Tagged: Free Culture RSS

  • Idharrez 12:14 pm on July 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Free Culture   

    Gelombang dalam Ruang Kebersamaan | Oleh Yasmin Kartikasari 

    Photobucket

    Foto Oleh Addy Gembel

    Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut Expert Meeting hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang Mauj Media Collective, Atteqa bercerita sedikit mengenai kondisi di Pakistan. Bagaimana huru-hara yang terjadi di Pakistan belakangan ini, sedikit banyak memang mempengaruhi kebiasaan, dan kultur keseharian mereka. Termasuk pada perilaku berorganisasi Mauj itu sendiri.

    Mauj sendiri memilik dua arti. Arti yang pertama adalah gelombang (wave). Seperti gelombang yang tidak ada artinya tanpa keberadaan laut, begitu juga dengan seseorang yang menjadi kecil/lemah jika sendirian, namun menjadi kuat bila bergabung dengan yang lain. Prinsip itulah yang menjadi pegangan Mauj dalam berorganisasi. Arti yang kedua adalah ‘to have fun’, dimana Mauj menjadi wadah bagi tiap orang untuk berekspresi, termasuk dalam pembuatan film, video, digital art, kartun, dll.

    (More …)

     
  • Idharrez 8:50 am on July 21, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Free Culture   

    Presentasi Tentang Informasi, Komunikasi, dan Teknologi| Oleh Zulfikar 

    public presentation 2

    Foto Oleh Addy Gembel

    Sekitar pukul delapan para peserta Expert Meeting sudah hadir di ruang Auditorium CCF Bandung dan mempersiapkan presentasi yang akan dilaksanakan pada Selasa (20/7) malam. Ruang Auditorium CCF pun sudah mulai didatangi oleh para partisipan. Obrolan santai mengalir sembari menikmati suguhan kantin CCF sampai sekitar pukul delapan, Gustaff membuka presentasi dan memperkenalkan ketiga peserta yang akan mempresentasikan proyeknya yaitu Arthit Suriyawongkul, Catherine Candano, dan Victoria Sinclair.

    Arthit mempresentasikan kegiatannya yaitu Mekong ICT. Sebuah program kolaborasi melalui informasi, komunikasi, dan teknologi antara wilayah Sungai Mekong yang meliputi Burma, Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam. Individu yang menjadi sasaran dari kegiatan ini adalah para hackers (memiliki semangat berteknologi dan kreatif), jurnalis, dan pekerja sosial. Dengan berkolaborasi dan saling berbagi diharapkan dapat memunculkan banyak solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi. Dengan berjaringan di Mekong ICT, maka warga wilayah Sungai Mekong dapat mencari tahu segala sesuatu melalui Mekong ICT. Hal ini digambarkan dengan suatu tokoh yang berkata: “I know why but I don’t know what and how. But I know who knows it, I’ll ask him/her.” Kemudian apapun yang ia cari dapat mudah didapatkannya.

    (More …)

     
  • Idharrez 8:27 am on July 21, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , Free Culture   

    Presentasi Publik Menyoal Masa Depan Lingkungan Kita Bersama | Oleh Yogi Apriandi 

    public presentation 1

    Foto oleh Addy Gembel

    Presentasi Publik yang bertempat di CCF Bandung pada Selasa (20/7) ini diisi tiga orang pembicara yaitu Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network & Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura) dan Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris). Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Expert Meeting Nusubstance Festival 2010.

    Pada pertemuan kali ini banyak dibahas tentang bagaimana menyikapi kondisi lingkungan hari ini. Tema yang diangkat adalah “Melakukan sesuatu untuk masa depan kota Bandung”. Acara yang di hadiri oleh 26 peserta baik dari dalam maupun luar negeri ini berlangsung dalam presentasi dan diskusi yang intens.

    (More …)

     
  • Idharrez 6:21 am on July 21, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Free Culture   

    Pembahasan Expert Meeting Hari Kedua | Oleh Zulfikar 

    expert meeting day 2

    foto oleh Addy Gembel

    Suasana pagi yang cerah dengan sinar matahari yang hangat menjadikan suasana Expert Meeting for New Media, Civil Society, & Environmental Sustainability menjadi lebih santai. Suguhan makanan ringan dan kopi serta koneksi wi-fi membuat setiap partisipan merasa nyaman. Seperti misalnya Dan McKinley, perwakilan dari Realtime Magazine, “Now I have a cup of coffee and internet connection, what else a person need?” Saat semua sudah merasa seperti di rumah, maka dialog bergizi hari ini dapat mulai dilaksanakan.

    Gustaff membuka acara dan menyapa setiap partisipan yang hadir dan mulai merencanakan kegiatan harian yang akan dilaksanakan. Setiap partisipan yang hadir sangat terbuka dan bersemangat untuk saling berbagi mengenai kegiatan yang dilaksanakan di daerahnya masing-masing. Arthit (Thai Netizen Network & Creative Commons Thailand, Thailand), Vicky (ArcSpace Manchester/ Bricolabs, Inggris), dan Catherine (Tunza South East Asia Youth Environment Network, Filipina/Singapura) akan mengisi sesi presentasi pertama di CCF pada Selasa (20/7) malam di CCF.

    (More …)

     
  • Idharrez 4:34 am on July 20, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Free Culture   

    Diskusi Keterbukaan Budaya dalam Pembukaan Expert Meeting Nu-Substance Festival 2010 | Oleh Idhar Resmadi 

    expert meeting

    foto oleh Addy Gembel

    Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mmendorong perkembangan media baru yang perkembangannya kian signifikan di lingkup Asia Tenggara. Itulah kesimpulan dari hasil pembukaan Expert Meeting yang dihadiri oleh sejumlah praktisi media, ahli teori, dan aktivis media dari Asia dan Eropa dalam rangkaian acara Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Sejumlah para ahli yang hadir dalam rapat yang dimulai pada Senin (19/7) sekitar pukul 11 siang itu dihadiri oleh Stephen Kovats (Transmediale, Jerman), Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris), Atteqa Thaver Malik (Mauj Media Collective, Pakistan), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network & Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura), Benjamin Laurent Aman (Seniman, Perancis), Marion Auburtin (Seniman, Perancis), Mirwan Andan (Ruang Rupa Jakarta, Indonesia), Sabina Santarossa dan Anupama Sekhar (Asia-Europe Foundation).

    (More …)

     
  • Idharrez 7:39 am on July 18, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Free Culture, ,   

    Nilai-Nilai Kebajikan Sunda Buhun di Pembukaan Nu –Substance Festival 2010 | Oleh Idhar Resmadi 

    Photobucket

    Ayunan para penari. Foto oleh Idhar Resmadi

    Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan membuat mereka menari dengan atraktifnya. Mengayunkan badan ke kanan- ke kiri, meloncat ke sana ke sini, dan menari lincah gemulai. Padahal usia para nenek tua itu hampir semuanya di atas kepala enam­ (malah seorang nenek mengaku berusia sekitar 127 tahun)nyatanya membuat penonton terpana dalam kegiatan pembukaan Nu-Substance Festival 2010. Seorang pentolan band metal, Man (vokalis Jasad) tak ihwal ikut terpancing menari bersama mereka. (More …)

     
  • Idharrez 4:39 pm on July 17, 2010 Permalink | Reply
    Tags: Free Culture, , ,   

    Mengenal Lebih Dekat Pantun Sunda | Oleh Kimun666 

    Photobucket

    Foto: Idhar Resmadi

    Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).

    Dalam naskah Siksa kandang Karesian (1518M) dipaparkan pantun digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Asalnya cerita pantun seputar kisah kegagahan raja-raja di atas. Pada perkembangannya cerita pantun terus bertambah. Kita pasti tak asing dengan Lutung Kasarung, Langgasari, Ciung Wanara, Mundinglayadikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan, dll. Seni tua usianya ini melahirkan beberapa ahli pantun seperti Rd. Aria Cikondang dari Cianjur (abad 17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad 19), Uce dan Pantun Beton Wikatmana dari Bandung (awal abad 20) dan Ki Buyut Rombeng dari Bogor.

    (More …)

     
  • blauloretta 12:17 pm on November 16, 2009 Permalink | Reply
    Tags: Free Culture   

    Charter for Innovation, Creativity and Access to Knowledge 

    We, a broad coalition from over 20 countries, of hundreds of thousands of citizens, users, consumers, organizations, artists, hackers, members of the free culture movement, economists, lawyers, teachers, students, researchers, scientists, activists, workers, unemployed, entrepreneurs, creators…

    We invite all citizens to make this Charter theirs, share it and put it into practice.

    We invite all governments, multinationals and institutions urgently to listen to it, understand it and enforce it.

    More info: http://fcforum.net/

    Download Video:
    .ogg version
    .mov version

    Download PDF

     
  • blauloretta 3:52 am on October 12, 2008 Permalink | Reply
    Tags: Free Culture   

    Perlukah Perlindungan HKI? 

    Dalam sebuah sebuah mailing list, pembicaraan mengenai HKI kembali mengemuka terkait dengan wacana mengenai perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Sebagian pihak berpendapat kalau karya intelektual mutlak harus diproteksi agar para pencipta bisa mendapatkan insentif dari karya mereka. Saya kok malah berpendapat sebaliknya ya? Sejak semula saya sebetulnya termasuk orang yang tidak terlalu tertarik dengan konsep HKI. Dalam beberapa aspek rasanya memang diperlukan tetapi tidak semua karya intelektual menurut saya harus diproteksi. Bagi mereka yang percaya bahwa informasi dan pengetahuan seharusnya menjadi hak dasar yang idealnya bisa diakses secara terbuka oleh orang banyak sebagai wahana pemberdayaan, konsep tentang HKI tentu saja menjadi gagasan yang kontra produktif.

    Isu HKI menurut saya juga masih menjadi dilema di Indonesia karena apabila dilihat dari aspek tradisi dan latar belakang budaya, masyarakat Indonesia tidak mengenal konsep perlindungan hak kekayaan intelektual. Bagi sebagian masyarakat tradisi, seniman dan intelektual memiliki fungsi tertentu di dalam masyarakat. Hal ini juga berlaku bagi berbagai karya yang dihasilkan oleh para seniman, pengrajin atau penulis yang biasanya membiarkan karyanya berada di tataran domain publik sehingga bisa diakses, direproduksi dan disebarkan sendiri sesuai dengan keperluan masing-masing.

    Di Indonesia kita juga mengenal konsep “kagunan” atau darma sebagai “rights and duties of each individual“, yang menjelaskan posisi seniman atau intelektual sebagai sumber inspirasi pengetahuan bagi masyarakatnya. Tidak mengherankan apabila misalkan bagi sebagian seniman dan pengrajin tradisional di Bali, masyarakat dibebaskan untuk mereproduksi dan menyebarkan karya seni ataupun kerajinan yang dihasilkan untuk kepentingan bersama. Hal ini kurang lebih senada dengan konsep kagunan atau darma tadi. Namun sayangnya konsep mengenai kagunan atau darma kemudian harus berseberangan dengan gagasan tentang HKI seperti yang kita lihat pada kasus ditangkapnya seorang pengrajin di Bali karena dituduh membajak desain karya kerajinan sebuah perusahaan asing yang kebetulan memproteksi sebuah karya desain kerajinan perak Bali yang sudah turun temurun diwariskan di kalangan masyarakat Bali.

    Info tentang hal ini bisa dibaca di halaman http://kompas.com

    Dalam perkembangan teknologi digital dan kultur media, persoalannya agak berbeda ketika saat ini melalui teknologi digital kebanyakan orang memiliki kemudahan untuk menduplikasi (copy), memodifikasi (sampling) dan menyebarkan (distribute) data digital secara bebas. Tidak mengherankan sempat ada perdebatan di kalangan pengguna internet perihal gagasan untuk memproteksi penyebaran mp3 di jagat maya. Tampaknya mau tidak mau harus diperhatikan kalau isu HKI sebetulnya tidak begitu populer di kalangan pengguna internet, walaupun ada banyak produsen seperti Microsoft yang berkeras untuk memproteksi produk mereka dari pembajakan dan penggunaan secara ilegal.

    Terkait dengan perkembangan teknologi digital dan kultur media, tampaknya perlindungan HKI akan terus menjadi bahan perdebatan dan menimbulkan pro-kontra. Saya sendiri sebetulnya belum mengenal konsep HKI yang dikembangkan di Indonesia secara mendalam. Tapi dalam sebuah konferensi yang berjudul “Contested Common/ Trespassing Publics” yang diselenggarakan oleh Sarai Media Initiative pada tahun 2005 di New Delhi, secara eksplisit dinyatakan kalau penerapan HKI di beberapa negara berkembang telah melahirkan konflik dan persoalan di tengah-tengah masyarakat luas.

    Info mengenai konferensi di atas bisa diakses di http://www.sarai.net

    Barangkali kasus yang bisa dijadikan contoh adalah masalah benih jagung yang dikembangkan oleh Monsanto, sebuah perusahaan agrikultur yang harus berurusan dengan banyak kasus lingkungan dan kesehatan sehingga menjadi bulan-bulanan para aktifis lingkungan dan penentang arus globalisasi. Dalam hal ini barangkali kita perlu juga mendengarkan pandangan yang menyatakan kalau HKI sebetulnya merupakan perpanjangan dari budaya korporasi dan merepresentasikan kepentingan negara maju atau para pemilik modal untuk mengontrol mekanisme produksi informasi dan pengetahuan di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Dalam hal ini saya tidak serta merta menentang HKI. Tapi menurut saya kita perlu kritis dan agak berhati-hati dalam memperkenalkan konsep HKI kepada masyarakat.

    Ada kasus menarik dari penyelenggaraan Nu-Substance Helar Festival 2008 yang telah lalu di Bandung. Dalam sebuah sesi presentasi karya software, ada seorang peserta bernama Arry Ardiansyah (http://aradaz.blogspot.com/) yang membuat VST plugin dan membagikan karyanya secara cuma-cuma melalui blog pribadinya. Dalam diskusi dia menyatakan kalau pengguna VST plugin yang dia buat saat ini kurang lebih telah mencapai 20.000 pengguna di seluruh dunia. Untuk Arry, keputusan untuk menyebarkan VST plugin secara gratis terutama disebabkan oleh persoalan etika karena pada dasarnya VST plugin yang dia bikin menggunakan software bajakan dan sumber kode yang dibuat oleh orang lain. Semua sumber kode yang dia gunakan untuk membangun VST plugin ia dapat melalui jaringan internet.

    Yang menarik, dengan menyebarkan VST plugin secara gratis, ia juga kemudian mendapat banyak kesempatan untuk berkolaborasi dengan sesama pengembang software di seluruh dunia. Menurut pengakuannya, walau bisa diunduh gratis, dia bisa tetap mendapatkan insentif dari karya VST plugin yang dia buat dengan mendapatkan uang hasil pemasangan google adsense di blog pribadinya. Hal ini menurut saya setidaknya mencerminkan bagaimana teknologi digital dan kultur media telah melahirkan relasi konsumsi-produksi yang baru, dimana setiap pengguna informasi dan pengetahuan di internet dapat bekerjasama alias berkolaborasi untuk menghasilkan karya secara bersama-sama.

    Informasi ini menurut saya tentu saja secara gamblang juga memperlihatkan kalau saat ini perkembangan teknologi internet dan kultur media telah melahirkan sebuah formula baru dalam bisnis kreatif. HKI bukan satu-satunya cara untuk memproteksi karya intelektual sehingga seorang pencipta bisa mendapatkan insentif dari karya yang mereka buat. Ada aspek-aspek lain seperti teknologi, kultur dan etika yang juga bisa dikedepankan untuk menghargai karya intelektual seseorang. Oleh karena itu, saya merasa kita perlu untuk memilah-milah secara teliti untuk mengaplikasikan HKI, terutama dalam kaitannya dengan mekanisme produksi dan distribusi informasi maupun pengetahuan di Indonesia.

    Tokyo, 12 Oktober 2008

    Gustaff H. Iskandar

    * Mari terlibat dalam pembicaraan mengenai HKI dalam forum diskusi berikut:

    >Multiply

    >Facebook

     
    • kimun666 3:00 am on October 29, 2008 Permalink

      haki teh eur kepentingan industri kan..? lain keur kepentingan seniman..?

      bebaskan!

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel