Common Room Networks Foundation (Common Room) | Track Records 2001 – 2012
Materi ini dipresentasikan di s.14 pada 7 April 2012. Catatan diskusi dapat dibaca di laman ‘Berbagi Cerita Tentang Common Room di s.14‘.


Materi ini dipresentasikan di s.14 pada 7 April 2012. Catatan diskusi dapat dibaca di laman ‘Berbagi Cerita Tentang Common Room di s.14‘.

Silahkan kunjungi laman RADIOLOGIA untuk mendengarkan Radiologia Streaming Program dari Common Room, setiap hari Rabu pukul 18.00 – selesai. Twitter: @radiologia_bdg
Agenda Common Room | November 2010
Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Sumber Daya Insani dan Ekonomi Kreatif | Indonesia Kreatif (http://indonesiakreatif.net)
Diskusi pengembangan sumber daya manusia sebagai pondasi perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia bersama perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta perwakilan akademisi dan pelaku ekonomi kreatif dari kota Bandung.
Jumat, 12 November 2010, Pk. 13.00 – 18.00 WIB
“SADAR BENCANA SEJAK DINI! Sabilulungan Ngajaga Lembur | KNOWING THE RISK AND TAKE ACTION – International Organization for Migration (IOM)
Pameran dan diskusi siaga kebencanaan bersama Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, ST.,MT (Pusat Mitigasi Bencana ITB), Ir. Gatot M. Soedradjat, MT (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/ PVMBG), serta perwakilan IOM untuk Jawa Barat. Kegiatan ini akan diawali dengan pembukaan pameran “Pengalamanku dengan Bencana”, yang akan menampilkan karya gambar anak dari beberapa Sekolah Dasar (SD) di daerah Garut Selatan. Pameran akan berlangsung di Common Room sampai tanggal 20 November 2010.
Sabtu, 13 November 2010, Pkl. 16.00 – selesai
Workshop Penggunaan Software Musik Abelton | Oleh Ega Ginanjar (Europe in de Tropen/ OpenLabs)
*Pendaftaran silahkan hubungi Ranti di +62222503404 pada jam kerja.
Sabtu, 27 November 2010, Pk. 15.00 – selesai
Kelas Privat Suling dan Kacapi | Oleh Iman Rohman aka Iman Zimbot
*Pendaftaran silahkan hubungi Ranti di +62222503404 pada jam kerja.
Sepanjang bulan November s/d Desember
Common Room Networks Foundation (Common Room)
Common Room adalah platform yang terbuka untuk kegiatan seni, budaya dan pemanfaatan ICT/ Media. Kegiatan Common Room dikelola oleh Common Room Networks Foundation dan didukung oleh HIVOS. Bagi teman-teman yang tertarik untuk terlibat dan menyelenggarakan kegiatan di Common Room, silahkan menghubungi Ranti di nomor 022-2503404 atau kunjungi kami di Jalan Kyai Gede Utama no. 8. Informasi mengenai kegiatan Common Room dapat diakses di situs http://commonroom.info dan twitter @CommonRoom_ID.
Alamat
Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung – 40132 | WEST JAVA – INDONESIA | Phone/ Fax: +62.22.250.3404
Url: http://commonroom.info | E-mail: info@commonroom.info | Twitter: @CommonRoom_ID

Workshop YES Club | 6 Maret 2010 | Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung
“Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik…”
(Tegep Octaviansyah, owner of TEGEP BOOTS)
Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, inovasilah yang menjadikan sebuah produk selalu baru, segar, unik, dan berbeda. Namun, ini sering kali dilupakan oleh sebagian besar pengusaha kecil di Indonesia, yang terlalu memberi fokus pada nilai ekonomi: meraih laba sebesar mungkin dan menyingkirkan nilai inovasi. Tidak mengherankan apabila kita kerap menjumpai produk tertentu dengan desain yang telah berumur 10-15 tahun, namun masih tetap dikembangkan dengan cara yang sama dan dijual tanpa pengembangan yang berarti. Hal ini pulalah yang sering dijumpai pada usaha kerajinan dan usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia.
Karena kurangnya inovasi, tampaknya kebanyakan dari anggota masyarakat kemudian cenderung menjadi follower dan consumer saja. Banyak diantaranya yang hanya bisa mengikuti trend dan menggunakan barang-barang tanpa mau mempelajari dan mencerna produk yang mereka gunakan terlebih dahulu. Barangkali karena permasalahan ini jugalah kita kemudian menemukan kesulitan untuk menjumpai pribadi yang memiliki idealisme dan prinsip yang ajeg. Namun walaupun sedikit, dapat dikatakan bahwa saat ini keberadaan orang-orang yang memiliki idealisme sangat diperlukan untuk mendorong terjadinya perubahan dan inovasi. Barangkali salah satu dari sedikit pelaku yang telah banyak melakukan pembaharuan adalah Tegep Octaviansyah, pemilik TEGEP BOOTS.
This material was presented during the opening of 1st FOWAB gathering at Common Room, 18 February 2010. Read event review at ruangfreelance (by Dian Ara) and dailysocial (by Wiku Baskoro). FOWAB (Forum Web Anak Bandung) is being initiated by iCreativelabs, Chocaholic, Gagas Imaji, Rave Warrior, Galenic, and ThinkRooms.
Hari ini diawali dengan diskusi pagi tentang etika bisnis yang diterapkan oleh beberapa pelaku bisnis pertunjukan lokal, khususnya sponsor acara dan event organizer (EO). Beberapa teman saya seringkali mengeluh ketika gagasan mereka kerap diadaptasi tanpa adanya kompensasi yang jelas dari pihak sponsor atau organizer. Sebagai informasi, teman-teman saya ini adalah orang gokil yang penuh dengan ide liar dan super kreatif. Mereka ini orang-orang yang sangat terbuka bila diajak berkolaborasi selama itu menyenangkan. Sayangnya, sikap terbuka (saya menolak menyebut ini sebagai sikap yang naif) yang dimiliki oleh para pekerja kreatif ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Modusnya standar: menawarkan kerjasama untuk ikut terlibat dalam suatu acara dan meminta para pekerja kreatif untuk menulis proposal.
Biasanya dengan mudah para pekerja kreatif ini mengembangkan gagasan mereka dengan panjang lebar dalam bentuk proposal program. Biasanya si pelaku bisnis tiba-tiba bisa saja menyatakan bahwa ia tidak jadi menyelenggarakan acara yang telah dibicarakan sebelumnya. Ada satu lagi contoh yang lebih buruk: teman saya yang lain ada yang mengalami proposalnya didiamkan tanpa penjelasan sedikitpun. Selang beberapa waktu, ternyata acara yang dimaksud diwujudkan dan konsep yang sebelumnya telah direncanakan ikut dipakai tanpa pemberitahuan. Sayangnya pada saat realisasi konsep sang penggagas acara tidak dilibatkan dan hasilnya tidak maksimal. Akhirnya yang dikecewakan bukan cuma sang penggagas yang idenya dibajak, tapi juga penonton.
Itu baru satu contoh. Ada satu lagi pengalaman pahit seorang pekerja kreatif. Setelah melakukan brainstorming mengenai konsep sebuah acara selama berhari-hari dan dijanjikan profit sharing untuk keterlibatannya, tiba-tiba si pelaku bisnis menggaet sponsor lain dan bilang pada teman saya bahwa dia tidak bisa diikutsertakan. Pada saat hari H, saya datang ke event yang bersangkutan dan ternyata acara tersebut dikerjakan sesuai dengan konsep teman saya itu. Tapi karena bukan dia yang mengerjakannya, tetap saja ujung-ujungnya mengecewakan.
Bila dihubungkan dengan perbincangan mengenai industri kreatif yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini, penyelenggaraan acara atau festival-festival biasanya bisa menjadi ajang untuk mempromosikan produk tertentu. Selain itu ajang-ajang seperti ini juga biasanya sangat berguna untuk mempromosikan sebuah kota. Tetapi bagaimana penyelenggaraan sebuah acara bisa berkembang dan mencapai target-target yang sering didiskusikan oleh pekerja kreatif, pelaku bisnis, akademisi dan pemerintah?
Para sponsor dan event organizer kelihatannya banyak yang lebih senang mencomot ide dari para pekerja kreatif yang telah memiliki kredibilitas, tetapi kemudian memilih pekerja yang mau dibayar lebih murah. Bila praktik seperti ini dibiarkan, tentu bisa merambat kemana-mana nantinya. Ujung-ujungnya yang rugi adalah para pekerja kreatif dan konsumen. Gagasan untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan bisa cuma jadi mimpi saja.
Apa yang bisa dilakukan oleh para pekerja kreatif? Selain perlu mengembangkan etika bisnis yang sehat, kekompakan para pekerja kreatif diperlukan untuk menghadapi pelaku bisnis yang nakal seperti ini. Para pekerja kreatif bisa mangaplikasikan satu sistem yang seragam saat dealing dengan sponsor atau penyelenggara event. Sebenarnya para pekerja kreatif tidak perlu memberi proposal atau memaparkan secara detail ide-ide dia tentang acara yang hendak dibuat. Cukup menyerahkan portfolio, lalu atas dasar itu dikeluarkan kontrak kerja antara pihak pekerja kreatif dan sponsor/ event organizer. Kemudian, barulah diadakan brainstorming diantara keduanya. Tidak adanya kebijakan atau peraturan yang jelas untuk kasus-kasus yang disebutkan di awal tulisan menuntut para pekerja kreatif untuk kompak melindungi kepentingan mereka. (Dame/ CRNF)
** Ikuti diskusi tentang masalah ini di heterologia.
maria melati is discussing. Toggle Comments
Proudly powered by WordPress. Theme: P2 by Automattic.
maria melati 12:56 pm on July 17, 2008 Permalink
tolong jelaskan awal penyelenggaraan EO dalam sebuah pertunjukan awal tahap sampai berakhir acara, selama 30 hari