<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Free Culture</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/free-culture/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 05:07:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>[Orasi Budaya] Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan &#124; Sabtu, 7 Januari 2012</title>
		<link>http://commonroom.info/2012/pidato-kebudayaan-awal-tahun-2012/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2012/pidato-kebudayaan-awal-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2417</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan Sabtu, 7 Januari 2012 Pk. 09.00 &#8211; 16.30 WIB Common Room Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung &#8211; 40132 Pengantar Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Sutan Takdir Alisyahbana telah sering menyampaikan kegelisahannya mengenai kebudayaan Indonesia. “Kebudayaan dalam krisis”, demikian kegelisahan STA tersebut jika kita rumuskan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2012/01/eflyer_katastrof1.png" alt="" title="eflyer_katastrof" width="640" height="905" class="alignnone size-full wp-image-2426" /></p>
<p><strong>Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan</strong><br />
Sabtu, 7 Januari 2012<br />
Pk. 09.00 &#8211; 16.30 WIB<br />
Common Room<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; 40132</p>
<p><strong>Pengantar</strong><br />
Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Sutan Takdir Alisyahbana telah sering menyampaikan kegelisahannya mengenai kebudayaan Indonesia. “Kebudayaan dalam krisis”, demikian kegelisahan STA tersebut jika kita rumuskan dalam satu frase. Polemik kebudayaan pun terjadi. Polemik ini merupakan gumpalan kegelisahan STA dan para cerdik-cendikia saat itu: kegelisahan untuk merumuskan kebudayaan khususnya dan pada umumnya peradaban bangsa Indonesia di masa depan, yang dalam istilah STA disebut sebagai manusia baru Indonesia. Untuk menuju masa depan Indonesia, “kita harus meninggalkan tasik yang tenang dan menuju laut yang bergelora, dinamik”, demikian kurang lebih STA.</p>
<p>Kini, 80 tahun kemudian, sebuah pertanyaan reflektif kiranya perlu dilontarkan: apakah kebudayaan dan manusia baru yang dinamis, yang bergelora seperti ombak lautan itu telah terwujud? Sebenarnya tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Indonesia, hingga hari ini, masih tetap hidup dalam 21 abad sekaligus. Di sebuah dusun di pedalaman sebuah pulau, kita masih menemukan masyarakat yang masih hidup dalam ketertinggalan di berbagai bidang kehidupan. Mereka hidup di dalam ruang pengetahuan yang sangat terbatas. Sementara di belahan pulau lain, di kota-kota besar, sebagian masyarakat telah meloncat tinggi ke atas tangga posmodernitas, bahkan sedang bergerak ke wilayah-wilayah yang takterbayangkan oleh sebagian besar masyarakat.</p>
<p>Tapi, pun begitu, di lapis permukaan, secara general bisa disaksikan bagaimana kebudayaan tengah bergerak ke arah “ketakseimbangan” nilai. Pada titik tertentu, persoalan kebudayaan bahkan bisa dibilang sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai. Kebudayaan menjadi semacam artikulasi perilaku keseharian yang digerakkan oleh isu-isu yang diusung teknologi informasi, terutama televisi dan komputer. Di situ, segala batas menjadi lebur. Jika segala batas lebur, bagaimana kita bisa merumuskan sebuah nilai?</p>
<p>Di samping itu, dihubungkan dengan ruang, dalam hal ini alam (nature), perkembangan kebudayaan (culture) juga memperlihatkan ketakseimbangan lain. Culture yang telah “tanpa nilai” itu secara terus-menerus tampak mensubversi alam (nature). Akibatnya, kian hari alam kian kewalahan memenuhi hasrat manusia yang digerakkan oleh imaji-imaji budaya tanpa nilai tersebut. Akibatnya, terjadilah apa yang kami sebut sebagai “Katastrofe Kebudayaan”.</p>
<p>Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB) dan Common Room Networks Foundation sebagai institusi yang secara intens memperhatikan hal itu, terpanggil untuk coba mencatat, merumuskan, dan memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat menjadi pencerahan bagi para intelektual dan penentu kebijakan khusunya dan masyarakat secara umum. Kali ini, konstribusi itu diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan orasi kebudayaan dari beberapa orang yang dianggap kompeten untuk tema terkait.</p>
<p>Pidato kebudayaan ini terbagi menjadi tiga sesi, yaitu:</p>
<p>Sesi I<br />
Tema: Kompleksitas, Perubahan dan Spekulasi<br />
Pemateri: Joscev Audifax, Harifa Ali Albar Siregar, Ranti Puji Agusti, Ruly Darmawan</p>
<p>Sesi II<br />
Tema: Realitas diantara Persepsi, Mitos dan Fantasi<br />
Pemateri: Idhar Resmadi, Jejen Jaelani, Kimung, Alfathri Adlin</p>
<p>Sesi III<br />
Tema: Katastrofe Kebudayaan<br />
Pemateri: Hawe Setiawan, Gustaff H. Iskandar, Yasraf Amir Piliang, Acep Iwan Saidi, dan Tisna Sanjaya.</p>
<p>Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran.</p>
<p>Informasi lebih detail hubungi Zamzami Almakki (085795111981)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2012/pidato-kebudayaan-awal-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bottlesmoker Smiles to Singapore, 2 &#8211; 7 November 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/bottlesmoker-smiles-to-singapore-2-7-november-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/bottlesmoker-smiles-to-singapore-2-7-november-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 03:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2308</guid>
		<description><![CDATA[Dates 4 Nov &#8211; IDENTITE 4.5 at Home Club 5 Nov &#8211; Foreign 3-Way at Pigeonhole Café 6 Nov &#8211; Ignite Inc. Visit http://bottlesmoker.asia/ for further info or follow @bottlesmoker for further info.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/11/bottle_sg_eflyer.jpg" alt="" title="bottle_sg_eflyer" width="640" height="951" class="alignnone size-full wp-image-2309" /></p>
<p><strong>Dates</strong><br />
4 Nov &#8211; IDENTITE 4.5 at Home Club<br />
5 Nov &#8211; Foreign 3-Way at Pigeonhole Café<br />
6 Nov &#8211; Ignite Inc.</p>
<p>Visit <a href="http://bottlesmoker.asia/" target="_blank">http://bottlesmoker.asia/</a> for further info or follow <a href="http://twitter.com/bottlesmoker" target="_blank">@bottlesmoker</a> for further info.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/bottlesmoker-smiles-to-singapore-2-7-november-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>cellsbutton#05 &#124; Yogyakarta International Media Art Festival 2011 &#124; 15 &#8211; 23 July 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/cellsbutton05-yogyakarta-international-media-art-festival-2011-15-23-july-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/cellsbutton05-yogyakarta-international-media-art-festival-2011-15-23-july-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 01:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2155</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://www.natural-fiber.com/cellsbutton/images/stories/poster-cellsbutton-05.jpg" alt="" width="640" height="904" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/cellsbutton05-yogyakarta-international-media-art-festival-2011-15-23-july-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Informasi Program &#124; Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/nusubstancefestival2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/nusubstancefestival2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 11:59:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2148</guid>
		<description><![CDATA[Being digitally literate is not about using digital tools or technology. It’s about thinking. &#8211; Bill Thompson, 2011 Perkembangan media digital dan teknologi informasi saat ini telah membuka cakrawala dunia yang baru. Sekarang kita telah hidup di era keterbukaan dan konektifitas yang memungkinkan lahirnya berbagai cara pandang (worldview) dan tata nilai baru yang termediasi oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2147" title="eflyer_nus_2011" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/07/eflyer_nus_2011.jpg" alt="" width="640" height="904" /></p>
<p style="text-align: right;"><em>Being digitally literate is not about using digital tools or technology. It’s about thinking.</em><br />
<strong> &#8211; Bill Thompson, 2011</strong></p>
<p>Perkembangan media digital dan teknologi informasi saat ini telah membuka cakrawala dunia yang baru. Sekarang kita telah hidup di era keterbukaan dan konektifitas yang memungkinkan lahirnya berbagai cara pandang (worldview) dan tata nilai baru yang termediasi oleh berbagai bentuk penggunaan teknologi media dan piranti elektronik. Persepsi akan kenyataan yang semula terbentuk melalui interaksi intensif antara manusia dengan lingkungan sekitar saat ini semakin dipengaruhi oleh kehadiran berbagai bentuk mesin  yang keberadaannya semakin terintegrasi dengan kehidupan kita. </p>
<p>Berkat perkembangan media digital dan teknologi, kini informasi dan pengetahuan semakin mudah diakses dan tersebar hampir ke seluruh pojok permukaan bumi. Selain itu, mekanisme produksi dan penyebarannya saat ini sudah semakin terbuka dan terdesentralisasi. Kecenderungan ini membuka peluang akses dan partisipasi, sehingga media digital dan teknologi informasi juga ikut mendorong terjadinya berbagai bentuk interaksi dan kerja kolaborasi. Secara umum proses penciptaan dan inovasi saat ini telah dapat dilakukan secara bersama sama oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tidaklah berlebihan apabila disebutkan bahwa di era ini kemampuan kita  untuk terlibat dalam proses penciptaan tidak lagi ditentukan oleh jarak, tetapi talenta (Armein Langi, 2010).</p>
<p>Namun begitu, kehadiran media digital dan teknologi informasi juga memiliki sisi gelap ketika menyingkap gambaran dunia yang antagonis. Aspek kemudahan dan kecepatan penyebaran informasi melalui media digital dan teknologi melahirkan banyak keraguan dan ambivalensi ketika nilai dan kebenaran semakin sulit diverivikasi. Sebagai contoh, kenyataan sehari-hari saat ini semakin mudah dikonstruksi sehingga dapat menghasilkan berbagai bentuk ilusi dan ruang simulasi. Selain itu, perkembangan media digital dan teknologi yang semakin terintegrasi dengan kehidupan kita juga dapat melahirkan ketergantungan yang cenderung membelenggu imajinasi dan kehendak bebas manusia. Seiring dengan hal ini, sekarang hampir bisa dipastikan bahwa setiap gerak-gerik perilaku manusia juga dapat diamati melalui penggunaan piranti elektronik yang kita gunakan setiap hari, sehingga hak untuk memiliki kehidupan privasi saat ini dapat dikatakan telah menjadi ilusi.</p>
<p>Terkait dengan uraian di atas, penyelenggaraan Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities akan mengajak khalayak untuk melihat berbagai aspek penggunaan teknologi media melalui cara pandang yang reflektif. Munculnya berbagai fenomena, nilai ataupun kutub (polar) baru yang muncul seiring dengan perkembangan media digital dan teknologi informasi setidaknya menuntut kita untuk memandang realitas secara lebih jernih dan kritis. Melalui serangkaian kegiatan workshop, pameran, diskusi, dan konser musik, festival ini juga akan memproyeksikan segenap lapisan yang terkait dengan penggunaan media dan teknologi dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Selain itu, festival ini juga mengajak khalayak untuk terlibat dalam proses literasi digital yang tidak hanya memberi penekanan pada pemanfaatan teknologi, namun lebih jauh adalah proses berfikir dan berimajinasi.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/nusubstancefestival2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernyataan Sikap Solidaritas Independen Bandung (SIB) Untuk Perkara Video Nazriel Irham (Ariel)</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/pernyataan-sikap-solidaritas-independen-bandung-sib-untuk-perkara-video-nazriel-irham-ariel/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/pernyataan-sikap-solidaritas-independen-bandung-sib-untuk-perkara-video-nazriel-irham-ariel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jan 2011 04:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Human Rights]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1704</guid>
		<description><![CDATA[Solidaritas Independen Bandung (SIB), adalah kelompok kerja yang terdiri dari beberapa orang pelaku kultur independen yang secara praksis berfungsi sebagai Crisis Center. Ide pembentukan SIB pertama kali digagas oleh beberapa kawan pada bulan Desember 2007, untuk mewadahi aktifitas penggiat kultur independen yang peka terhadap situasi dan lingkungan sosial yang ada. Selain itu, SIB juga dibentuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Solidaritas Independen Bandung (SIB), adalah kelompok kerja yang terdiri dari beberapa orang pelaku kultur independen yang secara praksis berfungsi sebagai Crisis Center. Ide pembentukan SIB pertama kali digagas oleh beberapa kawan pada bulan Desember 2007, untuk mewadahi aktifitas penggiat kultur independen yang peka terhadap situasi dan lingkungan sosial yang ada. Selain itu, SIB juga dibentuk sebagai respon atas berbagai bentuk krisis yang terjadi melalui beberapa cara yang kami pikir dapat menjadi bagian dari upaya untuk membentuk gerakan solidaritas yang sejati.</p>
<p>Secara garis besar SIB adalah wahana yang dibentuk untuk menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan para penggiat kultur independen. SIB juga merupakan wahana interaksi sosial antar penggiat kutur independen, serta wahana interaksi antar individu, kelompok atau organisasi manapun sebagai suatu manifestasi sosial yang paling nyata demi terwujudnya proses demokratisasi di tingkat akar rumput.</p>
<p>SIB memandang bahwa kehidupan yang demokratis akan terwujud ketika partisipasi masyarakat dapat lekat dengan proses politik, hukum dan kebudayaan. Salah satu prasyarat utama dalam mewujudkan partisipasi itu adalah melalui prinsip keterbukaan dan transparansi. Beberapa hal yang memungkinkan tegaknya prinsip keterbukaan adalah:</p>
<ol>
<li>Hak untuk mengetahui (<em>right to know/ meeweten</em>) secara utuh, benar dan akurat.</li>
<li>Hak untuk memikirkan (<em>right to think/ meedenken</em>); terlibat dalam pemikiran, pengkajian dan penelitian tentang sikap yang baik dalam menjalani kehidupan sosial.</li>
<li>Hak untuk menyatakan pendapat (<em>right to speech/ meespreken</em>)</li>
<li>Hak untuk mempengaruhi pengambilan keputusan (<em>right to participate in decision making process/ meebeslissen</em>)</li>
<li>Hak untuk mengawasi pelaksanaan keputusan (<em>right to watch in implementing the decision/ meetoezien</em>) kontrol masyarakat.</li>
</ol>
<p>Terkait dengan apa yang menimpa saudara kami Ariel, maka dengan ini kami menyatakan pernyataan sikap sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> Kami nyatakan bahwa Ariel adalah korban dari penyalahgunaan dokumen pribadi yang disebarkan melalui media internet oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga kami mendorong agar proses mengambil putusan sidang memandang persoalan ini secara proporsional (berimbang).</li>
<li>Menolak bentuk kriminalisasi korban dengan cara memasung hak kebebasan berekspresi di wilayah kesenian dalam bentuk pencekalan dan pelarangan konser dimuka umum yang berakibat pada dilanggarnya hak ekonomi Ariel sebagai seorang musisi.</li>
<li>Menolak segala bentuk teror, intimidasi dan intervensi selama proses persidangan yang dilakukan oleh golongan atau kelompok yang mengatasnamakan agama.</li>
<li>Menolak politisasi kasus yang menimpa Ariel sebagai bagian dari strategi pengalihan isu yang kerap membiaskan pandangan masyarakat atas berbagai persoalan yang sedang menimpa bangsa ini.</li>
<li>Turut mendukung terjadinya proses pengadilan yang adil, independen dan transparan sebagai bagian dari pemenuhan rasa keadilan.</li>
</ol>
<p>Demikian pernyataan sikap ini dibuat. Hal ini kami sampaikan karena kami menilai hukum sejauh ini belum menjadi institusi yang dapat mendorong ajegnya perlindungan akan hak individu. Upaya penegakan hukum dan perlindungan hak adalah prinsip yang bekerja secara paralel. Kesadaran masyarakat memiliki posisi yang strategis sebagai fondasi masyarakat madani (<em>civil society</em>). Budaya sebagai manifestiasi dari proses interaksi sosial akan mengambil peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan kesadaran publik akan pentingnya supremasi hukum yang berlandaskan pada hak asasi manusia.</p>
<p>Bandung, 26 Januari 2011</p>
<p><strong>Solidaritas Independen Bandung (SIB)</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/pernyataan-sikap-solidaritas-independen-bandung-sib-untuk-perkara-video-nazriel-irham-ariel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HONF: upDATE_0.3 &#124; Common Room, 25 Oktober 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/honf-update_0-3-common-room-25-oktober-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/honf-update_0-3-common-room-25-oktober-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 14:42:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[FOSS]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1511</guid>
		<description><![CDATA[HONF: upDATE_0.3 Yogyakarta x Surabaya x Bandung x Jakarta moddr_lab x HONF x Urban Space x Common Room x ruangrupa Tanggal: 25 Oktober 2010 Waktu: 10.00 WIB &#8211; selesai Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung Kegiatan Sesi I PRESENTASI DAN DISKUSI 10.00 &#8211; 15.00 WIB Sharing Info Sesi presentasi dan diskusi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/update_poster_a3.jpg" border="0" alt="commonroom" width="480" height="705" /></p>
<p><strong>HONF: upDATE_0.3</strong><br />
Yogyakarta x Surabaya x Bandung x Jakarta<br />
moddr_lab x HONF x Urban Space x Common Room x ruangrupa</p>
<p>Tanggal: 25 Oktober 2010<br />
Waktu: 10.00 WIB &#8211; selesai<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung</p>
<p><span id="more-1511"></span></p>
<p><strong>Kegiatan Sesi I<br />
</strong>PRESENTASI DAN DISKUSI<br />
10.00 &#8211; 15.00 WIB</p>
<p><strong>Sharing Info<br />
</strong>Sesi presentasi dan diskusi akan menyoroti sistem kerja dan aktifitas beberapa kelompok, instistusi dan komunitas di bidang seni dan budaya di beberapa kota. Tujuan dari presentasi ini adalah untuk bertukar informasi dan pengalaman yang dapat memberikan pengertian lebih mendalam akan situasi dan kondisi dari kelompok, institusi ataupun komunitas yang ada. Sesi ini diharapkan dapat melahirkan sebuah kolaborasi, pertukaran ide dan gagasan lebih lanjut diantara para peserta yang terlibat.<br />
Info:<br />
<a href="http://moddr.net" target="_blank">http://moddr.net</a><br />
<a href="http://natural-fiber.com" target="_blank">http://natural-fiber.com</a><br />
<a href="http://ruangrupa.org" target="_blank">http://ruangrupa.org</a></p>
<p><strong>Web 2.0 SuicideMachine<br />
</strong>Program presentasi khusus dari moddr_lab sebagai penggagas proyek Web 2.0 SuicideMachine. Dalam kesempatan ini moddr_lab akan mempresentasikan beberapa informasi yang terkait dengan perjuangan mereka menghadapi tuntutan pengecara-pengacara dari Facebook. Selain itu sesi ini juga akan membahas mitos serta berbagai cerita di sekitar Web 2.0 SuicideMachine yang menawarkan service bagi para pengguna jejaring sosial untuk melakukan &#8220;bunuh diri&#8221; serta menghapus keberadaan dan jejak pengguna internet di kehidupan maya mereka.<br />
Info:<br />
<a href="http://suicidemachine.org" target="_blank">http://suicidemachine.org</a><br />
<a href="http://www.checkfacebook.com" target="_blank">http://www.checkfacebook.com</a><br />
<a href="http://www.insidefacebook.com" target="_blank">http://www.insidefacebook.com</a><br />
<a href="http://www.internetworldstats.com/asia/id.htm" target="_blank">http://www.internetworldstats.com/asia/id.htm</a></p>
<p><strong>Kegiatan Sesi II<br />
</strong>WORKSHOP<br />
15.00 &#8211; 18.00 WIB</p>
<p><strong>Why-Fi?<br />
</strong>Workshop untuk cracking (meretas kode) &#8216;wireless network-encryption&#8217; yang menggunakan sistem keamanan WEP/WAP dengan tools yang sangat mudah di dapat di dunia maya. Sesi ini juga akan dilengkapi dengan sharing teknik mengamankan sistem jaringan informasi komputer dari aktifitas &#8216;hacking&#8217; melalui sistem jaringan Wi-Fi. Workshop ini bertujuan untuk mengenalkan ancaman dan resiko penggunaan sistem jaringan komputer. Peserta diharapkan membawa dapat laptop sendiri, apabila berhalangan tetap dapat terlibat tanpa praktek langsung dalam pelaksanaan.<br />
Info: <a href="http://moddr.net/why-fi-workshop/" target="_blank">http://moddr.net/why-fi-workshop/</a></p>
<p><strong>VJ School: Multimedia Software<br />
</strong>Workshop ini merupakan sebuah perkenalan terhadap software Open Source yang bernama Pure Data. Software in merupakan perangkat yang sangat berguna bagi seniman yang berkutat di bidang multimedia dan sistem interaktif.  Peserta diharapkan membawa laptop, apabila berhalangan tetap dapat terlibat tanpa praktek langsung dalam pelaksanaan.<br />
Info: <a href="http://puredata.info" target="_blank">http://puredata.info</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/honf-update_0-3-common-room-25-oktober-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GROOVIN MIXTAPE PROJECT &#124; Pameran oleh Anto Arief &#124; Common Room, 16 &#8211; 31 Oktober 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/groovin-mixtape-project/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/groovin-mixtape-project/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 14:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Art Projects]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1491</guid>
		<description><![CDATA[Introduksi Mixtape adalah kultur berbagi yang bersifat personal. Sebagai sebuah kompilasi musik yang dibuat untuk tujuan sharing, mixtape biasanya dibagikan secara gratis, tidak dijual dan sama sekali tidak profitable. Statemen personal Proyek mixtape trilogi ini awalnya hanyalah sebuah penghargaan kepada 3 instrumen kesukaan saya. Kemudian saya mendedikasikan mixtape ini kepada teman-teman musisi yang saya anggap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i14.photobucket.com/albums/a322/anto_arief/postergmp.jpg" border="0" alt="poster" width="480" height="678" /></p>
<p><strong>Introduksi<br />
</strong>Mixtape adalah kultur berbagi yang bersifat personal. Sebagai sebuah kompilasi musik yang dibuat untuk tujuan sharing, mixtape biasanya dibagikan secara gratis, tidak dijual dan sama sekali tidak profitable.</p>
<p><strong>Statemen personal<br />
</strong>Proyek mixtape trilogi ini awalnya hanyalah sebuah penghargaan kepada 3 instrumen kesukaan saya. Kemudian saya mendedikasikan mixtape ini kepada teman-teman musisi yang saya anggap mewakili semangat ke tiga instrumen itu dan konsep ‘sharing’ dalam proyek mixtape ini.</p>
<p>Dalam kesempatan ini saya mengajak 3 musisi muda berbakat yang merupakan teman baik saya untuk menjadi ikonnya. Secara tidak langsung merekalah yang ada di kepala saya ketika membuat mixtape ini. Belakangan saya menyadari apabila proyek ini telah menjadi sebuah konsep yang artistik. Untuk itu saya memutuskan untuk membuat pameran khusus yang menampilkan beberapa artifak visual, teks, merchandise dan kompilasi musik yang dihasilkan dari proyek ini.</p>
<p>(Anto Arief)</p>
<p><span id="more-1491"></span></p>
<p><strong>MIXTAPE PARTY (Pembukaan pameran)<br />
</strong>Pesta ini melambangkan semangat ‘sharing’ yang menjadi konsep dasar kultur mixtape. Dalam acara pembukaan akan disediakan sejumlah mixtape yang bisa di kopi lewat flash disk atau di burn ke cd oleh pengunjung secara langsung.</p>
<p>Waktu: Sabtu 16 Oktober 2010<br />
Pukul: Pk.16.00 WIB</p>
<p><strong>Peserta:<br />
</strong>Egga Pratama<br />
Dxxxt<br />
Dimas Ario<br />
Abi Raditya<br />
Ardo Ardhana<br />
Aldy K<br />
Dhiandra Galih<br />
Indra Morrg</p>
<p><strong>PAMERAN<br />
</strong>16 &#8211; 31 Oktober 2010<br />
Pk. 13.00 – 20.00 WIB</p>
<p><strong>VENUE<br />
</strong>Common Room Networks Foundation<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung 40132<br />
Telp./ Fax. +62222503404</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/groovin-mixtape-project/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asyiknya, Merakit Synthesizer Secara Do It Yourself &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 14:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_3567.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. Workshop ini merupakan rangkaian dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon.</p>
<p>Sejak pukul empat sore, para peserta tampak asyik merakit. Mereka dengan seksama memerhatikan instruksi dari mentor Evan (Storn). Evan sendiri dikenal sebagai perakit alat musik macam synthesizer, moog, efek gitar, dan sebagainya secara mandiri. Untuk kegiatan kali ini, Evan memberikan modul perakitan synthesizer secara sederhana. Piranti musik seperti sequencer synthesizer merupakan salah satu instrumen penting yang dapat menunjang para musisi elektronik untuk menciptakan musik sesuai dengan selera mereka. Alat ini sangat bermanfaat bagi para musisi dalam menciptakan tempo, nada dan harmoni. Selain kemampuan teknis dalam menggunakan sequencer, idealnya seorang musisi elektronik juga mengetahui seluk beluk dari piranti elektronik yang mereka gunakan.</p>
<p>Dalam workshop ini Evan memberikan panduan untuk merakit 8-Step Sequencer Synthesizer secara sederhana. Para peserta workshop akan diajak untuk menciptakan 8-Step Sequencer Synthesizer dengan beberapa fitur yang terdiri dari 1 knop tempo, 1 push button play/ stop, 1 knop tune, 8 step knop nada, 1 knop volume, 2 jack clock in/ clock out, dan 1 jack audio out.</p>
<p>Namun, Evan mengakui kerumitan dari workshop ini diluar bayangannya semula. Alhasil, dari sekian banyak peserta tak ada satupun yang berhasil membereskan synthesizer secara sempurna. Sementara, seperti yang diakui oleh salah seorang peserta, Reza Cahaya Pratama, mengaku bahwa persiapan teknis yang kurang siap serta temaramnya lampu menjadi salah satu alasan kenapa para peserta seolah gagap dalam menyelesaikan workshop.</p>
<p>Para peserta mengaku meski sulit dan rumit mengerjakan komponen tersebut, namun mereka mendapat pengalaman baru dan mengasyikkan seputar merakit alat musik. Menariknya, alat musik ciptaan mereka sendiri atau<em> do it yourself tools</em> tersebut bisa mereka miliki. Rencananya, setelah semua alat synthesizer milik peserta beres, akan diadakan sesi jamming menggunakan alat tersebut. Salah satu keunggulan 8-step sequencer synthesizer yaitu antara satu instrumen dengan instrument lainnya bisa dikombinasikan sehingga merangkai suara yang menarik. Asyiknya…</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu dan Ajar tentang Free &amp; Open Source &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 08:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[FOSS]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1397</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Mang Tahu Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. voila… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut. Salah satu project yang menggunakan software gratis ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/IMG_2549.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /><br />
<em>Foto Oleh Mang Tahu</em></p>
<p>Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. <em>voila</em>… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut.</p>
<p>Salah satu project yang menggunakan software gratis ini adalah <em>The Otuz: Screaming Graphic Novel Project</em> (<a href="http://www.theotuz.org/">http://www.theotuz.org/</a>), yang diinisiasi oleh Monty Aji, seniman dan desainer Screamous Clothing Indonesia (<a href="http://www.screamous.com/">http://www.screamous.com/</a>). Monty yang berbagi cerita pada Jumat (30/07) sore yang lalu di Common Room menekankan bahwa penggunaan software Open Source dapat diandalkan. Bahkan George Lucas pun menggunakan software Open Source untuk mengembangkan visual effect dalam beberapa filmnya.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/IMG_2558.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /><br />
<em>Foto Oleh Mang Tahu</em></p>
<p>Beberapa diantara software Open Source yang dapat dimanfaatkan untuk bidang desain grafis dan seni visual adalah Gimp (<a href="http://www.gimp.org/">http://www.gimp.org/</a>), Inkscape (<a href="http://www.inkscape.org/">http://www.inkscape.org/</a>), Blender (<a href="http://www.blender.org/">http://www.blender.org/</a>), Alchemy (<a href="http://al.chemy.org/">http://al.chemy.org/</a>), dsb. Asyiknya lagi, selain dapat diinstal pada sistem operasi perangkat lunak sumber terbuka (FOSS) semisal <a href="http://www.ubuntu.com/" target="_blank">Ubuntu</a>, semua software tersebut dapat diinstal pada sistem operasi berbayar (<em>proprietary</em>) seperti Windows ataupun Mac Os.  Namun, minimnya publikasi menyebabkan software tersebut belum banyak digunakan oleh masyarakat secara luas. Begitu pun dengan perguruan tinggi yang tidak mengajarkan penggunaan perangkat lunak sumber terbuka sebagai materi kuliah.</p>
<p>Selama ini mahasiswa dibiasakan untuk menggunakan software berbayar, sehingga kebiasaan ini dilanjutkan terus sampai pada masa pasca kuliah. Berangkat dari permasalahan ini, salah satu cara untuk mendekati masyarakat adalah dengan menyelenggarakan workshop penggunaan software Open Source yang dilengkapi dengan pameran karya. Diharapkan, masyarakat luas dapat lebih mengetahui keberadaan software Open Source dan dapat maksimal dalam mengembangkan potensi serta karya mereka.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deklarasi Bandung demi Keterbukaan Informasi &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 08:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1384</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi Perkembangan teknologi informasi dan media baru merupakan jaringan yang tak bisa dihindarkan lagi dalam konteks masyarakat sipil dewasa ini. Namun, untuk memunculkan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil diperlukan suatu kolaborasi penting. Terutama menyoal kesepahaman bersama mengenai media baru dan teknologi informasi untuk menciptakan ruang baru dalam keterbukaan budaya, teknologi, dan lingkungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_4087.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Perkembangan teknologi informasi dan media baru merupakan jaringan yang tak bisa dihindarkan lagi dalam konteks masyarakat sipil dewasa ini. Namun, untuk memunculkan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil diperlukan suatu kolaborasi penting. Terutama menyoal kesepahaman bersama mengenai media baru dan teknologi informasi untuk menciptakan ruang baru dalam keterbukaan budaya, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan.</p>
<p>Itulah garis besar dari pertemuan Expert Meeting Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Nu-Substance itu sendiri merupakan festival new-media yang diselenggarakan oleh Common Room Networks Foundation dan telah bergulir sejak tahun 2007. Pertemuan program Expert Meeting ini dihadiri oleh para praktisi media, aktivis, akademisi dari dalam dan luar negeri seperti Stephen Kovats (Transmediale, Jerman), Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris), Atteqa Thaver Malik (Mauj Media Collective, Pakistan), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura), Mirwan Andan (Ruang Rupa, Jakarta), Venzha Christiawan (House of Natural Fiber, Yogyakarta) dan Gustaff H. Iskandar (Common Room, Bandung).  Expert Meeting ini adalah upaya untuk merumuskan sebuah wacana dalam bidang new-media dan teknologi informasi dengan menggunakan pendekatan dialog antar-budaya. Hal ini terlihat dari latar belakang para peserta yang berasal dari beragam wilayah.</p>
<p><span id="more-1384"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3999.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Hasil dari Expert Meeting tersebut melahirkan notulensi yang dideklarasikan pada Sabtu (24/7) di acara Artepolis yang bertempat di Gedung Museum Asia Afrika. Beberapa poin penting dalam deklarasi tersebut yaitu pentingnya akses untuk memperoleh informasi, jaringan, dan pengetahuan; penggunaan dan pengembangan open dan free technology; pluralisme dan kebebasan berekspresi dalam praktik artistik dan budaya, tanggung jawab terhadap lingkungan, hingga membangun praktik kekuatan masyarakat sipil melalui teknologi informasi.  Kurang lebih ada 22 poin penting dalam deklarasi yang juga ditandatangani para peserta konferensi.</p>
<p>Deklarasi ini ingin menyampaikan tentang pengetahuan dan informasi sebagai wadah utama untuk menyebarkan ekspresi-ekspresi artistik dan kebudayaan. Keberagaman ekspresi tersebut diharapkan dapat membuka mata masyarakat tentang pentingnya rasa toleransi dan pluralisme. Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mendorong perkembangan <em>new-media</em><em> </em>yang kian signifikan di lingkup Asia Tenggara.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3887.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Menurut Catherine Candano, khusus negara-negara Asia Tenggara keberadaan masyarakat sipil dipandang sangat lemah. Itu karena kebebasan berekspresi masyarakat sipil seringkali menjadi ancaman bagi pemerintah <em>status quo</em>. Hal itu membuat kebebasan berekspresi memiliki posisi yang sangat rentan karena ketatnya aturan dari pemerintah dalam mengontrol penggunaan internet.</p>
<p>Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Stephen Kovats bahwa pemerintah kerap kali impoten dan kurang tanggap dalam mengatur permasalahan wacana kebebasan berekpresi dan teknologi informasi.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_4057.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>“<em>Dengan adanya deklarasi seperti ini akan memperkuat kedudukan masyarakat sipil dalam mengembangkan teknologi informasi dan kebebasan berekspresi bagi masyarakat sipil secara bertanggungjawab,</em>” tutur Stephen Kovats.</p>
<p>Poin-poin penting tersebut merupakan kajian penting dalam kontelasi masyarakat sipil baik dalam konteks global maupun lokal. Deklarasi tersebut merupakan hasil rumusan selama satu minggu rapat dalam merancang kajian mengenai keterbukaan budaya, perkembangan teknologi, dan lingkungan berkelanjutan. Menurut Gustaff Harriman Iskandar, mobilitas, keterbukaan, dan konektivitas bisa tercapai melalui penggunaan spektrum media digital, teknologi komunikasi, dan praktik jaringan dalam masyarakat sipil dan mesti digunakan secara kritis.</p>
<p><em>*Artikel dimuat dalam Pikiran Rakyat Edisi 29 Juli 2010</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

