Tagged: Poetry RSS

  • Idharrez 7:39 am on July 18, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , Poetry   

    Nilai-Nilai Kebajikan Sunda Buhun di Pembukaan Nu –Substance Festival 2010 | Oleh Idhar Resmadi 

    Photobucket

    Ayunan para penari. Foto oleh Idhar Resmadi

    Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan membuat mereka menari dengan atraktifnya. Mengayunkan badan ke kanan- ke kiri, meloncat ke sana ke sini, dan menari lincah gemulai. Padahal usia para nenek tua itu hampir semuanya di atas kepala enam­ (malah seorang nenek mengaku berusia sekitar 127 tahun)nyatanya membuat penonton terpana dalam kegiatan pembukaan Nu-Substance Festival 2010. Seorang pentolan band metal, Man (vokalis Jasad) tak ihwal ikut terpancing menari bersama mereka. (More …)

     
  • Idharrez 4:39 pm on July 17, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , Poetry   

    Mengenal Lebih Dekat Pantun Sunda | Oleh Kimun666 

    Photobucket

    Foto: Idhar Resmadi

    Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).

    Dalam naskah Siksa kandang Karesian (1518M) dipaparkan pantun digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Asalnya cerita pantun seputar kisah kegagahan raja-raja di atas. Pada perkembangannya cerita pantun terus bertambah. Kita pasti tak asing dengan Lutung Kasarung, Langgasari, Ciung Wanara, Mundinglayadikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan, dll. Seni tua usianya ini melahirkan beberapa ahli pantun seperti Rd. Aria Cikondang dari Cianjur (abad 17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad 19), Uce dan Pantun Beton Wikatmana dari Bandung (awal abad 20) dan Ki Buyut Rombeng dari Bogor.

    (More …)

     
  • blauloretta 3:10 pm on April 30, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Poetry   

    Yang Lian: Puisi adalah Kampung Halaman Saya | Oleh Luky Setyarini* 

    Ketika Revolusi Budaya dilancarkan di Cina antara 1966-1976, ada sekelompok penyair yang karena gaya puisinya yang sulit dipahami, seperti berkabut, disebut sebagai Misty Poets. Salah satu dari para penyair kritis yang aktif menulis di majalah Jintian (Today) itu adalah Yang Lian.

    Lahir di Swiss pada 1955, ayah Yang seorang diplomat. Ketika keluarganya pulang kampung, Yang muda dikirim ke pedesaan Changping dekat Beijing, untuk mengikuti program reedukasi. Seorang putra diplomat yang berpendidikan tinggi memang diwajibkan belajar dari petani. Metode ini digunakan di masa Mao Zedong pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Selama tinggal di pedesaan, Yang mulai menulis puisi.

    Sekembalinya ke Beijing, Yang bekerja di stasiun pemancar radio pemerintah. Pada 1979, Yang bergabung dengan kelompok penyair yang menulis untuk Jintian. Gaya puisi pria berusia 54 tahun ini berubah menjadi modern, eksperimental, yang jamak dipraktekkan para penyair Misty Poets. Pada 1983, karyanya berjudul Norlang (nama suatu air terjun di Tibet) membuat gusar pemerintah Cina. Surat penangkapan untuk Yang dikeluarkan, namun Yang berhasil lolos.

    (More …)

     
  • blauloretta 6:24 am on March 18, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , , Poetry   

    Pertunjukan Pantun Buhun Mang Ayi dan Wa Itok (Subang) | Common Room, 19 Maret 2010 

    Pantun Buhun Ayi Itokt

    Tanggal: 19 Maret 2010
    Jam: 19.00 – 21.00 WIB
    Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung

    Deskripsi Singkat
    Mang Ayi dan Wa Itok adalah duo seniman tradisional yang mempelajari seni pantun buhun secara alami. Keduanya selama ini dikenal sebagai seniman tradisi yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Mang Ayi dan Wa Itok akan membawakan cerita dengan judul yang masih mereka rahasiakan. Selain menampilkan seni pantun, selama ini Mang Ayi dan Wa Itok juga kerap aktif menampilkan berbagai bentuk seni tradisi Sunda semisal bajidoran, sisingaan, terbang, gembyung, dsb. Program ini merupakan bagian dari kegiatan yang dikembangkan oleh kelompok TRAH yang diinisiasi oleh Gigi Priadji, Indra Nugraha dan Iman Zimbot sejak tahun 2007. Selain aktif mengembangkan eksplorasi yang memadukan ranah perkembangan musik elektronik dengan kesenian masyarakat Sunda, kelompok ini juga kerap berkolaborasi dengan seniman dan musisi yang berasal dari latar belakang yang beragam.

    (More …)

     
  • blauloretta 2:47 pm on August 13, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , , Poetry   

    Surat Terbuka Mengenai Kasus Sajak Malaikat 

    Sabtu, 4 Agustus 2007, Khazanah––Lembaran Khusus Budaya di koran Pikiran Rakyat (PR) memuat sajak-sajak Saeful Badar. Senin, 6 Agustus 2007, di halaman depan PR, tepat di sebelah foto besar aksi penjaga gawang Manchester United, ditayangkan kolom kecil “Permohonan Maaf”. Redaksi PR meminta maaf atas pemuatan sajak berjudul “Malaikat” pada Khazanah 4 Agustus 2007. Dikatakan PW Muslimat NU Jabar dan “sejumlah ormas Islam” telah memprotes sajak tersebut karena dianggap menghujat akidah Islam. Redaksi PR dalam pernyataan itu mencabut sajak tersebut dan menganggapnya tidak pernah ada.

    Saya sudah beberapa tahun malas membaca sajak. Saya pun tidak membaca rubrik sajak di Khazanah 4 Agustus lalu. Justru pernyataan pencabutan sajak itulah yang membuat saya membaca dan berusaha menyimak baik-baik sajak-sajak Saeful Badar.

    Jumat 10 Agustus 2007 sekitar jam 9 pagi saya terima pesan pendek dari Rahim (redaktur Khazanah), “Heru, saya sudah tidak di Khazanah lagi, penggantinya belum ditetapkan, terima kasih atas kerjasamanya selama ini”. Sejak mulai disiarkan sekitar tahun 2000an, tulisan saya memang paling banyak dimuat di Khazanah, termasuk pada masa Rahim menjadi redaktur. Pagi itu saya tidak mencium persoalannya. Sore harinya, saat menghadiri diskusi Kekerasan (di) Media Massa di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Bandung, dan bertemu beberapa kolega penulis, baru saya mulai menghubungkan pesan Rahim dengan pemuatan sajak Malaikat. Hikmat Gumelar dari Institut Nalar (penyelenggara diskusi) menutup pembicaraannya pada pembuka forum diskusi dengan mendeklamasikan sajak Malaikat.

    MALAIKAT

    Mentang-mentang punya sayap

    Malaikat begitu nyinyir dan cerewet

    Ia berlagak sebagai makhluk baik

    Tapi juga galak dan usil

    Ia meniup-niupkan wahyu

    Dan maut

    Ke saban penjuru.

    (2007)

    Ada 3 sajak Saeful Badar lain disamping sajak Malaikat. 2 dijuduli “Pantai Cimanuk”. Satu lagi dimuat paling bawah dijuduli “Penyair”.

    Saya punya sejumlah penafsiran atas sajak-sajak Saeful Badar. Tapi dalam surat ini saya akan langsung melompat pada soal paling prinsipil: apa sih artinya sajak itu? Apa artinya sebuah karya seni? Sepanjang pengalaman saya, orang sering sekali mengkonfirmasikan pertanyaan ini pada seniman. Jika bisa berbincang langsung dengan seniman, kelihatannya kesempatan ini amat baik untuk menyoal “arti” karya. “Mas/Mbak, apa sih maksudnya bikin karya seperti itu?”. Bagi saya pribadi pertanyaan kepada seniman ini, sekalipun bisa dianggap informasi dari tangan pertama, tetap tidak bisa dijadikan faktor paling determinan untuk memaknai karya seni.

    Ketika karya telah disiarkan, baik pengarang maupun pembaca punya kedudukan setara dalam praktek pemaknaan. Si pengarang dipengaruhi berbagai faktor dalam merumuskan ide dan mewujudkan karya, demikian pula pembaca dalam memirsa karya. Siapakah yang paling berhak memaknai karya seni? Tidak ada. Persis di sini indahnya dunia seni, yaitu suatu alur diskursif. Makna merupakan hasil negosiasi, melalui proses diskusi. Semua orang setara.

    Pernyataan bahwa sajak Malaikat menghujat akidah Islam merupakan kesimpulan dari proses memaknai karya dari sebagian pihak. Kesimpulan mengenai makna sebuah karya seni tidak bisa dipaksakan kepada khalayak. Sebagian pihak tidak bisa memaksakan pemahamannya atas sesuatu kepada pihak lain. Pemaksaan semacam ini hanya terjadi di bawah rejim otoriter. Dan kita banyak belajar bahwa di bawah rejim otoriter seni justru sering muncul sebagai oase dari apa yang biasa dikumandangkan sebagai “kebebasan berpendapat”. Kenapa? Sederhana saja, karena prinsip kesetaraan dalam memaknai karya seni.

    Saya tidak tahu apakah redaksi PR sebelum mencabut sajak Malaikat berdiskusi terlebih dahulu dengan Saeful Badar. Saya juga tidak tahu apakah memang benar Rahim dicabut kewenangannya sebagai redaktur Khazanah karena memuat sajak Malaikat. Dan kalau ya, saya juga tidak tahu apakah Rahim diajak berdiskusi sebelum pihak redaksi mengambil keputusan. Yang penting adalah, pihak redaksi PR tidak bisa “mencabut” sajak yang telah disiarkan. Ini kan mustahil; bagaimana bisa suatu teks tertulis yang telah dicetak banyak-banyak dan disebarkan kemudian dianggap tidak ada?

    Redaksi PR mencabut sajak dengan alasan bahwa ada protes dari sementara pihak. Artinya redaksi PR mengakui bahwa bukan dirinya sendiri yang berkepentingan dengan ruang di PR. Walaupun pihak redaksi adalah pengelola media massa, tetap saja ruang tersebut merupakan ruang publik, artinya banyak yang berkepentingan. Dan makin kentara ke-publik-an di ruang itu makin bagus kualitasnya.

    Terakhir, hari ini Senin 13 Agustus 2007 sekitar jam 4 sore, Aminudin TH. Siregar, seorang kolega kurator, mengirim pesan pendek, “sebaiknya penulis-penulis mogok nulis di Khazanah, kalau memang Rahim dicopot karena memuat sajak, jelas enggak fair…saya pribadi bersedia mogok nulis di PR”. Saya sampai sekarang masih ragu apakah boikot merupakan tindakan yang paling efektif. Tapi sesuatu memang harus dilakukan, sebab, sungguh merupakan hal yang sangat tidak wajar jika redaksi PR mengambil keputusan dengan hanya memperhatikan satu warna pendapat dari sebagian pihak. Sungguh merupakan ketidak-adilan jika redaksi PR mencabut sajak dan mencabut kewenangan Rahim tanpa melalui diskusi.

    Bandung, 13 Agustus 2007

    Heru Hikayat
    Kurator seni rupa, tinggal di Bandung

     
    • Gustaff H. Iskandar 3:26 pm on August 13, 2007 Permalink

      Saya mendapatkan artikel ini dari milis BPAC (Bandung Performance Art Community). Semula saya tidak begitu ngeh kalau artikel ini sesungguhnya membicarakan masalah yang beberapa tahun terakhir ini terjadi secara berulang di Indonesia. Ambil contoh misalkan tuntutan penutupan beberapa pameran seni semisal Dadang Christanto di Bentara Budaya (2002) dan CP Biennalle (2005). Kedua-duanya terjadi atas desakan sekelompok masyarakat yang menyatakan keberatan mereka akan materi yang ditamplikan di dalam pameran. Hal yang sama tercermin melalui tulisan Heru. Kali ini yang jadi korban adalah karya puisi.

    • Ni'ang 4:48 am on August 21, 2007 Permalink

      Taff, ada link ke site artikel aslinya? Thx!

    • blauloretta 7:59 am on August 23, 2007 Permalink

      Linknya gua gak ada Ang. Artikelnya langsung dapet dari milis. Atas persetujuan si Heru gua publish di Common Room. Mungkin lu bisa minta langsung ke si Heru.

    • atmoon 7:44 am on August 31, 2007 Permalink

      Memang di Indonesia ini umat beragama masih kekanak-kanakkan mas. Jadi tafsir atas malaikat pun maunya seperti maunya sendiri. Padahal, menurut Malaikat Jibril dia sendiri heran dan mencak-mencak sama saya kok kemalaikatanya dicatut buat membungkam kreativitas orang lain. Saya sendiri terus terang telat menerima info dari si Jibril. Kira2 sebulanlah telatnya. Nah, surat protesnya sekarang saya tampilkan di blog saya karena menurut Jibril kalau dikirim ke koran PR gak bakal dimuat. :)

    • kebebasan ekspresi tai ucing 3:04 am on September 27, 2007 Permalink

      nu kumaha nu disebut bebas teh. kabeh umat ge pasti kasigeung ari nyeureud-nyeuredud kana akidah mah. tong boroning urang islam, urang hindu atawa buda ge, komo karesten,sok gancang pundung lin ari agemanana dihina mah. baraleg sia barudak pro liberal. ngaku sastrawan rejeun mindeng ngahotbah (pesen moral) di satukanging sajak, cerpen, atawa novel, padahal jinisna mah puasa ge tara. nu aya kalah marabok, ngajarinah. ngarti siah. tai anjing kebebasan bereksfresi. baroga keneh nurani teu? ulah hayang katangar wungkul. tobat geura, bisi diajab manten ku nu kawasa.

      kebebasan bereksfresi tai anjing sia teh. hayangna bebas marabok, jarinah, atawa ngekeak agama wungkul sarilaing mah. heueuh kawas di utan kayu atawa di ciputat.

      sakitu heula keur saayeunaeun mah. memangna kami teu bisa ngocoblak kawas sarilaing

    • Ni'ang 7:46 am on October 9, 2007 Permalink

      “sakitu heula keur saayeunaeun mah. memangna kami teu bisa ngocoblak kawas sarilaing”

      ngocoblak tiasa? sae atuh.. upami ombeh tiasa? tah sungutna ombehan heula saacan ngocoblak meh rada tertib… hahahahahahahahahhahaah

    • Ni'ang 7:59 am on October 9, 2007 Permalink

      Sok atuh upami a’a teh bade dialog, hayu atuh urang dialog, diobrolkeun upami aya kalepatan teh palih mana. Upami di puisi eta teh aya anu ngahina agami, tepangkeun ku A’a teh dina palih mana. Bilih ieu mah, bilih ternyata ieu teh saukur salah paham. Leres teu A’? Ayeuna a’a tulas tulis anu kirang sae kabacana, mun kabaca ku batur pan ngagonggoreng agama sorangan sanes? Sok atuh tunjukeun ku A’a bahwa A’a teh umat beragama anu sopan jeung berbudaya, sanes jeger terminal anu budak baduk bautr, kalakuan siga budak leutik ambekan pundungan.. kirang sae panginten A’?

    • blauloretta 8:02 am on October 9, 2007 Permalink

      Hallo Kang,
      Maaf kalau tulisan di atas menyinggung perasaan akang. Tapi saya juga merasa berhak untuk mengajukan keberatan karena akang telah memaki dan menggunakan kata-kata yang menurut saya sangat kasar. Terus terang saya sangat percaya kalau perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar dan kalau kita mau saling bicara dan membuka diri dapat membuat kita menjadi dewasa.

      Saya dibesarkan oleh keluarga yang taat beragama. Sejauh yang saya tahu, kedua orang tua saya selalu mengajarkan untuk berlaku santun dan menggunakan kata-kata yang sopan apabila berkomunikasi dengan orang lain. Kalaupun ada perbedaan, tidak perlu mempermasalahkan perbedaan dengan makian dan caci maki. Apalagi dengan menggunakan kekerasan.

      Sementara itu saya yakin sekali pada dasarnya semua agama mengajarkan kita untuk saling menghargai dan mencintai sesama, walaupun kita saling berbeda. Menyikapi perbedaan dengan kebencian dan kekerasan tidak ada gunanya kang. Leih baik kita berteman dan menyikapi perbedaan sikap dengan cara yang lebih manusiawi. Mari kita bicara baik-baik, agar perbedaan sikap dapat menjadi jalan menuju pengetahuan, bukan kehancuran.

      Salam,
      -Gustaff

    • digitalove 8:14 am on October 9, 2007 Permalink

      Bebas berekspresi boleh, tapi ada batasannya…masalahnya kita kan hidup di Indonesia yang masih kental dengan budaya dan norma…jadi, jadilah seniman yang peka tapi tetap bisa realistis dan berpikiran terbuka serta dewasa. jadi kalau ada sesama seniman yang ternyata terlalu keluar jalur sebaiknya diingatkan, bukan dihakimi dan sebaiknya dengan bahasa yang lebih terpelajar…Maaf saya bukan seniman, tapi saya sangat menikmati seni.

    • mahesa 5:48 am on October 17, 2007 Permalink

      hik..hik..asyik pada berantem..
      hidup demokrasi..

    • mahesa 5:57 am on October 17, 2007 Permalink

      satu lagi,

      asyik juga jadi tau siapa yang berlagak malaikat /..punya sayap/..nyinyir dan cerewet/ia berlagak sebagai mahluk baik/..
      silahkan direnungkan dan ditobati.

      hik..hik

  • koesuma 10:42 am on January 29, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , Poetry   

    Sub Rosa Poems with Kuburan 

    Pernah dengar lagu-lagu Band Kuburan? Atau beruntung menyaksikan stage performance mereka yang giat bekerja melantunkan tembang dengan aksi yang mengocok perut Anda? Oke, kalau begitu coba bayangkan bagaimana mereka membacakan puisi-puisi dalam buku Sub Rosa, karangan Aurelia Tiara, yang dikategorikan puisi romantis (baca : serius tentunya!).

    Kacau? Hancur? Wah, dugaan Anda tentu meleset layaknya anak panah yang diluncukan oleh Robin Hood mabuk. Jawaban yang tepat dari kompilasi kedua ion tersebut, adalah MELENGKAPI!

    Jadi memang sayang sekali kalau Anda melewatkan acara yang diadakan di Tobucil – Common Room, Jl Kyai Gede Utama 8, Bandung tanggal 21 Januari 2007 kemarin. Petang hari itu, launching buku dan pembacaan puisi Sub Rosa karya Aurelia Tiara berjalan sangat meriah.

    Coba temukan satu jeda menit per menit dimana ada suasana beku. Pasti Anda hanya membuang waktu. Karena tawa membahana…dan itupun tidak merusak esensi seni yang dibawakan secara sungguh-sungguh.

    Dimoderatori oleh Vina Andrea (penyiar radio dan pecinta puisi), acara yang dimulai pukul 15.00 tersebut berjalan lancar, dengan susunan acara :

    1. Perkenalan buku Sub Rosa dan Aurelia Tiara
    2. Pembacaan Puisi oleh Raka (Band Kuburan)
    3. Pembacaan Puisi oleh Rully (Band Kuburan)
    4. Sharing Pengalaman Menulis Sub Rosa
    5. Musikalisasi Puisi oleh Betsi (pemain teater)
    6. Pembacaan Puisi oleh Uri (Band Kuburan)
    7. Persembahan musik dari Klab Klassik
    8. Kolaborasi Pembacaan Puisi oleh Ima Rochmawati dan Holis (pemain teater)
    9. Pembacaan Puisi oleh Dino (Band Kuburan)
    10. Pembacaan Puisi oleh Iqbal (Band Kuburan)
    11. Penutup: Sesi Foto dan Tanda Tangan bersama Tiara
    Inilah acara dimana waktu melesat begitu saja. Terasa tidak waktu dua jam itu.

    Dan untuk Anda yang telah melewatkannya begitu saja, berikut foto-foto acara tersebut :


    Dan siapa sangka mereka yang jagoan tertawa tidak punya jiwa yang sensitif? Hal ini sungguh dibuktikan terbalik oleh personil Band Kuburan, yang memilih puisi Perempuan Senja, Malaikat dalam Frame, Aroma dan Rasa, serta judul lainnya dalam buku Sub Rosa.

    So….don’t you ever dare to judge the ‘book’ from it’s cover! =)

     
    • tim fans 6:35 am on May 13, 2009 Permalink

      HALLOOO FANSTER… DI AKHIR BULAN MEI 2009 INI KITA TIM FANS LAGI NYARI FANS NYA KUBURAN BAND…. SEKALI LAGI FANS NYA KUBURAN BAND MANAAAAAAAAAAAA………… KALIAN AKAN DIJADIKAN TAMU EKSKLUSIFNYA BAND KUBURAN DI ACARA “FANS”. SO KIRIM AJA… BIODATA DAN NO TELP KAMU KE SINI ATAU EMAIL FANS@TRANSTV.CO.ID ATAU SMS AJA KE 081908199749 DAN CERITAIN JUGA KESEHARIAN KAMU DAN ALASAN KAMU KENAPA NGEFANS SAMA BAND KUBURAN. BURAANNN TUNGGU APA LAGI.. SIAPA TAU KAMU YANG BERUNTUNG.

  • koesuma 10:37 am on December 29, 2005 Permalink | Reply
    Tags: , Poetry   

    Raui di Sabtu Sore yang Cerah 

    Foto1:
    Penonton nampak khusyu menyimak puisi yang sedang di bacakan

    Ada yang seru di sabtu sore, 3 desember 2005 lalu. Banyak orang datang ke Common Room untuk menghadiri acara pembacaan Kumpulan Puisi karya Olivia Kristinasinaga, ‘RAIU’. Tak kurang dari Aji The Milo, Ucok Homicide, Barus Godless Symtoms, Adi Gembel Forgotten, Kimung Minor, Neng Ima CCL, Daniel Kremlin, Syarif Klab Klasik dan Josh kawan dari Australi yang didaulat untuk membaca salah satu puisi buncil panggilan akrab olive.

    Foto2:
    Gaya Aji The Milo membacakan salah satu puisinya Olivia

    Sore yang cerah dan para pengunjung tampak menikmati suasana saat itu. Menariknya lagi, wajah baru yang sebelumnya jarang terlihat di aktivitas common room. Dan pembacaan puisinya pun terasa lain, karena dibacakan oleh para musisi dari scene indie pop, hardcore, punk dan hiphop. Sempat ada protes dari pihak yang tak terbiasa dengan pendekatan yang berbeda dari pembacaan puisi yang ada. ‘Kenapa sih pembacaan puisi tapi yang baca musisi?’ tanya yang protes pada salah satu dari kami di common room. Hey, baca puisi adalah hak setiap orang bukan. Ga ada salahnya kan kalo sekali-kali puisi di apresiasi oleh para musisi.

    Foto 3:

    Gaya Ucok Homicide membacakan puisi
    Hasilnya emang lumayan seru, setiap orang punya gaya pembacaan yang beda banget. Ucok Homicide misalnya, gaya dia baca puisi kaya raper. Sementara Neng Ima yang aktris teater itu berpuisi seperti berteater. Sementara Aji, Daniel, Kimung, Josh membacakannya dengan santai. Syarif gegedug klab klasik common room, ikut berpartisipasi dengan mengiringi beberapa pembacaan dengan memainkan beberapa nomor klasik dengan gitar akustik. Para pembaca memilih puisi yang paling mereka suka dan yang menarik mereka sebelumnya ga kenal sama yang namanya Olivia Kristinasinaga yang mereka kenal lebih dulu adalah karya olivia.

    Foto3:
    Syarif dari Klab Klasik sedang beraksi

    Ngomong-ngomong seksi sibuk yang ngontak orang-orang untuk berpartisipasi di acara ini tak lain dan tak bukan adalah lioni dan teman-temannya termasuk ngurusin soundsystem, snack dan ngundang orang-orang. tob lah pokonya!! Acara berakhir menjelang magrib dan ditutup oleh musikalisasi puisi oleh berapa anak fikom unpad yang juga temen-temennya olivia.

    foto-foto kegiatan silahkan liat di album foto
    Thanx a million buat semua pihak yang sudah membantu terselenggarannya acara ini.
    ********
     
  • koesuma 10:11 am on December 29, 2004 Permalink | Reply
    Tags: Poetry, ,   

    PEMUTARAN VIDEO INTERPRETASI PUISI MBELING REMY SYLADO 

    RABU, 22 DESEMBER 2004
    Pk. 19.00 s/d 21.00 WIB
    COMMON ROOM
    JL. KYAI GEDE UTAMA 8
    BANDUNG

    Dibuka oleh Remy Sylado

    Interpretasi puisi Mbeling Remy Sylado melalui media video muncul, ketika Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menawarkan kepada kami di Common Room, untuk menyelenggarakan pembahasan buku Puisi Mbeling Remy Sylado. Bosan dengan format pembahasan buku yang biasa dilakukan, Common Room kemudian menawarkan bentuk lain yaitu interpreatasi puisi dengan menggunakan video sebagai media. Dua belas orang seniman muda Bandung yang selama ini akrab menekuni video sebagai medium dalam berkarya, kami undang untuk melakukan interpretasi itu. Seniman yang terlibat di antaranya: Aldy Rento, Puji Siswanti, Dewi Aditia, Yustinus Arditya, Andry Moch., Prilla Tania, Raka Auliantara, Muhamad Iqbal Rezeki Awal, Amelia Lestari, Domus, Hendy Hertiasa dan Dany Ong. Selama dua minggu secara intensif berproses untuk melahirkan karya video dari hasil interpretasi Puisi Mbeling.

    Karya dua belas orang seniman tersebut akan diputar dalam satu kompilasi Video Mbeling pada hari Rabu, 22 Desember 2004, bertempat di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama No. 8 Bandung. Mulai Pk. 19.00 s/d 21.00 Wib. Pemutaran Video Mbeling akan dibuka oleh Remy Sylado. Acara ini terbuka untuk umum.

    Acara ini terselenggara berkat kerjasama Common Room dan Kepustakaan Populer Gramedia.

    Informasi dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:
    Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama 8 Bandung
    T/F. 022 250 34 04
    http://www.commonroom.info/

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel