Pertunjukan Pantun Buhun Mang Ayi dan Wa Itok (Subang) | Common Room, 19 Maret 2010

Tanggal: 19 Maret 2010
Jam: 19.00 – 21.00 WIB
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung
Deskripsi Singkat
Mang Ayi dan Wa Itok adalah duo seniman tradisional yang mempelajari seni pantun buhun secara alami. Keduanya selama ini dikenal sebagai seniman tradisi yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Mang Ayi dan Wa Itok akan membawakan cerita dengan judul yang masih mereka rahasiakan. Selain menampilkan seni pantun, selama ini Mang Ayi dan Wa Itok juga kerap aktif menampilkan berbagai bentuk seni tradisi Sunda semisal bajidoran, sisingaan, terbang, gembyung, dsb. Program ini merupakan bagian dari kegiatan yang dikembangkan oleh kelompok TRAH yang diinisiasi oleh Gigi Priadji, Indra Nugraha dan Iman Zimbot sejak tahun 2007. Selain aktif mengembangkan eksplorasi yang memadukan ranah perkembangan musik elektronik dengan kesenian masyarakat Sunda, kelompok ini juga kerap berkolaborasi dengan seniman dan musisi yang berasal dari latar belakang yang beragam.










Gustaff H. Iskandar 3:26 pm on August 13, 2007 Permalink
Saya mendapatkan artikel ini dari milis BPAC (Bandung Performance Art Community). Semula saya tidak begitu ngeh kalau artikel ini sesungguhnya membicarakan masalah yang beberapa tahun terakhir ini terjadi secara berulang di Indonesia. Ambil contoh misalkan tuntutan penutupan beberapa pameran seni semisal Dadang Christanto di Bentara Budaya (2002) dan CP Biennalle (2005). Kedua-duanya terjadi atas desakan sekelompok masyarakat yang menyatakan keberatan mereka akan materi yang ditamplikan di dalam pameran. Hal yang sama tercermin melalui tulisan Heru. Kali ini yang jadi korban adalah karya puisi.
Ni'ang 4:48 am on August 21, 2007 Permalink
Taff, ada link ke site artikel aslinya? Thx!
blauloretta 7:59 am on August 23, 2007 Permalink
Linknya gua gak ada Ang. Artikelnya langsung dapet dari milis. Atas persetujuan si Heru gua publish di Common Room. Mungkin lu bisa minta langsung ke si Heru.
atmoon 7:44 am on August 31, 2007 Permalink
Memang di Indonesia ini umat beragama masih kekanak-kanakkan mas. Jadi tafsir atas malaikat pun maunya seperti maunya sendiri. Padahal, menurut Malaikat Jibril dia sendiri heran dan mencak-mencak sama saya kok kemalaikatanya dicatut buat membungkam kreativitas orang lain. Saya sendiri terus terang telat menerima info dari si Jibril. Kira2 sebulanlah telatnya. Nah, surat protesnya sekarang saya tampilkan di blog saya karena menurut Jibril kalau dikirim ke koran PR gak bakal dimuat.
kebebasan ekspresi tai ucing 3:04 am on September 27, 2007 Permalink
nu kumaha nu disebut bebas teh. kabeh umat ge pasti kasigeung ari nyeureud-nyeuredud kana akidah mah. tong boroning urang islam, urang hindu atawa buda ge, komo karesten,sok gancang pundung lin ari agemanana dihina mah. baraleg sia barudak pro liberal. ngaku sastrawan rejeun mindeng ngahotbah (pesen moral) di satukanging sajak, cerpen, atawa novel, padahal jinisna mah puasa ge tara. nu aya kalah marabok, ngajarinah. ngarti siah. tai anjing kebebasan bereksfresi. baroga keneh nurani teu? ulah hayang katangar wungkul. tobat geura, bisi diajab manten ku nu kawasa.
kebebasan bereksfresi tai anjing sia teh. hayangna bebas marabok, jarinah, atawa ngekeak agama wungkul sarilaing mah. heueuh kawas di utan kayu atawa di ciputat.
sakitu heula keur saayeunaeun mah. memangna kami teu bisa ngocoblak kawas sarilaing
Ni'ang 7:46 am on October 9, 2007 Permalink
“sakitu heula keur saayeunaeun mah. memangna kami teu bisa ngocoblak kawas sarilaing”
ngocoblak tiasa? sae atuh.. upami ombeh tiasa? tah sungutna ombehan heula saacan ngocoblak meh rada tertib… hahahahahahahahahhahaah
Ni'ang 7:59 am on October 9, 2007 Permalink
Sok atuh upami a’a teh bade dialog, hayu atuh urang dialog, diobrolkeun upami aya kalepatan teh palih mana. Upami di puisi eta teh aya anu ngahina agami, tepangkeun ku A’a teh dina palih mana. Bilih ieu mah, bilih ternyata ieu teh saukur salah paham. Leres teu A’? Ayeuna a’a tulas tulis anu kirang sae kabacana, mun kabaca ku batur pan ngagonggoreng agama sorangan sanes? Sok atuh tunjukeun ku A’a bahwa A’a teh umat beragama anu sopan jeung berbudaya, sanes jeger terminal anu budak baduk bautr, kalakuan siga budak leutik ambekan pundungan.. kirang sae panginten A’?
blauloretta 8:02 am on October 9, 2007 Permalink
Hallo Kang,
Maaf kalau tulisan di atas menyinggung perasaan akang. Tapi saya juga merasa berhak untuk mengajukan keberatan karena akang telah memaki dan menggunakan kata-kata yang menurut saya sangat kasar. Terus terang saya sangat percaya kalau perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar dan kalau kita mau saling bicara dan membuka diri dapat membuat kita menjadi dewasa.
Saya dibesarkan oleh keluarga yang taat beragama. Sejauh yang saya tahu, kedua orang tua saya selalu mengajarkan untuk berlaku santun dan menggunakan kata-kata yang sopan apabila berkomunikasi dengan orang lain. Kalaupun ada perbedaan, tidak perlu mempermasalahkan perbedaan dengan makian dan caci maki. Apalagi dengan menggunakan kekerasan.
Sementara itu saya yakin sekali pada dasarnya semua agama mengajarkan kita untuk saling menghargai dan mencintai sesama, walaupun kita saling berbeda. Menyikapi perbedaan dengan kebencian dan kekerasan tidak ada gunanya kang. Leih baik kita berteman dan menyikapi perbedaan sikap dengan cara yang lebih manusiawi. Mari kita bicara baik-baik, agar perbedaan sikap dapat menjadi jalan menuju pengetahuan, bukan kehancuran.
Salam,
-Gustaff
digitalove 8:14 am on October 9, 2007 Permalink
Bebas berekspresi boleh, tapi ada batasannya…masalahnya kita kan hidup di Indonesia yang masih kental dengan budaya dan norma…jadi, jadilah seniman yang peka tapi tetap bisa realistis dan berpikiran terbuka serta dewasa. jadi kalau ada sesama seniman yang ternyata terlalu keluar jalur sebaiknya diingatkan, bukan dihakimi dan sebaiknya dengan bahasa yang lebih terpelajar…Maaf saya bukan seniman, tapi saya sangat menikmati seni.
mahesa 5:48 am on October 17, 2007 Permalink
hik..hik..asyik pada berantem..
hidup demokrasi..
mahesa 5:57 am on October 17, 2007 Permalink
satu lagi,
asyik juga jadi tau siapa yang berlagak malaikat /..punya sayap/..nyinyir dan cerewet/ia berlagak sebagai mahluk baik/..
silahkan direnungkan dan ditobati.
hik..hik