Tagged: Knowledge Economy RSS

  • blauloretta 1:25 pm on October 17, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , Knowledge Economy   

    [Diskusi] Menuju Masa Depan Bersama melalui Masyarakat Pengetahuan Indonesia | Rabu, 24 Oktober 2012 

    Menuju Masa Depan Bersama melalui Masyarakat Pengetahuan Indonesia
    Penyaji Materi: Armein Langi
    Hari/ Tanggal: Rabu, 24 Oktober 2012, pk. 14.00 – 17.00 WIB
    Venue: Common Room, Jl Muararajeun no.15, Bandung (Dekat PUSDAI/ Di belakang Hotel Mitra)

    (More …)

     
  • blauloretta 5:03 am on August 31, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , Knowledge Economy   

    Paparan Kebijakan Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia | Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 

     
  • blauloretta 5:28 am on April 26, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , Knowledge Economy, ,   

    Common Room Networks Foundation (Common Room) | Track Records 2001 – 2012 

    Materi ini dipresentasikan di s.14 pada 7 April 2012. Catatan diskusi dapat dibaca di laman ‘Berbagi Cerita Tentang Common Room di s.14‘.

     
  • blauloretta 10:55 am on November 8, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , , Knowledge Economy, ,   

    Informasi Kegiatan Common Room | November 2010 

    Silahkan kunjungi laman RADIOLOGIA untuk mendengarkan Radiologia Streaming Program dari Common Room, setiap hari Rabu pukul 18.00 – selesai. Twitter: @radiologia_bdg

    Agenda Common Room | November 2010

    Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sumber Daya Insani dan Ekonomi Kreatif | Indonesia Kreatif (http://indonesiakreatif.net)
    Diskusi pengembangan sumber daya manusia sebagai pondasi perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia bersama perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta perwakilan akademisi dan pelaku ekonomi kreatif dari kota Bandung.
    Jumat, 12 November 2010, Pk. 13.00 – 18.00 WIB

    “SADAR BENCANA SEJAK DINI! Sabilulungan Ngajaga Lembur | KNOWING THE RISK AND TAKE ACTION – International Organization for Migration (IOM)
    Pameran dan diskusi siaga kebencanaan bersama Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, ST.,MT (Pusat Mitigasi Bencana ITB), Ir. Gatot M. Soedradjat, MT (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/ PVMBG), serta perwakilan IOM untuk Jawa Barat. Kegiatan ini akan diawali dengan pembukaan pameran “Pengalamanku dengan Bencana”, yang akan menampilkan karya gambar anak dari beberapa Sekolah Dasar (SD) di daerah Garut Selatan. Pameran akan berlangsung di Common Room sampai tanggal 20 November 2010.
    Sabtu, 13 November 2010, Pkl. 16.00 – selesai

    Workshop Penggunaan Software Musik Abelton | Oleh Ega Ginanjar (Europe in de Tropen/ OpenLabs)
    *Pendaftaran silahkan hubungi Ranti di +62222503404 pada jam kerja.
    Sabtu, 27 November 2010, Pk. 15.00 – selesai

    Kelas Privat Suling dan Kacapi | Oleh Iman Rohman aka Iman Zimbot
    *Pendaftaran silahkan hubungi Ranti di +62222503404 pada jam kerja.
    Sepanjang bulan November s/d Desember

    Common Room Networks Foundation (Common Room)
    Common Room adalah platform yang terbuka untuk kegiatan seni, budaya dan pemanfaatan ICT/ Media. Kegiatan Common Room dikelola oleh Common Room Networks Foundation dan didukung oleh HIVOS. Bagi teman-teman yang tertarik untuk terlibat dan menyelenggarakan kegiatan di Common Room, silahkan menghubungi Ranti di nomor 022-2503404 atau kunjungi kami di Jalan Kyai Gede Utama no. 8. Informasi mengenai kegiatan Common Room dapat diakses di situs http://commonroom.info dan twitter @CommonRoom_ID.

    Alamat
    Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung – 40132 | WEST JAVA – INDONESIA | Phone/ Fax: +62.22.250.3404
    Url: http://commonroom.info | E-mail: info@commonroom.info | Twitter: @CommonRoom_ID

    (More …)

     
  • Idharrez 12:05 pm on March 6, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Knowledge Economy,   

    Penelitian dan Pengembangan dalam Usaha Kecil 

    Common Room

    Workshop YES Club | 6 Maret 2010 | Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung

    “Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik…”

    (Tegep Octaviansyah, owner of TEGEP BOOTS)

    Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, inovasilah yang menjadikan sebuah produk selalu baru, segar, unik, dan berbeda. Namun, ini sering kali dilupakan oleh sebagian besar pengusaha kecil di Indonesia, yang terlalu memberi fokus pada nilai ekonomi: meraih laba sebesar mungkin dan menyingkirkan nilai inovasi. Tidak mengherankan apabila kita kerap menjumpai produk tertentu dengan desain yang telah berumur 10-15 tahun, namun masih tetap dikembangkan dengan cara yang sama dan dijual tanpa pengembangan yang berarti. Hal ini pulalah yang sering dijumpai pada usaha kerajinan dan usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia.

    Karena kurangnya inovasi, tampaknya kebanyakan dari anggota masyarakat kemudian cenderung menjadi follower dan consumer saja. Banyak diantaranya yang hanya bisa mengikuti trend dan menggunakan barang-barang tanpa mau mempelajari dan mencerna produk yang mereka gunakan terlebih dahulu. Barangkali karena permasalahan ini jugalah kita kemudian menemukan kesulitan untuk menjumpai pribadi yang memiliki idealisme dan prinsip yang ajeg. Namun walaupun sedikit, dapat dikatakan bahwa saat ini keberadaan orang-orang yang memiliki idealisme sangat diperlukan untuk mendorong terjadinya perubahan dan inovasi. Barangkali salah satu dari sedikit pelaku yang telah banyak melakukan pembaharuan adalah Tegep Octaviansyah, pemilik TEGEP BOOTS.

    (More …)

     
  • blauloretta 5:45 am on February 23, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , Knowledge Economy, , , ,   

    Critical Reflection & Speculative Review on Art, Culture, ICT/ Media in Bandung – Indonesia 

    This material was presented during the opening of 1st FOWAB gathering at Common Room, 18 February 2010. Read event review at ruangfreelance (by Dian Ara) and dailysocial (by Wiku Baskoro). FOWAB (Forum Web Anak Bandung) is being initiated by iCreativelabs, Chocaholic, Gagas Imaji, Rave Warrior, Galenic, and ThinkRooms.

     
  • blauloretta 7:14 am on January 8, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , , Knowledge Economy   

    Kritik Bagi Pelaku Bisnis Pertunjukan di Kota Bandung 

    Hari ini diawali dengan diskusi pagi tentang etika bisnis yang diterapkan oleh beberapa pelaku bisnis pertunjukan lokal, khususnya sponsor acara dan event organizer (EO). Beberapa teman saya seringkali mengeluh ketika gagasan mereka kerap diadaptasi tanpa adanya kompensasi yang jelas dari pihak sponsor atau organizer. Sebagai informasi, teman-teman saya ini adalah orang gokil yang penuh dengan ide liar dan super kreatif. Mereka ini orang-orang yang sangat terbuka bila diajak berkolaborasi selama itu menyenangkan. Sayangnya, sikap terbuka (saya menolak menyebut ini sebagai sikap yang naif) yang dimiliki oleh para pekerja kreatif ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Modusnya standar: menawarkan kerjasama untuk ikut terlibat dalam suatu acara dan meminta para pekerja kreatif untuk menulis proposal.

    Biasanya dengan mudah para pekerja kreatif ini mengembangkan gagasan mereka dengan panjang lebar dalam bentuk proposal program. Biasanya si pelaku bisnis tiba-tiba bisa saja menyatakan bahwa ia tidak jadi menyelenggarakan acara yang telah dibicarakan sebelumnya. Ada satu lagi contoh yang lebih buruk: teman saya yang lain ada yang mengalami proposalnya didiamkan tanpa penjelasan sedikitpun. Selang beberapa waktu, ternyata acara yang dimaksud diwujudkan dan konsep yang sebelumnya telah direncanakan ikut dipakai tanpa pemberitahuan. Sayangnya pada saat realisasi konsep sang penggagas acara tidak dilibatkan dan hasilnya tidak maksimal. Akhirnya yang dikecewakan bukan cuma sang penggagas yang idenya dibajak, tapi juga penonton.

    Itu baru satu contoh. Ada satu lagi pengalaman pahit seorang pekerja kreatif. Setelah melakukan brainstorming mengenai konsep sebuah acara selama berhari-hari dan dijanjikan profit sharing untuk keterlibatannya, tiba-tiba si pelaku bisnis menggaet sponsor lain dan bilang pada teman saya bahwa dia tidak bisa diikutsertakan. Pada saat hari H, saya datang ke event yang bersangkutan dan ternyata acara tersebut dikerjakan sesuai dengan konsep teman saya itu. Tapi karena bukan dia yang mengerjakannya, tetap saja ujung-ujungnya mengecewakan.

    Bila dihubungkan dengan perbincangan mengenai industri kreatif yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini, penyelenggaraan acara atau festival-festival biasanya bisa menjadi ajang untuk mempromosikan produk tertentu. Selain itu ajang-ajang seperti ini juga biasanya sangat berguna untuk mempromosikan sebuah kota. Tetapi bagaimana penyelenggaraan sebuah acara bisa berkembang dan mencapai target-target yang sering didiskusikan oleh pekerja kreatif, pelaku bisnis, akademisi dan pemerintah?

    Para sponsor dan event organizer kelihatannya banyak yang lebih senang mencomot ide dari para pekerja kreatif yang telah memiliki kredibilitas, tetapi kemudian memilih pekerja yang mau dibayar lebih murah. Bila praktik seperti ini dibiarkan, tentu bisa merambat kemana-mana nantinya. Ujung-ujungnya yang rugi adalah para pekerja kreatif dan konsumen. Gagasan untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan bisa cuma jadi mimpi saja.

    Apa yang bisa dilakukan oleh para pekerja kreatif? Selain perlu mengembangkan etika bisnis yang sehat, kekompakan para pekerja kreatif diperlukan untuk menghadapi pelaku bisnis yang nakal seperti ini. Para pekerja kreatif bisa mangaplikasikan satu sistem yang seragam saat dealing dengan sponsor atau penyelenggara event. Sebenarnya para pekerja kreatif tidak perlu memberi proposal atau memaparkan secara detail ide-ide dia tentang acara yang hendak dibuat. Cukup menyerahkan portfolio, lalu atas dasar itu dikeluarkan kontrak kerja antara pihak pekerja kreatif dan sponsor/ event organizer. Kemudian, barulah diadakan brainstorming diantara keduanya. Tidak adanya kebijakan atau peraturan yang jelas untuk kasus-kasus yang disebutkan di awal tulisan menuntut para pekerja kreatif untuk kompak melindungi kepentingan mereka. (Dame/ CRNF)

    ** Ikuti diskusi tentang masalah ini di heterologia.

     
    • maria melati 12:56 pm on July 17, 2008 Permalink

      tolong jelaskan awal penyelenggaraan EO dalam sebuah pertunjukan awal tahap sampai berakhir acara, selama 30 hari

  • blauloretta 7:08 am on December 28, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , Knowledge Economy,   

    Pertemuan Bandung Creative City Forum | 25 Desember 2007 

    bccf

    Pada tanggal 25 Desember yang lalu, Common Room memfasilitasi pertemuan Bandung Creative City Forum yang kedua. Beranjak dari pertemuan sebelumnya, kali ini forum membicarakan pembentukan working group yang terdiri dari perwakilan individu, komunitas dan organisasi yang bergelut di bidang kreatifitas di kota Bandung. Beberapa teman yang hadir dalam pertemuan ini adalah Ridwan Kamil (URBANE), Tata Ahmad Soemardi (PSUD – ITB), Helvi (FFWD Records), Fiki (KICK/ Airplane Systm), Dxxxt (FFWD Records), Dina Delyana (Homogenic), Man (Jasad/ Ujungberung Rebels), Agus Rakasiwi (AJI/ Pikiran Rakyat), Trie & Iit (Omuniuum), Themfuck (Jeruji), Utun (GPSP), OQ (ButonKultur21), Araji (Fabric Magz), Ginan (Rumah Cemara), Amanda Mita (Prambors Radio), Anggia Tresna (Sekasar Sunaryo Artspace), dll.

    Melanjutkan pertemuan sebelumnya yang diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2007, forum kali ini mengukuhkan pembentukan working group yang terdiri dari perwakilan dari masing-masing komunitas dan organisasi. Melalui working group ini, diharapkan ada beberapa program kegiatan yang bisa dirancang dan dilakukan bersama-sama di sepanjang tahun 2008. Adapun anggota dari working group yang telah dibentuk oleh forum adalah sebagai berikut ini:

    1. Ridwan Kamil (URBANE)
    2. Gustaff H. Iskandar (Common Room Networks Foundation)
    3. Fiki Satari (Kick)
    4. Agus Rakasiwi (AJI/ Pikiran Rakyat)
    5. Utun (GPSP)
    6. Hendy Hertiasa (DKV – ITB)
    7. Addy Gembel (Ujungberung Rebels/ Homeless Crew)
    8. Helvy Sjarifudin (FFWD Records)
    9. Iit (Omuniuum)
    10. Woerjantari Soedarsono (PSUD – ITB)

    Pertemuan forum kali ini juga mendiskusikan pentingnya menyusun program dengan skala dan prioritas yang beragam, tetapi tetap fokus pada upaya pengembangan platform dan jaringan pelaku ekonomi kreatif baik di tingkat lokal, regional maupun internasional. Selain itu, para peserta pertemuan sepakat kalau forum ini sebaiknya tetap dapat menjadi forum yang cair sehingga memungkinkan siapa saja untuk bisa ikut bergabung. Para peserta pertemuan juga mengharapkan agar forum tidak dibentuk menjadi organisasi yang hirarkis dan elitis. Adapun agenda selanjutnya dari working group yang telah dibentuk adalah merancang program kegiatan untuk tahun 2008. Untuk itu, rencananya Bandung Creative City Forum akan kembali melakukan pertemuan di awal tahun 2008. Berita terkait dengan pertemuan ini bisa dibaca di halaman berikut ini.

     
    • andi boi boi boi 2:47 am on December 29, 2007 Permalink

      edan udah kaya justice league…. smangats pa….this is the very gulden chance indeed.

    • kimbrong 4:50 pm on January 2, 2008 Permalink

      paenkeun jang…

    • Amelie Griffiths 5:52 pm on August 12, 2010 Permalink

      being a computer programmer myself makes me very proud of my job.`-

  • blauloretta 4:19 am on December 7, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , Knowledge Economy   

    Common Room Community Gathering 2007: Bandung Creative City Forum 

    Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

    Pada tanggal 6 Desember 2007, Common Room menyelenggarakan kegiatan community gathering yang dihadiri oleh beberapa teman dan komunitas yang berasal dari latar belakang yang beragam. Acara ini merupakan kegiatan rutin yang ditujukan untuk menjalin komunikasi dan jaringan lintas disiplin, selain juga sebagai upaya untuk terus mencermati perkembangan dan wacana diantara para pekerja kreatif di kota Bandung. Beberapa agenda yang dibahas di dalam pertemuan ini antara lain adalah wacana mengenai perkembangan ekonomi kreatif dan rencana pembentukan Bandung Creative City Forum. Selain itu, juga dibahas beberapa kemungkinan membentuk program kerjasama yang ditujukan untuk mendorong perkembangan industri kreatif di kota Bandung dan Jawa Barat.

    Diantara banyak teman yang saat itu hadir adalah Andar Manik (Seniman, pengelola Jendela Ide), Dewi “Dee” Lestari (Penulis dan musisi), Fiki Satari (Pengusaha, ketua KICK), Helvi Sjarifuddin (Produser musik, pendiri FFWD Records), Marin Ramdhani (Pemilik MonikCeltic/ FFWD Records), Dini Cindaga (Pemilik NoLabelStuff/ NLS), Charly (Pemilik toko Hobbies/ Pendiri Indonesian Skateboard Association), Yayat (Ahli tata suara, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Kimung (Penulis, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Eben (Gitaris Burgekill, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Man (Komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Addy Gembel (Vokalis Forgotten, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Sat N.B (Pemred majalah Ripple & vokalis Pure Saturday), Agus Rakasiwi (Wartawan harian PR & koordinator Forum Diskusi Wartawan Bandung), dsb.

    Dalam acara ini, Dewi Lestari menekankan bahwa forum ini sangat diperlukan mengingat potensi yang dimiliki oleh warga kota Bandung. Menurut Dewi selama dua dasawarsa terakhir kota Bandung seperti tengah kehilangan arah karena potensi ini kurang mendapat perhatian yang cukup dari banyak pihak, selain juga karena para pelaku dunia kreatif di kota Bandung sepertinya bergerak sendiri-sendiri. Sementara itu, Fiki Satari menyatakan kalau forum ini akan berguna untuk meningkatkan posisi tawar untuk bernegosiasi dengan banyak pihak agar pengembangan ekonomi yang berbasis kreatifitas di kota Bandung mendapatkan dukungan yang semestinya. Dalam diskusi ini, Yayat dari komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew berpendapat kalau pemerintah sebaiknya tidak terlalu banyak dilibatkan di dalam forum, namun diharapkan posisi pemerintah dapat mendukung keberadaan forum ini.

    Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

    Lebih jauh lagi, beberapa peserta gathering juga menekankan perlunya forum yang bersifat inklusif, sehingga wacana mengenai pentingnya mengembangkan ekonomi kreatif tidak hanya menjadi diskusi yang elitis dan dapat mengakomodasi kepentingan para stake holder yang beragam. Hal ini terutama ditujukan agar wacana mengenai ekonomi kreatif dapat berdampak bagi masyarakat, terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat secara lebih luas; tidak hanya di kota Bandung tetapi juga di daerah-daerah lain. Dalam acara ini juga dibicarakan beberapa kendala pengembangan ekonomi kreatif, terutama beberapa hal yang terkait dengan minimnya fasilitas publik dan kebijakan pemerintah yang cenderung terlalu birokratis dan rawan akan korupsi. Menanggapi hal ini, para peserta gathering sangat berharap bahwa forum ini dapat menjadi wahana mediasi kepentingan bagi para pelaku ataupun stake holder dengan pemerintah ataupun pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan yang sama.

    Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

    Selain itu, seperti yang dipaparkan oleh Marin Ramdhani dari MonikCeltic/ FFWD Records, bahwa kota Bandung sudah punya segudang seniman dan musisi namun masih sedikit orang yang tertarik untuk mengurus masalah manajemen dan pengelolaan kegiatan. Hal ini sedikit banyak berdampak pada kualitas dan pengelolaan acara, sehingga kegiatan kreatif di kota Bandung menjadi sulit untuk berkembang lebih jauh. Selain minimnya perhatian di bidang manajemen dan organisasi, Eben dari Burgerkill (komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew) juga menyatakan kesulitan untuk mengembangkan ekonomi kreatif juga salah satunya adalah karena ada semacam gap diantara para pelaku dan komunitas yang ada. Untuk itu, idealnya pembentukan Bandung Creative City Forum dapat menjadi wahana untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan mendorong kerjasama bagi para stake holder yang memiliki latar belakang beragam.

    Agus Rakasiwi dari Forum Diskusi Wartawan Bandung menyarankan kalau para pelaku dan komunitas kreatif di kota Bandung sebaiknya memiliki media sendiri yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan sekaligus menjalin komunikasi dengan masyarakat luas. Idealnya media yang digunakan dapat dengan mudah diakses dan harus murah, sehingga masyarakat umum juga bisa ikut dilibatkan untuk membicarakan wacana dan perkembangan di bidang ekonomi kreatif. Di dalam pemberitaan media (mainstream), berbagai kegiatan kreatif di kota Bandung relatif masih kurang mendapatkan perhatian media nasional karena Jakarta sampai saat ini masih dilihat sebagai pusat. Namun hal ini dapat disiasati dengan menjalin hubungan kerjasama dengan teman-teman wartawan media mainstream, selain juga bekerjasama dengan para pekerja media yang lebih spesifik, semisal media lokal maupun jaringan blogger.

    Salah satu kesimpulan yang diambil dari pertemuan ini adalah kesepakatan untuk membentuk Bandung Creative City Forum yang terdiri dari para pelaku dan komunitas yang beragam dan bersifat terbuka. Selanjutnya dipandang perlu untuk menyiapkan working group yang terdiri dari perwakilan para stake holder untuk membicarakan rencana dan program secara lebih rinci. Untuk hal ini, para peserta gathering meminta Common Room untuk memfasilitasi kegiatan Bandung Creative City Forum, sekaligus menyebarluaskan informasi mengenai pertemuan ini kepada masyarakat luas. Para peserta pertemuan ini sepakat bahwa forum ini harus inklusif dan terbuka bagi siapapun yang memiliki kepentingan dan keperdulian untuk mendorong perkembangan industri kreatif di Indonesia, khususnya kota Bandung dan Jawa Barat.

     
    • byg 6:33 am on December 7, 2007 Permalink

      sukses ya om…berharap suatu saat pulang ke bandung dan bisa ikut serta ke dalamnya…

    • Gustaff Harriman 10:58 am on December 7, 2007 Permalink

      Eeeehhhh…Ooomm Buuyyyuuuunnggg…thx euy supportnyah. Iraha atuh ulin ka Bandung? Hehehhe..

    • vitex 12:40 pm on December 9, 2007 Permalink

      sukses taff
      mungkin kurang dari sisi pelaku industri kecil yg sering aku temani beberapa tahun ini

      tabik

    • andi hakim 12:43 am on December 10, 2007 Permalink

      …keren Bandung punya forum kreatif.
      Gw sendiri baru cari-cari tau kreatif forum

      Gustaff Harimau top.
      Sakses mang

      andihakim SR93

    • blauloretta 3:18 am on December 10, 2007 Permalink

      Buat Vitex, gua setuju banget…Forum ini gua pikir mustinya jadi forumnya pelaku industri kecil juga..terutama bagi mereka-mereka yang memanfaatkan kreatifitas sebagai core bisnisnya. Ayo dong ikutan…Biar forum ini ada gunanya dan nggak hanya sekedar acara kumpul-kumpul…

      Buat Andi…thx yah supportnya..lu sekarang dimana aja sih?

    • Deni Andriana 5:35 am on December 11, 2007 Permalink

      gagasan yang keren dan kreatif…. sebelum Bandung Creative City Forum nya lahir juga, forum menggasnya sudah lebih dulu kreatif…

    • kimung 2:24 pm on December 13, 2007 Permalink

      hajar terus jalanan lur!!!!

    • novan 3:36 pm on May 19, 2008 Permalink

      org awam seni n ga kreatif ajak atuh, alias publikasinya di gas lg

  • blauloretta 3:11 am on November 1, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , , Knowledge Economy,   

    Reportase Bandung Creative Showcase 2007 

    Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

    Pada tanggal 29-31 September 2007, Common Room menyelenggarakan pameran kecil berbarengan dengan pelaksanaan kegiatan International Education & Employability – Developing the Creative Industries yang diselenggarakan oleh British Council Indonesia. Selain pameran, bersama-sama dengan tim Bandung Experience Project, kegiatan ini juga dilengkapi dengan program kunjungan ke beberapa komunitas kreatif dan entrepreneur di kota Bandung. Adapun beberapa tempat yang dikunjungi adalah Urbane Indonesia, Airplabe Systm, MonikCeltic dan FFWD Records.

    Selain itu, kegiatan ini juga menampilkan sesi presentasi yang menghadirkan Yusrila Kerlooza (Ketua Divisi Robotika UNIKOM). Kebetulan pada saat yang hampir bersamaan, Common Room tengah bekerjasama dengan Divisi Robotika Unikom untuk melakukan program kunjungan ke beberapa SMU di kota Bandung dalam rangka memperkenalkan perkembangan dan aplikasi teknologi robot. Ada sekitar 3 SMU yang kita kunjungi, yaitu SMUN 5, SMUN 24 dan SMUN 2. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Common Room Fun Education Program yang rencananya akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun.

    Terkait dengan kegiatan Bandung Creative Showcase 2007, kita diminta untuk mempresentasikan beberapa kegiatan Common Room dan materi riset pengembangan ekonomi kreatif kota Bandung yang selama beberapa tahun ini dikembangkan bersama-sama oleh tim peneliti Common Room bekerjasama dengan beberapa teman dan komunitas kreatif yang ada di kota Bandung. Beberapa pengunjung memperlihatkan antusiasme mereka selama presentasi berlangsung, sebelum kemudian berkenalan dengan para seniman, desainer, peneliti dan teman-teman yang kerap aktif berkegiatan di Common Room.

    Terimakasih kepada British Council Jakarta yang telah memberikan kesempatan untuk terlibat di dalam program ini. Selain itu, terimakasih juga buat teman-teman yang ikut terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Bandung Creative Showcase 2007. Mudah-mudahan di masa yang akan datang kegiatan-kegiatan serupa bisa lebih sering kita laksanakan sama-sama. Liputan kegiatan terkait dapat dibaca di: Kompas, Pikiran Rakyat dan The Jakarta Post. Foto dokumetasi kegiatan dapat dilihat di Heterologia.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
cialis geciktirici online film izle bedava film izle chat