Tagged: Theory RSS

  • Idharrez 10:30 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 3-selesai) 

    Internet, Media, Kuasa dan Politik

    “Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine”[1]

    (Tim Jordan)

    Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, provider swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai digunakan publik secara luas pada tahun 1995. Pada masa itu penggunaan internet belum terlalu marak karena biaya pemasangan dan kepemilikan jaringan masih mahal dan membutuhkan sambungan telepon pribadi untuk menyambung internet.[2]

    Keberadaan internet ternyata mampu menjadi media alternatif bagi masyarakat untuk mencari dan menyebarkan informasi, yang pada masa itu penyebarannya masih sangat dibatasi dan diatur sepenuhnya oleh Negara. Internet seakan menjadi angin segar yang menggugah masyarakat untuk lebih berani dan proaktif. Terbukti, internet menjadi salah satu alat untuk menggulingkan Soeharto dan tatanan Orde Baru yang dibangunnya.[3] Caranya?

    (More …)

     
  • Idharrez 10:21 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 2) 

    Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.

    Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.

    Anytime, everywhere, anywhere. Itulah sifat teknologi di masa kini yang akan selalu siap kapanpun, dimana pun, dan bagi siapapun yang membutuhkannya. Teknologi memberikan kemudahan, kenikmatan, kesenangan, sekaligus kesementaraan, kemewahan, dan hampir segalanya bagi kita ketika melalui dan memaknai hidup. Akhirnya: mereka menguasai kita.

    Dengan segala kemudahan dan kenikmatan yang diberikan, teknologi layaknya mata uang koin bersisi dua, selalu menempel dan membayangi sisi lainnya. Teknologi juga mirip seperti selembar kertas HVS yang pada salah satu sisinya diisi tulisan dan sisi satunya dibiarkan kosong: meng-ada-kan dan men-(t)iada-kan. Akhirnya: mereka mengakar, menggurita dan mengeruk; mengubah pola perilaku dan ritme hidup kita.

    (More …)

     
  • Idharrez 10:09 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 1) 

    “Baudrillard’s hyperreality is not a map at all, but a participative process that may shape us, or may allow us to shape our surroundings. There is no other controller. Governance is our own hands but is set to mass agendas. The cybernetic loop has closed on postcapitalist society and cyberspace.”[1]

    (Andrea Keay, Hiperreality and Cyberspace)

    Dunia dalam dunia.[2] Itulah posisi internet di dunia ini. Dunia yang ada, hadir, dan bersanding secara paralel dengan dunia nyata. Dunia yang bukan lagi sebuah keberadaan fisik, namun sebuah ruang patafisika. Ia tidak dapat diraba, namun hadir; tidak dapat di sentuh, namun ada; seperti yang dijelaskan oleh Baudrillard (diungkapkan oleh Yasraf Amir Piliang) dalam uraian berikut:

    “Ia adalah sesuatu di luar ada, dalam pengertian sebuah kategori yang melampaui, baik fisika maupun metafisika. Dalam pengertian, ia bukan fenomena fisik, bukan juga metafisik, ia adalah patafisika (phataphysics). Ia adalah sesuatu yang menfakta, dalam pengertian bisa dirasakan, dilihat, diraba, didengar, tetapi tidak nyata (real), dalam pengertian tidak mengikuti hukum-hukum fisika Newtonian, akan tetapi tidak juga bersifat metafisik, oleh karena ia dapat dicapai oleh kapasitas intuisi, bahkan indra manusia.”[3]

    Itulah (ciri-ciri) internet. Lalu, bila aku yang mengatakan, ia hanya berupa digit-digit yang mereplikasi keberadaan bentuk fisik agar dapat hadir secara bersamaan, di waktu yang sama, namun terpisah oleh jarak, meskipun kemudian keberadaan jarak menjadi irelevan karena membiasnya batasan antara ruang. Dalam hal ini seakan kita semua berada pada satu titik yang sama untuk bisa saling berkomunikasi, bercanda, bercumbu, atau sekedar menjelajah dunia. Semuanya menjadi bertumpuk, namun tidak meluas dan tidak meninggi; menyalahi aturan matematis akan keruangan dan dimensi; mengubah struktur penunjang akan bentuk fisik dunia dan isiannya.

    (More …)

     
  • blauloretta 11:00 am on May 27, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , Theory,   

    Mengurai Seni Kontemporer Asia via Seoul | Oleh Gustaff H. Iskandar* 

    Beberapa waktu yang lalu, sebuah kompetisi seni kontemporer bertajuk Asia Art Award (A3) diselenggarakan di kota Seoul, Korea Selatan. Perhelatan ini diselenggarakan oleh CJ Culture Foundation, Alternative Space LOOP, dan Korea Sports Promotion Foundation yang juga didukung oleh beberapa institusi budaya yang berasal dari beberapa negara Eropa dan Asia Pasifik. Sejak tanggal 9 April s/d 6 Juni 2010, kompetisi ini menampilkan karya dari 6 finalis yang dipamerkan di Soma Museum of Art yang terletak di kompleks Olimpiade Seoul. Mereka terdiri dari Apichatpong Weerasethakul (TH), Ashok Sukumaran (IN), ChimPom (JP), Jompet Kuswidananto (ID), Shi Jin Song (CN) dan Yangachi (KR). Tampil sebagai pemenang pertama yang berhak mendapatkan hadiah sebesar USD. 20.000,- adalah Apichatpong Weerasethakul yang menampilkan karya video dengan judul “Phantoms of Nabua” (2009).

    Kompetisi ini digadang-gadang sebagai babak baru perkembangan seni kontemporer di wilayah Asia. Suh Jinsuk, kurator dari Alternative Space LOOP yang bertindak sebagai direktur kompetisi ini menuliskan bahwa A3 merupakan titik balik bagi perkembangan seni rupa di Asia yang sebelumnya selalu mengekor perkembangan seni kontemporer barat. Tidak tanggung-tanggung, untuk menyelenggarakan kompetisi ini panitia melibatkan sekitar 42 ahli dari Korea Selatan, Jepang, Cina, India dan beberapa negara di wilayah Asia Tenggara, termasuk kurator Agung Hujatnikajennong yang mewakili Indonesia. Mereka secara khusus diundang untuk merekomendasikan sekitar 42 seniman yang kemudian diseleksi oleh 7 orang juri utama yang diminta untuk mengusulkan 6 finalis. Adapun dewan juri yang dilibatkan dalam kompetisi ini adalah Alexandra Munroe (US), Apinan Poshyananda (TH), Carolyn Christov-Bakargiev (US), Fumio Nanjo (JP), Jonathan Watkins (UK), Kim Honghee (KR) dan Wu Hung (CN).

    (More …)

     
  • blauloretta 12:32 pm on April 23, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Theory,   

    Media Discourse | Oleh Yasraf Amir Piliang (Staff pengajar FSRD – ITB) 

    Download Presentation

    * Materi ini dipresentasikan dalam workshop jurnalisme warga dan jurnalisme konvergen di Common Room pada tanggal 23 April 2010.

     
  • blauloretta 10:59 am on July 5, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , , , Theory   

    [Reader-list] Wiki politics – special issue 

    The democratic promise of the Internet has remained partly unfulfilled. It is still doubtful how the use of new collaborative tools (wikis, blogs, forums, mailing lists, podcasting, and videos) can transform the ways politics are practiced and how the increasing prospects for larger political participation can result to the emergence of active citizens. Perhaps, it is essential to start from the concrete: Wiki politics is a concept that encompasses existing practices which instantly give birth to new democratic forms. They produce a particular form of political participation -horizontal and equitable- which operates on the basis of the principles of decentralisation and openness. This issue aims to explore the openings that the concept of the ‘wiki politics’ presents for democratic theory and practice.

    New online journal Re-public < http://www.republic.gr/en >, has just published the first part of its special issue “Wiki politics”. The issue explores how the use of new collaborative tools (wikis, blogs, forums, mailing lists, podcasting, and videos) can transform the ways politics are practiced. Articles include:

    McKenzie Wark celebrates Wikipedia as an example of a new kind of social relation, as a model for producing knowledge outside the commodity form…

    http://www.re-public.gr/en/?p=132

    An interview with the author of A Hacker’s Manifesto on how wikipedia is an example of a new kind of social relation.
    _____________________________________


    Geert Lovink – Theses on wiki politics

    http://www.re-public.gr/en/?p=135

    Wikis reflect a culture of pragmatic non-commitment, argues Geert Lovink. One edits, adds, deletes, changes and quits. Then it is time to stand up, get a coffee, smoke a cigarette, talk on the phone or chats, and return to the screen again…

    _____________________________________

    Trebor Scholz – What the MySpace generation should know about working for free

    http://www.re-public.gr/en/?p=138

    Driven by hormones and a sea of desires, millions are sucked into networked screens for hours on end. For the media and news industries these are the heydays of participatory cultures. Cultural anthropologists study “interactivity,” and the networked sociality of teens, fans, and bloggers of all ages who are trying to impress their friends or seek a platform for their ideas. Rather than balancing affordances and pitfalls (democratizing effects such as the massification of voice and harmful aspects such as addiction and continuous partial attention), this essay focuses on creative labor from the perspective of the MySpace generation.

    MySpace addicts formulate comments, tag, rank, forward, read, subscribe, re-post media, link, moderate, remix, share, collaborate, favorite, and write. What kind of labor is this, asks Trebor Scholz?
    _____________________________________

    Michel Bauwens – P2P politics, the state, and the renewal of the emancipatory traditions

    http://www.re-public.gr/en/?p=133#more-133

    Michel Bauwens explores the possibilities opened up by P2P projects for progressive politics, arguing that they could present an alternative to neoliberal privatization, and to the Blairite introduction of private logics in the public sphere.

    _____________________________________

    All articles of Re-public are published with a Creative Commons license and can be re-printed freely, by acknowledging their source.

     
  • blauloretta 10:59 am on July 5, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , Theory   

    IASLonline Lessons in NetArt 

    URL: http://iasl.uni-muenchen.de/links/NATheoriee.html

    Conceptual Art and Software Art: Notations, Algorithms and Codes
    URL: http://iasl.uni-muenchen.de/links/NAKSe.html

    Self-replicative and generative codes have been developed in Software Art. Intermedia Arts relations between notation and realisation are expanded by new mutations in relations between readable code and computer processing: Examples of program codes appear as the next step after formalizations of verbal concepts in Dada, Fluxus and Conceptual Art. And on the other hand: These formalized notations can be presented as precursors of Software Art.

    Participation with Camera: From the Video Camera to the Camera Phone
    URL: http://iasl.uni-muenchen.de/links/NAPKe.html

    The development of the camera technology (video camera, WebCam, camera phone) and its context had and has consequencies for the development of strategies to integrate participative uses of cameras into projects. The article outlines the camera use as a subject of change from video and net projects to collaborative mapping with locative media.

    The article “Participation with Camera” offers an overview on some of the nearly hundred projects described in German in:

    Collected tips: Interactive Urban Experience with Locative Media (Mapping)
    Part 1: URL: http://iasl.uni-muenchen.de/links/TippSammel1.html
    Part 2: URL: http://iasl.uni-muenchen.de/links/TippSammel1B.html

    The project “Interactive Urban Experience” is presented in all its parts (Mapping, Pervasive Games, Installations) in German in:

    Collected tips 1-3: Interactive Urban Experience with Digital Media (Internet, Mobile Telephone and Locative Media):
    URL: http://iasl.uni-muenchen.de/links/TippSammel1-3.html

    Thomas Dreher
    URL: http://dreher.netzliteratur.net/


    Dr. phil. Thomas Dreher
    Schwanthalerstraße 158
    D-80339 München
    B.R.D.
    Tel.: 0049/89/5029513 (privat);
    0049/89/23033-214
    URL: http://dreher.netzliteratur.net

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel