<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Screening</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/screening/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 10:07:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>UNDER ONE SKY &#124; pemutaran film + diskusi: HAM dan Jurnalisme &#124; Rabu, 16 Desember 2009</title>
		<link>http://commonroom.info/2009/under-one-sky-pemutaran-film-diskusi-ham-dan-jurnalisme-rabu-16-desember-2009/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2009/under-one-sky-pemutaran-film-diskusi-ham-dan-jurnalisme-rabu-16-desember-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 16:53:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Residency]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Under One Sky adalah judul dari sebuah film dokumenter di bawah arahan dan suntingan Kiri Dalena, seorang seniman Phillipina yang saat ini tengah menjalani program residensi singkat di Common Room. Film produksi tahun 2009 dan berdurasi 30 menit ini dikerjakan secara bersama-sama dengan Patricia Evangelista. Keduanya berasal dari Phillipina.
Film ini bercerita tentang sebuah insiden yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Noel" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/noel_blog.jpg" border="0" alt="film" /></p>
<p>Under One Sky adalah judul dari sebuah film dokumenter di bawah arahan dan suntingan Kiri Dalena, seorang seniman Phillipina yang saat ini tengah menjalani program residensi singkat di Common Room. Film produksi tahun 2009 dan berdurasi 30 menit ini dikerjakan secara bersama-sama dengan Patricia Evangelista. Keduanya berasal dari Phillipina.</p>
<p>Film ini bercerita tentang sebuah insiden yang terjadi pada tanggal 23 November 2009, ketika sebuah pembantaian terjadi di wilayah Maguindanao dan kemudian dikenal dengan insiden Pembantaian Maguindanau. Dalam insiden ini, sekitar 57 laki-laki dan perempuan dibunuh secara brutal. Secara khusus, film ini berkisah mengenai orang-orang yang menjadi korban, termasuk keluarga yang ditinggalkan. Dalam insiden ini, juga tercatat kematian 31 orang wartawan yang ikut menjadi korban pembantaian yang dilakukan secara membabi buta.</p>
<p><span id="more-496"></span></p>
<p>Program ini merupakan bagian dari program peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang biasanya diselenggarakan setiap tanggal 10 Desember di seluruh dunia. Kali ini, kegiatan peringatan mengambil fokus pada diskusi mengenai posisi dan peran jurnalis dalam konteks penegakan HAM dengan perbandingan situasi di Phillipina dan Indonesia. Melalui kegiatan pemutaran dan diskusi kali ini, akan dibahas secara detail bagaimana posisi seorang jurnalis yang memiliki peran yang strategis dalam upaya penegakan HAM, terutama dalam perspektif menunaikan hak dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan.</p>
<p>Dalam banyak kasus di Indonesia ataupun negara lain, kita dapat menyaksikan bagaimana insiden dan pelanggaran HAM juga kerap menjadikan para jurnalis sebagai korbannya. Diharapkan melalui kegiatan ini, masyarakat luas dapat membicarakan berbagai aspek yang terkait dengan upaya penegakan HAM dan melihat peran para jurnalis secara reflektif dan kritis. Selain itu, kegiatan ini juga akan membicarakan berbagai aspek yang terkait dengan perundang-undangan dan hukum positif Indonesia dalam koridor Deklarasi HAM Universal yang pertama kali dikumandangkan kurang lebih 61 tahun yang lalu.</p>
<p>Selain kegiatan pemutaran film Under One Sky serta diskusi mengenai HAM dan Jurnalisme, kegiatan ini juga akan diisi dengan pemutaran film Balibo V, yang merujuk kepada kasus terbunuhnya lima wartawan asing, yaitu Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Leste (dulu Timor-Timur) pada tahun 1975. Film ini merupakan arahan dari sutradara Rob Conolly dan sempat dilarang diputar dalam acara Jakarta International Film Festival (JIFFEST) pada bulan Desember tahun ini.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="data" value="http://www.youtube.com/v/rN6YM2d2TgM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/rN6YM2d2TgM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/rN6YM2d2TgM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" data="http://www.youtube.com/v/rN6YM2d2TgM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;"></embed></object></p>
<p>Host: Common Room<br />
Date: Rabu, 16 Desember, 2009<br />
Time: 3:00 pm &#8211; 7:00 pm<br />
Location: Common Room<br />
Street: Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
City/Town: Bandung, Indonesia</p>
<p><strong>TOR Diskusi:</strong><br />
Hak asasi manusia (HAM) adalah hak yang melekat pada diri manusia sehingga memiliki sifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan Yang Maha Pencipta yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat, maupun negara.</p>
<p>John Locke mengemukakan hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Karena itu, tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya. Hak ini sifatnya mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia, serta merupakan hal kodrati yang tidak bisa dipisahkan.</p>
<p>Dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia pasal 1 disebutkan, “<em>Hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia</em>”.</p>
<p>Berdasarkan beberapa rumusan HAM, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM, yaitu:</p>
<ol>
<li>HAM tidak perlu diberikan, dibeli, atau diwarisi. HAM adalah bagian dari keberadaan manusia secara otomatis.</li>
<li>HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.</li>
<li>HAM tidak bisa dilanggar. Tidak ada yang bisa membatasi atau melangggar hak orang lain. Seseorang tetap memiliki HAM walaupun negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM tersebut.</li>
</ol>
<p>Selanjutnya, secara operasional dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, ada beberapa bentuk:</p>
<ol>
<li> Hak untuk hidup;</li>
<li>Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan;</li>
<li>Hak mengembangkan diri;</li>
<li>Hak memperoleh keadilan;</li>
<li>Hak atas kebebasan pribadi;</li>
<li>Hak atas rasa aman;</li>
<li>Hak atas kesejahteraan;</li>
<li>Hak turut serta dalam pemerintahan;</li>
<li>Hak wanita; dan</li>
<li>Hak anak.</li>
</ol>
<p>Deklarasi tentang HAM juga memasukkan hak atas kebebasan berekspresi dan beropini. Sebagai contoh, pasal 19 dalam deklarasi yang disahkan pada tahun 1948 itu adalah;</p>
<p>”<em>Setiap orang berhak atas kebebasan beropini dan berekspresi, hak ini meliputi kebebasan untuk memiliki opini tanpa intervensi, serta untuk mencari, menerima, dan mengungkapkan informasi serta gagasan melalui media apapun dan tidak terikat pada garis berpendapat</em>”.</p>
<p>Pada pasal 18 juga tercantum kalimat, ”<em>Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir&#8230;</em>”. Bentuk dari kebebasan berekspresi adalah kebebasan berpendapat. Sementara Undang-undang Dasar hasil amandemen pasal 28 pun menyatakan; ”<em>Kemerdekaan berserikat dan bekumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang</em>”.</p>
<p>Filosofi kelahiran hak atas kebebasan berekspresi ini adalah menguatnya tekanan negara terhadap perjuangan atas hak-hak dasar manusia. Dalam perspektif Marxian, perjuangan atas hak dasar ekonomi menjadi alasan bagi negara untuk menegakan kebebasan dalam organisasi sipil-politik.</p>
<p>Kebebasan berekspresi merupakan isu yang menjadi domain penting dan mendesak untuk diperjuangan. Tanpa kebebasan bereskpresi (di dalamnya termaktub kebebasan pers, memberikan informasi dan mendapat informasi), perjuangan HAM di bidang-bidang lain dapat ikut terhambat keberadaannya.</p>
<p>Sudah banyak korban bergelimpangan ketika perjuangan untuk berekspresi dan berbicara dibungkam secara paksa. Penangkapan, penculikan, pembunuhan, dan pemenjaraan aktivis serta jurnalis merupakan bukti bagaimana institusi dan aparat negara selalu berupaya untuk mencegah perbaikan sistemik di negeri ini.</p>
<p>Peran jurnalis dan masyarakat dalam masa reformasi memiliki peran yang penting untuk melawan kejahatan HAM. Tetapi, pemerintah dan DPR malah mengutak-atik masalah kebebasan melalui beberapa aturan perundang-undangan dan tata aturan hukum yang bias.</p>
<p>Beberapa pereaturan yang mengancam suara dan kebebasan publik diantaranya adalah UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Sebagaimana polemik yang berkembang selama beberapa waktu terakhir, Prita Mulyasari adalah salah satu korban dari kesewenangan ini.</p>
<p>Produk lain yang hendak keluar adalah RUU Rahasia Negara. Rancangan aturan ini memiliki peluang untuk melakukan proses kriminalisasi bagi warga negara Indonesia yang membocorkan rahasia institusi atau pejabat publik. Beberapa organisasi masyarakat sipil (OMS) pro kebebasan berekspresi menduga langkah pemerintah ini cenderung untuk melindungi perilaku negatif pejabat publik. Publik kemudian tidak diperkenankan untuk melihat kinerja aparatus, berkas dokumen, serta laporan keuangan dengan alasan rahasia negara.</p>
<p>Selain itu, produk hukum lama yang termaktub dalam Kitab UU Hukum Pidana juga masih menyimpan beragam jebakan bagi kebebasan pers. Pasal-pasal defamasi (pencemaran nama baik) masih berserakan dalam KUHP yang merupakan produk kolonial tersebut.</p>
<p>Diantara yang negatif, posisi publik dalam perjuangan kebebasan menyampaikan dan mendapatkan informasi masih dijamin dalam pasal 28 UUD Amandemen 1945, UU Pers, dan UU Keterbukaan Informasi Publik.</p>
<p>Dengan penjelasan tersebut maka kiranya perlu pembahasan lebih lanjut seperti:</p>
<ol>
<li>Bagaimanakah publik memanfaatkan produk aturan yang membela perjuangan kebebasan berekspresi?</li>
<li>Apakah model <em>citizen journalism</em> bisa memberi tawaran konkret terhadap penyebaran informasi?</li>
<li>Perlukah manajemen informasi dan etika ketat agar model citizen journalism tidak terjebak pasal-pasal defamasi dan jeratan hukum pidana lainnya?</li>
</ol>
<p><em>Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI Bandung) yang bekerjasama dengan Common Room. Sementara Kiri Dalena merupakan seorang seniman yang tengah menjalani program residensi di Common Room. Kehadirannya merupakan bagian dari program pertukaran seniman yang didukung oleh Ateneo Gallery (Manila), HIVOS &amp; Common Room. Gratis dan terbuka untuk umum, terutama para pelajar, mahasiswa, guru, wartawan, seniman, desainer, musisi, ibu rumah tangga, polisi, tentara, dsb.<br />
</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2009/under-one-sky-pemutaran-film-diskusi-ham-dan-jurnalisme-rabu-16-desember-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemutaran dan Diskusi Film Freedom Writers (Richard LaGravenese, 2007) &#124; Common Room &#124; 19 Desember 2008</title>
		<link>http://commonroom.info/2008/pemutaran-dan-diskusi-film-freedom-writers-richard-lagravenese-2007-common-room-19-desember-2008/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2008/pemutaran-dan-diskusi-film-freedom-writers-richard-lagravenese-2007-common-room-19-desember-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 12:54:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Human Rights]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[More pictures at http://bandungoralhistory.org]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-366" title="screening_web01" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2009/02/screening_web01.jpg" alt="screening_web01" width="480" height="360" /></p>
<p>More pictures at <a href="http://bandungoralhistory.org/2008/12/pemutaran-dan-diskusi-film-freedom-writers-richard-lagravenese-2007-common-room-19-desember-2008/" target="_blank">http://bandungoralhistory.org</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2008/pemutaran-dan-diskusi-film-freedom-writers-richard-lagravenese-2007-common-room-19-desember-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review One Minute Video Screening di Ganesha Film Festival &#124; LFM – ITB &#124; 31 Januari 2008</title>
		<link>http://commonroom.info/2008/one-minute-video-screening/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2008/one-minute-video-screening/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 09:19:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2008/ini-bukan-paris-doni-kabo-yunis-kartika-stencil-art-instalation-common-room-20-feb-1-march-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka pelaksanaan Ganesha Film Festival 2008, LFM – ITB bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation menyelenggarakan pemutaran kompilasi One Minute Video pada tanggal 31 Januari yang telah lalu. Acara ini menampilkan karya kompilasi video dari para pemenang One MinuteVideo Festival 2006 yang diselenggarakan oleh The One Minutes Foundation. Selain pemutaran, kegiatan ini juga disertai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/lfm.jpg" border="0" alt="Photobucket" /></p>
<p>Dalam rangka pelaksanaan Ganesha Film Festival 2008, LFM – ITB bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation menyelenggarakan pemutaran kompilasi One Minute Video pada tanggal 31 Januari yang telah lalu. Acara ini menampilkan karya kompilasi video dari para pemenang One MinuteVideo Festival 2006 yang diselenggarakan oleh <a href="http://www.theoneminutes.org/public/" target="_blank">The One Minutes Foundation</a>. Selain pemutaran, kegiatan ini juga disertai dengan diskusi mengenai perkembangan genre video berdurasi singkat yang berkembang pesat di beberapa negara selama beberapa waktu terakhir ini. Dapat dikatakan bahwa saat ini perkembangan karya film dan video berdurasi pendek telah memiliki tempat tersendiri diantara para penikmat karya audio-visual.</p>
<p>Program pemutaran One Minute Video dalam acara ini menampilkan sekitar 30 karya film dan video berdurasi pendek yang mencerminkan beragam kecenderungan, baik dari segi teknis maupun cerita. Sebagian besar karya yang ditampilkan juga memperlihatkan  beragam gaya dan teknik produksi semisal found footage, stop motion, still camera, animasi, dsb. Tampaknya perkembangan teknologi digital memiliki peran yang begitu besar dalam mendorong perkembangan genre film dan video berdurasi pendek. Hal ini misalkan tercermin melalui aspek produksi, penyebaran, maupun beragam kecenderungan bahasa visual yang tercermin dari setiap karya yang ada.</p>
<p><span id="more-104"></span></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/JHdkHBkXW8Y&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/JHdkHBkXW8Y&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Salah satu karya yang menarik untuk disimak barangkali adalah karya animasi yang berjudul “Pa-No-Rama” (<a href="http://www.alienatio.it/" target="_blank">Diego Zucchi/ IT</a>), yang menceritakan pengalaman konyol seorang kakek tua yang tengah bepergian dengan kereta api. Karena kurang beruntung, sang kakek harus kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan yang indah selama di perjalanan. Selain itu, ada juga karya politis berjudul “Statement” (<a href="http://www.stinaostberg.com/" target="_blank"><span class="bodytext">Stina Östberg</span>/ SE</a>), yang secara sengaja menampilkan rekaman perilaku penonton sepak bola yang dimanfaatkan sebagai media propaganda oleh seorang aktifis feminis sehingga menjadi tontonan yang kocak.</p>
<p>Melalui karya-karya yang ditampilkan, terlihat bagaimana genre film dan video berdurasi singkat mampu mencerminkan refleksi subyektif tentang realitas kehidupan sehari-hari, selain berbagai pandangan yang bersifat puitis dan bahkan politis. Selain itu, ada juga beberapa karya yang hanya sekedar menonjolkan aspek eksplorasi bahasa artistik dan sensasi visual tertentu. Meskipun memiliki durasi yang sangat singkat, terbukti genre film dan video masih dapat dinikmati dan memberikan kesan tersendiri bagi para penikmatnya. Rencananya LFM &#8211; ITB bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, Kineruku dan VideoLab akan menyelenggarakan workshop &#8220;One Minute Video&#8221; dalam waktu dekat untuk ikut mendorong perkembangan genre film dan video berdurasi pendek di kota Bandung.</p>
<p>Ganesha Film Festival 2008 merupakan festival film pertama yang diselenggarakan oleh LFM – ITB. Selain pemutaran film, festival ini juga menyelenggarakan kompetisi film independen yang melibatkan karya para sineas muda dari beberapa kota di Indonesia. Untuk festival kali ini, ada sekitar 98 karya film dan 4 video art yang diperlombakan. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan pre screening di Common Room pada tanggal 28 Januari 2008. Sementara itu, puncak dari kegiatan festival yang sekaligus menjadi ajang penyerahan penghargaan kompetisi diselenggarakan di Campus Center ITB pada tanggal 2 Februari 2008.</p>
<p>Untuk informasi lebih lengkap mengenai Ganesha Film Festival 2008 silahkan mengunjungi halaman berikut ini:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.lfm.itb.ac.id/ganffest/index.html" target="_blank">Website Ganesha Film Festival 2008</a></li>
<li><a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;id=11824" target="_blank">Liputan Kampus, Pikiran Rakyat </a></li>
</ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2008/one-minute-video-screening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemutaran Film KKK (Philipina) &#124; Common Room &#124; 4 Januari 2007</title>
		<link>http://commonroom.info/2008/pemutaran-film-kkk-philipina-common-room-4-januari-2007/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2008/pemutaran-film-kkk-philipina-common-room-4-januari-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 11:20:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2008/pemutaran-film-kkk-philipina-common-room-4-januari-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Common Room bekerjasama dengan Mervin Espina (http://sealitblog.wordpress.com) menyelenggarakan acara pemutaran film KKK pada tanggal 4 Januari 2007, mulai pukul 19.00 WIB &#8211; selesai. Acara ini akan menampilkan 3 buah film pendek yang merupakan bagian dari program Cine Veritas 2006. Secara keseluruhan, ketiga film yang diputar menceritakan kisah tentang anak-anak miskin dalam beragam kondisi. Dalam film-film [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/batangtrapo.jpg" alt="batangrapo" border="0" /></p>
<p>Common Room bekerjasama dengan Mervin Espina (<a href="http://sealitblog.wordpress.com" target="_blank">http://sealitblog.wordpress.com</a>) menyelenggarakan acara pemutaran film KKK pada tanggal 4 Januari 2007, mulai pukul 19.00 WIB &#8211; selesai. Acara ini akan menampilkan 3 buah film pendek yang merupakan bagian dari program Cine Veritas 2006. Secara keseluruhan, ketiga film yang diputar menceritakan kisah tentang anak-anak miskin dalam beragam kondisi. Dalam film-film ini, kemiskinan tidak ditampilkan sebagai  sebuah terminologi ekonomi, tetapi sebagai persoalan yang harus dihadapi dan dilawan keberadaannya.</p>
<p>Secara keseluruhan, program pemutaran ini diberi judul Kabataan KKK. Dalam bahasa <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tagalog_language" target="_blank">Tagalog</a>, Kabataan berarti anak-anak. Sementara itu, KKK merupakan singkatan dari gerakan Katipunan (persaudaraan) yang merupakan sebuah gerakan perjuangan melawan pendudukan Spanyol di Philipina pada abad ke-19. Sejatinya, KKK bagi sebagian komunitas masyarakat di Philipina merupakan akronim dari &#8220;<em>Kataas-taasang, Kagalang-galangang Katipunan ng mga Anak ng Bayan&#8221;</em> (Masyarakat yang unggul dan agung, yang terdiri dari anak-anak bangsa). Namun dalam program ini, KKK juga bisa dipahami sebagai singkatan dari Karunungan (pengetahuan), Kamalayan (kebangkitan), dan Kalye (jalanan).</p>
<p><span id="more-83"></span></p>
<p>Adapun beberapa film yang akan diputar di dalam acara ini adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong><em> Karunungan</em><br />
Binaliw (2002) / 9 min / miniDV / by Kris Villarino</strong><br />
Binaliw menceritakan kisah sebuah kota kecil bernama Talamban, yang juga dikenal sebagai Cebu. Di kota ini, hanya sekitar 10% masyarakatnya yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi. Seorang gadis kecil dari kota ini dikisahkan berhasil menabung untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Namun sayang ia harus kehilangan semuanya sebelum hari ujian tiba. Film ini telah mendapatkan Best Regional Entry, 15th Gawad CCP for Alternative Film and Video (2002).</p>
<p><em><strong>Kamalayan</strong></em><br />
<strong>Putot (2006) / 20 min / miniDV / by Jeck Cogama</strong><br />
Putot (dalam bahasa <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Visayan" target="_blank">Visayan</a> artinya kecil) adalah nama seorang anak laki-laki yang tumbuh di sebuah komunitas yang menetap secara ilegal di sebuah daerah di dekat pantai. Bocah berumur 13 tahun ini adalah seorang anak pendiam yang merawat ayahnya yang sakit mental, sekaligus bekerja sebagai penjual kerang. Dalam film ini Putot bertemu dengan Mayang, seorang gadis misterius yang memiliki banyak rahasia. Dalam film ini mereka berdua dikisahkan menjalin persahabatan yang sangat mengharukan. Film ini mendapatkan penghargaan Gawad Urian Award for Best Short Film (2007).</p>
<p><em><strong>Kalye</strong></em><br />
<strong>Batang Trapo (2001) / 15 min / 35mm / by Mes de Guzman</strong><br />
Batang Trapo adalah sebuah film yang berkisah mengenai dua anak jalanan yang sehari-hari bekerja sebagai penjual kain gombal (dalam bahasa lokal dikenal juga sebagai <em>trapo</em>, sebutan lain untuk politisi tradisional). Selain itu, mereka juga bekerja sebagai pembersih kaca mobil di jalanan yang padat. Alih-alih harus berhadapan dengan sumpeknya jalanan, kedua bersaudara ini mampu bertahan dan tetap memiliki spirit untuk bermain. Film ini telah menerima Ishmael Bernal Award for Young Cinema, Cinemanila International Film Festival2001; Gawad Urian Award for Best Short Film (2002); dan Golden Star, Marrakech International Film Festival.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2008/pemutaran-film-kkk-philipina-common-room-4-januari-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IntenCITY/ LOWAVE Video Art &amp; Experimental Cinema Screening , Bandung &#8211; Indonesia</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/intencity-lowave-video-art-experimental-cinema-screening-bandung-indonesia/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/intencity-lowave-video-art-experimental-cinema-screening-bandung-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2007 08:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/intencity-lowave-video-art-experimental-cinema-screening-bandung-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[IntenCity/ LOWAVE Video Art &#38; Experimental Cinema Screening presenting works from 10 artists who came from 9 countries, which working in the context of urban situation. IntenCity is a compilation of works that is never been published before and offering a new perspective on cityscape and its artistic perception on video art and experimental cinema.
The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://farm2.static.flickr.com/1345/1221137274_b24ff8460d.jpg" alt="IntenCity: Lowave Poster" /></p>
<p>IntenCity/ LOWAVE Video Art &amp; Experimental Cinema Screening presenting works from 10 artists who came from 9 countries, which working in the context of urban situation. IntenCity is a compilation of works that is never been published before and offering a new perspective on cityscape and its artistic perception on video art and experimental cinema.</p>
<p>The program is being prepared by LOWAVE, an independent distribution label that offers a new approach in working on urban issues in the context of contemporary cinematography. Some films that is included in this compilation are reflecting a rich and original view from its respective artists, mostly collected in the past three years from various sources and compilation such as City2City, Visions Urbaines, HC Gilje: Cityscapes, and Valerie Pavia.</p>
<p>Within this hybrid mix, most of the artists explores their work from the stream of crowded human interaction, modern buildings and cityscape. Working with fragment of pictures and noises, most of artists tries to reconstruct without neglecting narrative aspect in city life, with realistic, poetic, and Utopian views.</p>
<p><span id="more-43"></span></p>
<p>LOWAVE is an independent DVD label with the objective of discovering and promoting contemporary film and video art. Its ambition is to create a new marketplace for the work of cutting-edge artists and filmmakers, under recognized by the traditional distribution channels, by making them accessible to the public via the DVD format. With DVD, experimental film can finally find an audience beyond the film festival circuit.  (More info please visit: <a href="http://www.lowave.com/" rel="nofollow" target="_blank">http://www.lowave.com</a>).</p>
<p>Besides showing some works from LOWAVE artists, this program is also equipped with special screening that is coordinated by VideoBabes, which will show 10 works from local artists that presents diverse perception on cityscape based on their own perspective. From this compilation, VideoBabes invite us to explores various form of cityscape through rich collection of building blocks and personal memory, besides reflection of urban souls that is appear in public toilets and TV screen, which stuck in the corner of city space. While exploring a distinct form of urban surroundings, this compilation also offers an intimate approach in understanding city life from its inhabitants.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>IntenCITY/ LOWAVE video compilation</strong>:</p>
<p><em>HC Gilje (Norwegia) / H.K. Mark I</em><em><br />
<em>Marina Chernikova (<span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_1">Russia</span>) / Crossings</em><br />
<em>Kentaro Taki (<span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial" id="lw_1188001038_2">Japan</span>) / Exchangeable Cities</em><br />
<em>Nose Chan (<span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_3">China</span>) / Nil</em><br />
<em>Valérie <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_4">Pavia</span> (French) /  Esquisses : <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial" id="lw_1188001038_5">Berlin</span> &#8211; Pigalle – Moscou</em><br />
<em>Vincent et Franck Dudouet &amp; Adolph Kaplan (French) / Hors Chants</em><br />
<em>Stefano Canapa (French/ <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_6">Italy</span>) / Promenaux</em><br />
<em>Roger Beebe (USA) / The Strip Mall Triology</em><br />
<em>Ulrich Fischer (Swiss/ <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_7">Germany</span>) / Es geht auch schneller</em><br />
<em>Egbert Mittelstädt (<span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_8">Germany</span>) / Fall In Fall Out. Timaios 3rd and 5th Moment</em></em></p>
<p><strong>VideoBabes video compilation</strong>:</p>
<p><em>Prilla Tania / A Short Story from Mom and Me</em><em><br />
<em>Rizaldi Fakhrudin / One Creative Way to Live in a Creative City</em><br />
<em>M. Akbar / My Little Corner of the World</em><br />
<em>oQ Adiredja / Me vs. Angkot</em><br />
<em>Yusuf Ismail / Flushed Memory</em><br />
<em>Muhammad Reggie Aquara / Album: Traveling Without Moving</em><br />
<em>Yusuf Ismail / I hate to be in the middle of the crowd during Saturday night in Dago street</em><br />
<em>Ariani Darmawan / City of Desire</em><br />
<em>R. E.  Hartanto / City Series No. 2</em><br />
<em>Andi Bini Fitriani / Urban Puppet</em></em></p>
<p>In conjunction with screening program, there will be public discussion that is presenting two artists from LOWAVE:</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1236/1221137278_6e16ec695f_t.jpg" alt="Silke" /><br />
<strong>Silke Schmickl</strong><br />
Silke Schmickl was born in Germany in 1974. She studied Art History and Intercultural Communications  in <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_9">Munich</span> and in <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_10">Paris</span> where she completed her diploma at the University of Paris (Sourbonne) in 2001. She&#8217;s been a researcher at the German Center for Art History in <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_11">Paris</span> since 2000. She has published a book on Museum Photographs by Thomas Struth. In 2002, she co-founded LOWAVE where she is responsible for the conception and production of art projects as well as their distribution in partnership with international cultural organizations.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1068/1221137284_1573791a82_t.jpg" alt="Thomas" /><br />
<strong>Thomas Lambert</strong><br />
Thomas Lambert was born in  <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_12">France</span> in 1977. A film buff since his early days, he&#8217;s been exploring different technical aspects of cinema. He completed a degree in cinema in 2004. Since then he&#8217;s been working on a number of projects as cameraman, editor, and musician. He is responsible for DVD authoring and project managing the technical requirements of Lowave&#8217;s projects.</p>
<p><strong>PROGRAM SCHEDULE &amp; ACTIVITIES</strong></p>
<p><strong>Wednesday, 29th of August, 06.00 – 09.00 PM</strong><br />
Auditorium CCF <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; height: 1em; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial" id="lw_1188001038_13">Bandung</span><br />
Jl. Purnawarman No: 32</p>
<p>Video Screening:<br />
IntenCITY – LOWAVE and VideoBabes video compilation part. 1</p>
<p>Presentation IntenCITY – LOWAVE:<br />
1. Silke Schmickl<br />
2. Thomas Lambert</p>
<p><strong>Thursday, 30th of August, </strong><strong>06.00 – 09.00 PM</strong><br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama No: 8</p>
<p>Video Screening:<br />
IntenCITY – LOWAVE and VideoBabes video compilation part. 2</p>
<p>Public Discussion:<br />
Presenting some artists from IntenCITY – LOWAVE and VideoBabes.</p>
<p><strong>29 – 30 August, 11.00 AM – 06.00 PM</strong><br />
Rumah Buku, Jl. Hegarmanah No: 52</p>
<p>Video installation (loop)</p>
<p><em>This program is being organized together by CCF <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_16">Bandung</span>, Goethe-Institut <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer; height: 1em" id="lw_1188001038_17">Indonesia</span> , VideoBabes (Rumah Buku) &amp; Common Room Networks Foundation</em>.</p>
<p>More information please contact:<br />
<a href="http://www.ccfbandung.org/" rel="nofollow" target="_blank">CCF &#8211; Bandung</a>, +62.22.421.2417 (Windie)<br />
<a href="http://www.rumahbuku.info/" rel="nofollow" target="_blank">Rumah Buku</a>, +62.22.203.9615 (Rani)<br />
<a href="http://www.commonroom.info/" rel="nofollow" target="_blank">Common Room</a>, +62.22.70.800.620 (Mbak Nunung)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/intencity-lowave-video-art-experimental-cinema-screening-bandung-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Screening Spesial</title>
		<link>http://commonroom.info/2006/screening-spesial/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2006/screening-spesial/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Dec 2006 10:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[15 &#8211; 21 Desember 2006
Pk. 13.00 &#8211; 15.00 WIB dan Pk. 16.00 &#8211; 18.00 WIB
Kegiatan ini gratis tidak dipungut biaya
tempat terbatas
Teselenggara atas kerjasama Mondo Video, Konfiden, dengan common room ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>15 &#8211; 21 Desember 2006<br />
Pk. 13.00 &#8211; 15.00 WIB dan Pk. 16.00 &#8211; 18.00 WIB</p>
<p>Kegiatan ini gratis tidak dipungut biaya<br />
tempat terbatas</p>
<p>Teselenggara atas kerjasama Mondo Video, Konfiden, dengan common room </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2006/screening-spesial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Screening</title>
		<link>http://commonroom.info/2004/video-screening/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2004/video-screening/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2004 10:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Senin &#8211; Kamis, 20 &#8211; 23 Desember 2004
Senin, 20 Desember 2004, Pk. 19:00 &#8211; 21:00 Wib
Screening Kompilasi Film Pendek Minikino
Selasa, 21 Desember 2004, Pk. 19:00 &#8211; 21 Wib
Pk. 16:00 &#8211; 18:00 Wib Videochart by Videobabes
Pk. 19:00 &#8211; 21:00 Wib Screening VideoBabes
Rabu, 22 Desember 2004 
Screening Video Amatir + Hasil Workshop Video Mbeling 
Kamis, 23 Desember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Senin &#8211; Kamis, 20 &#8211; 23 Desember 2004</strong></p>
<p><em><strong>Senin, 20 Desember 2004, Pk. 19:00 &#8211; 21:00 Wib</strong></em><br />
Screening Kompilasi Film Pendek Minikino<br />
<em><strong>Selasa, 21 Desember 2004, Pk. 19:00 &#8211; 21 Wib</strong></em><br />
Pk. 16:00 &#8211; 18:00 Wib Videochart by Videobabes<br />
Pk. 19:00 &#8211; 21:00 Wib Screening VideoBabes<br />
<em><strong>Rabu, 22 Desember 2004 </strong></em><br />
Screening Video Amatir + Hasil Workshop Video Mbeling<em> </em><br />
<em><strong>Kamis, 23 Desember 2004, Pk. 19:00 &#8211; 21:00 Wib</strong></em><br />
Screening Video Cerahati</p>
<p><span id="more-195"></span></p>
<p>Menjadi bagian dari rangkaian Open House Common Room, kami mengundang beberapa mitra untuk menyelenggarakan kegiatan screening video di Common Room di antaranya <a href="http://minikino.org/" target="_blank">Minikino</a>, sebagai organisasi yang selama ini konsentrasi pada pengembangan komunitas film pendek; VideoBabes, kelompok yang berkonsentrasi pada project video art yang dimotori oleh trio Ariani Darmawan, Rani Ravenina Philla Tania; Cerahati Artwork, rumah produksi yang sedang naik daun.</p>
<p>Selain itu juga kami menyelenggarakan screening video amatir yang melibatkan siapapun yang memiliki karya video dan mengirimkannya pada kami. Acara ini terbuka untuk siapa saja, silakan kirim karya video dengan spesifikasi sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Materi bebas (animasi, video klip, dokumenter, naratif/ non-naratif, karya personal, dll)</li>
<li>Karya video adalah proyek personal (non-komersial)</li>
<li>Peserta bebas (tidak ada batasan umur), diutamakan untuk pemula (bukan prefesional)</li>
<li>Durasi maksimal 10 menit</li>
<li>Format MPEG2 dalam bentuk vcd/dvd</li>
</ol>
<p>Kirim karya video ke Common Room/ Tobucil <strong>selambat-lambatnya tanggal 14 Desember 2004</strong>. Karya yang terkumpul akan diputar pada acara Open House Common Room 2004 yang akan diselenggarakan pada tanggal 1-31 Desember 2004. Beberapa karya terbaik akan diseleksi oleh Common Room untuk dijadikan bahan video kompilasi Bandung Center for New Media Arts.</p>
<p>Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:</p>
<p>Common Room<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung 40132<br />
Telp./ Fax. 022-2503404<br />
Email: <a href="mailto:info@commonroom.info">info@commonroom.info</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2004/video-screening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND: Nonton Jim Carrey Kehilangan Memori di Jiffest 2004</title>
		<link>http://commonroom.info/2004/eternal-sunshine-of-the-spotless-mind-nonton-jim-carrey-kehilangan-memori-di-jiffest-2004/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2004/eternal-sunshine-of-the-spotless-mind-nonton-jim-carrey-kehilangan-memori-di-jiffest-2004/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2004 10:45:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terjadi tatkala kita bangun dan mendapati bahwa orang yang sangat dekat dengan kita tiba-tiba tak mengenal kita lagi? Apa yang terjadi saat kita menjadi orang asing bagi sosok yang kita pikir, sangat berarti dalam kehidupan kita? Hilang dari memori orang yang sangat berarti dalam kehidupan kita, mestinya tidak cuma membingungkan, tapi juga menyakitkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang terjadi tatkala kita bangun dan mendapati bahwa orang yang sangat dekat dengan kita tiba-tiba tak mengenal kita lagi? Apa yang terjadi saat kita menjadi orang asing bagi sosok yang kita pikir, sangat berarti dalam kehidupan kita? Hilang dari memori orang yang sangat berarti dalam kehidupan kita, mestinya tidak cuma membingungkan, tapi juga menyakitkan. Terlebih bila jatidiri kita hilang dari memori orang yang sangat kita cintai.</p>
<p>Demikianlah yang dialami oleh Joel Parrish (Jim Carrey) di suatu pagi yang kelabu. Setelah bertengkar hebat dengan kekasihnya, Clementine Kruczynski (Kate Winslet), Joel bermaksud berbaikan kembali. Ia menyiapkan kado Valentine ”aksesoris liontin etnik&#8221; buat Clem, dan menemui Clem di tempat kerjanya. Di sana, Joel kaget setengah mati karena Clem bukan saja tidak mengenalinya, tapi bahkan terang-terangan berpacaran dengan seorang pemuda belia, Patrick (Elijah Wood). Apa yang terjadi? Misteri terungkap pelahan-lahan. Ternyata, setelah pertengkaran menyakitkan, Clem begitu frustrasi hingga mendatangi sebuah layanan terapi psikologis, Lacuna Inc., yang menawarkan jasa menghapus memori dari ingatan seseorang. Bisa ditebak, perusahaan semacam ini jadi langganan orang-orang yang frustrasi dan patah hati, termasuk Clem. Miss Kruczynski sangat sedih, dan ia ingin melanjutkan hidupnya. Maka, ia minta kami menghapus semua memori tentang Anda, tutur Dr. Howard Mierzwiak (Tom Wilkinson), pemimpin Lacuna.</p>
<p><span id="more-289"></span></p>
<p>Dihilangkan dari memori orang yang dicintai, agaknya lebih menyakitkan daripada patah hati itu sendiri. Sakit hati, merasa dikhianati oleh Clem, Joel pun mendaftarkan diri untuk mengikuti terapi serupa: menghilangkan Clem dari memorinya. Maka, ia mengikuti serangkaian terapi di Lacuna. Dalam ketidaksadaran, pelahan memori seputar Clem diidentifikasi, dibuatkan peta dalam otak Joel, dan dihapus lewat program komputer dengan laser. Modusnya persis seperti mendelete file-file komputer. Uniknya, di tengah proses penghapusan itu, Joel menyadari bahwa tindakannya sebenarnya didorong oleh emosi belaka. Susah atau senang, membahagiakan atau menyakitkan, memori tentang Clem adalah bagian hidup yang sesungguhnya tak ingin dihilangkannya. Ia berubah pikiran, ingin membatalkan proses penghapusan memori tersebut. Namun sayang &#8230; Joel sudah telanjur dibius. Maka, yang terjadi selanjutnya adalah perjuangan Joel mencegah penghapusan memori tentang Clem. Sebuah proses sadar yang berlangsung dalam ketidaksadaran. Rangkaian pelarian dari satu lokus memori ke lokus memori lainnya untuk melawan ancaman ketidaksadaran. Sungguh-sungguh absurd. Namun, absurditas macam inilah yang menjadi fokus utama film ini.</p>
<p><bold>Jim Carrey: Rapuh!</bold></p>
<p>Eternal Sunshine of Spotless Mind diproduksi pada 2004, dan diedarkan secara serentak Maret lalu. Skenario film berdurasi 108 menit ini ditulis oleh Charlie Kaufman, penulis skenario spesialis film-film psikologis yang kompleks. Filmnya sendiri disutradarai oleh Michel Gondry, sutradara muda berbakat asal Prancis yang melahirkan film-film bermutu seperti Human Nature (skenarionya juga ditulis oleh Kaufman). Lahir di Versailles, 1963, Gondry dikenal sebagai pembuat iklan untuk sejumlah merek terkenal seperti Gap, Smirnoff, Air France, Nike dan Coca Cola. Pada 1998, film pendeknya â€œLa Lettreâ€ memenangkan FICC Prize pada Festival Film Pendek Oberhausen yang prestisius.</p>
<p>Eternal Sunshine of Spotless Mind bergenre drama, romance, sci-fi, juga komedi (tepatnya, black comedy). Namun dalam banyak situs, para kritikus cenderung mengategorikannya sebagai genre romance drama atau romantic movie. Komedi kecil terselip di sana-sini. Misalnya, adegan ketika resepsionis Lacuna (diperankan oleh Kirsten Dunst) menolak seorang klien yang merengek-rengek minta dihapuskan memorinya untuk kesekian kalinya, Maaf, kami tidak bisa melakukannya. Andakan sudah tiga kali menghapus memori selama seminggu ini. Tapi, tak ada komedi ala Pet Detective Ace Ventura di sini.</p>
<p>Karakter-karakter kunci yang bermain dalam film ini mengeluarkan kualitas akting terbaiknya. Kate Winslet, seperti biasa, bermain cemerlang. Ia mampu memerankan karakter perempuan muda yang eksentrik, impulsif, pemabuk, bangga sekaligus bingung dengan identitasnya sendiri. Tapi kejutan besar akan dialami penonton tatkala menyaksikan penampilan Jim Carrey. Jim Carrey, 42 tahun, bermain luarbiasa. Dalam film ini, kita akan melihat kualitas keaktoran Jim Carrey yang sesungguhnya. Kita tidak akan bertemu dengan Carrey yang suka melawak, dengan tingkah slapstick yang konyol dan liar, lengkap dengan muka plastik yang dieksploitasi. Sebaliknya, kita akan berhadapan dengan sosok Joel yang rapuh, pendiam, pemalu, peragu &#8230; Inilah Carrey yang tidak bercukur, cengeng, dan sangat biasa-biasa saja. Inilah Carrey yang tidak klimis, lemah, dan acak-acakan. Joel yang gugup, bingung dan salah tingkah, bertemu dengan Clem yang nakal, agresif, dan impulsif. Sangat natural. Chemistry of love diantara Joel dan Clem terbangun secara wajar dalam film ini, hingga terasa indah dan menyakitkan ketika terpaksa berakhir dengan cara yang tidak diinginkan.</p>
<p><bold>Antara Cinta, Patah Hati, dan Memori Manusia</bold></p>
<p>Eternal Sunshine of Spotless Mind tidak menampilkan kisah cinta yang klise. Cinta tidak diwujudkan lewat bunga, puisi, makan malam romantis lewat candlelight dinner, atau bulan madu ke tempat-tempat eksotis. Tidak juga diwujudkan lewat aksi dramatik yang memercikkan darah, kilauan pedang, dan sumpah setia dilatari dentuman petir. Cinta dalam Eternal Sunshine of Spotless Mind diwujudkan lewat perjuangan keras mempertahankan memori tentang kisah cinta itu sendiri, dengan segala sesuatu yang terlibat di dalamnya, menyedihkan maupun menyakitkan.</p>
<p>Film ini istimewa karena menyajikan sudut pandang baru tentang cara memaknai cinta (atau putus cinta!). Patah hati memang tidak harus ditangisi berkepanjangan, atau dibikin frustrasi sampai bunuh diri. Penonton diajak merenungkan, mana yang lebih menyakitkan dari patah hati, atau dihapus dari memori secara sengaja? Yang terakhir ini, menurut Charlie Kaufman sang penulis skenario, kelihatannya lebih menyakitkan.</p>
<p>Film ini juga istimewa karena mengajarkan kita betapa berharganya sebuah memori. Film ini lagi-lagi menegaskan kekuatan memori sebagai energi vitalitas penggerak hidup. Film-film keras seperti Godfather, atau Kill Bill, misalnya, merekam kekuatan memori yang menyakitkan untuk membalas dendam. Film-film laga sci-fi seperti National Treasure (Nicholas Cage) dan Alien memperlihatkan kekuatan memori warisan turun temurun untuk memburu harta karun maupun musuh abadi. Eternal Sunshine of Spotless Mind juga memperlihatkan kekuatan memori-memori cinta. Memang, kekuatan memori cinta di sini tidak digambarkan sedahsyat the Notebook (Ryan Gosling &amp; Rachel Adams). Namun, dalam kesederhanaan dan kewajaran hubungan antara Joel dan Clem, yang bisa muncul di mana saja, kapan saja, serta dialami oleh siapa saja, siapa bilang memori cinta itu tidak berharga, dan tidak rumit?!</p>
<p>Psikoanalisis Freud bisa diterapkan untuk memandang fenomena ini: tentang ketidaksadaran yang membunuh kesadaran. Perspektif Freudian juga menghantarkan kita pada pertanyaan ini: dimana sesungguhnya ambang batas kesadaran dan ketidaksadaran kita? Kesadaran, ketidaksadaran, dan apa yang tertinggal berupa memori, itulah kata kunci film ini. Charlie Kaufman, sang penulis skenario, secara fasih dan kreatif bermain-main dengan ingatan manusia. Sama halnya dengan skenario terdahulu yang pernah ditulisnya, Being John Malkovich dan Adaptation, Kaufman menyajikan petualangan yang asyik dan menakjubkan ke dalam benak manusia. Ia mengeksplorasi sisi-sisi yang tak pernah terpikirkan oleh penulis skenario Hollywood lainnya.</p>
<p>Dari sisi sinematik, keindahan-keindahan yang tidak biasa dimunculkan oleh sutradara Michel Gondry. Mulai dari permukaan salju retak, suasana dialog di balik selimut dalam temaram cahaya redup di dalam kamar, sampai kesunyian yang hitam mencekam ketika memori Joel tentang Clem pelahan-lahan menghilang &#8230; Angle-angle sinematik film ini menjadikan Eternal Sunshine of Spotless Mind menghadirkan lapisan makna yang bisa diteropong dari pelbagai segi, entah itu berasal dari kekuatan dialog dalam percakapan yang wajar, atau dari bahasa semiotika visual yang kaya, hingga film ini layak ditonton lebih dari sekali.</p>
<p>Tapi ngomong-ngomong, apa sih Eternal Sunshine of Spotless Mind? Kalimat eksotik ini ternyata adalah kutipan dari puisi karya Alexander Pope, penyair Inggris, berjudul Eloise to Abelard: .<i>..how happy is the blameless Vestal&#8217;s lot! The world forgetting, by the world forgot. Eternal sunshine of spotless mind! Each pray are accepted, and each wish resigned&#8230;</i></p>
<p><span style="font-weight: bold;">Santi Indra Astuti</span><br />
(Penggemar film, tulisan ini untuk klab belajar kajian film)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2004/eternal-sunshine-of-the-spotless-mind-nonton-jim-carrey-kehilangan-memori-di-jiffest-2004/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
