Tagged: Forum RSS

  • blauloretta 7:08 am on December 28, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Forum, ,   

    Pertemuan Bandung Creative City Forum | 25 Desember 2007 

    bccf

    Pada tanggal 25 Desember yang lalu, Common Room memfasilitasi pertemuan Bandung Creative City Forum yang kedua. Beranjak dari pertemuan sebelumnya, kali ini forum membicarakan pembentukan working group yang terdiri dari perwakilan individu, komunitas dan organisasi yang bergelut di bidang kreatifitas di kota Bandung. Beberapa teman yang hadir dalam pertemuan ini adalah Ridwan Kamil (URBANE), Tata Ahmad Soemardi (PSUD – ITB), Helvi (FFWD Records), Fiki (KICK/ Airplane Systm), Dxxxt (FFWD Records), Dina Delyana (Homogenic), Man (Jasad/ Ujungberung Rebels), Agus Rakasiwi (AJI/ Pikiran Rakyat), Trie & Iit (Omuniuum), Themfuck (Jeruji), Utun (GPSP), OQ (ButonKultur21), Araji (Fabric Magz), Ginan (Rumah Cemara), Amanda Mita (Prambors Radio), Anggia Tresna (Sekasar Sunaryo Artspace), dll.

    Melanjutkan pertemuan sebelumnya yang diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2007, forum kali ini mengukuhkan pembentukan working group yang terdiri dari perwakilan dari masing-masing komunitas dan organisasi. Melalui working group ini, diharapkan ada beberapa program kegiatan yang bisa dirancang dan dilakukan bersama-sama di sepanjang tahun 2008. Adapun anggota dari working group yang telah dibentuk oleh forum adalah sebagai berikut ini:

    1. Ridwan Kamil (URBANE)
    2. Gustaff H. Iskandar (Common Room Networks Foundation)
    3. Fiki Satari (Kick)
    4. Agus Rakasiwi (AJI/ Pikiran Rakyat)
    5. Utun (GPSP)
    6. Hendy Hertiasa (DKV – ITB)
    7. Addy Gembel (Ujungberung Rebels/ Homeless Crew)
    8. Helvy Sjarifudin (FFWD Records)
    9. Iit (Omuniuum)
    10. Woerjantari Soedarsono (PSUD – ITB)

    Pertemuan forum kali ini juga mendiskusikan pentingnya menyusun program dengan skala dan prioritas yang beragam, tetapi tetap fokus pada upaya pengembangan platform dan jaringan pelaku ekonomi kreatif baik di tingkat lokal, regional maupun internasional. Selain itu, para peserta pertemuan sepakat kalau forum ini sebaiknya tetap dapat menjadi forum yang cair sehingga memungkinkan siapa saja untuk bisa ikut bergabung. Para peserta pertemuan juga mengharapkan agar forum tidak dibentuk menjadi organisasi yang hirarkis dan elitis. Adapun agenda selanjutnya dari working group yang telah dibentuk adalah merancang program kegiatan untuk tahun 2008. Untuk itu, rencananya Bandung Creative City Forum akan kembali melakukan pertemuan di awal tahun 2008. Berita terkait dengan pertemuan ini bisa dibaca di halaman berikut ini.

     
    • andi boi boi boi 2:47 am on December 29, 2007 Permalink

      edan udah kaya justice league…. smangats pa….this is the very gulden chance indeed.

    • kimbrong 4:50 pm on January 2, 2008 Permalink

      paenkeun jang…

    • Amelie Griffiths 5:52 pm on August 12, 2010 Permalink

      being a computer programmer myself makes me very proud of my job.`-

  • blauloretta 4:19 am on December 7, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Forum,   

    Common Room Community Gathering 2007: Bandung Creative City Forum 

    Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

    Pada tanggal 6 Desember 2007, Common Room menyelenggarakan kegiatan community gathering yang dihadiri oleh beberapa teman dan komunitas yang berasal dari latar belakang yang beragam. Acara ini merupakan kegiatan rutin yang ditujukan untuk menjalin komunikasi dan jaringan lintas disiplin, selain juga sebagai upaya untuk terus mencermati perkembangan dan wacana diantara para pekerja kreatif di kota Bandung. Beberapa agenda yang dibahas di dalam pertemuan ini antara lain adalah wacana mengenai perkembangan ekonomi kreatif dan rencana pembentukan Bandung Creative City Forum. Selain itu, juga dibahas beberapa kemungkinan membentuk program kerjasama yang ditujukan untuk mendorong perkembangan industri kreatif di kota Bandung dan Jawa Barat.

    Diantara banyak teman yang saat itu hadir adalah Andar Manik (Seniman, pengelola Jendela Ide), Dewi “Dee” Lestari (Penulis dan musisi), Fiki Satari (Pengusaha, ketua KICK), Helvi Sjarifuddin (Produser musik, pendiri FFWD Records), Marin Ramdhani (Pemilik MonikCeltic/ FFWD Records), Dini Cindaga (Pemilik NoLabelStuff/ NLS), Charly (Pemilik toko Hobbies/ Pendiri Indonesian Skateboard Association), Yayat (Ahli tata suara, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Kimung (Penulis, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Eben (Gitaris Burgekill, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Man (Komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Addy Gembel (Vokalis Forgotten, komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew), Sat N.B (Pemred majalah Ripple & vokalis Pure Saturday), Agus Rakasiwi (Wartawan harian PR & koordinator Forum Diskusi Wartawan Bandung), dsb.

    Dalam acara ini, Dewi Lestari menekankan bahwa forum ini sangat diperlukan mengingat potensi yang dimiliki oleh warga kota Bandung. Menurut Dewi selama dua dasawarsa terakhir kota Bandung seperti tengah kehilangan arah karena potensi ini kurang mendapat perhatian yang cukup dari banyak pihak, selain juga karena para pelaku dunia kreatif di kota Bandung sepertinya bergerak sendiri-sendiri. Sementara itu, Fiki Satari menyatakan kalau forum ini akan berguna untuk meningkatkan posisi tawar untuk bernegosiasi dengan banyak pihak agar pengembangan ekonomi yang berbasis kreatifitas di kota Bandung mendapatkan dukungan yang semestinya. Dalam diskusi ini, Yayat dari komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew berpendapat kalau pemerintah sebaiknya tidak terlalu banyak dilibatkan di dalam forum, namun diharapkan posisi pemerintah dapat mendukung keberadaan forum ini.

    Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

    Lebih jauh lagi, beberapa peserta gathering juga menekankan perlunya forum yang bersifat inklusif, sehingga wacana mengenai pentingnya mengembangkan ekonomi kreatif tidak hanya menjadi diskusi yang elitis dan dapat mengakomodasi kepentingan para stake holder yang beragam. Hal ini terutama ditujukan agar wacana mengenai ekonomi kreatif dapat berdampak bagi masyarakat, terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat secara lebih luas; tidak hanya di kota Bandung tetapi juga di daerah-daerah lain. Dalam acara ini juga dibicarakan beberapa kendala pengembangan ekonomi kreatif, terutama beberapa hal yang terkait dengan minimnya fasilitas publik dan kebijakan pemerintah yang cenderung terlalu birokratis dan rawan akan korupsi. Menanggapi hal ini, para peserta gathering sangat berharap bahwa forum ini dapat menjadi wahana mediasi kepentingan bagi para pelaku ataupun stake holder dengan pemerintah ataupun pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan yang sama.

    Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

    Selain itu, seperti yang dipaparkan oleh Marin Ramdhani dari MonikCeltic/ FFWD Records, bahwa kota Bandung sudah punya segudang seniman dan musisi namun masih sedikit orang yang tertarik untuk mengurus masalah manajemen dan pengelolaan kegiatan. Hal ini sedikit banyak berdampak pada kualitas dan pengelolaan acara, sehingga kegiatan kreatif di kota Bandung menjadi sulit untuk berkembang lebih jauh. Selain minimnya perhatian di bidang manajemen dan organisasi, Eben dari Burgerkill (komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew) juga menyatakan kesulitan untuk mengembangkan ekonomi kreatif juga salah satunya adalah karena ada semacam gap diantara para pelaku dan komunitas yang ada. Untuk itu, idealnya pembentukan Bandung Creative City Forum dapat menjadi wahana untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan mendorong kerjasama bagi para stake holder yang memiliki latar belakang beragam.

    Agus Rakasiwi dari Forum Diskusi Wartawan Bandung menyarankan kalau para pelaku dan komunitas kreatif di kota Bandung sebaiknya memiliki media sendiri yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan sekaligus menjalin komunikasi dengan masyarakat luas. Idealnya media yang digunakan dapat dengan mudah diakses dan harus murah, sehingga masyarakat umum juga bisa ikut dilibatkan untuk membicarakan wacana dan perkembangan di bidang ekonomi kreatif. Di dalam pemberitaan media (mainstream), berbagai kegiatan kreatif di kota Bandung relatif masih kurang mendapatkan perhatian media nasional karena Jakarta sampai saat ini masih dilihat sebagai pusat. Namun hal ini dapat disiasati dengan menjalin hubungan kerjasama dengan teman-teman wartawan media mainstream, selain juga bekerjasama dengan para pekerja media yang lebih spesifik, semisal media lokal maupun jaringan blogger.

    Salah satu kesimpulan yang diambil dari pertemuan ini adalah kesepakatan untuk membentuk Bandung Creative City Forum yang terdiri dari para pelaku dan komunitas yang beragam dan bersifat terbuka. Selanjutnya dipandang perlu untuk menyiapkan working group yang terdiri dari perwakilan para stake holder untuk membicarakan rencana dan program secara lebih rinci. Untuk hal ini, para peserta gathering meminta Common Room untuk memfasilitasi kegiatan Bandung Creative City Forum, sekaligus menyebarluaskan informasi mengenai pertemuan ini kepada masyarakat luas. Para peserta pertemuan ini sepakat bahwa forum ini harus inklusif dan terbuka bagi siapapun yang memiliki kepentingan dan keperdulian untuk mendorong perkembangan industri kreatif di Indonesia, khususnya kota Bandung dan Jawa Barat.

     
    • byg 6:33 am on December 7, 2007 Permalink

      sukses ya om…berharap suatu saat pulang ke bandung dan bisa ikut serta ke dalamnya…

    • Gustaff Harriman 10:58 am on December 7, 2007 Permalink

      Eeeehhhh…Ooomm Buuyyyuuuunnggg…thx euy supportnyah. Iraha atuh ulin ka Bandung? Hehehhe..

    • vitex 12:40 pm on December 9, 2007 Permalink

      sukses taff
      mungkin kurang dari sisi pelaku industri kecil yg sering aku temani beberapa tahun ini

      tabik

    • andi hakim 12:43 am on December 10, 2007 Permalink

      …keren Bandung punya forum kreatif.
      Gw sendiri baru cari-cari tau kreatif forum

      Gustaff Harimau top.
      Sakses mang

      andihakim SR93

    • blauloretta 3:18 am on December 10, 2007 Permalink

      Buat Vitex, gua setuju banget…Forum ini gua pikir mustinya jadi forumnya pelaku industri kecil juga..terutama bagi mereka-mereka yang memanfaatkan kreatifitas sebagai core bisnisnya. Ayo dong ikutan…Biar forum ini ada gunanya dan nggak hanya sekedar acara kumpul-kumpul…

      Buat Andi…thx yah supportnya..lu sekarang dimana aja sih?

    • Deni Andriana 5:35 am on December 11, 2007 Permalink

      gagasan yang keren dan kreatif…. sebelum Bandung Creative City Forum nya lahir juga, forum menggasnya sudah lebih dulu kreatif…

    • kimung 2:24 pm on December 13, 2007 Permalink

      hajar terus jalanan lur!!!!

    • novan 3:36 pm on May 19, 2008 Permalink

      org awam seni n ga kreatif ajak atuh, alias publikasinya di gas lg

  • koesuma 12:00 am on February 24, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Forum,   

    Sepuluh Tahun Forum Lingkar Pena 

    LIBRARY @ SENAYAN & FORUM LINGKAR PENA, dalam rangka “Sepuluh Tahun Forum Lingkar Pena” mempersembahkan acara-acara menarik selama sehari penuh, pada hari Sabtu, 24 Februari 2007, bertempat di: Library @ Senayan, Komplek Departemen Pendidikan Nasional, Jl. Jend Sudirman, Senayan, Jakarta.

    DISKUSI “Puisi Populer dan Mempopulerkan Puisi”
    Pembicara: Kurnia Effendi, Gratia Gusti Chanaya Rompas , Epri Tsaqib , Dino. F. Umahuk.
    Waktu: 10.00 -12.00 WIB

    PELUNCURAN 10 BUKU dari 10 PENULIS:
    Ketika Cinta Bertasbih (Habiburrahman el Shirazy), Pitaloka (Tasaro), Beautiful Days (Bella), The Lost Prince (Sinta Yudisia), Iori (Lian Kagura), Kutemukan Engkau dalam Setiap Tahajudku (Desi Puspitasari) , Dreams ( Leyla Imtichanah), Perjalanan yang Bulan (M. Irfan Hidayatullah) , The Way of Love (Haekal Siregar), Moderan Nggak Mesti Kayak Bule (Jonru)
    Pembahas buku: Yudhistira M. Massardi, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Fahri Asiza, Pipiet Senja, Heery Nurdi. Moderator: Boim Lebon & Ali Muakhir
    Waktu: 13.00 – 18.00 WIB

    DISKUSI SASTRA “Sepuluh Forum Lingkar Pena dalam Sastra Indonesia” dengan pembicara: Maman S Mahayana (Kritikus, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UI), Ahmadun Yosi Herfanda (Redaktur Budaya Harian Republika), Prof. Melani Budianta, PhD (Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia), Muhammad Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP)
    Moderator: Asma Nadia
    Pidato 10 Tahun FLP oleh Helvy Tiana Rosa.
    Waktu: 19.00 -21.30 WIB

    Tempat: Graha Utama Gedung C, Lantai 3, Komplek Depdiknas

    Dramatic Reading oleh Asma Nadia & Birulaut
    Waktu: 10.00 – 10.30 WIB

    Plus bazaar buku dan pameran kegiatan FLP (Kamis-Sabtu, 22-24 Februari 2007 di Library @ Senayan).

    CP: Dee (0813-82828440) , Jonru (0852-17014194) , Epri (0816-1123323)

    Oh ya, acara ini gratis lho…

    So.. jangan lewatkan!

     
  • blauloretta 10:23 am on January 20, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Forum, ,   

    Rumah Cemara Media Gathering at Common Room 

    Rumah Cemara Media Gathering at Common Room.

    As part of spreading information & public knowledge about drugs related problems, Rumah Cemara held a media gathering program in Common Room in 20 January 2007. Many friends shows up and share their own stories and personal experience. On this occasion, Rumah Cemara also invite Mr. Wirawan S.H., law practitioner who used to work for LBH Bandung (Bandung Law Aid Institue). He share his knowledge about state law & regulation, concerning on drugs issues and some of its implications in Indonesia.

    We invite Rumah Cemara to come to Common Room during our annual community gathering program. They were known as an organization for those who have problems with drugs & HIV. They were the first among few civic organization in Bandung who taking this issues seriously. During the gathering, we agree to work together with Rumah Cemara in order to help some of our friends & youngster in Bandung who have drugs & HIV related problems.

    During our discussion, most of participants agree that people who have drugs related problems are the victim who have the same right with other citizens. They also have the right to get access on good health care & education, besides having a job and earn a good living. As one of friend pronounce it: “we need no drugs if we have proper information & knowledge that can help us to earn a job and good living…”. Drugs is one of the complex problem in our society. Putting some people in jail will not solve the problem.

     
  • koesuma 10:49 am on December 29, 2006 Permalink | Reply
    Tags: Forum, ,   

    Seminar Kecil Kekerasan Berbasis Gender: “Kekerasan dalam Pacaran” 

    Selasa 5 Desember 2006
    Pk. 15.00 – 17.00 WIB


    Seksualitas dan kekerasan dalam pacaran, “Pacar suka mukul, diapain yaa?”
    Narasumber: Popi / Susan

    Gratis, tanpa pendaftaran. Tempat terbatas.

    Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Jaringan Mitra Perempuan dan Common Room

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
escort ankara escort ilan escort ankara ilan