<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Knowledge Economy</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/knowledge-economy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 06:36:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Common Room Networks Foundation (Common Room) &#124; Track Records 2001 &#8211; 2012</title>
		<link>http://commonroom.info/2012/common-room-networks-foundation-common-room-track-records-2001-2012/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2012/common-room-networks-foundation-common-room-track-records-2001-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 05:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Projects]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Oral History]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2538</guid>
		<description><![CDATA[Materi ini dipresentasikan di s.14 pada 7 April 2012. Catatan diskusi dapat dibaca di laman &#8216;Berbagi Cerita Tentang Common Room di s.14&#8216;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe class="scribd_iframe_embed" src="http://www.scribd.com/embeds/90938831/content?start_page=1&view_mode=slideshow&access_key=key-2c7lbedem9w92dx4lt0m" data-auto-height="true" scrolling="no" id="scribd_90938831" width="100%" height="500" frameborder="0"></iframe>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%"><a href="http://www.scribd.com/doc/90938831">View this document on Scribd</a></div>
<p>Materi ini dipresentasikan di s.14 pada 7 April 2012. Catatan diskusi dapat dibaca di laman &#8216;<a href="http://gstff.wordpress.com/2012/04/09/berbagi-cerita-tentang-common-room-di-s-14/" target="_blank"><em>Berbagi Cerita Tentang Common Room di s.14</em></a>&#8216;. </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2012/common-room-networks-foundation-common-room-track-records-2001-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Informasi Kegiatan Common Room &#124; November 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/agenda-common-room-november-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/agenda-common-room-november-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 10:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1518</guid>
		<description><![CDATA[Silahkan kunjungi laman RADIOLOGIA untuk mendengarkan Radiologia Streaming Program dari Common Room, setiap hari Rabu pukul 18.00 &#8211; selesai. Twitter: @radiologia_bdg Agenda Common Room &#124; November 2010 Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sumber Daya Insani dan Ekonomi Kreatif &#124; Indonesia Kreatif (http://indonesiakreatif.net) Diskusi pengembangan sumber daya manusia sebagai pondasi perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Iman Rohman aka Iman Zimbot" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/11/agenda_november.png" alt="" width="480" height="678" /></p>
<p><em></em>Silahkan kunjungi laman <a href="http://125.160.17.37:8040/listen.pls" target="_blank">RADIOLOGIA</a> untuk mendengarkan Radiologia Streaming Program dari Common Room, setiap hari Rabu pukul 18.00 &#8211; selesai. Twitter: @radiologia_bdg</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Agenda Common Room | November 2010</strong></span></p>
<p><strong>Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sumber Daya Insani dan  Ekonomi Kreatif</strong> | Indonesia Kreatif (<a href="http://indonesiakreatif.net" target="_blank">http://indonesiakreatif.net</a>)<br />
Diskusi pengembangan sumber daya manusia sebagai pondasi perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia bersama perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta perwakilan akademisi dan pelaku ekonomi kreatif dari kota Bandung.<br />
Jumat, 12 November 2010, Pk. 13.00 &#8211; 18.00 WIB</p>
<p><strong>&#8220;SADAR BENCANA SEJAK DINI! Sabilulungan Ngajaga Lembur</strong> | KNOWING THE RISK AND TAKE ACTION &#8211; International Organization for Migration (IOM)<br />
Pameran dan diskusi siaga kebencanaan bersama Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, ST.,MT (Pusat Mitigasi Bencana ITB), Ir. Gatot M. Soedradjat, MT (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/ PVMBG), serta perwakilan IOM untuk Jawa Barat. Kegiatan ini akan diawali dengan pembukaan pameran &#8220;Pengalamanku  dengan Bencana&#8221;, yang akan menampilkan karya gambar anak dari beberapa  Sekolah Dasar (SD) di daerah Garut Selatan. Pameran akan berlangsung di  Common Room sampai tanggal 20 November 2010.<br />
Sabtu, 13 November 2010, Pkl. 16.00 &#8211; selesai</p>
<p><strong>Workshop Penggunaan Software Musik Abelton</strong> | Oleh Ega Ginanjar (Europe in de Tropen/ OpenLabs)<br />
*<em>Pendaftaran silahkan hubungi Ranti di +62222503404 pada jam kerja.</em><br />
Sabtu, 27 November 2010, Pk. 15.00 &#8211; selesai</p>
<p><strong>Kelas Privat Suling dan Kacapi</strong> | Oleh Iman Rohman aka Iman Zimbot<br />
*<em>Pendaftaran silahkan hubungi Ranti di +62222503404 pada jam kerja.</em><br />
Sepanjang bulan November s/d Desember</p>
<p><strong>Common Room Networks Foundation</strong> <strong>(Common Room)</strong><br />
<em>Common Room adalah platform yang terbuka untuk kegiatan seni, budaya   dan pemanfaatan ICT/ Media. Kegiatan Common Room dikelola oleh Common   Room Networks Foundation dan didukung oleh HIVOS. Bagi teman-teman yang   tertarik untuk terlibat dan menyelenggarakan kegiatan di Common Room,   silahkan menghubungi Ranti di nomor 022-2503404 atau kunjungi kami di   Jalan Kyai Gede Utama no. 8. Informasi mengenai kegiatan Common Room   dapat diakses di situs <a href="../" target="_blank">http://commonroom.info</a> dan twitter @CommonRoom_ID.</em></p>
<p>Alamat<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung &#8211; 40132 | WEST JAVA &#8211; INDONESIA | Phone/ Fax: +62.22.250.3404<br />
Url: <a href="http://commonroom.info" target="_blank">http://commonroom.info</a> | E-mail: <a href="mailto:info@commonroom.info">info@commonroom.info</a> | Twitter: @CommonRoom_ID</p>
<p><span id="more-1518"></span></p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Informasi Detail Agenda Common Room | November 2010</strong></span></p>
<p><strong>Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sumber Daya Insani dan Ekonomi Kreatif oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia &#8211; Indonesia Kreatif</strong><br />
Diskusi ini akan membahas beberapa aspek yang terkait dengan pengembangan sumber daya manusia sebagai pondasi perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Peserta diskusi kali ini mewakili Kementerian Perdagangan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta perwakilan akademisi dan pelaku ekonomi kreatif dari kota Bandung.</p>
<p>Tujuan diskusi ini diantaranya adalah untuk melakukan evaluasi umum terhadap upaya pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, kegiatan ini juga akan mengevaluasi dampak dan peluang dari Inpres no. 6 Tahun 2009 pada pengembangan sumber daya insani sebagai pondasi ekonomi kreatif. Kegiatan ini juga akan mengembangkan gagasan dan rekomendasi baru untuk pengembangan sumber daya insani bagi pengembangan ekonomi kreatif di masa yang akan datang.</p>
<p><strong>Waktu &amp; Tempat<br />
</strong>Jumat, 12 November 2010<br />
Pk. 13.00 &#8211; 18.00 WIB<br />
Common Room Networks Foundation<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung</p>
<p><strong>Penyelenggara</strong><br />
Indonesia Kreatif<br />
<a href="http://indonesiakreatif.net" target="_blank">http://indonesiakreatif.net</a><br />
CP: Willam +6281931357101</p>
<p><strong>KNOWING THE RISK AND TAKE ACTION &#8211; International Organization for Migration (IOM)</strong></p>
<p><strong>&#8220;SADAR BENCANA SEJAK DINI! Sabilulungan Ngajaga Lembur&#8221;<br />
</strong>Menurut Indeks Risiko Bencana Alam 2010, Indonesia merupakan negara rawan bencana kedua paling tinggi setelah Bangladesh. Selama beberapa tahun terakhir ini, Indonesia telah mengalami bencana banjir, longsor, tsunami, gempa bumi dan gunung meletus dengan kekuatan besar di beberapa daerah semisal Yogyakarta (Jawa Tengah), Pulau Mentawai (Sumatera Barat), Gunung Sinabung (Sumatera Utara), Pangandaran dan Tasikmalaya (Jawa Barat), Wasior (Irian Jaya), dsb. Karena bencana tersebut telah banyak korban jiwa dan kerugian perumahan dan infrastruktur yang sangat besar.</p>
<p>Program IOM selama 15 bulan terakhir ini mendukung upaya pemerintah untuk mengajak anggota masyarakat terlibat dalam kesiapsiagaan bencana yang berfokus di 5 Kecamatan di Kabupaten Garut. Ke lima kecamatan ini terdiri dari Kecamatan Pameungpeuk, Kec. Cibalong, Kec. Cisompet, Kec.Pangauban, dan Kec. Cikelet). Beberapa kegiatan yang diselenggarakan diantaranya menyusun peta rawan bencana pada level desa dan kecamatan, mobilisasi masyarakat desa untuk menyusun peta rawan bencana, serta melatih para tokoh masyarakat dalam pengkajian risiko bencana dan pemetaan bahaya, selain melatih tenaga ahli kesehatan untuk Basic Trauma Life Support.</p>
<p>Untuk mengetahui upaya penanganan resiko bencana secara mendalam, ECHO dan IOM, didukung oleh Common Room Networks Foundation, Yayasan IDEP, BPBD Provinsi Jawa Barat dan Pemda Jawa Barat, menyelenggarakan kegiatan diskusi sore siap siaga bencana dengan pembicara Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, ST.,MT (Pusat Mitigasi Bencana ITB), Ir. Gatot M. Soedradjat, MT (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/ PVMBG), serta perwakilan IOM untuk Jawa Barat.</p>
<p><strong>Waktu &amp; Tempat</strong><br />
Sabtu, 13 November 2010<br />
Pkl. 16.00 &#8211; selesai<br />
Common Room Networks Foundation<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung</p>
<p><em>Kegiatan ini akan diawali dengan pembukaan pameran &#8220;Pengalamanku dengan Bencana&#8221;, yang akan menampilkan karya gambar anak dari beberapa Sekolah Dasar (SD) di daerah Garut Selatan. Pameran akan berlangsung di Common Room sampai tanggal 20 November 2010.<br />
</em></p>
<p><strong>Penyelenggara</strong><br />
IOM Jawa Barat<br />
Jl. Setia no. 9, Sukajadi<br />
Bandung, Jawa Barat<br />
Telp.: +62 22 203 2855<br />
cp. Lioni Beatrik (08172324278)</p>
<p><strong>Workshop Penggunaan Software Musik Ableton</strong><br />
Workshop ini akan membahas proses produksi dasar musik, khususnya musik elektronik dengan menggunakan software Ableton. Software ini banyak sekali digunakan oleh para musisi selama beberapa waktu terakhir ini. Selain karena mudah digunakan, software ini memiliki fungsi yang beragam, baik untuk keperluan live performance, aransemen, ataupun keperluan eksperimen musik dan bebunyian.</p>
<p>Beberapa materi yang akan disampaikan dalam workshop ini diantaranya adalah membuat drum pad dengan menggunakan beberapa fasilitas yang ada di dalam Ableton. Selain itu workshop ini juga akan menyampaikan cara untuk menggunakan VST, serta merekam dengan hardware seperti gitar. Melalui workshop ini, para peserta diharapkan dapat mengembangkan skill dan pengetahuan yang baru untuk memproduksi lagu dengan peralatan sederhana. Workshop ini secara langsung akan dipandu oleh Ega Ginanjar, seorang musisi yang merupakan pendiri dari kelompok musik Europe in de Tropen dan salah seorang penggagas komunitas OpenLabs.</p>
<p><strong>Waktu &amp; Tempat</strong><br />
Sabtu, 27 November 2010<br />
Pk. 15.00 &#8211; selesai<br />
Common Room Networks Foundation<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung</p>
<p>Workshop fee: Gratis</p>
<p><strong>Penyelenggara</strong><br />
Openlabs<br />
<a href="http://theopenlabs.wordpress.com" target="_blank">http://theopenlabs.wordpress.com</a><br />
Cp : Ega (+628562330445), Botak (+62562064358)</p>
<p><strong>Kelas Privat Suling dan Kacapi oleh Iman Rohman aka Iman Zimbot</strong><br />
Iman Rohman aka Iman Zimbot adalah seorang seniman dan musisi yang dilahirkan di Ciamis pada tanggal 10 Agustus 1979. Ia terlahir dari kedua orang tua yang bernama Ibu Ikah dan Pak Kusnadi yang  berprofesi sebagai seniman dan musisi tradisional Sunda. Selain diturunkan secara langsung dari Pak Kusnadi dan lingkungan sekitar, bakat Iman Zimbot juga diasah ketika ia belajar musik karawitan secara formal pada Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) di kota Bandung pada tahun 1996. Meskipun tidak lulus, ia kemudian tetap melanjutkan karirnya secara otodidak.</p>
<p>Pada tahun 2000, Iman Zimbot melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra, jurusan Dokumentasi Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad). Dalam kesempatan ini, ia bergabung dengan Tim Kesenian Unpad dan terus mengembangkan kemampuannya untuk memainkan instrumen dan menggubah komposisi musik tradisional. Meskipun tidak dapat merampungkan kuliahnya, bersama dengan Tim Kesenian Unpad ia mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam berbagai acara pertunjukan di dalam maupun di luar negeri.</p>
<p>Sejak beraktifitas di Common Room pada tahun 2006, Iman Zimbot semakin intens melakukan eksplorasi instrumen dan komposisi musik tradisional Sunda. Kali ini tidak hanya untuk keperluan pertunjukan dan acara tradisi, tetapi juga mulai melakukan berbagai eksperimentasi untuk menciptakan karya musik yang baru bersama dengan para seniman dan musisi yang memiliki latar belakang yang beragam. Sejauh ini Iman Zimbot telah melakukan berbagai bentuk eksperimentasi dan kolaborasi bersama D-Fuse (UK), Tochka (JP) Tcukimay (ID), Karinding Attack (ID), TRAH (ID), Gohgor X (ID), One Man Nation (SG), Benjamin L. Aman (FR), Dan Mackinlay (AU), dsb.</p>
<p>Kelas privat Suling dan Kacapi terbuka bagi mereka yang tertarik melakukan eksplorasi instrumen dan komposisi musik tradisional Sunda, serta bereksperimentasi untuk menciptakan karya musik yang baru. Kelas ini akan berlangsung di sepanjang bulan November s/d Desember dan sangat terbuka bagi mereka yang memiliki minat untuk mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang musik dalam pengertian yang sangat luas. Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi Common Room di nomor telpon 022-2503404 pada jam kantor.</p>
<p><strong>Waktu &amp; Tempat</strong><br />
Sepanjang bulan November s/d Desember 2010<br />
Common Room Networks Foundation<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung</p>
<p>Workshop fee: Saridona/ Pay as you wish.</p>
<p><em>Informasi dan pendaftaran silahkan hubungi Common Room di nomor +62.22.2503404 pada jam kerja setiap hari Selasa s/d Minggu.</em></p>
<p><strong>Kegiatan Rutin</strong></p>
<ul>
<li> Pertemuan mingguan kelompok studi Bandung Oral History (BOH). Setiap hari Kamis, pukul 19.00 – 21.00 WIB. Informasi hubungi Zia di nomor: +6222-92209221</li>
<li>Pertemuan mingguan komunitas OpenLabs. Setiap hari Kamis, pukul 19.00 – 21.00 WIB. Informasi hubungi Ega di nomor +628562330445</li>
<li>Kelas Karinding (Kekar) oleh Hendra Attack. Setiap hari Jumat, pukul 16.00 – 19.00 WIB. Informasi hubungi Hendra di nomor +62818639881</li>
</ul>
<p><strong>Alamat</strong><br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung 40132<br />
West Java – Indonesia<br />
Telp./ Fax: +62.22.2503404<br />
URL: <a href="http://commonroom.info" target="_blank">http://commonroom.info</a><br />
Twitter: @CommonRoom_ID</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/agenda-common-room-november-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penelitian dan Pengembangan dalam Usaha Kecil</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Workshop YES Club &#124; 6 Maret 2010 &#124; Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung “Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik&#8230;” (Tegep Octaviansyah, owner of TEGEP BOOTS) Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/ws_yesclub6_01.jpg" border="0" alt="Common Room" /></p>
<p>Workshop YES Club | 6 Maret 2010 | Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung</p>
<p style="text-align: right;"><em>“Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik&#8230;”</em></p>
<p style="text-align: right;">(Tegep Octaviansyah, owner of <a href="http://www.tegepboots.com/01_thestore.html" target="_blank">TEGEP BOOTS</a>)</p>
<p>Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, inovasilah yang menjadikan sebuah produk selalu baru, segar, unik, dan berbeda. Namun, ini sering kali dilupakan oleh sebagian besar pengusaha kecil di Indonesia, yang terlalu memberi fokus pada nilai ekonomi: meraih laba sebesar mungkin dan menyingkirkan nilai inovasi. Tidak mengherankan apabila kita kerap menjumpai produk tertentu dengan desain yang telah berumur 10-15 tahun, namun masih tetap dikembangkan dengan cara yang sama dan dijual tanpa pengembangan yang berarti. Hal ini pulalah yang sering dijumpai pada usaha kerajinan dan usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia.</p>
<p>Karena kurangnya inovasi, tampaknya kebanyakan dari anggota masyarakat kemudian cenderung menjadi <em>follower</em> dan <em>consumer </em>saja<em>. </em>Banyak diantaranya<em> </em>yang hanya bisa mengikuti <em>trend</em> dan menggunakan barang-barang tanpa mau mempelajari dan mencerna produk yang mereka gunakan terlebih dahulu. Barangkali karena permasalahan ini jugalah kita kemudian menemukan kesulitan untuk menjumpai pribadi yang memiliki idealisme dan prinsip yang ajeg. Namun walaupun sedikit, dapat dikatakan bahwa saat ini keberadaan orang-orang yang memiliki idealisme sangat diperlukan untuk mendorong terjadinya perubahan dan inovasi. Barangkali salah satu dari sedikit pelaku yang telah banyak melakukan pembaharuan adalah Tegep Octaviansyah, pemilik TEGEP BOOTS.</p>
<p><span id="more-662"></span></p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/ws_yesclub6_04.jpg" border="0" alt="Common Room" /></p>
<p>Inovasi menjadi landasan utama bagi Tegep dalam menjalankan usahanya. Mulai dari desain, teknologi, sistem, manajemen, hingga distribusi. Inovasi selalu dilakukan dengan tujuan menemukan cara yang lebih baik dari cara yang sebelumnya. Hal ini mencakup pada berbagai pendekatan yang lebih baik dalam mengembangkan desain yang baru, segar dan berbeda, namun dengan tetap menomorsatukan kualitas. Tampaknya karena hal ini jugalah TEGEP BOOTS sampai saat ini selalu memiliki konsumen yang loyal terhadap produknya. Selain itu, dengan mengembangkan inovasi TEGEP BOOTS selalu berhasil menemukan konsumen baru yang kemudian menjadi pelanggan setia mereka.</p>
<p>Jika sebagian besar pengusaha di Indonesia dan bahkan pemerintah selalu mengutamakan eksport, tidak demikian dengan TEGEP BOOTS. Tegep yakin, pasar dalam negeri pun merupakan lahan yang sangat besar untuk dimanfaatkan dengan baik. Dalam hal ini ekspor produk hanya merupakan bonus dan bukan tujuan utama. Hal ini yang sering dipahami secara salah oleh sebagian besar usahawan, masyarakat, dan pemerintah di Indonesia. Kebanyakan diantara mereka beranggapan bahwa dengan melakukan eksport, sebuah usaha dapat meningkatkan nilai dan harga produk di mata masyarakat dan dunia. Sampai saat ini, dapat dikatakan bahwa ekspor produk menjadi salah satu tujuan utama bagi pemerintah dan dunia usaha di Indonesia dalam menjaga persaingan di era globalisasi, walaupun pada kenyataannya pasar dalam negeri merupakan potensi yang belum banyak dikelola secara maksimal.</p>
<p>Menurut Tegep yang memulai karir sejak tahun 1997, “<em>pengalaman merupakan pembelajaran yang baik untuk kita</em>”. Hal ini menuntut para pengusaha untuk berpikir terbuka dan fleksibel dalam menjalankan usaha mereka. Dalam upaya untuk mengembangkan usaha, ia berujar bahwa kita tidak boleh ragu untuk merubah visi perusahaan atau sudut pandang kita dalam menghadapi dunia yang dinamis. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa <em>uniqueness (product), segmented (market), and new vision</em> menjadi strategi dalam menjalankan usaha yang penuh dengan tantangan dan inovasi. <strong>(yk)</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Critical Reflection &amp; Speculative Review on Art, Culture, ICT/ Media in Bandung &#8211; Indonesia</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 05:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Forum]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[This material was presented during the opening of 1st FOWAB gathering at Common Room, 18 February 2010. Read event review at ruangfreelance (by Dian Ara) and dailysocial (by Wiku Baskoro). FOWAB (Forum Web Anak Bandung) is being initiated by iCreativelabs, Chocaholic, Gagas Imaji, Rave Warrior, Galenic, and ThinkRooms.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="margin: 0px;" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan2010programpresentasifowabpresentasifowab2010-100222230443-phpapp02&amp;stripped_title=critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="margin: 0px;" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan2010programpresentasifowabpresentasifowab2010-100222230443-phpapp02&amp;stripped_title=critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>This material was presented during the opening of 1st <a href="http://fowab.tumblr.com/" target="_blank">FOWAB</a> gathering at Common Room, 18 February 2010. Read event review at <a href="http://www.ruangfreelance.com/2010/02/20/fowab-kuak-kiprah-kreatif-it/" target="_blank">ruangfreelance</a> (by <a href="http://cerebrumdianara.blogspot.com/" target="_blank">Dian Ara</a>) and <a href="http://dailysocial.net/2010/02/19/event-review-fowab-forum-web-anak-bandung/" target="_blank">dailysocial</a> (by <a href="http://wikupedia.multiply.com/" target="_blank">Wiku Baskoro</a>). <strong>FOWAB (Forum Web Anak Bandung)</strong> is being initiated by <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/portfolio.icreativelabs.com/category/blog/');" href="http://portfolio.icreativelabs.com/category/blog/" target="_blank">iCreativelabs</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/madebychocaholic.com/');" href="http://madebychocaholic.com/" target="_blank">Chocaholic</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/gagasimaji.com/');" href="http://gagasimaji.com/" target="_blank">Gagas Imaji</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/ravewarrior.com/');" href="http://ravewarrior.com/" target="_blank">Rave Warrior</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/galenic.web.id/');" href="http://galenic.web.id/" target="_blank">Galenic</a>, and <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/thinkrooms.com/');" href="http://thinkrooms.com/" target="_blank">ThinkRooms</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Bagi Pelaku Bisnis Pertunjukan di Kota Bandung</title>
		<link>http://commonroom.info/2008/kritik-bagi-pelaku-bisnis-pertunjukan-di-kota-bandung/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2008/kritik-bagi-pelaku-bisnis-pertunjukan-di-kota-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 07:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2008/kritik-bagi-pelaku-bisnis-pertunjukan-di-kota-bandung/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini diawali dengan diskusi pagi tentang etika bisnis yang diterapkan oleh beberapa pelaku bisnis pertunjukan lokal, khususnya sponsor acara dan event organizer (EO). Beberapa teman saya seringkali mengeluh ketika gagasan mereka kerap diadaptasi tanpa adanya kompensasi yang jelas dari pihak sponsor atau organizer. Sebagai informasi, teman-teman saya ini adalah orang gokil yang penuh dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini diawali dengan diskusi pagi tentang etika bisnis yang diterapkan oleh beberapa pelaku bisnis pertunjukan lokal, khususnya sponsor acara dan event organizer (EO). Beberapa teman saya seringkali mengeluh ketika gagasan mereka kerap diadaptasi tanpa adanya kompensasi yang jelas dari pihak sponsor atau organizer. Sebagai informasi, teman-teman saya ini adalah orang gokil yang penuh dengan ide liar dan super kreatif. Mereka ini orang-orang yang sangat terbuka bila diajak berkolaborasi selama itu menyenangkan. Sayangnya, sikap terbuka (saya menolak menyebut ini sebagai sikap yang naif) yang dimiliki oleh para pekerja kreatif ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Modusnya standar: menawarkan kerjasama untuk ikut terlibat dalam suatu acara dan meminta para pekerja kreatif untuk menulis proposal.</p>
<p>Biasanya dengan mudah para pekerja kreatif ini mengembangkan gagasan mereka dengan panjang lebar dalam bentuk proposal program. Biasanya si pelaku bisnis tiba-tiba bisa saja menyatakan bahwa ia tidak jadi menyelenggarakan acara yang telah dibicarakan sebelumnya. Ada satu lagi contoh yang lebih buruk: teman saya yang lain ada yang mengalami proposalnya didiamkan tanpa penjelasan sedikitpun. Selang beberapa waktu, ternyata acara yang dimaksud diwujudkan dan konsep yang sebelumnya telah direncanakan ikut dipakai tanpa pemberitahuan. Sayangnya pada saat realisasi konsep sang penggagas acara tidak dilibatkan dan hasilnya tidak maksimal. Akhirnya yang dikecewakan bukan cuma sang penggagas yang idenya dibajak, tapi juga penonton.</p>
<p>Itu baru satu contoh. Ada satu lagi pengalaman pahit seorang pekerja kreatif. Setelah melakukan brainstorming mengenai konsep sebuah acara selama berhari-hari dan dijanjikan profit sharing untuk keterlibatannya, tiba-tiba si pelaku bisnis menggaet sponsor lain dan bilang pada teman saya bahwa dia tidak bisa diikutsertakan. Pada saat hari H, saya datang ke event yang bersangkutan dan ternyata acara tersebut dikerjakan sesuai dengan konsep teman saya itu. Tapi karena bukan dia yang mengerjakannya, tetap saja ujung-ujungnya mengecewakan.</p>
<p>Bila dihubungkan dengan perbincangan mengenai industri kreatif yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini, penyelenggaraan acara atau festival-festival biasanya bisa menjadi ajang untuk mempromosikan produk tertentu. Selain itu ajang-ajang seperti ini juga biasanya sangat berguna untuk mempromosikan sebuah kota. Tetapi bagaimana penyelenggaraan sebuah acara bisa berkembang dan mencapai target-target yang sering didiskusikan oleh pekerja kreatif, pelaku bisnis, akademisi dan pemerintah?</p>
<p>Para sponsor dan event organizer kelihatannya banyak yang lebih senang mencomot ide dari para pekerja kreatif yang telah memiliki kredibilitas, tetapi kemudian memilih pekerja yang mau dibayar lebih murah.  Bila praktik seperti ini dibiarkan, tentu bisa merambat kemana-mana nantinya. Ujung-ujungnya yang rugi adalah para pekerja kreatif dan konsumen. Gagasan untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan bisa cuma jadi mimpi saja.</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan oleh para pekerja kreatif? Selain perlu mengembangkan etika bisnis yang sehat, kekompakan para pekerja kreatif diperlukan untuk menghadapi pelaku bisnis yang nakal seperti ini. Para pekerja kreatif bisa mangaplikasikan satu sistem yang seragam saat dealing dengan sponsor atau penyelenggara event. Sebenarnya para pekerja kreatif tidak perlu memberi proposal atau memaparkan secara detail ide-ide dia tentang acara yang hendak dibuat. Cukup menyerahkan portfolio, lalu atas dasar itu dikeluarkan kontrak kerja antara pihak pekerja kreatif dan sponsor/ event organizer. Kemudian, barulah diadakan brainstorming diantara keduanya. Tidak adanya kebijakan atau peraturan yang jelas untuk kasus-kasus yang disebutkan di awal tulisan menuntut para pekerja kreatif untuk kompak melindungi kepentingan mereka. (Dame/ CRNF)</p>
<p><em>** Ikuti diskusi tentang masalah ini di <a href="http://heterologia.multiply.com/journal/item/45/_Kritik_Bagi_Pelaku_Bisnis_Pertunjukan_di_Kota_Bandung" target="_blank">heterologia</a>.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2008/kritik-bagi-pelaku-bisnis-pertunjukan-di-kota-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertemuan Bandung Creative City Forum &#124; 25 Desember 2007</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/pertemuan-bandung-creative-city-forum-25-desember-2007/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/pertemuan-bandung-creative-city-forum-25-desember-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 07:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Forum]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/pertemuan-bandung-creative-city-forum-25-desember-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 25 Desember yang lalu, Common Room memfasilitasi pertemuan Bandung Creative City Forum yang kedua. Beranjak dari pertemuan sebelumnya, kali ini forum membicarakan pembentukan working group yang terdiri dari perwakilan individu, komunitas dan organisasi yang bergelut di bidang kreatifitas di kota Bandung. Beberapa teman yang hadir dalam pertemuan ini adalah Ridwan Kamil (URBANE), Tata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/IMG_3724.jpg" alt="bccf" border="0" height="375" width="500" /></p>
<p>Pada tanggal 25 Desember yang lalu, Common Room memfasilitasi pertemuan Bandung Creative City Forum yang kedua. Beranjak dari pertemuan <a href="http://commonroom.info/2007/common-room-community-gathering-2007-bandung-creative-city-forum/" target="_blank">sebelumnya</a>, kali ini forum membicarakan pembentukan <em>working group</em> yang terdiri dari perwakilan individu, komunitas dan organisasi yang bergelut di bidang kreatifitas di kota Bandung. Beberapa teman yang hadir dalam pertemuan ini adalah Ridwan Kamil (URBANE), Tata Ahmad Soemardi (PSUD &#8211; ITB), Helvi (FFWD Records), Fiki (KICK/ Airplane Systm), Dxxxt (FFWD Records), Dina Delyana (Homogenic), Man (Jasad/ Ujungberung Rebels), Agus Rakasiwi (AJI/ Pikiran Rakyat), Trie &amp; Iit (Omuniuum), Themfuck (Jeruji), Utun (GPSP), OQ (ButonKultur21), Araji (Fabric Magz), Ginan (Rumah Cemara), Amanda Mita (Prambors Radio), Anggia Tresna (Sekasar Sunaryo Artspace), dll.</p>
<p>Melanjutkan pertemuan sebelumnya yang diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2007, forum kali ini mengukuhkan pembentukan <em>working group </em>yang terdiri dari perwakilan dari masing-masing komunitas dan organisasi. Melalui <em>working group</em> ini, diharapkan ada beberapa program kegiatan yang bisa dirancang dan dilakukan bersama-sama di sepanjang tahun 2008. Adapun anggota dari <em>working group</em> yang telah dibentuk oleh forum adalah sebagai berikut ini:</p>
<p>1. Ridwan Kamil (URBANE)<br />
2. Gustaff H. Iskandar (Common Room Networks Foundation)<br />
3. Fiki Satari (Kick)<br />
4. Agus Rakasiwi (AJI/ Pikiran Rakyat)<br />
5. Utun (GPSP)<br />
6. Hendy Hertiasa (DKV &#8211; ITB)<br />
7. Addy Gembel (Ujungberung Rebels/ Homeless Crew)<br />
8. Helvy Sjarifudin (FFWD Records)<br />
9. Iit (Omuniuum)<br />
10. Woerjantari Soedarsono (PSUD &#8211; ITB)</p>
<p>Pertemuan forum kali ini juga mendiskusikan pentingnya menyusun program dengan skala dan prioritas yang beragam, tetapi tetap fokus pada upaya pengembangan platform dan jaringan pelaku ekonomi kreatif baik di tingkat lokal, regional maupun internasional. Selain itu, para peserta pertemuan sepakat kalau forum ini sebaiknya tetap dapat menjadi forum yang cair sehingga memungkinkan siapa saja untuk bisa ikut bergabung. Para peserta pertemuan juga mengharapkan agar forum tidak dibentuk menjadi organisasi yang hirarkis dan elitis. Adapun agenda selanjutnya dari <em>working group</em> yang telah dibentuk adalah merancang program kegiatan untuk tahun 2008. Untuk itu, rencananya Bandung Creative City Forum akan kembali melakukan pertemuan di awal tahun 2008. Berita terkait dengan pertemuan ini bisa dibaca di halaman berikut <a href="http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;id=5881" target="_blank">ini</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/pertemuan-bandung-creative-city-forum-25-desember-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Common Room Community Gathering 2007: Bandung Creative City Forum</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/common-room-community-gathering-2007-bandung-creative-city-forum/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/common-room-community-gathering-2007-bandung-creative-city-forum/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 04:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Forum]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/common-room-community-gathering-2007-bandung-creative-city-forum/</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 6 Desember 2007, Common Room menyelenggarakan kegiatan community gathering yang dihadiri oleh beberapa teman dan komunitas yang berasal dari latar belakang yang beragam. Acara ini merupakan kegiatan rutin yang ditujukan untuk menjalin komunikasi dan jaringan lintas disiplin, selain juga sebagai upaya untuk terus mencermati perkembangan dan wacana diantara para pekerja kreatif di kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/IMG_3205.jpg" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket" border="0" height="375" width="500" /></p>
<p>Pada tanggal 6 Desember 2007, Common Room menyelenggarakan kegiatan <em>community gathering</em> yang dihadiri oleh beberapa teman dan komunitas yang berasal dari latar belakang yang beragam. Acara ini merupakan kegiatan rutin yang ditujukan untuk menjalin komunikasi dan jaringan lintas disiplin, selain juga sebagai upaya untuk terus mencermati perkembangan dan wacana diantara para pekerja kreatif di kota Bandung. Beberapa agenda yang dibahas di dalam pertemuan ini antara lain adalah wacana mengenai perkembangan ekonomi kreatif dan rencana pembentukan Bandung Creative City Forum. Selain itu, juga dibahas beberapa kemungkinan membentuk program kerjasama yang ditujukan untuk mendorong perkembangan industri kreatif di kota Bandung dan Jawa Barat.</p>
<p>Diantara banyak teman yang saat itu hadir adalah Andar Manik (Seniman, pengelola Jendela Ide), Dewi “Dee” Lestari (Penulis dan musisi), Fiki Satari (Pengusaha, ketua KICK), Helvi Sjarifuddin (Produser musik, pendiri FFWD Records), Marin Ramdhani (Pemilik MonikCeltic/ FFWD Records), Dini Cindaga (Pemilik NoLabelStuff/ NLS), Charly (Pemilik toko Hobbies/ Pendiri Indonesian Skateboard Association), Yayat (Ahli tata suara, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Kimung (Penulis, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Eben (Gitaris Burgekill, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Man (Komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Addy Gembel (Vokalis Forgotten, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Sat N.B (Pemred majalah Ripple &amp; vokalis Pure Saturday), Agus Rakasiwi (Wartawan harian PR &amp; koordinator Forum Diskusi Wartawan Bandung), dsb.</p>
<p>Dalam acara ini, Dewi Lestari menekankan bahwa forum ini sangat diperlukan mengingat potensi yang dimiliki oleh warga kota Bandung. Menurut Dewi selama dua dasawarsa terakhir kota Bandung seperti tengah kehilangan arah karena potensi ini kurang mendapat perhatian yang cukup dari banyak pihak, selain juga karena para pelaku dunia kreatif di kota Bandung sepertinya bergerak sendiri-sendiri. Sementara itu, Fiki Satari menyatakan kalau forum ini akan berguna untuk meningkatkan posisi tawar untuk bernegosiasi dengan banyak pihak agar pengembangan ekonomi yang berbasis kreatifitas di kota Bandung mendapatkan dukungan yang semestinya. Dalam diskusi ini, Yayat dari komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew berpendapat kalau pemerintah sebaiknya tidak terlalu banyak dilibatkan di dalam forum, namun diharapkan posisi pemerintah dapat mendukung keberadaan forum ini.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/creative_city_forum.jpg" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket" border="0" height="357" width="476" /></p>
<p>Lebih jauh lagi, beberapa peserta <em>gathering</em> juga menekankan perlunya forum yang bersifat inklusif, sehingga wacana mengenai pentingnya mengembangkan ekonomi kreatif tidak hanya menjadi diskusi yang elitis dan dapat mengakomodasi kepentingan para <em>stake holder</em> yang beragam. Hal ini terutama ditujukan agar wacana mengenai ekonomi kreatif dapat berdampak bagi masyarakat, terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat secara lebih luas; tidak hanya di kota Bandung tetapi juga di daerah-daerah lain. Dalam acara ini juga dibicarakan beberapa kendala pengembangan ekonomi kreatif, terutama beberapa hal yang terkait dengan minimnya fasilitas publik dan kebijakan pemerintah yang cenderung terlalu birokratis dan rawan akan korupsi. Menanggapi hal ini, para peserta <em>gathering</em> sangat berharap bahwa forum ini dapat menjadi wahana mediasi kepentingan bagi para pelaku ataupun <em>stake holder</em> dengan pemerintah ataupun pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan yang sama.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/IMG_3208.jpg" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket" border="0" height="375" width="500" /></p>
<p>Selain itu, seperti yang dipaparkan oleh Marin Ramdhani dari MonikCeltic/ FFWD Records, bahwa kota Bandung sudah punya segudang seniman dan musisi namun masih sedikit orang yang tertarik untuk mengurus masalah manajemen dan pengelolaan kegiatan. Hal ini sedikit banyak berdampak pada kualitas dan pengelolaan acara, sehingga kegiatan kreatif di kota Bandung menjadi sulit untuk berkembang lebih jauh. Selain minimnya perhatian di bidang manajemen dan organisasi, Eben dari Burgerkill (komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew) juga menyatakan kesulitan untuk mengembangkan ekonomi kreatif juga salah satunya adalah karena ada semacam gap diantara para pelaku dan komunitas yang ada. Untuk itu, idealnya pembentukan Bandung Creative City Forum dapat menjadi wahana untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan mendorong kerjasama bagi para <em>stake holder</em> yang memiliki latar belakang beragam.</p>
<p>Agus Rakasiwi dari Forum Diskusi Wartawan Bandung menyarankan kalau para pelaku dan komunitas kreatif di kota Bandung sebaiknya memiliki media sendiri yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan sekaligus menjalin komunikasi dengan masyarakat luas. Idealnya media yang digunakan dapat dengan mudah diakses dan harus murah, sehingga masyarakat umum juga bisa ikut dilibatkan untuk membicarakan wacana dan perkembangan di bidang ekonomi kreatif. Di dalam pemberitaan media (<em>mainstream</em>), berbagai kegiatan kreatif di kota Bandung relatif masih kurang mendapatkan perhatian media nasional karena Jakarta sampai saat ini masih dilihat sebagai pusat. Namun hal ini dapat disiasati dengan menjalin hubungan kerjasama dengan teman-teman wartawan media <em>mainstream</em>, selain juga bekerjasama dengan para pekerja media yang lebih spesifik, semisal media lokal maupun jaringan blogger.</p>
<p>Salah satu kesimpulan yang diambil dari pertemuan ini adalah kesepakatan untuk membentuk Bandung Creative City Forum yang terdiri dari para pelaku dan komunitas yang beragam dan bersifat terbuka. Selanjutnya dipandang perlu untuk menyiapkan <em>working group</em> yang terdiri dari perwakilan para <em>stake holder</em> untuk membicarakan rencana dan program secara lebih rinci. Untuk hal ini, para peserta <em>gathering</em> meminta Common Room untuk memfasilitasi kegiatan Bandung Creative City Forum, sekaligus menyebarluaskan informasi mengenai pertemuan ini kepada masyarakat luas. Para peserta pertemuan ini sepakat bahwa forum ini harus inklusif dan terbuka bagi siapapun yang memiliki kepentingan dan keperdulian untuk mendorong perkembangan industri kreatif di Indonesia, khususnya kota Bandung dan Jawa Barat.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/common-room-community-gathering-2007-bandung-creative-city-forum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reportase Bandung Creative Showcase 2007</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/reportase-bandung-creative-showcase-2007/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/reportase-bandung-creative-showcase-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 03:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/reportase-bandung-creative-showcase-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 29-31 September 2007, Common Room menyelenggarakan pameran kecil berbarengan dengan pelaksanaan kegiatan International Education &#38; Employability – Developing the Creative Industries yang diselenggarakan oleh British Council Indonesia. Selain pameran, bersama-sama dengan tim Bandung Experience Project, kegiatan ini juga dilengkapi dengan program kunjungan ke beberapa komunitas kreatif dan entrepreneur di kota Bandung. Adapun beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/creative_showcase_14.jpg" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket" border="0" /></p>
<p>Pada tanggal 29-31 September 2007, Common Room menyelenggarakan pameran kecil berbarengan dengan pelaksanaan kegiatan International Education &amp; Employability – Developing the Creative Industries yang diselenggarakan oleh British Council Indonesia. Selain pameran, bersama-sama dengan tim Bandung Experience Project, kegiatan ini juga dilengkapi dengan program kunjungan ke beberapa komunitas kreatif dan entrepreneur di kota Bandung. Adapun beberapa tempat yang dikunjungi adalah <a href="http://www.urbane.co.id" target="_blank">Urbane Indonesia</a>, <a href="http://www.airplanesystm.com/" target="_blank">Airplabe Systm</a>, <a href="http://www.monikceltic.com" target="_blank">MonikCeltic</a> dan <a href="http://www.ffwdrecords.com/" target="_blank">FFWD Records</a>.</p>
<p>Selain itu, kegiatan ini juga menampilkan sesi presentasi yang menghadirkan Yusrila Kerlooza (Ketua Divisi Robotika UNIKOM). Kebetulan pada saat yang hampir bersamaan, Common Room tengah bekerjasama dengan Divisi Robotika Unikom untuk melakukan program kunjungan ke beberapa SMU di kota Bandung dalam rangka memperkenalkan perkembangan dan aplikasi teknologi robot. Ada sekitar 3 SMU yang kita kunjungi, yaitu SMUN 5, SMUN 24 dan SMUN 2. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Common Room Fun Education Program yang rencananya akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun.</p>
<p>Terkait dengan kegiatan Bandung Creative Showcase 2007, kita diminta untuk mempresentasikan beberapa kegiatan Common Room dan materi riset pengembangan ekonomi kreatif kota Bandung yang selama beberapa tahun ini dikembangkan bersama-sama oleh tim peneliti Common Room bekerjasama dengan beberapa teman dan komunitas kreatif yang ada di kota Bandung. Beberapa pengunjung memperlihatkan antusiasme mereka selama presentasi berlangsung, sebelum kemudian berkenalan dengan para seniman, desainer, peneliti dan teman-teman yang kerap aktif berkegiatan di Common Room.</p>
<p>Terimakasih kepada British Council Jakarta yang telah memberikan kesempatan untuk terlibat di dalam program ini. Selain itu, terimakasih juga buat teman-teman yang ikut terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Bandung Creative Showcase 2007. Mudah-mudahan di masa yang akan datang kegiatan-kegiatan serupa bisa lebih sering kita laksanakan sama-sama. Liputan kegiatan terkait dapat dibaca di: <a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0710/31/humaniora/3964611.htm" target="_blank">Kompas</a>,  <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/102007/30/0601.htm" target="_blank">Pikiran Rakyat</a> dan <a href="http://www.thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20071106.T02&amp;irec=1" target="_blank">The Jakarta Post</a>. Foto dokumetasi kegiatan dapat dilihat di <a href="http://heterologia.multiply.com/photos/album/48" target="_blank">Heterologia</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/reportase-bandung-creative-showcase-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung Creative Showcase 2007 &#124; Common Room &#124; 29th &#8211; 31st of October 2007</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/bandung-creative-showcase-2007-29th-31th-of-september-2007/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/bandung-creative-showcase-2007-29th-31th-of-september-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Oct 2007 03:21:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/bandung-creative-showcase-2007-29th-31th-of-september-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Date 29th – 31st October 2007 Place &#38; Activities Visiting program to various creative clusters and local entrepreneur (URBANE &#38; AIRPLANE) Exhibition &#38; Public Discussion at Common Room, from 29th &#8211; 31st of October 2007 (open for public) Introduction In conjunction with the seminar of International Education &#38; Employability – Developing the Creative Industries that [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://farm3.static.flickr.com/2330/1768522738_b7fe6bd8c9.jpg" title="Common Room Media Lab" alt="Common Room Sound Lab" align="top" height="375" width="500" /></p>
<p><span style="font-weight: bold; background-color: #ff0000; color: #ffffff"></span></p>
<p><span style="font-weight: bold; background-color: #ff0000; color: #ffffff">Date</span><br />
29th – 31st October 2007</p>
<p><span style="font-weight: bold; background-color: #ff0000; color: #ffffff">Place &amp; Activities<br />
</span>Visiting program to various creative clusters and local entrepreneur (URBANE &amp; AIRPLANE)<br />
Exhibition &amp; Public Discussion at Common Room, from 29th &#8211; 31st of October 2007 (open for public)<br />
<br style="font-weight: bold" /><span style="font-weight: bold; background-color: #ff0000; color: #ffffff">Introduction</span><br />
In conjunction with the seminar of <a href="http://www.britishcouncil.org/learning-pmi2-policy-dialogues-creative-industries.htm" target="_blank">International Education &amp; Employability – Developing the Creative Industries</a> that was held in Bandung from 29th -31st of October 2007. This program was requested by the British Council Jakarta, which being prepared and organized by Common Room in partnership with Bandung Experience Project team. Besides visiting program, there is a showcase that presenting some works from local creative community and young entrepreneurs in Bandung. All recommended venues &amp; participants are some of the few important nodes that are known as the pioneer for the new and emerging creative scene in Bandung in the recent decades, particularly in the field of youth fashion, music, art, architecture, design &amp; media arts. Brief information about all designated venues &amp; exhibition participants are as follows:</p>
<p><span style="color: #ffffff; font-weight: bold; background-color: #000099">Monik House/MonikCeltic </span><br />
Established in December 1998, MonikCeltic focused itself to be the leading local brand, which started from making girlie bags, apparel, wallet, hat, and other accessories. Later on, its products spread from a wide variety of bags (backpack, hand bag, messenger bag, travel bag, waist bag, etc), shirts (tee’s and polo), jackets, sweaters, raincoats, pants, caps, wallets, beauty case, hand phone pouch and sandals. Targeting market to young, active, and fashionable youth, MonikCeltic always pushes itself to improve MonikCeltic products trough exclusive and original simple pop designs by using high quality materials.</p>
<p>MonikCeltic understands that every individual are unique and have an urge to be different from others, therefore MonikCeltic items maintain its exclusivity by limited production. Within our young and active designers, MonikCeltic products maintain to be up to date and fresh for the youngsters. MonikCeltic products are distributed trough its main shop house, named Monik House, that is located at Jl. Dr. Setiabudhi 56 Bandung, Jl. Trunojoyo #19 Bandung. Some products also can be found at some distro (distribution store) in most of big cities in Indonesia, uncluding two authorized dealer in Surabaya (East Java Province) and Singapore. More info about MonikCeltic product can be found at <a href="http://www.monikceltic.com" target="_blank">http://www.monikceltic.com</a>. Contact: <a href="mailto:info@monikceltic.com">info@monikceltic.com</a>.</p>
<p><span style="font-weight: bold; background-color: #ffcc00">FFWD Records</span><br />
FFWD Records (Stands for Fast Forward Records) is a small record company based in Bandung &#8211; Indonesia. The label was founded back in 1999 when three old friends decided to form a record company to fulfill their passion to their interpretation of good music. The label has released some foreign releases and produces many good tunes from their local scene. The breakthrough came when they released Mocca’s (www.myspace.com/moccaofficial) debut album, My Diary back in 2002. The record was sold for almost 100.000 copies nationwide. It also brought the label to make some arrangement with some foreign record company to release their own releases.</p>
<p>Up until now, FFWD Records has been working with some recording company from Japan (Apple Crumble Records/ Rosemary Records – <a href="http://www.applecrumble.com" rel="nofollow">http://www.applecrumble.com</a>), Thailand (SmallRoom Records – <a href="http://www.smallroom.co.th" rel="nofollow">http://www.smallroom.co.th</a>), Australia (Caveman Records/ Reverberation Distribution – <a href="http://www.reverberation.com.au" rel="nofollow">http://www.reverberation.com.au</a>), Malaysia (Little Records), Singapore (Fruit Records – <a href="http://www.fruitrecords.com" rel="nofollow">http://www.fruitrecords.com</a>), South Korea (Beatball Records), and Spain (Elefant Records – <a href="http://www.elefant.com" rel="nofollow">http://www.elefant.com</a>). Currently the label is growing faster and starts to gain good reputation from its local music industry. Meanwhile, they are still working based on their passion of music from their small-but-homey headquarter in Bandung, not Jakarta, the centre of industry in the country. More info about FFWD Records can be found at <a href="http://www.ffwdrecords.com/" target="_blank">http://www.ffwdrecords.com</a> | <a href="http://www.myspace.com/ffwdrecordsindonesia" target="_blank">http://www.myspace.com/ffwdrecordsindonesia</a>. Contact: <a href="mailto:contact@ffwdrecords.com">contact@ffwdrecords.com</a>, <a href="mailto:felixdass@ffwdrecords.com">felixdass@ffwdrecords.com</a></p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #ffffff; background-color: #009900">UNKL347</span><br />
In 1996, a group of designers and artists gathered and shared their love for surfing, skateboard and design, where, at that time were not as developed as today. They create ideas of a ‘playground’ and a label called 347boardrider.co. Their initial designs described their love for surfing and street wear, also conveyed information about the life they were living. Starting with selling clothing through special orders and catalogues, they finally opened a store in 1999, thus became the pioneer of Indonesia’s own label of clothing. 347boardrider.co blossomed and matured as its owners’ life continued, then the name changed into just 347. Not only inspired by surfing, their design got the influence from music, nightlife, art, and with avant-garde nuance that made them to their success in such young ages. More info about UNKL347 can be found at <a href="http://www.unkl347.com/" target="_blank">http://www.unkl347.com</a>. Contact: <a href="mailto:markdiv@unkl347.com">markdiv@unkl347.com</a>.</p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #009900; background-color: #ffcc00">Common Room (Common Room Networks Foundation)</span><br />
Common Room is a platform for various activities that are organized by Bandung Center for New Media Arts (est. 2001) and anyone who are interested to initiate their own activities in this particular place. Since 2003, Bandung Center for New Media Arts has decided to utilize Common Room as an anchor to serve diverse individuals, communities and organizations in Bandung &#8211; Indonesia. It is the place where people can add, edit and execute their activities based on their own purpose and interest, which mainly focused in developing public knowledge and creativities.</p>
<p>Until now, Common Room has been facilitating numerous exhibitions, screening, workshops, lectures, discussions, small music concerts, cultural festivals, etc. It has becoming a place that bridging dialogue and multi-disciplinary cooperation intended to connect numerous individuals, communities and various organizations both in local and international context. Common Room activities conclude a vast sphere, starting from documenting and exploring phenomena, ideas, models, and new concept born from interdisciplinary approaches in the field of visual arts, design, urban architecture, music, fashion, literature, new media, further study for urban culture &amp; urban ecology. More info about Common Room can be found at <a href="http://www.commonroom.info/" target="_blank">http://www.commonroom.info</a>. Contact: <a href="mailto:info@commonroom.info">info@commonroom.info</a>.</p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #6633ff; background-color: #66ffff">Denny Willy/ Apikayu Foundation</span><br />
Apikayu was founded in 1999 by Deny Willy (Design, ITB) and Krissandi (Wooden craft SMSR) to promote campus innovation especially in furniture design to craft subject to local craft industries. After participated in many community development activities to Small and Micro Enterprises (SME&#8217;s) including youth groups finally Apikayu received funding award and advisory, and become a legal business entity under CV. APIKAYU named throughout Young Entrepreneurs Start-up (YES Programme). The programme is a joint implementation between Shell Company (Shell-LiveWire International Programme and Youth Business International a division of IBLF), Indonesian Business Links, Standard Chartered, McKinsey, Progressio Foundation, and ILO.</p>
<p>While considering most activities under the domain of philanthropy action and community development activity, we decided to transform as a not-for profit institution called Apikayu Foundation. We support the SME&#8217;s and artisan around Indonesia by bringing the new ideas of improving and developing craft design, technology and production process, where in the same time commercializing campus innovation. A few projects funded by Ministry of Research and Technology, Institute of Research and Community Services (LPPM ITB), Indonesian Science Institute (LIPI), Industry and Commerce Office, Higher Education Directorate, as well other related parties. More information about Apikayu Foundation can be found at <a href="http://www.yayasanapikayu.org" target="_blank">http://www.yayasanapikayu.org</a> | <a href="http://www.manikmayacraft.com/" target="_blank">http://www.manikmayacraft.com</a>. Contact: Deny Willy <a href="mailto:willydeny@yahoo.com">willydeny@yahoo.com</a><br />
<br style="background-color: #cc66cc" /><span style="background-color: #cc66cc; font-weight: bold; color: #ffcc00">VideoBabes</span><br />
Founded in 2004, VideoBabes is an artist-run non-profit organization, which focuses on amplifying the development of video-based art in Indonesia. VideoBabes aims to work together with local and international institutions/organizations and also individuals to initiate video-related programs and events (exhibitions and screenings, production and distribution, lectures and workshops). Contact: <a href="mailto:walailaa@bdg.centrin.net.id">walailaa@bdg.centrin.net.id</a> | <a href="mailto:walailaa@yahoo.com">walailaa@yahoo.com</a>.</p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #33ff33; background-color: #ff0000">BUSA</span><br />
BUSA is a design collective, which started in 2006 by five persons from four different educational backgrounds (graphic design, interior design, product design and sculpture). They developed this collective as an act of their nation that product design should not only talk about its techniques, systems and functions, but moreover to give the user an experience in its own way. Busa in Indonesia means a sponge. Just like a sponge that absorbs water, they try to absorb and aware their surroundings in their daily life experience and they translate it into an inspirational and fun-experimental design.</p>
<p>Busa held their first exhibition in May 2007 with title BUSA – a Prelude of Our Vision through Design at Elysium (a street culture &amp; vintage shop) in Bandung. In their early years they successfully exhibited their works in Wake up to design! 100% Design Indonesia, last August in Jakarta. It is a product and furniture exhibition, which exhibited latest Indonesian furniture and product design by some Indonesian designer. Now they are preparing their next exhibition with some Bandung creative industries in early 2008. More information about Busa can be found at <a href="http://www.busabusabusa.multiply.com/" target="_blank">http://www.busabusabusa.multiply.com</a>. Contact: <a href="mailto:busadesign@yahoo.com">busadesign@yahoo.com</a></p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #33ff33; background-color: #999999">NO LABEL STUFF</span><br />
Formed in Bandung City when monetary crisis has lurking on every corner of life, among the anxiety of young folks for their own lifestyle fulfillment, NLS – No Label Stuff – has been and will always fulfill the local needs of fashion. In its decade of presence, NLS still oriented towards the main elements of youth culture in general, such as hardcore music, extreme sports, street art and technological advancements. By doing so, NLS will always be able to stay up to date and adapt through its product and graphic designs to cope with young people’s ever changing taste of fashion. Starting their work from mid 2005, the NLS Company assembles a special design unit in their workgroup, AERWORX (Anti Estetika Worx). The purpose is to update any current information and issues in the world&#8217;s design graphic trend. The goal is to keep NLS as the leading company in Indonesia, specifically in the graphical design trend. Aided by AEWORX, the existence of NLS in local fashion industries’ competition becoming more and more firm. AEWORX indirectly acts as a filter to synchronize the idealism of its designers with the dynamic needs of the market. Contact: <a href="mailto:nolabelstuff@yahoo.com">nolabelstuff@yahoo.com</a></p>
<p><span style="background-color: #33ffff; font-weight: bold; color: #ff0000">SUAVE</span><br />
Suave Free Catalogue is an informative media, which is able to enter the young-targeted market effectively and also provide the latest fashion info and young lifestyle relating with it. Because of that, Suave Free Catalogue is the right alternative for your company to promote to the market widely.  Contents of Suave: Product info, Fashion, Advertise Quiz, Designer profile, Showcase, Snapshot, Checkpoints, and Suavershot (interactive media for readers who want to have his/her photos printed on Suave, as long as he/she uses products that had been advertised on Suave). More information about Suave can be found at <a href="http://www.suavecatalogue.com/" target="_blank">http://www.suavecatalogue.com/</a>. Contact: <a href="mailto:info@suavecatalogue.com">info@suavecatalogue.com</a></p>
<p><a href="http://wwww.deathrockstar.info/" target="_blank"><span style="font-weight: bold; color: #ffff00; background-color: #000000">WWWW.DEATHROCKSTAR.INFO</span></a><br />
DEATHROCKSTAR is a webzine that covering mostly music from the independent scene. Started as a personal blog that write about noise and avant garde music in 2002 mid winter season, but then encouraged to spread it wider to cover Indonesian independent music scene. While it gather more attention the website itself needs some improvement and that&#8217;s the time a new team mate come and research some new engine. And now we still stand and keep the music spirit, while trying to embrace the new era of network technology. Contact: <a href="mailto:eric@deathrockstar.info">eric@deathrockstar.info</a></p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #33ff33; background-color: #009900">Tinkerbell Graphics</span><br />
Around February 2006, from the difference of experiences and specialty, comes to an idea of forming a team that could produces creative minds, visions, and effective works. Tinkerbell Graphics was formed in Bandung, by three college student in design department after working as a team, creating visual introduction for a new production house in Jakarta. Since then they set its aim as a team that converge design, animation, visual effect, video exploration, and visual performance. More info about Tinkerbell Graphics can be found at <a href="http://www.tinkerbellgraphics.multiply.com/" target="_blank">http://tinkerbellgraphics.multiply.com/</a> | <a href="http://www.tinkerbellgraphics.wordpress.com/" target="_blank">http://tinkerbellgraphics.wordpress.com/</a>. Contact: <a href="mailto:tb_graphics@yahoo.com">tb_graphics@yahoo.com</a></p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #ff0000; background-color: #000099">AIRPLANE SYSTM</span><br />
Airplane Systm is a clothing company based in Bandung, West Java – Indonesia. Created in1998 on the basis of originality and creativity, Airplane Systm is begin from group of young people who want to make something creative in fashion industry inspired by music, skateboards, and pop art. We have become determined to introduce the best and most unique products to the youth culture through our products. Airplane Systm create products, which offer personal and unique insight within this complex society. As a growing clothing company we developed a strong following due to mixture design themes and our attention to creating quality products. Airplane Systm produced t-shirts, polo shirts, sweatshirts, hoodies, jacket, underwear, denim, and most notably is Manchester shoes. More information about Airplane Systm can be found at <a href="http://www.airplanesystm.com/" target="_blank">http://www.airplanesystm.com/</a>. Contact: <a href="mailto:contact@airplanesystm.com">contact@airplanesystm.com</a><br />
<br style="background-color: #66ffff" /><span style="font-weight: bold; color: #ffff66; background-color: #996633">URBANE INDONESIA</span><br />
PT. URBANE Indonesia was established on 2004 in Bandung by M. Ridwan Kamil, award winner of British Council International Young Design of The Year 2006. URBANE’s ideas and visions for the built environment have a long journey in shaping most places both local and overseas. With the creative minds, URBANE brings to its worldwide clientele a team of several talented and visionary professionals that provide innovative solutions to complex problems. The firm has been involved in a broad variety of projects including large urban and suburban master- plans; mix use, a part of residential complex, entertainment, etc. Principal of the firm, who are recognized as a leader specializing in the clients needs, is intimately involved through completion of work and is committed to excellence in design and to serving our clients with unique solutions. The firm is dedicated to partnering with the clients to create places and architecture where the function and aesthetics work together, while responding to critical environmental and social issues, including ecology, visual impacts and economic viability. More info about URBANE can be found at <a href="http://www.urbane.co.id" target="_blank">http://www.urbane.co.id</a>. Contact: <a href="mailto:urbane@cbn.net.id">urbane@cbn.net.id</a></p>
<p><span style="color: #66ff99; font-weight: bold; background-color: #ff0000">CERAHATI ARTWORKS</span><br />
Cerahati is one of the pioneers in local creative community in Bandung. Since 2000, they started to work together as a collective who have common interest in the world of audio-visual. From the very beginning, Cerahati already involve in the local creative scene for producing numerous music video clip for local indie band. Later on, they also started to produce music video clip for major label and other artists, including some projects for their distinct creativity in working with digital media. They are known for their collaborative approach in generating various creative outputs. Up until now, this Bandung based production house has released more than 200 music videos. In 2003, they’ve received the best video of the year award from MTV Indonesia for their experimental music video entitled Me and My Boy Friend from Mocca (FFWD Records, 2003). Cerahati core team consists of Moro, Pumpung, Xonad and Edy Khemod. Most of them are studied and graduated from Faculty of Fine Arts &amp; Design, Institute Technology of Bandung. Contact: <a href="mailto:khemod@yahoo.com">khemod@yahoo.com</a></p>
<p><span style="font-weight: bold; background-color: #ff0000">Selasar Sunaryo Artspace</span><br />
Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) is a non-profit institution that aims to hold and support art and cultural activities in Indonesia by regularly holding activities such as exhibitions, discussions, film screenings, workshops, artist residencies as well as performing arts. Its programs cover various disciplinary approaches that are not limited to modern and contemporary art, but also design, architecture, craft, literature and film. Besides holding special exhibitions designed annually by the board of curators, SSAS holds regular exhibitions showing permanent collections that mostly consist of works of a prominent Indonesian painter and sculptor, Sunaryo.</p>
<p>SSAS was opened in 1998 and up until now has ceaselessly held a number of local and international art exhibitions. The organization has a long-standing dream to become one of the most active cultural centers in Indonesia and a resource for accessing information concerning Indonesian artists. It is open for international networking and cooperation with other institutions that have similar concerns towards building a better art infrastructure in Indonesia. More info about Selasar Sunaryo Artspace can be found at <a href="http://www.selasarsunaryo.com" target="_blank">http://www.selasarsunaryo.com</a>. Contact: <a href="mailto:selasar@bdg.centrin.net.id">selasar@bdg.centrin.net.id</a>.</p>
<p><span style="color: #ffff00; background-color: #33cc00; font-weight: bold">BANDUNG</span><span style="font-weight: bold; color: #33cc00; background-color: #ffff00">EXPERIENCE</span> (www.bandungexperience.com**)<br />
BANDUNGEXPERIENCE is a social networking website with information on the creative industry in Bandung as the main information provided in the website. The idea arose from a big concern upon the existence of an online mapping of the industry. BANDUNGEXPERIENCE acts as a space, which integrate the whole information. Furthermore, it also acts as a social network within and outside Bandung by providing various applications for online social interactions. BANDUNGEXPERIENCE project team is working closely with Common Room Networks Foundation, MonikCeltic and UNKL347. Contact: D. Christina Siahaan &lt;dame_christina@yahoo.com&gt;</p>
<p><span style="font-style: italic">** To be released by the end of 2007</span></p>
<p><span style="font-weight: bold; background-color: #ff0000; color: #ffffff"></span></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/bandung-creative-showcase-2007-29th-31th-of-september-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Bagi Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/iydey-2007-picnic%e2%80%9907-pr-ekonomi-kreatif-di-indonesia/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/iydey-2007-picnic%e2%80%9907-pr-ekonomi-kreatif-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 12:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/iydey-2007-picnic%e2%80%9907-pr-ekonomi-kreatif-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[“Nobody knows what will happen in the future. We have to propose something anyway…”- Diskusi peserta IYDEY 2007 I Ajang International Young Design Entrepreneur of the Year Award 2007 (IYDEY 2007) baru saja berakhir beberapa waktu yang lalu. Melalui inisiatif dari British Council, sejak tanggal 10 s/d 21 September 2007 kompetisi ini mempertemukan 10 finalis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2223/1587603144_674ea0dc0c.jpg" title="iydey2007" alt="iydey2007" height="375" width="500" /></p>
<p align="right"><span style="font-style: italic" class="insertedphoto">“Nobody knows what will happen in the future. </span><br style="font-style: italic" /><span style="font-style: italic" class="insertedphoto">We have to propose something anyway…”</span><br style="font-style: italic" /><span class="insertedphoto">- Diskusi peserta IYDEY 2007</span></p>
<p align="center"><strong>I</strong></p>
<p align="left"><span class="insertedphoto">Ajang International Young Design Entrepreneur of the Year Award 2007 (IYDEY 2007) baru saja berakhir beberapa waktu yang lalu. Melalui inisiatif dari British Council, sejak tanggal 10 s/d 21 September 2007 kompetisi ini mempertemukan 10 finalis dari 10 negara yang terdiri dari Argentina, China, Estonia, India, Indonesia, Nigeria, Polandia, Slovenia, Thailand, dan Venezuela. Berbeda dengan kompetisi desain yang selama ini kita kenal, IYDEY 2007 melibatkan peserta yang memiliki latar belakang pengetahuan dan profesi yang beragam sehinga kita diajak untuk membayangkan dunia desain sebagai sebuah disiplin pengetahuan yang memiliki pengertian yang luas dan sangat cair.</span></p>
<p>Hal ini misalkan tercermin dari beberapa peserta semisal Manuel Rapoport (Argentina), Ruttikorn Vuttikorn (Thailand) dan Martin Bricelj (Slovenia). Manuel Rapaport adalah seorang desainer mebel yang juga bekerja sebagai aktifis pemberdayaan masyarakat dan pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan di Patagonia, sebuah daerah terpencil di Argentina bagian selatan. Lewat studionya, ia kerap melibatkan komunitas masyarakat setempat untuk terlibat dalam pengembangan desain yang ramah lingkungan. Ruttikorn Vuttikorn adalah seorang desainer boneka yang juga kerap aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengupayakan pengembangan desain boneka untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sementara Martin Bricelj adalah seniman new media yang kerap berkarya di ruang publik dengan memanfaatkan pengetahuan di bidang desain dan teknologi baru untuk mengekspresikan berbagai pandangan tentang berbagai persoalan yang ada di masyarakat.</p>
<p>Selama kurang lebih 10 hari, kompetisi ini mengajak para peserta terlibat dalam serangkaian kegiatan kunjungan, wawancara, dan diskusi dengan berbagai pihak dan organisasi yang terkait dengan bidang desain dan industri kreatif di London dan Glasgow. Sejak hari pertama, para peserta diajak untuk mengunjungi berbagai biro desain, studio arsitektur, toko, butik, agensi publik, lembaga riset, universitas, museum, galeri maupun berbagai institusi dan komunitas lokal yang memiliki kaitan yang khusus dengan perkembangan desain maupun industri kreatif  di Inggris. Melalui program ini, para peserta diajak untuk melihat secara langsung pranata dunia desain dan industri kreatif Inggris yang begitu komplit. Mulai dari institusi formal, lembaga pendidikan, agen, studio, toko sampai pada keberadaan berbagai komunitas dan institusi yang kerap melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghimpun berbagai pengetahuan dan informasi yang terkait dengan perkembangan desain maupun industri kreatif secara umum.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2016/1587603146_66c9e042d4.jpg" title="iydey2007" alt="iydey2007" height="375" width="500" /></p>
<p align="left">Diakhir program, sebagian peserta berkesempatan untuk menampilkan karya terbaik dari negara masing-masing dalam pameran 100% Design yang diselenggarakan di Earls Court London mulai tanggal 18 s/d 21 September 2007. Acara tahunan ini merupakan  ajang istimewa yang mempertemukan para pelaku industri desain produk dan interior dengan berbagai pihak yang secara langsung berkepentingan dengan industri ini. Selain menampilkan karya desain dan penemuan terbaru di bidang material dan teknologi, kegiatan ini juga menyelenggarakan berbagai konferensi, presentasi dan diskusi yang melibatkan para pelaku industri kreatif dari berbagai negara. Sayang dalam kesempatan ini Indonesia urung menampilkan karya craft kontemporer dari Ahadiat Joedawinata karena mendapat masalah dalam proses pengiriman karya ke Inggris.</p>
<p align="left">Sementara itu, Sigal Cohen (Venezuela) tampil sebagai pemenang untuk kompetisi IYDEY 2007. Sigal adalah seorang desainer multimedia yang kerap bekerja dengan menggunakan media digital. Untuk kompetisi ini, ia secara khusus melakukan penelitian mengenai perkembangan budaya visual dan desain grafis di Venezuela. Selain itu, ia juga merancang sebuah platform online yang akan dikembangkan menjadi database visual dan sumber inspirasi artistik bagi para desainer di Venezuela. Yang menarik, platform ini juga dapat digunakan secara interaktif, sehingga setiap orang dapat berkontribusi dan terlibat secara aktif dalam setiap proses penyusunan content. Untuk proyek ini, Sigal mengadaptasi perkembangan web 2.0 dan aplikasi social networking yang memang sedang marak berkembang di jagat internet selama beberapa tahun terakhir ini.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2288/1587603284_5a3d7d901c.jpg" title="picnic07" alt="picnic07" height="375" width="500" /></p>
<p align="center"> <strong>II</strong></p>
<p align="left">Sehari setelah pelaksanaan kegiatan IYDEY 2007 selesai, saya kemudian menjadi peserta dalam sebuah konferensi yang bertajuk PICNIC’07/Cross Media Week yang diselenggarakan pada tanggal 25 s/d 29 September 2007 di kota Amsterdam. Penyelenggara kegiatan ini adalah Cross Media Week Foundation yang terdiri dari sekelompok orang yang berasal dari beragam disiplin pengetahuan dan institusi yang saling berbeda. Organisasi ini didirikan oleh Bas Verhart (CEO Media Republic) dan Marlen Stikker (Direktur Waag Society), dengan anggota yang terdiri dari para peneliti, konsultan dan pelaku bisnis yang terkait dengan perkembangan teknologi dan industri kreatif  di negeri Belanda. Diselenggarakan untuk yang ke dua kali, PICNIC’07 merupakan sebuah acara tahunan yang secara khusus mencermati perkembangan teknologi dan industri media terkini di wilayah Eropa, Amerika Utara dan Asia.</p>
<p align="left">Dalam program ini, dilaksanakan serangkaian konferensi yang menghadirkan para pembicara yang terdiri dari seniman, desainer, arsitek, peneliti, programer, hacker, sampai pada para pelaku bisnis yang terkait dengan perkembangan di bidang teknologi dan industri media. Beberapa pembicara yang hadir antara lain adalah Prof . Dr. Emile Aarts (Philips Research Laboratories), David Silverman (Sutradara The Simpsons), Stefan Sagmaeister (Desainer pendiri Sagmeister Inc.), Sir Richard Branson (Pemilik Virgin Records), dsb. Di depan ratusan peserta, selama beberapa hari para pembicara ini memaparkan berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan kreatifitas, mulai dari sisi proses sampai pada berbagai informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perkembangan di bidang kreatifitas, teknologi dan bisnis.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2029/1587603292_fe4baadf3c.jpg" title="picnic07" alt="picnic07" height="375" width="500" /></p>
<p align="left"> Diantara sekian banyak pembicara juga hadir Woody Gershenfield, seorang aktor yang dikenal sebagai pemeran Larry Flynt dalam film The People vs. Larry Flynt (1996). Selain bekerja sebagai seorang aktor, Woody Gershenfield juga seorang aktifis yang banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan hidup yang memperjuangkan kelestarian hutan dan mencegah penebangan kayu liar. Kehadirannya dalam acara ini terkait dengan salah satu agenda PICNIC’07, yaitu program kampanye pelestarian lingkungan hidup dan antisipasi perubahan iklim global. Untuk itu, khusus dalam PICNIC’07 diselenggarakan Picnic Green Challenge yang mengajak berbagai pihak untuk berkompetisi menciptakan teknologi yang berguna bagi perbaikan kondisi lingkungan hidup yang saat ini tengah mengalami kerusakan yang parah. Dalam kompetisi ini Igor Kluin tampil sebagai sebagai pemenang setelah bersaing dengan 439 peserta dan berhak mendapatkan hadiah sebesar 500.000 euro. Igor merancang QBox yang berfungsi sebagai instrumen penunjang jaringan energi alternatif yang dapat memonitor dan mengoptimalkan penggunaan energi rumahan secara otomatis.</p>
<p align="left">Selain konferensi, acara ini juga menampilkan serangkaian presentasi, diskusi, pameran, pemutaran film, konser musik dan berbagai kegiatan yang memungkinkan para pelaku yang berasal dari beragam latar belakang disiplin pengetahuan dan profesi untuk saling berkenalan dan membangun jaringan kerjasama, baik dalam konteks lokal maupun internasional. Untuk kegiatan ini – atas dukungan Hivos (Sebuah organisasi non-profit yang berasal dari Belanda) – kesertaan saya dalam program PICNIC’07 juga terkait dengan upaya untuk membangun jejaring kerjasama selatan-selatan yang rencananya akan melibatkan beberapa medialab yang berada di wilayah India, Indonesia dan Brazil. Melalui inisiatif yang dimotori oleh Sarai Media Intiative (India), gagasan ini juga mendapatkan sambutan positif dari Waag Society (Belanda) dan Metareciclagem (Brazil). Upaya untuk membangun jaringan kerjasama selatan-selatan ini terutama ditujukan untuk menjembatani kesenjangan informasi dan pengetahuan yang masih menjadi endemi diantara komunitas masyarakat sipil di negara-negara yang terletak di bagian selatan dunia. Diharapkan melalui jaringan kerjasama selatan-selatan, Indonesia dapat menjadi salah satu motor penggerak yang menjembatani berbagai bentuk kesenjangan yang terjadi diantara negara maju dan negara berkembang.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2136/1587603300_79e184ba53.jpg" title="picnic07" alt="picnic07" height="375" width="500" /></p>
<p align="left">Salah satu program yang banyak menarik perhatian publik dalam kegiatan ini adalah  demontrasi mengenai perkembangan teknologi radio frequency identification device (RFID) yang dipresentasikan oleh kelompok Mediamatic (Belanda). Salah satu karya ciptaan mereka adalah Trace Table yang mampu menghimpun berbagai informasi personal yang dimiliki oleh setiap orang melalui piranti RFID yang mereka punya. Selama beberapa tahun terakhir, aplikasi perkembangan teknologi RFID telah memicu banyak kontroversi yang terkait dengan isu dibidang keamanan dan privasi. Sekeping sirkuit logam tembaga yang dapat memancarkan dan menerima sinyal berisi data dan informasi ini memang mulai banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Di beberapa negara, teknologi ini mulai dimanfaatkan sebagai kartu cerdas yang dapat memuat data dan informasi yang spesifik – mulai dari passport sampai pada pemindai pola sirkulasi produk industri – sehingga dicurigai dapat membobol informasi yang bersifat sangat pribadi. Program lain yang tidak kalah menarik adalah presentasi dari FabLab (<a href="http://www.fablab.nl" target="_blank">http://www.fablab.nl</a>) yang menampilkan workshop mengenai cara merakit printer 3 dimensi secara mandiri.</p>
<p align="center"><strong>III</strong></p>
<p>Berkaca dari kedua kegiatan di atas, secara jelas kita dapat melihat bagaimana penguasaan di bidang informasi, pengetahuan dan kreatifitas saat ini tengah menjadi titik sentral dalam perkembangan budaya secara global. Hal ini setidaknya juga ikut mengarahkan perkembangan di bidang teknologi dan bisnis yang memanfaatkan kreatifitas manusia sebagai ujung tombaknya. Sejak pertengahan tahun 1990-an, perkembangan di bidang informasi, pengetahuan dan kreatifitas juga ikut memicu lahirnya wacana mengenai industri kreatif yang saat ini telah menjadi fenomena global. Selain di negara maju, perkembangan industri kreatif setidaknya juga tumbuh secara pesat di beberapa negara berkembang semisal Cina, India, Brazil, Argentina, Meksiko dan bahkan Burkina Faso yang terletak di daratan Afrika. Di beberapa negara ini konon sektor ekonomi kreatif memberikan sumbangan GNP sebesar 3% (OAS Culture Series, 2003).</p>
<p>Di Inggris dan Belanda, sektor ekonomi kreatif tercatat memberikan kontribusi bagi penciptaan lapangan kerja baru sampai sebesar 30% (Richard Florida &amp; Irene Tinagli, 2004). Tidak mengherankan kalau pemerintah di masing-masing negara menggenjot perkembangan sektor ekonomi kreatif dengan mendorong berbagai inisiatif masyarakat sipil untuk meningkatkan kemampuan di bidang kreatifitas dengan menciptakan berbagai kebijakan publik yang mengambil fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perkembangan teknologi. Selain itu, di banyak negara maju pemerintah setempat kerap menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat sipil agar dapat mendorong penguasaan di bidang informasi dan pengetahuan secara luas. Untuk itu diciptakanlah berbagai kebijakan dan insentif yang dapat memicu pertumbuhan di bidang sektor kreatif dengan melibatkan pemerintah, lembaga keuangan, institusi pendidikan formal, dan berbagai kelompok independen yang menjadi tulang punggung bagi perkembangan ekonomi kreatif.</p>
<p align="left">Di Indonesia, perkembangan sektor ekonomi kreatif juga disinyalir tengah berkembang pesat di beberapa kota besar selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Melalui inisiatif komunitas anak muda di beberapa kota semisal Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, berbagai benih yang memicu pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat lokal telah mampu melahirkan karya film, animasi, fesyen, musik, software, game komputer, dsb. Beberapa diantara pelaku ekonomi kreatif ini malah telah mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karyanya di ajang internasional dan diterima dengan tangan terbuka. Yang mengagetkan, keberadaan talenta baru ini muncul tanpa infrastruktur yang memadai dan bahkan minim akan fasilitas. Berbeda dengan perkembangan sektor ekonomi kreatif negara maju yang didukung penuh oleh pemerintahnya, perkembangan sektor kreatif di Indonesia kebanyakan dipicu oleh terbukannya akses informasi dan pengetahuan yang didapat melalui internet. Selain itu kemunculan berbagai komunitas kreatif ini juga berkembang berkat intuisi untuk bertahan hidup di tengah masa-masa sulit. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila ditengah segala keterbatasan beberapa komunitas ini mampu melahirkan karya yang berkualitas, walau beberapa diantaranya disinyalir tercipta melalui penggunaan software bajakan.</p>
<p>Pemerintah sendiri akhir-akhir ini terlihat getol menyuarakan pentingnya mengembangkan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu upaya untuk keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Dalam Pekan Produk Budaya Indonesia, Presiden SBY menyatakan kalau ekonomi kreatif merupakan modal utama pembangunan ekonomi di gelombang empat peradaban (11/07/07). Hal ini tentu saja dapat kita artikan sebagai angin segar, walaupun wujud kongkrit bagi pengembangan sektor kreatif di dalam negeri masih merupakan tanda tanya besar. Setidaknya sampai saat ini sudah ada banyak pameran, seminar, workshop, usulan dan artikel di media massa yang membicarakan perkembangan ekonomi kreatif secara panjang lebar. Namun sayangnya upaya ini belum menunjukan kalau perkembangan ekonomi kreatif mendapatkan dukungan yang berarti dari berbagai pihak. Kalaupun ada, hampir semua mengambil fokus pada pembangunan infrastruktur (fisik) dan minim sekali perhatian pada peningkatan sumberdaya manusia melalui peningkatan akses terhadap informasi dan pengetahuan. Oleh karena itu, keinginan Presiden SBY untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai sektor unggulan yang dapat memberikan kontribusi penting bagi ekonomi nasional di masa depan bisa dikatakan masih merupakan mimpi yang entah kapan bisa menjadi kenyataan.</p>
<p><span style="font-style: italic">Kyai Gede Utama, 12 Oktober 2007</span></p>
<p>Gustaff H. Iskandar</p>
<p align="left"> <span style="font-weight: bold"></span></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/iydey-2007-picnic%e2%80%9907-pr-ekonomi-kreatif-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

