Tagged: Free Culture RSS

  • blauloretta 4:31 am on January 28, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Free Culture,   

    Pernyataan Sikap Solidaritas Independen Bandung (SIB) Untuk Perkara Video Nazriel Irham (Ariel) 

    Solidaritas Independen Bandung (SIB), adalah kelompok kerja yang terdiri dari beberapa orang pelaku kultur independen yang secara praksis berfungsi sebagai Crisis Center. Ide pembentukan SIB pertama kali digagas oleh beberapa kawan pada bulan Desember 2007, untuk mewadahi aktifitas penggiat kultur independen yang peka terhadap situasi dan lingkungan sosial yang ada. Selain itu, SIB juga dibentuk sebagai respon atas berbagai bentuk krisis yang terjadi melalui beberapa cara yang kami pikir dapat menjadi bagian dari upaya untuk membentuk gerakan solidaritas yang sejati.

    Secara garis besar SIB adalah wahana yang dibentuk untuk menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan para penggiat kultur independen. SIB juga merupakan wahana interaksi sosial antar penggiat kutur independen, serta wahana interaksi antar individu, kelompok atau organisasi manapun sebagai suatu manifestasi sosial yang paling nyata demi terwujudnya proses demokratisasi di tingkat akar rumput.

    SIB memandang bahwa kehidupan yang demokratis akan terwujud ketika partisipasi masyarakat dapat lekat dengan proses politik, hukum dan kebudayaan. Salah satu prasyarat utama dalam mewujudkan partisipasi itu adalah melalui prinsip keterbukaan dan transparansi. Beberapa hal yang memungkinkan tegaknya prinsip keterbukaan adalah:

    1. Hak untuk mengetahui (right to know/ meeweten) secara utuh, benar dan akurat.
    2. Hak untuk memikirkan (right to think/ meedenken); terlibat dalam pemikiran, pengkajian dan penelitian tentang sikap yang baik dalam menjalani kehidupan sosial.
    3. Hak untuk menyatakan pendapat (right to speech/ meespreken)
    4. Hak untuk mempengaruhi pengambilan keputusan (right to participate in decision making process/ meebeslissen)
    5. Hak untuk mengawasi pelaksanaan keputusan (right to watch in implementing the decision/ meetoezien) kontrol masyarakat.

    Terkait dengan apa yang menimpa saudara kami Ariel, maka dengan ini kami menyatakan pernyataan sikap sebagai berikut:

    1. Kami nyatakan bahwa Ariel adalah korban dari penyalahgunaan dokumen pribadi yang disebarkan melalui media internet oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga kami mendorong agar proses mengambil putusan sidang memandang persoalan ini secara proporsional (berimbang).
    2. Menolak bentuk kriminalisasi korban dengan cara memasung hak kebebasan berekspresi di wilayah kesenian dalam bentuk pencekalan dan pelarangan konser dimuka umum yang berakibat pada dilanggarnya hak ekonomi Ariel sebagai seorang musisi.
    3. Menolak segala bentuk teror, intimidasi dan intervensi selama proses persidangan yang dilakukan oleh golongan atau kelompok yang mengatasnamakan agama.
    4. Menolak politisasi kasus yang menimpa Ariel sebagai bagian dari strategi pengalihan isu yang kerap membiaskan pandangan masyarakat atas berbagai persoalan yang sedang menimpa bangsa ini.
    5. Turut mendukung terjadinya proses pengadilan yang adil, independen dan transparan sebagai bagian dari pemenuhan rasa keadilan.

    Demikian pernyataan sikap ini dibuat. Hal ini kami sampaikan karena kami menilai hukum sejauh ini belum menjadi institusi yang dapat mendorong ajegnya perlindungan akan hak individu. Upaya penegakan hukum dan perlindungan hak adalah prinsip yang bekerja secara paralel. Kesadaran masyarakat memiliki posisi yang strategis sebagai fondasi masyarakat madani (civil society). Budaya sebagai manifestiasi dari proses interaksi sosial akan mengambil peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan kesadaran publik akan pentingnya supremasi hukum yang berlandaskan pada hak asasi manusia.

    Bandung, 26 Januari 2011

    Solidaritas Independen Bandung (SIB)

     
  • blauloretta 2:42 pm on October 22, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , Free Culture, , , , , ,   

    HONF: upDATE_0.3 | Common Room, 25 Oktober 2010 

    commonroom

    HONF: upDATE_0.3
    Yogyakarta x Surabaya x Bandung x Jakarta
    moddr_lab x HONF x Urban Space x Common Room x ruangrupa

    Tanggal: 25 Oktober 2010
    Waktu: 10.00 WIB – selesai
    Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung

    (More …)

     
  • blauloretta 2:33 pm on October 14, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Free Culture, ,   

    GROOVIN MIXTAPE PROJECT | Pameran oleh Anto Arief | Common Room, 16 – 31 Oktober 2010 

    poster

    Introduksi
    Mixtape adalah kultur berbagi yang bersifat personal. Sebagai sebuah kompilasi musik yang dibuat untuk tujuan sharing, mixtape biasanya dibagikan secara gratis, tidak dijual dan sama sekali tidak profitable.

    Statemen personal
    Proyek mixtape trilogi ini awalnya hanyalah sebuah penghargaan kepada 3 instrumen kesukaan saya. Kemudian saya mendedikasikan mixtape ini kepada teman-teman musisi yang saya anggap mewakili semangat ke tiga instrumen itu dan konsep ‘sharing’ dalam proyek mixtape ini.

    Dalam kesempatan ini saya mengajak 3 musisi muda berbakat yang merupakan teman baik saya untuk menjadi ikonnya. Secara tidak langsung merekalah yang ada di kepala saya ketika membuat mixtape ini. Belakangan saya menyadari apabila proyek ini telah menjadi sebuah konsep yang artistik. Untuk itu saya memutuskan untuk membuat pameran khusus yang menampilkan beberapa artifak visual, teks, merchandise dan kompilasi musik yang dihasilkan dari proyek ini.

    (Anto Arief)

    (More …)

     
  • Idharrez 2:56 pm on August 2, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Free Culture,   

    Asyiknya, Merakit Synthesizer Secara Do It Yourself | Oleh Idhar Resmadi 

    Photobucket
    Foto Oleh Addy Gembel

    Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. Workshop ini merupakan rangkaian dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon.

    Sejak pukul empat sore, para peserta tampak asyik merakit. Mereka dengan seksama memerhatikan instruksi dari mentor Evan (Storn). Evan sendiri dikenal sebagai perakit alat musik macam synthesizer, moog, efek gitar, dan sebagainya secara mandiri. Untuk kegiatan kali ini, Evan memberikan modul perakitan synthesizer secara sederhana. Piranti musik seperti sequencer synthesizer merupakan salah satu instrumen penting yang dapat menunjang para musisi elektronik untuk menciptakan musik sesuai dengan selera mereka. Alat ini sangat bermanfaat bagi para musisi dalam menciptakan tempo, nada dan harmoni. Selain kemampuan teknis dalam menggunakan sequencer, idealnya seorang musisi elektronik juga mengetahui seluk beluk dari piranti elektronik yang mereka gunakan.

    Dalam workshop ini Evan memberikan panduan untuk merakit 8-Step Sequencer Synthesizer secara sederhana. Para peserta workshop akan diajak untuk menciptakan 8-Step Sequencer Synthesizer dengan beberapa fitur yang terdiri dari 1 knop tempo, 1 push button play/ stop, 1 knop tune, 8 step knop nada, 1 knop volume, 2 jack clock in/ clock out, dan 1 jack audio out.

    Namun, Evan mengakui kerumitan dari workshop ini diluar bayangannya semula. Alhasil, dari sekian banyak peserta tak ada satupun yang berhasil membereskan synthesizer secara sempurna. Sementara, seperti yang diakui oleh salah seorang peserta, Reza Cahaya Pratama, mengaku bahwa persiapan teknis yang kurang siap serta temaramnya lampu menjadi salah satu alasan kenapa para peserta seolah gagap dalam menyelesaikan workshop.

    Para peserta mengaku meski sulit dan rumit mengerjakan komponen tersebut, namun mereka mendapat pengalaman baru dan mengasyikkan seputar merakit alat musik. Menariknya, alat musik ciptaan mereka sendiri atau do it yourself tools tersebut bisa mereka miliki. Rencananya, setelah semua alat synthesizer milik peserta beres, akan diadakan sesi jamming menggunakan alat tersebut. Salah satu keunggulan 8-step sequencer synthesizer yaitu antara satu instrumen dengan instrument lainnya bisa dikombinasikan sehingga merangkai suara yang menarik. Asyiknya…

     
    • ANDRO 12:57 pm on March 7, 2011 Permalink

      saya MENDUKUNG untuk generasi ANAK MUDA

  • Idharrez 8:55 am on August 2, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Free Culture   

    Temu dan Ajar tentang Free & Open Source | Oleh Yasmin Kartikasari 

    Photobucket
    Foto Oleh Mang Tahu

    Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. voila… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut.

    Salah satu project yang menggunakan software gratis ini adalah The Otuz: Screaming Graphic Novel Project (http://www.theotuz.org/), yang diinisiasi oleh Monty Aji, seniman dan desainer Screamous Clothing Indonesia (http://www.screamous.com/). Monty yang berbagi cerita pada Jumat (30/07) sore yang lalu di Common Room menekankan bahwa penggunaan software Open Source dapat diandalkan. Bahkan George Lucas pun menggunakan software Open Source untuk mengembangkan visual effect dalam beberapa filmnya.

    Photobucket
    Foto Oleh Mang Tahu

    Beberapa diantara software Open Source yang dapat dimanfaatkan untuk bidang desain grafis dan seni visual adalah Gimp (http://www.gimp.org/), Inkscape (http://www.inkscape.org/), Blender (http://www.blender.org/), Alchemy (http://al.chemy.org/), dsb. Asyiknya lagi, selain dapat diinstal pada sistem operasi perangkat lunak sumber terbuka (FOSS) semisal Ubuntu, semua software tersebut dapat diinstal pada sistem operasi berbayar (proprietary) seperti Windows ataupun Mac Os.  Namun, minimnya publikasi menyebabkan software tersebut belum banyak digunakan oleh masyarakat secara luas. Begitu pun dengan perguruan tinggi yang tidak mengajarkan penggunaan perangkat lunak sumber terbuka sebagai materi kuliah.

    Selama ini mahasiswa dibiasakan untuk menggunakan software berbayar, sehingga kebiasaan ini dilanjutkan terus sampai pada masa pasca kuliah. Berangkat dari permasalahan ini, salah satu cara untuk mendekati masyarakat adalah dengan menyelenggarakan workshop penggunaan software Open Source yang dilengkapi dengan pameran karya. Diharapkan, masyarakat luas dapat lebih mengetahui keberadaan software Open Source dan dapat maksimal dalam mengembangkan potensi serta karya mereka.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
escort ankara escort ilan escort ankara ilan