Undangan Terbuka Pameran Seni Fraktal | STEAMFEST, 18 Mei 2013


Nu-Substance Festival 2012: Contested >< Space
Bandung, 15 s/d 30 September 2012
Contested space atau ruang kontestasi adalah sebuah arena yang mencerminkan pergulatan yang terjadi di dalam ruang kehidupan sehari-hari. Pertumbuhan jumlah penduduk, terbatasnya sumber daya, bertambahnya kebutuhan pangan dan energi, serta semakin berkurangnya daya dukung lingkungan yang ada menyebabkan kompetisi dan tarik menarik kepentingan antar kelompok masyarakat cenderung meningkat dari hari ke hari. Untuk kegiatan tahun ini Nu-Sustance Festival 2012: Contested >< Space secara khusus menyoroti dinamika yang mencerminkan arena kontestasi yang ada di sekeliling kita secara reflektif.
Melalui serangkaian kegiatan pameran, diskusi, lokakarya dan konser musik, festival ini akan memproyeksikan gagasan dan praktik yang memaknai ruang kontestasi dengan cara-cara yang baru dan berbeda. Alih-alih melanjutkan situasi kompetisi yang semakin tidak terkendali, festival ini juga akan menampilkan beberapa karya dan menggali pemikiran yang memberi ruang pada pencarian terhadap pijakan bersama (common ground) sambil mencari kemungkinan dari interaksi dan kolaborasi dalam mencapai tujuan dan kepentingan bersama. Selain itu festival ini juga mengurai wacana dan perbincangan yang terkait dengan berbagai bentuk situasi kontestasi yang berkembang di sekeliling kita dengan melibatkan publik secara terbuka.

Estárter#3 | Colombia – Indonesia | Camila Botero, Julieta Maria, Gabriel Zea
Common Room, 12 s/d 21 Juli 2012
Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung 40132
Opening: Kamis, 12 Juli 2012, pk. 18.00 WIB
Performance by EYEFEELSIX + RUNBDG
DORKBOT: 14 Juli 2012, pk. 20.00 WIB
Workshop: Tools Open Source Untuk Seni Copyleft, 19 s/d 21 Juli 2012, pk. 14.00 – 18.00 WIB
Diskusi: Perkembangan seni & media baru di Colombia dan Indonesia, 21 juli 2012, pk. 20.00 WIB
URL: http://estarter.co/ | BLOG: http://estarter3.wordpress.com/

Danielle Lemaire adalah seorang seniman multimedia. Danielle menciptakan musik yang menarasikan kisah personalnya tentang bagaimana dia melihat dunia. Dalam setiap pertunjukan penampilannya tidak pernah sama. Pertunjukan kali ini akan menyuguhkan sebuah orkestra solo perempuan yang menuntun dirinya untuk menggunaan alat musik dari Asia, alat musik mainan, music box, flute, musik electronik, serta sumber bebunyian akustik dan suaranya sendiri.
Minggu, 11 September 2011 | Pk. 19.00 – 21.00 WIB
Tempat: Common Room
Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung
Pengisi acara: Danielle Lemaire, Adscum, Elang Eby, Botfvck | Visual: Danielle Lemaire, Kill Afternoon | HTM: Free.

Pengantar Pameran
Merayakan Kehancuran Total via Let’s Die Together in 2012
Pameran ini secara khusus diinisiasi oleh Bottlesmoker, duo musisi elektronik yang dimotori oleh Angkuy dan Nobie. Dalam rangka peluncuran album ketiga mereka yang berjudul “Let’s Die Together in 2012″, Bottlesmoker mengajak beberapa seniman kota Bandung untuk bersama-sama menginterpretasi album ini ke dalam bentuk karya seni visual dengan media yang beragam. Pemilihan para seniman yang datang dari berbagai genre dan generasi ini dilakukan secara intuitif oleh Bottlesmoker yang mengandalkan jaringan pertemanan mereka di ranah offline dan online.
Bottlesmoker mendapat inspirasi judul album dan pameran ini ketika tengah melaksanakan Bottlesmoker Asian Tour pada bulan Februari s/d Maret 2011. Pada saat itu mereka mengunjungi 5 negara yang terdiri dari Malaysia, Brunei, China, Hong Kong, dan terakhir Indonesia dengan sebuah konser yang dihelar di kota Medan. Semua dilaksanakan dalam rentang waktu 19 hari. Ketika mereka melawat ke China dan Hong Kong, beberapa rekan yang ditemui dalam perjalanan begitu meyakini ramalan kehancuran total yang akan terjadi pada tahun 2012. Hal ini kemudian menjadi sumber perbincangan yang begitu hangat diantara para kerabat Bottlesmoker sampai kemudian duo Angkuy dan Nobie merasa bahwa apabila proses kehancuran total itu akan terjadi, mereka akan menyambutnya dengan penuh suka cita.
Teori tentang kehancuran total di tahun 2012 salah satunya dipicu oleh ramalan yang diprediksi oleh bangsa Maya melalui perhitungan kalender mereka. Alih-alih memandang kehancuran sebagai sesuatu yang mengerikan, Bottlesmoker justru memandang peristiwa ini sebagai sebuah hal yang ringan dan menyenangkan. Sepulang dari perjalanan Bottlesmoker Asian Tour 2011, duo Bottlesmoker seakan telah melakukan perjalanan spiritual dan mendapatkan energi artistik yang baru. Lepas dari materi album yang terkesan lebih berat dan gelap, secara konseptual mereka justru berharap bahwa teks “Let’s Die Together in 2012″ juga dapat dimaknai sebagai sebuah upaya untuk memanfaatkan sisa waktu dengan menikmati keindahan, kedamaian dan kebahagiaan.
Pada prosesnya album “Let’s Die Together in 2012″ memanfaatkan berbagai materi lama yang telah digarap dan disimpan di dalam hardisk mereka sejak tahun 2005 s/d 2007. Setelah melakukan serangkaian modifikasi dan berbagai penambahan materi, alhasil mereka dapat merilis sekira 12 lagu yang mencerminkan sisi lain dari Bottlesmoker yang selama ini dikenal sebagai duo musisi yang selalu menciptakan musik yang serba ringan. Ketika mempersiapkan penyelenggaraan pameran yang sekaligus menjadi momen peluncuran album, ada banyak diskusi menarik yang terjadi diantara personil Bottlesmoker serta para seniman yang terlibat di dalam proyek ini. Dapat dikatakan bahwa intuisi mereka telah berhasil mempertemukan para seniman yang memiliki latar belakang kekaryaan serta gagasan artistik yang menarik dan sangat sangat beragam.
Satu hal yang barangkali perlu dicatat adalah semangat kebebasan yang dimiliki oleh Bottlesmoker yang begitu besar, sehingga mereka dengan sungguh-sungguh mendengarkan dan mencoba untuk merealisasikan setiap ide yang dimiliki oleh para seniman yang terlibat. Alhasil pada sepanjang prosesnya para seniman yang terlibat tampak begitu antusias untuk menciptakan karya yang memanfaatkan media dan format yang bermacam-macam. Beberapa seniman yang terlibat di dalam pameran ini antara lain adalah: Deden Sambas, Gustaff H. Iskandar, Sir Dandy Harrington, Evan Driyananda & Attina Nuraini (Recycle Experience), Muhammad Akbar, Sundea (Salamatahari), Doly Harahap, Heickel Alkatiri, Mufti Priyanka a.k.a Amenk, Ageng Purna Galih, Taufik Akbar a.k.a Fikart, Ken Terror, Ykha Amelz dan Marina Tasha Avianty. Melalui karya mereka, barangkali kita dapat sama-sama melihat bahwa ide tentang kehancuran juga dapat bermutasi menjadi gagasan yang mendorong terjadinya proses penciptaan yang menawarkan keberagaman perspektif baru yang reflektif dan menyenangkan.
Kyai Gede Utama, 11 Agustus 2011
Info seniman: http://letsdietogetherin2012.tumblr.com/

[Workshop] PURE DATA, Kamis, 11 Agustus 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB | [Gathering] Ngaritwit: Ngariung Twitterian Bandung, Jumat, 12 Agustus 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB | [Gathering] Menyambut Lebaran Hijau: Buka bersama YPBB, Minggu, 14 Agustus 2011, Pk. 15.00 – 20.00 WIB | [Pameran] Let’s Die Together in 2012, Selasa, 16 Agustus 2011, Pk. 17.00 – 20.00 WIB | [SOFT LAUNCH] KAHOT.STORE, Selasa, 16 Agustus 2011, Pk. 19.00 WIB | KEGIATAN REGULER: Pertemuan Mingguan Bandung Oral History, Pertemuan Mingguan OpenLabs, Pertemuan Mungguan Kelas Karinding (KEKAR), Latihan Mingguan Flava Madrim, Latihan Mingguan PAPERBACK | PROGRAM SIARAN RADIO ONLINE: Madness Monday (Senin, Pk. 19.00 – 22.00), Gigsonsky (Selasa, Pk. 19.00 – 22.00), Perempuan Pisan (Rabu, Pk. 16.00 – 18.00), Radiologia (Rabu, Pk. 19.00 – 22.00), Kamis Tiris (Kamis, Pk. 19.00 – 22.00) dan Our Playlist / Live Streaming / 24 Hours Loop ( Jumat, Sabtu dan Minggu *tentative).

Mencari Ilham dari Bunyi Derau
Pameran Seni Bebunyian: [Derau] | Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities
Pembukaan: 1 Juli 2011, Pk. 19.00 – end.
Pameran: 1 – 16 Juli 2011, 10.00 – 15.00 WIB
Eksperimentasi seni bebunyian merupakan salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan di Common Room pada sepanjang tahun 2007 – 2011. Beberapa diantara prosesnya ada yang dikembangkan secara terencana dan konseptual, selain juga ada proses yang intuitif atau bahkan spekulatif. Tidak mengherankan apabila kemudian upaya eksperimentasi ini merambah wilayah eksplorasi yang begitu luas; mulai dari eksplorasi penggunaan instrumen bambu yang dimainkan secara manual sehingga dapat menghasilkan karakter bunyi yang unik, sampai pada eksplorasi berbagai piranti dan sumber bebunyian akustik, elektronik, maupun digital.
Proses eksperimentasi bebunyian yang berkembang di Common Room juga tidak dibatasi oleh cara maupun teknologi media yang digunakan. Hal ini sengaja diupayakan untuk menembus berbagai kemungkinan yang ada dalam ranah eksplorasi yang nyaris tak berujung dan bertepi. Sebagai hasilnya kita kemudian dapat melihat sebagian dari beberapa karya hasil eksperimen tersebut dalam pameran ini. Meski sayup-sayup, secara perlahan eksplorasi seni bebunyian ini mampu menjelma menjadi sebuah praksis seni alternatif yang sekaligus menjadi buah persilangan dari eksplorasi di bidang seni dan pemanfaatan teknologi media. Selain memiliki aspek audial yang sangat dominan, beberapa diantara karya yang dipamerkan juga memiliki elemen visual yang kuat.
Secara garis besar, kumpulan karya dalam pameran ini dapat kita lihat sebagai proyeksi imajinasi kolektif serta agregasi ingatan dari setiap peserta yang memiliki latar belakang dan pendekatan kekaryaan yang bermacam-macam. Beberapa diantaranya ada yang mencoba untuk menelusuri teks serta mengabarkan narasi tentang kehidupan masyarakat urban, selain juga kritik terhadap kondisi lingkungan yang berkelindan dengan refleksi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih jauh, pameran ini juga sekaligus dapat dilihat sebagai sebuah upaya untuk menalar kembali relevansi penggunaan teknologi media dalam kehidupan kita. Dalam konteks ini barangkali dapat kita tenggarai bahwa penggunaan teknologi media telah semakin melekat dengan keseharian kita, sehingga juga perlu dikembangkan untuk menjadi instrumen bagi proses kritik dan refleksi; selain juga wahana untuk berfikir dan berimajinasi.
Kyai Gede Utama, 28 Juni 2011
Peserta
Adityo Pratomo | Anggung Suherman | Anto Arief | Audry Riski Prayoga | Benny Apriariska | Gustaff H. Iskandar | Ishaq Haris Yogaswara | Muhammad Akbar | Ranti Puji Agusti
Peta Lokasi Studio Rosid

*Kegiatan ini merupakan bagian sekaligus pembukaan Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities

Pelatihan Zero Waste, 8 Mei 2011 | Burgerkill Listening Party: New Album “Venomous”, 8 Mei 2011 | Kajian Budaya: Apresiasi Film Horor Anak Negeri, 9 Mei 2011 | “Syair Lisan” oleh Deden Sambas W.A.F., 20 Mei 2011 | Kiat Pemasaran Produk Lokal ke Luar Negeri, 22 Mei 2011 | Workshop “A Trip Through Music Journalism”, 28 Mei 2011 | Workshop Musikalisasi Puisi, 29 Mei 2011 | Workshop HTML5, Mei – Juni 2011 | Kegiatan rutin: Pertemuan Mingguan Bandung Oral History, Pertemuan Mingguan OpenLabs, Kelas Privat Kacapi Suling bersama Iman Jimbot, Pertemuan Mingguan Kelas Karinding (KEKAR) bersama Hendra Attack dan Latihan Mingguan Pencak Silat bersama Kang Yuda (Perguruan Pencak Silat Cimande).

Video Dominos: Image Association Game | Workshop video oleh Michiko Tsuda (JP)
Peserta
Budi Dwi Rahmady | Jaisa Randy | Jumadi Yhoggy | Mohammad Rizki Ardiansyah | Naluri Bella Wati | Ranti Puji Agusti | Taufanny Nugraha
Waktu dan Tempat
Pembukaan: 31 Desember 2010, Pk. 16.00 WIB
Pameran: 31 Desember 2010 s/d 15 Januari 2011
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8

Michiko Tsuda, Where Are You?, HD data, 8:06, 2008. (© Michiko Tsuda)
Tanggal: 21-26 Desember 2010
Waktu: Setiap hari pukul 15.00 – 17.00 WIB
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung, Indonesia
Deskripsi Singkat
Michiko Tsuda (b. 1980) adalah seorang seniman yang kerap menggunakan teknologi analog dan digital dalam karya-karyanya. Ia memulai karirnya sebagai seorang insinyur teknik sebelum kemudian memutuskan untuk bekerja sebagai seniman.
Dominos: Image Association Game
Dalam workshop ini, Michiko Tsuda akan berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk membuat karya seni dengan menggunakan medium video. Secara khusus workshop ini akan menyoroti penggunaan dan konsumsi citra (image) yang biasa kita saksikan pada pesawat televisi dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, workshop ini juga akan memanfaatkan berbagai citraan privat yang akan ditampilkan dalam ranah publik.
Persepsi terhadap citraan yang tersebar di dalam kehidupan sehari-hari saat ini sangat dipengaruhi oleh sudut pandang kita dan proses editing. Secara teoritik, persepsi dan pemahaman akan citraan dapat berubah ketika sudut pandang terhadap citraan yang ada direkayasa melalui proses editing. Workshop ini akan menyelami kesadaran dalam mencermati dunia citra dengan menggunakan perlengkapan dan proses editing yang sederhana. Pada prosesnya, para peserta akan di ajak untuk berasosiasi dengan berbagai citraan seperti dalam permainan domino.
Workshop ini terbuka untuk umum, terutama bagi para mahasiswa, seniman, desainer dan para peminat kajian seni, teknologi dan budaya kontemporer. Kegiatan workshop akan diselenggarakan mulai tanggal 21 s/d 26 Desember 2010. Untuk informasi pendaftaran peserta workshop silahkan hubungi Ibu Nunung/ Ranti di nomor 022-2503404. Biaya pendaftaran: Rp. 25.000,-
Kunjungan Michiko Tsuda ke kota Bandung merupakan bagian dari program residensi yang didukung oleh Common Room dan Japan Foundation. Selama berada di kota Bandung, Michiko akan menyelenggarakan serangkaian kegiatan kuliah umum, workshop, screening video dan pameran yang memberi penekanan pada proses interaksi dan kolaborasi lintas disiplin dan budaya dengan para seniman serta komunitas masyarakat di kota Bandung.
*Image: Michiko Tsuda, Where Are You?, HD data, 8:06, 2008. (© Michiko Tsuda)