<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Poetry</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/poetry/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 10:07:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Nilai-Nilai Kebajikan Sunda Buhun di Pembukaan Nu –Substance Festival 2010 &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 07:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1309</guid>
		<description><![CDATA[Ayunan para penari. Foto oleh Idhar Resmadi
Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan tampaknya malah membuat mereka menari dengan atraktif. Mengayunkan badan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/dancer2.jpg" border="0" alt="" width="480" height="317" /><br />
<em>Ayunan para penari. Foto oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan tampaknya malah membuat mereka menari dengan atraktif. Mengayunkan badan ke kanan dan ke kiri, meloncat ke sana ke sini, serta menari lincah gemulai. Padahal usia para nenek tua itu hampir semuanya di atas kepala enam­ (malah seorang nenek mengaku berusia sekitar 127 tahun). Nyatanya kehadiran mereka membuat penonton terpana dalam kegiatan pembukaan Nu-Substance Festival 2010. Seorang pentolan band metal, Man (vokalis Jasad) tak ihwal ikut terpancing menari bersama mereka.</p>
<p><span id="more-1309"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/mangayi.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Mang Ayi. Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Pemandangan tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam pembukaan Nu-Substance Festival 2010 pada Jum&#8217;at (9/7) lalu. Dengan mengusung tema “Floating Horizon”, festival ini menyoroti semangat zaman yang dipenuhi dengan ambivalensi dan kontradiksi. Keberadaan Pantun Buhun merupakan salah satu cerminan yang patut kita apresiasi saat ini karena mengandung banyak nilai-nilai kebajikan dan mengandung makna-makna positif untuk ditelaah secara bersama-sama. Pantun buhun adalah salah satu bentuk pertunjukan tradisional yang berkembang di daerah Jawa Barat secara turun temurun. Fungsi utamanya sebagai <em>mepeling </em>(mengingatkan) khalayak untuk mencermati pelbagai kondisi atau atau situasi yang terjadi di sekeliling masyarakat.</p>
<p>Sebagai sebuah masyarakat yang dibesarkan dalam tradisi lisan yang kental, Pantun Sunda adalah salah satu aspek konkret yang tak bisa dikesampingkan dalam tradisi budaya lisan masyarakat Sunda. Pantun Sunda merupakan sebuah seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Biasanya seni Pantun Sunda ini dimainkan oleh seorang juru pantun dan diiringi kecapi yang dimainkan sendiri. Pola pertunjukan pantun selama ini tidak pernah berubah, mulai dari penyediaan sesajen sebagai simbol dan penutupan dengan mengumandangkan rajah pamungkas.</p>
<p>Untuk gelaran kali ini, dua orang seniman Sunda asal Subang, Mang Ayi dan Wa Itok memamerkan kebolehannya dalam menuturkan cerita dengan lakon “Berhala Gugur” (Fallen Idols). Lakon ini menceritakan tentang perang tak berkesudahan antara si baik melawan si jahat. Kisah ini setidaknya mencerminkan tema festival yang menyoroti kondisi yang ambivalen, terutama dalam konteks perkembangan teknologi, pemberdayaan masyarakat sipil dan lingkungan yang berkelanjutan.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/karat1.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Penampilan Karinding Attack. Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Pada umumnya Pantun Sunda berisi nasihat bagi manusia agar kehidupannya bisa lebih baik. Agar selalu ingat pada Tuhan dan leluhurnya. Tidak jarang juga jika Pantun dijadikan wahana kritik terhadap masalah sosial dan politik. Tak ayal, dalam beberapa bagian ceritanya Mang Ayi dan Wa Itok bercerita soal korupsi yang menyesengsarakan rakyat, penyelundupan beras miskin (raskin), hingga kondisi politik yang kacau balau dan membuat rakyat yang selalu menjadi korban. Kedua seniman ini memasukan lelucon-lelucon yang selalu ditimpali oleh para penonton dan biasanya berhasil membuat penonton tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>Mang Ayi dan Wa Itok mendongengkan cerita dalam tiga babak. Acara yang dimulai sekitar pukul delapan malam ini berakhir hingga hampir tengah malam. Sebelumnya pertunjukan pantun dibuka oleh penampilan Karinding Attack. Sekitar delapan orang pemuda berbaju hitam dengan kepala dibingkai iket Sunda tampil di altar dan melantunkan beberapa komposisinya. Karinding Attack juga adalah salah satu contoh konkret perkembangan wacana menyoal glokalisasi secara signifikan. Glokalisasi atau bisa disebut akronim dari globalisasi-lokal adalah sebuah wacana yang menyerempet persoalan seni, budaya, dan sosial tentang perpaduan atau percampuran antara budaya/ nilai barat (global) dengan nilai-nilai lokal.</p>
<p>Hal ini misalnya bisa kita simak dari perbauran nama “Karinding” sebagai salah satu alat musik tradisi sunda dengan paduan kata “Attack” yang diambil dari bahasa Inggris yang memiliki arti “serang”. Beberapa lagu seperti yang dibawakan Karinding Attack malam itu yaitu “Hampura Ma” dan “Wasit Goblog”, merupakan sebuah karya artistik yang mewakili kondisi perasaan masyarakat Bandung saat ini. Beberapa nilai dan makna dalam kandungan lagu-lagu Karinding Attack mencerminkan semangat lokal lewat kritiknya yang membangun. Komposisi-komposisi musik Karinding Attack didominasi oleh alat musik tradisionil Sunda bermaterial bambu macam karinding sebagai instrumen utama, ditambah instrumen-instrumen pengiring seperti toleat, suling, dan celempung.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Lebih Dekat Pantun Sunda &#124; Oleh Kimun666</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 16:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Localities]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[Foto: Idhar Resmadi 
Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).
Dalam naskah Siksa kandang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/laskarpelangi.jpg" border="0" alt="" width="480" height="339" /></p>
<p><em>Foto: Idhar Resmadi </em></p>
<p>Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).</p>
<p>Dalam naskah Siksa kandang Karesian (1518M) dipaparkan pantun digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Asalnya cerita pantun seputar kisah kegagahan raja-raja di atas. Pada perkembangannya cerita pantun terus bertambah. Kita pasti tak asing dengan Lutung Kasarung, Langgasari, Ciung Wanara, Mundinglayadikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan, dll. Seni tua usianya ini melahirkan beberapa ahli pantun seperti Rd. Aria Cikondang dari Cianjur (abad 17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad 19), Uce dan Pantun Beton Wikatmana dari Bandung (awal abad 20) dan Ki Buyut Rombeng dari Bogor.</p>
<p><span id="more-1303"></span></p>
<p>Seni pantun Sunda umumnya merupakan kisah yang disampaikan oleh pendongeng profesional pada zamannya yang seringkali berkelana dari desa ke desa untuk menyampaikan ceritanya kepada semua orang. Tujuan sang juru pantun bertutur adalah untuk mengajarkan agama, kepercayaan, sejarah, mitologi, moral, dan tata krama. Sepanjang abad ini, dongeng-dongeng para juru pantun lambat laun berubah menjadi cerita anak-anak. Salah satu pantun Sunda yang sangat terkenal adalah Lutung Kasarung. Dengan syair yang panjangnya lebih dari 1000 baris, kisah yang berasal dari abad 15 ini begitu populer hingga termasuk kisah pertama yang difilmkan di Indonesia pada 1926.</p>
<p>Pantun disajikan dalam dua bentuk. Yang pertama sajian untuk hiburan dan yang kedua merupakan sajian ritual (ruwatan).Sebagai sajian hiburan, pantun diceritakan atas permintaan penaggap. Sebagai sajian ruwatan, pantun ditampilkan sama dengan cerita wayang, seperti Batara Kala, Kama Salah, atau Murwa Kala. Pertunjukan pantun, baik dalam fungsi hiburan maupun ritual, tidak disajikan sembarangan. Sifatnya yang sakral dipertahankan karena bagi masyarakat Sunda membaca dan mendengarkan pantun berisi cerita raja-raja atau leluhur mereka merupakan bentuk penghormatan tersendiri kepada nenek moyang.</p>
<p>Pola pertunjukan pantun tak pernah berubah: penyediaan sesajen, <em>ngukus</em> (membakar kemenyan), mengumandangkan rajah pamunah, babak cerita dari awal hingga akhir, dan penutupan dengan mengumandangkan rajah pamungkas. Pertunjukan biasanya diiringi alat jusik kacapi. Awalnya, kacapi yang dipergunakan sangatlah sederhana seperti kacapi Baduy yang hanya berdawai 7 kawat. Seiring dengan pertumbuhan seni Cianjuran, kacapi kecil itu digantikan dengan kacapi gelung (tembang) dan akhirnya kacapi siter. Laras yang dimainkan mengiringi pantun biasanya adalah laras pelog dan salendro.</p>
<p>Sebagai kesenian yang hidup di tatar Sunda sejak zaman purba sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat, tak heran jika ungkapan, ajaran, dan petuah ki juru pantun yang terdapat dalam isi pantun adalah pembauran kedua zaman itu. Selain banyak ungkapan-ungkapan yang berasal dari budaya Islam seperti istighfar, takbir, dll., terdapat pula ungkapan khas Hindu-Budha seperti ka dewata, ka pohaci, ka para karuhun, buyut, dan lain-lain.</p>
<p>Harus diakui, dewasa ini, kondisi seni pantun sangat memprihatinkan. Walaupun seni pantun masih dapat bertahan sebagai seni yang adiluhung, tetap saja telah terjadi pergeseran terutama dalam fungsinya dari yang sakral menjadi profan.</p>
<p><em>*penulis adalah penulis buku &#8220;Myself Scumbag&#8221;, guru sejarah, dan musisi Karinding Attack</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Lian: Puisi adalah Kampung Halaman Saya &#124; Oleh Luky Setyarini*</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/yang-lian-puisi-adalah-kampung-halaman-saya-oleh-luky-setyarini/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/yang-lian-puisi-adalah-kampung-halaman-saya-oleh-luky-setyarini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 15:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2010/yang-lian-puisi-adalah-kampung-halaman-saya-oleh-luky-setyarini/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Revolusi Budaya dilancarkan di Cina antara 1966-1976, ada sekelompok penyair yang karena gaya puisinya yang sulit dipahami, seperti berkabut, disebut sebagai Misty Poets. Salah satu dari para penyair kritis yang aktif menulis di majalah Jintian (Today) itu adalah Yang Lian.
Lahir di Swiss pada 1955, ayah Yang seorang diplomat. Ketika keluarganya pulang kampung, Yang muda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Revolusi Budaya dilancarkan di Cina antara 1966-1976, ada sekelompok penyair yang karena gaya puisinya yang sulit dipahami, seperti berkabut, disebut sebagai Misty Poets. Salah satu dari para penyair kritis yang aktif menulis di majalah Jintian (Today) itu adalah <a href="http://www.yanglian.net/yanglian_en/index.html" target="_blank">Yang Lian</a>.</p>
<p>Lahir di Swiss pada 1955, ayah Yang seorang diplomat. Ketika keluarganya pulang kampung, Yang muda dikirim ke pedesaan Changping dekat Beijing, untuk mengikuti program reedukasi. Seorang putra diplomat yang berpendidikan tinggi memang diwajibkan belajar dari petani. Metode ini digunakan di masa Mao Zedong pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Selama tinggal di pedesaan, Yang mulai menulis puisi.</p>
<p>Sekembalinya ke Beijing, Yang bekerja di stasiun pemancar radio pemerintah. Pada 1979, Yang bergabung dengan kelompok penyair yang menulis untuk Jintian. Gaya puisi pria berusia 54 tahun ini berubah menjadi modern, eksperimental, yang jamak dipraktekkan para penyair Misty Poets. Pada 1983, karyanya berjudul Norlang (nama suatu air terjun di Tibet) membuat gusar pemerintah Cina. Surat penangkapan untuk Yang dikeluarkan, namun Yang berhasil lolos.</p>
<p><span id="more-914"></span></p>
<p>Ketika militer Cina menumpas demonstrasi di Lapangan Tiananmen dengan kekerasan &#8211;dikenal sebagai Peristiwa 4 Juni 1989 &#8212; Yang berada di Selandia Baru dan ikut menggelar aksi protes terhadap kekerasan oleh pemerintah Cina. Karya-karyanya kemudian dilarang beredar di Cina, termasuk dua calon buku yang akan diterbitkan waktu itu. Tak lama kemudian, kewarganegaraannya pun dicabut dan dia memohon suaka di Selandia Baru. Pada 2008, dia terpilih sebagai salah satu anggota Dewan PEN Internasional, perhimpunan penyair, esais, dan novelis. Sejak 1993, dia bermukim di London.</p>
<p>Pada pertengahan Oktober lalu, Yang hadir di Pameran Buku Frankfurt. Reporter Tempo Luky Setyarini berkesempatan mewawancarainya. Berikut petikannya.</p>
<p><strong>Kenapa Anda hadir di pameran ini?</strong><br />
Titik perhatian dari pameran ini adalah seluruhnya mengenai Cina, tentang sastranya, politiknya. Dalam hal ini, membawa Cina menjadi fokus masyarakat internasional. Karena itu, diskusinya mengenai apa pun, politiknya, atau sastra, linguistik. Saya pikir ini sangat penting bagi pernyataan mengenai perubahan Cina dari versi lama era Perang Dingin hingga bergerak menjadi &#8212; yang saya harap &#8212; sedikit menjadi versi baru. Makanya saya tertarik untuk datang.</p>
<p><strong>Pemerintah Cina juga hadir. Anda tidak merasa khawatir, takut, atau terancam dengan melontarkan pendapat Anda?</strong><br />
Tidak. Saya memang sudah beberapa kali ke Cina. Namun setelah peristiwa Tiananmen saya tidak pernah kembali menjadi bagian dari Republik Rakyat Cina. Pertama kali saya kembali ke Cina pada 1995, ketika saya mengganti kewarganegaraan Selandia Baru. Cina menjadi negara asing bagi saya, tapi saya menulis dalam bahasa ibu. Saya tidak mengakui badan politiknya, tapi saya mengakui bahasa dan tradisinya. Ya, saya tahu mereka di sini. Lalu mengapa? Mereka ada di mana saja.</p>
<p><strong>Cina saat ini ibarat memiliki wajah ganda. Satu wajah kapitalis, satu lagi komunis. Menurut Anda?</strong><br />
Istilah yang tepat adalah Cina merupakan komunis terburuk dan kapitalis terburuk. Inilah yang paling tepat untuk menggambarkan Cina, karena saya dapat kembali ke Cina dan melihat Cina dari dalam, sejauh ini. Ada beberapa bagian, seperti menteri propaganda, yang menjadi mitra langsung penyelenggara Pameran Buku Frankfurt. Mereka adalah bagian dari Cina dan pemerintah Cina yang paling, paling buruk. Mereka tidak membawa tanggung jawab yang nyata ke dunia nyata. Mereka hanya bertanggung jawab supaya mesin ideologi tetap berfungsi, bertanggung jawab hanya terhadap pemimpin mereka, dan tidak terhadap rakyat.</p>
<p><strong>Banyak penulis dan seniman Cina dipenjara karena pemikiran vokal dan bebas mereka. Bagaimana menurut Anda?</strong><br />
Memang, sayang sekali. Sekali lagi, secara linguistik, ini merupakan bagian terburuk dari yang terburuk dari Cina, yaitu sensor tegas terhadap pendapat dan pemikiran bebas, dan mereka sangat takut terhadap kata-kata. Di titik ini, tidak disangkal lagi, kita harus berjuang demi pembebasan para penulis itu. Kita harus berbicara untuk mereka, kita harus berjuang sebisa mungkin untuk mereka. Makanya, ketika tahun lalu saya dipilih menjadi anggota Dewan PEN Internasional, saya juga mendorong perubahan di lapisan lain, tapi fokusnya terutama pada para penulis yang ditahan. Kami mempublikasikan daftar penulis yang berada di penjara ke hadapan internasional. Ini merupakan hal yang menyedihkan.</p>
<p><strong>Anda kan dapat mengunjungi Cina. Bisa diceritakan bagaimana situasi kesusastraannya saat ini?</strong><br />
Inilah masalah terbesarnya. Karena kontrol politik dan sensor di satu sisi, dan pasar yang sangat besar di sisi lain, para penulis yang sebenarnya pemikir independen ditekan dari dua sisi, kekuasaan dan uang.</p>
<p>Jadi, ada dua kemungkinan. Pertama, penulis menjadi seseorang yang punya pemikiran kuat, memiliki pemahaman yang jernih mengenai dirinya, tulisan apa yang ingin dibuat, makanya peganglah prinsip itu, jangan peduli akan dipublikasikan atau tidak, penulis itu akan menjelma dengan jiwa tradisi klasik yang luar biasa dan menjadi penulis besar internasional.</p>
<p>Tapi, sayangnya, hanya sedikit penulis Cina yang ingin melakukannya. Sebagian besar lebih suka menjadi pemain, terikat pada pohon sensor, tapi bergegas ke pihak komersial dan menulis hal seperti makanan instan, seperti McDonald&#8217;s. Karena mereka ingin menulis hari ini, menjualnya besok, dan mendapat banyak uang besok lusanya. Dalam kasus ini, pasar bukanlah pasar yang sebenarnya. Ini sebenarnya pasar yang tidak sehat dengan kontrol ideologi.</p>
<p><strong>Saya sudah membaca puisi Anda dan saya pikir karya Anda tidak ’berbahaya’. Apakah puisi Anda masih dilarang diterbitkan di Cina?</strong><br />
Puisi punya gerakan yang menarik. Kami untungnya menulis puisi yang tak mudah dipahami. Sejak kami mulai menulis, sejak kami meninggalkan dunia yang besar dan palsu seperti sosialisme, kapitalisme, kami menggunakan bahasa yang murni dan klasik, serta menggunakan matahari, bulan, air, kegelapan, kehidupan, ajal. Makanya, puisi-puisi kami disebut misty poems atau puisi yang diselubungi kabut. Karena, itu tadi, puisi kami tidak mudah dipahami, dan diasosiasikan dengan slogan politik.</p>
<p>Jadi, puisi-puisi kami tak hanya bercerita mengenai perlawanan terhadap propaganda politik, tapi juga menunjukkan hasrat puitis, melalui bahasa, juga mempertanyakan diri sendiri sedalam mungkin. Makanya tidak hanya mengenai hitam dan putih, tapi penuh dengan kompleksitas, kekayaan, perasaan diri yang kontradiktif, tapi pada akhirnya bentuk yang kreatif.</p>
<p>Pada dasawarsa 1980-an, ketika gerakan politik dibungkam, karya saya dilarang, lalu ketika demonstrasi Tiananmenn dirusak, buku-buku dimusnahkan. Itu bukan karena mereka memahami puisi saya. Mereka melarang karya saya, bukan karena puisinya, tapi mereka ingin menghancurkan saya. Jadi, sebetulnya, sang penyairlah alasannya. Jadi, puisi mati mengatasnamakan penyairnya.</p>
<p>Sekarang, ketika seluruh Cina menjadi komersial, masalahnya bukan lagi sensor dan melarang puisi karena politis. Puisi itu sendiri disensor secara komersial, alasan komersial. Para penerbit hampir begitu saja berhenti mencetak puisi apa pun. Karena tidak menjual. Karena itu bukanlah bisnis budaya, melainkan sekedar bisnis. Mereka tidak peduli pada gelombang budaya. Sangat menyedihkan bagi Cina, negara yang memiliki tradisi besar dalam puisi klasik. Tapi saya tetap melanjutkan menulis puisi. Tak peduli apa mereka mau menerbitkannya atau tidak, atau mereka bilang bagus atau tidak. Saya pikir, puisi itu sangat penting bagi saya sendiri.</p>
<p><strong>Anda tinggal di London, Anda juga berkeliling dunia. Apakah Anda merasa bagian dari masyarakat penulis dan seniman dunia?</strong><br />
London adalah tempat pertemuan yang besar. Bukan karena begitu banyaknya komunitas, tapi sebenarnya karena kedalaman, sejarah, dan tradisi Inggris Raya itu sendiri sebagai lapangan pemikiran terbuka. Namun saya tidak menempatkan diri saya dalam panggung besar itu. Saya juga menciptakan London versi sendiri. Buku yang Anda miliki, Lee Valley Poems, adalah puisi-puisi London versi saya. Ini bukanlah puisipuisi London, tapi puisi-puisi London kepunyaan Yang Lian. Lee Valley adalah lembah dekat rumah saya di London, tempat saya jalan-jalan.</p>
<p><strong>Apakah dengan begitu, London menjadi kampung halaman Anda? Atau masihkah Cina menjadi kampung halaman Anda? Ataukah dunia adalah tanah air Anda?</strong><br />
Puisi adalah kampung halaman saya. Itulah yang selalu saya gapai melalui pemikiran kaya saya. Itu tidak dibatasi oleh batas negara, abadi dan tanpa batas.</p>
<p><em>*Seperti yang dimuat di Majalah Tempo Edisi 15 November 2009</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/yang-lian-puisi-adalah-kampung-halaman-saya-oleh-luky-setyarini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertunjukan Pantun Buhun Mang Ayi dan Wa Itok (Subang) &#124; Common Room, 19 Maret 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/pertunjukan-pantun-buhun-mang-ayi-dan-wa-itok-subang-common-room-19-maret-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/pertunjukan-pantun-buhun-mang-ayi-dan-wa-itok-subang-common-room-19-maret-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 06:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Localities]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Oral History]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal: 19 Maret 2010
Jam: 19.00 &#8211; 21.00 WIB
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung
Deskripsi Singkat
Mang Ayi dan Wa Itok adalah duo seniman tradisional yang mempelajari seni pantun buhun secara alami. Keduanya selama ini dikenal sebagai seniman tradisi yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Mang Ayi dan Wa Itok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/image_ayi_itok.jpg" border="0" alt="Pantun Buhun Ayi Itokt" /></p>
<p>Tanggal: 19 Maret 2010<br />
Jam: 19.00 &#8211; 21.00 WIB<br />
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung</p>
<p><strong>Deskripsi Singkat<br />
</strong>Mang Ayi dan Wa Itok adalah duo seniman tradisional yang mempelajari seni pantun buhun secara alami. Keduanya selama ini dikenal sebagai seniman tradisi yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Mang Ayi dan Wa Itok akan membawakan cerita dengan judul yang masih mereka rahasiakan. Selain menampilkan seni pantun, selama ini Mang Ayi dan Wa Itok juga kerap aktif menampilkan berbagai bentuk seni tradisi Sunda semisal <em>bajidoran, sisingaan, terbang, gembyung,</em> dsb. Program ini merupakan bagian dari kegiatan yang dikembangkan oleh kelompok <a href="http://trahproject.co.nr/" target="_blank">TRAH</a> yang diinisiasi oleh Gigi Priadji, Indra Nugraha dan Iman Zimbot sejak tahun 2007. Selain aktif mengembangkan eksplorasi yang memadukan ranah perkembangan musik elektronik dengan kesenian masyarakat Sunda, kelompok ini juga kerap berkolaborasi dengan seniman dan musisi yang berasal dari latar belakang yang beragam.</p>
<p><span id="more-703"></span></p>
<p>Pertunjukan pantun buhun merupakan salah satu bentuk pertunjukan tradisional yang berkembang di daerah Jawa Barat secara turun temurun. Kesenian ini juga tersebar di beberapa daerah di Nusantara dalam wujud dan bentuk yang beragam, serta dikenal secara populer di kalangan masyarakat Melayu. Beberapa komunitas masyarakat tradisional di Indonesia juga mengenal seni pantun walaupun dengan nama dan istilah yang berbeda. Selain dikenal dengan nama pantun, kesenian ini juga kerap disebut dengan nama <em>parikan</em> (Jawa) atau <em>paparikan</em> (Sunda). Dalam hal ini, seni pantun dapat juga disebut sebagai salah satu jenis sastra lisan yang berkembang di kalangan masyarakat tradisi.</p>
<p>Berbeda dengan kesenian pantun yang selama ini biasa kita kenal, kesenian pantun buhun biasanya disampaikan dalam format cerita dongeng (<em>story telling</em>). Dalam hal ini, pertunjukan pantun buhun biasanya juga dibuka dengan <em>rajah</em> (doa) yang menyisipkan <em>kawih</em> atau nyanyian tradisional. Biasanya pertunjukan pantun buhun juga dilengkapi dengan ungkapan atau nyanyian modern yang merefleksikan kondisi kekinian. Selain memiliki fungsi hiburan, pertunjukan pantun buhun juga memiliki fungsi <em>mepeling</em> (mengingatkan) khalayak untuk mencermati berbagai kondisi atau situasi yang tengah terjadi di sekeliling mereka. Bagi sebagian masyarakat tradisi, seni pantun juga kerap dimaafaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan pengetahuan ataupun nilai-nilai tertentu kepada masyarakat luas. Kesenian ini juga sering ditampilkan pada beberapa acara khusus seperti selamatan kelahiran anak, ruwatan rumah, muludan, atau acara perayaan tradisional lainnya.</p>
<p><em>Pertunjukan ini gratis dan terbuka untuk umum, khususnya bagi para seniman, desainer, musisi, sastrawan, peneliti, akademisi, ahli sejarah, pejabat, polisi, ibu rumah tangga, pegawai negeri, pembantu, tukang parkir, mantri, dokter, arsitek, pengusaha, tukang baso, dsb. Meskipun gratis, para pemirsa yang hadir diwajibkan membawa uang secukupnya untuk SAWERAN! Pelaksanaan kegiatan ini juga didukung oleh Common Room Networks Foundation (Common Room) dan Hivos.</em></p>
<p><em>Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi Ibu Nunung di nomor 0222503404 atau Gigi Priadji di nomor 0818637512.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/pertunjukan-pantun-buhun-mang-ayi-dan-wa-itok-subang-common-room-19-maret-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Terbuka Mengenai Kasus Sajak Malaikat</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/surat-terbuka-mengenai-kasus-sajak-malaikat/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/surat-terbuka-mengenai-kasus-sajak-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Aug 2007 14:47:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/surat-terbuka-mengenai-kasus-sajak-malaikat/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 4 Agustus 2007, Khazanah––Lembaran Khusus Budaya di koran Pikiran Rakyat (PR) memuat sajak-sajak Saeful Badar. Senin, 6 Agustus 2007, di halaman depan PR, tepat di sebelah foto besar aksi penjaga gawang Manchester United, ditayangkan kolom kecil “Permohonan Maaf”. Redaksi PR meminta maaf atas pemuatan sajak berjudul “Malaikat” pada Khazanah 4 Agustus 2007. Dikatakan PW [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 4 Agustus 2007, Khazanah––Lembaran Khusus Budaya di koran Pikiran Rakyat (PR) memuat sajak-sajak Saeful Badar. Senin, 6 Agustus 2007, di halaman depan PR, tepat di sebelah foto besar aksi penjaga gawang Manchester United, ditayangkan kolom kecil “Permohonan Maaf”. Redaksi PR meminta maaf atas pemuatan sajak berjudul “Malaikat” pada Khazanah 4 Agustus 2007. Dikatakan PW Muslimat NU Jabar dan “sejumlah ormas Islam” telah memprotes sajak tersebut karena dianggap menghujat akidah Islam. Redaksi PR dalam pernyataan itu mencabut sajak tersebut dan menganggapnya tidak pernah ada.</p>
<p>Saya sudah beberapa tahun malas membaca sajak. Saya pun tidak membaca rubrik sajak di Khazanah 4 Agustus lalu. Justru pernyataan pencabutan sajak itulah yang membuat saya membaca dan berusaha menyimak baik-baik sajak-sajak Saeful Badar.</p>
<p>Jumat 10 Agustus 2007 sekitar jam 9 pagi saya terima pesan pendek dari Rahim (redaktur Khazanah), “Heru, saya sudah tidak di Khazanah lagi, penggantinya belum ditetapkan, terima kasih atas kerjasamanya selama ini”. Sejak mulai disiarkan sekitar tahun 2000an, tulisan saya memang paling banyak dimuat di Khazanah, termasuk pada masa Rahim menjadi redaktur. Pagi itu saya tidak mencium persoalannya. Sore harinya, saat menghadiri diskusi Kekerasan (di) Media Massa di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Bandung, dan bertemu beberapa kolega penulis, baru saya mulai menghubungkan pesan Rahim dengan pemuatan sajak Malaikat. Hikmat Gumelar dari Institut Nalar (penyelenggara diskusi) menutup pembicaraannya pada pembuka forum diskusi dengan mendeklamasikan sajak Malaikat.</p>
<p><strong>MALAIKAT</strong></p>
<p>Mentang-mentang punya sayap</p>
<p>Malaikat begitu nyinyir dan cerewet</p>
<p>Ia berlagak sebagai makhluk baik</p>
<p>Tapi juga galak dan usil</p>
<p>Ia meniup-niupkan wahyu</p>
<p>Dan maut</p>
<p>Ke saban penjuru.</p>
<p>(2007)</p>
<p>Ada 3 sajak Saeful Badar lain disamping sajak Malaikat. 2 dijuduli “Pantai Cimanuk”. Satu lagi dimuat paling bawah dijuduli “Penyair”.</p>
<p>Saya punya sejumlah penafsiran atas sajak-sajak Saeful Badar. Tapi dalam surat ini saya akan langsung melompat pada soal paling prinsipil: apa sih artinya sajak itu? Apa artinya sebuah karya seni? Sepanjang pengalaman saya, orang sering sekali mengkonfirmasikan pertanyaan ini pada seniman. Jika bisa berbincang langsung dengan seniman, kelihatannya kesempatan ini amat baik untuk menyoal “arti” karya. “Mas/Mbak, apa sih maksudnya bikin karya seperti itu?”. Bagi saya pribadi pertanyaan kepada seniman ini, sekalipun bisa dianggap informasi dari tangan pertama, tetap tidak bisa dijadikan faktor paling determinan untuk memaknai karya seni.</p>
<p>Ketika karya telah disiarkan, baik pengarang maupun pembaca punya kedudukan setara dalam praktek pemaknaan. Si pengarang dipengaruhi berbagai faktor dalam merumuskan ide dan mewujudkan karya, demikian pula pembaca dalam memirsa karya. Siapakah yang paling berhak memaknai karya seni? Tidak ada. Persis di sini indahnya dunia seni, yaitu suatu alur diskursif. Makna merupakan hasil negosiasi, melalui proses diskusi. Semua orang setara.</p>
<p>Pernyataan bahwa sajak Malaikat menghujat akidah Islam merupakan kesimpulan dari proses memaknai karya dari sebagian pihak. Kesimpulan mengenai makna sebuah karya seni tidak bisa dipaksakan kepada khalayak. Sebagian pihak tidak bisa memaksakan pemahamannya atas sesuatu kepada pihak lain. Pemaksaan semacam ini hanya terjadi di bawah rejim otoriter. Dan kita banyak belajar bahwa di bawah rejim otoriter seni justru sering muncul sebagai oase dari apa yang biasa dikumandangkan sebagai “kebebasan berpendapat”. Kenapa? Sederhana saja, karena prinsip kesetaraan dalam memaknai karya seni.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah redaksi PR sebelum mencabut sajak Malaikat berdiskusi terlebih dahulu dengan Saeful Badar. Saya juga tidak tahu apakah memang benar Rahim dicabut kewenangannya sebagai redaktur Khazanah karena memuat sajak Malaikat. Dan kalau ya, saya juga tidak tahu apakah Rahim diajak berdiskusi sebelum pihak redaksi mengambil keputusan. Yang penting adalah, pihak redaksi PR tidak bisa “mencabut” sajak yang telah disiarkan. Ini kan mustahil; bagaimana bisa suatu teks tertulis yang telah dicetak banyak-banyak dan disebarkan kemudian dianggap tidak ada?</p>
<p>Redaksi PR mencabut sajak dengan alasan bahwa ada protes dari sementara pihak. Artinya redaksi PR mengakui bahwa bukan dirinya sendiri yang berkepentingan dengan ruang di PR. Walaupun pihak redaksi adalah pengelola media massa, tetap saja ruang tersebut merupakan ruang publik, artinya banyak yang berkepentingan. Dan makin kentara ke-publik-an di ruang itu makin bagus kualitasnya.</p>
<p>Terakhir, hari ini Senin 13 Agustus 2007 sekitar jam 4 sore, Aminudin TH. Siregar, seorang kolega kurator, mengirim pesan pendek, “sebaiknya penulis-penulis mogok nulis di Khazanah, kalau memang Rahim dicopot karena memuat sajak, jelas enggak fair…saya pribadi bersedia mogok nulis di PR”. Saya sampai sekarang masih ragu apakah boikot merupakan tindakan yang paling efektif. Tapi sesuatu memang harus dilakukan, sebab, sungguh merupakan hal yang sangat tidak wajar jika redaksi PR mengambil keputusan dengan hanya memperhatikan satu warna pendapat dari sebagian pihak. Sungguh merupakan ketidak-adilan jika redaksi PR mencabut sajak dan mencabut kewenangan Rahim tanpa melalui diskusi.</p>
<p>Bandung, 13 Agustus 2007</p>
<p>Heru Hikayat<br />
Kurator seni rupa, tinggal di Bandung</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/surat-terbuka-mengenai-kasus-sajak-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sub Rosa Poems with Kuburan</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/sub-rosa-poems-with-kuburan-2/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/sub-rosa-poems-with-kuburan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 10:42:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar lagu-lagu Band Kuburan? Atau beruntung menyaksikan stage performance mereka yang giat bekerja melantunkan tembang dengan aksi yang mengocok perut Anda? Oke, kalau begitu coba bayangkan bagaimana mereka membacakan puisi-puisi dalam buku Sub Rosa, karangan Aurelia Tiara, yang dikategorikan puisi romantis (baca : serius tentunya!).
Kacau? Hancur? Wah, dugaan Anda tentu meleset layaknya anak panah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar lagu-lagu Band Kuburan? Atau beruntung menyaksikan stage performance mereka yang giat bekerja melantunkan tembang dengan aksi yang mengocok perut Anda? Oke, kalau begitu coba bayangkan bagaimana mereka membacakan puisi-puisi dalam buku Sub Rosa, karangan Aurelia Tiara, yang dikategorikan puisi romantis (baca : serius tentunya!).</p>
<p>Kacau? Hancur? Wah, dugaan Anda tentu meleset layaknya anak panah yang diluncukan oleh Robin Hood mabuk. Jawaban yang tepat dari kompilasi kedua ion tersebut, adalah MELENGKAPI!</p>
<p>Jadi memang sayang sekali kalau Anda melewatkan acara yang diadakan di Tobucil â€“ Common Room, Jl Kyai Gede Utama 8, Bandung tanggal 21 Januari 2007 kemarin. Petang hari itu, launching buku dan pembacaan puisi Sub Rosa karya Aurelia Tiara berjalan sangat meriah.</p>
<p>Coba temukan satu jeda menit per menit dimana ada suasana beku. Pasti Anda hanya membuang waktu. Karena tawa membahanaâ€¦dan itupun tidak merusak esensi seni yang dibawakan secara sungguh-sungguh.</p>
<p>Dimoderatori oleh Vina Andrea (penyiar radio dan pecinta puisi), acara yang dimulai pukul 15.00 tersebut berjalan lancar, dengan susunan acara :</p>
<p>1. Perkenalan buku Sub Rosa dan Aurelia Tiara<br />
2. Pembacaan Puisi oleh Raka (Band Kuburan)<br />
3. Pembacaan Puisi oleh Rully (Band Kuburan)<br />
4. Sharing Pengalaman Menulis Sub Rosa<br />
5. Musikalisasi Puisi oleh Betsi (pemain teater)<br />
6. Pembacaan Puisi oleh Uri (Band Kuburan)<br />
7. Persembahan musik dari Klab Klassik<br />
8. Kolaborasi Pembacaan Puisi oleh Ima Rochmawati dan Holis (pemain teater)<br />
9. Pembacaan Puisi oleh Dino (Band Kuburan)<br />
10. Pembacaan Puisi oleh Iqbal (Band Kuburan)<br />
11. Penutup: Sesi Foto dan Tanda Tangan bersama Tiara<br />
Inilah acara dimana waktu melesat begitu saja. Terasa tidak waktu dua jam itu.</p>
<p>Dan untuk Anda yang telah melewatkannya begitu saja, berikut foto-foto acara tersebut :</p>
<div>
<div style="text-align: left;"><a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/2938/4066/1600/56905/390613830l.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/2938/4066/320/239844/390613830l.jpg" border="0" alt="" /></a></div>
<p><a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/2938/4066/1600/452719/709369436l.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/2938/4066/320/237289/709369436l.jpg" border="0" alt="" /></a><br />
<a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/2938/4066/1600/184969/681675899l.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/2938/4066/320/353097/681675899l.jpg" border="0" alt="" /></a></div>
<p>Dan siapa sangka mereka yang jagoan tertawa tidak punya jiwa yang sensitif? Hal ini sungguh dibuktikan terbalik oleh personil Band Kuburan, yang memilih puisi Perempuan Senja, Malaikat dalam Frame, Aroma dan Rasa, serta judul lainnya dalam buku Sub Rosa.</p>
<p>Soâ€¦.donâ€™t you ever dare to judge the â€˜bookâ€™ from itâ€™s cover! =)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/sub-rosa-poems-with-kuburan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raui di Sabtu Sore yang Cerah</title>
		<link>http://commonroom.info/2005/raui-di-sabtu-sore-yang-cerah/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2005/raui-di-sabtu-sore-yang-cerah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2005 10:37:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Foto1:
Penonton nampak khusyu menyimak puisi yang sedang di bacakan
Ada yang seru di sabtu sore, 3 desember 2005 lalu. Banyak orang datang ke Common Room untuk menghadiri acara pembacaan Kumpulan Puisi karya Olivia Kristinasinaga, &#8216;RAIU&#8217;. Tak kurang dari Aji The Milo, Ucok Homicide, Barus Godless Symtoms, Adi Gembel Forgotten, Kimung Minor, Neng Ima CCL, Daniel Kremlin, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 85%;">Foto1:</span><br />
<span style="font-size: 85%;">Penonton nampak khusyu menyimak puisi yang sedang di bacakan</span></p>
<p>Ada yang seru di sabtu sore, 3 desember 2005 lalu. Banyak orang datang ke Common Room untuk menghadiri acara pembacaan Kumpulan Puisi karya Olivia Kristinasinaga, &#8216;RAIU&#8217;. Tak kurang dari Aji The Milo, Ucok Homicide, Barus Godless Symtoms, Adi Gembel Forgotten, Kimung Minor, Neng Ima CCL, Daniel Kremlin, Syarif Klab Klasik dan Josh kawan dari Australi yang didaulat untuk membaca salah satu puisi buncil panggilan akrab olive.</p>
<p><a href="http://img374.imageshack.us/img374/5323/picture0032ey.jpg"><img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 320px;" src="http://img374.imageshack.us/img374/5323/picture0032ey.jpg" border="0" alt="" /></a><span style="font-size: 85%;">Foto2: </span><br />
<span style="font-size: 85%;">Gaya Aji The Milo membacakan salah satu puisinya Olivia</span></p>
<p>Sore yang cerah dan para pengunjung tampak menikmati suasana saat itu. Menariknya lagi, wajah baru yang sebelumnya jarang terlihat di aktivitas common room. Dan pembacaan puisinya pun terasa lain, karena dibacakan oleh para musisi dari scene indie pop, hardcore, punk dan hiphop. Sempat ada protes dari pihak yang tak terbiasa dengan pendekatan yang berbeda dari pembacaan puisi yang ada. &#8216;Kenapa sih pembacaan puisi tapi yang baca musisi?&#8217; tanya yang protes pada salah satu dari kami di common room. Hey, baca puisi adalah hak setiap orang bukan. Ga ada salahnya kan kalo sekali-kali puisi di apresiasi oleh para musisi.</p>
<p><a href="http://img232.imageshack.us/img232/7079/picture0807zw.jpg"><img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 320px;" src="http://img232.imageshack.us/img232/7079/picture0807zw.jpg" border="0" alt="" /></a> <span style="font-size: 85%;">Foto 3:</span></p>
<div><span style="font-size: 85%;">Gaya Ucok Homicide membacakan puisi</span></div>
<div>Hasilnya emang lumayan seru, setiap orang punya gaya pembacaan yang beda banget. Ucok Homicide misalnya, gaya dia baca puisi kaya raper. Sementara Neng Ima yang aktris teater itu berpuisi seperti berteater. Sementara Aji, Daniel, Kimung, Josh membacakannya dengan santai. Syarif gegedug klab klasik common room, ikut berpartisipasi dengan mengiringi beberapa pembacaan dengan memainkan beberapa nomor klasik dengan gitar akustik. Para pembaca memilih puisi yang paling mereka suka dan yang menarik mereka sebelumnya ga kenal sama yang namanya Olivia Kristinasinaga yang mereka kenal lebih dulu adalah karya olivia.</p>
<p><a href="http://img375.imageshack.us/img375/7686/picture0736kj.jpg"><img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: right; width: 267px; height: 215px;" src="http://img375.imageshack.us/img375/7686/picture0736kj.jpg" border="0" alt="" height="236" /></a><span style="font-size: 85%;">Foto3: </span><br />
<span style="font-size: 85%;">Syarif dari Klab Klasik sedang beraksi</span></p>
<p>Ngomong-ngomong seksi sibuk yang ngontak orang-orang untuk berpartisipasi di acara ini tak lain dan tak bukan adalah lioni dan teman-temannya termasuk ngurusin soundsystem, snack dan ngundang orang-orang. tob lah pokonya!! Acara berakhir menjelang magrib dan ditutup oleh musikalisasi puisi oleh berapa anak fikom unpad yang juga temen-temennya olivia.</p>
</div>
<div>foto-foto kegiatan silahkan liat di <a href="http://www.dotphoto.com/Go.asp?l=commonroom&amp;P=537D&amp;AID=3108733&amp;Show=Y">album foto</a></div>
<div>Thanx a million buat semua pihak yang sudah membantu terselenggarannya acara ini.</div>
<div>********</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2005/raui-di-sabtu-sore-yang-cerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMUTARAN VIDEO INTERPRETASI PUISI MBELING REMY SYLADO</title>
		<link>http://commonroom.info/2004/pemutaran-video-interpretasi-puisi-mbeling-remy-sylado/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2004/pemutaran-video-interpretasi-puisi-mbeling-remy-sylado/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2004 10:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[RABU, 22 DESEMBER 2004
Pk. 19.00 s/d  21.00 WIB
COMMON ROOM
JL. KYAI GEDE UTAMA 8
BANDUNG

Dibuka oleh Remy Sylado
Interpretasi puisi Mbeling Remy Sylado melalui media video muncul, ketika Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menawarkan kepada kami di Common Room, untuk menyelenggarakan pembahasan buku Puisi Mbeling Remy Sylado. Bosan dengan format pembahasan buku yang biasa dilakukan, Common Room kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RABU, 22 DESEMBER 2004<br />
Pk. 19.00 s/d  21.00 WIB<br />
COMMON ROOM<br />
JL. KYAI GEDE UTAMA 8<br />
BANDUNG<br />
</strong><br />
Dibuka oleh Remy Sylado</p>
<p>Interpretasi puisi Mbeling Remy Sylado melalui media video muncul, ketika Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menawarkan kepada kami di Common Room, untuk menyelenggarakan pembahasan buku Puisi Mbeling Remy Sylado. Bosan dengan format pembahasan buku yang biasa dilakukan, Common Room kemudian menawarkan bentuk lain yaitu interpreatasi puisi dengan menggunakan video sebagai media. Dua belas orang seniman muda Bandung yang selama ini akrab menekuni video sebagai medium dalam berkarya, kami undang untuk melakukan interpretasi itu. Seniman yang terlibat di antaranya: Aldy Rento, Puji Siswanti, Dewi Aditia, Yustinus Arditya, Andry Moch., Prilla Tania, Raka Auliantara, Muhamad Iqbal Rezeki Awal, Amelia Lestari, Domus, Hendy Hertiasa dan Dany Ong. Selama dua minggu secara intensif berproses untuk melahirkan karya video dari hasil interpretasi Puisi Mbeling.</p>
<p>Karya dua belas orang seniman tersebut akan diputar dalam satu kompilasi Video Mbeling pada hari Rabu, 22 Desember 2004, bertempat di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama No. 8 Bandung. Mulai Pk. 19.00 s/d 21.00 Wib. Pemutaran Video Mbeling akan dibuka oleh Remy Sylado. Acara ini terbuka untuk umum.</p>
<p>Acara ini terselenggara berkat kerjasama Common Room dan Kepustakaan Populer Gramedia.</p>
<p>Informasi dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:<br />
Common Room<br />
Jl. Kyai Gede Utama 8 Bandung<br />
T/F. 022 250 34 04<br />
<a href="http://www.commonroom.info/" target="_blank">http://www.commonroom.info/</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2004/pemutaran-video-interpretasi-puisi-mbeling-remy-sylado/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
