<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Technology</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/technology/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 10:07:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Survei ITC dan Civil Society</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/survei-itc-dan-civil-society/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/survei-itc-dan-civil-society/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 10:25:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[New Media]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1454</guid>
		<description><![CDATA[
Survey SoftwareEnterprise Feedback ManagementSilakan klik link ini untuk berpartisipasi dalam survey
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--BEGIN QUALTRICS SURVEY--><br />
<iframe src="http://mbs.qualtrics.com/SE?SID=SV_0cEQLkCyokGzZME" width=650 height=940><br />
<a target="_blank" title="Survey Software" href="http://www.qualtrics.com/survey-software/">Survey Software</a><br/><a target="_blank" title="Enterprise Feedback Management" href="http://www.qualtrics.com/solutions/enterprise-feedback-management/">Enterprise Feedback Management</a><br/><a target="_blank" href="http://mbs.qualtrics.com/SE?SID=SV_0cEQLkCyokGzZME">Silakan klik link ini untuk berpartisipasi dalam survey</a><br/></iframe><br />
<!--END QUALTRICS SURVEY--></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/survei-itc-dan-civil-society/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dune 4.1 &#124; Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL) &#124; Common Room, 13 &#8211; 18 Agustus 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 04:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[Dune 4.1 &#124; Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL)
13 &#8211; 18 Agustus 2010
Setiap hari pukul 10.00 &#8211; 17.00 WIB
Pembukaan pameran
Jumat, 13 Agustus 2010, pukul 15.00 WIB &#8211; selesai
(dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama)
Venue
Common Room Networks Foundation (Common Room)
Jl. Kyai Gede Utama no. 8
Bandung 40132
Telp./Fax.: +62.22.2503404
URL: http://commonroom.info


Deskripsi
 Apa yang bakal terjadi apabila teknologi melompat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/poster_daan_low.jpg" border="0" alt="commonroom" /></p>
<p><strong>Dune 4.1 | Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL)</strong></p>
<p>13 &#8211; 18 Agustus 2010<br />
Setiap hari pukul 10.00 &#8211; 17.00 WIB</p>
<p><strong>Pembukaan pameran<br />
</strong>Jumat, 13 Agustus 2010, pukul 15.00 WIB &#8211; selesai<br />
(dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama)</p>
<p><strong>Venue</strong><br />
Common Room Networks Foundation (Common Room)<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung 40132<br />
Telp./Fax.: +62.22.2503404<br />
URL: <a href="http://commonroom.info" rel="nofollow">http://commonroom.info</a></p>
<p><span id="more-1407"></span></p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/dune_low_01.jpg" border="0" alt="Dune" /></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
<em> Apa yang bakal terjadi apabila teknologi melompat keluar dari layar dan berbaur dengan alam serta lanskap di zaman kiwari? Perenungan ini pada awalnya adalah sebuah pertanyaan di dalam benak pikiran seniman Daan Roosegaarde ketika mengerjakan karya interaktif ‘Dune’ selama 4 tahun terakhir ini.</em></p>
<p>Dune 4.1 adalah sebuah karya interaktif yang dapat bereaksi terhadap tingkah laku manusia. Gabungan dari fenomena alam dan teknologi ini terdiri dari sejumlah besar serat yang dapat menyala menurut suara dan gerakan pengunjung yang berlalu lalang. Dalam hal ini, Dune 4.1 menyelidiki kondisi alam dalam kaitan futuristiknya dengan tata ruang kota melalui cara melihat, berjalan dan berinteraksi. Berjalan melalui karya ini digambarkan oleh pers internasional seakan tengah berada di dalam ‘Alice in Technoland’ (analogi cerita &amp; film ‘Alice in Wonderland’).</p>
<p>Walaupun Dune 4.1 secara fisik dikemas dengan teknologi tinggi, pameran ini memberi penekanan kepada dunia pengalaman sensual dimana teknologi merupakan alat yang dibutuhkan namun tidak perlu terlihat keberadaannya. Dengan bereaksi terhadap suara dan gerakan, karya instalasi ini mengajak pemirsa untuk menciptakan ruang personal yang seolah menyelimuti seluruh permukaan tubuh kita. Melalui pengalaman ini, para pengunjung pameran mendapat kesempatan untuk membangun kesadaran akan hubungan yang dinamis dengan lingkungan di sekitar mereka.</p>
<p>Di beberapa tempat seperti Slovenia, dimana kebanyakan orang terbiasa pada sebuah situasi di mana dinding pun dapat memata-matai, generasi yang lebih tua agak merasa kurang nyaman dengan kehadiran Dune 4.1. Sebaliknya, aktor-aktor di Hollywood yang melihat karya ini dalam sebuat presentasi kerap mengatakan, “<em>Lagi, lagi, perlihatkan lagi!</em>”</p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/dune_low_02.jpg" border="0" alt="Dune" /></p>
<p>Terinspirasi oleh novel J. G. Ballard dan film-film David Lynch, karya Roosegaarde pada umumnya selalu berusaha untuk berbicara dengan mendorong interaksi yang langsung dengan setiap pengunjung pamerannya. Aplikasi teknologi interaktif mutakhir pada karya Dune 4.1 melahirkan karya cerdas yang dapat memodifikasi penampilannya sendiri berdasarkan deteksi yang dinamis pada perilaku manusia.</p>
<p>Melalui karya ini, Roosegaarde juga menggambarkan ketertarikan yang tidak berkesudahan pada wilayah abu-abu, yang mempertemukan dunia arsitektur, manusia dan teknologi. Dalam dunia seniman, secara konvensional ruang dan lingkungan adalah tempat bagi berbagai bentuk eksperimentasi dan uji coba. Selain itu, secara teoritik juga digambarkan bahwa alam dan teknologi yang berkembang secara bersamaan pada akhirnya akan menyatu. Pameran ini barangkali adalah sebuah gambaran yang kongkrit dari gagasan-gagasan tersebut.</p>
<p>Khusus untuk pameran di Indonesia, Roosegaarde juga terinspirasi oleh novel ‘The Tea Merchants’ yang ditulis oleh Hella Haase. Novel ini berkisah tentang pasangan Rudolf Kerkhoven dan anggota keluarga Jenny Roosegaarde Bisschop yang melakukan perjalanan dari Belanda ke perkebunan teh terpencil di daerah Preanger, Jawa Barat pada tahun 1871. Kisah ini adalah sebuah cerita yang hidup dari dunia yang hilang pada masa Hindia Belanda. Melalui pameran Dune 4.1 di Indonesia, sebuah hubungan baru telah mempertemukan lanskap kebun teh kuno dari keluarga Roosegaarde dengan pemandangan masa depan yang berpadu menjadi sebuah bentang alam yang baru.</p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/roosegaarde_low.jpg" border="0" alt="Daan Rooseegarde" /></p>
<p><strong>Sekilas Tentang Daan Roosegaarde</strong><br />
Berbasis di Rotterdam, Daan Roosegaarde belajar di Academy of Fine Arts (AKI) yang terletak di Enschede. Ia mengambil jurusan Monumental Sculpture sebelum melanjutkan untuk memperoleh gelar Master di bidang Arsitek dari Berlage Institute. Pada tahun 2005 dia mendirikan Studio Roosegaarde dan dengan cepat mendapat pengakuan dunia atas karya serta desainnya yang interaktif dan tidak biasa.</p>
<p>Sejak didirikan, Studio Roosegaarde menjadi pusat pengembangan kreatifitas untuk melakukan eksplorasi ide serta konsep yang konsisten dengan visi artistik Roosegaarde. Studio ini secara spesifik menyoroti dinamika hubungan antara dunia arsitektur, masyarakat dan e-culture. Kebanyakan dari karya Roosegaarde juga dibuat untuk membangkitkan situasi yang dapat mengakomodasi sebuah prinsip yang disebut “<em>tactile high-tech</em>”, dimana pengunjung dan ruang publik dapat menjadi satu dalam kurun waktu tertentu.</p>
<p>Roosegaarde sendiri tidak percaya pada penerapan yang statis dari perkembangan teknik, semisal menatap secara pasif pada layar komputer. Aplikasi teknis akan menjadi lebih interaktif ketika ia dapat menyesuaikan diri pada prilaku penggunanya. Sebagai contoh barangkali adalah penggunaan tangga berjalan. 100 tahun yang lalu tangga berjalan masih merupakan sebentuk instrumen teknis yang statis.</p>
<p>Dewasa ini tangga berjalan telah dapat menyesuaikan kecepatannya. Jika tidak ada orang yang menggunakannya, ia akan bergerak lebih lambat untuk menghemat energi. Pada saat seseorang menggunakannya, ia kemudian akan bergerak lebih cepat. Dalam hal ini kita dapat sama-sama melihat bagaimana perkembangan teknik dapat memiliki hubungan yang lebih alami dengan manusia dan lingkungannya.</p>
<p>Setelah mendapat pengakuan atas karyanya (diantaranya adalah “Dune” dan “Sustainable Dance Floor”), Roosegaarde kemudian mendapatkan kesempatan untuk menampilkan proyek interaktifnya di berbagai venue internasional seperti V2_, Netherlands Media Art Institute Montevideo, Tate Modern London, Yamaguchi Center for Arts and Media Japan, National Art Center Tokyo, Venice Biennale 2009 dan Victoria &amp; Albert Museum London.</p>
<p>URL: <a href="http://www.studioroosegaarde.net/" target="_blank">http://www.studioroosegaarde.net/</a></p>
<p><em>Pameran ini terselenggara atas kerjasama dari Erasmus Huis, Common Room Networks Foundation dan HIVOS</em>. <em>Juga didukung oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual &#8211; Institut Teknologi Bandung</em>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspresi Media Pengganti Kenyataaan &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 07:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi
Perkembangan media tentu tak bisa dikesampingkan dalam ranah dunia seni kontemporer. Seiring perkembangan zaman, ia bisa menjadi pengganti “kenyataan” itu sendiri. Setidaknya inilah yang diperlihatkan dalam pameran The Loss of the Real di Selasar Sunaryo pada Minggu (18/7) lalu. Pameran berlangsung hingga tanggal 1 Agustus 2010. Pameran ini menyajikan beragam karya seni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3427.jpg" border="0" alt="" width="480" height="317" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Perkembangan media tentu tak bisa dikesampingkan dalam ranah dunia seni kontemporer. Seiring perkembangan zaman, ia bisa menjadi pengganti “kenyataan” itu sendiri. Setidaknya inilah yang diperlihatkan dalam pameran The Loss of the Real di Selasar Sunaryo pada Minggu (18/7) lalu. Pameran berlangsung hingga tanggal 1 Agustus 2010. Pameran ini menyajikan beragam karya seni mulai dari instalasi, fotografi, video, lukisan, hingga audio (sound-art). Simak misalnya karya seniman Jepang, Daito Manabe yang berjudul “Face Visualizer”. Karyanya itu menampilkan ekspresi beragam wajah yang terkena sensor sehingga melahirkan ritma suara yang menarik. Atau karya fotografi dari Agan Harahap yang menampilkan citra Presiden Soeharto yang sedang duduk bersama Joker, tokoh karakter film Batman, dalam karya berjudul “Cendana, Jakarta 1967”. Tentu saja foto tersebut sudah didahului dengan rekayasa media fotografi.</p>
<p><span id="more-1380"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3429.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>“<em>Sekarang ini kehidupan sehari-hari kita memang berdampingan dengan yang namanya media. Pemahaman kita tentang realitas pun bergeser dari kenyataan bendawi atau fisik kearah kenyataan yang dibentuk oleh media global semacam televisi dan internet</em>,” ujar kurator Agung Hujatnikajennong pada sesi artist talk Selasa (20/7).</p>
<p>Pameran ini memang mendokumentasikan perkembangan praktik seni media mutakhir. Karya-karya yang ditampilkan seolah terbebas dari dikotomi “media lama” atau “media baru”. Semua menjadi satu dalam pameran ini. Dalam pameran ini ditampilkan karya-karya dengan teknologi rendah dan analog berdampingan dengan karya-karya yang menggunakan pendekatan serba canggih dan digital. Karya analog yang paling banyak mengundang penasaran, misal, karya seniman Perancis Benjamin Laurent Aman yang menampilkan rekonstruksi Selasar Sunaryo dengan memajang dua pipa, satu vinyl, dan batu bata dalam karyanya “S.S. Stage (Reconstitution)”. Sangat jauh dari kesan digitalisasi. Uniknya, benda-benda tersebut “hanya” diperoleh dari riset dia di sekitar area Galeri Selasar. Karya lainnya adalah karya fotografi komunitas Bandung Oral History yang memotret lanskap Kota Bandung dengan kamera lubang jarumnya. Karya ini menjadi paradoks karena notabene kini memasuki era fotografi digital.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3843.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p><em>“Bagi saya, media baru tak hanya tentang komputer atau digitalisasi. Akan tetapi, bagaimana kita bisa menampilkan ide dan bereksperimentasi didalamnya,</em>” ujar Benjamin Laurent Aman dalam wawancara dengan <em>Kampus</em>, Senin (26/7).</p>
<p><em>*Dimuat dalam Artikel Pikiran Rakyat Edisi 29 Juli 2010</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon &#124;&#124; Bandung, 9 July &#8211; 1 August 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/nu-substance-festival-2010-floating-horizon-9-july-1-august-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/nu-substance-festival-2010-floating-horizon-9-july-1-august-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 05:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[FOSS]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Human Rights]]></category>
		<category><![CDATA[Localities]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Oral History]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1287</guid>
		<description><![CDATA[Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon
Selama beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali lompatan yang terjadi di dalam wilayah irisan yang mempertautkan perkembangan di bidang teknologi komunikasi, media baru dan praktik budaya dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan media baru semakin mempengaruhi cara pandang kita dalam memahami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/poster_leaflet_nusubs_low.jpg" border="0" alt="Photobucket" /></p>
<p><strong>Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon</strong><br />
Selama beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali lompatan yang terjadi di dalam wilayah irisan yang mempertautkan perkembangan di bidang teknologi komunikasi, media baru dan praktik budaya dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan media baru semakin mempengaruhi cara pandang kita dalam memahami kenyataan, sehingga ikut mengkonstrusi berbagai bentuk nilai dan etika yang kemudian beroperasi di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Di level tertentu, perkembangan ini dapat dikatakan sebagai bagian dari konstelasi baru yang berkembang melalui berbagai bentuk inovasi dan inisiatif yang menggejala di tingkat lokal maupun internasional. Bertumbuhnya akses, keterbukaan dan konektifitas yang dimungkinkan melalui penggunaan teknologi komunikasi dan media baru telah ikut membentuk wajah peradaban dunia secara global. Dalam perkembangannya, hal ini semakin meleburkan sekat teritori politik dan budaya melalui serangkaian pola interaksi sosial dan ekonomi yang baru.</p>
<p>Meskipun hadir dengan sosok yang samar-samar, kemunculan kondisi baru yang berkembang saat ini setidaknya telah ikut mewarnai sebuah era yang ditandai dengan kehadiran berbagai bentuk situasi turbulensi yang melahirkan dinamika, tantangan dan riak perubahan di tengah-tengah masyarakat luas. Di satu sisi, hal ini kemudian mendorong lahirnya rasa ingin tahu dan antusiasme dalam menyambut berbagai prospek, aransemen dan spekulasi mengenai masa depan yang baru. Namun begitu, tampaknya pada saat yang bersamaan kondisi ini juga ikut menghadirkan berbagai bentuk kebingungan, keraguan dan skeptisisme yang mendalam di kalangan masyarakat luas.</p>
<p><span id="more-1287"></span></p>
<p>Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa kita telah menemukan cerminan semangat zaman yang dipenuhi dengan ambivalensi dan kontradiksi. Kondisi ini barangkali dapat digambarkan melalui sebentuk cakrawala yang mengambang (<em>floating horizon</em>), yang menyiratkan garis pertemuan dua titik ekstrim dari imajinasi kolektif yang saling tarik-menarik. Dualisme pandangan yang mewarnai persepsi dalam menghadapi kenyataan keseharian yang ada setidaknya telah melahirkan rasa gamang yang senantiasa menuntut kita untuk bersikap awas dan hati-hati. Hal ini terutama diperlukan untuk menyoroti berbagai bentuk kondisi yang secara langsung ikut menyentuh persoalan yang terkait dengan kehidupan masyarakat sipil dan persoalan lingkungan hidup yang saat ini tengah diwarnai oleh berbagai bentuk kesenjangan, disfungsi dan krisis yang sangat parah.</p>
<p>Seiring dengan uraian di atas, Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon mengajak khalayak ramai untuk mengambil jeda dan menelusuri kembali berbagai bentuk fenomena yang terkait dengan kehidupan masyarakat sipil dan kondisi lingkungan yang ada saat ini, khususnya dalam ranah yang terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi dan media baru. Melalui beberapa kegiatan yang akan digelar, diharapkan masyarakat luas dapat mengambil jarak untuk melakukan dialog dan refleksi, serta bernegosiasi dengan berbagai bentuk perubahan situasi dan konstelasi perkembangan zaman yang baru. Dalam hal ini, penyelenggaraan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon juga merupakan sebuah bentuk tawaran atau bahkan konfrontasi wacana dan praktik yang sekaligus merupakan upaya konsolidasi untuk menemukan taktik, strategi dan manuver untuk menyikapi berbagai bentuk perubahan dan situasi baru yang berkembang di sekeliling kita saat ini.</p>
<p><strong>Program &amp; Kegiatan<br />
Berhala Gugur | Pertunjukan Pantun Buhun Oleh Mang Ayi &amp; Wa Itok</strong><br />
Featuring: Tisna Sanjaya (Pusat Kebudayaan Cigondewah), Addy Gembel (Forgotten), Man (Jasad), &amp; Hawe Setiawan (<a href="http://sundanesecorner.org/" rel="nofollow">http://sundanesecorner.org/</a>). Opening by Karinding Attack.<br />
Hari: Jumat, 9 Juli 2010<br />
Jam: 19.00 &#8211; selesai<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung.</p>
<p><strong>Workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer</strong><br />
Hari: Kamis, 15 Juli 2010<br />
Jam: 15.00 &#8211; 19.00 WIB<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung.<br />
Kontak &amp; Informasi: Diza (081802094310), Egga (085623300445)</p>
<p><strong>Pemutaran Film Dokumenter Musik</strong><br />
Menampilkan: Generasi Menolak Tua, Inside Your Shoes, Superman is Dead Australian Tour, Ras Muhammad Next Chapter Documentary, &amp; Release the Bats (2007 &#8211; 2010)/ A Documentary About Experimental &amp; Improvised Music from Europe.<br />
Hari: Jumat &amp; Sabtu, 16 &#8211; 17 Juli 2010<br />
Jam: 15.00 &#8211; 18.00<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung.</p>
<p><strong>Pameran Seni &#8220;The Loss of the Real&#8221;</strong><br />
Peserta: Benjamin Laurent Aman (FR), Romain Osi (FR), Daito Manabe (JP), Takao Minami (JP), Amar Mahboob (PK), Forum Lenteng (ID), Jompet (ID), House of Natural Fiber (ID), Bandung Oral History (ID), Widianto Nugroho (ID), Deden H. Durrachman (ID), Agan Harahap (ID), Dimas Arif Nugroho (ID), &amp; Prilla Tania (ID).</p>
<p>Pembukaan: Minggu, 18 Juli 2010<br />
Artist Talk: Selasa, 20 Juli 2010<br />
Workshop &amp; Demo by Daito Manabe (JP): Rabu, 21 Juli 2010<br />
Pameran: 19 Juli &#8211; 1 Agustus 2010<br />
Venue: Selasar Sunaryo Artspace, Jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Bandung.</p>
<p><strong>Expert Meeting for New Media, Civil Society, &amp; Environmental Sustainability</strong><br />
Peserta: Stephen Kovats (transmediale, DE), Victoria Sinclair (ArcSpace Manchester/ Bricolabs, UK), Atteqa Malik (Mauj Media Collective, PK), Lorenzo Marsili (European Alternatives, IT), Catherine Candano (Tunza South East Asia Youth Environment Network, PH/ SG), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand, TH), Venzha Christiawan (House of Natural Fiber, ID), Gustaff H. Iskandar (Common Room, ID), etc.</p>
<p>Pertemuan: 19 &#8211; 24 Juli 2010<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung &amp; Selasar Sunaryo Artspace, Jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Bandung.<br />
Presetasi Publik: 20 &amp; 22 July 2010, CCF Bandung, Jl. Purnawarman no. 32.</p>
<p><strong>FOSS Community Gathering: Otuz Graphic Novel Presentation by Monty Aji (Screamous, ID)</strong><br />
Hari: Jumat, 30 Juli 2010<br />
Jam: 15.00 &#8211; 18.00 WIB<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung.</p>
<p><strong>Silent Zone | Konser Musik/ Launching OpenLabs Electronic Music Compilation</strong><br />
Menampilkan: Benjamin Laurent Aman (FR), Bottlesmoker (ID), DO EAR yes (ID), #KRESS (ID), Asturiaz (ID), Europe in de Tropen (ID), Fix Future (ID), m.u.s.i.k [elektrik] (ID), Slylab (ID), Space and Missile (ID), &amp; text.tuRE (ID).<br />
Hari: Sabtu, 31 Juli 2010<br />
Jam: 18.00 WIB &#8211; selesai<br />
Venue: CCF Bandung, Jl. Purnawarman no. 32<br />
HTM: IDR. 10.000,-</p>
<p><strong>Botram dan Kampanye Publik: Save Manglayang Mountain</strong><br />
Hari: Minggu, 1 Agustus 2010<br />
Jam: 07.00 &#8211; 15.00 WIB<br />
Venue: Hutan Raya Gunung Manglayang<br />
Kontak dan informasi: Addy Gembel (02270025295)</p>
<p>More info: <a href="http://nusubstance.commonroom.info/" target="_blank">http://nusubstance.commonroom.info</a></p>
<p><em>Pelaksanaan kegian Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon didukung oleh Asia Europe Foundation, Goethe-Institut, Japan Foundation, HIVOS, CCF Bandung, Selasar Sunaryo Artspace, dan Pemerintah Kotamadya Bandung. Partner media: STV, Prambors Bandung, KAMPUS &#8211; Pikiran Rakyat, SUAVE &amp; PROVOKE!</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/nu-substance-festival-2010-floating-horizon-9-july-1-august-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa &#124; Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 3-selesai)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/1239/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/1239/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1239</guid>
		<description><![CDATA[Internet, Media, Kuasa dan Politik
&#8220;Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine&#8221;[1]
 (Tim Jordan)
Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, provider swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="background-image: url(&quot;http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg&quot;);" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="389" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/ia5FxoeFJWI&amp;hl=en_US&amp;fs=1" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="background-image: url(&quot;http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg&quot;);" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="389" src="http://www.youtube.com/v/ia5FxoeFJWI&amp;hl=en_US&amp;fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Internet, Media, Kuasa dan Politik</strong></p>
<p><em>&#8220;Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine&#8221;<a href="#_ftn1">[1]</a></em></p>
<p><em> (Tim Jordan)</em></p>
<p>Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, <em>provider</em> swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai digunakan publik secara luas pada tahun 1995. Pada masa itu penggunaan internet belum terlalu marak karena biaya pemasangan dan kepemilikan jaringan masih mahal dan membutuhkan sambungan telepon pribadi untuk menyambung internet.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Keberadaan internet ternyata mampu menjadi media alternatif bagi masyarakat untuk mencari dan menyebarkan informasi, yang pada masa itu penyebarannya masih sangat dibatasi dan diatur sepenuhnya oleh Negara. Internet seakan menjadi angin segar yang menggugah masyarakat untuk lebih berani dan proaktif. Terbukti, internet menjadi salah satu alat untuk menggulingkan Soeharto dan tatanan Orde Baru yang dibangunnya.<a href="#_ftn3">[3]</a> Caranya?</p>
<p><span id="more-1239"></span></p>
<p><em>“Syafei developed his Jendela Indonesia site running since October 5, 1995, at the Illinois Institute of Technology, Chicago. It hosted a mailing list and news archive which originally catered to university and student matters. But from 1997 onwards it too became a much frequented portal for non-censored news, including material from Apakabar/Indonesia-L.&#8221; (Tangkar, n.d.)</em></p>
<p><em>&#8220;In May 1998, at the time of student occupation of the parliament building and subsequent resignment of Soeharto, frequency of visits at the Jendela Indonesia portal caused the server of the Illinois Institute of Technology to crash again and again. The head of the computer center, Michael Hites, seriously considered closing down Jendela Indonesia, but realizing that frequency of use was actually demonstrating its usefulness and finding that the Indonesian movement for democracy deserved to be supported, he decided instead to invest $35,000 to step up the server’s efficiency.&#8221; (Tangkar n.d.)<a href="#_ftn4">[4]</a></em></p>
<p>Hal ini sama dengan yang tertulis pada sebuah <em>website</em> yang membahas keberadaan internet dan politik, sebagai berikut:</p>
<p><em>“Beberapa waktu yang lalu orang berpendapat bahwa orang yang menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang memiliki kekuasaan, tetapi sekarang pendapat tersebut sedikit berubah karena orang yang dianggap memiliki kekuasaan adalah orang yang menguasai informasi. Politik juga merupakan masalah kekuasaan, sehingga sumber informasi bisa menjadi alat politik yang efektif.&#8221;</em><a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Teknologi Internet dapat dianalogikan sebagai suatu jalan raya informasi bebas hambatan, siapapun yang terkoneksi dengan jaringan, bisa mencari dan memberikan informasi mengenai apapun. Hal ini membawa dampak dalam aspek kehidupan politik. Dalam waktu singkat peristiwa demonstrasi berdarah yang terjadi di Tiananmen Square di Beijing tersebar dan dibicarakan oleh banyak orang di seluruh dunia. Hal yang sama juga terjadi pada berita penyerangan Amerika Serikat terhadap Irak yang semuanya dapat dilihat dengan jelas. Oleh sebab itu Internet dapat digunakan untuk menegakan demokrasi, karena tidak ada hal yang dapat disembunyikan dan siapapun memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat mereka. Tetapi sebaliknya Internet juga dapat dipakai oleh perorangan maupun kelompok untuk membentuk opini publik dengan menyebarkan informasi demi mencapai tujuan politik tertentu.</p>
<p>Ternyata, internet sebagai media <em>‘powerless’</em> mampu menggulingkan kekuasaan yang sangat besar <em>(powerfull)</em>, seperti apa yang terjadi di Indonesia. Barangkali dapat dikatakan apabila seseorang diberikan suatu kuasa kecil untuk bebas, dia dapat menggunakan kuasa itu untuk mengajak orang lain berpartisipasi sehingga menjadi suatu kekuatan yang besar, seperti halnya kekuatan rakyat.</p>
<p>Selanjutnya, batasan antara ranah kultural dan ranah politik  di internet telah menyatu, bercampur, mengalami pembiasan, serta dapat saling mempengaruhi (lihat kasus ‘Cicak vs. Buaya’ dan ‘Koin untuk Prita’).<a href="#_ftn6">[6]</a> Dalam kedua kasus tersebut, informasi mengenai berita keduanya tersebar dengan cepat di internet, lalu dikomentari oleh banyak orang, sehingga membangun simpati dan emosi yang berujung pada aksi nyata yang mempengaruhi opini atas kasus keduanya.</p>
<p>Pengumpulan Koin Prita yang awalnya merupakan simbol simpatik masyarakat dan bentuk perlawanan akan ketidakadilan hukum atas kebebasan berpendapat, berbuah pada kesatuan suara yang mampu merubah suatu tatanan sistem yang dirasa tidak adil. Begitupun pada kasus Cicak vs. Buaya, informasi dihadirkan sebebas-bebasnya, dan membentuk suatu persepsi tertentu di masyarakat.</p>
<p>Dapat dikatakan bahwa Internet tidak netral. Internet dipengaruhi oleh siapa yang memiliki kuasa pada saat tertentu. Namun kekuasaan dapat bergerak melampaui hal-hal yang tidak diinginkan sehingga apapun dapat terjadi di <em>cyberspace.</em> Dalam konteks ini, siapapun dapat melakukan apapun, untuk membangun agenda, identitas, komunitas, atau apapun yang dia inginkan di ruang cyber.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Lalu kini, setelah setiap orang di kota-kota besar, terutama sebagian besar daerah di Pulau Jawa telah mampu mengakses internet, akankah ada perubahan yang mampu dibawa internet? Toh, internet dipercaya telah mengusung semangat kebebasan, dimana kebebasan menjadi dambaan setiap manusia dalam hidup. Namun, apakah kebebasan itu dapat dimaknai dengan bijak? Saat ini internet telah mampu membebaskan informasi sehingga dapat bergerak lalu lalang dan hinggap pada siapapun yang membutuhkan, tanpa ada batasan, dan disuguhkan secara vulgar.<a href="#_ftn8">[8]</a> Semuanya kembali pada pribadi setiap orang. Jika moral mampu menjadi pagar, niscaya, dunia akan baik-baik saja.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Jordan, Tim. <em>Cyberpower: The Culture and Politics of Cyberspace. </em>Diakses di:<em> </em><a href="http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm">http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lim, Merlyna. (2009) <em>Muslim Voices in the Blogosphere: Mosaics of Local-Global Discourses</em>”in Gerard Goggin and Mark McLelland [eds.], Internationalizing Internet: Beyond Anglophone Paradigm, London: Routledge, p. 178-195. Dapat di akses di: <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf">http://www.public.asu.edu/~mlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lim, Merlyna. <em>The Internet, Social Networks, and Reform in Indonesia</em>. <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf">http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Mahdi, Waruno. <em>The Internet Factor in Indonesia: Was that All?</em>. Edisi Revisi 2004. Diakses dari: <a href="http://waruno.de/PDFs/wm_IDinetsaga.pdf">http://waruno.de/PDFs/wm_IDinetsaga.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Diambil dari: <a href="http://go-kerja.com/kehidupan-sosial-vs-internet/">http://go-kerja.com/kehidupan-sosial-vs-internet/</a></p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lim, Merlyna. “<em>[Talk] Pop ‘n Politics: Web 2.0 and Participatory Culture in Indonesia”. </em>2009, dibawakan pada <em>First Annual Digital Media and Learning Conference: “Diversifying Participation”</em> di University of California, San Diego, 19 Februari 2009. Diakses di: <a href="http://merlyna.org/?p=1192">http://merlyna.org/?p=1192</a></p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Jordan, Tim. <em>Cyberpower: The Culture and Politics of Cyberspace. </em>Diakses di:<em> </em><a href="http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm">http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm</a></p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lim, Merlyna. (2009) <em>Muslim Voices in the Blogosphere: Mosaics of Local-Global Discourses</em>”in Gerard Goggin and Mark McLelland [eds.], Internationalizing Internet: Beyond Anglophone Paradigm, London: Routledge, p. 178-195. Dapat di akses di: <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf">http://www.public.asu.edu/~mlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/1239/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa &#124; Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 2)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1228</guid>
		<description><![CDATA[Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.
Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.
Anytime, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="background-image: url(&quot;http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg&quot;);" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="388" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/WytNkw1xOIc&amp;hl=en_US&amp;fs=1" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="background-image: url(&quot;http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg&quot;);" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="388" src="http://www.youtube.com/v/WytNkw1xOIc&amp;hl=en_US&amp;fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.</strong></p>
<p>Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.</p>
<p><em>Anytime, everywhere, anywhere.</em> Itulah sifat teknologi di masa kini yang akan selalu siap kapanpun, dimana pun, dan bagi siapapun yang membutuhkannya. Teknologi memberikan kemudahan, kenikmatan, kesenangan, sekaligus kesementaraan, kemewahan, dan hampir segalanya bagi kita ketika melalui dan memaknai hidup. Akhirnya: mereka menguasai kita.</p>
<p>Dengan segala kemudahan dan kenikmatan yang diberikan, teknologi layaknya mata uang koin bersisi dua, selalu menempel dan membayangi sisi lainnya. Teknologi juga mirip seperti selembar kertas HVS yang pada salah satu sisinya diisi tulisan dan sisi satunya dibiarkan kosong: meng-ada-kan dan men-(t)iada-kan. Akhirnya: mereka mengakar, menggurita dan mengeruk; mengubah pola perilaku dan ritme hidup kita.</p>
<p><span id="more-1228"></span></p>
<p>Saat ini manusia menjadi sangat tergantung dengan keberadaannya, tidak terkecuali internet. Suatu istilah yang kini telah menjadi keseharian, yang bahkan ketiadaannya mampu membuat manusia menjadi gundah gulana, resah, cemas, akan sesuatu yang entah apa, namun terasa. Keberadaan internet seakan menjadi pengada jati diri seseorang, terutama dengan keberadaan situs jejaring sosial, dimana setiap orang dapat terkoneksi secara langsung dengan siapapun berpartisipasi dan terhubung secara langsung, agar dapat <em>update</em> setiap saat. Tidak ada lagi <em>six degrees of separation (human web)</em><a href="#_ftn1">[1]</a>, sebuah hipotesa yang dibuat Frigyes Karinthy yang mengatakan bahwa setiap orang di muka bumi ini berjarak enam langkah dari manusia lainnya. Saat ini keberadaan kita di dunia ini seakan ditentukan oleh <em>status update</em> hari ini, agar mendapat perhatian dari manusia lainnya. Sebagian kecil mungkin, tapi tidak dengan sebagian besar lainnya.</p>
<p>Dalam dunia internet, berbagai percampuran, pembengkokan, pelubangan telah terjadi. Dengan segala bujuk rayunya, internet telah menggerayangi kita untuk selalu lekat dengan dirinya. Menjadi selalu ada dalam dirinya namun menjadi terpisah dengan realitas yang ada. Menjadi candu, ekstasi, serta hingar bingar pesona kemudahan dan kecepatan. Memutus rantai kehidupan dan menjadi dunia yang berdiri sendiri<a href="#_ftn2">[2]</a>. Manusia modern kemudian tercabut dari habitatnya, dari ekosistemnya, dari akarnya. Berdiri sendiri untuk membuat dunia baru yang dapat dikuasai, dia atur, dan diwarnai sesuka hati. Inilah paralel dunia.</p>
<p><strong>Aku, Kamu dan Kita Semua Adalah Masyarakat Tontonan</strong></p>
<p>Bermula dari Friendster dan Facebook, sebuah situs jejaring sosial yang menghubungkan banyak orang dalam suatu wadah (<em>website</em>) dan menjadi situs yang paling sering dibuka oleh hampir setiap orang di Indonesia<a href="#_ftn3">[3]</a>. Kedua situs ini diminati oleh (kebanyakan) anak muda karena menjadi media penghubung untuk berkomunikasi langsung dengan teman lama ataupun mencari teman baru. Saat ini umur tampaknya tidak menjadi batasan pengguna facebook. Segala lapisan umur, pangkat, gaji, status, serta kelas sosial kini telah berbaur dan menjadi pengguna berbagai situs jejaring sosial, demi apapun tujuan mereka menggunakannya.</p>
<p>Dengan fasilitas yang diberikan, situs jejaring sosial memfasilitasi eksistensi diri seseorang untuk selalu ada dan hadir dalam ‘dunia’. Ketika dunia real belum mampu ia jajal, dunia <em>cyber</em> menjadi alternatif bagi orang-orang yang haus akan penghargaan. Tidak hanya itu, dengan kolom ‘status’nya, orang-orang sibuk beradu ‘kehebatan, kemewahan, keanehan, kegayaan, keseharian, dan hal-hal remeh lainnya. Keberadaan kolom yang tertulis <em>“what’s on your mind”</em> diisi dengan laporan akan keberadaan diri atau (sekedar) curahan hati. Yah, ini lah yang terjadi pada masyarakat di sebuah Negara yang masih berbudaya lisan menanggapi teknologi berupa tulisan (<em>text</em>). Tidak ada yang salah di sini, yang ada hanya kejelasan akan kultur yang dimiliki oleh suatu masyarakat akan diadaptasi berbeda oleh kultur masyarakat yang lain.</p>
<p>Gambaran masyarakat yang seperti ini, cocok dengan masyarakat yang disebut Guy Debord sebagai <em>The Society of Spectacle</em> atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi <em>masyarakat tontonan</em>. Walaupun ia mengkritisi keberadaan media yang mempengaruhi perilaku dan pola pikir masyarakat yang menontonnya<a href="#_ftn4">[4]</a>, namun istilah ini menggambarkan kondisi masyarakat yang senang melihat dan mengawasi keberadaan orang lain melalui berbagai situs jejaring sosial. Dalam hal ini segenap individu meng’ada’kan dirinya agar ‘hadir’ dan ‘ditonton’ oleh orang lain, menjadi penonton dan ditonton.</p>
<p>Situs jejaring sosial menjadi salah satu bentuk <em>‘media surveillance’</em>, dimana setiap orang dapat diamati oleh orang lain tanpa sadar dan secara sukarela, sehingga menjadi salah satu sarana eksistensi yang dapat menghadirkan dirinya dalam sebuah dunia.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Diakses dari: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation">http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Piliang, Yasraf Amir. <em>Dunia yang Dilipat: ….</em> . Jalasutra. Yogyakarta. 2004.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Belum ada kajian spesifik dan data pasti.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Debord, Guy. <em>The Societies of Spectacles</em>. 1967  Dapat diakses di: <a href="http://www.bopsecrets.org/">http://www.bopsecrets.org</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa &#124; Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 1)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-yasmin-kartikasari-bagian-1/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-yasmin-kartikasari-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1225</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Baudrillard&#8217;s hyperreality is not a map at all, but a participative process that may shape us, or may allow us to shape our surroundings. There is no other controller. Governance is our own hands but is set to mass agendas. The cybernetic loop has closed on postcapitalist society and cyberspace.&#8221;[1]
(Andrea Keay, Hiperreality and Cyberspace)
Dunia dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="background-image: url(&quot;http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg&quot;);" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="295" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/9hIQjrMHTv4&amp;hl=en_US&amp;fs=1" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="background-image: url(&quot;http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg&quot;);" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="295" src="http://www.youtube.com/v/9hIQjrMHTv4&amp;hl=en_US&amp;fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><em>&#8220;Baudrillard&#8217;s hyperreality is not a map at all, but a participative process that may shape us, or may allow us to shape our surroundings. There is no other controller. Governance is our own hands but is set to mass agendas. The cybernetic loop has closed on postcapitalist society and cyberspace.&#8221;<a href="#_ftn1">[1]</a></em></p>
<p>(Andrea Keay, <em>Hiperreality and Cyberspace</em>)</p>
<p>Dunia dalam dunia.<a href="#_ftn2">[2]</a> Itulah posisi internet di dunia ini. Dunia yang ada, hadir, dan bersanding secara paralel dengan dunia nyata. Dunia yang bukan lagi sebuah keberadaan fisik, namun sebuah ruang patafisika. Ia tidak dapat diraba, namun hadir; tidak dapat di sentuh, namun ada; seperti yang dijelaskan oleh Baudrillard (diungkapkan oleh Yasraf Amir Piliang) dalam uraian berikut:</p>
<p><em>“Ia adalah sesuatu di luar ada, dalam pengertian sebuah kategori yang melampaui, baik fisika maupun metafisika. Dalam pengertian, ia bukan fenomena fisik, bukan juga metafisik, ia adalah patafisika </em>(<em>phataphysics</em>)<em>. Ia adalah sesuatu yang menfakta, dalam pengertian bisa dirasakan, dilihat, diraba, didengar, tetapi tidak nyata (real), dalam pengertian tidak mengikuti hukum-hukum fisika Newtonian, akan tetapi tidak juga bersifat metafisik, oleh karena ia dapat dicapai oleh kapasitas intuisi, bahkan indra manusia.”</em><a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Itulah (ciri-ciri) internet. Lalu, bila aku yang mengatakan, ia hanya berupa digit-digit yang mereplikasi keberadaan bentuk fisik agar dapat hadir secara bersamaan, di waktu yang sama, namun terpisah oleh jarak, meskipun kemudian keberadaan jarak menjadi irelevan karena membiasnya batasan antara ruang. Dalam hal ini seakan kita semua berada pada satu titik yang sama untuk bisa saling berkomunikasi, bercanda, bercumbu, atau sekedar menjelajah dunia. Semuanya menjadi bertumpuk, namun tidak meluas dan tidak meninggi; menyalahi aturan matematis akan keruangan dan dimensi; mengubah struktur penunjang akan bentuk fisik dunia dan isiannya.</p>
<p><span id="more-1225"></span></p>
<p>Dunia menjadi adimensi, dimana batasan dan ukuran dihilangkan. Dalam konteks ini dunia sudah melampaui batasan limit akan apapun yang membentuknya. Dia hanya dapat dijelaskan oleh dirinya sendiri.</p>
<p>Di Internet, segala hal dimungkinkan. Apa yang tidak terjadi di dunia nyata, di internet segalanya dapat terjadi. Hampir tidak ada batasan, karena batas-batas telah dihilangkan. Itulah yang menjadi keutamaan internet dengan segala kemudahan dan godaan yang diberikan. Menjadikan manusia larut di dalamnya, dan berhibernasi dalam suatu kurun waktu yang tak berbatas dan tidak ada yang membatasi. Karena <em>aku-lah</em> (baca: manusia) yang menjadi pembatas dan pengatur kedirianku (di internet).</p>
<p><strong>Awal Mula</strong><br />
Berawal dari sebuah memo yang ditulis J.C.R Licklider dari Massachuset Institut of Technology (MIT) pada bulan Agustus 1962 yang menguraikan konsep “<em>Galactic Network”</em>, yaitu sebuah jaringan komputer global yang saling terhubung oleh siapapun dan dimanapun dia berada, secara cepat dan tepat<a href="#_ftn4">[4]</a>, itulah asal mula internet.  Bermula dari secarik kertas, yang menjadi wadah sementara ide seseorang, kemudian berkembang, jauh berkembang melampaui apa yang mampu dipikirkan oleh perancang awalnya. Saat ini internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan dunia. Dunia dan internet telah menyatu, keduanya saling mengada, namun keduanya saling meniadakan.</p>
<p>Internet mulai dikembangkan di tahun 60-an, dari penelitian di atas kertas yang mengungkapkan kelayakan komunikasi menggunakan system paket data, hingga penghubungan komputer  yang terpisahkan jarak melalui saluran dial-up berkecepatan rendah; mulai dari hipotesis Kleinrock (xxx) hingga teori Lawrence G. Roberts dan Thomas Merrill (xxxx).</p>
<p>Ternyata apa yang dilakukan oleh tim MIT, dilakukan pula oleh Donald Davies dan Roger Scantlebury dari NPL, di Inggris, serta RAND sebuah kelompok yang menulis makalah berjudul <em>&#8220;Paper on Packet Switching Networks for Secure Voice&#8221;</em> di lingkungan militer pada tahun 1964. Ketiganya kemudian bergabung dan melakukan program riset bernama ARPANET, yang kemudian menjadi cikal bakal internet.</p>
<p>Pada awalnya, ARPANET di desain oleh Departemen Pertahanan Amerika untuk memfasilitasi keamanan di era perang nuklir (Abbate, 1999; Cerf et al.2000), yang memungkinkan suatu gerakan terselubung, baik sekedar mengontrol atau menyensor, menjadi suatu mata, pengamat jarak jauh <em>(surveillance)</em> untuk mengawasi pihak lawan. Bermula dari alat perang, internet kemudian menjadi teknologi ramah (teman manusia) ketika di usung oleh Ivan Illich’s (1973) <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Empat puluh tahun kemudian, internet telah berkembang pesat. Hingga saat ini, internet telah digunakan oleh 945 juta orang di seluruh dunia. Berdasarkan pertumbuhannya yang cepat, internet berdampak besar bagi masyarakat. Baik secara sosial, ekonomi, politik, budaya, dll.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Perkembangan teknologi (cikal bakal internet) yang mulai dirancang di tahun 60-an menjadi ide cerita bagi seorang novelis, William Gibson, dalam memandang dunia dengan keberadaan internet, yang tertuang dalam bukunya, Neuromancer (1984). Buku ini berkisah tentang situasi di tahun 60-an hasil rekaan dunia maya yang dibentuk oleh sebuah jaringan komputer yang terkoneksi secara global. Bahwa apa yang dibayangkannya, tepat seperti kondisi yang seperti sekarang ini, menjadi realitas keseharian yang banal<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Diakses dari: <a href="http://technoist.com/hyperreality-or-cyberspace-real-social-media">http://technoist.com/hyperreality-or-cyberspace-real-social-media</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Secara semantik, konsep dunia sering disamakan dengan konsep ruang (<em>space</em>). Dunia itu selalu meruang, yaitu ada di dalam sebuah ruang (dan tentunya juga mewaktu) (Piliang, Yasraf A. <em>Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan</em>. 2004. Jalasutra, hal 45)</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> ditulis dalam buku <em>Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. </em>Jalasutra. Yogyakarta. 2004.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diakses dari: <a href="http://tskau0.tripod.com/sejarah_singkat_internet.htm">http://tskau0.tripod.com/sejarah_singkat_internet.htm</a></p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lim, M. <em>The Internet, Social Networks, and Reform in Indonesia</em>. <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf">http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> -ibid-</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Piliang, Yasraf Amir.<em> Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. </em>Jalasutra. Yogyakarta. 2004.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-yasmin-kartikasari-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Experimentasi Media &#124; Biosampler, 2001</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/experimentasi-media-biosampler-2001/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/experimentasi-media-biosampler-2001/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 09:08:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1059</guid>
		<description><![CDATA[Audio/visual experimentation by Biosampler back in 2001. Using overhead projectors (with various liquids and objects), video projectors, and slide projectors. As for Audio, we&#8217;re using pc&#8217;s running fruity loops and various tracker softwares, keyboard, bass, didgeridoos, and electric guitar. (CSB)
“For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/y8YjzbMJHAE&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.youtube.com/v/y8YjzbMJHAE&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Audio/visual experimentation by Biosampler back in 2001. Using overhead projectors (with various liquids and objects), video projectors, and slide projectors. As for Audio, we&#8217;re using pc&#8217;s running fruity loops and various tracker softwares, keyboard, bass, didgeridoos, and electric guitar. (<a onclick="yt.events.stopPropagation(event);" href="http://www.youtube.com/user/diskomport" target="_blank">CSB</a>)</p>
<p>“<em>For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like to look at it as an activity of creating an evolving visual experience/ universe. First, the gap between spectator/ performer, stage/ seat, premeditated/ spontaneous, mine/ yours etc; should be obliterated. To rebuild something we have to destroy/ deconstruct the initial form and limitations. Second, interaction and respond is imminent. By doing so, we have created a moebius loop where an idea shall move back and forth, left to right, passed from person to person, and it would evolve and change while being so. And that is Real Time Interaction. It’s like a complex game of “pong”.</em>” (<a href="http://www.vjtheory.net/what_is_it/biosampler_what_is.htm" target="_blank">CSB</a>)</p>
<p><strong>Biosampler</strong><br />
The year 2000 was the early stage of collaborative meeting from a group of people with similar concern and interest in Muararajeun Kaler area. An intense gathering in a house that located in a dense suburban area in Bandung has emerging into a so-called ‘collective attitude’, which is regarded as an act of self-indulgent through a creative process. Each member of this collective often use computer technology, creating piles of works in analog and digital format of sounds, music, images, animations, films, etc. From personal activities, it then has expanded into a collective act to form artistic composition through the creating sensation of sounds, light, and space; which is done spontaneously and sometimes with diverse goal and objective. Some surprising results often happen from their freedom to act and create, as well as dialogues and intervention. What they did has been growing from a daily attitude into an art performance.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/experimentasi-media-biosampler-2001/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengurai Seni Kontemporer Asia via Seoul &#124; Oleh Gustaff H. Iskandar*</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/mengurai-seni-kontemporer-asia-via-seoul-oleh-gustaff-h-iskandar/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/mengurai-seni-kontemporer-asia-via-seoul-oleh-gustaff-h-iskandar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 11:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Forum]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>
		<category><![CDATA[Visual Arts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, sebuah kompetisi seni kontemporer bertajuk Asia Art Award (A3) diselenggarakan di kota Seoul, Korea Selatan. Perhelatan ini diselenggarakan oleh CJ Culture Foundation, Alternative Space LOOP, dan Korea Sports Promotion Foundation yang juga didukung oleh beberapa institusi budaya yang berasal dari beberapa negara Eropa dan Asia Pasifik. Sejak tanggal 9 April s/d [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Java's Machine: Phantasmagoria by Jompet Kuswidananto (2008)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/jompet_kuswidananto.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah kompetisi seni kontemporer bertajuk Asia Art Award (A3) diselenggarakan di kota Seoul, Korea Selatan. Perhelatan ini diselenggarakan oleh CJ Culture Foundation, Alternative Space LOOP, dan Korea Sports Promotion Foundation yang juga didukung oleh beberapa institusi budaya yang berasal dari beberapa negara Eropa dan Asia Pasifik. Sejak tanggal 9 April s/d 6 Juni 2010, kompetisi ini menampilkan karya dari 6 finalis yang dipamerkan di Soma Museum of Art yang terletak di kompleks Olimpiade Seoul. Mereka terdiri dari Apichatpong Weerasethakul (TH), Ashok Sukumaran (IN), ChimPom (JP), Jompet Kuswidananto (ID), Shi Jin Song (CN) dan Yangachi (KR). Tampil sebagai pemenang pertama yang berhak mendapatkan hadiah sebesar USD. 20.000,- adalah Apichatpong Weerasethakul yang menampilkan karya video dengan judul &#8220;Phantoms of Nabua&#8221; (2009).</p>
<p>Kompetisi ini digadang-gadang sebagai babak baru perkembangan seni kontemporer di wilayah Asia. Suh Jinsuk, kurator dari Alternative Space LOOP yang bertindak sebagai direktur kompetisi ini menuliskan bahwa A3 merupakan titik balik bagi perkembangan seni rupa di Asia yang sebelumnya selalu mengekor perkembangan seni kontemporer barat. Tidak tanggung-tanggung, untuk menyelenggarakan kompetisi ini panitia melibatkan sekitar 42 ahli dari Korea Selatan, Jepang, Cina, India dan beberapa negara di wilayah Asia Tenggara, termasuk kurator Agung Hujatnikajennong yang mewakili Indonesia. Mereka secara khusus diundang untuk merekomendasikan sekitar 42 seniman yang kemudian diseleksi oleh 7 orang juri utama yang diminta untuk mengusulkan 6 finalis. Adapun dewan juri yang dilibatkan dalam kompetisi ini adalah Alexandra Munroe (US), Apinan Poshyananda (TH), Carolyn Christov-Bakargiev (US), Fumio Nanjo (JP), Jonathan Watkins (UK), Kim Honghee (KR) dan Wu Hung (CN).</p>
<p><span id="more-1016"></span></p>
<p><strong>Realitas Asia</strong><br />
Dapat dikatakan bahwa karya para seniman yang tampil di dalam kompetisi ini merefleksikan berbagai aspek yang terkait dengan kehidupan masyarakat di wilayah Asia yang tengah berada di dalam gejolak arus perubahan yang sedemikian pesat. Proses globalisasi yang dirajut kapitalisme global dan teknologi media tampaknya telah menjadi semacam katalis yang melahirkan berbagai kecenderungan baru dalam perkembangan seni kontemporer Asia. Dalam kesempatan ini, masing-masing seniman secara kuat merefleksikan kondisi di sekitar mereka dengan menguak berbagai lapisan sejarah dan narasi lokal yang merekam realitas sosial serta berbagai bentuk ketegangan politik yang disampaikan melalui bahasa visual yang sedemikian beragam. Selain karya video dan instalasi, dalam pameran kita juga dapat menyaksikan karya gambar, fotografi, video, cetak digital, obyek, instalasi dan beragam komposisi bebunyian.</p>
<p>Keragaman bahasa estetik ini misalkan tercermin melalui karya Jompet Kuswidananto yang menampilkan karya instalasi berjudul Java&#8217;s Machine: Phantasmagoria (2008). Karyanya sepintas mirip seperti barisan tentara kerajaan yang tegak berdiri dengan karakter yang begitu anggun. Untuk karya ini, Jompet memanfaatkan pelbagai obyek keseharian, cuplikan video dan instrumen robotik yang dimanfaatkan untuk menghasilkan bebunyian yang mirip seperti arak-arakan kelompok pemain drum band dalam gerak lambat. Secara simbolik karya ini merefleksikan berbagai lapisan narasi sejarah kolonial/ paska-kolonial yang telah menjadi bagian dari realitas sosial masyarakat Jawa. Selain itu, karya ini juga tampaknya menyiratkan pola relasi antara mesin dan manusia yang terlihat begitu unik.</p>
<p>Pada kesempatan yang sama, kelompok ChimPom menampilkan beberapa karya yang mewartakan lapisan imajinasi kolektif masyarakat Jepang yang disampaikan dengan cara yang sangat lugas dan berani. Karya mereka yang berjudul &#8220;Lighting up the sky over Hiroshima&#8221; (2009) menjadi bahan perdebatan khalayak luas di Jepang ketika mereka membuat sebuah teks asap raksasa bertuliskan &#8220;PIKA&#8221; tepat diatas kubah gedung A-Bomb Dome dengan latar belakang langit Hiroshima yang berwarna biru pada tanggal 21 Oktober 2008. Bagi mereka yang mengalami tragedi letusan bom nuklir di Hiroshima, teks &#8220;PIKA&#8221; atau &#8220;PIKADON&#8221; yang artinya kurang lebih &#8220;kilatan atau ledakan cahaya&#8221; secara langsung merujuk kepada bencana bom nuklir yang terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945. Selain merenggut sekitar 80.000 nyawa, bencana ini juga ikut menandai kekalahan Jepang dalam perang dunia ke-2 dan menorehkan luka yang begitu mendalam bagi sebagian besar masyarakatnya.</p>
<p>Karena teks ini, karya kelompok ChimPom kemudian dianggap telah menyebabkan kontroversi sosial yang memancing kritisisme dan perdebatan sengit sehingga pada akhirnya rencana pameran tunggal mereka di Hiroshima City Museum of Contemporary Art (Hiroshima MOCA) harus dibatalkan. Namun begitu, karya mereka tampaknya telah berhasil membuka kembali peluang untuk terus membicarakan  berbagai dampak yang telah dihasilkan oleh penggunaan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Barangkali karya ChimPom merupakan salah satu contoh bagaimana praktik seni kontemporer dapat menjadi instrumen yang efektif untuk membuka ruang dialog dan membicarakan berbagai masalah sosial yang dianggap sensitif di ranah publik.</p>
<p>Dalam nuansa yang berbeda, sebentuk dimensi ketegangan politik juga tercermin melalui karya Apichatpong Weerasethakul. Karya videonya yang berjudul &#8220;Phantoms of Nabua&#8221; diambil di perkampungan Nabua yang sempat menjadi arena pertarungan kekuasaan antara Thailand dan komunitas petani komunis setempat. Daerah ini berada di bawah pengaruh Laos dan Uni Soviet pada sekitar tahun 1960 s/d awal 1980-an. Akibat situasi konfilk yang berkepanjangan, daerah ini juga kerap dikenal sebagai &#8220;kampung janda&#8221; (<em>widow town</em>) karena banyak diantara penduduknya yang memilih untuk melarikan diri ke tengah hutan dan meninggalkan anak istri mereka. Karya video Apichatpong yang berdurasi sekitar 30 menit dibuka dengan sambaran halilintar yang hadir secara bergantian, sebelum kemudian menampilkan adegan sekelompok pemuda yang asyik bermain bola api. Secara sekilas karya ini menampilkan kombinasi aneh yang mempertemukan misteri, ketegangan, rasa getir, gairah dan kegembiraan. Dalam pengantar kuratorial yang ditulis oleh Gridthiya Gaweewong, dituliskan bahwa selama ini Apichatpong dikenal sebagai pembuat karya video yang kerap menyampaikan berbagai persoalan sosial dan ingatan kultural, terutama bagi komunitas subkultur dan kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan.</p>
<p><img title="Presentation by Huang Du (CN)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/presentasi_huang_du.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p><strong>Perdebatan dalam Forum</strong><br />
Sebagai bagian dari program A3, panitia penyelenggara menggelar sebuah konferensi dalam wadah Asia Art Forum 2010 sejak tanggal 9 s/d 15 April 2010. Program ini mengundang lebih dari 50 pembicara yang memiliki latar belakang disiplin ilmu dan kebangsaan yang beragam. Beberapa diantaranya adalah Ruth Knowles (Kepala Global Marketing &amp; Investor Relation, The Fine Art Fund, UK), Zhang Qing (Direktur Shanghai Museum of Art, CN), Huang Du (Kurator independen, CN), Frédéric Paul (Direktur Contemporary Art Centre, FR), Chaitanya Sambrani (Ahli teori seni, AU), Fumihiko Sumitomo (Kurator independen, JP), Heiner Holtappels (Direktur Montevideo, NL), Gridthiya Gaweewong (Direktur The Jim Thompson Art Center, TH), Menene Gras Balaguer (Direktur Casa Asia, ES), dsb. Secara spesifik pembicaraan dalam konferensi ini dibagi ke dalam beberapa tema, yang antara lain adalah Art &amp; Capital, Oriental Metaphor, Art &amp; Technology dan Media Archive Network. Selain itu, ada kuliah umum yang secara khusus membahas perkembangan seni kontemporer di wilayah Asia. Selama hampir satu minggu, khalayak luas diajak untuk terlibat secara langsung untuk mencermati berbagai aspek yang terkait dengan perkembangan seni kontemporer di Asia, mulai dari tinjauan sejarah, teori, sampai pada keterkaitan praktik seni kontemporer dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi.</p>
<p>Dalam pengantar yang dibacakan pada sesi pembukaan, Suh Jinsuk menguraikan bagaimana perkembangan seni kontemporer di Asia saat ini telah berada di bawah pengaruh kapitalisme global, sehingga perkembangan seni kontemporer juga menjadi arena proses komodifikasi finansial yang tidak jauh berbeda dengan komoditas di pasar modal. Fenomena ini diuraikan oleh Ruth Knowles yang melihat aktifitas seni sebagai sebuah proses penciptaan nilai kapital (capital creation), sehingga dapat dikategorikan sebagai sebuah aset ekonomi (<em>new asset class</em>) yang memiliki nilai investasi yang valid. Namun begitu, hal ini bukan berarti pasar seni kontemporer tidak memiliki persoalan. Menurutnya pasar seni kontemporer merupakan wilayah yang tidak memiliki regulasi yang jelas (<em>unregulated market</em>), sehingga tidak mudah untuk menetapkan nilai finansial dari sebuah karya seni. Oleh karena itu, upaya pengembangan pasar seni kontemporer harus dilakukan secara profesional dan hati-hati, selain membutuhkan sokongan kebijakan, strategi dan keberadaan beberapa institusi penunjang semisal museum, galeri, balai lelang, institusi pendidikan sampai pada industri media dan publikasi.</p>
<p>Menyambung hal ini, Massimiliano Gioni (Direktur artistik Gwangju Biennale 2010) menyatakan bahwa saat ini seni sudah menjadi bagian dari industri citra (<em>image making industry</em>). Namun begitu, seni juga merupakan sistem representasi yang memiliki dimensi sosial sehingga beririsan dengan berbagai aspek yang terkait dengan hidup kita, terutama dari segi estetika, sejarah, nilai-nilai, etika, moralitas dan juga politik. Hal ini misalkan tercermin melalui uraian yang disampaikan oleh Carol Lu Yinghua (Kritikus seni, CN), yang memberikan gambaran bagaimana dominasi pasar seni kontemporer di Cina juga ikut mempengaruhi mekanisme penulisan sejarah seni di sana. Dalam hal ini perlu disadari bahwa dominasi pasar yang berlebih juga dapat membahayakan integritas medan sosial seni sehingga dapat memperkecil peluang lahirnya gagasan-gagasan alternatif. Selain itu hegemoni pasar juga dapat memiliki kecenderungan untuk mengeliminasi keberagaman ekspresi artistik, terutama bagi karya seni yang mengedepankan pendekatan konseptual dan wacana intelektual. Idealnya kekuatan kapital yang beroperasi di ranah ekonomi juga dapat bersanding secara harmonis dengan dimensi sosial, intelektual, kultural atau bahkan spiritual. Dalam konteks ini, sebagian peserta berpendapat bahwa perkembangan pasar seni kontemporer di Asia akan kehilangan arah dan tujuannya yang hakiki apabila tidak memiliki visi dan integritas yang teruji.</p>
<p>Perdebatan kritis juga mengemuka dalam sesi Oriental Metaphor yang digelar untuk mengartikulasikan kecenderungan bahasa artistik yang dianggap mampu merepresentasikan identitas Asia. Sesi ini dibuka dengan presentasi Lee Youngchul (Direktur Nam Jun Paik Art Center) yang menelusuri jejak kecenderungan ekspresi artistik Nam Jun Paik dalam makalahnya yang berjudul &#8220;Yellow peril! C&#8217;est moi&#8221;. Dalam salah satu uraiannya, Lee menyebutkan bagaimana Nam Jun Paik kerap disebut sebagai seorang teroris kultural (<em>cultural terrorist</em>) karena memiliki intensi untuk menghancurkan berbagai makna simbol dan metafor yang telah mapan di dalam karya-karyanya. Namun begitu, justru karena hal ini Nam Jun Paik kemudian diakui sebagai seniman pendobrak yang mampu memperlihatkan kecenderungan baru, terutama di bidang seni media dan video. Pembicaraan ini kemudian dilanjutkan oleh Chaitanya Sambrani yang menelusuri kecenderungan bahasa artistik dari beberapa seniman Asia seperti Subodh Gupta (IN), Tallur L.N. (IN/ KR) dan Phaptawan Suwannakudth (TH/ AU). Menurutnya penggunaan simbol dan metafor pada beberapa karya seniman ini tidak pernah memiliki makna yang utuh dan selalu membutuhkan catatan kaki yang komperehensif karena artikulasi bahasa artistik yang mereka kembangkan memiliki lapisan kompleksitas yang luar biasa. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa bahasa ekspresi artistik selalu memiliki kecenderungan untuk melampaui batas-batas teritori geografis, politik dan budaya.</p>
<p>Hal yang senada juga disampaikan oleh Nancy Adajania (Ahli teori budaya &amp; kurator independen, IN), yang menyarankan untuk memeriksa kembali berbagai bentuk penggunaan simbol dan metafor yang selama ini dianggap merepresentasikan kecenderungan artistik seniman Asia. Dalam penjelasannya, Nancy menggunakan terminologi critical trans-regionalism sebagai sebuah diskursus kritis yang perlu untuk dikembangkan agar kita dapat menghindari pemahaman yang superfisial tentang keberadaan simbol, metafor atau struktur bahasa dalam sistem representasi yang merujuk pada sebuah entitas budaya dalam lingkungan geografis tertentu. Menurutnya, pendekatan semacam ini sangat diperlukan untuk melawan proses dikotomi dan hegemoni yang justru dapat menghilangkan peluang bagi terjadinya interaksi, dialog dan kolaborasi. Lebih jauh, upaya semacam ini juga sangat dibutuhkan untuk memperkaya sistem bahasa dan pengetahuan yang mengedepankan prinsip keterbukaan dan kesetaraan. Pola relasi timur (<em>orient</em>) dan barat (<em>occident</em>) yang berkembang selama ini tampaknya sudah kadung terjebak ke dalam sistem berfikir logika biner yang justru berpeluang untuk melanggengkan proses kolonialisasi secara simbolik. Dalam hal ini dipandang perlu untuk melihat kembali hubungan timur dan barat sebagai sebuah teritori kultural yang netral dan ranah politik budaya yang terbebas dari klaim sistem kepemilikan (<em>politics of dispossession</em>).</p>
<p><img title="Presentation by Menene Gras Balaguer (ES)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/presentasi_manene_gras_balaguer.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p><strong>Seni dan Teknologi</strong><br />
Perkembangan teknologi digital di abad ke-21 tak pelak lagi telah melahirkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan kita. Melalui perkembangan teknologi digital, mekanime produksi informasi dan pengetahuan telah mengalami perubahan secara radikal. Dalam konteks ini, praktik seni kontemporer semakin mengalami perluasan dan tidak dapat dipisahkan dari berbagai aspek yang terkait dengan perkembagan teknologi. Sejak manusia primitif melukis di dalam gua, selalu ada aspek-aspek teknis yang secara inheren melekat dalam mekanisme produksi karya artistik dan ekspresi budaya. Hal ini mengemuka pada sesi seminar Art &amp; Technology yang dimoderasi oleh Fumihiko Sumitomo (Kurator independen, JP). Dalam presentasi yang disampaikan oleh Yukiko Shikata (Kurator independen, JP), digambarkan bagaimana perkembangan teknologi media telah menjadi semacam ekstensi indera (extended senses) yang banyak dimanfaatkan oleh para seniman untuk mencermati berbagai situasi dan persoalan yang ada di sekeliling mereka. Dalam hal ini, teknologi juga memiliki peran yang penting dalam melahirkan berbagai pendekatan baru dalam proses penciptaan dan penyebaran karya artistik di kalangan masyarakat luas.</p>
<p>Perkembangan teknologi media juga melahirkan berbagai bentuk pemahaman dan pendekatan yang baru dalam sistem representasi dan simulasi. Hal ini secara rinci dijelaskan dalam materi berjudul &#8220;My Cortext: Media Art and the Sensory Experience&#8221;, yang disampaikan oleh Prof. Yoon Joonsung (Global School of Media, Soongsil University, KR). Menurutnya wilayah irisan antara seni dan teknologi telah memberikan definisi yang baru bagi dunia pengalaman, identitas dan benda-benda, termasuk ruang dan waktu. Beda pengertian antara karya orisinil/reproduksi ataupun material/imaterial menjadi begitu cair karena teknologi media telah memungkinkan kita untuk menterjemahkan sensor indrawi menjadi data dan informasi yang dapat direproduksi dan disebarkan dengan mudah. Melalui aspek-aspek keterbukaan, konektifitas dan interaksi, pengalaman artistik juga telah mengalami perluasan makna, terutama ketika setiap orang dapat terlibat secara aktif dalam proses penciptaan dan penyebaran karya seni. Merujuk pada pemikiran Hans Belting dalam bukunya yang berjudul &#8220;Art History After Modernism&#8221; (2003), Prof. Yoon menyatakan bahwa meleburnya berbagai batasan yang sebelumnya berdiri secara mapan akan menjadi tantangan tersendiri bagi seniman dan medan sosial seni (art world) di masa depan.</p>
<p>Terkait dengan uraian di atas, Jen Mizuik (Direktur Experimenta, AU) memberikan gambaran bagaimana perkembangan di bidang seni dan teknologi juga berimplikasi pada mekanisme presentasi yang menjadi semakin spesifik dan membutuhkan konteks yang tepat. Hal ini misalkan tercermin dalam penyelenggaraan Experimenta, sebuah bienalle internasional seni media yang diselenggarakan di kota Melbourne pada tanggal 12 Februari s/d 14 Maret 2010. Perhelatan ini menampilkan sekitar 25 karya dari para seniman yang berasal dari Australia, Jepang, Austria, India, Jerman, Kanada, Prancis, Taiwan dan Inggris. Selain menyelenggarakan pameran, Experimenta juga menggelar serangkaian kegiatan pemutaran film &amp; video, lokakarya, seminar, diskusi, performance dan konser musik. Salah satu aspek yang penting dari perhelatan ini adalah aktifitas produksi informasi dan pengetahuan yang dikembangkan untuk meningkatkan partisipasi dan apresiasi masyarakat secara luas. Sebagai hasilnya, penyelenggaraan Experimenta berhasil melibatkan sekitar 100.000 pengunjung yang datang bergantian selama kegiatan ini berlangsung. Dalam kesempatan ini, publik luas mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan berbagai aspek yang terkait dengan perkembangan di bidang seni dan teknologi.</p>
<p>Perkembangan teknologi media yang berkembang sedemikian pesat tak luput dari persoalan dan kritik. Pada salah satu sesi presentasi, Dr. Bernhard Serexhe (Kurator kepala ZKM Media Museum, DE) menguraikan bahwa teknologi media telah menawarkan sebuah arena baru dimana informasi dan pengetahuan dapat diakses dan disebarkan oleh siapapun dengan mudah. Namun begitu, teknologi juga menawarkan representasi kenyataan yang telah mengalami proses seleksi dan kodifikasi. Sebagai hasilnya, kenyataan tidak lagi tampil dalam wujudnya yang utuh, melainkan telah dipecah ke dalam berbagai versi. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa saat ini kita semakin sulit untuk berinteraksi dengan kenyataan secara total dan otentik. Dunia pengalaman telah digantikan oleh gambaran yang disebarkan melalui berbagai media yang ada di sekeliling kita. Di lain pihak, penggunaan media digital dan internet juga telah memungkinkan terjadinya aktifitas pengawasan yang melekat (<em>surveillance</em>), melalui penggunaan teknologi filter informasi yang kebanyakan dikembangkan untuk kebutuhan militer dan industri. Untuk itu dapat dikatakan bahwa perkembangan teknologi media juga memiliki aspek-aspek politis berupa kontrol dan hegemoni yang beroperasi secara halus. Dalam konteks ini barangkali seni dapat mempertegas kembali posisinya sebagai wahana inovasi, kritik dan refleksi.</p>
<p>Kyai Gede Utama, April 2010</p>
<p><em>* Penulis adalah seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation (Common Room)</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/mengurai-seni-kontemporer-asia-via-seoul-oleh-gustaff-h-iskandar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meneropong Masa Depan Lewat transmediale.10: Futurity Now!</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/meneropong-masa-depan-lewat-transmediale-10-futurity-now/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/meneropong-masa-depan-lewat-transmediale-10-futurity-now/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 12:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gustaff H. Iskandar*
Pertunjukan malam itu ditutup dengan sebuah dentuman besar yang membahana ke segala penjuru ruangan. Sejenak sekitar 1000 pemirsa yang hadir malam itu terkesiap senyap selama beberapa detik. Tak lama berselang, ruang auditorium House of World Culture (HKW) dipenuhi oleh riuh rendah tepuk tangan pemirsa yang mengiringi kepergian Ryoji Ikeda ke belakang panggung. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="From One to Many oleh Yvete Mattern (US)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/yvet_mattern_one_to_many_small.jpg" border="0" alt="transmediale.10" /></p>
<p>Oleh Gustaff H. Iskandar*</p>
<p>Pertunjukan malam itu ditutup dengan sebuah dentuman besar yang membahana ke segala penjuru ruangan. Sejenak sekitar 1000 pemirsa yang hadir malam itu terkesiap senyap selama beberapa detik. Tak lama berselang, ruang auditorium House of World Culture (HKW) dipenuhi oleh riuh rendah tepuk tangan pemirsa yang mengiringi kepergian Ryoji Ikeda ke belakang panggung. Hadir dengan tajuk Pattern Recognition, acara malam itu menyuguhkan pertunjukan multimedia berjudul Materia Obscura milik Jurgen Reble &amp; Thomas Koner (DE), serta Test Pattern yang ditampilkan oleh Ryoji Ikeda &amp; Tomonaga Tokuyama (JP). Kedua pertunjukan ini menampilkan komposisi bebunyian yang berpadu sempurna dengan karya visual yang ditampilkan dalam format raksasa. Selama kurang lebih satu jam lamanya para pemirsa disuguhi pertunjukan bebunyian, dibalut citraan gambar bergerak yang membawa kita ke alam fantasi dan teror gelap masa depan.</p>
<p>Acara di atas merupakan salah satu suguhan utama di hari ke-2 dalam rangkaian kegiatan transmediale.10, sebuah festival seni dan kultur digital yang berlangsung mulai tanggal 2 &#8211; 7 Februari 2010 di gedung HKW Berlin. Melalui tema Futurity Now!, festival transmediale.10 mengajak khalayak ramai membicarakan masa depan melalui serangkaian kegiatan pameran, konferensi, workshop, pertunjukan, pemutaran film &amp; video. Selain itu, festival ini juga menampilkan beberapa program satelit dan konser musik yang menampilkan karya dan pemikiran dari para seniman, desainer, musisi, pemikir, kritikus, ahli teori, blogger, praktisi media dan peneliti dari berbagai belahan dunia. Beberapa diantara peserta yang terlibat diantaranya adalah Ryoji Ikeda (JP), Gabriella Giannachi (IT), Drew Hemment (UK), Regine Debatty (BE), Jem Finer (UK), Jan Edler (DE), Maja Kuzmanovic (HR/ BE), Joy Ayo Tang (TW), Jaromil (IT/ NL/ BE), Alice Miceli (BR), Tapio Makela (FI), Juliana Rotich (KE), dsb. Sejatinya festival ini membincangkan berbagai fenomena terkini dalam ranah eksplorasi di bidang seni dan teknologi, serta dampaknya secara sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan secara luas.</p>
<p><span id="more-707"></span></p>
<p>Pada malam pembukaan, dijelaskan bagaimana imajinasi tentang masa depan di sebagian kalangan masyarakat Eropa terbentuk oleh ideologi peradaban Barat yang juga terpengaruh oleh perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan cerita fiksi. Dalam pengantar yang ditulis oleh Stephen Kovats yang bertindak sebagai direktur artistik, tahun 2000 dan 2010 merupakan tahun yang penting dalam banyak cerita fiksi mengenai masa depan. Periode ini dibayangkan sebagai sebuah era dimana perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah berhasil membangun sebentuk harmoni sosial yang baru, dan menjadi sebuah era kemajuan total (<em>total progress</em>) yang diproyeksikan secara masif melalui berbagai bentuk media dan karya seni, mulai dari novel, karya musik, seni rupa, arsitektur, film, pertunjukan teater, sampai dunia fashion. Namun begitu, tampaknya utopia masa depan yang selama ini dibayangkan telah bergeser menjadi sebuah dystopia, dimana angan-angan kemajuan tidak sepenuhnya berhasil dicapai dan malah cenderung bermutasi menjadi sebuah skenario buruk yang tampaknya akan berujung kepada ancaman bencana besar (<em>cataclysm</em>) peradaban manusia.</p>
<p>Beberapa saat setelah acara ini diresmikan, tujuh buah proyeksi sinar laser berwarna pelangi terlihat membentang dari atap gedung HKW sampai ke menara TV di daerah Alexanderplatz. Proyeksi laser ini merupakan karya berjudul From One to Many yang dibuat oleh Yvete Mattern (US). Sepertinya karya ini berupaya untuk merefleksikan hubungan simbolik yang baru bagi dua gedung yang terletak di bagian barat dan timur kota Berlin. Proyeksi laser warna-warni ini pertama kali ditampilkan di New York pada tanggal 19 Januari 2009, bersamaan dengan hari peringatan Martin Luther King Jr. Tepat satu hari sebelum malam inagurasi Barack Obama. Pada saat itu, komposisi proyeksi laser ini membentang dari daerah Manhattan sampai ke jembatan Brooklyn, yang kemudian melewati sungai Hudson dan berakhir di lokasi gedung World Trade Center Tower yang hancur ditabrak pesawat pada tahun 2001. Tampil ditengah-tengah badai salju kota Berlin yang dingin mencekam, karya ini sepertinya juga berupaya untuk mencerminkan simbolisme tradisional dari pelangi yang menyuarakan spirit keberagaman budaya, perdamaian dan harapan. Ratusan khalayak yang hadir malam itu terlihat begitu antusias dan dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar, meskipun harus menggigil di tengah-tengah hujan salju dan hembusan angin yang bertiup kencang.</p>
<p>Di dalam ruang pameran, gambaran masa depan yang suram tercermin melalui karya Alice Miceli yang berjudul Chernobyl Project &#8211; The Invisible Stain (2008 &#8211; 2009), yang menampilkan seri karya fotografi yang diambil dari wilayah tertutup pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl di perbatasan Belarusia. Karya ini merekam jejak kebocoran radio aktif dalam sebuah bencana yang terjadi pada tanggal 26 April 1986, dengan menggunakan teknik auto-radiografi dan kamera lubang jarum. Hasilnya adalah sebuah seri karya artistik yang merekam jejak mengerikan dari kebocoran radio aktif yang tidak dapat ditangkap oleh mata telanjang. transmediale.10 merupakan festival pertama yang menampilkan karya ini secara lengkap ke hadapan khalayak luas. Sebagai sebuah proyek yang membicarakan persoalan yang sangat spesifik, karya ini menjadi semacam peringatan bagi penggunaan teknologi yang pada level tertentu dapat menjadi ancaman dan mimpi buruk bagi keberlangsungan hidup manusia beserta lingkungannya.</p>
<p><img title="DATA.TRON [3SXGA+ Version] oleh Ryoji Ikeda (JP)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/ryoji_ikeda_datatron_small.jpg" border="0" alt="transmediale.10" /></p>
<p>Dalam nuansa yang berbeda, gambaran masa depan yang angkuh dan dingin disuguhkan melalui karya Ryoji Ikeda dengan judul DATA.TRON [3SXGA+ Version] (2007-2009). Pada karya ini, Ryoji Ikeda menampilkan karya instalasi audio visual berukuran monumental yang mengandung lautan data elektronik dalam wujud huruf, angka, simbol-simbol, serta bebunyian tertentu. Karya ini merupakan bagian dari seri eksperimentasi proyek Datamatics yang berupaya untuk mematerialisasi data digital melalui serangkaian kalkulasi matematis yang dilakukan secara cermat. Karya ini sekilas mirip dengan proyeksi citraan gambar televisi yang didominasi oleh <em>white noise</em> dan berkonfrontasi langsung dengan pemirsa dalam sebuah ruangan yang serba gelap. Apabila para ilmuan dan ahli matematika menggunakan metode ini untuk memprediksi masa depan, Ryozi Ikeda memanfaatkannya untuk menghasilkan pengalaman yang begitu intens sehingga mampu mengepung kesadaran kita (<em>immersive</em>). Untuk karya ini, Ryozi Ikeda mengolah citraan grafis dan mengembangkan program komputer bersama-sama dengan Shohei Matsukawa, Norimichi Hirakawa, dan Tomonaga Tokuyama.</p>
<p>Hampir senada dengan karya Ryoji Ikeda, Zilvinas Kempinas (LT) menampilkan karya berjudul White Noise (2007) yang dibangun dengan menggunakan ribuan meter pita kaset video bekas yang ditampilkan sedemikian rupa, sehingga sekilas tampak seperti citraan pixel hitam putih yang diproyeksikan ke dalam layar berukuran besar. Sayup-sayup terdengar bebunyian gelombang rendah, namun dalam hal ini suara yang dihasilkan berasal dari pita video yang saling bergesek dan bergetar-getar. Selebihnya karya seni yang ditampilkan dalam festival ini terdiri dari beberapa karya instalasi audio visual, instrumen robotik, selain sejumlah karya film &amp; video. Beberapa diantara karya yang dipamerkan memanfaatkan teknologi <em>augmented reality</em>, sensor elektronis, sampai pada eksplorasi gelombang elektromagnetik. Secara keseluruhan pameran ini dirangkum dalam sebuah frame kuratorial yang berjudul Future Obscura yang secara khusus dikurasi oleh Honor Harger (NZ). Lebih jauh, pameran ini juga berupaya untuk mengeksplorasi pandangan para seniman dalam memanfaatkan mesin dan materi yang digunakan untuk membangun citraan tertentu mengenai masa depan yang berseberangan dengan gambaran umum yang berkembang selama ini.</p>
<p><strong>Perbincangan Panjang</strong><br />
Sebagai salah satu program inti untuk festival tahun ini, sebuah konferensi internasional yang menyoroti perkembangan teknologi media terkini diselenggarakan mulai tanggal 5 &#8211; 7 Februari 2010 di ruang auditorium HKW. Dengan tajuk <a href="http://www.transmediale.de/en/transmediale10-conference-future-observatory" target="_blank"><em><strong>Future Observatory</strong></em></a>, secara umum konferensi ini diselenggarakan untuk menguji berbagai bentuk batasan, gap dan disfungsi masa depan yang saat ini kita pahami. Hal ini dikembangkan sebagai sebuah proyeksi kultural yang mengungkap berbagai bentuk kemungkinan, strategi, spekulasi dan skenario masa depan yang baru. Seri pertama dari konferensi ini dibuka melalui sesi dialog yang berjudul <a href="http://www.transmediale.de/en/node/11234" target="_blank"><em><strong>Futurity Long Conversation</strong></em></a>, yang berisi serangkaian pembicaraan maraton yang berlangsung selama 9 jam non-stop tanpa moderasi dan interupsi. Sesi ini menghadirkan 22 pembicara yang terdiri dari seniman, desainer, ahli teori, wartawan, penulis, dan praktisi media yang mengekplorasi berbagai ide abstrak dan gagasan kualitatif yang merefleksikan pandangan mengenai masa depan secara kritis. Melalui rangkaian dialog yang membuka peluang refleksi estetik dan analitik secara kolaboratif, para pemirsa yang hadir diajak untuk menelisik uraian kompleks yang mempertautkan imajinasi tentang masa depan dengan wacana di bidang seni, teknologi, ilmu pengetahuan dan ekonomi baru.</p>
<p>Sebelum dimulai, sesi Futurity Long Conversation diawali dengan kuliah umum dari <a href="http://www.transmediale.de/en/node/11829" target="_blank"><em><strong>Dr. Richard Barbrook (UK)</strong></em></a> yang menyampaikan makalah dari bukunya yang berjudul <a href="http://www.imaginaryfutures.net/book/" target="_blank"><em><strong>Imaginary Futures: From Talking Machine to The Global Village</strong></em></a>. Secara jernih Dr. Richard Barbrook menguraikan fenomena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Amerika paska perang dunia ke-2, yang terutama dipicu oleh pertentangan ideologi di era perang dingin. Situasi ini kemudian mengantarkan blok barat dan timur pada kompetisi di bidang militer, industri, dan perlombaan untuk menaklukan ruang angkasa; selain mendorong berbagai inovasi dan penemuan baru di bidang teknologi media, khususnya internet. Menurutnya periode ini juga diwarnai oleh obsesi untuk menaklukan masa depan, terutama dengan adanya pandangan bahwa siapa yang dapat menguasai masa depan akan dapat menguasai dunia. Dalam konteks ini, teknologi internet kemudian dikembangkan karena dianggap memiliki potensi untuk membentuk struktur masyarakat di masa depan. Setelah berkembang selama lebih dari dua dekade, saat ini dapat dikatakan bahwa teknologi internet telah menjelma menjadi sumber kekuatan ekonomi dan politik baru yang menghegemoni masyarakat global (<em>global society</em>).</p>
<p>Konferensi kemudian dilanjutkan melalui dialog 22 pembicara yang menyampaikan pandangan mereka secara simultan. Pada sesi ini setiap pembicara tampil berpasangan dan berestafet untuk mengutarakan berbagai pandangan, kritik dan refleksi, termasuk berbagai prediksi dan spekulasi masa depan melalui serangkaian dialog yang intim. Secara bersamaan, kelompok Sosolimited (US) memanfaatkan sesi dialog ini sebagai bagian dari materi pertunjukan yang berlangsung di panggung cafe HKW. Kelompok ini merupakan trio lulusan MIT yang terdiri dari Justin Manor, Eric Gunther dan John Rostenberg. Dalam pertunjukan mereka, Sosolimited mengembangkan sebuah software khusus yang mampu mengurai rekaman diskusi ke dalam materi video, audio dan teks. Selanjutnya mereka mengekspos isi dan struktur dialog ke dalam visualisasi data yang memungkinkan para pemirsa menyimak konferensi dengan cara yang berbeda. Dalam pertunjukan ini khalayak ramai mendapat kesempatan untuk menelusuri beberapa kata kunci, uraian kalimat, serta simpulan ide dan gagasan abstrak dari para pembicara yang diterjemahkan ke dalam skema presentasi multimedia yang menarik, sehingga memungkinkan terjadinya pola interpretasi informasi dan pengetahuan dengan cara yang kongkrit. Setelah berjalan selama 9 jam, konferensi hari pertama ditutup oleh dialog antara Drew Hemment dan Tapio Makela yang menawarkan struktur dan narasi masa depan yang lebih plural dan terbuka bagi proses emansipasi.</p>
<p><img title="Kuliah umum oleh Conrad Wolfram (UK)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/conrad_wolfram_small.jpg" border="0" alt="transmediale.10" /></p>
<p>Pada hari berikutnya konferensi dilanjutkan melalui dua sesi kuliah umum dan diskusi yang secara khusus membahas ideologi dan masa depan internet. Selain itu, konferensi ini juga membicarakan fenomena &#8220;atemporality&#8221; yang mencerminkan percepatan perkembangan masyarakat yang terjadi secara ekstrim, sehingga cenderung menciutkan kondisi realitas di masa kini. Sesi pertama menampilkan Conrad Wolfram (UK) yang menyampaikan makalah berjudul <a href="http://www.transmediale.de/en/node/12544" target="_blank"><em><strong>Wolfram Alpha: Information, Computation and the New Era of Knowledge</strong></em></a>. Dalam uraiannya, Conrad Wolfram menyoroti potensi pemanfaatan teknologi informasi dan media baru yang telaht merubah mekanisme produksi dan distribusi pengetahuan, termasuk pola komunikasi yang dapat menyebarkan informasi dan pengetahuan dengan cara yang radikal. Menurutnya, saat ini kita telah hidup dalam sebuah era dimana keberagaman budaya dapat mengalami proses pertukaran, dialog dan kolaborasi secara virtual, sehingga kita perlu memikirkan kembali pemahaman mengenai identitas, terutama dari aspek komunikasi, interaksi dan pola hubungan antar manusia di seluruh jagat alam raya. Selanjutnya pada sesi kedua Bruce Sterling (US) menyampaikan makalah dengan judul  <a href="http://www.transmediale.de/en/keynote-bruce-sterling-us-atemporality" target="_blank"><em><strong>Atemporality &#8211; A Cultural Speed Control</strong></em></a>. Dalam presentasinya Bruce Sterling menyampaikan bagaimana kecepatan dalam proses pengumpulan data dan informasi, serta kecepatan dalam mekanisme produksi dan distribusi produk, jasa dan informasi dapat membawa kita kepada jalan buntu peradaban. Hal ini terutama terjadi ketika kemajuan (<em>progress</em>) sebagai paradigma modernitas secara perlahan bermutasi menjadi sekedar serangkaian modulasi peristiwa yang terjadi secara terus menerus tanpa henti dan larut dalam perayaan pesta orgy perubahan dan variasi yang cenderung kehilangan tujuan dan maknanya yang hakiki.</p>
<p>Tampaknya secara umum berbagai kegiatan dan pembicaraan yang berlangsung dalam festival ini mengajak kita untuk mempertanyakan kembali pemahaman dan gambaran yang kita miliki tentang masa depan peradaban manusia dalam konteks perkembangan teknologi media. Hal ini terutama menyoroti berbagai aspek terkait yang memiliki intensi politis, serta tatanan nilai dan etika yang sedang beroperasi di tengah-tengah masyarakat zaman kiwari. Dalam konteks ini, kita sepertinya telah kehilangan kuasa untuk terlibat secara langsung dalam proses politik yang idealnya ditujukan untuk memuliakan nilai-nilai dan etika melalui serangkaian aktifitas dan praktik yang bersandar pada nilai-nilai budaya dengan manusia sebagai subyek utamanya. Sebagai taruhannya, kita kemudian berkonfrontasi dengan kenyataan bahwa tubuh kita telah mengalami proses de-personalisasi dan de-subyektifikasi, ditengah-tengah gemuruh perubahan yang dituntun oleh perkembangan teknologi (media) yang begitu mendominasi. Sementara itu, berbagai institusi yang menyangga peradaban manusia saat ini tampaknya tengah mengalami kegagapan yang laten, sehingga ikut terhimpit dalam arus perubahan yang berlangsung tanpa jeda. Di zaman edan, situasi turbulensi yang mencekam telah mengeliminasi ruang untuk menyampaikan reaksi balik berupa dialog, kritik, dan refleksi yang bermakna.</p>
<p>Alhasil melalui festival ini kita dapat melihat cerminan masa depan yang dipenuhi oleh kegamangan, keraguan dan ambivalensi, selain juga optimisme, gairah dan semangat untuk meraih peluang yang berjalan seiring dengan berbagai spekulasi dan konstelasi kuasa (politik) yang baru. Gambaran situasi ini tentu saja menuntut sikap yang awas dan hati-hati, terutama menyoal berbagai bentuk perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi media yang seakan terus bergerak dengan kecepatan yang melampaui kesadaran dan detak jantung kita. Dalam perspektif lokal, barangkali kita bisa mengutip uraian Rakeyan Darmasiksa dalam Amanat Galunggung yang berbunyi, &#8220;<em>Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke</em>&#8220;, yang artinya kurang lebih, &#8220;Ada kemarin ada hari ini, apabila tak ada kemarin maka tak ada hari ini.&#8221; Melalui testamen yang ditulis oleh Raja Sunda ke-25 pada sekitar abad ke-15 ini, kita dapat mengambil hikmah bahwasanya masa depan yang lebih baik hanya dapat kita raih ketika kita dapat membaca kembali berbagai persoalan, kegagalan serta disfungsi masa lalu dan masa kini, sebagai upaya untuk mengkalibrasi ulang arah peradaban yang baru dengan cara yang lebih reflektif dan manusiawi.</p>
<p>Berlin, 7 Februari 2010</p>
<p><em>* Penulis adalah seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation. Terlibat dalam festival ini atas dukungan Goethe Institute Jakarta dan Hivos.</em></p>
<p><em>** Tulisan ini dipresentasikan dalam acara diskusi di Common Room pada tanggal 23 Februari  2010. Simak liputan mengenai diskusi ini di halaman <a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=132088" target="_blank"><em><strong>Kampus Pikiran Rakyat</strong></em></a>.</em></p>
<p><em><em>*** Arsip video aktifitas transmediale.10 bisa diakses di <a href="http://www.transmediale.de/en/mediaarchive" target="_blank"><strong>halaman berikut</strong></a>.</em></em></p>
<p><em><em>**** Simak ulasan terkait di halaman berikut:<br />
<a href="http://www.culture360.org/inspire/in-focus.aspx" target="_blank"><strong>In conversation at Transmediale (Contributed by  Judith Staines)</strong></a><br />
<a href="http://www.furtherfield.org/displayreview.php?review_id=380" target="_blank"><strong>Transmediale.10 &#8211; Futurity Now! (A collaborative review by Marcello Lussana and Gaia Novati)</strong></a></em></em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/meneropong-masa-depan-lewat-transmediale-10-futurity-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
