<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Free Culture</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/free-culture/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 10:07:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Asyiknya, Merakit Synthesizer Secara Do It Yourself &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 14:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. Workshop [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_3567.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. Workshop ini merupakan rangkaian dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon.</p>
<p>Sejak pukul empat sore, para peserta tampak asyik merakit. Mereka dengan seksama memerhatikan instruksi dari mentor Evan (Storn). Evan sendiri dikenal sebagai perakit alat musik macam synthesizer, moog, efek gitar, dan sebagainya secara mandiri. Untuk kegiatan kali ini, Evan memberikan modul perakitan synthesizer secara sederhana. Piranti musik seperti sequencer synthesizer merupakan salah satu instrumen penting yang dapat menunjang para musisi elektronik untuk menciptakan musik sesuai dengan selera mereka. Alat ini sangat bermanfaat bagi para musisi dalam menciptakan tempo, nada dan harmoni. Selain kemampuan teknis dalam menggunakan sequencer, idealnya seorang musisi elektronik juga mengetahui seluk beluk dari piranti elektronik yang mereka gunakan.</p>
<p>Dalam workshop ini Evan memberikan panduan untuk merakit 8-Step Sequencer Synthesizer secara sederhana. Para peserta workshop akan diajak untuk menciptakan 8-Step Sequencer Synthesizer dengan beberapa fitur yang terdiri dari 1 knop tempo, 1 push button play/ stop, 1 knop tune, 8 step knop nada, 1 knop volume, 2 jack clock in/ clock out, dan 1 jack audio out.</p>
<p>Namun, Evan mengakui kerumitan dari workshop ini diluar bayangannya semula. Alhasil, dari sekian banyak peserta tak ada satupun yang berhasil membereskan synthesizer secara sempurna. Sementara, seperti yang diakui oleh salah seorang peserta, Reza Cahaya Pratama, mengaku bahwa persiapan teknis yang kurang siap serta temaramnya lampu menjadi salah satu alasan kenapa para peserta seolah gagap dalam menyelesaikan workshop.</p>
<p>Para peserta mengaku meski sulit dan rumit mengerjakan komponen tersebut, namun mereka mendapat pengalaman baru dan mengasyikkan seputar merakit alat musik. Menariknya, alat musik ciptaan mereka sendiri atau<em> do it yourself tools</em> tersebut bisa mereka miliki. Rencananya, setelah semua alat synthesizer milik peserta beres, akan diadakan sesi jamming menggunakan alat tersebut. Salah satu keunggulan 8-step sequencer synthesizer yaitu antara satu instrumen dengan instrument lainnya bisa dikombinasikan sehingga merangkai suara yang menarik. Asyiknya…</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu dan Ajar tentang Free &amp; Open Source &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 08:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[FOSS]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1397</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Mang Tahu
Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. voila… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut.
Salah satu project yang menggunakan software gratis ini adalah The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/IMG_2549.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /><br />
<em>Foto Oleh Mang Tahu</em></p>
<p>Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. <em>voila</em>… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut.</p>
<p>Salah satu project yang menggunakan software gratis ini adalah <em>The Otuz: Screaming Graphic Novel Project</em> (<a href="http://www.theotuz.org/">http://www.theotuz.org/</a>), yang diinisiasi oleh Monty Aji, seniman dan desainer Screamous Clothing Indonesia (<a href="http://www.screamous.com/">http://www.screamous.com/</a>). Monty yang berbagi cerita pada Jumat (30/07) sore yang lalu di Common Room menekankan bahwa penggunaan software Open Source dapat diandalkan. Bahkan George Lucas pun menggunakan software Open Source untuk mengembangkan visual effect dalam beberapa filmnya.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/IMG_2558.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /><br />
<em>Foto Oleh Mang Tahu</em></p>
<p>Beberapa diantara software Open Source yang dapat dimanfaatkan untuk bidang desain grafis dan seni visual adalah Gimp (<a href="http://www.gimp.org/">http://www.gimp.org/</a>), Inkscape (<a href="http://www.inkscape.org/">http://www.inkscape.org/</a>), Blender (<a href="http://www.blender.org/">http://www.blender.org/</a>), Alchemy (<a href="http://al.chemy.org/">http://al.chemy.org/</a>), dsb. Asyiknya lagi, selain dapat diinstal pada sistem operasi perangkat lunak sumber terbuka (FOSS) semisal <a href="http://www.ubuntu.com/" target="_blank">Ubuntu</a>, semua software tersebut dapat diinstal pada sistem operasi berbayar (<em>proprietary</em>) seperti Windows ataupun Mac Os.  Namun, minimnya publikasi menyebabkan software tersebut belum banyak digunakan oleh masyarakat secara luas. Begitu pun dengan perguruan tinggi yang tidak mengajarkan penggunaan perangkat lunak sumber terbuka sebagai materi kuliah.</p>
<p>Selama ini mahasiswa dibiasakan untuk menggunakan software berbayar, sehingga kebiasaan ini dilanjutkan terus sampai pada masa pasca kuliah. Berangkat dari permasalahan ini, salah satu cara untuk mendekati masyarakat adalah dengan menyelenggarakan workshop penggunaan software Open Source yang dilengkapi dengan pameran karya. Diharapkan, masyarakat luas dapat lebih mengetahui keberadaan software Open Source dan dapat maksimal dalam mengembangkan potensi serta karya mereka.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deklarasi Bandung demi Keterbukaan Informasi &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 08:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1384</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi
Perkembangan teknologi informasi dan media baru merupakan jaringan yang tak bisa dihindarkan lagi dalam konteks masyarakat sipil dewasa ini. Namun, untuk memunculkan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil diperlukan suatu kolaborasi penting. Terutama menyoal kesepahaman bersama mengenai media baru dan teknologi informasi untuk menciptakan ruang baru dalam keterbukaan budaya, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan.
Itulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_4087.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Perkembangan teknologi informasi dan media baru merupakan jaringan yang tak bisa dihindarkan lagi dalam konteks masyarakat sipil dewasa ini. Namun, untuk memunculkan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil diperlukan suatu kolaborasi penting. Terutama menyoal kesepahaman bersama mengenai media baru dan teknologi informasi untuk menciptakan ruang baru dalam keterbukaan budaya, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan.</p>
<p>Itulah garis besar dari pertemuan Expert Meeting Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Nu-Substance itu sendiri merupakan festival new-media yang diselenggarakan oleh Common Room Networks Foundation dan telah bergulir sejak tahun 2007. Pertemuan program Expert Meeting ini dihadiri oleh para praktisi media, aktivis, akademisi dari dalam dan luar negeri seperti Stephen Kovats (Transmediale, Jerman), Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris), Atteqa Thaver Malik (Mauj Media Collective, Pakistan), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura), Mirwan Andan (Ruang Rupa, Jakarta), Venzha Christiawan (House of Natural Fiber, Yogyakarta) dan Gustaff H. Iskandar (Common Room, Bandung).  Expert Meeting ini adalah upaya untuk merumuskan sebuah wacana dalam bidang new-media dan teknologi informasi dengan menggunakan pendekatan dialog antar-budaya. Hal ini terlihat dari latar belakang para peserta yang berasal dari beragam wilayah.</p>
<p><span id="more-1384"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3999.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Hasil dari Expert Meeting tersebut melahirkan notulensi yang dideklarasikan pada Sabtu (24/7) di acara Artepolis yang bertempat di Gedung Museum Asia Afrika. Beberapa poin penting dalam deklarasi tersebut yaitu pentingnya akses untuk memperoleh informasi, jaringan, dan pengetahuan; penggunaan dan pengembangan open dan free technology; pluralisme dan kebebasan berekspresi dalam praktik artistik dan budaya, tanggung jawab terhadap lingkungan, hingga membangun praktik kekuatan masyarakat sipil melalui teknologi informasi.  Kurang lebih ada 22 poin penting dalam deklarasi yang juga ditandatangani para peserta konferensi.</p>
<p>Deklarasi ini ingin menyampaikan tentang pengetahuan dan informasi sebagai wadah utama untuk menyebarkan ekspresi-ekspresi artistik dan kebudayaan. Keberagaman ekspresi tersebut diharapkan dapat membuka mata masyarakat tentang pentingnya rasa toleransi dan pluralisme. Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mendorong perkembangan <em>new-media</em><em> </em>yang kian signifikan di lingkup Asia Tenggara.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3887.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Menurut Catherine Candano, khusus negara-negara Asia Tenggara keberadaan masyarakat sipil dipandang sangat lemah. Itu karena kebebasan berekspresi masyarakat sipil seringkali menjadi ancaman bagi pemerintah <em>status quo</em>. Hal itu membuat kebebasan berekspresi memiliki posisi yang sangat rentan karena ketatnya aturan dari pemerintah dalam mengontrol penggunaan internet.</p>
<p>Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Stephen Kovats bahwa pemerintah kerap kali impoten dan kurang tanggap dalam mengatur permasalahan wacana kebebasan berekpresi dan teknologi informasi.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_4057.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>“<em>Dengan adanya deklarasi seperti ini akan memperkuat kedudukan masyarakat sipil dalam mengembangkan teknologi informasi dan kebebasan berekspresi bagi masyarakat sipil secara bertanggungjawab,</em>” tutur Stephen Kovats.</p>
<p>Poin-poin penting tersebut merupakan kajian penting dalam kontelasi masyarakat sipil baik dalam konteks global maupun lokal. Deklarasi tersebut merupakan hasil rumusan selama satu minggu rapat dalam merancang kajian mengenai keterbukaan budaya, perkembangan teknologi, dan lingkungan berkelanjutan. Menurut Gustaff Harriman Iskandar, mobilitas, keterbukaan, dan konektivitas bisa tercapai melalui penggunaan spektrum media digital, teknologi komunikasi, dan praktik jaringan dalam masyarakat sipil dan mesti digunakan secara kritis.</p>
<p><em>*Artikel dimuat dalam Pikiran Rakyat Edisi 29 Juli 2010</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelombang dalam Ruang Kebersamaan &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 12:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1353</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut Expert Meeting hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang Mauj [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4135.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut <em>Expert Meeting</em> hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang Mauj Media Collective, Atteqa bercerita  sedikit mengenai kondisi di Pakistan. Bagaimana huru-hara yang terjadi di Pakistan belakangan ini, sedikit banyak memang mempengaruhi kebiasaan, dan kultur keseharian mereka. Termasuk pada perilaku berorganisasi Mauj itu sendiri.</p>
<p>Mauj sendiri memilik dua arti. Arti yang pertama adalah gelombang (wave). Seperti gelombang yang tidak ada artinya tanpa keberadaan laut, begitu juga dengan seseorang yang menjadi kecil/lemah jika  sendirian, namun menjadi kuat bila bergabung dengan yang lain. Prinsip itulah yang menjadi pegangan Mauj dalam berorganisasi. Arti yang kedua adalah &#8216;to have fun&#8217;, dimana  Mauj menjadi wadah bagi tiap orang untuk berekspresi, termasuk dalam pembuatan film, video, digital art, kartun, dll.</p>
<p><span id="more-1353"></span></p>
<p>Ada yang menarik dari strategi Mauj dalam melakukan aktifitas mereka. Dalam mengumpulkan publik, termasuk media, mereka hanya mengirimkan informasi singkat lewat sms, yang berisi mengenai keterangan tempat dan waktu berkumpul. Di waktu yang telah ditentukan, aksi pun digelar, dan tepat sejam kemudian, aksi berakhir. Semua berjalan dengan cepat dan efisien.</p>
<p>Begitu pun dalam pengadaan suatu acara. Kondisi birokrasi yang rumit, menjadikan Mauj membuat alternatif lain untuk menyebarluaskan acara-acaranya. Salah satunya adalah melalui media internet. Seringkali, acara yang dilangsungkan hanya mengundang segelitir orang saja, namun suasana dan kegiatan acara direkam, lalu disebarkan melalui internet agar masyarakat luas dapat mengaksesnya juga.</p>
<p>Ternyata, tidak hanya urusan birokrasi yang mirip dengan Indonesia, di ranah politik pun terdapat kemiripan, yaitu kaum pebisnis yang memasuki dunia politik. Alhasil, bidang perekonomian selalu mendapat perhatian utama dan khusus dalam kenegaraan. Namun, sama halnya dengan di Indonesia, kekuatan masyarakat terus menyala. Komunitas-komunitas kecil akan selalu ada untuk mengkritisi hal-hal sosial, dan melakukan aksi untuk memperbaiki diri dan lingkungan. Semangat inilah yang membuat komunitas dan kelompok kecil selalu ada untuk memperbaiki kondisi di sekitarnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Common Room di Bandung. Berdiri 2003 (sebelumnya adalah Bandung Centre for New Media Art, 2001), hingga kini Common Room intens untuk melakukan kegiatan sosial, penyebaran ilmu pengetahuan, maupun pemetaan komunitas, dimana teknologi menjadi alat untuk menyebarkan pengetahuan.</p>
<p>Di Bandung sendiri telah terjadi degradasi kualitas lingkungan kota. Jika dulu Bandung dikenal sebagai kota dengan suasana yang nyaman, aman, dan segar, tidak demikian dengan sekarang. Struktur kota yang semrawut, minimnya sarana dan prasarana, seperti menunjukkan sosok yang tidak siap mengalami perubahan yang begitu cepat. Semua diserap, tanpa adanya penyaringan. Berlandaskan hal itulah, Common Room melandaskan gerakannya pada aktivitas di seputar seni, budaya, dan pemanfaatan ICT/Media, sebagai dasar untuk mengupayakan perubahan sosial, menghimpun kekuatan masyarakat, dan kegiatan penelitian untuk mendorong terjadinya mekanisme produksi informasi dan pengetahuan.</p>
<p>Untuk mendorong perubahan sosial di lingkungan sekitarnya, pada tahun 2008 Common Room pun ikut memfasilitasi kegiatan komunitas warga Babakan Asih yang aktif melakukan perbaikan kualitas lingkungan mereka sejak beberapa sejak kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Daerah Babakan Asih yang sebelumnya kerap terkena musibah banjir tahunan, saat ini telah berhasil membuat sistem sumur penampungan yang mampu mengalihkan air hujan dengan cepat. Banjir yang biasa berminggu-minggu terjadi di sekitar lingkungan mereka, saat ini hanya membutuhkan waktu maksimal 30 menit untuk surut.</p>
<p>Tidak hanya itu, bekerja sama dengan Solidaritas Independen Bandung (SIB), Common Room melakukan aksi penanaman pohon di sekitar Gunung Manglayang, Ujungberung, sebagai bentuk kepedulian akan krisis air yang terjadi di daerah Ujungberung. Kegiatan ini rencananya akan diulang kembali pada akhir Agustus depan. Belajar dari dua organisasi tersebut, terdapat kemiripan walau berbeda Negara dan Bahasa. Mereka sama-sama menyuarakan aspirasi publik dan bergerak untuk kebaikan bersama. Persoalan apapun yang dihadapi, akan terlewati jika kebersamaan yang dipegang.</p>
<p><strong>Rumah Serat dari Jogja</strong><br />
Sesi kedua dilakukan setelah sesi makan siang yang santai dan hangat. Selesai makan, Venzha dari House of Natural Fiber (HONF), mulai mempresentasikan mengenai HONF dan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dengan logat Jawa yang kental dan khas, serta pembawaannya yang santai, presentasi berjalan alon, asal kelakon. HONF sendiri berdiri tahun 1999, dengan semangat berkarya bagi pengembangan diri para personilnya. Namun dalam perjalanannya, HONF banyak berkolaborasi dengan berbagai pihak. Berbeda dengan Common Room, HONF sering bekerja sama dengan akademisi, khususnya UGM. Salah satu yang pernah dikerjakannya adalah mencari solusi untuk kasus Congek yang pernah terjadi pasca Gempa, di tahun 2005 yang lalu. Dalam project ini, HONF menggabungkan antara DNA dengan karya seni.</p>
<p>Nama HONF sendiri diambil dari semangat berkolaborasi dan membentuk jejaring seluas-luasnya. Itulah yang menyebabkan Venzha memilih Fiber untuk mewakilkan semangat kebersamaan tersebut. Hingga kini, HONF memiliki 7 pegawai tetap, dan puluhan relawan untuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan tahunan, seperti Yogyakarta International Media Art Festival dan Yogyakarta International Videowork Festival.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi Tentang Informasi, Komunikasi, dan Teknologi&#124; Oleh Zulfikar</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 08:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Sekitar pukul delapan para peserta Expert Meeting sudah hadir di ruang Auditorium CCF Bandung dan mempersiapkan presentasi yang akan dilaksanakan pada Selasa (20/7) malam. Ruang Auditorium CCF pun sudah mulai didatangi oleh para partisipan. Obrolan santai mengalir sembari menikmati suguhan kantin CCF sampai sekitar pukul delapan, Gustaff membuka presentasi dan memperkenalkan ketiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4040.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Sekitar pukul delapan para peserta Expert Meeting sudah hadir di ruang Auditorium CCF Bandung dan mempersiapkan presentasi yang akan dilaksanakan pada Selasa (20/7) malam. Ruang Auditorium CCF pun sudah mulai didatangi oleh para partisipan. Obrolan santai mengalir sembari menikmati suguhan kantin CCF sampai sekitar pukul delapan, Gustaff membuka presentasi dan memperkenalkan ketiga peserta yang akan mempresentasikan proyeknya yaitu Arthit Suriyawongkul, Catherine Candano, dan Victoria Sinclair.</p>
<p>Arthit mempresentasikan kegiatannya yaitu Mekong ICT. Sebuah program kolaborasi melalui informasi, komunikasi, dan teknologi antara wilayah Sungai Mekong yang meliputi Burma, Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam. Individu yang menjadi sasaran dari kegiatan ini adalah para <em>hackers</em> (memiliki semangat berteknologi dan kreatif), jurnalis, dan pekerja sosial. Dengan berkolaborasi dan saling berbagi diharapkan dapat memunculkan banyak solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi. Dengan berjaringan di Mekong ICT, maka warga wilayah Sungai Mekong dapat mencari tahu segala sesuatu melalui Mekong ICT. Hal ini digambarkan dengan suatu tokoh yang berkata: “I know why but I don’t know what and how. But I know who knows it, I’ll ask him/her.” Kemudian apapun yang ia cari dapat mudah didapatkannya.</p>
<p><span id="more-1334"></span></p>
<p>Presentasi kedua yang diberikan oleh Cathy menerangkan tentang bagaimana perubahan iklim mengubah media. Salah satu yang berubah dari materi menurut Cathy adalah dengan menggunakan media sebagai propaganda permasalahan perubahan iklim. Tiga media utama menurutnya adalah televisi, radio, dan koran/majalah. Ketiga media ini harus dimanfaatkan untuk mencerdaskan masyarakat. Karena ternyata menurut Cathy, masyarakat umumnya telah tahu adanya perubahan iklim, namun mereka tidak mengerti bagaimana hal tersebut berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari dan apa yang sebaiknya dilakukan. Di sinilah peran media menjadi  penyambung <em>knowledge gap</em> tersebut kepada masyarakat. Salah satu contoh yang diberikan oleh Cathy adalah South East Asian Youth Environmental Network yang membuat blog, video, dan media lainnya untuk mengkampanyekan kegiatan yang dapat dilaksanakan untuk mengantisipasi perubahan iklim.</p>
<p>Presentasi terakhir dengan pembicara Vicky menerangkan tentang ARCSpace yaitu suatu forum <em>Glocal </em>(global&amp;local) <em>hub</em> tempat berkumpulnya orang-orang yang <em>Autonomous, Reflective, Creative </em>(ARC). Mirip dengan Mekong ICT, program ini dianalogikan oleh Vicky sebagai <em>melting pot for ideas</em>. Di sini partisipan program dapat saling berbagi mengenai masalah yang mereka hadapi di wilayah lokal mereka dengan partisipan dari wilayah lain (global) sehingga terjadi pertukaran pikiran yang dapat menghasilkan solusi-solusi. Salah satu program dari ARCSpace ini adalah International Water Project yang diluncurkan awal 2010 kemarin.</p>
<p>Pada akhir sesi presentasi Vicky membagi partisipan Nu Substance menjadi tiga kelompok dan meminta setiap kelompok melakukan simulasi forum dengan membahas persoalan air di daerah Bandung. Membahas suatu masalah lokal dengan komunitas global ternyata dapat memberikan hasil yang menarik. Misalnya dialog permasalahan kota A dengan warga kota B. Persoalan yang dialami Kota A ternyata bukan lagi merupakan persoalan di wilayah kota B, karena di Kota B sudah dilaksanakan solusi yang tanpa disadari oleh Kota B ternyata menjadi penyelamat mereka dari persoalan Kota A. Atau sebaliknya, kadang dengan membicarakan persoalan pihak lain membuat kita terbangun bahwa kitapun masih terjebak dalam persoalan yang sama secara tidak kita sadari. Namun pada akhirnya dialog yang terbangun selalu dapat menemukan solusi baru dan menarik karena pandangan dari pihak luarseringkali merupakan ide baru yang dapat diwujudkan. Semakin luas jaringan yang terbangun, semakin terbuka peluang kemajuan yang dapat dilaksanakan. Inilah yang diharapkan dari Festival Nu Substance 2010.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi Publik Menyoal Masa Depan Lingkungan Kita Bersama &#124; Oleh Yogi Apriandi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/presentasi-publik-menyoal-masa-depan-lingkungan-kita-bersama-oleh-yogi-apriandi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/presentasi-publik-menyoal-masa-depan-lingkungan-kita-bersama-oleh-yogi-apriandi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 08:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1330</guid>
		<description><![CDATA[Foto oleh Addy Gembel
Presentasi Publik yang bertempat di CCF Bandung pada Selasa (20/7) ini diisi tiga orang pembicara yaitu Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &#38; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura) dan Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris). Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Expert Meeting Nusubstance Festival 2010.
Pada pertemuan kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4011.jpg" border="0" alt="" width="480" height="317" /></p>
<p><em>Foto oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Presentasi Publik yang bertempat di CCF Bandung pada Selasa (20/7) ini diisi tiga orang pembicara yaitu Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura) dan Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris). Kegiatan ini merupakan bagian dari acara <em>Expert Meeting</em> Nusubstance Festival 2010.</p>
<p>Pada pertemuan kali ini banyak dibahas tentang bagaimana menyikapi kondisi lingkungan hari ini. Tema yang diangkat adalah “Melakukan sesuatu untuk masa depan kota Bandung”. Acara yang di hadiri oleh 26 peserta baik dari dalam maupun luar negeri ini berlangsung dalam presentasi dan diskusi yang intens.</p>
<p><span id="more-1330"></span></p>
<p>Acara dimulai tepat pada pukul delapan malam. Arthit Suriyawongkul (Thai) menjadi pembicara pertama. Dalam kesempatan ini,  ia menjelaskan 3 elemen penting untuk dicermati bersama seperti; informasi-manajemen, komunikasi-advokasi dan teknologi- infrastruktur. Dijelaskan juga tentang pentingnya inovasi baru dalam penyebarluasan informasi. Sehingga dapat mempermudah dalam membentuk perkembangan sosial, atau penggunaan aplikasi <em>mobile </em>sehingga memudahkan seluruh warga dalam berinteraksi. Sebagai salah satu tema umum dari kecenderungan pembangunan saat ini adalah berbagi. Ruang komunitas bersama juga sangat di butuhkan keberadaannya sebagai suatu wadah pengembangan dan pembelajaran yang akan mewujudkan perubahan sosial.</p>
<p>Kesempatan kedua diberikan kepada Catherine Candano (National University Singapore). Penjelasannya menitik beratkan keberadaan <em>Media main stream</em>, yang hanya menampilkan kejadian ataupun dampak buruk dari perubahan iklim. <em>Media main stream</em> tidak pernah memberikan  pengetahuan terhadap masyarakat, tentang apa sebenarnya perubahan iklim. Sehingga yang muncul justru ketakutan yang berlebihan, tanpa pernah berpikir bagaimana mencari solusi yang tepat. Diperlukan adanya sebuah media baru yang dapat memberikan informasi yang benar tentang apa itu perubahan iklim dan cara menanggulanginya. Dengan cara tersebut nantinya ketakutan tentang akibat dari perubahan iklim akan berubah menjadi usaha-usaha dalam menanggulangi perubahan iklim.</p>
<p>Acara yang berlangsung selama dua jam ini ditutup oleh Victoria Elizabeth Sinclair (Inggris). Dalam paparannya ia membahas seputar kegiatan Arcspace Manchester, sebuah <em>hub</em> untuk pertukaran budaya dan eco-techno berbagai keterampilan. Beberapa kegiatan yang di kembangkan seperti; Kreatif <em>Techno Eco</em>-proyek termasuk tekstil etis, perhitungan karbon, mata uang alternatif, daur ulang komputer, makanan lokal, <em>permaculture</em> dan menyesuaikan tindakan individu rencana pengurangan karbon, Internasional <em>streaming online-dance off</em> dengan Brasil, Kolombia dan Pakistan menggunakan perangkat lunak bebas. Sebelum menutup kegiatan hari ini diadakan juga diskusi kelompok yang terbagi tiga group dari seluruh peserta yang hadir dengan tema “Masalah Air Bersih di Bandung”. Dari diskusi tersebut dapat diketahui apa saja yang menjadi kendala kesulitan air bersih, dan bagaimana mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut lewat suatu <em>focus group discussion</em> yang menarik.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/presentasi-publik-menyoal-masa-depan-lingkungan-kita-bersama-oleh-yogi-apriandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembahasan Expert Meeting Hari Kedua &#124; Oleh Zulfikar</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/pembahasan-expert-meeting-day-2-oleh-zulfikar/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/pembahasan-expert-meeting-day-2-oleh-zulfikar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 06:21:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1326</guid>
		<description><![CDATA[foto oleh Addy Gembel
Suasana pagi yang cerah dengan sinar matahari yang hangat menjadikan suasana Expert Meeting for New Media, Civil Society, &#38; Environmental Sustainability menjadi lebih santai. Suguhan makanan ringan dan kopi serta koneksi wi-fi membuat setiap partisipan merasa nyaman. Seperti misalnya Dan McKinley, perwakilan dari Realtime Magazine, “Now I have a cup of coffee [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_3804.jpg" border="0" alt="" width="480" height="316" /><br />
<em>foto oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Suasana pagi yang cerah dengan sinar matahari yang hangat menjadikan suasana <em>Expert Meeting for New Media, Civil Society, &amp; Environmental Sustainability</em><em> </em>menjadi lebih santai. Suguhan makanan ringan dan kopi serta koneksi wi-fi membuat setiap partisipan merasa nyaman. Seperti misalnya Dan McKinley, perwakilan dari Realtime Magazine, “<em>Now I have a cup of coffee and internet connection, what else a person need?</em>” Saat semua sudah merasa seperti di rumah, maka dialog bergizi hari ini dapat mulai dilaksanakan.</p>
<p>Gustaff membuka acara dan menyapa setiap partisipan yang hadir dan mulai merencanakan kegiatan harian yang akan dilaksanakan. Setiap partisipan yang hadir sangat terbuka dan bersemangat untuk saling berbagi mengenai kegiatan yang dilaksanakan di daerahnya masing-masing. Arthit (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand, Thailand), Vicky (ArcSpace Manchester/ Bricolabs, Inggris), dan Catherine (Tunza South East Asia Youth Environment Network, Filipina/Singapura) akan mengisi sesi presentasi pertama di CCF pada Selasa (20/7) malam di CCF.</p>
<p><span id="more-1326"></span></p>
<p>Arthit akan mempresentasikan <em>Mekong Project</em> yang dilaksanakannya, sedangkan Vicky akan berbicara tentang <em>International Water Project</em> dan <em>Arcspace Manchester</em>, dan  Catherine akan menerangkan presentasinya malam itu. Presentasi lainnya juga bakal dilaksanakan oleh Atteqa (Mauj Media Collective, Pakistan), Venzha (House of Natural Fiber, Indonesia), dan Gustaff (Common Room, Indonesia) pada keesokannya Rabu (21/7). Ketiganya akan mempresentasikan program yang dilaksanakan oleh masing-masing lembaganya. Selain sesi presentasi akan dilaksanakan juga <em>streaming session </em>dengan Perancis pada hari Rabu 21 Juli 2010 pukul 16.00-18.00 dan Brazil dan Kolombia pada hari Jumat 23 Juli 2010 pukul 19.00-21.00.</p>
<p>Setiap partisipan memiliki harapan yang seragam dari pertemuan ini. Mereka berharap agar mereka dapat saling berjaringan dan saling membantu dengan mengkolaborasikan ide masing-masing dan Gustaff juga berharap agar pertemuan ini dapat menghasilkan suatu hal yang konkrit seperti misalnya membuat dan melaksanakan program bersama. Selain kegiatan presentasi dalam ruangan, akan dilaksanakan juga kegiatan lapangan seperti mengunjungi beberapa area yang merupakan lokasi pelaksanaan program Common Room. Di luar kegiatan-kegiatan tersebut, tentunya direncanakan juga kegiatan yang bersifat menghibur seperti rencana mengunjungi pemandian air panas Ciater, dan kegiatan wisata lainnya.</p>
<p>Suasana kekeluargaan sudah mulai terasa mengalir sejak sesi awal ini. Para partisipan saling bercerita mengenai pelaksanaan programnya di daerah masing-masing dan berbagai hal yang mereka hadapi. Curahan hati setiap partisipan selalu mendapat tanggapan baik berupa sharing solusi dari partisipan lainnya. Walaupun berasal dari benua yang berbeda, ternyata tidak sedikit masalah serupa yang dihadapi seperti misalnya permasalahan birokrasi, hubungan dengan pemerintah dan perguruan tinggi setempat, tingkat partisipasi masyarakat, dan lainnya. Tips yang dibagi sangat bervariasi dan menarik, seperti bagaimana menyelundup dalam birokrasi, bagaimana menarik minat masyarakat setempat, bagaimana membangun kesadaran, dan lainnya. Walaupun rangkaian acara Nu Substance masih banyak, ternyata keterbukaan dan semangat setiap partisipan telah terbangun di awal acara dan mulai membuka banyak peluang baru.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/pembahasan-expert-meeting-day-2-oleh-zulfikar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Keterbukaan Budaya dalam Pembukaan Expert Meeting Nu-Substance Festival 2010  &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/diskusi-keterbukaan-budaya-dalam-pembukaan-expert-meeting-nu-substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/diskusi-keterbukaan-budaya-dalam-pembukaan-expert-meeting-nu-substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 04:34:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1317</guid>
		<description><![CDATA[foto oleh Addy Gembel
Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mmendorong perkembangan media baru yang perkembangannya kian signifikan di lingkup Asia Tenggara. Itulah kesimpulan dari hasil pembukaan Expert Meeting yang dihadiri oleh sejumlah praktisi media, ahli teori, dan aktivis media dari Asia dan Eropa dalam rangkaian acara Nu-Substance Festival 2010: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_3669.jpg" border="0" alt="expert meeting" width="480" height="317" /><br />
<em>foto oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mmendorong perkembangan <em>media baru </em>yang perkembangannya kian signifikan di lingkup Asia Tenggara. Itulah kesimpulan dari hasil pembukaan <em>Expert Meeting</em> yang dihadiri oleh sejumlah praktisi media, ahli teori, dan aktivis media dari Asia dan Eropa dalam rangkaian acara Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Sejumlah para ahli yang hadir dalam rapat yang dimulai pada Senin (19/7) sekitar pukul 11 siang itu dihadiri oleh Stephen Kovats (Transmediale, Jerman), Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris), Atteqa Thaver Malik (Mauj Media Collective, Pakistan), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura), Benjamin Laurent Aman (Seniman, Perancis), Marion Auburtin (Seniman, Perancis), Mirwan Andan (Ruang Rupa Jakarta, Indonesia), Sabina Santarossa dan Anupama Sekhar (Asia-Europe Foundation).</p>
<p><span id="more-1317"></span></p>
<p>Mirwan Andan mengemukakan perkembangan media massa di Indonesia saat ini telah dikuasai para elit politik. Ia melanjutkan dengan memberi contoh studi kasus pada televisi-televisi di Indonesia yaitu TV One dan Metro TV. Jurnalisme televisi yang berkembang di Indonesia dianggap tidak sehat karena selalu memunculkan kepentingan-kepentingan para konglomerat media. Bahkan kecenderungan-kecenderungan pemilik media berkecimpung pula di partai-partai politik. Eratnya hubungan politik dan  media massa adalah kondisi kisruh dalam perkembangan media massa di Indonesia, terutama sejak dibukanya keran konglomerasi media sejak zaman orde baru.</p>
<p>Perkembangan media baru di negara-negara Asia banyak memiliki hambatan dan tantangan yang banyak dicampuri oleh pemerintah. Menurut Catherine, sangat penting untuk menumbuhkan <em>civil society</em> dalam konteks perkembangan media baru. Ia menambahkan khusus untuk negara-negara Asia Tenggara, saat ini keberadaan <em>civil society</em> sangat lemah. Itu karena kebebasan berekspresi masyarakat sipil seringkali menjadi ancaman bagi pemerintah <em>status quo</em>. Sebagai contoh, kebijakan pemanfaatan media baru<em> </em>di Singapura saat ini diatur begitu ketat. Hal itu membuat kebebasan berekspresi memiliki posisi yang sangat rentan karena ketatnya aturan dari pemerintah dalam mengontrol penggunaan internet.</p>
<p>Hal itu sejalan dengan pendapat Stephen Kovats. Menurutnya, pemerintah seringkali tidak tanggap dan seolah impoten ketika mengatur <em>digital activism</em>. Salah satu upaya yang bisa dikembangkan sebagai jalur alternatif adalah dengan membuka keran-keran dari sektor independen untuk mendorong pertumbuhan aktivisme digital.  Inisiasi yang dilakukan lembaga-lembaga non-pemerintah untuk mengembangkan digital activism, seperti Asia-Europe Foundation (ASEF) sangat diperlukan. Sabinda dan Anupama dari ASEF membicarakan perihal pemetaan dan pembuatan kerangka dalam proses mengembangkan ruang-ruang media alternatif. Dalam kesempatan ini, diskusi kemudian mengarah pada perbincangan yang intens mengenai rekomendasi kebijakan pemanfaatan media baru pada beberapa negara di Asia dan Eropa.</p>
<p><strong>Budaya dalam arsip digital </strong><br />
Pada sesi kedua, pemateri yang hadir adalah Endo Suwanda (ethnomusicologist). Endo memaparkan tentang konteks globalisasi terutama dalam kajian-kajian lokal-interlokal-nasional. Ia memberikan contoh pada seni dan budaya yang berkembang di Indonesia. Percampuran antara budaya barat dan timur menjadi satu budaya baru yang berkembang di masyarakat. Contohnya, alat musik asal Pelambang yang “mirip” akordeon. Atau patung-patung Hanoman yang berpencar di seluruh negara baik dari Indonesia, Cina, Thailand, dan Vietnam. Wacana menyoal tradisi “asli” pun menjadi pertanyaan besar soal orisinalitas budaya asli bangsa Indonesia.</p>
<p>Sebuah upaya yang dilakukan oleh Endo untuk melestarikan seni dan budaya yang berkembang di masyarakat Indonesia yaitu dengan menciptakan arsip digital yang berisi daftar dan kategori seni-budaya Indonesia. Seperti situs-situs yang dikembangkan Endo, <a href="http://www.tikar.or.id/">http://www.tikar.or.id</a> dan <a href="http://www.lpsn.org/">http://www.lpsn.org</a> untuk mendokumentasikan seni-budaya yang berkembang di Indonesia. Namun, hal itu tidak mudah. Menurutnya, pengategorisasian dan taksonomi adalah problem paling menyulitkan dalam pengumpulan data-data dokumentasi. Hal itu diakui Endo karena sudah semakin kompleksnya laju seni-budaya yang berkembang di Indonesia. Ia memberikan contoh alat musik asal pulau Sumba, Jungga, yang suara dan bentuknya tidak jauh beda dengan gitar elektrik modern.</p>
<p>Menurut Endo, ada dua permasalahan dalam mengembangkan arsip digital. Pertama, produksi teknis seperti editing dan permasalahan utama yaitu, akses dan pendanaan untuk keberlansungan proyek riset dan dokumentasi. Padahal keberlangsungan arsip digital merupakan hal yang krusial seperti memberikan akses pengetahuan buat orang banyak dan mengetahui laju perkembangan seni-budaya Indonesia. Proses pengembangan arsip digital di masa depan dinilai penting karena akan punahnya material-material berbahan analog. Pembukaan <em>Expert Meeting</em> hari pertama ini ditutup dengan makan malam bersama  antara para partisipan bersama para pejabat Pemerintahan Kota Bandung untuk mendiskusikan harapan komunitas kreatif kepada pemerintah.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/diskusi-keterbukaan-budaya-dalam-pembukaan-expert-meeting-nu-substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai-Nilai Kebajikan Sunda Buhun di Pembukaan Nu –Substance Festival 2010 &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 07:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1309</guid>
		<description><![CDATA[Ayunan para penari. Foto oleh Idhar Resmadi
Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan tampaknya malah membuat mereka menari dengan atraktif. Mengayunkan badan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/dancer2.jpg" border="0" alt="" width="480" height="317" /><br />
<em>Ayunan para penari. Foto oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan tampaknya malah membuat mereka menari dengan atraktif. Mengayunkan badan ke kanan dan ke kiri, meloncat ke sana ke sini, serta menari lincah gemulai. Padahal usia para nenek tua itu hampir semuanya di atas kepala enam­ (malah seorang nenek mengaku berusia sekitar 127 tahun). Nyatanya kehadiran mereka membuat penonton terpana dalam kegiatan pembukaan Nu-Substance Festival 2010. Seorang pentolan band metal, Man (vokalis Jasad) tak ihwal ikut terpancing menari bersama mereka.</p>
<p><span id="more-1309"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/mangayi.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Mang Ayi. Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Pemandangan tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam pembukaan Nu-Substance Festival 2010 pada Jum&#8217;at (9/7) lalu. Dengan mengusung tema “Floating Horizon”, festival ini menyoroti semangat zaman yang dipenuhi dengan ambivalensi dan kontradiksi. Keberadaan Pantun Buhun merupakan salah satu cerminan yang patut kita apresiasi saat ini karena mengandung banyak nilai-nilai kebajikan dan mengandung makna-makna positif untuk ditelaah secara bersama-sama. Pantun buhun adalah salah satu bentuk pertunjukan tradisional yang berkembang di daerah Jawa Barat secara turun temurun. Fungsi utamanya sebagai <em>mepeling </em>(mengingatkan) khalayak untuk mencermati pelbagai kondisi atau atau situasi yang terjadi di sekeliling masyarakat.</p>
<p>Sebagai sebuah masyarakat yang dibesarkan dalam tradisi lisan yang kental, Pantun Sunda adalah salah satu aspek konkret yang tak bisa dikesampingkan dalam tradisi budaya lisan masyarakat Sunda. Pantun Sunda merupakan sebuah seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Biasanya seni Pantun Sunda ini dimainkan oleh seorang juru pantun dan diiringi kecapi yang dimainkan sendiri. Pola pertunjukan pantun selama ini tidak pernah berubah, mulai dari penyediaan sesajen sebagai simbol dan penutupan dengan mengumandangkan rajah pamungkas.</p>
<p>Untuk gelaran kali ini, dua orang seniman Sunda asal Subang, Mang Ayi dan Wa Itok memamerkan kebolehannya dalam menuturkan cerita dengan lakon “Berhala Gugur” (Fallen Idols). Lakon ini menceritakan tentang perang tak berkesudahan antara si baik melawan si jahat. Kisah ini setidaknya mencerminkan tema festival yang menyoroti kondisi yang ambivalen, terutama dalam konteks perkembangan teknologi, pemberdayaan masyarakat sipil dan lingkungan yang berkelanjutan.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/karat1.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Penampilan Karinding Attack. Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Pada umumnya Pantun Sunda berisi nasihat bagi manusia agar kehidupannya bisa lebih baik. Agar selalu ingat pada Tuhan dan leluhurnya. Tidak jarang juga jika Pantun dijadikan wahana kritik terhadap masalah sosial dan politik. Tak ayal, dalam beberapa bagian ceritanya Mang Ayi dan Wa Itok bercerita soal korupsi yang menyesengsarakan rakyat, penyelundupan beras miskin (raskin), hingga kondisi politik yang kacau balau dan membuat rakyat yang selalu menjadi korban. Kedua seniman ini memasukan lelucon-lelucon yang selalu ditimpali oleh para penonton dan biasanya berhasil membuat penonton tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>Mang Ayi dan Wa Itok mendongengkan cerita dalam tiga babak. Acara yang dimulai sekitar pukul delapan malam ini berakhir hingga hampir tengah malam. Sebelumnya pertunjukan pantun dibuka oleh penampilan Karinding Attack. Sekitar delapan orang pemuda berbaju hitam dengan kepala dibingkai iket Sunda tampil di altar dan melantunkan beberapa komposisinya. Karinding Attack juga adalah salah satu contoh konkret perkembangan wacana menyoal glokalisasi secara signifikan. Glokalisasi atau bisa disebut akronim dari globalisasi-lokal adalah sebuah wacana yang menyerempet persoalan seni, budaya, dan sosial tentang perpaduan atau percampuran antara budaya/ nilai barat (global) dengan nilai-nilai lokal.</p>
<p>Hal ini misalnya bisa kita simak dari perbauran nama “Karinding” sebagai salah satu alat musik tradisi sunda dengan paduan kata “Attack” yang diambil dari bahasa Inggris yang memiliki arti “serang”. Beberapa lagu seperti yang dibawakan Karinding Attack malam itu yaitu “Hampura Ma” dan “Wasit Goblog”, merupakan sebuah karya artistik yang mewakili kondisi perasaan masyarakat Bandung saat ini. Beberapa nilai dan makna dalam kandungan lagu-lagu Karinding Attack mencerminkan semangat lokal lewat kritiknya yang membangun. Komposisi-komposisi musik Karinding Attack didominasi oleh alat musik tradisionil Sunda bermaterial bambu macam karinding sebagai instrumen utama, ditambah instrumen-instrumen pengiring seperti toleat, suling, dan celempung.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Lebih Dekat Pantun Sunda &#124; Oleh Kimun666</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 16:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Localities]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[Foto: Idhar Resmadi 
Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).
Dalam naskah Siksa kandang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/laskarpelangi.jpg" border="0" alt="" width="480" height="339" /></p>
<p><em>Foto: Idhar Resmadi </em></p>
<p>Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).</p>
<p>Dalam naskah Siksa kandang Karesian (1518M) dipaparkan pantun digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Asalnya cerita pantun seputar kisah kegagahan raja-raja di atas. Pada perkembangannya cerita pantun terus bertambah. Kita pasti tak asing dengan Lutung Kasarung, Langgasari, Ciung Wanara, Mundinglayadikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan, dll. Seni tua usianya ini melahirkan beberapa ahli pantun seperti Rd. Aria Cikondang dari Cianjur (abad 17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad 19), Uce dan Pantun Beton Wikatmana dari Bandung (awal abad 20) dan Ki Buyut Rombeng dari Bogor.</p>
<p><span id="more-1303"></span></p>
<p>Seni pantun Sunda umumnya merupakan kisah yang disampaikan oleh pendongeng profesional pada zamannya yang seringkali berkelana dari desa ke desa untuk menyampaikan ceritanya kepada semua orang. Tujuan sang juru pantun bertutur adalah untuk mengajarkan agama, kepercayaan, sejarah, mitologi, moral, dan tata krama. Sepanjang abad ini, dongeng-dongeng para juru pantun lambat laun berubah menjadi cerita anak-anak. Salah satu pantun Sunda yang sangat terkenal adalah Lutung Kasarung. Dengan syair yang panjangnya lebih dari 1000 baris, kisah yang berasal dari abad 15 ini begitu populer hingga termasuk kisah pertama yang difilmkan di Indonesia pada 1926.</p>
<p>Pantun disajikan dalam dua bentuk. Yang pertama sajian untuk hiburan dan yang kedua merupakan sajian ritual (ruwatan).Sebagai sajian hiburan, pantun diceritakan atas permintaan penaggap. Sebagai sajian ruwatan, pantun ditampilkan sama dengan cerita wayang, seperti Batara Kala, Kama Salah, atau Murwa Kala. Pertunjukan pantun, baik dalam fungsi hiburan maupun ritual, tidak disajikan sembarangan. Sifatnya yang sakral dipertahankan karena bagi masyarakat Sunda membaca dan mendengarkan pantun berisi cerita raja-raja atau leluhur mereka merupakan bentuk penghormatan tersendiri kepada nenek moyang.</p>
<p>Pola pertunjukan pantun tak pernah berubah: penyediaan sesajen, <em>ngukus</em> (membakar kemenyan), mengumandangkan rajah pamunah, babak cerita dari awal hingga akhir, dan penutupan dengan mengumandangkan rajah pamungkas. Pertunjukan biasanya diiringi alat jusik kacapi. Awalnya, kacapi yang dipergunakan sangatlah sederhana seperti kacapi Baduy yang hanya berdawai 7 kawat. Seiring dengan pertumbuhan seni Cianjuran, kacapi kecil itu digantikan dengan kacapi gelung (tembang) dan akhirnya kacapi siter. Laras yang dimainkan mengiringi pantun biasanya adalah laras pelog dan salendro.</p>
<p>Sebagai kesenian yang hidup di tatar Sunda sejak zaman purba sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat, tak heran jika ungkapan, ajaran, dan petuah ki juru pantun yang terdapat dalam isi pantun adalah pembauran kedua zaman itu. Selain banyak ungkapan-ungkapan yang berasal dari budaya Islam seperti istighfar, takbir, dll., terdapat pula ungkapan khas Hindu-Budha seperti ka dewata, ka pohaci, ka para karuhun, buyut, dan lain-lain.</p>
<p>Harus diakui, dewasa ini, kondisi seni pantun sangat memprihatinkan. Walaupun seni pantun masih dapat bertahan sebagai seni yang adiluhung, tetap saja telah terjadi pergeseran terutama dalam fungsinya dari yang sakral menjadi profan.</p>
<p><em>*penulis adalah penulis buku &#8220;Myself Scumbag&#8221;, guru sejarah, dan musisi Karinding Attack</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
