Tagged: Music RSS

  • blauloretta 9:08 am on June 3, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , Music, ,   

    Experimentasi Media | Biosampler, 2001 

    Audio/visual experimentation by Biosampler back in 2001. Using overhead projectors (with various liquids and objects), video projectors, and slide projectors. As for Audio, we’re using pc’s running fruity loops and various tracker softwares, keyboard, bass, didgeridoos, and electric guitar. (CSB)

    For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like to look at it as an activity of creating an evolving visual experience/ universe. First, the gap between spectator/ performer, stage/ seat, premeditated/ spontaneous, mine/ yours etc; should be obliterated. To rebuild something we have to destroy/ deconstruct the initial form and limitations. Second, interaction and respond is imminent. By doing so, we have created a moebius loop where an idea shall move back and forth, left to right, passed from person to person, and it would evolve and change while being so. And that is Real Time Interaction. It’s like a complex game of “pong”.” (CSB)

    Biosampler
    The year 2000 was the early stage of collaborative meeting from a group of people with similar concern and interest in Muararajeun Kaler area. An intense gathering in a house that located in a dense suburban area in Bandung has emerging into a so-called ‘collective attitude’, which is regarded as an act of self-indulgent through a creative process. Each member of this collective often use computer technology, creating piles of works in analog and digital format of sounds, music, images, animations, films, etc. From personal activities, it then has expanded into a collective act to form artistic composition through the creating sensation of sounds, light, and space; which is done spontaneously and sometimes with diverse goal and objective. Some surprising results often happen from their freedom to act and create, as well as dialogues and intervention. What they did has been growing from a daily attitude into an art performance.

     
  • Idharrez 11:42 am on May 27, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Music, OpenLabs   

    Oleh-Oleh Bottlesmoker dari Filipina | Oleh Idhar Resmadi 

    music,bottlesmoker

    Beberapa waktu lalu grup Electropop asal Bandung, Bottlesmoker bertandang ke negara Filipina dalam rangka meramaikan satu gelaran festival musik cutting edge (non-mainstream) bertajuk A*Fest 2010. Dalam gelaran tersebut mereka tampil selama dua kali yaitu Route196 pada 15 April 2010 dan Saguijo pada 16 April 2010. A* Fest sendiri merupakan festival musik cutting edge seantero Asia yang diselenggarakan oleh indie label asal Manila, Kindassault Records. Festival ini digelar secara marathon selama empat hari berturut-turut mulai tanggal dari tanggal 14-17 April 2010 di empat venue yang berbeda.

    (More …)

     
  • Idharrez 8:21 am on April 16, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Music,   

    Bottlesmoker Perform at A*FEST2010 (Philippines) 

    Ini adalah kesempatan kedua kalinya Bottlesmoker menyambangi negara tetangga. Masih di kawasan Asia Tenggara, kali ini di Manila – Filipina. Kindassault Records sebagai perusahaan rekaman independen yang cukup fundamental di Manila menggelar sebuah perhelatan akbar yang memfasilitasi band-band independen seantero Asia untuk beraksi dalam acara yang bertajuk A*FEST.

    (More …)

     
  • blauloretta 10:18 am on March 4, 2009 Permalink | Reply
    Tags: Music,   

    Menghempas Lelah | New album by Dining Out | Absolut Records, 2009 

    dining_out_01

    Find out in local shop and distros!

     
  • blauloretta 7:59 am on January 17, 2008 Permalink | Reply
    Tags: Music,   

    Terlilit Asa | Burgerkill (Cerahati, 2004) 

    Terlilit Asa oleh Burgerkill (Sony Music, Berkarat, 2004)
    Videoklip oleh Cerahati

     
    • fauzi 8:30 am on January 15, 2009 Permalink

      hay gua uzie…
      gyua tu sukaaaa banxet ma LaGun tErliliT asa

  • blauloretta 7:10 am on November 22, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , Music   

    Strategi Baru Label Rekaman “Membunuh” Artis-Artisnya 

    Oleh http://wenzrawk.multiply.com/

    Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.

    Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.

    Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label).

    Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih “belajar” maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label :)

    Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.

    Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.

    Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya.

    Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.

    Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:

    - Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.

    - Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan “pembusukan”. Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.

    - Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita :)

    - Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It’s a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman!

    - Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo’on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari “kuli musikal.”

    Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.

    Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).

    Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya.

    Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming “fame & fortune” di industri musik. Padahal belum tentu bakal “booming” juga :)

    Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.

    Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself!

    Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi “popularitas maksimal dua atau tiga album saja!” Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.

    Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band! :) Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan “easy come, easy go!”

    Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It’s not the end of the world as we know it :) Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.

    Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.

    Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai “label rekaman”. Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya….. dan mereka cukup berhasil! Salute!

    Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar! :)

    Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.

    Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa.

    Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu:

    Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.

    Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.

    Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall :) Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.

    Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.

    Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!

    Hope we could make real changes together.

    For better, not worst….

    Vive le rawk!

    ** Ikuti diskusi mengenai topik ini di halaman berikut.

     
    • DANU 1:31 pm on August 30, 2008 Permalink

      setuju……. gw jd taakut bro…. coz gw ru kontrak ma band gw dgn slh satu majorlabel… dgn sistem ky yg lo prediksi…. hrs gmn yup?

    • monmon 4:35 am on October 25, 2008 Permalink

      thanks bro….
      aku suka ini tulisan…
      skrng bandku lg giat bikin demo…
      tp jd takut jg nih..[^_^]

    • Amanda 2:24 am on August 19, 2009 Permalink

      Thx, bro! Tulisan lo ini bnr” b’manfaat utk gw coz gw skrg lg berencana utk nawarin dem rekaman gw k major label. Tp stlh baca tulisan ini gw jd takut sm karier menyanyi gw d masa dpn (klo demo gw ditrima & gw bs rekaman). Ksi tips cara milih label yg baik donk. Thx!

  • koesuma 12:00 am on February 23, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , , Music   

    Listening Session: Endah N Rhesa 

    ~Endah: guitar, vocal~Rhesa: bass~

    JUMAT, 23 FEBRUARI 2007
    PK. 15.00
    Tempat: Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama 8 Bandung

    Featuring Musicians
    Yandri Kristanto Trombone
    Benito Trumpet
    Andre Harihandoyo Electric Guitar

    Gratis dan terbuka untuk umum
    Informasi hubungi 022 2503404

    Endah n’ Rhesa adalah duo gitar vokal dan bass dengan konsep akustik minimalis modern yang terbentuk tahun 2004.Karakter musiknya mewakili karakter natural, jujur dan tidak pernah habis termakan tren yang berlaku. Dikemas sebagai musik yang cooling down, casual elegant, personal & intimate, lirik-liriknya bercerita tentang cinta, ekspresi dan perasaan hati, kehidupan serta pemikiran dari hasil perenungan yang mendalam. Banyak musisi yang mempengaruhinya, diantaranya: Dave Matthews Band, King of Konvinience, Jack Johnson, James Taylor, John Mayer dll. Duo Endah n’ Rhesa ini akan tampil pada acara Java Jazz 2007 mendatang. Lebih lanjut tentang Endah n’ Rhesa klik:
    http://www.myspace. com/endahnrhesa

    Tentang Listening Session
    Listening Session adalah bagian dari kegiatan Klab Musik Common Room Networks, dimana forum ini menjadi tempat berinteraksi, berbagi pengalaman proses kreatif antara musisi dan pendengarnya. Informasi lebih lanjut tentang Listening Session, silahkan hubungi: Nunung di Common Room, setiap hari kerja di 022 70800620

     
  • koesuma 10:52 am on January 29, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , Music   

    Listening Session Featuring KUBURAN 

    Jumat, 26 Januari 2007
    Pk. 15.00
    Tempat: Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama 8 Bandung

    Terbuka Untuk Umum dan Gratis

    Mulai Januari ini, Klab Jazz, Klab Klasik, kami lebih ke dalam Klab Musik. Setiap bulannya, kami mengagendakan Listening Session_ tempat dimana musisi dan pendengarnya bisa berinteraksi melalui sharing pengalaman bermusik.

    Januari ini, Listening Session kedatangan tamu, KUBURAN, band asal Bandung yang bermottokan “Jauhi Narkoba, Utamakan Keluarga.. Budayakan Bersedakah Minimal Donor Darah..”

    Ingin band kamu jadi tamu di Listening Session?
    hubungi: Niken

    Tentang Kuburan Klik: http://www.kuburanbersaudara.com

    “Ria Jenaka / KISS?”

    Dengan tegas band ini memilih Ria Jenaka sebagai inspirasi dandanan mereka, karena menurut mereka Ria Jenaka lebih sering membuat mereka takut pada hari Minggu siang di TVRI semasa mereka kanak-kanak. Karena Ria Jenaka itu gothic. Itulah yang membuat Kuburan ingin berpenampilan seperti sekarang. Kuburan memproklamirkan diri sebagai “band paling gothic no.2 di Indonesia.”

    Kuburan mengeksistensikan diri di kancah musik dan aksi panggung Indonesia bermula pada tahun 2001, tidak jelas kapan tepatnya tanggal berdirinya band ini, yang pada akhirnya mereka sendiri menempatkan 11 September 2001 sebagai tanggal ulang tahun mereka karena bertepatan dengan tragedi berdarah WTC (bukan ITC atau BTC :P ).

    Pada awal karir, band ini merupakan band cover version yang selalu membawakan lagu-lagu berlirik Indonesia yang pada saat itu jarang dibawakan oleh band lain. Lagu-lagu cover version yang mereka bawakan sangatlah terseleksi dengan ketat dan untuk artisnya sendiri beruntung dalam segi promosi karena Kuburan ikut andil mengangkat penjualan album mereka .

    Rully (Penyanyi Inti), Iqbal (Vokalis Utama), Urie (Pelantun Tembang), Dino (Pemukul Drummer), Raka (Pemain Gitaris), Gitar is Doni, Deni (The Bassistman), Udhe (Kubordist), Handi, Anas, dan Baksil sebagai Stage Art Guys. Mereka merupakan personil Kuburan yang selalu mengemas aksi-aksi panggung dengan serius, mendidik, memasyarakat, dan nyentrik.

    “Bermain musik itu menyenangkan, jangan dibawa susah…”

    Itulah prinsip Kuburan yang tidak pernah ingin mengotak-ngotakkan jenis/genre musik pada setiap lagu mereka. Kuburan tidak mencoba untuk menciptakan aliran musik yang baru, tetapi mereka akan mengangkat aliran/genre musik yang telah ada sebagai akar dari perkembangan jenis /genre musik itu sendiri, yang pada akhirnya mereka sendiri menyadari bahwa aliran musik mereka dengan sebutan musik “teu puguh” (musik tidak jelas kalau di Indonesiakan dari bahasa sunda -red-).

    Akhirnya dengan mengusung musik “Metal Hidrolik” yang bermaksud musik metal yang naik turun. Artinya jika sampai pada titik terendah suara drum terdengar seperti tam-tam atau gendang. Kuburan ingin menyampaikan kebebasan berekspresi dalam musikalitas mereka dengan skill/kemampuan di atas rata-rata untuk sebuah negara berkembang.

    “Kami bukan Band Lawak, kami hanya ingin menghibur…”

    Terlihat jelas dari penampilan dan dandanan seram mereka tidak mencoba untuk melucu, apalagi melawak seperti yang sering kita lihat acara di televisi-televisi swasta. Mungkin ada hal yang tidak kita ketahui dari band ini sebelumnya. Dengan membawa motto “Jauhi Narkoba, Utamakan Keluarga”, “Budayakan bersedekah, minimal donor darah”, “Brutal tapi takwa”, “Rilek Dulur!!!” sangat menggambarkan bahwa band ini adalah band dengan misi sosial, dan saya (redaksi) beranggapan bahwa band ini adalah utusan Departemen Sosial dari Pemerintah Daerah Jawa Barat. Salut!

     
    • cha mbem 1:29 pm on May 1, 2009 Permalink

      gokiiiiiL abiiiiiiz ….

      p Lg drumerx ,, g nyangka …

      iduuuuup maz to ..

  • koesuma 10:42 am on January 29, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Music,   

    Sub Rosa Poems with Kuburan 

    Pernah dengar lagu-lagu Band Kuburan? Atau beruntung menyaksikan stage performance mereka yang giat bekerja melantunkan tembang dengan aksi yang mengocok perut Anda? Oke, kalau begitu coba bayangkan bagaimana mereka membacakan puisi-puisi dalam buku Sub Rosa, karangan Aurelia Tiara, yang dikategorikan puisi romantis (baca : serius tentunya!).

    Kacau? Hancur? Wah, dugaan Anda tentu meleset layaknya anak panah yang diluncukan oleh Robin Hood mabuk. Jawaban yang tepat dari kompilasi kedua ion tersebut, adalah MELENGKAPI!

    Jadi memang sayang sekali kalau Anda melewatkan acara yang diadakan di Tobucil – Common Room, Jl Kyai Gede Utama 8, Bandung tanggal 21 Januari 2007 kemarin. Petang hari itu, launching buku dan pembacaan puisi Sub Rosa karya Aurelia Tiara berjalan sangat meriah.

    Coba temukan satu jeda menit per menit dimana ada suasana beku. Pasti Anda hanya membuang waktu. Karena tawa membahana…dan itupun tidak merusak esensi seni yang dibawakan secara sungguh-sungguh.

    Dimoderatori oleh Vina Andrea (penyiar radio dan pecinta puisi), acara yang dimulai pukul 15.00 tersebut berjalan lancar, dengan susunan acara :

    1. Perkenalan buku Sub Rosa dan Aurelia Tiara
    2. Pembacaan Puisi oleh Raka (Band Kuburan)
    3. Pembacaan Puisi oleh Rully (Band Kuburan)
    4. Sharing Pengalaman Menulis Sub Rosa
    5. Musikalisasi Puisi oleh Betsi (pemain teater)
    6. Pembacaan Puisi oleh Uri (Band Kuburan)
    7. Persembahan musik dari Klab Klassik
    8. Kolaborasi Pembacaan Puisi oleh Ima Rochmawati dan Holis (pemain teater)
    9. Pembacaan Puisi oleh Dino (Band Kuburan)
    10. Pembacaan Puisi oleh Iqbal (Band Kuburan)
    11. Penutup: Sesi Foto dan Tanda Tangan bersama Tiara
    Inilah acara dimana waktu melesat begitu saja. Terasa tidak waktu dua jam itu.

    Dan untuk Anda yang telah melewatkannya begitu saja, berikut foto-foto acara tersebut :


    Dan siapa sangka mereka yang jagoan tertawa tidak punya jiwa yang sensitif? Hal ini sungguh dibuktikan terbalik oleh personil Band Kuburan, yang memilih puisi Perempuan Senja, Malaikat dalam Frame, Aroma dan Rasa, serta judul lainnya dalam buku Sub Rosa.

    So….don’t you ever dare to judge the ‘book’ from it’s cover! =)

     
    • tim fans 6:35 am on May 13, 2009 Permalink

      HALLOOO FANSTER… DI AKHIR BULAN MEI 2009 INI KITA TIM FANS LAGI NYARI FANS NYA KUBURAN BAND…. SEKALI LAGI FANS NYA KUBURAN BAND MANAAAAAAAAAAAA………… KALIAN AKAN DIJADIKAN TAMU EKSKLUSIFNYA BAND KUBURAN DI ACARA “FANS”. SO KIRIM AJA… BIODATA DAN NO TELP KAMU KE SINI ATAU EMAIL FANS@TRANSTV.CO.ID ATAU SMS AJA KE 081908199749 DAN CERITAIN JUGA KESEHARIAN KAMU DAN ALASAN KAMU KENAPA NGEFANS SAMA BAND KUBURAN. BURAANNN TUNGGU APA LAGI.. SIAPA TAU KAMU YANG BERUNTUNG.

  • koesuma 10:49 am on December 29, 2006 Permalink | Reply
    Tags: , , Music   

    1st Hearing: The Sigit – Live Acoustic Performance 

    Kamis, 14 Desember 2006
    Pk. 15.00 – 18.00 WIB

    The Sigit akan mempersembahkan lagu-lagu dari album terbaru mereka, “Visible Idea of Perfection”

    Ajak teman-teman kamu. Acaranya gratis!!

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel