<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Media Arts</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/media-arts/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 10:07:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dune 4.1 &#124; Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL) &#124; Common Room, 13 &#8211; 18 Agustus 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 04:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[Dune 4.1 &#124; Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL)
13 &#8211; 18 Agustus 2010
Setiap hari pukul 10.00 &#8211; 17.00 WIB
Pembukaan pameran
Jumat, 13 Agustus 2010, pukul 15.00 WIB &#8211; selesai
(dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama)
Venue
Common Room Networks Foundation (Common Room)
Jl. Kyai Gede Utama no. 8
Bandung 40132
Telp./Fax.: +62.22.2503404
URL: http://commonroom.info


Deskripsi
 Apa yang bakal terjadi apabila teknologi melompat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/poster_daan_low.jpg" border="0" alt="commonroom" /></p>
<p><strong>Dune 4.1 | Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL)</strong></p>
<p>13 &#8211; 18 Agustus 2010<br />
Setiap hari pukul 10.00 &#8211; 17.00 WIB</p>
<p><strong>Pembukaan pameran<br />
</strong>Jumat, 13 Agustus 2010, pukul 15.00 WIB &#8211; selesai<br />
(dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama)</p>
<p><strong>Venue</strong><br />
Common Room Networks Foundation (Common Room)<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung 40132<br />
Telp./Fax.: +62.22.2503404<br />
URL: <a href="http://commonroom.info" rel="nofollow">http://commonroom.info</a></p>
<p><span id="more-1407"></span></p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/dune_low_01.jpg" border="0" alt="Dune" /></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
<em> Apa yang bakal terjadi apabila teknologi melompat keluar dari layar dan berbaur dengan alam serta lanskap di zaman kiwari? Perenungan ini pada awalnya adalah sebuah pertanyaan di dalam benak pikiran seniman Daan Roosegaarde ketika mengerjakan karya interaktif ‘Dune’ selama 4 tahun terakhir ini.</em></p>
<p>Dune 4.1 adalah sebuah karya interaktif yang dapat bereaksi terhadap tingkah laku manusia. Gabungan dari fenomena alam dan teknologi ini terdiri dari sejumlah besar serat yang dapat menyala menurut suara dan gerakan pengunjung yang berlalu lalang. Dalam hal ini, Dune 4.1 menyelidiki kondisi alam dalam kaitan futuristiknya dengan tata ruang kota melalui cara melihat, berjalan dan berinteraksi. Berjalan melalui karya ini digambarkan oleh pers internasional seakan tengah berada di dalam ‘Alice in Technoland’ (analogi cerita &amp; film ‘Alice in Wonderland’).</p>
<p>Walaupun Dune 4.1 secara fisik dikemas dengan teknologi tinggi, pameran ini memberi penekanan kepada dunia pengalaman sensual dimana teknologi merupakan alat yang dibutuhkan namun tidak perlu terlihat keberadaannya. Dengan bereaksi terhadap suara dan gerakan, karya instalasi ini mengajak pemirsa untuk menciptakan ruang personal yang seolah menyelimuti seluruh permukaan tubuh kita. Melalui pengalaman ini, para pengunjung pameran mendapat kesempatan untuk membangun kesadaran akan hubungan yang dinamis dengan lingkungan di sekitar mereka.</p>
<p>Di beberapa tempat seperti Slovenia, dimana kebanyakan orang terbiasa pada sebuah situasi di mana dinding pun dapat memata-matai, generasi yang lebih tua agak merasa kurang nyaman dengan kehadiran Dune 4.1. Sebaliknya, aktor-aktor di Hollywood yang melihat karya ini dalam sebuat presentasi kerap mengatakan, “<em>Lagi, lagi, perlihatkan lagi!</em>”</p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/dune_low_02.jpg" border="0" alt="Dune" /></p>
<p>Terinspirasi oleh novel J. G. Ballard dan film-film David Lynch, karya Roosegaarde pada umumnya selalu berusaha untuk berbicara dengan mendorong interaksi yang langsung dengan setiap pengunjung pamerannya. Aplikasi teknologi interaktif mutakhir pada karya Dune 4.1 melahirkan karya cerdas yang dapat memodifikasi penampilannya sendiri berdasarkan deteksi yang dinamis pada perilaku manusia.</p>
<p>Melalui karya ini, Roosegaarde juga menggambarkan ketertarikan yang tidak berkesudahan pada wilayah abu-abu, yang mempertemukan dunia arsitektur, manusia dan teknologi. Dalam dunia seniman, secara konvensional ruang dan lingkungan adalah tempat bagi berbagai bentuk eksperimentasi dan uji coba. Selain itu, secara teoritik juga digambarkan bahwa alam dan teknologi yang berkembang secara bersamaan pada akhirnya akan menyatu. Pameran ini barangkali adalah sebuah gambaran yang kongkrit dari gagasan-gagasan tersebut.</p>
<p>Khusus untuk pameran di Indonesia, Roosegaarde juga terinspirasi oleh novel ‘The Tea Merchants’ yang ditulis oleh Hella Haase. Novel ini berkisah tentang pasangan Rudolf Kerkhoven dan anggota keluarga Jenny Roosegaarde Bisschop yang melakukan perjalanan dari Belanda ke perkebunan teh terpencil di daerah Preanger, Jawa Barat pada tahun 1871. Kisah ini adalah sebuah cerita yang hidup dari dunia yang hilang pada masa Hindia Belanda. Melalui pameran Dune 4.1 di Indonesia, sebuah hubungan baru telah mempertemukan lanskap kebun teh kuno dari keluarga Roosegaarde dengan pemandangan masa depan yang berpadu menjadi sebuah bentang alam yang baru.</p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/roosegaarde_low.jpg" border="0" alt="Daan Rooseegarde" /></p>
<p><strong>Sekilas Tentang Daan Roosegaarde</strong><br />
Berbasis di Rotterdam, Daan Roosegaarde belajar di Academy of Fine Arts (AKI) yang terletak di Enschede. Ia mengambil jurusan Monumental Sculpture sebelum melanjutkan untuk memperoleh gelar Master di bidang Arsitek dari Berlage Institute. Pada tahun 2005 dia mendirikan Studio Roosegaarde dan dengan cepat mendapat pengakuan dunia atas karya serta desainnya yang interaktif dan tidak biasa.</p>
<p>Sejak didirikan, Studio Roosegaarde menjadi pusat pengembangan kreatifitas untuk melakukan eksplorasi ide serta konsep yang konsisten dengan visi artistik Roosegaarde. Studio ini secara spesifik menyoroti dinamika hubungan antara dunia arsitektur, masyarakat dan e-culture. Kebanyakan dari karya Roosegaarde juga dibuat untuk membangkitkan situasi yang dapat mengakomodasi sebuah prinsip yang disebut “<em>tactile high-tech</em>”, dimana pengunjung dan ruang publik dapat menjadi satu dalam kurun waktu tertentu.</p>
<p>Roosegaarde sendiri tidak percaya pada penerapan yang statis dari perkembangan teknik, semisal menatap secara pasif pada layar komputer. Aplikasi teknis akan menjadi lebih interaktif ketika ia dapat menyesuaikan diri pada prilaku penggunanya. Sebagai contoh barangkali adalah penggunaan tangga berjalan. 100 tahun yang lalu tangga berjalan masih merupakan sebentuk instrumen teknis yang statis.</p>
<p>Dewasa ini tangga berjalan telah dapat menyesuaikan kecepatannya. Jika tidak ada orang yang menggunakannya, ia akan bergerak lebih lambat untuk menghemat energi. Pada saat seseorang menggunakannya, ia kemudian akan bergerak lebih cepat. Dalam hal ini kita dapat sama-sama melihat bagaimana perkembangan teknik dapat memiliki hubungan yang lebih alami dengan manusia dan lingkungannya.</p>
<p>Setelah mendapat pengakuan atas karyanya (diantaranya adalah “Dune” dan “Sustainable Dance Floor”), Roosegaarde kemudian mendapatkan kesempatan untuk menampilkan proyek interaktifnya di berbagai venue internasional seperti V2_, Netherlands Media Art Institute Montevideo, Tate Modern London, Yamaguchi Center for Arts and Media Japan, National Art Center Tokyo, Venice Biennale 2009 dan Victoria &amp; Albert Museum London.</p>
<p>URL: <a href="http://www.studioroosegaarde.net/" target="_blank">http://www.studioroosegaarde.net/</a></p>
<p><em>Pameran ini terselenggara atas kerjasama dari Erasmus Huis, Common Room Networks Foundation dan HIVOS</em>. <em>Juga didukung oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual &#8211; Institut Teknologi Bandung</em>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon &#124;&#124; Bandung, 9 July &#8211; 1 August 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/nu-substance-festival-2010-floating-horizon-9-july-1-august-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/nu-substance-festival-2010-floating-horizon-9-july-1-august-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 05:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[FOSS]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Human Rights]]></category>
		<category><![CDATA[Localities]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Oral History]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1287</guid>
		<description><![CDATA[Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon
Selama beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali lompatan yang terjadi di dalam wilayah irisan yang mempertautkan perkembangan di bidang teknologi komunikasi, media baru dan praktik budaya dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan media baru semakin mempengaruhi cara pandang kita dalam memahami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/poster_leaflet_nusubs_low.jpg" border="0" alt="Photobucket" /></p>
<p><strong>Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon</strong><br />
Selama beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali lompatan yang terjadi di dalam wilayah irisan yang mempertautkan perkembangan di bidang teknologi komunikasi, media baru dan praktik budaya dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan media baru semakin mempengaruhi cara pandang kita dalam memahami kenyataan, sehingga ikut mengkonstrusi berbagai bentuk nilai dan etika yang kemudian beroperasi di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Di level tertentu, perkembangan ini dapat dikatakan sebagai bagian dari konstelasi baru yang berkembang melalui berbagai bentuk inovasi dan inisiatif yang menggejala di tingkat lokal maupun internasional. Bertumbuhnya akses, keterbukaan dan konektifitas yang dimungkinkan melalui penggunaan teknologi komunikasi dan media baru telah ikut membentuk wajah peradaban dunia secara global. Dalam perkembangannya, hal ini semakin meleburkan sekat teritori politik dan budaya melalui serangkaian pola interaksi sosial dan ekonomi yang baru.</p>
<p>Meskipun hadir dengan sosok yang samar-samar, kemunculan kondisi baru yang berkembang saat ini setidaknya telah ikut mewarnai sebuah era yang ditandai dengan kehadiran berbagai bentuk situasi turbulensi yang melahirkan dinamika, tantangan dan riak perubahan di tengah-tengah masyarakat luas. Di satu sisi, hal ini kemudian mendorong lahirnya rasa ingin tahu dan antusiasme dalam menyambut berbagai prospek, aransemen dan spekulasi mengenai masa depan yang baru. Namun begitu, tampaknya pada saat yang bersamaan kondisi ini juga ikut menghadirkan berbagai bentuk kebingungan, keraguan dan skeptisisme yang mendalam di kalangan masyarakat luas.</p>
<p><span id="more-1287"></span></p>
<p>Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa kita telah menemukan cerminan semangat zaman yang dipenuhi dengan ambivalensi dan kontradiksi. Kondisi ini barangkali dapat digambarkan melalui sebentuk cakrawala yang mengambang (<em>floating horizon</em>), yang menyiratkan garis pertemuan dua titik ekstrim dari imajinasi kolektif yang saling tarik-menarik. Dualisme pandangan yang mewarnai persepsi dalam menghadapi kenyataan keseharian yang ada setidaknya telah melahirkan rasa gamang yang senantiasa menuntut kita untuk bersikap awas dan hati-hati. Hal ini terutama diperlukan untuk menyoroti berbagai bentuk kondisi yang secara langsung ikut menyentuh persoalan yang terkait dengan kehidupan masyarakat sipil dan persoalan lingkungan hidup yang saat ini tengah diwarnai oleh berbagai bentuk kesenjangan, disfungsi dan krisis yang sangat parah.</p>
<p>Seiring dengan uraian di atas, Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon mengajak khalayak ramai untuk mengambil jeda dan menelusuri kembali berbagai bentuk fenomena yang terkait dengan kehidupan masyarakat sipil dan kondisi lingkungan yang ada saat ini, khususnya dalam ranah yang terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi dan media baru. Melalui beberapa kegiatan yang akan digelar, diharapkan masyarakat luas dapat mengambil jarak untuk melakukan dialog dan refleksi, serta bernegosiasi dengan berbagai bentuk perubahan situasi dan konstelasi perkembangan zaman yang baru. Dalam hal ini, penyelenggaraan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon juga merupakan sebuah bentuk tawaran atau bahkan konfrontasi wacana dan praktik yang sekaligus merupakan upaya konsolidasi untuk menemukan taktik, strategi dan manuver untuk menyikapi berbagai bentuk perubahan dan situasi baru yang berkembang di sekeliling kita saat ini.</p>
<p><strong>Program &amp; Kegiatan<br />
Berhala Gugur | Pertunjukan Pantun Buhun Oleh Mang Ayi &amp; Wa Itok</strong><br />
Featuring: Tisna Sanjaya (Pusat Kebudayaan Cigondewah), Addy Gembel (Forgotten), Man (Jasad), &amp; Hawe Setiawan (<a href="http://sundanesecorner.org/" rel="nofollow">http://sundanesecorner.org/</a>). Opening by Karinding Attack.<br />
Hari: Jumat, 9 Juli 2010<br />
Jam: 19.00 &#8211; selesai<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung.</p>
<p><strong>Workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer</strong><br />
Hari: Kamis, 15 Juli 2010<br />
Jam: 15.00 &#8211; 19.00 WIB<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung.<br />
Kontak &amp; Informasi: Diza (081802094310), Egga (085623300445)</p>
<p><strong>Pemutaran Film Dokumenter Musik</strong><br />
Menampilkan: Generasi Menolak Tua, Inside Your Shoes, Superman is Dead Australian Tour, Ras Muhammad Next Chapter Documentary, &amp; Release the Bats (2007 &#8211; 2010)/ A Documentary About Experimental &amp; Improvised Music from Europe.<br />
Hari: Jumat &amp; Sabtu, 16 &#8211; 17 Juli 2010<br />
Jam: 15.00 &#8211; 18.00<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung.</p>
<p><strong>Pameran Seni &#8220;The Loss of the Real&#8221;</strong><br />
Peserta: Benjamin Laurent Aman (FR), Romain Osi (FR), Daito Manabe (JP), Takao Minami (JP), Amar Mahboob (PK), Forum Lenteng (ID), Jompet (ID), House of Natural Fiber (ID), Bandung Oral History (ID), Widianto Nugroho (ID), Deden H. Durrachman (ID), Agan Harahap (ID), Dimas Arif Nugroho (ID), &amp; Prilla Tania (ID).</p>
<p>Pembukaan: Minggu, 18 Juli 2010<br />
Artist Talk: Selasa, 20 Juli 2010<br />
Workshop &amp; Demo by Daito Manabe (JP): Rabu, 21 Juli 2010<br />
Pameran: 19 Juli &#8211; 1 Agustus 2010<br />
Venue: Selasar Sunaryo Artspace, Jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Bandung.</p>
<p><strong>Expert Meeting for New Media, Civil Society, &amp; Environmental Sustainability</strong><br />
Peserta: Stephen Kovats (transmediale, DE), Victoria Sinclair (ArcSpace Manchester/ Bricolabs, UK), Atteqa Malik (Mauj Media Collective, PK), Lorenzo Marsili (European Alternatives, IT), Catherine Candano (Tunza South East Asia Youth Environment Network, PH/ SG), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand, TH), Venzha Christiawan (House of Natural Fiber, ID), Gustaff H. Iskandar (Common Room, ID), etc.</p>
<p>Pertemuan: 19 &#8211; 24 Juli 2010<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung &amp; Selasar Sunaryo Artspace, Jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Bandung.<br />
Presetasi Publik: 20 &amp; 22 July 2010, CCF Bandung, Jl. Purnawarman no. 32.</p>
<p><strong>FOSS Community Gathering: Otuz Graphic Novel Presentation by Monty Aji (Screamous, ID)</strong><br />
Hari: Jumat, 30 Juli 2010<br />
Jam: 15.00 &#8211; 18.00 WIB<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung.</p>
<p><strong>Silent Zone | Konser Musik/ Launching OpenLabs Electronic Music Compilation</strong><br />
Menampilkan: Benjamin Laurent Aman (FR), Bottlesmoker (ID), DO EAR yes (ID), #KRESS (ID), Asturiaz (ID), Europe in de Tropen (ID), Fix Future (ID), m.u.s.i.k [elektrik] (ID), Slylab (ID), Space and Missile (ID), &amp; text.tuRE (ID).<br />
Hari: Sabtu, 31 Juli 2010<br />
Jam: 18.00 WIB &#8211; selesai<br />
Venue: CCF Bandung, Jl. Purnawarman no. 32<br />
HTM: IDR. 10.000,-</p>
<p><strong>Botram dan Kampanye Publik: Save Manglayang Mountain</strong><br />
Hari: Minggu, 1 Agustus 2010<br />
Jam: 07.00 &#8211; 15.00 WIB<br />
Venue: Hutan Raya Gunung Manglayang<br />
Kontak dan informasi: Addy Gembel (02270025295)</p>
<p>More info: <a href="http://nusubstance.commonroom.info/" target="_blank">http://nusubstance.commonroom.info</a></p>
<p><em>Pelaksanaan kegian Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon didukung oleh Asia Europe Foundation, Goethe-Institut, Japan Foundation, HIVOS, CCF Bandung, Selasar Sunaryo Artspace, dan Pemerintah Kotamadya Bandung. Partner media: STV, Prambors Bandung, KAMPUS &#8211; Pikiran Rakyat, SUAVE &amp; PROVOKE!</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/nu-substance-festival-2010-floating-horizon-9-july-1-august-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Experimentasi Media &#124; Biosampler, 2001</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/experimentasi-media-biosampler-2001/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/experimentasi-media-biosampler-2001/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 09:08:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1059</guid>
		<description><![CDATA[Audio/visual experimentation by Biosampler back in 2001. Using overhead projectors (with various liquids and objects), video projectors, and slide projectors. As for Audio, we&#8217;re using pc&#8217;s running fruity loops and various tracker softwares, keyboard, bass, didgeridoos, and electric guitar. (CSB)
“For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/y8YjzbMJHAE&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.youtube.com/v/y8YjzbMJHAE&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Audio/visual experimentation by Biosampler back in 2001. Using overhead projectors (with various liquids and objects), video projectors, and slide projectors. As for Audio, we&#8217;re using pc&#8217;s running fruity loops and various tracker softwares, keyboard, bass, didgeridoos, and electric guitar. (<a onclick="yt.events.stopPropagation(event);" href="http://www.youtube.com/user/diskomport" target="_blank">CSB</a>)</p>
<p>“<em>For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like to look at it as an activity of creating an evolving visual experience/ universe. First, the gap between spectator/ performer, stage/ seat, premeditated/ spontaneous, mine/ yours etc; should be obliterated. To rebuild something we have to destroy/ deconstruct the initial form and limitations. Second, interaction and respond is imminent. By doing so, we have created a moebius loop where an idea shall move back and forth, left to right, passed from person to person, and it would evolve and change while being so. And that is Real Time Interaction. It’s like a complex game of “pong”.</em>” (<a href="http://www.vjtheory.net/what_is_it/biosampler_what_is.htm" target="_blank">CSB</a>)</p>
<p><strong>Biosampler</strong><br />
The year 2000 was the early stage of collaborative meeting from a group of people with similar concern and interest in Muararajeun Kaler area. An intense gathering in a house that located in a dense suburban area in Bandung has emerging into a so-called ‘collective attitude’, which is regarded as an act of self-indulgent through a creative process. Each member of this collective often use computer technology, creating piles of works in analog and digital format of sounds, music, images, animations, films, etc. From personal activities, it then has expanded into a collective act to form artistic composition through the creating sensation of sounds, light, and space; which is done spontaneously and sometimes with diverse goal and objective. Some surprising results often happen from their freedom to act and create, as well as dialogues and intervention. What they did has been growing from a daily attitude into an art performance.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/experimentasi-media-biosampler-2001/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meneropong Masa Depan Lewat transmediale.10: Futurity Now!</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/meneropong-masa-depan-lewat-transmediale-10-futurity-now/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/meneropong-masa-depan-lewat-transmediale-10-futurity-now/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 12:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gustaff H. Iskandar*
Pertunjukan malam itu ditutup dengan sebuah dentuman besar yang membahana ke segala penjuru ruangan. Sejenak sekitar 1000 pemirsa yang hadir malam itu terkesiap senyap selama beberapa detik. Tak lama berselang, ruang auditorium House of World Culture (HKW) dipenuhi oleh riuh rendah tepuk tangan pemirsa yang mengiringi kepergian Ryoji Ikeda ke belakang panggung. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="From One to Many oleh Yvete Mattern (US)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/yvet_mattern_one_to_many_small.jpg" border="0" alt="transmediale.10" /></p>
<p>Oleh Gustaff H. Iskandar*</p>
<p>Pertunjukan malam itu ditutup dengan sebuah dentuman besar yang membahana ke segala penjuru ruangan. Sejenak sekitar 1000 pemirsa yang hadir malam itu terkesiap senyap selama beberapa detik. Tak lama berselang, ruang auditorium House of World Culture (HKW) dipenuhi oleh riuh rendah tepuk tangan pemirsa yang mengiringi kepergian Ryoji Ikeda ke belakang panggung. Hadir dengan tajuk Pattern Recognition, acara malam itu menyuguhkan pertunjukan multimedia berjudul Materia Obscura milik Jurgen Reble &amp; Thomas Koner (DE), serta Test Pattern yang ditampilkan oleh Ryoji Ikeda &amp; Tomonaga Tokuyama (JP). Kedua pertunjukan ini menampilkan komposisi bebunyian yang berpadu sempurna dengan karya visual yang ditampilkan dalam format raksasa. Selama kurang lebih satu jam lamanya para pemirsa disuguhi pertunjukan bebunyian, dibalut citraan gambar bergerak yang membawa kita ke alam fantasi dan teror gelap masa depan.</p>
<p>Acara di atas merupakan salah satu suguhan utama di hari ke-2 dalam rangkaian kegiatan transmediale.10, sebuah festival seni dan kultur digital yang berlangsung mulai tanggal 2 &#8211; 7 Februari 2010 di gedung HKW Berlin. Melalui tema Futurity Now!, festival transmediale.10 mengajak khalayak ramai membicarakan masa depan melalui serangkaian kegiatan pameran, konferensi, workshop, pertunjukan, pemutaran film &amp; video. Selain itu, festival ini juga menampilkan beberapa program satelit dan konser musik yang menampilkan karya dan pemikiran dari para seniman, desainer, musisi, pemikir, kritikus, ahli teori, blogger, praktisi media dan peneliti dari berbagai belahan dunia. Beberapa diantara peserta yang terlibat diantaranya adalah Ryoji Ikeda (JP), Gabriella Giannachi (IT), Drew Hemment (UK), Regine Debatty (BE), Jem Finer (UK), Jan Edler (DE), Maja Kuzmanovic (HR/ BE), Joy Ayo Tang (TW), Jaromil (IT/ NL/ BE), Alice Miceli (BR), Tapio Makela (FI), Juliana Rotich (KE), dsb. Sejatinya festival ini membincangkan berbagai fenomena terkini dalam ranah eksplorasi di bidang seni dan teknologi, serta dampaknya secara sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan secara luas.</p>
<p><span id="more-707"></span></p>
<p>Pada malam pembukaan, dijelaskan bagaimana imajinasi tentang masa depan di sebagian kalangan masyarakat Eropa terbentuk oleh ideologi peradaban Barat yang juga terpengaruh oleh perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan cerita fiksi. Dalam pengantar yang ditulis oleh Stephen Kovats yang bertindak sebagai direktur artistik, tahun 2000 dan 2010 merupakan tahun yang penting dalam banyak cerita fiksi mengenai masa depan. Periode ini dibayangkan sebagai sebuah era dimana perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah berhasil membangun sebentuk harmoni sosial yang baru, dan menjadi sebuah era kemajuan total (<em>total progress</em>) yang diproyeksikan secara masif melalui berbagai bentuk media dan karya seni, mulai dari novel, karya musik, seni rupa, arsitektur, film, pertunjukan teater, sampai dunia fashion. Namun begitu, tampaknya utopia masa depan yang selama ini dibayangkan telah bergeser menjadi sebuah dystopia, dimana angan-angan kemajuan tidak sepenuhnya berhasil dicapai dan malah cenderung bermutasi menjadi sebuah skenario buruk yang tampaknya akan berujung kepada ancaman bencana besar (<em>cataclysm</em>) peradaban manusia.</p>
<p>Beberapa saat setelah acara ini diresmikan, tujuh buah proyeksi sinar laser berwarna pelangi terlihat membentang dari atap gedung HKW sampai ke menara TV di daerah Alexanderplatz. Proyeksi laser ini merupakan karya berjudul From One to Many yang dibuat oleh Yvete Mattern (US). Sepertinya karya ini berupaya untuk merefleksikan hubungan simbolik yang baru bagi dua gedung yang terletak di bagian barat dan timur kota Berlin. Proyeksi laser warna-warni ini pertama kali ditampilkan di New York pada tanggal 19 Januari 2009, bersamaan dengan hari peringatan Martin Luther King Jr. Tepat satu hari sebelum malam inagurasi Barack Obama. Pada saat itu, komposisi proyeksi laser ini membentang dari daerah Manhattan sampai ke jembatan Brooklyn, yang kemudian melewati sungai Hudson dan berakhir di lokasi gedung World Trade Center Tower yang hancur ditabrak pesawat pada tahun 2001. Tampil ditengah-tengah badai salju kota Berlin yang dingin mencekam, karya ini sepertinya juga berupaya untuk mencerminkan simbolisme tradisional dari pelangi yang menyuarakan spirit keberagaman budaya, perdamaian dan harapan. Ratusan khalayak yang hadir malam itu terlihat begitu antusias dan dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar, meskipun harus menggigil di tengah-tengah hujan salju dan hembusan angin yang bertiup kencang.</p>
<p>Di dalam ruang pameran, gambaran masa depan yang suram tercermin melalui karya Alice Miceli yang berjudul Chernobyl Project &#8211; The Invisible Stain (2008 &#8211; 2009), yang menampilkan seri karya fotografi yang diambil dari wilayah tertutup pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl di perbatasan Belarusia. Karya ini merekam jejak kebocoran radio aktif dalam sebuah bencana yang terjadi pada tanggal 26 April 1986, dengan menggunakan teknik auto-radiografi dan kamera lubang jarum. Hasilnya adalah sebuah seri karya artistik yang merekam jejak mengerikan dari kebocoran radio aktif yang tidak dapat ditangkap oleh mata telanjang. transmediale.10 merupakan festival pertama yang menampilkan karya ini secara lengkap ke hadapan khalayak luas. Sebagai sebuah proyek yang membicarakan persoalan yang sangat spesifik, karya ini menjadi semacam peringatan bagi penggunaan teknologi yang pada level tertentu dapat menjadi ancaman dan mimpi buruk bagi keberlangsungan hidup manusia beserta lingkungannya.</p>
<p><img title="DATA.TRON [3SXGA+ Version] oleh Ryoji Ikeda (JP)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/ryoji_ikeda_datatron_small.jpg" border="0" alt="transmediale.10" /></p>
<p>Dalam nuansa yang berbeda, gambaran masa depan yang angkuh dan dingin disuguhkan melalui karya Ryoji Ikeda dengan judul DATA.TRON [3SXGA+ Version] (2007-2009). Pada karya ini, Ryoji Ikeda menampilkan karya instalasi audio visual berukuran monumental yang mengandung lautan data elektronik dalam wujud huruf, angka, simbol-simbol, serta bebunyian tertentu. Karya ini merupakan bagian dari seri eksperimentasi proyek Datamatics yang berupaya untuk mematerialisasi data digital melalui serangkaian kalkulasi matematis yang dilakukan secara cermat. Karya ini sekilas mirip dengan proyeksi citraan gambar televisi yang didominasi oleh <em>white noise</em> dan berkonfrontasi langsung dengan pemirsa dalam sebuah ruangan yang serba gelap. Apabila para ilmuan dan ahli matematika menggunakan metode ini untuk memprediksi masa depan, Ryozi Ikeda memanfaatkannya untuk menghasilkan pengalaman yang begitu intens sehingga mampu mengepung kesadaran kita (<em>immersive</em>). Untuk karya ini, Ryozi Ikeda mengolah citraan grafis dan mengembangkan program komputer bersama-sama dengan Shohei Matsukawa, Norimichi Hirakawa, dan Tomonaga Tokuyama.</p>
<p>Hampir senada dengan karya Ryoji Ikeda, Zilvinas Kempinas (LT) menampilkan karya berjudul White Noise (2007) yang dibangun dengan menggunakan ribuan meter pita kaset video bekas yang ditampilkan sedemikian rupa, sehingga sekilas tampak seperti citraan pixel hitam putih yang diproyeksikan ke dalam layar berukuran besar. Sayup-sayup terdengar bebunyian gelombang rendah, namun dalam hal ini suara yang dihasilkan berasal dari pita video yang saling bergesek dan bergetar-getar. Selebihnya karya seni yang ditampilkan dalam festival ini terdiri dari beberapa karya instalasi audio visual, instrumen robotik, selain sejumlah karya film &amp; video. Beberapa diantara karya yang dipamerkan memanfaatkan teknologi <em>augmented reality</em>, sensor elektronis, sampai pada eksplorasi gelombang elektromagnetik. Secara keseluruhan pameran ini dirangkum dalam sebuah frame kuratorial yang berjudul Future Obscura yang secara khusus dikurasi oleh Honor Harger (NZ). Lebih jauh, pameran ini juga berupaya untuk mengeksplorasi pandangan para seniman dalam memanfaatkan mesin dan materi yang digunakan untuk membangun citraan tertentu mengenai masa depan yang berseberangan dengan gambaran umum yang berkembang selama ini.</p>
<p><strong>Perbincangan Panjang</strong><br />
Sebagai salah satu program inti untuk festival tahun ini, sebuah konferensi internasional yang menyoroti perkembangan teknologi media terkini diselenggarakan mulai tanggal 5 &#8211; 7 Februari 2010 di ruang auditorium HKW. Dengan tajuk <a href="http://www.transmediale.de/en/transmediale10-conference-future-observatory" target="_blank"><em><strong>Future Observatory</strong></em></a>, secara umum konferensi ini diselenggarakan untuk menguji berbagai bentuk batasan, gap dan disfungsi masa depan yang saat ini kita pahami. Hal ini dikembangkan sebagai sebuah proyeksi kultural yang mengungkap berbagai bentuk kemungkinan, strategi, spekulasi dan skenario masa depan yang baru. Seri pertama dari konferensi ini dibuka melalui sesi dialog yang berjudul <a href="http://www.transmediale.de/en/node/11234" target="_blank"><em><strong>Futurity Long Conversation</strong></em></a>, yang berisi serangkaian pembicaraan maraton yang berlangsung selama 9 jam non-stop tanpa moderasi dan interupsi. Sesi ini menghadirkan 22 pembicara yang terdiri dari seniman, desainer, ahli teori, wartawan, penulis, dan praktisi media yang mengekplorasi berbagai ide abstrak dan gagasan kualitatif yang merefleksikan pandangan mengenai masa depan secara kritis. Melalui rangkaian dialog yang membuka peluang refleksi estetik dan analitik secara kolaboratif, para pemirsa yang hadir diajak untuk menelisik uraian kompleks yang mempertautkan imajinasi tentang masa depan dengan wacana di bidang seni, teknologi, ilmu pengetahuan dan ekonomi baru.</p>
<p>Sebelum dimulai, sesi Futurity Long Conversation diawali dengan kuliah umum dari <a href="http://www.transmediale.de/en/node/11829" target="_blank"><em><strong>Dr. Richard Barbrook (UK)</strong></em></a> yang menyampaikan makalah dari bukunya yang berjudul <a href="http://www.imaginaryfutures.net/book/" target="_blank"><em><strong>Imaginary Futures: From Talking Machine to The Global Village</strong></em></a>. Secara jernih Dr. Richard Barbrook menguraikan fenomena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Amerika paska perang dunia ke-2, yang terutama dipicu oleh pertentangan ideologi di era perang dingin. Situasi ini kemudian mengantarkan blok barat dan timur pada kompetisi di bidang militer, industri, dan perlombaan untuk menaklukan ruang angkasa; selain mendorong berbagai inovasi dan penemuan baru di bidang teknologi media, khususnya internet. Menurutnya periode ini juga diwarnai oleh obsesi untuk menaklukan masa depan, terutama dengan adanya pandangan bahwa siapa yang dapat menguasai masa depan akan dapat menguasai dunia. Dalam konteks ini, teknologi internet kemudian dikembangkan karena dianggap memiliki potensi untuk membentuk struktur masyarakat di masa depan. Setelah berkembang selama lebih dari dua dekade, saat ini dapat dikatakan bahwa teknologi internet telah menjelma menjadi sumber kekuatan ekonomi dan politik baru yang menghegemoni masyarakat global (<em>global society</em>).</p>
<p>Konferensi kemudian dilanjutkan melalui dialog 22 pembicara yang menyampaikan pandangan mereka secara simultan. Pada sesi ini setiap pembicara tampil berpasangan dan berestafet untuk mengutarakan berbagai pandangan, kritik dan refleksi, termasuk berbagai prediksi dan spekulasi masa depan melalui serangkaian dialog yang intim. Secara bersamaan, kelompok Sosolimited (US) memanfaatkan sesi dialog ini sebagai bagian dari materi pertunjukan yang berlangsung di panggung cafe HKW. Kelompok ini merupakan trio lulusan MIT yang terdiri dari Justin Manor, Eric Gunther dan John Rostenberg. Dalam pertunjukan mereka, Sosolimited mengembangkan sebuah software khusus yang mampu mengurai rekaman diskusi ke dalam materi video, audio dan teks. Selanjutnya mereka mengekspos isi dan struktur dialog ke dalam visualisasi data yang memungkinkan para pemirsa menyimak konferensi dengan cara yang berbeda. Dalam pertunjukan ini khalayak ramai mendapat kesempatan untuk menelusuri beberapa kata kunci, uraian kalimat, serta simpulan ide dan gagasan abstrak dari para pembicara yang diterjemahkan ke dalam skema presentasi multimedia yang menarik, sehingga memungkinkan terjadinya pola interpretasi informasi dan pengetahuan dengan cara yang kongkrit. Setelah berjalan selama 9 jam, konferensi hari pertama ditutup oleh dialog antara Drew Hemment dan Tapio Makela yang menawarkan struktur dan narasi masa depan yang lebih plural dan terbuka bagi proses emansipasi.</p>
<p><img title="Kuliah umum oleh Conrad Wolfram (UK)" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/conrad_wolfram_small.jpg" border="0" alt="transmediale.10" /></p>
<p>Pada hari berikutnya konferensi dilanjutkan melalui dua sesi kuliah umum dan diskusi yang secara khusus membahas ideologi dan masa depan internet. Selain itu, konferensi ini juga membicarakan fenomena &#8220;atemporality&#8221; yang mencerminkan percepatan perkembangan masyarakat yang terjadi secara ekstrim, sehingga cenderung menciutkan kondisi realitas di masa kini. Sesi pertama menampilkan Conrad Wolfram (UK) yang menyampaikan makalah berjudul <a href="http://www.transmediale.de/en/node/12544" target="_blank"><em><strong>Wolfram Alpha: Information, Computation and the New Era of Knowledge</strong></em></a>. Dalam uraiannya, Conrad Wolfram menyoroti potensi pemanfaatan teknologi informasi dan media baru yang telaht merubah mekanisme produksi dan distribusi pengetahuan, termasuk pola komunikasi yang dapat menyebarkan informasi dan pengetahuan dengan cara yang radikal. Menurutnya, saat ini kita telah hidup dalam sebuah era dimana keberagaman budaya dapat mengalami proses pertukaran, dialog dan kolaborasi secara virtual, sehingga kita perlu memikirkan kembali pemahaman mengenai identitas, terutama dari aspek komunikasi, interaksi dan pola hubungan antar manusia di seluruh jagat alam raya. Selanjutnya pada sesi kedua Bruce Sterling (US) menyampaikan makalah dengan judul  <a href="http://www.transmediale.de/en/keynote-bruce-sterling-us-atemporality" target="_blank"><em><strong>Atemporality &#8211; A Cultural Speed Control</strong></em></a>. Dalam presentasinya Bruce Sterling menyampaikan bagaimana kecepatan dalam proses pengumpulan data dan informasi, serta kecepatan dalam mekanisme produksi dan distribusi produk, jasa dan informasi dapat membawa kita kepada jalan buntu peradaban. Hal ini terutama terjadi ketika kemajuan (<em>progress</em>) sebagai paradigma modernitas secara perlahan bermutasi menjadi sekedar serangkaian modulasi peristiwa yang terjadi secara terus menerus tanpa henti dan larut dalam perayaan pesta orgy perubahan dan variasi yang cenderung kehilangan tujuan dan maknanya yang hakiki.</p>
<p>Tampaknya secara umum berbagai kegiatan dan pembicaraan yang berlangsung dalam festival ini mengajak kita untuk mempertanyakan kembali pemahaman dan gambaran yang kita miliki tentang masa depan peradaban manusia dalam konteks perkembangan teknologi media. Hal ini terutama menyoroti berbagai aspek terkait yang memiliki intensi politis, serta tatanan nilai dan etika yang sedang beroperasi di tengah-tengah masyarakat zaman kiwari. Dalam konteks ini, kita sepertinya telah kehilangan kuasa untuk terlibat secara langsung dalam proses politik yang idealnya ditujukan untuk memuliakan nilai-nilai dan etika melalui serangkaian aktifitas dan praktik yang bersandar pada nilai-nilai budaya dengan manusia sebagai subyek utamanya. Sebagai taruhannya, kita kemudian berkonfrontasi dengan kenyataan bahwa tubuh kita telah mengalami proses de-personalisasi dan de-subyektifikasi, ditengah-tengah gemuruh perubahan yang dituntun oleh perkembangan teknologi (media) yang begitu mendominasi. Sementara itu, berbagai institusi yang menyangga peradaban manusia saat ini tampaknya tengah mengalami kegagapan yang laten, sehingga ikut terhimpit dalam arus perubahan yang berlangsung tanpa jeda. Di zaman edan, situasi turbulensi yang mencekam telah mengeliminasi ruang untuk menyampaikan reaksi balik berupa dialog, kritik, dan refleksi yang bermakna.</p>
<p>Alhasil melalui festival ini kita dapat melihat cerminan masa depan yang dipenuhi oleh kegamangan, keraguan dan ambivalensi, selain juga optimisme, gairah dan semangat untuk meraih peluang yang berjalan seiring dengan berbagai spekulasi dan konstelasi kuasa (politik) yang baru. Gambaran situasi ini tentu saja menuntut sikap yang awas dan hati-hati, terutama menyoal berbagai bentuk perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi media yang seakan terus bergerak dengan kecepatan yang melampaui kesadaran dan detak jantung kita. Dalam perspektif lokal, barangkali kita bisa mengutip uraian Rakeyan Darmasiksa dalam Amanat Galunggung yang berbunyi, &#8220;<em>Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke</em>&#8220;, yang artinya kurang lebih, &#8220;Ada kemarin ada hari ini, apabila tak ada kemarin maka tak ada hari ini.&#8221; Melalui testamen yang ditulis oleh Raja Sunda ke-25 pada sekitar abad ke-15 ini, kita dapat mengambil hikmah bahwasanya masa depan yang lebih baik hanya dapat kita raih ketika kita dapat membaca kembali berbagai persoalan, kegagalan serta disfungsi masa lalu dan masa kini, sebagai upaya untuk mengkalibrasi ulang arah peradaban yang baru dengan cara yang lebih reflektif dan manusiawi.</p>
<p>Berlin, 7 Februari 2010</p>
<p><em>* Penulis adalah seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation. Terlibat dalam festival ini atas dukungan Goethe Institute Jakarta dan Hivos.</em></p>
<p><em>** Tulisan ini dipresentasikan dalam acara diskusi di Common Room pada tanggal 23 Februari  2010. Simak liputan mengenai diskusi ini di halaman <a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=132088" target="_blank"><em><strong>Kampus Pikiran Rakyat</strong></em></a>.</em></p>
<p><em><em>*** Arsip video aktifitas transmediale.10 bisa diakses di <a href="http://www.transmediale.de/en/mediaarchive" target="_blank"><strong>halaman berikut</strong></a>.</em></em></p>
<p><em><em>**** Simak ulasan terkait di halaman berikut:<br />
<a href="http://www.culture360.org/inspire/in-focus.aspx" target="_blank"><strong>In conversation at Transmediale (Contributed by  Judith Staines)</strong></a><br />
<a href="http://www.furtherfield.org/displayreview.php?review_id=380" target="_blank"><strong>Transmediale.10 &#8211; Futurity Now! (A collaborative review by Marcello Lussana and Gaia Novati)</strong></a></em></em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/meneropong-masa-depan-lewat-transmediale-10-futurity-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review Workshop Visual for Live Performance</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/review-workshop-visual-for-live-performance/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/review-workshop-visual-for-live-performance/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 09:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=695</guid>
		<description><![CDATA[Berikut merupakan dokumentasi dari kegiatan workshop yang diselenggarakan oleh Openlabs pada tanggal 11 Maret 2009.
*Berita terkait baca di: http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2010/03/12/brk,20100312-232104,id.html]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i988.photobucket.com/albums/af8/mewishtree01/workshop%20visual%2011%20maret/IMG_9929.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /></p>
<p>Berikut merupakan dokumentasi dari kegiatan workshop yang diselenggarakan oleh Openlabs pada tanggal <a href="http://theopenlabs.wordpress.com/2010/03/11/review-workshop-live-performance-common-room/" target="_blank"><strong>11 Maret 2009</strong></a>.</p>
<p><em>*Berita terkait baca di: <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2010/03/12/brk,20100312-232104,id.html" target="_blank">http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2010/03/12/brk,20100312-232104,id.html</a></em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/review-workshop-visual-for-live-performance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop &amp; Diskusi Aplikasi Video Untuk Live Performance &#124; Common Room &#124; 11 Maret 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/workshopdiskusi-mengenai-aplikasi-video-sebagai-live-performance/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/workshopdiskusi-mengenai-aplikasi-video-sebagai-live-performance/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 08:18:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[“For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like to look at it as an activity of creating an evolving visual experience/ universe. First, the gap between spectator/ performer, stage/ seat, premeditated/ spontaneous, mine/ yours etc; should be obliterated. To rebuild something we have to destroy/ deconstruct the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/niang_biosampler.jpg" border="0" alt="biosampler" /></p>
<p>“<em>For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like to look at it as an activity of creating an evolving visual experience/ universe. First, the gap between spectator/ performer, stage/ seat, premeditated/ spontaneous, mine/ yours etc; should be obliterated. To rebuild something we have to destroy/ deconstruct the initial form and limitations. Second, interaction and respond is imminent. By doing so, we have created a moebius loop where an idea shall move back and forth, left to right, passed from person to person, and it would evolve and change while being so. And that is Real Time Interaction. It’s like a complex game of “pong”.</em>” (<a href="http://www.vjtheory.net/what_is_it/biosampler_what_is.htm" target="_blank">Chainsmokingbastard/ Biosampler</a>)</p>
<p><strong>Date</strong><br />
Thursday, March 11, 2010<br />
<strong>Time</strong><br />
3:00 &#8211; 6:00 PM<br />
<strong>Location</strong><br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama No. 8</p>
<p><strong>Deskripsi Singkat</strong><br />
Aplikasi medium video, seperti yang sudah lebih banyak dikenal terlebih dulu, dapat kita lihat pada iklan TV, film digital, maupun video klip. Dengan semakin berkembangnya teknologi video dan media digital, beberapa tahun belakangan video juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung <em>live performance</em>. Pemanfaatan video dalam pertunjukan dapat menjadi pendukung dari sebuah pagelaran, selain dapat juga berdiri sendiri sebagai sebuah karya seni.</p>
<p>Dalam program ini, akan membahas beberapa aspek penting pemanfaatan medium video untuk aktifitas <em>live performance</em>. Pendekatan untuk aplikasi ini sedikit berbeda dengan beberapa pemanfaatan video untuk kepentingan yang lain. Dalam sebuah <em>live performance</em>, sesuai dengan namanya, video dapat dimainkan secara langsung. Kemampuan untuk berfikir dan bertindak cepat dalam memainkan video menjadi sangat penting, karena di dalam sebuah pertunjukan dituntut kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan <em>flow</em> dan <em>audience</em>. Sangat berbeda dengan proses pembuatan video yang telah dikenal sebelumnya, dimana materi video dapat di edit sesuai dengan keinginan tanpa waktu yang terbatas.</p>
<p><span id="more-645"></span></p>
<p>Di kota Bandung pada khususnya, semakin sering terlihat dimana <em>visual live performance</em> sudah menjadi elemen yang sangat penting dalam sebuah pertunjukan. Video tidak hanya diputar secara otomatis sebagai pengiring dari sebuah band, namun melalui <em>visual live performance</em>, video dapat menjadi media untuk membangun emosi dari sebuah pertunjukan seperti halnya musik. Walaupun masih banyak pandangan yang menilai para VJ (visual jockey) dengan sebelah mata karena terlihat seperti hanya memasang video secara bergantian sesuka hati, ada beberapa persiapan penting yang perlu dilakukan seorang VJ sebelum bermain dalam sebuah pertunjukan. Hal ini tidak lebih mudah daripada persiapan seorang musisi dalam menghadapi sebuah pertunjukan.</p>
<p>Berikut beberapa materi yang akan dibahas dalam program ini:</p>
<ul>
<li>Introduksi mengenai video</li>
<li><em>Live Performance</em> sebagai salah satu aplikasi dari video</li>
<li>Pengenalan jenis <em>Visual Live Performance</em> dan beberapa tekniknya</li>
<li>Penerjemahan musik ke dalam bentuk visual</li>
<li><em>Pre-Production</em> dan <em>Post-Production</em> visual/ footage</li>
<li>Pengenalan beberapa software pendukung</li>
<li>Contoh Visual Live Performance</li>
<li>Diskusi</li>
</ul>
<p><em>Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin OpenLabs yang didukung oleh Common Room dan Hivos.</em> <em>Terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi Ibu Nunung di nomor +62222503404 atau Ranti di nomor +628120189953.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/workshopdiskusi-mengenai-aplikasi-video-sebagai-live-performance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Critical Reflection &amp; Speculative Review on Art, Culture, ICT/ Media in Bandung &#8211; Indonesia</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 05:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Forum]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[This material was presented during the opening of 1st FOWAB gathering at Common Room, 18 February 2010. Read event review at ruangfreelance (by Dian Ara) and dailysocial (by Wiku Baskoro). FOWAB (Forum Web Anak Bandung) is being initiated by iCreativelabs, Chocaholic, Gagas Imaji, Rave Warrior, Galenic, and ThinkRooms.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="margin: 0px;" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan2010programpresentasifowabpresentasifowab2010-100222230443-phpapp02&amp;stripped_title=critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="margin: 0px;" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan2010programpresentasifowabpresentasifowab2010-100222230443-phpapp02&amp;stripped_title=critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>This material was presented during the opening of 1st <a href="http://fowab.tumblr.com/" target="_blank">FOWAB</a> gathering at Common Room, 18 February 2010. Read event review at <a href="http://www.ruangfreelance.com/2010/02/20/fowab-kuak-kiprah-kreatif-it/" target="_blank">ruangfreelance</a> (by <a href="http://cerebrumdianara.blogspot.com/" target="_blank">Dian Ara</a>) and <a href="http://dailysocial.net/2010/02/19/event-review-fowab-forum-web-anak-bandung/" target="_blank">dailysocial</a> (by <a href="http://wikupedia.multiply.com/" target="_blank">Wiku Baskoro</a>). <strong>FOWAB (Forum Web Anak Bandung)</strong> is being initiated by <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/portfolio.icreativelabs.com/category/blog/');" href="http://portfolio.icreativelabs.com/category/blog/" target="_blank">iCreativelabs</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/madebychocaholic.com/');" href="http://madebychocaholic.com/" target="_blank">Chocaholic</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/gagasimaji.com/');" href="http://gagasimaji.com/" target="_blank">Gagas Imaji</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/ravewarrior.com/');" href="http://ravewarrior.com/" target="_blank">Rave Warrior</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/galenic.web.id/');" href="http://galenic.web.id/" target="_blank">Galenic</a>, and <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/thinkrooms.com/');" href="http://thinkrooms.com/" target="_blank">ThinkRooms</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit Catatan dari Kunjungan ke YCAM**</title>
		<link>http://commonroom.info/2008/148/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2008/148/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 05:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2008/148/</guid>
		<description><![CDATA[Selepas dari Kyoto, saya dan Yap Sau Bin melanjutkan perjalanan ke Fukuoka untuk menghadiri program The 4th Asian Museum Curator&#8217;s Conference. Namun sebelum langsung menuju Fukuoka, kami memutuskan untuk singgah di kota Yamaguchi dan mengunjungi Yamaguchi Center for Art and Media (YCAM). Lembaga ini didirikan pada tahun 2003 dan menjadi wadah bagi berbagai kegiatan pertunjukan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-498" title="ycam" src="http://visitingjapan.wordpress.com/files/2008/11/ycam.jpg" alt="YCAM Building" width="480" height="360" /></p>
<p>Selepas dari Kyoto, saya dan Yap Sau Bin melanjutkan perjalanan ke Fukuoka untuk menghadiri program <a href="http://www.jpf.go.jp/e/culture/new/0810/10_02.html" target="_blank">The 4th Asian Museum Curator&#8217;s Conference</a>. Namun sebelum langsung menuju Fukuoka, kami memutuskan untuk singgah di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Yamaguchi,_Yamaguchi" target="_blank">kota Yamaguchi</a> dan mengunjungi <a href="http://www.ycam.jp/en/index.html" target="_blank">Yamaguchi Center for Art and Media (YCAM)</a>. Lembaga ini didirikan pada tahun 2003 dan menjadi wadah bagi berbagai kegiatan pertunjukan, pameran, pemutaran film, kuliah umum, diskusi, serta riset dan pengembangan di bidang seni, teknologi dan media. Dirancang oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arata_Isozaki" target="_blank">Arata Isozaki</a>, selain memiliki fasilitas galeri, ruang pertunjukan pertunjukan dan bioskop mini, gedung YCAM juga dilengkapi dengan perpustakaan umum yang memiliki koleksi buku, film, serta CD dengan topik yang bermacam-macam.</p>
<p><img class="size-full wp-image-499" title="reactable" src="http://visitingjapan.wordpress.com/files/2008/11/reactable.jpg" alt="Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger &amp; Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)" width="480" height="360" /></p>
<p>Ketika kami mengunjungi YCAM, lembaga ini tengah menyelenggarakan perayaan ulang tahun yang ke-5. Untuk kegiatan ini, YCAM menyelenggarakan sebuah pameran  dengan judul &#8220;<a href="http://www.ycam.jp/en/art/2008/10/minimum-interface.html" target="_blank">Minimum Interface</a>&#8220;, yang menampilkan karya dari Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger, Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)/Akihiro Kubota /LEADING EDGE DESIGN/Zachary Lieberman, dan Theodore Watson/Daan Roosegaarde/SHINCHIKA/Chris Sugrue/Shunsuke Takawo. Salah satu karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah <a href="http://mtg.upf.es/reactable/" target="_blank">reacTable</a> yang beberapa waktu kebelakang banyak menarik perhatian khalayak internasional sejak digunakan dalam tur konser <a href="http://bjork.com/" target="_blank">Björk</a> untuk album <a href="http://unit.bjork.com/specials/albums/volta/" target="_blank">Volta</a>.</p>
<p>Selain melihat pameran dan meninjau beberapa fasilitas di YCAM, kami juga sempat berbincang-bincang dengan Kazuano Abe (Chief Curator) dan Miki Fukuda (InterLab Manager). Kazuano Abe mengungkapkan kebijakan kuratorial di YCAM yang berupaya untuk menampilkan karya-karya yang memanfaatkan perkembangan teknologi, eksperimentasi dan kolaborasi bagi berbagai bentuk ekspresi artistik dalam pengertian yang sangat luas dan beragam. Untuk beberapa proyek khusus, YCAM biasanya mengundang seniman untuk bekerja dan mengembangkan karya mereka di InterLab, salah satu fasilitas yang dimiliki oleh YCAM. Miki Fukuda menjelaskan keberadaan <a href="http://www.ycam.jp/en/interlab/index.html" target="_blank">InterLab</a> merupakan salah satu fasilitas yang penting di YCAM. Di laboratorium ini, para seniman yang terlibat dalam kegiatan YCAM dapat melakukan eksperimentasi dan kolaborasi yang ditunjang dengan fasilitas dan sumberdaya manusia yang memiliki keahlian yang sangat beragam.</p>
<p><img class="size-full wp-image-500" title="ycam_kids" src="http://visitingjapan.wordpress.com/files/2008/11/ycam_kids.jpg" alt="Program pendidikan untuk publik di YCAM" width="480" height="360" /></p>
<p>Karena berbagai program dan kegiatan YCAM didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah Yamaguchi, maka pihak YCAM juga memiliki kewajiban untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang dapat diakses oleh masyarakat di kota Yamaguchi. Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang penting adalah program edukasi publik yang memungkinkan masyarakat setempat untuk mempelajari dan mengapresiasi berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh YCAM dari dekat. Salah satunya adalah kegiatan kunjungan rutin murid sekolah dasar agar dapat mengapresiasi perkembangan di bidang seni, pengetahuan dan teknologi secara langsung.</p>
<p>Menurut Miki Fukuda, rencana untuk mendirikan YCAM di Yamaguchi sebetulnya sudah dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu. Waktu itu, walikota Yamaguchi merasa perlu untuk mengembangkan sebuah kebijakan strategi kebudayaan kota Yamaguchi yang memanfaatkan perkembangan di bidang teknologi informasi. Selama 20 tahun, gagasan ini menjadi sumber perdebatan dan polemik, karena banyak pihak yang meragukan manfaat langsung dari kebijakan ini. Baru pada tahun 2003 rencana ini kemudian diimplementasikan ketika YCAM didirikan sebagai sebuah lembaga yang mengambil fokus pada kegiatan kebudayaan dan teknologi.</p>
<p>Setelah 5 tahun berselang, saat ini banyak anggota masyarakat yang mulai melihat manfaat langsung dari YCAM. Melalui berbagai kegiatan yang dikembangkan oleh YCAM, kota Yamaguchi kemudian memiliki reputasi yang cemerlang di bidang perkembangan budaya kontemporer dan teknologi. Selain itu, kota ini juga berhasil meraih reputasi di level internasional yang membuat kota Yamaguchi memiliki daya tarik tersendiri. Kembali menurut Miki Fukuda, beberapa tahun kebelakang generasi muda kota Yamaguchi yang sebelumnya pindah ke kota lain mulai kembali dan mengembangkan berbagai kegiatan mereka di kota ini. Dalam hal ini, keberadaan YCAM tampaknya telah berhasil melahirkan kembali energi kreatifitas kota Yamaguchi.</p>
<p><em>** Untuk laporan lengkap dari kegiatan kunjungan ke Jepang, silahkan kunjungi blog dengan alamat <a href="http://visitingjapan.wordpress.com/" target="_blank">http://visitingjapan.wordpress.com</a>.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2008/148/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nu-Substance Helar Festival 2008 &#124; 28 Juli &#8211; 9 Agustus 2008</title>
		<link>http://commonroom.info/2008/nu-substance-helar-festival-2008-28-juli-9-agustus-2008/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2008/nu-substance-helar-festival-2008-28-juli-9-agustus-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 07:29:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Projects]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2008/nu-substance-helar-festival-2008-28-juli-9-agustus-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Opening Ceremony
28 July 2008. Start 5 PM
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8
Bandung &#8211; Indonesia
Experimental Music Instrument Exhibition
28 July 2008 &#8211; 8 Agustus 2008. Everyday from 9 AM &#8211; 9 PM
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8
Bandung &#8211; Indonesia
featuring:
Evan (Storn), Deena Dellyana (Homogenic)
Public Lecture
28 July 2008. Start 7 PM
Common Room, Jl. Kyai Gede [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/nu_substance_webflyer.jpg" border="0" alt="Photobucket" /></p>
<p><strong>Opening Ceremony</strong><br />
28 July 2008. Start 5 PM<br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; Indonesia</p>
<p><strong>Experimental Music Instrument Exhibition</strong><br />
28 July 2008 &#8211; 8 Agustus 2008. Everyday from 9 AM &#8211; 9 PM<br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; Indonesia</p>
<p>featuring:<br />
Evan (Storn), Deena Dellyana (Homogenic)</p>
<p><strong>Public Lecture</strong><br />
28 July 2008. Start 7 PM<br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; Indonesia<br />
featuring:<br />
Rob van Kranenburg (Head of program public domain at WAAG Society, Netherland)<br />
<a href="http://waag.org" target="_blank"> <a href="http://waag.org" rel="nofollow">http://waag.org</a></a><br />
Theme: “Media &amp; Creativity”</p>
<p><strong>Experimental Music Instrument Workshop</strong><br />
29 July 2008 &#8211; 31 July 2008. Start 10 AM &#8211; 3 PM<br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; Indonesia<br />
Workshop by: Evan (Storn) and Deena Dellyana (Homogenic)</p>
<p><strong>Experimental Music Instrument Presentation</strong><br />
31 July 2008. Start 7 PM &#8211; 9 PM<br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; Indonesia<br />
by: Evan (Storn) and Deena Dellyana (Homogenic)</p>
<p><strong>Blogging Discussion</strong><br />
7 August 2008. Start 7 PM &#8211; 9 PM<br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; Indonesia<br />
by: Ryan Koesuma (deathrockstar.info), Salomo (detik.com), dan Komunitas Blogger Bandung</p>
<p><strong>Nu-Substance Helar Concert</strong><br />
2 August 2008. Start 3 PM &#8211; over<br />
Galeri Kita, Jl. L.L.R.E. Martadinata (Jl. Riau) no. 209<br />
Bandung &#8211; Indonesia</p>
<p>featuring:<br />
Electrofux feat. Adorable Assassins<br />
Elang Eby &amp; Vocaphonic<br />
Souldelay<br />
Digitalove (Deena Homogenic’s solo project)<br />
These R Fake<br />
BottleSmoker<br />
Europe in de Tropen</p>
<p>VJ:<br />
The Hairy Monster<br />
Caterpillar Boy<br />
Killafternoon<br />
Gluttonberg</p>
<p><strong>Software Presentation</strong><br />
6 August 2008. Start 7 PM &#8211; 9 PM<br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; Indonesia<br />
by: Arry Aradaz (<a href="http://aradaz.blogspot.com/" target="_blank">http://aradaz.blogspot.com/</a>)</p>
<p><strong>Nu-Substance Helar Concert</strong><br />
COSTUME PARTY CALLING !!!<br />
9 August 2008. start 10pm &#8211; till drop!<br />
Pure Lounge, Paris van Java Mall. Jl. Sukajadi Bandung Indonesia<br />
performers:<br />
Ademus vs Gerry (final scratch back2back),<br />
Agrikulture (deck &amp; fx)<br />
DMZ (deck &amp; fx)<br />
Dxxxt<br />
FUXX<br />
Monix Metronix</p>
<p><em>**Wear your badass best costume, because there’s an limited present from <a href="http://isthiseat.com/" target="_blank">LOVEAT!</a><br />
remember: your costume is your invitation, if you’re not wear your invitation your not invited!</em></p>
<p>Further info:<br />
mail: <a href="mailto:theopenlabs@yahoo.com">theopenlabs@yahoo.com</a><br />
web: <a href="http://openlabs.commonroom.info" target="_blank">http://openlabs.commonroom.info</a><br />
phone : Kobe (081931475095)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2008/nu-substance-helar-festival-2008-28-juli-9-agustus-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop One Minute Video &#124; Kineruku &#8211; Common Room Networks Foundation &#8211; Videolab &#124; 19 Feb &#8211; 2 March 2008</title>
		<link>http://commonroom.info/2008/workshop-%e2%80%9cone-minute-video%e2%80%9d-kineruku-common-room-networks-foundation-videolab/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2008/workshop-%e2%80%9cone-minute-video%e2%80%9d-kineruku-common-room-networks-foundation-videolab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 14:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2008/workshop-%e2%80%9cone-minute-video%e2%80%9d-kineruku-common-room-networks-foundation-videolab/</guid>
		<description><![CDATA[Melanjutkan penyelenggaraan Ganesha Film Festival 2008, Liga Film Mahasiswa (LFM) bekerjasama dengan Kineruku, Common Room Networks Foundation dan Videolab bermaksud untuk menyelenggarakan workshop &#8220;One Minute Video&#8221; yang rencananya akan diselenggarakan pada  tanggal 19  Februari s/d 1 Maret 2008. One Minute Video adalah sebuah genre film dan video berdurasi singkat yang memberi penekanan pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/oneminutevideoposter.jpg" alt="Photobucket" border="0" height="339" width="480" /></p>
<p>Melanjutkan penyelenggaraan Ganesha Film Festival 2008, Liga Film Mahasiswa (LFM) bekerjasama dengan Kineruku, Common Room Networks Foundation dan Videolab bermaksud untuk menyelenggarakan workshop &#8220;One Minute Video&#8221; yang rencananya akan diselenggarakan pada  tanggal 19  Februari s/d 1 Maret 2008. One Minute Video adalah sebuah genre film dan video berdurasi singkat yang memberi penekanan pada keragaman eksplorasi bahasa artistik dan teknik produksinya. Ciri utama dari genre &#8220;One Minute&#8221; adalah durasi film dan video yang tepat 1 menit atau 60 detik (termasuk title).</p>
<p><strong>Agenda Program</strong><br />
Program ini diharapkan dapat menyebarluaskan minat masyarakat untuk mengembangkan dan mengapresiasi perkembangan film dan video berdurasi pendek di kota Bandung. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk mendorong perkembangan  genre One Minute Video di kota Bandung, meliputi pengembangan eksplorasi bahasa artistik dan teknik produksi film dan video berdurasi pendek. Rencananya, hasil workshop ini akan dirangkum menjadi kompilasi Bandung One Minute Video Compilation 2008 dan akan diikutsertakan dalam ajang pemutaran One Minute Video Festival di acara Olimpiade Beijing bekerjasama dengan organisasi OneMinuteFoundation (Belanda).</p>
<p><strong>Peserta</strong><br />
Rencananya kegiatan ini akan melibatkan komunitas masyarakat umum di kota Bandung, termasuk komunitas pelajar dan mahasiswa. Untuk sementara kegiatan ini akan dibatasi dengan melibatkan 30 peserta (individu dan kelompok) yang diharapkan dapat menghasilkan 30 karya film dan video berdurasi pendek. Untuk kegiatan workshop, panitia akan menetapkan biaya workshop sebesar Rp. 30.000,- untuk biaya sertifikat dan konsumsi peserta selama workshop berlangsung.</p>
<p><em>* Informasi lengkap dan formulir pendaftaran bisa di dowload di halaman <strong><a href="http://www.lfm.itb.ac.id/oneminutevideo/files/formulir_ONE_MINUTE_VIDEO.pdf" target="_blank">ini</a></strong>.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2008/workshop-%e2%80%9cone-minute-video%e2%80%9d-kineruku-common-room-networks-foundation-videolab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
