Tagged: Theory RSS

  • blauloretta 4:05 pm on April 9, 2013 Permalink | Reply
    Tags: , , , , Theory   

    Bincang Buku: Melampaui Penglihatan | Common Room, Rabu, 10 April 2013 

    Bincang Buku: Melampaui Penglihatan; Kumpulan Esai Antropologi Visual tentang Media (Audio) Visual, Seni, dan Penonton
    Penulis: M. Zamzam Fauzanafi (penulis buku)
    Pembahas: Jejen Jaelani (Forum Studi Kebudayaan ITB)
    Tempat: Common Room, Jl. Muararajeun no. 15, Bandung
    Tanggal/pukul: 10 April 2013/19.00 s.d selesai

    Penglihatan dan Apa yang Melampauinya
    Buku ini merupakan kumpulan esai yang ditulis oleh M. Zamzam Fauzanafi sebagai akademisi sekaligus pegiat yang mendalami kajian antropologi visual. Melampaui Penglihatan dimaksudkan sebagai suatu upaya penafsiran budaya sehari-hari melalui detail citra media tontonan sebagai hasil; kerja kamera, mata penglihatan, visualitas, caption dan perbincangan mengenai penglihatan, pun pemaknaan di luar penglihatan itu sendiri.

    Kumpulan esai dalam buku ini mencakup uraian dan penjelasan tentang dua wilayah kerja antropologi visual. Pertama, penggunaan medium/materi visual dalam riset, terutama foto dan video. Kedua, analisis terhadap materi visual dan properti sistem visual mengenai bagaimana segala sesuatu dilihat, serta bagaimana penglihatan dipahami dalam berbagai ekspresi dan pengalaman sosial (melalui lukisan, mural, televisi, hingga puisi, pengalaman menonton film).

    Esai-esai ini bukan semata-mata mengenai dunia visual atau penglihatan, melainkan sebuah usaha untuk menempatkan yang visual dalam relasi kultural, sosial, dan politik yang kompleks. Melalui esai-esai ini yang visual, sebagaimana diungkap oleh MacDougall (2006: 222), ditempatkan sebagai jalan bagi indra yang lain untuk mengalami kompleksitas proses sosial, kultural, dan politik. Jalan yang tidak hanya membutuhkan penglihatan dan penafsiran, tetapi melibatkan emosi dan pemahaman indrawi.

    Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Rumah Sinema dan Common Room. Gratis dan terbuka untuk umum.

     
  • blauloretta 1:08 pm on October 21, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    [Seminar Nasional] 55 Lipatan Dunia: Mengurai Pemikiran Yasraf Amir Piliang | Selasa, 25 Oktober 2011 

     
  • blauloretta 3:17 am on August 10, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    Kondisi Manusia di Awal Abad 21 oleh Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto* 

    I. Topografi Psikokultural

    1. Cyber-Culture: jaringan komunikasi Cyber telah memungkinkan interaksi global. Kepekaan terhadap perbedaan meningkat, kesadaran atas pluralisme menajam, tendensi ke arah relativitas menguat, prinsip “keabsolutan” makin kadaluwarsa. Pola digital dalam budaya cyber juga telah memungkinkan kaburnya “fakta” dan “fiksi”. Segala yang kita tonton atau pun baca selalu bisa merupakan produk rekayasa. Kegiatan penciptaan berbagai simbol atau cerita pun menjadi cenderung “self-referential”, tak mesti bersentuhan dengan realitas pengalaman.
    2. The End of Ideology: Perseteruan ideologi politik besar telah sirna dan usang, wacana-wacana besar kini diragukan, bahkan agama-agama besar mengalami krisis tafsiran internal yang membuatnya tak lagi meyakinkan. Prinsip-prinsip pokok yang mendasari sistem-sistem simbol sentral rusak, menjadi polifonik. Akibatnya tak ada lagi sistem tunggal yang merekat pengalaman-pengalaman yang centang-perenang; tak ada lagi jembatan yang menjamin kesesuaian antara inner dan outer reality; tak ada lagi dasar konstituen kultur yang jelas, yang bisa melahirkan antusiasme, gairah, impian, ketakutan dan kebahagiaan manusia. Tak jelas lagi kapan kita mesti merasa gagal, berdosa, atau pun berhasil; untuk apa loyal, kepada kelompok mana saya perlu loyal.
    3. Kapitalisme yang ambivalen: Di satu sisi kapitalisme mengeruk untung dengan mempermainkan “basic instinct” inderawi kita (seks, makanan, barang-barang dan sensasi memabukkan) dan menjajakan kebebasan tanpa batas hingga menumpulkan hati nurani, melahirkan aneka keliaran dan kekerasan. Di sisi lain kita senang bahkan menginginkan dan memburu segala hal yang ditawarkannya juga.

    II. Aneka Teori Tentang “Kebenaran”

    Manusia zaman sekarang melihat kebenaran juga tidak lagi sederhana, lebih rumit, lebih melihat banyak sisi. Ini pun ikut menambah kebingungan.

    1. Teori “Korespondensi”: benar berarti terdapat kesesuaian antara pernyataan dari Subjek dan kenyataan dari wilayah Objek; antara omongan dan kenyataan. Kesesuaian itu dibayangkan satu banding satu, seperti bila orang bercermin.
    2. Teori “Koherensi”: benar berarti terdapat kait mengkait logis yang kokoh dan kompak antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya; tidak mengandung kontradiksi dan tidak saling menyangkal.
    3. Teori Pragmatis : benar berarti “ada manfaatnya, ada gunanya”. Tidak jadi soal apakah sesungguhnya persis sesuai dengan kenyataan ataupun mengandung kontradiksi. Perdebatan teoritis di sini tak terlampau penting. Segala konsep akan benar saja bila dalam praktik hidup kita, itu memang berguna.
    4. Teori “Performatif”: benar atau tidak itu relatif, sebab sebenarnya itu soal bagaimana kita meyakinkan, mempengaruhi dan mengubah pendapat orang lain. Substansinya relatif, sebab banyak unsur ikut berpengaruh di dalamnya.
    5. Teori “Revelasi”: Benar apabila secara otentik diwahyukan oleh pihak yang berotoritas (Tuhan).
    6. Teori “Disclosure”: Benar adalah bila membuat saya menyadari sesuatu yang tadinya saya tidak sadari/ tidak lihat. Yang biasa disebut “pencerahan”.
    7. Teori “eksistensial”: Benar artinya “sangat berarti” bagi saya. Soal nilai dan keberartian, erat terkait dengan pengalaman konkrit.

    III. Perkembangan Sikap terhadap “Kebenaran”

    1. Absolutis: benar itu satu, tak mungkin banyak.
    2. Relativis historis: Segala prinsip itu benar tidaknya tergantung situasi dan kondisi sejarah. Dulu “banyak anak banyak rejeki” itu dianggap benar, kini tidak.
    3. Relativis perspektival: Tiap kebudayaan punya cara pandang yang berbeda tentang apa yang mereka anggap benar.
    4. Relativis linguistik: Tiap bahasa mempunyai pola pikir yang spesifik, maka kebenaran pun relatif.
    5. Relativis hermeneutis: Segala hal tergantung cara melihat dan menafsirnya; segala hal adalah perkara tafsiran. Tak ada kenyataan “murni” objektif. Dunia manusia adalah dunia tafsir.
    6. Relasional: Segala hal adalah “proses”, proses adalah “relasi”. Maka cara melihat segala sesuatu sebagai “substansi” tak lagi relevan. Segala sesuatu selalu dalam proses “menjadi”, maka kebenaran mesti dilihat dalam relasi, “in between”. Siapa itu Tuhan bukan persis seperti yang ada dalam dogma-dogma, tapi Dia yang ada saat kita sembahyang atau sedang memikirkan Dia, yang tak bisa persis dirumuskan, yang ada dalam “peristiwa aku dan Dia”. Hakikat “palu” yang sesungguhnya bukanlah yang ada dalam definisi, tapi yang saya alami saat saya sedang menggenggamnya dan memukulkannya pada paku. Definisi atau dogma hanyalah pegangan awal, gambaran minimal.

    IV. Beberapa Dampak

    1. Secara individual: manusia masa kini kehilangan kerangka-kerangka dasar untuk memahami diri dan kehidupan. Banyak orang sekarang mengalami kecemasan tanpa arah, kemarahan tanpa alamat, kerinduan tanpa sasaran, keterpesonaan tanpa alasan.
    2. Secara sosial: ada berbagai kecenderungan paradoks, saling bertabrakan. Ada hiteria kosmopolitanisme, sekaligus kecenderungan neo-tribalisme; Happy Nihilism, sekaligus Depressive Nihilism; Kerjasama baur antar golongan, sekaligus toleransi tanpa peduli; Konsumerisme trendi dan fanatik, sekaligus paranoia yang marah terhadap dunia.

    * Catatan ini diunggah di laman group FB Yasraf Amir Piliang Institute (YAP Institute) oleh Alfathri Adlin. Ditampilkan kembali di laman ini atas seizin beliau.

     
  • blauloretta 10:50 am on April 17, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    [Repost] Menulis Musik Adalah Menulis Tentang Manusia | Oleh M. Taufiqurrahman (http://jakartabeat.net/) 

    Menulis tentang musik sangatlah mudah. Jadi jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bahwa menulis musik dan jurnalisme musik adalah sesuatu yang mustahil. Siapapun yang mengatakan menulis tentang musik adalah seperti menari demi arsitektur (writing music is like dancing to architecture) sebenarnya sedang menilai keterampilan menulis mereka terlalu tinggi.

    Siapa saja bisa menulis tentang musik—dan ini ditunjukkan oleh betapa banyaknya zine, webzines, blogs, Facebook notes, website sampai majalah professional yang mendedikasikan dirinya hanya untuk menulis tentang musik. Yang dibutuhkan tidak banyak. Anda cukup menjadi pecinta musik—dan semua orang adalah pecinta musik—penggemar sebuah atau beberapa kelompok musik, dan anda bisa menjadi penulis yang fasih yang mampu bercerita tentang gitar solo yang menyayat, ketukan drum yang kompleks sampai lengkingan suara yang membahana dari sang vokalis.

    Jika anda rajin membaca majalah Spin, NME atau Rolling Stone, tulisan anda bisa menjadi semakin kaya dengan membubuhkan tarikh dari band-band legendaris kesukaan anda, lengkap dengan kata-kata bijak dari sang vokalis atau penulis lirik, siapa yang merancang cover art album legendaris mereka sampai gosip terbaru tentang akan di mana band tersebut akan manggung berikutnya (Sampai pada taraf tertentu kami di Jakartabeat masih harus melakukannya. Pilihan kami terbatas karena beginilah keadaan jurnalisme musik selama hampir 40 tahun terakhir). Dan jika anda sering membaca pitchfork.com, anda bisa banyak menggunakan kata ironi, hip dan “air quote.

    (More …)

     
  • blauloretta 1:06 pm on February 7, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    Internet, Moralitas dan Masyarakat Sipil* 

    Selama beberapa dekade terakhir perkembangan teknologi internet dan media digital semakin menjadi komponen yang penting bagi kehidupan masyarakat sipil. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Sejak pertama kali ‘diciptakan’ pada tahun 1989 oleh Tim Barners-Lee, sampai saat ini sudah ada sekitar 6,8 milyar pengguna internet yang terhubung hampir di seluruh penjuru dunia. Teknologi internet dan media digital semakin mempermudah penyebaran data dan informasi, serta memberikan dampak tersendiri bagi perkembangan budaya masyarakat global. Rasanya tidaklah berlebihan apabila disebutkan bahwa teknologi internet memiliki potensi untuk membentuk tatanan masyarakat yang baru di masa depan (Barbrook, 2007).

    Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Netcraft sampai dengan bulan Desember 2010, sejauh ini sudah ada sekitar 255,287,546 situs internet yang tersebar di seluruh dunia dangan isi yang bermacam-macam. Dari jumlah ini, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa sampai tahun 2004 jumlah domain internet yang terdaftar di ID-TLD (Indonesia) sudah mencapai angka 21.762. Lebih lanjut, dalam arsipnya APJII juga menyebutkan bahwa sampai dengan tahun 2007 sudah ada sekitar 25.000.000 pengguna internet di Indonesia. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat secara tajam seiring dengan berkembangnya teknologi, mobilitas manusia, serta tumbuhnya infrastruktur teknologi internet di Indonesia.

    Perkembangan teknologi internet juga menandai lompatan menuju abad informasi yang melahirkan tata nilai dan proyeksi peradaban yang baru. Teknologi internet tidak hanya memberikan pengaruh terhadap perkembangan teknologi media dan informasi, tetapi juga membawa dampak secara sosial, politik dan ekonomi. Hal ini misalkan ditandai dengan semakin cairnya sekat teritori politik dan budaya sehingga memungkinkan terjadinya pola interaksi trans-regional yang menembus batas-batas negara. Selain itu, teknologi internet juga mendorong lahirnya pola produksi dan penyebaran informasi serta ilmu pengetahuan yang baru. Dalam hal ini, internet telah menjadi kanal bagi beragam pandangan dan tata nilai yang juga membawa kita pada perdebatan mengenai hukum, etika dan moralitas baru yang semakin kompleks. Berbagai bentuk pandangan dan nilai-nilai yang sebelumnya berdiri secara ajeg seakan meluruh dan melebur menjadi satu di jagat internet.

    (More …)

     
  • Idharrez 10:30 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 3-selesai) 

    http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg");" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="389" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0">http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg");" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="389" src="http://www.youtube.com/v/ia5FxoeFJWI&hl=en_US&fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true">

    Internet, Media, Kuasa dan Politik

    “Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine”[1]

    (Tim Jordan)

    Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, provider swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai digunakan publik secara luas pada tahun 1995. Pada masa itu penggunaan internet belum terlalu marak karena biaya pemasangan dan kepemilikan jaringan masih mahal dan membutuhkan sambungan telepon pribadi untuk menyambung internet.[2]

    Keberadaan internet ternyata mampu menjadi media alternatif bagi masyarakat untuk mencari dan menyebarkan informasi, yang pada masa itu penyebarannya masih sangat dibatasi dan diatur sepenuhnya oleh Negara. Internet seakan menjadi angin segar yang menggugah masyarakat untuk lebih berani dan proaktif. Terbukti, internet menjadi salah satu alat untuk menggulingkan Soeharto dan tatanan Orde Baru yang dibangunnya.[3] Caranya?

    (More …)

     
    • jobloker 8:17 am on May 15, 2011 Permalink

      Internet selalu mempunyai 2 sisi negatif dan positif, dan merupakan sebuah katalis perubahan di dunia dan mempercepat perluasan informasi

  • Idharrez 10:21 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 2) 

    http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg");" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="388" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0">http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg");" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="388" src="http://www.youtube.com/v/WytNkw1xOIc&hl=en_US&fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true">

    Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.

    Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.

    Anytime, everywhere, anywhere. Itulah sifat teknologi di masa kini yang akan selalu siap kapanpun, dimana pun, dan bagi siapapun yang membutuhkannya. Teknologi memberikan kemudahan, kenikmatan, kesenangan, sekaligus kesementaraan, kemewahan, dan hampir segalanya bagi kita ketika melalui dan memaknai hidup. Akhirnya: mereka menguasai kita.

    Dengan segala kemudahan dan kenikmatan yang diberikan, teknologi layaknya mata uang koin bersisi dua, selalu menempel dan membayangi sisi lainnya. Teknologi juga mirip seperti selembar kertas HVS yang pada salah satu sisinya diisi tulisan dan sisi satunya dibiarkan kosong: meng-ada-kan dan men-(t)iada-kan. Akhirnya: mereka mengakar, menggurita dan mengeruk; mengubah pola perilaku dan ritme hidup kita.

    (More …)

     
  • Idharrez 10:09 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 1) 

    http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg");" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="295" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0">http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg");" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="295" src="http://www.youtube.com/v/9hIQjrMHTv4&hl=en_US&fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true">

    “Baudrillard’s hyperreality is not a map at all, but a participative process that may shape us, or may allow us to shape our surroundings. There is no other controller. Governance is our own hands but is set to mass agendas. The cybernetic loop has closed on postcapitalist society and cyberspace.”[1]

    (Andrea Keay, Hiperreality and Cyberspace)

    Dunia dalam dunia.[2] Itulah posisi internet di dunia ini. Dunia yang ada, hadir, dan bersanding secara paralel dengan dunia nyata. Dunia yang bukan lagi sebuah keberadaan fisik, namun sebuah ruang patafisika. Ia tidak dapat diraba, namun hadir; tidak dapat di sentuh, namun ada; seperti yang dijelaskan oleh Baudrillard (diungkapkan oleh Yasraf Amir Piliang) dalam uraian berikut:

    “Ia adalah sesuatu di luar ada, dalam pengertian sebuah kategori yang melampaui, baik fisika maupun metafisika. Dalam pengertian, ia bukan fenomena fisik, bukan juga metafisik, ia adalah patafisika (phataphysics). Ia adalah sesuatu yang menfakta, dalam pengertian bisa dirasakan, dilihat, diraba, didengar, tetapi tidak nyata (real), dalam pengertian tidak mengikuti hukum-hukum fisika Newtonian, akan tetapi tidak juga bersifat metafisik, oleh karena ia dapat dicapai oleh kapasitas intuisi, bahkan indra manusia.”[3]

    Itulah (ciri-ciri) internet. Lalu, bila aku yang mengatakan, ia hanya berupa digit-digit yang mereplikasi keberadaan bentuk fisik agar dapat hadir secara bersamaan, di waktu yang sama, namun terpisah oleh jarak, meskipun kemudian keberadaan jarak menjadi irelevan karena membiasnya batasan antara ruang. Dalam hal ini seakan kita semua berada pada satu titik yang sama untuk bisa saling berkomunikasi, bercanda, bercumbu, atau sekedar menjelajah dunia. Semuanya menjadi bertumpuk, namun tidak meluas dan tidak meninggi; menyalahi aturan matematis akan keruangan dan dimensi; mengubah struktur penunjang akan bentuk fisik dunia dan isiannya.

    (More …)

     
  • blauloretta 11:00 am on May 27, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , Theory,   

    Mengurai Seni Kontemporer Asia via Seoul | Oleh Gustaff H. Iskandar* 

    Beberapa waktu yang lalu, sebuah kompetisi seni kontemporer bertajuk Asia Art Award (A3) diselenggarakan di kota Seoul, Korea Selatan. Perhelatan ini diselenggarakan oleh CJ Culture Foundation, Alternative Space LOOP, dan Korea Sports Promotion Foundation yang juga didukung oleh beberapa institusi budaya yang berasal dari beberapa negara Eropa dan Asia Pasifik. Sejak tanggal 9 April s/d 6 Juni 2010, kompetisi ini menampilkan karya dari 6 finalis yang dipamerkan di Soma Museum of Art yang terletak di kompleks Olimpiade Seoul. Mereka terdiri dari Apichatpong Weerasethakul (TH), Ashok Sukumaran (IN), ChimPom (JP), Jompet Kuswidananto (ID), Shi Jin Song (CN) dan Yangachi (KR). Tampil sebagai pemenang pertama yang berhak mendapatkan hadiah sebesar USD. 20.000,- adalah Apichatpong Weerasethakul yang menampilkan karya video dengan judul “Phantoms of Nabua” (2009).

    Kompetisi ini digadang-gadang sebagai babak baru perkembangan seni kontemporer di wilayah Asia. Suh Jinsuk, kurator dari Alternative Space LOOP yang bertindak sebagai direktur kompetisi ini menuliskan bahwa A3 merupakan titik balik bagi perkembangan seni rupa di Asia yang sebelumnya selalu mengekor perkembangan seni kontemporer barat. Tidak tanggung-tanggung, untuk menyelenggarakan kompetisi ini panitia melibatkan sekitar 42 ahli dari Korea Selatan, Jepang, Cina, India dan beberapa negara di wilayah Asia Tenggara, termasuk kurator Agung Hujatnikajennong yang mewakili Indonesia. Mereka secara khusus diundang untuk merekomendasikan sekitar 42 seniman yang kemudian diseleksi oleh 7 orang juri utama yang diminta untuk mengusulkan 6 finalis. Adapun dewan juri yang dilibatkan dalam kompetisi ini adalah Alexandra Munroe (US), Apinan Poshyananda (TH), Carolyn Christov-Bakargiev (US), Fumio Nanjo (JP), Jonathan Watkins (UK), Kim Honghee (KR) dan Wu Hung (CN).

    (More …)

     
  • blauloretta 12:32 pm on April 23, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory,   

    Media Discourse | Oleh Yasraf Amir Piliang (Staff pengajar FSRD – ITB) 

    Download Presentation

    * Materi ini dipresentasikan dalam workshop jurnalisme warga dan jurnalisme konvergen di Common Room pada tanggal 23 April 2010.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
cialis geciktirici online film izle bedava film izle chat