Tagged: Free Culture RSS

  • blauloretta 1:00 pm on March 22, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , , Free Culture,   

    [Peluncuran Buku & Diskusi] Budaya Bebas karya Lawrence Lessig | Sabtu, 24 Maret 2012 

    Sabtu, 24 Maret 2012
    Pk. 15.00 – 18.00 WIB
    Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung

    Upaya penerjemahan buku ‘Free Culture: How Big Media Uses Technology and the Law to Lock Down Culture and Control Creativity’ yang ditulis Lawrence Lessig oleh rekan-rekan KUNCI Cultural Studies Center dengan dukungan Ford Foundation ini merupakan usaha untuk mendorong arus informasi mengenai merebaknya budaya digital di berbagai belahan dunia agar sampai ke pembaca yang tidak berbahasa asing. Melalui buku ini Lessig memperlihatkan bahwa di luar kenyataan tentang teknologi baru yang selalu melahirkan hukum baru, kini para pelaku monopoli budaya justru memanfaatkan ketakutan yang diciptakan teknologi baru, meskipun korporasi-korporasi ini juga menggunakan teknologi yang sama untuk semakin mengendalikan apa yang dapat dan apa yang tidak dapat kita perbuat dengan budaya. Seiring dengan semakin terdigitalkannya budaya, semakin pula ia dikontrol seturut dengan diperketatnya hukum atas dorongan kelompok media besar. Yang menjadi korban disini adalah kebebasan-kebebasan untuk mencipta, kebebasan untuk membangun, dan akhirnya, kebebasan berimajinasi.

    Pembicara: Ferdiansyah Thajib (KUNCI Cultural Studies), Gustaff H. Iskandar (Common Room), Hawe Setiawan (Dosen Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS), Laina Rafianti, S.H., M.H. (Dosen Fakultas Hukum UNPAD) & Ranti Puji Agusti (Common Room)

    Unduh buku di laman berikut ini:

    Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran (gratis).

     
  • blauloretta 9:03 am on January 5, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , , Free Culture,   

    [Orasi Budaya] Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan | Sabtu, 7 Januari 2012 

    Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan
    Sabtu, 7 Januari 2012
    Pk. 09.00 – 16.30 WIB
    Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama no. 8
    Bandung – 40132

    Pengantar
    Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Sutan Takdir Alisyahbana telah sering menyampaikan kegelisahannya mengenai kebudayaan Indonesia. “Kebudayaan dalam krisis”, demikian kegelisahan STA tersebut jika kita rumuskan dalam satu frase. Polemik kebudayaan pun terjadi. Polemik ini merupakan gumpalan kegelisahan STA dan para cerdik-cendikia saat itu: kegelisahan untuk merumuskan kebudayaan khususnya dan pada umumnya peradaban bangsa Indonesia di masa depan, yang dalam istilah STA disebut sebagai manusia baru Indonesia. Untuk menuju masa depan Indonesia, “kita harus meninggalkan tasik yang tenang dan menuju laut yang bergelora, dinamik”, demikian kurang lebih STA.

    Kini, 80 tahun kemudian, sebuah pertanyaan reflektif kiranya perlu dilontarkan: apakah kebudayaan dan manusia baru yang dinamis, yang bergelora seperti ombak lautan itu telah terwujud? Sebenarnya tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Indonesia, hingga hari ini, masih tetap hidup dalam 21 abad sekaligus. Di sebuah dusun di pedalaman sebuah pulau, kita masih menemukan masyarakat yang masih hidup dalam ketertinggalan di berbagai bidang kehidupan. Mereka hidup di dalam ruang pengetahuan yang sangat terbatas. Sementara di belahan pulau lain, di kota-kota besar, sebagian masyarakat telah meloncat tinggi ke atas tangga posmodernitas, bahkan sedang bergerak ke wilayah-wilayah yang takterbayangkan oleh sebagian besar masyarakat.

    Tapi, pun begitu, di lapis permukaan, secara general bisa disaksikan bagaimana kebudayaan tengah bergerak ke arah “ketakseimbangan” nilai. Pada titik tertentu, persoalan kebudayaan bahkan bisa dibilang sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai. Kebudayaan menjadi semacam artikulasi perilaku keseharian yang digerakkan oleh isu-isu yang diusung teknologi informasi, terutama televisi dan komputer. Di situ, segala batas menjadi lebur. Jika segala batas lebur, bagaimana kita bisa merumuskan sebuah nilai?

    Di samping itu, dihubungkan dengan ruang, dalam hal ini alam (nature), perkembangan kebudayaan (culture) juga memperlihatkan ketakseimbangan lain. Culture yang telah “tanpa nilai” itu secara terus-menerus tampak mensubversi alam (nature). Akibatnya, kian hari alam kian kewalahan memenuhi hasrat manusia yang digerakkan oleh imaji-imaji budaya tanpa nilai tersebut. Akibatnya, terjadilah apa yang kami sebut sebagai “Katastrofe Kebudayaan”.

    Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB) dan Common Room Networks Foundation sebagai institusi yang secara intens memperhatikan hal itu, terpanggil untuk coba mencatat, merumuskan, dan memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat menjadi pencerahan bagi para intelektual dan penentu kebijakan khusunya dan masyarakat secara umum. Kali ini, konstribusi itu diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan orasi kebudayaan dari beberapa orang yang dianggap kompeten untuk tema terkait.

    Pidato kebudayaan ini terbagi menjadi tiga sesi, yaitu:

    Sesi I
    Tema: Kompleksitas, Perubahan dan Spekulasi
    Pemateri: Joscev Audifax, Harifa Ali Albar Siregar, Ranti Puji Agusti, Ruly Darmawan

    Sesi II
    Tema: Realitas diantara Persepsi, Mitos dan Fantasi
    Pemateri: Idhar Resmadi, Jejen Jaelani, Kimung, Alfathri Adlin

    Sesi III
    Tema: Katastrofe Kebudayaan
    Pemateri: Hawe Setiawan, Gustaff H. Iskandar, Yasraf Amir Piliang, Acep Iwan Saidi, dan Tisna Sanjaya.

    Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran.

    Informasi lebih detail hubungi Zamzami Almakki (085795111981)

     
  • blauloretta 3:15 am on November 2, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , Free Culture,   

    Bottlesmoker Smiles to Singapore, 2 – 7 November 2011 

    Dates
    4 Nov – IDENTITE 4.5 at Home Club
    5 Nov – Foreign 3-Way at Pigeonhole Café
    6 Nov – Ignite Inc.

    Visit http://bottlesmoker.asia/ for further info or follow @bottlesmoker for further info.

     
  • blauloretta 1:27 am on July 21, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , Free Culture, , , , ,   

    cellsbutton#05 | Yogyakarta International Media Art Festival 2011 | 15 – 23 July 2011 

     
  • blauloretta 11:59 am on July 5, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , , Free Culture, , , ,   

    Informasi Program | Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities 

    Being digitally literate is not about using digital tools or technology. It’s about thinking.
    – Bill Thompson, 2011

    Perkembangan media digital dan teknologi informasi saat ini telah membuka cakrawala dunia yang baru. Sekarang kita telah hidup di era keterbukaan dan konektifitas yang memungkinkan lahirnya berbagai cara pandang (worldview) dan tata nilai baru yang termediasi oleh berbagai bentuk penggunaan teknologi media dan piranti elektronik. Persepsi akan kenyataan yang semula terbentuk melalui interaksi intensif antara manusia dengan lingkungan sekitar saat ini semakin dipengaruhi oleh kehadiran berbagai bentuk mesin yang keberadaannya semakin terintegrasi dengan kehidupan kita.

    Berkat perkembangan media digital dan teknologi, kini informasi dan pengetahuan semakin mudah diakses dan tersebar hampir ke seluruh pojok permukaan bumi. Selain itu, mekanisme produksi dan penyebarannya saat ini sudah semakin terbuka dan terdesentralisasi. Kecenderungan ini membuka peluang akses dan partisipasi, sehingga media digital dan teknologi informasi juga ikut mendorong terjadinya berbagai bentuk interaksi dan kerja kolaborasi. Secara umum proses penciptaan dan inovasi saat ini telah dapat dilakukan secara bersama sama oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tidaklah berlebihan apabila disebutkan bahwa di era ini kemampuan kita untuk terlibat dalam proses penciptaan tidak lagi ditentukan oleh jarak, tetapi talenta (Armein Langi, 2010).

    Namun begitu, kehadiran media digital dan teknologi informasi juga memiliki sisi gelap ketika menyingkap gambaran dunia yang antagonis. Aspek kemudahan dan kecepatan penyebaran informasi melalui media digital dan teknologi melahirkan banyak keraguan dan ambivalensi ketika nilai dan kebenaran semakin sulit diverivikasi. Sebagai contoh, kenyataan sehari-hari saat ini semakin mudah dikonstruksi sehingga dapat menghasilkan berbagai bentuk ilusi dan ruang simulasi. Selain itu, perkembangan media digital dan teknologi yang semakin terintegrasi dengan kehidupan kita juga dapat melahirkan ketergantungan yang cenderung membelenggu imajinasi dan kehendak bebas manusia. Seiring dengan hal ini, sekarang hampir bisa dipastikan bahwa setiap gerak-gerik perilaku manusia juga dapat diamati melalui penggunaan piranti elektronik yang kita gunakan setiap hari, sehingga hak untuk memiliki kehidupan privasi saat ini dapat dikatakan telah menjadi ilusi.

    Terkait dengan uraian di atas, penyelenggaraan Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities akan mengajak khalayak untuk melihat berbagai aspek penggunaan teknologi media melalui cara pandang yang reflektif. Munculnya berbagai fenomena, nilai ataupun kutub (polar) baru yang muncul seiring dengan perkembangan media digital dan teknologi informasi setidaknya menuntut kita untuk memandang realitas secara lebih jernih dan kritis. Melalui serangkaian kegiatan workshop, pameran, diskusi, dan konser musik, festival ini juga akan memproyeksikan segenap lapisan yang terkait dengan penggunaan media dan teknologi dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Selain itu, festival ini juga mengajak khalayak untuk terlibat dalam proses literasi digital yang tidak hanya memberi penekanan pada pemanfaatan teknologi, namun lebih jauh adalah proses berfikir dan berimajinasi.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
escort ankara escort ilan escort ankara ilan
xvideos porn xhamster dn porn ei porn welcome to extremeporn cools video centerextreme pornextreme tube new hd porn sites xvideos porn