi, kritik dan refleksi.</p>
<p>Kyai Gede Utama, April 2010</p>
<p><em>* Penulis adalah seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation (Common Room)</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/mengurai-seni-kontemporer-asia-via-seoul-oleh-gustaff-h-iskandar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Discourse &#124; Oleh Yasraf Amir Piliang (Staff pengajar FSRD &#8211; ITB)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/media-discourse-oleh-yasraf-amir-piliang/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/media-discourse-oleh-yasraf-amir-piliang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 12:32:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=859</guid>
		<description><![CDATA[Download Presentation * Materi ini dipresentasikan dalam workshop jurnalisme warga dan jurnalisme konvergen di Common Room pada tanggal 23 April 2010.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="__ss_3826975" style="width: 425px;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="401" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan2010programworkshopmediamateriyasrafmediadiscourse-100423032701-phpapp01&amp;stripped_title=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan-2010programworkshopmediamateriyasrafmedia-discourse" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="401" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan2010programworkshopmediamateriyasrafmediadiscourse-100423032701-phpapp01&amp;stripped_title=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan-2010programworkshopmediamateriyasrafmedia-discourse" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></div>
<p><a href="http://www.slideshare.net/gustaffharriman/usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan-2010programworkshopmediamateriyasrafmedia-discourse/download" target="_blank">Download Presentation</a><br />
<em></em></p>
<p><em>* Materi ini dipresentasikan dalam workshop jurnalisme warga dan jurnalisme konvergen di Common Room pada tanggal 23 April 2010.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/media-discourse-oleh-yasraf-amir-piliang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Reader-list] Wiki politics &#8211; special issue</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/reader-list-wiki-politics-special-issue/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/reader-list-wiki-politics-special-issue/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 10:59:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/reader-list-wiki-politics-special-issue/</guid>
		<description><![CDATA[The democratic promise of the Internet has remained partly unfulfilled. It is still doubtful how the use of new collaborative tools (wikis, blogs, forums, mailing lists, podcasting, and videos) can transform the ways politics are practiced and how the increasing prospects for larger political participation can result to the emergence of active citizens. Perhaps, it [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The democratic promise of the Internet has remained partly unfulfilled. It is still doubtful how the use of new collaborative tools (wikis, blogs, forums, mailing lists, podcasting, and videos) can transform the ways politics are practiced and how the increasing prospects for larger political participation can result to the emergence of active citizens. Perhaps, it is essential to start from the concrete: Wiki politics is a concept that encompasses existing practices which instantly give birth to new democratic forms. They produce a particular form of political participation -horizontal and equitable- which operates on the basis of the principles of decentralisation and openness. This issue aims to explore the openings that the concept of the ‘wiki politics’ presents for democratic theory and practice.</p>
<p>New online journal Re-public &lt; <a href="http://www.republic.gr/en/" title="re-public" target="_blank">http://www.republic.gr/en</a> &gt;,   has just published the first part of its special issue “Wiki politics”. The issue explores how the use of new collaborative tools (wikis, blogs, forums, mailing lists, podcasting, and videos) can transform the ways politics are practiced. Articles include:</p>
<p><img src="http://www.re-public.gr/uploads/wark.JPG" /></p>
<p>McKenzie Wark celebrates Wikipedia as an example of a new kind of social relation, as a model for producing knowledge outside the commodity form…</p>
<p><a href="http://www.re-public.gr/en/?p=132" title="re-public" target="_blank">http://www.re-public.gr/en/?p=132</a></p>
<p>An interview with the author of A Hacker’s Manifesto on how wikipedia is an example of a new kind of social relation.<br />
_____________________________________</p>
<p><img src="http://www.re-public.gr/uploads/lovink.jpg" /><br />
Geert Lovink &#8211; Theses on wiki politics</p>
<p><a href="http://www.re-public.gr/en/?p=135" title="re-public" target="_blank">http://www.re-public.gr/en/?p=135</a></p>
<p>Wikis reflect a culture of pragmatic non-commitment, argues Geert Lovink. One edits, adds, deletes, changes and quits. Then it is time to stand up, get a coffee, smoke a cigarette, talk on the phone or chats, and return to the screen again…</p>
<p>_____________________________________</p>
<p><img src="http://www.re-public.gr/uploads/scholz.jpg" /></p>
<p>Trebor Scholz &#8211; What the MySpace generation should know about working for free</p>
<p><a href="http://www.re-public.gr/en/?p=138" title="re-public" target="_blank">http://www.re-public.gr/en/?p=138</a></p>
<p>Driven by hormones and a sea of desires, millions are sucked into networked screens for hours on end. For the media and news industries these are the heydays of participatory cultures. Cultural anthropologists study “interactivity,” and the networked sociality of teens, fans, and bloggers of all ages who are trying to impress their friends or seek a platform for their ideas. Rather than balancing affordances and pitfalls (democratizing effects such as the <em>massification</em> of voice and harmful aspects such as addiction and <em>continuous partial attention</em>), this essay focuses on creative labor from the perspective of the MySpace generation.</p>
<p>MySpace addicts formulate comments, tag, rank, forward, read, subscribe, re-post media, link, moderate, remix, share, collaborate, favorite, and write. What kind of labor is this, asks Trebor Scholz?<br />
_____________________________________</p>
<p><img src="http://www.re-public.gr/uploads/bowens.jpg" /></p>
<p>Michel Bauwens &#8211; P2P politics, the state, and the renewal of the emancipatory traditions</p>
<p><a href="http://www.re-public.gr/en/?p=133#more-133" title="re-public" target="_blank">http://www.re-public.gr/en/?p=133#more-133</a></p>
<p>Michel Bauwens explores the possibilities opened up by P2P projects for progressive politics, arguing that they could present an alternative to neoliberal privatization, and to the Blairite introduction of private logics in the public sphere.</p>
<p>_____________________________________</p>
<p>All articles of Re-public are published with a Creative Commons license and can be re-printed freely, by acknowledging their source.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/reader-list-wiki-politics-special-issue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

