<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Photography</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/photography/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 20:27:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>52 Wednesdays &#124; Pameran Foto oleh Lioni &#8230;</title>
		<link>http://commonroom.info/2012/52-wednesday-oleh-lioni/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2012/52-wednesday-oleh-lioni/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 07:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Art Projects]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2428</guid>
		<description><![CDATA[52 Wednesdays &#124; Pameran Foto oleh Lioni Beatrik &#124; 14 &#8211; 21 Januari 2012 Pembukaan: Sabtu, 14 Januari 2012. 17.00 &#8211; end Common Room Jl. Kyai Gede Utama no 8 Bandung Featuring Stand up Tragedy &#38; Live Music bersama Rayhan Sudrajat, Raquel, Pepengtea, Deluciva, Ajie and Alex Lioni Beatrik Lioni, perempuan kelahiran 1980 ini sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2429" title="lioni_eflyer_web" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2012/01/lioni_eflyer_web.jpg" alt="" width="640" height="407" /></p>
<p><strong>52 Wednesdays | Pameran Foto oleh Lioni Beatrik | 14 &#8211; 21 Januari 2012</strong><br />
Pembukaan: Sabtu, 14 Januari 2012. 17.00 &#8211; end<br />
Common Room<br />
Jl. Kyai Gede Utama no 8 Bandung</p>
<p><em>Featuring Stand up Tragedy &amp; Live Music bersama Rayhan Sudrajat, Raquel, Pepengtea, Deluciva, Ajie and Alex</em></p>
<p><strong>Lioni Beatrik</strong><br />
Lioni, perempuan kelahiran 1980 ini sangat bergairah akan hidup dan kehidupan—bidang yang membawanya ke bidang humanitarian. Ia <a style="text-decoration:none;color:#666666" href="http://www.huncalife.biz" rel="dofollow">hunca life katalog</a> adalah lulusan Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad, dan sempat pula belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Selain humanisme, Lioni juga <a style="text-decoration:none;color:#666666" href="http://www.huncalifee.com" rel="dofollow">hunca life</a> memiliki minat tinggi terhadap seni rupa. Ia <a style="text-decoration:none;color:#666666" href="http://www.huncakozmetik.net" rel="dofollow">hunca life</a> pernah bekerja di sebuah galeri seni rupa di Jakarta. Sebelum 52 Wednesdays, ia juga pernah membuat beberapa proyek seni yang diantaranya adalah My Funeral, Funeral of Caste, Theater of the Oppressed, Playback Theater dan Kappaletta <a style="text-decoration:none;color:#666666" href="http://www.huncakozmetik.net" rel="dofollow">huncalife katalog</a> the singing telegram. Proyek fotografi ini merupakan proyek seni Lioni yang berlangsung paling lama, satu tahun dan kemungkinan akan terus berjalan.</p>
<p><span id="more-2428"></span></p>
<p><strong>[Pengantar]</strong></p>
<p><strong>Awalnya, Hanya Rabu untuk Alex</strong><br />
Satu tahun yang lalu, Lioni Beatrik jatuh cinta dan dibuat patah hati oleh seorang pemuda. Dalam adukan berbagai macam perasaan; sedih, bingung, penasaran, dan rindu, Lioni membuat satu foto dan mengirimkannya kepada sang pemuda lewat surat elektronik. Fotonya sederhana: Rex, tokoh terkenal dari film Toys Story, “berpose” dengan selembar post-it yang bertuliskan “I miss you” yang tertempel di dadanya.</p>
<p>Foto pertama itu ia kirimkan pada hari Rabu—yang setelah ditelusuri ulang, merupakan hari yang sama ketika Lioni menyatakan cintanya. Ternyata memotret Rex dan mengirimkan foto itu bisa menanggulangi rindu. Sekejap, Lioni tersembuhkan dari rasa sedih. Maka memotret dan mengirimkan satu foto Rex tiap Rabu menjadi hal yang rutin ia lakukan—sampai Rabu ke 52.</p>
<p><strong>Jejak Visual dan Sarana Terapi</strong><br />
Berekspresi menggunakan fotografi bukanlah barang baru. Kamera sudah jamak digunakan sebagian besar orang, dan fotografi pun telah menjalankan beragam fungsinya di masyarakat selama lebih dari dua abad. Begitu pula ketika fotografi digunakan sebagai medium ekspresi dan terapi. Sesungguhnya, pada tahun-tahun belakangan, banyak terapis yang telah menggunakan fotografi sebagai alat untuk memahami hubungan patologis dan untuk memfasilitasi proses mengekspresikan perasaan. Persentuhan dengan sisi kreatif dianggap dapat membuat seseorang berelasi erat dengan perasaan dan pemikiran yang berada di alam bawah sadar—dan ketika mempraktikkannya, ia dianggap dapat mencapai titik yang mendekati tingkat meditatif sehingga level stres pun dapat direduksi.</p>
<p>Begitu pula dengan praktik fotografi. Logikanya mungkin sesederhana ini: memikirkan foto seperti apa yang akan dikirimkan tiap pekan bisa membuat ia sebentar saja memikirkan hal lain selain perasaannya yang tak berbalas itu. Lioni memang masih memikirkan sang pemuda, hanya saja bukan dengan cara yang bisa semakin melukai perasaannya. Tiap hari, ada saja beberapa jam yang ia habiskan untuk merancang kelanjutan “cerita” Rex.</p>
<p>Rangkaian foto ini ditutup dengan foto yang menampakkan Rex—agak membelakangi kamera, dan di tubuhnya tertempel selembar post-it yang bertuliskan, “Have you been receiving my emails?”. Karena pada akhirnya, memang hanya pertanyaan itu yang ingin Lioni utarakan untuk memberi “akhir” pada tahun dan perasaan yang membuatnya berpikir banyak tentang konsep hubungan romantis dan perasaan yang mengikuti. Foto dengan pertanyaan polos khas Rex ini juga menjadi karya penutup yang jenaka dari seluruh rangkaian foto—dengan visual yang menyerupai foto yang pertama Lioni buat.</p>
<p><strong>Di Balik Gambar</strong><br />
Oleh karena itu, perjalanan Rex yang kita jumpai, adalah juga perjalanan Lioni—baik secara fisik maupun mental yang memperlihatkan perkembangan dan perubahan rasanya terhadap seseorang. Melalui proyek fotografi ini, Lioni melakukan terapi kepada dirinya sendiri dalam menghadapi patah hati: ada pemikiran, diskusi dan “penyadaran” yang muncul selama ia menjalani proyek ini. Ada kalanya ia bersemangat memotret. Ada kalanya pula ia benci seluruh kegiatan ini. Ia merasa telah menteror si pemuda dengan kiriman foto setiap Rabu: menjadi pihak yang menyalahgunakan perasaan dan bertindak sangat egois. Kemudian seiring dengan perjalanannya, Lioni sadar bahwa memotret Rex bukan lagi demi menyapanya, tapi untuk mengobati rindu; bukan lagi untuk menjalin hubungan dengan sang pemuda, tapi telah menjadi upaya untuk melupakannya.</p>
<p>Prosesi jatuh cinta dan patah hati yang dialami dirinya—dan setiap orang lainnya, bisa dilihat sebagai cara berkenalan kembali dengan diri sendiri; menyadari bahwa kita masih merasa, mencari tahu apa yang memicu rasa-rasa tertentu dan mempelajari cara-cara yang paling masuk akal untuk berhadapan dengan rasa itu. Dan bagi Lioni, membuat rangkaian foto adalah solusi dalam menghadapi persoalan rasa-merasa tersebut.</p>
<p>Memamerkan seluruh rangkaian foto yang ia buat selama setahun kemudian juga menjadi salah satu fase yang harus dilalui Lioni dalam menggunakan fotografi sebagai medium ekspresi dan terapi—seperti membuat akhir pada keadaannya yang terkatung-katung, menjadikan pameran ini sebagai pameran tentang perasaan—yang tak akan bisa didefinisikan. Manusia tidak punya cukup kosakata untuk membuat orang lain turut memahami sesungguhnya apa yang kita rasakan. Semoga bahasa visual yang lebih mampu menerjemahkan prosesi jatuh cinta dan patah hati—menerjemahkan rasa.</p>
<p><strong>Irma Chantily | Kurator Pameran</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2012/52-wednesday-oleh-lioni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Pameran Fotografi] Pause/ Urban Decay oleh Sandi Jaya Saputra &#124; 19 November s/d 4 Desember 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/pameran-fotografi-pause-urban-decay-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/pameran-fotografi-pause-urban-decay-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 07:26:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2372</guid>
		<description><![CDATA[[Pameran Fotografi] Pause/Urban Decay oleh Sandi Jaya Saputra 19 November s/d 4 Desember 2011, Pk. 10.00 – 17.00 WIB Pembukaan: Sabtu, 19 November 2011, Pk. 18.00 – 21.00 WIB Artist Talk: Jumat, 25 November 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB &#124; Moderator: Gustaff H. Iskandar Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2373" title="Poster_Pause_eflyer" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/11/Poster_Pause_eflyer.jpg" alt="" width="640" height="900" /></p>
<p><strong>[Pameran Fotografi] Pause/Urban Decay oleh Sandi Jaya Saputra</strong><br />
19 November s/d 4 Desember 2011, Pk. 10.00 – 17.00 WIB<br />
Pembukaan: Sabtu, 19 November 2011, Pk. 18.00 – 21.00 WIB<br />
Artist Talk: Jumat, 25 November 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB | Moderator: Gustaff H. Iskandar<br />
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung</p>
<p><span id="more-2372"></span></p>
<p><strong>Pause/Urban Decay: Sebuah Jeda di Keramaian Kota</strong><br />
Oleh Gustaff H. Iskandar</p>
<p>Sandi Jaya Saputra adalah seorang fotografer yang dilahirkan di kota Garut pada tahun 1985. Pada tahun 2006 ia mengenyam pendidikan di jurusan periklanan Universitas Padjadjaran Bandung. Setelahnya ia melanjutkan studi di bidang jurnalisme pada universitas yang sama dan lulus pada tahun 2010. Karirnya dibidang fotografi dimulai ketika ia bekerja untuk majalah Greeners sejak tahun 2008 s/d 2010. Pada tahun 2009, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar fotografi di Commune Illuminaty (Bandung) dan workshop fotografi di Angkor Wat (Kamboja) di bawah bimbingan Antoine D’Agata (Magnum Agency). Baru-baru ini ia mendapatkan beasiswa untuk mengambil program diploma jurnalisme fotografi di Ateneo de Manila University (Filipina).</p>
<p>Saat ini Sandi Jaya Saputra bekerja menjadi seorang fotografer lepasan sekaligus bekerja sebagai asisten laboratorium fotografi dan staff mata kuliah fotografi di almamaternya. Sehari-hari ia kerap mengambil berbagai foto tentang pemandangan kota. Beberapa ada yang dipamerkan, sementara yang lain disimpan sebagai dokumentasi yang merekam kehidupan pribadinya. Koleksi foto yang ia tampilkan di dalam pameran ini diambil tepat pada saat perayaan hari raya Idul Fitri di tahun 2009. Dalam kumpulan foto ini, ia seakan mengajak kita untuk melihat pemandangan kota Bandung yang lenggang dan sepi. Tidak ada aktifitas manusia dan hiruk-pikuk kesibukan kota di dalam foto-foto ini. Tidak ada suara bising dan kondisi kota yang semrawut. Tidak ada suasana kota yang selama ini kita kenal secara akrab, kecuali ruas jalan, gedung-gedung, serta pojokan ruang kota yang kosong melompong.</p>
<p>Sejak secara resmi berdiri sekitar 200 tahun yang lalu, kota Bandung telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa kehidupan manusia lengkap dengan segala detail persoalannya. Di masa keemasannya kota Bandung adalah sebuah permata yang memiliki segudang predikat menawan karena kesuburan serta keindahan pemandangan alamnya. Diantara sebutan yang paling populer adalah Bloemen van the Stad dan Parijs van Java. Dalam catatan Haryoto Kunto, kota ini pertama kali dinobatkan menjadi kota terbuka pada 21 Februari 1906 oleh Gubernur Jendral J.B. van Heutz. Selanjutnya kota ini sempat disebut sebagai pusat dunia intelektual di wilayah Hindia Belanda, serta pernah diusulkan menjadi pusat koloni orang Eropa di tanah Jawa oleh seorang pemikir Belanda bernama Ir. R. van Hoevell. Atas dasar ini, kiranya tidaklah mengherankan apabila sejak dahulu kota Bandung dikenal sebagai pusat bagi aktifitas perkebunan, perdagangan, pendidikan dan pariwisata. Namun kini kita harus mafhum bahwa catatan ini barangkali hanya sebagian dari narasi yang mungkin tidak lagi menggambarkan kondisi kota Bandung secara utuh. Kota ini tengah meluruh dimakan waktu, ditengah obsesi untuk menjadi mesin ekonomi yang kian menderu.</p>
<p>Karya foto Sandy Jaya Saputra dapat dilihat sebagai sebuah jeda yang memungkinkan kita untuk berhenti sejenak dan memandang kota dalam keadaan diam. Karyanya sekaligus mengajak kita untuk menelusuri kembali jejak yang ditinggalkan oleh jutaan manusia yang hidup didalamnya. Pada foto-foto ini kita juga dapat menemukan cermin yang mengguratkan narasi dan spiritualitas kehidupan masyarakat kota yang sedemikian kompleks dan memiliki lapisan dimensi yang tak bertepi. Wajah kota yang terekam dalam kumpulan foto ini merupakan pemandangan yang berkelindan diantara kemegahan narasi masa lalu dan kompleksitas persoalan hari ini. Alhasil kita menemukan sebuah pemandangan kota yang ambivalen dan penuh dengan kontradiksi. Di sana ada keindahan sekaligus teror yang mengerikan. Di sana juga ada keintiman yang dapat menjelma menjadi sebuah keterasingan yang menyakitkan. Kiranya foto-foto ini adalah sebentuk puisi yang memungkinkan kita untuk mengambil jarak dari kenyataan yang kian hari semakin meringkus perasaan dan imajinasi. Selain itu, kumpulan foto ini barangkali adalah reaksi balik dari dunia pengalaman yang memproyeksikan kritik dan refleksi untuk merajut makna tentang kehidupan masyarakat kota di sini dan hari ini, hic et nunc.</p>
<p>Kyai Gede Utama, 4 November 2011</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/pameran-fotografi-pause-urban-decay-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>icapture1.0: Sinematic Photography Exhibition by Ageng Purna Galih &#124; Common Room, 4 &#8211; 19 Juni 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/icapture1-0-oleh-ageng-purna-galih/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/icapture1-0-oleh-ageng-purna-galih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 07:31:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Images]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2109</guid>
		<description><![CDATA[Supaya seru, mari kita coba menebak-nebak tentang konsep pameran ini. Ageng Purna Galih, diam-diam, adalah seorang seniman fotografi yang hasrat terpendamnya adalah menjadi penata gambar film (sinematografer). Ia memiliki keterbatasan dalam bertutur panjang, sehingga memilih untuk membuat adegan-adegan pendek dengan cerita-cerita kecil. Atau bisa jadi, ia sebenarnya penutur yang handal, hanya saja tidak memiliki peralatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/06/poster_icapture_eflyer.jpg" alt="" width="640" height="452" /></p>
<p><em>Supaya seru, mari kita coba menebak-nebak tentang konsep pameran ini.</em> </p>
<p>Ageng Purna Galih, diam-diam, adalah seorang seniman fotografi yang hasrat terpendamnya adalah menjadi penata gambar film (sinematografer). Ia memiliki keterbatasan dalam bertutur panjang, sehingga memilih untuk membuat adegan-adegan pendek dengan cerita-cerita kecil. Atau bisa jadi, ia sebenarnya penutur yang handal, hanya saja tidak memiliki peralatan membuat film yang memadai, sehingga dipakailah foto-foto ini untuk mewakilkan mimpinya membuat film.</p>
<p>Ageng Purna Galih, siapa sangka, adalah pembuat film produktif yang telah rampung membuat sekian banyak film pendek (atau jangan-jangan film panjang?). Namun karena tidak puas dengan hasil yang ia capai, ia enggan memutar film-filmnya di depan umum. Pada kesempatan ini, ia memutuskan untuk memamerkan hanya potongan-potongan adegan dari masing-masing film tersebut. </p>
<p>Ageng Purna Galih, hanya Tuhan yang tahu, bekerja di sebuah perusahaan penggandaan DVD bajakan di daerah Harco/Mangga Dua, Jakarta. Untuk mengusir kebosanan, ia sesekali meng-capture potongan-potongan adegan yang menarik hatinya. Sesekali, kalau isengnya sedang berlipat ganda, ia mengganti-ganti subtitle film tersebut dengan bahasa-bahasa asing yang ia sendiri tidak mengerti. Tidak jarang Ageng mencari film-film bajakan KW2, dengan sulih bahasa yang sulit dimengerti oleh ahli bahasa mana pun. Ada film Indonesia ber-subtitle Perancis, film Thailand ber-subtitle Bahasa Indonesia. </p>
<p>Ageng Purna Galih, jangan-jangan, adalah seorang fotografer profesional yang kerjanya adalah memotret model untuk keperluan lembar fashion majalah. Ia tentu punya banyak stok foto yang ia ambil di antara pekerjaan photo shoot-nya. Ageng ingin sekali pameran, namun merasa tidak etis untuk menampilkan fotonya secara polos layaknya di lembar-lembar majalah. Ia lalu menambahkan kotak hitam di atas bawah foto, sekaligus teks di bawah, membuat seolah-olah foto tersebut adalah potongan adegan film. </p>
<p>Ageng Purna Galih, bisa jadi, sama sekali bukan yang kita sangka, atau gabungan semua yang kita sangka-sangka. Di saat kita mampu menuntaskan sebuah DVD bajakan sebuah film Rusia dengan subtitle bahasa Indonesia kacau-balau seperti &#8220;<em>Jangan, kamu is gak sayap!</em>&#8220;, rasanya pembacaan atas karya-karya Age bisa seluas dan se-ngasal lapak DVD yang berjejer-jejer di depan BIP. Tetap perlu dijual, tetap perlu dijajal. </p>
<p><strong>[Ariani Darmawan]</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/icapture1-0-oleh-ageng-purna-galih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BDG &#8211; NO FUTURE &#124; Picture taken by Tita Larasati</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/bdg-no-future-picture-taken-by-tita-larasati/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/bdg-no-future-picture-taken-by-tita-larasati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 05:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1694</guid>
		<description><![CDATA[BDG &#8211; NO FUTURE Picture taken by Tita Larasati 2011]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/no_future.jpg" border="0" alt="Photobucket" /></p>
<p>BDG &#8211; NO FUTURE<br />
Picture taken by <a href="http://www.facebook.com/esduren" target="_blank">Tita Larasati</a><br />
2011</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/bdg-no-future-picture-taken-by-tita-larasati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pameran Fotografi: KELUYURAN oleh Romain Osi (FR) &#124; Balai Kota Bandung dan Babakan Asih &#124; 14 s/d 28 Mei 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/keluyuran-urban-photographic-sample-from-bandung-indonesia-romain-osi-fr-14-sd-28-mei-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/keluyuran-urban-photographic-sample-from-bandung-indonesia-romain-osi-fr-14-sd-28-mei-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 10:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[PEMBUKAAN PAMERAN Balai Kota Jl. Perintis Kemerdekaan (Pagar Selatan) Jumat, 14 Mei 2010 Pukul 15.00 WIB Babakan Asih Lapangan KARTOEN ERVAT, Babakan Asih RT 04/ RW 01 (Masuk lewat Jl. Haji Topek) Sabtu, 15 Mei 2010 Pukul 9.00 WIB Peta Babakan Asih View Babakan Asih in a larger map * Pameran berlangsung dari 14 s/d [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/05/keluyuran_text.jpg"><img class="size-full wp-image-936 alignnone" title="keluyuran_text" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/05/keluyuran_text.jpg" alt="" width="480" height="138" /></a></p>
<p><a href="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/05/keluyuran_small.jpg"><img class="size-full wp-image-937 alignnone" title="keluyuran_small" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/05/keluyuran_small.jpg" alt="" width="480" height="320" /></a></p>
<p><img class="size-full wp-image-938 alignnone" title="logo_web" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/05/logo_web.jpg" alt="" width="480" height="67" /></p>
<p><strong>PEMBUKAAN PAMERAN</strong></p>
<p><strong>Balai Kota</strong><br />
Jl. Perintis Kemerdekaan (Pagar Selatan)<br />
Jumat, 14 Mei 2010<br />
Pukul 15.00 WIB</p>
<p><strong>Babakan Asih</strong><br />
Lapangan KARTOEN ERVAT, Babakan Asih RT 04/ RW 01 (Masuk lewat Jl. Haji Topek)<br />
Sabtu, 15 Mei 2010<br />
Pukul 9.00 WIB</p>
<p><span id="more-939"></span></p>
<p><strong>Peta Babakan Asih</strong></p>
<p><iframe width="480" height="340" frameborder="0" scrolling="no" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF8&amp;hl=en&amp;t=h&amp;msa=0&amp;msid=106291827312338799913.0004864ed65014b05a144&amp;source=embed&amp;ll=-6.928088,107.596428&amp;spn=0.003728,0.00456&amp;z=17&amp;iwloc=0004864ee90dfe54530d9&amp;output=embed"></iframe><br /><small>View <a href="http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF8&amp;hl=en&amp;t=h&amp;msa=0&amp;msid=106291827312338799913.0004864ed65014b05a144&amp;source=embed&amp;ll=-6.928088,107.596428&amp;spn=0.003728,0.00456&amp;z=17&amp;iwloc=0004864ee90dfe54530d9" style="color:#0000FF;text-align:left">Babakan Asih</a> in a larger map</small></p>
<p><em>* Pameran berlangsung dari 14 s/d 28 Mei 2010</em></p>
<p></p>
<p><strong>Kota yang Keluyuran Malam Hari</strong><br />
Hawe Setiawan | Penulis lepas<br /><a href="http://www.slideshare.net/gustaffharriman/keluyuran-by-romain-osi-fr/download" target="_blank">Download .pdf</a></p>
<div id="__ss_4053507" style="width: 477px;"><object id="__sse4053507" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="340" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/doc_player.swf?doc=romainosinewspaperdraft16pages-100511124700-phpapp02&amp;rel=0&amp;stripped_title=keluyuran-by-romain-osi-fr" /><param name="name" value="__sse4053507" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed id="__sse4053507" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="340" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/doc_player.swf?doc=romainosinewspaperdraft16pages-100511124700-phpapp02&amp;rel=0&amp;stripped_title=keluyuran-by-romain-osi-fr" name="__sse4053507" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="padding: 5px 0 12px;">View more <a href="http://www.slideshare.net/">documents</a> from <a href="http://www.slideshare.net/gustaffharriman">Common Room Networks Foundation</a>.</div>
</div>
<p>KOTA sesungguhnya terbuat dari lampu-lampu, sosok-sosok yang bergerak seperti hantu, dan seberkas hasrat untuk menaklukkan kegelapan. Sejak orang menyalakan lampu gas di abad ke-19, terlebih-lebih sejak energi listrik merambat ke seantero bumi, orang membangun kehidupan malam di wilayah-wilayah urban. Begadang dirayakan baik oleh lagu dangdut maupun oleh program televisi. Kelelawar menyingkir, dan kunang-kunang berakhir. Kota adalah kelelawar. Kota adalah kunang-kunang.</p>
<p>“<em>Pencahayaan kota mengubah cara orang memikirkan&#8212;dan karena itu menghidupi&#8212;malam. Kegelapan, yang begitu lama merintangi kegiatan manusia, seketika jadi rangsangan,</em>” tulis William Chapman Sharpe dalam bukunya, New York Nocturne: the City After Dark in Literature, Painting, and Photography, 1850–1950  (2008).</p>
<p>Kota yang dirangsang cahaya adalah kota yang menghardik mati listrik. Lalu-lintas, donor darah, dan bursa efek tidak boleh macet. Adapun gulita bisa menghilangkan dunia persepsi seketika. Kota tidak mau macet, juga tidak mau meraba-raba dalam kegelapan. Kota takut oleh kegelapan. Bahkan di mal-mal yang terus bermunculan neon ribuan watt seakan ingin memperpanjang siang. Orang yang mengunjungi mal baru menyadari hadirnya kegelapan manakala sudah kembali ke jalan.</p>
<p>Tapi benarkah kegelapan dapat ditaklukkan? Rasa-rasanya, tidak. Bahkan pada saat-saat tertentu orang sepertinya justru merindukan kegelapan. Setidak-tidaknya, orang masih mencari suram dan redup di sudut-sudut kafe atau taman kota, mungkin buat mengelola cinta, puisi, atau urusan lainnya. Yang paling nyata, kiranya, adalah semacam ruang antara: gelap di satu sisi, terang di sisi lain. Di antara gelap dan terang, kita membangun persepsi tiada henti sebagaimana yang kita wujudkan melalui seni rupa dan fotografi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>ADA kunang-kunang dari Prancis, namanya Romain Osi. Bulan ini ia berkunjung ke Bandung. Fotografer kelahiran Paris tahun 1980 ini memotret kota ini malam hari, kemudian memamerkan karyanya di ruang-ruang terbuka. Centre Culturel Français de Bandung bersama Common Room Networks Foundation menyelenggarakan kegiatan ini. Judulnya, “Keluyuran”.</p>
<p>Sebelum ke Bandung, Romain mengunjungi Phnom Penh, Rio de Janeiro, Havana, dll. Orang menyebutnya “fotografer kelana” (photographe de l’errance). Ia memotret kota demi kota, bergerak dari suasana malam yang satu ke suasana malam yang lain. Jika kita mengunjungi websitenya (<a href="http://www.romainosi.com" target="_blank">http://www.romainosi.com</a>), kita dapat melihat hasil-hasil perjalanan malamnya, yang beberapa di antaranya dipamerkan pula di di Galerie Esp’Art, CCF de Bandung, dengan tajuk “Urban Dream”.</p>
<p>Dalam hal udar-ider di Bandung untuk berkarya, Romain adalah tamu Prancis kesekian. Pada akhir dasawarsa 1990-an, misalnya, Marc Le Moullec berkeliling kota, masuk keluar gang, mengendarai sepeda motor Jepang. Ia mencatat nama-nama jalan, permukiman, dan kawasan. Hasilnya adalah atlas Kota Bandung. Dengan cara serupa, ia pun membuat atlas Surabaya dan Jakarta.</p>
<p>Romain sendiri, tentu saja, tidak membuat peta. Sekiranya peta disebut model tata ruang, fotografer memasuki ruang itu sendiri. Berbekal kamera digital, sambil membonceng sepeda motor, ia mengunjungi bagian-bagian kota, menuruti kata hati. Di titik-titik tertentu ia berhenti, kadang seperti menunggu sesuatu beberapa saat, kadang pula mengamati-amati keadaan di sekitarnya. Lalu, pada saat yang tepat, ia memotret suasana malam di situ. Kemudian, ia keluyuran lagi ke sudut-sudut lain kota ini. Begitu seterusnya beberapa hari lamanya.</p>
<p>Boleh dikata, ia bekerja tanpa rencana. Apa yang ingin dipotret, atau di mana hendak memotret, tidak ditentukan sebelumnya. Keluyuran itulah yang kiranya terpenting, seperti telah jadi metode tersendiri. Sewaktu keluyuran ia akan tahu di mana mesti berhenti dan ke mana kamera mesti diarahkan.</p>
<p>“<em>Metode saya sepenuhnya mengandalkan perasaan,</em>” kata Romain ketika diajak berbincang pada suatu siang di Bandung, beberapa waktu lalu.</p>
<p>Seperti yang ia lakukan di kota-kota lain di mancanegara, di Bandung pun Romain memilih malam sebagai waktu pemotretan. Bandung sendiri, sebagaimana Solo dan kota-kota lain di Indonesia, niscaya punya cara tersendiri untuk menghidupi malam. Sebuah lagu keroncong ikut merayakan pemandangan “Bandung Selatan di waktu malam”: lampu-lampu yang berserakan bagai jutaan kunang-kunang. Bahkan inilah kota yang salah satu fase sejarahnya diisi dengan imajinasi tentang “lautan api”—kota yang pernah membakar dirinya justru buat menegaskan identitasnya.</p>
<p>Buat sebagian besar warga Bandung, kota ini kiranya hanya dikenal dari jam delapan pagi hingga jam 5 sore. Selepas senja, apalagi setelah larut malam, Bandung seakan mereka tinggalkan sebelum ditemui lagi esok pagi. Adapun Romain, di saat-saat kita tidur dan mematikan listrik, keluyuran di kota ini buat menangkap momen-momen estetik dari ruang yang sedang ditinggalkan banyak orang. Ia menangkap lampu-lampu, sosok-sosok yang seperti hantu, dan latar yang terbungkus semacam kabut halusinasi. Itulah kiranya puisi visual tersendiri—citraan visual yang barangkali tidak begitu kita kenali selama ini.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, Romain seperti sedang membaca puisi “Nightwood” karya Djuna Barnes dari tahun 1930-an yang juga dikutip oleh William Chapman Sharpe dalam buku itu tadi: <em>Now the nights of one period are not/the nights of another.//Neither are the nights of one city the/nights of another.</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>FOTO-FOTO karya Romain hasil keluyuran di Bandung dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan sejumlah segi dari wajah Bandung. Temanya meliputi antara lain suasana kehidupan sosial,  lanskap kota, dan lingkungan alam. Objek foto sama sekali tidak dimanipulasi. Tekanan diletakkan pada sudut pandang, waktu, dan teknik pemotretan, terutama untuk menghasilkan efek-efek puitik dari hasil pemotretannya.</p>
<p>Dalam foto-foto karya Romain, pepohonan yang tumbuh di punggung bukit Bandung Utara seperti iring-iringan manusia dalam upacara. Rimbunnya dedaunan pohon tinggi bagai gumpalan asap bom atom. Kabel-kabel yang malang melintang pada tiang listrik bak ruwetnya berbagai orientasi di ruang sosial. Bentangan tembok beton di balik gedung-gedung tinggi tak ubahnya dengan tembok pemisah antarkaum. Adapun lanskap kota tampak terhampar di bawah kilatan guntur. Kita pun dapat melihat pusaran cahaya di sekeliling penjaja makanan yang tengah mendorong gerobaknya, barangkali seperti pusaran nasib itu sendiri.</p>
<p>Romain menangkap gerak dan nuansa dari pemandangan yang terhampar di depan dirinya, sedemikian rupa sehingga foto-fotonya sering menimbulkan kesan surrealistis. Dalam foto-fotonya kita memang melihat kota yang sudah kita kenal tapi sekaligus jadi agak asing karena pemandangan yang diperlihatkannya tidak seperti pemandangan yang biasa kita lihat. Kita seperti diajak melihat kota kita dengan sejenis kesadaran baru. Dengan kata lain, wajah kota kita, dengan segala masalahnya, seakan jadi puisi tersendiri.</p>
<p>Foto-foto itu, dalam ukuran besar, kemudian dipajang di ruang-ruang terbuka, antara lain di Babakan Asih, juga di taman sekitar Balai Kota. Dengan demikian, foto-foto itu seakan jadi cermin tersendiri bagi Bandung, dan warga kota yang lalu-lalang di sekitarnya, tentu, dapat ikut mempertimbangkan gambaran kehidupan kota yang tercermin di situ.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>BANDUNG, dan Priangan umumnya, sejak dulu merupakan salah satu titik persinggungan Asia dengan Eropa yang telah menghasilkan begitu banyak citraan visual seperti drawing, lukisan, karya litografi, dan tentu saja foto. Pada zaman kolonial kegiatan memvisualisasikan alam dan penghuni kawasan Priangan dilakukan baik oleh peneliti kebumian dan kebudayaan maupun oleh seniman. Di antara citraan-citraan visual itu ada yang dijadikan ilustrasi dalam bahan bacaan. Buku Andries de Wilde, De Preanger Regentschappen op Java Gelegen (Keresidenan Priangan di Wilayah Jawa) (1830), misalnya, disisipi 4 gambar hitam putih tentang alam Priangan. Tak sedikit pula foto yang dijadikan kartu pos. Selembar kartu pos bertiti mangsa Desember 1899, contohnya, memperlihatkan sebuah foto bertajuk “Preanger Vrouw” (Gadis Priangan): seorang gadis telanjang dada sedang berdiri seraya menyunggi seikat kayu bakar berlatarkan sebuah lukisan panorama.</p>
<p>Kota Bandung sendiri, yang dalam poster-poster buatan majalah Mooi Bandoeng dijuluki “Europa in de Tropen” (Eropa di Kawasan Tropis), menjelma dari persinggungan orang sini dengan para pendatang dari seberang lautan, tak terkecuali dari lingkungan imperium Prancis. Waktu Bandung mulai dibangun pada 1810 Pulau Jawa termasuk ke dalam kekuasaan Prancis (1809-1811). Konon, Herman Willem Daendels, jenderal pilihan Napoleon Bonaparte dan gubernur di Jawa dari 1808 hingga 1811, menandai awal pembangunan kota ini dengan menancapkan tongkat di titik kilometer nol (Jl. Asia-Afrika kini). Peristiwa itu tampak sebagai rincian tersendiri dari keperkasaan tangan Daendels yang membentangkan jalan 1000 kilometer dari Anyer ke Panarukan. Adapun di antara berbagai “warisan budaya” yang harus dirawat di kota ini tak lain dari gedung-gedung putih peninggalan Belanda.</p>
<p>Interaksi antarbudaya, tentu, ditopang oleh kesanggupan melakukan perjalanan. Dalam kebudayaan Sunda sendiri, pentingnya perjalanan sesungguhnya ditekankan pula, sebagaimana yang dapat kita carikan rujukannya mulai dari kisah Bujangga Manik (abad ke-16) hingga wawacan Panji Wulung (abad ke-19). Pangeran Jaya Pakuan alias Bujangga Manik melakukan perjalanan spiritual menyusuri pulau Jawa hingga ke Bali, dalam dua kali putaran, seraya mencatat nama-nama tempat. Adapun dalam Wawacan Panji Wulung karya R.H. Moehamad Moesa (1822-1886), yang pertama terbit pada 1876, digubah dalam bentuk puisi terikat, berupa asmarandana, petuah tentang hal itu berbunyi: Kieu wurukna ki patih, hé ki Panji anak bapa, ayeuna agus ges gedé, meujeuhna diajar nyaba, ka dayeuh-dayeuh lian, supaya réa panimu, kanyaho nu langka-langka. Panji Wulung sendiri, sebagai pangeran Sunda, bersahabat dengan pangeran Bugis, pergi ke tanah Cempa, Malayu, Keling, dan Patani.</p>
<p>Inilah kiranya yang pada gilirannya memungkinkan timbulnya kehendak mengupayakan translasi kultural. Penulis Mohamad Ambri, misalnya, mengadaptasi drama Moliere, Le Medicin Malgre Lui, ke dalam bahasa Sunda dan melahirkan sebuah novel berjudul Si Kabayan jadi Dukun (1933). Demikian pula Bupati Bandung zaman kolonial, R.A.A. Wiranatakusumah, mengadaptasi buku karya penulis Prancis dan Aljazair, Etienne Dinet dan Slimane ben Ibrahim, La Vie de Mohammed: Prophete d’Allah (1918) ke dalam bahasa Belanda, Het Leven van Mohammad de Profeet van Allah (1940), dan bahasa Sunda, Riwajat Kandjeng Nabi Moehammad s.a.w. (1941).</p>
<p>Hari ini, ketika generasi Romain Osi berkunjung ke Bandung, interaksi antarbudaya itu kiranya tetap berlangsung.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/keluyuran-urban-photographic-sample-from-bandung-indonesia-romain-osi-fr-14-sd-28-mei-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Urban Dream &#124; Exhibition by Roman Osi (FR)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/urban-dream-exhibition-by-roman-osi-fr/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/urban-dream-exhibition-by-roman-osi-fr/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 16:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=917</guid>
		<description><![CDATA[Pembukaan : Senin, 3 Mei 2010, Pukul  19.00 WIB Pameran: 4 s/d 27 Mei 2010 Venue: Galerie Esp’Art, CCF Bandung, Jl. Purnawarman no. 32 Pukul: 10.00 – 19.00 WIB Urban Dream &#124; Exhibition by Romain Osi Profil Singkat Romain Osi adalah anggota dari agensi fotografi Picture Tank. Sebagai seorang fotografer independen, ia bekerja berdasarkan pesanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/webflyer_romain.jpg" border="0" alt="photography,common room" width="480" height="339" /></p>
<p>Pembukaan : Senin, 3 Mei 2010, Pukul  19.00 WIB<br />
Pameran: 4 s/d 27 Mei 2010<br />
Venue: Galerie Esp’Art, <a href="http://www.ccf-bandung.org/in/index.htm" target="_blank">CCF Bandung</a>, Jl. Purnawarman no. 32<br />
Pukul: 10.00 – 19.00 WIB</p>
<p><span id="more-917"></span></p>
<p><strong>Urban Dream | Exhibition by Romain Osi</strong></p>
<p><strong>Profil Singkat</strong><br />
Romain Osi adalah anggota dari agensi fotografi Picture Tank. Sebagai seorang fotografer independen, ia bekerja berdasarkan pesanan reguler dari beberapa institusi dan agensi komunikasi. Selain itu, ia juga kerap memberikan workshop seni dan bekerjasama dengan penerbit di Perancis ataupun media internasional. Sejak tahun 2004, kegiatan pamerannya di Perancis maupun di luar negeri semakin meningkat.</p>
<p>Ia kerap dijuluki sebagai fotografer petualang. Dalam karyanya, Romain Osi memiliki kecenderungan untuk membuka cakrawala dimana halusinasi fantastik ataupun khayalan mengenai tempat-tempat yang tak terduga menjadi latar yang tepat untuk mencari kebenaran.</p>
<p>Dalam pameran Urban Dream, Romain Osi mengirim kita kembali kepada bayangan sebagai manusia urban yang terombang-ambing di antara ruang kehidupan. Sebuah ruang yang dibangun atas detik waktu yang mengambang pada tempat dan aktifitas yang seakan tengah menunggu, di mana pikiran kita bercampur-baur dan bergerak tak tentu arah. Ruang urban adalah teater perkotaan yang luar biasa, yang lahir dari kebiasaan kita yang luar biasa.</p>
<p><strong>Statemen Seniman</strong><br />
Manusia urban ini tengah berada dalam perjalanan. Dengan tak jemu-jemu dia menjelajah, mencari, melewati pemandangan dan bertanya-tanya di dalam hati. Dia mengejar bayangan perkotaannya untuk mencoba eksis, menemukan suatu tempat dan menambatkan keharuman identitas yang akan dibangunnya sejenak di tempat-tempat tersebut.</p>
<p>Untuk saat ini dia mencoba semua jalan.</p>
<p>Kota cantik ada di hadapan. Bergetar dan berkilau, serta menyambutnya dengan bisikan: kamu harus mengikuti semua tanda-tanda. Aku adalah siluet dari lampu jalan, ujung dari gang atau jendela yang masih terang. Kamu akan menemukan aku di mana-mana; di sana atau pun di sebelah. Tapi kamu juga harus meninggalkan aku. Mencari lebih jauh untuk bertemu kembali dengan aku di akhir perjalanan.</p>
<p>Begitulah. Ia akan menemukan dirinya.</p>
<p>Sendiri, anonim di antara sedemikian banyaknya orang, ia melangkah perlahan, mencoba beberapa pertemuan dan memperhatikan di kejauhan. Ia hanya menemukan bayangan-bayangan atau pemandangan yang tinggi, tergantung di situ dalam keadaan menunggu.</p>
<p>Sudah diputuskan. Dia akan menjadi pahlawan dari kisahnya sendiri. Suatu pencarian yang akan membawanya hingga ujung dunia, hingga batas kota, bahkan lebih jauh dari semua itu. Dengan berdiam di pantai itu, di depan alang-alang yang tinggi atau pada bukit pasir yang terlupakan, ia mungkin akan merasakan suatu jejak. Puing-puing yang tanpa dia mengerti mengapa, tampaknya ingin berhubungan dengan yang tersisa. Cerminan lembut dari ruang urban ini hanya akan menghasilkan satu hal: mengingatkannya lamat-lamat pada kota. Dan ia kemudian harus kembali meneruskan perjalanan.</p>
<p>Dan demikianlah seterusnya.</p>
<p>Demikianlah seterusnya.</p>
<p><strong>(<a href="http://romainosi.com/" target="_blank">Romain Osi</a>)</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/urban-dream-exhibition-by-roman-osi-fr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LIDAH BERCABANG (Forked Tongue) &#124; Solo Exhibition by Adhya Ranadireksa &#124; PLATFORM3, 25 April – 15 Mei 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/lidah-bercabang-forked-tongue-solo-exhibition-by-adhya-ranadireksa-platform3-25-april-%e2%80%93-15-mei-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/lidah-bercabang-forked-tongue-solo-exhibition-by-adhya-ranadireksa-platform3-25-april-%e2%80%93-15-mei-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 04:05:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Visual Arts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=838</guid>
		<description><![CDATA[Date: 25 April – 15 Mei 2010 Opening: 25 April 2010 pkl. 16.00 WIB (Followed by artist talk) Venue: Platform3, Jl. Cigadung Raya Barat no. 2, Bandung 40191 Deskripsi Singkat Adhya S. Ranadireksa, fotografer dengan fokus keahlian fotografi still life, merespon tawaran tema dari Platform3 “menyoal kolonialisme”, dengan mengetengahkan soal tubuh. Tubuh di sini adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://infoplatform3.files.wordpress.com/2010/04/25861_418439552106_623707106_5667551_2682102_n.jpg" alt="" width="480" height="677" /></p>
<p>Date: 25 April – 15 Mei 2010<br />
Opening: 25 April 2010 pkl. 16.00 WIB (Followed by artist talk)<br />
Venue: Platform3, Jl. Cigadung Raya Barat no. 2, Bandung 40191</p>
<p><strong>Deskripsi Singkat</strong><br />
Adhya S. Ranadireksa, fotografer dengan fokus keahlian fotografi still life, merespon tawaran tema dari Platform3 “menyoal kolonialisme”, dengan mengetengahkan soal tubuh. Tubuh di sini adalah organ tubuh yang diurai, dipajang, juga diawetkan. Di mata Adhya, organ-organ tubuh serupa ilustrasi. Ia mengilustrasikan tindakan kolonialis menguasai manusia jajahan lebih pada “organ dalam”, pada penguasaan indera, pada cara berpikir, cara bicara, cara pandang, cara merasa, pendek kata cara kita memandang dunia pun memahami diri sendiri. Adhya memotret organ-organ tubuh dalam berbagai posisi yang menyarankan kiasan tertentu. Kiasan ini serupa ungkapan “lidah yang bercabang”. Organ-organ tubuh, ketika diperlakukan seperti itu, menampakan bagaimana kita, selain menjadikan tubuh sebagai objek tatapan, juga memaknainya. Bagi Adhya, pemaknaan ini berdasar pada keyakinan bahwa penguasaan ala kolonialisme menjangkau jauh melebihi pengertian harfiah “koloni”.</p>
<p><span id="more-838"></span></p>
<p><em>Adhya Ranadireksa, a photographer with a focus on still life photography skills, responding to bids from Platform3 theme &#8220;Questioning colonialism&#8221;, the asserting about the body. Here is the organ of the body of a decomposed body, displayed, is also preserved. In the eyes Adhya, similar organs of illustration. He illustrates the action of human collectivities colonialist control over the &#8220;internal organs&#8221;, on the mastery of the senses, in ways of thinking, way of talking, ways of view, how to feel, in short, the way we view the world even understand ourselves. Adhya photographing organs in various positions which suggest a specific figure. This metaphor similar to the phrase &#8220;a forked tongue.&#8221; Organs of the body, when treated as such, reveals how we, in addition to the body as an object of stares, also interpret. For Adhya, meaning is based on the belief that mastery of the style of colonialism reach far beyond the literal sense &#8220;colony&#8221;.</em></p>
<p><em>Adhya Ranadireksa, born in Bandung in 1972, was educated at the Istituto Europeo Design in Rome, Italy with a major study of still-life photography (1994-1997), founder of Studio CREATORIVM Commercial Photo &amp; Graphic Design studio in Jakarta; Hypnosis photography. Agency, Jakarta; Inova Research School of Photography Photography for linguistic applications. Bandung; Communion illumination. Research for the common art of photography. Bandung; Kreator &amp; Ass Photography commercial photography studio in Jakarta. Several group exhibitions: 2010: “Definitive, Common Room, Makassar;” Mist “, Lawangwangi, Bandung, 2009:” Imagined Portraits “, Gallery Soemardja ITB, Bandung;” Bandung Art Now “, National Gallery of Indonesia, Jakarta; 2008:” A Decade of Dedication “, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung,” Indonesian Dreams “, Erasmus Huis, Jakarta, 2007:” The 22nd Asian International Art Exhibition “(AIAE), Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Solo exhibitions: 1996: Solo Exhibition in CTS (Centro Turistico Studententesco) Rome, Italy; 1995: Solo Exhibition Annual Anniversary of IED Thema: Bianco Nero, Rome, Italy.</em></p>
<p>Informasi: <a href="http://infoplatform3.wordpress.com/" target="_blank">http://infoplatform3.wordpress.com/</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/lidah-bercabang-forked-tongue-solo-exhibition-by-adhya-ranadireksa-platform3-25-april-%e2%80%93-15-mei-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru 2009!</title>
		<link>http://commonroom.info/2009/selamat-tahun-baru-2009/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2009/selamat-tahun-baru-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 05:18:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2009/selamat-tahun-baru-2009/</guid>
		<description><![CDATA[* Photo by Rimba Patria]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-344" title="2009" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2009/01/2009.jpg" alt="2009" width="480" height="320" /></p>
<p>* Photo by <a href="http://rimbapatria.wordpress.com/" target="_blank">Rimba Patria</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2009/selamat-tahun-baru-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Flash Package by Colorburst (polaroid, 2007)</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/flash-package-by-colorburst-polaroid-2007/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/flash-package-by-colorburst-polaroid-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Nov 2007 13:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Images]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Visual Arts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/flash-package-by-colorburst-polaroid-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Flash Package by Colorburst Polaroid (600/DE) 2007]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://i189.photobucket.com/albums/z58/eagleboyisatoy/package.jpg" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket" border="0" /></p>
<p>Flash Package<br />
by <a href="http://colorburst.multiply.com/photos/album/3/Polanoid_android" target="_blank">Colorburst</a><br />
Polaroid (600/DE)<br />
2007</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/flash-package-by-colorburst-polaroid-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOMBA FOTO &#8211; LAW IN FRAME</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/lomba-foto-law-in-frame/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/lomba-foto-law-in-frame/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 10:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koesuma</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA MENYELENGGARAKAN LOMBA FOTO LAW IN FRAME KRIMINAL, LALULINTAS, KKN, TIMBANGAN, PENGACARA, KEADILAN, TERATUR, NARKOTIKA, PEKERJA ANAK, TKI, UNDANG-UNDANG, PEMBAJAKAN, ILLEGAL LOGING, PIDANA, PENGADILAN, KORUPSI, HAKIMâ€¦IT&#8217;S JUST ABOUT LAW&#8230;. CAPTURE THE LAW IN THE ACT SEND YOUR PICTURE TO: KAMPUS BARU FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA, DEPOK 16424. PENGHARGAAN I RP 1.500.000 + [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA MENYELENGGARAKAN</p>
<p>LOMBA FOTO LAW IN FRAME</p>
<p>KRIMINAL, LALULINTAS, KKN, TIMBANGAN, PENGACARA, KEADILAN, TERATUR, NARKOTIKA, PEKERJA ANAK, TKI, UNDANG-UNDANG, PEMBAJAKAN, ILLEGAL LOGING, PIDANA, PENGADILAN, KORUPSI, HAKIMâ€¦IT&#8217;S JUST ABOUT LAW&#8230;.</p>
<p>CAPTURE THE LAW IN THE ACT<br />
SEND YOUR PICTURE TO: KAMPUS BARU FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA, DEPOK 16424.</p>
<p>PENGHARGAAN I RP 1.500.000 + Trophy<br />
PENGHARGAAN II RP 1.000.000 + Trophy<br />
PENGHARGAAN III RP 750.000 + Trophy</p>
<p>SYARAT-SYARAT LOMBA FOTO:<br />
1. LOMBA INI TERBUKA UNTUK UMUM (AMATIR DAN PROFESIONAL)<br />
2. TIAP FOTO HARAP DISERTAI JUDUL, LOKASI, NAMA PEMOTRET DAN IDENTITAS LENGKAP.<br />
3. REKAYASA ATAU MONTASE FOTO TIDAK DIPERKENANKAN.<br />
4. FOTO ADALAH MILIK SENDIRI DAN PEMOTRETAN DAPAT DIGUNAKAN DENGAN MEDIA FILM/DIGITAL.<br />
5. JUMLAH FOTO YANG DIKIRIMKAN MAKSIMAL 3 FOTO UNTUK TIAP PESERTA.<br />
6. CETAK HITAM PUTIH/WARNA UKURAN 13 X 18 CM (5R).<br />
7. FOTO YANG KELUAR SEBAGAI PEMENANG MENJADI HAK PANITIA UNTUK DIPUBLIKASIKAN.<br />
8. FOTO DIKIRIMKAN DALAM AMPLOP TERTUTUP.<br />
9. FOTO DAPAT DISERAHKAN LANGSUNG ATAU DIKIRIMKAN KE STUDIO PERFILMA: GEDUNG D FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA. DITERIMA PALING LAMBAT TANGGAL 7 FEBRUARI 2007 (CAP POS)</p>
<p>JURI: OSCAR MOTULOH (GALERI FOTO JURNALISTIK ANTARA)</p>
<p>CP : NIKI 08158303363</p>
<p>DIPERSEMBAHKAN OLEH:<br />
PEKAN RAYA PERFILMA<br />
VOLUME (VOICE OF LAW TROUGH MEDIA)<br />
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/lomba-foto-law-in-frame/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

