Tagged: Festival RSS

  • blauloretta 11:59 am on July 5, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , Festival, , , , ,   

    Informasi Program | Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities 

    Being digitally literate is not about using digital tools or technology. It’s about thinking.
    – Bill Thompson, 2011

    Perkembangan media digital dan teknologi informasi saat ini telah membuka cakrawala dunia yang baru. Sekarang kita telah hidup di era keterbukaan dan konektifitas yang memungkinkan lahirnya berbagai cara pandang (worldview) dan tata nilai baru yang termediasi oleh berbagai bentuk penggunaan teknologi media dan piranti elektronik. Persepsi akan kenyataan yang semula terbentuk melalui interaksi intensif antara manusia dengan lingkungan sekitar saat ini semakin dipengaruhi oleh kehadiran berbagai bentuk mesin yang keberadaannya semakin terintegrasi dengan kehidupan kita.

    Berkat perkembangan media digital dan teknologi, kini informasi dan pengetahuan semakin mudah diakses dan tersebar hampir ke seluruh pojok permukaan bumi. Selain itu, mekanisme produksi dan penyebarannya saat ini sudah semakin terbuka dan terdesentralisasi. Kecenderungan ini membuka peluang akses dan partisipasi, sehingga media digital dan teknologi informasi juga ikut mendorong terjadinya berbagai bentuk interaksi dan kerja kolaborasi. Secara umum proses penciptaan dan inovasi saat ini telah dapat dilakukan secara bersama sama oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tidaklah berlebihan apabila disebutkan bahwa di era ini kemampuan kita untuk terlibat dalam proses penciptaan tidak lagi ditentukan oleh jarak, tetapi talenta (Armein Langi, 2010).

    Namun begitu, kehadiran media digital dan teknologi informasi juga memiliki sisi gelap ketika menyingkap gambaran dunia yang antagonis. Aspek kemudahan dan kecepatan penyebaran informasi melalui media digital dan teknologi melahirkan banyak keraguan dan ambivalensi ketika nilai dan kebenaran semakin sulit diverivikasi. Sebagai contoh, kenyataan sehari-hari saat ini semakin mudah dikonstruksi sehingga dapat menghasilkan berbagai bentuk ilusi dan ruang simulasi. Selain itu, perkembangan media digital dan teknologi yang semakin terintegrasi dengan kehidupan kita juga dapat melahirkan ketergantungan yang cenderung membelenggu imajinasi dan kehendak bebas manusia. Seiring dengan hal ini, sekarang hampir bisa dipastikan bahwa setiap gerak-gerik perilaku manusia juga dapat diamati melalui penggunaan piranti elektronik yang kita gunakan setiap hari, sehingga hak untuk memiliki kehidupan privasi saat ini dapat dikatakan telah menjadi ilusi.

    Terkait dengan uraian di atas, penyelenggaraan Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities akan mengajak khalayak untuk melihat berbagai aspek penggunaan teknologi media melalui cara pandang yang reflektif. Munculnya berbagai fenomena, nilai ataupun kutub (polar) baru yang muncul seiring dengan perkembangan media digital dan teknologi informasi setidaknya menuntut kita untuk memandang realitas secara lebih jernih dan kritis. Melalui serangkaian kegiatan workshop, pameran, diskusi, dan konser musik, festival ini juga akan memproyeksikan segenap lapisan yang terkait dengan penggunaan media dan teknologi dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Selain itu, festival ini juga mengajak khalayak untuk terlibat dalam proses literasi digital yang tidak hanya memberi penekanan pada pemanfaatan teknologi, namun lebih jauh adalah proses berfikir dan berimajinasi.

     
  • blauloretta 5:36 am on July 1, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , Festival, , , , ,   

    Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities | Pameran Seni Bebunyian: [Derau]* | Studio Rosid, 1 s/d 16 Juli 2011 

    Mencari Ilham dari Bunyi Derau
    Pameran Seni Bebunyian: [Derau] | Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities
    Pembukaan: 1 Juli 2011, Pk. 19.00 – end.
    Pameran: 1 – 16 Juli 2011, 10.00 – 15.00 WIB

    Eksperimentasi seni bebunyian merupakan salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan di Common Room pada sepanjang tahun 2007 – 2011. Beberapa diantara prosesnya ada yang dikembangkan secara terencana dan konseptual, selain juga ada proses yang intuitif atau bahkan spekulatif. Tidak mengherankan apabila kemudian upaya eksperimentasi ini merambah wilayah eksplorasi yang begitu luas; mulai dari eksplorasi penggunaan instrumen bambu yang dimainkan secara manual sehingga dapat menghasilkan karakter bunyi yang unik, sampai pada eksplorasi berbagai piranti dan sumber bebunyian akustik, elektronik, maupun digital.

    Proses eksperimentasi bebunyian yang berkembang di Common Room juga tidak dibatasi oleh cara maupun teknologi media yang digunakan. Hal ini sengaja diupayakan untuk menembus berbagai kemungkinan yang ada dalam ranah eksplorasi yang nyaris tak berujung dan bertepi. Sebagai hasilnya kita kemudian dapat melihat sebagian dari beberapa karya hasil eksperimen tersebut dalam pameran ini. Meski sayup-sayup, secara perlahan eksplorasi seni bebunyian ini mampu menjelma menjadi sebuah praksis seni alternatif yang sekaligus menjadi buah persilangan dari eksplorasi di bidang seni dan pemanfaatan teknologi media. Selain memiliki aspek audial yang sangat dominan, beberapa diantara karya yang dipamerkan juga memiliki elemen visual yang kuat.

    Secara garis besar, kumpulan karya dalam pameran ini dapat kita lihat sebagai proyeksi imajinasi kolektif serta agregasi ingatan dari setiap peserta yang memiliki latar belakang dan pendekatan kekaryaan yang bermacam-macam. Beberapa diantaranya ada yang mencoba untuk menelusuri teks serta mengabarkan narasi tentang kehidupan masyarakat urban, selain juga kritik terhadap kondisi lingkungan yang berkelindan dengan refleksi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih jauh, pameran ini juga sekaligus dapat dilihat sebagai sebuah upaya untuk menalar kembali relevansi penggunaan teknologi media dalam kehidupan kita. Dalam konteks ini barangkali dapat kita tenggarai bahwa penggunaan teknologi media telah semakin melekat dengan keseharian kita, sehingga juga perlu dikembangkan untuk menjadi instrumen bagi proses kritik dan refleksi; selain juga wahana untuk berfikir dan berimajinasi.

    Kyai Gede Utama, 28 Juni 2011

    Peserta
    Adityo Pratomo | Anggung Suherman | Anto Arief | Audry Riski Prayoga | Benny Apriariska | Gustaff H. Iskandar | Ishaq Haris Yogaswara | Muhammad Akbar | Ranti Puji Agusti

    Peta Lokasi Studio Rosid

    *Kegiatan ini merupakan bagian sekaligus pembukaan Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities

     
  • Idharrez 2:56 pm on August 2, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Festival, ,   

    Asyiknya, Merakit Synthesizer Secara Do It Yourself | Oleh Idhar Resmadi 

    Photobucket
    Foto Oleh Addy Gembel

    Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. Workshop ini merupakan rangkaian dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon.

    Sejak pukul empat sore, para peserta tampak asyik merakit. Mereka dengan seksama memerhatikan instruksi dari mentor Evan (Storn). Evan sendiri dikenal sebagai perakit alat musik macam synthesizer, moog, efek gitar, dan sebagainya secara mandiri. Untuk kegiatan kali ini, Evan memberikan modul perakitan synthesizer secara sederhana. Piranti musik seperti sequencer synthesizer merupakan salah satu instrumen penting yang dapat menunjang para musisi elektronik untuk menciptakan musik sesuai dengan selera mereka. Alat ini sangat bermanfaat bagi para musisi dalam menciptakan tempo, nada dan harmoni. Selain kemampuan teknis dalam menggunakan sequencer, idealnya seorang musisi elektronik juga mengetahui seluk beluk dari piranti elektronik yang mereka gunakan.

    Dalam workshop ini Evan memberikan panduan untuk merakit 8-Step Sequencer Synthesizer secara sederhana. Para peserta workshop akan diajak untuk menciptakan 8-Step Sequencer Synthesizer dengan beberapa fitur yang terdiri dari 1 knop tempo, 1 push button play/ stop, 1 knop tune, 8 step knop nada, 1 knop volume, 2 jack clock in/ clock out, dan 1 jack audio out.

    Namun, Evan mengakui kerumitan dari workshop ini diluar bayangannya semula. Alhasil, dari sekian banyak peserta tak ada satupun yang berhasil membereskan synthesizer secara sempurna. Sementara, seperti yang diakui oleh salah seorang peserta, Reza Cahaya Pratama, mengaku bahwa persiapan teknis yang kurang siap serta temaramnya lampu menjadi salah satu alasan kenapa para peserta seolah gagap dalam menyelesaikan workshop.

    Para peserta mengaku meski sulit dan rumit mengerjakan komponen tersebut, namun mereka mendapat pengalaman baru dan mengasyikkan seputar merakit alat musik. Menariknya, alat musik ciptaan mereka sendiri atau do it yourself tools tersebut bisa mereka miliki. Rencananya, setelah semua alat synthesizer milik peserta beres, akan diadakan sesi jamming menggunakan alat tersebut. Salah satu keunggulan 8-step sequencer synthesizer yaitu antara satu instrumen dengan instrument lainnya bisa dikombinasikan sehingga merangkai suara yang menarik. Asyiknya…

     
    • ANDRO 12:57 pm on March 7, 2011 Permalink

      saya MENDUKUNG untuk generasi ANAK MUDA

  • Idharrez 1:26 pm on August 2, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Festival,   

    Eksistensi Pentas Musik Elektronik | Oleh Idhar Resmadi 

    Photobucket
    Foto Oleh Idhar Resmadi

    Tulisan “As long as you stay with me you’re safe” terpampang dalam instalasi sebuah kursi dan gitar yang berada di area penonton. Kursi itu dilengkapi dengan selongsong bambu, sebuah harmonika, dan beberapa sobekan kertas. Para penonton mengernyitkan dahi melihat instalasi tersebut. Instalasi itu ditempatkan tak beda layaknya penonton. Diam dan statis. Jumlah penonton yang tak begitu banyak memadati ruang Auditorium CCF Bandung itu terheran oleh penampilan musisi asal Perancis, Benjamin Laurent Aman. Mungkin hal itu dilakukan Benjamin untuk “memancing” apresiasi penonton, karena musik seni-derau (art-noise) yang dimainkannya sangat susah untuk diapresiasi oleh masyarakat awam.

    Dalam penampilannya, ia tak hanya menyajikan musik seni-derau (art-noise) kepada penonton. Setiap kali musik menyala lampu venue berubah terang, sebaliknya ketika satu lagu telah selesai lampu pun kembali padam. Hal ini kontras dengan apa yang ditampilkan para band-band sebelumnya. Konsep matang yang memadukan instalasi rupa, suara, dan cahaya menjadi satu konsep tertentu yang ingin disampaikan oleh Benjamin Aman. Ia bermain seolah berada pada ruang suara dan cahaya yang mengitari seantero ruangan Auditorium. Ia bermain di mana cahaya dan suara adalah satu bentuk utuh dari suatu irama.

    (More …)

     
  • Idharrez 9:58 am on July 28, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Festival   

    Kondisi Ekologi Bandung Penuh Paradoks | Oleh Idhar Resmadi 


    Foto Oleh Addy Gembel

    Salah satu kegiatan penting dalam Expert Meeting kali ini yaitu site visit (studi observasi) untuk meninjau secara langsung kondisi ekologis di Kota Bandung pada Kamis (22/7). Program site visit kali ini ditujukan untuk melihat kondisi penambangan kapur di daerah Citatah, Padalarang sekaligus meninjau situs purbakala Gua Pawon yang dipandu oleh Budi Brahmantyo dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Selain meninjau daerah Bandung Barat, kegiatan site visit juga mengeksplorasi wilayah Bandung Utara untuk melihat dari dekat fenomena eksploitasi lingkungan dalam bentuk pembangunan perumahan dan villa yang merusak kualitas lingkungan sekitar daerah tersebut.

    Site visit kali ini juga merupakan bagian dari program kajian environmental sustainability (lingkungan berkelanjutan) dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Setahun sebelumnya Nu-Substance Festival meninjau kondisi ruang perkampungan padat yang terletak di jantung kawasan urban kota Bandung, yaitu lingkungan Kampung Babakan Asih. Gambaran yang mengkhawatirkan ketika secara langsung mengunjungi wilayah Citatah yang terletak di daerah Padalarang adalah kegiatan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam yang sekaligus mengancam warisan situs purbakala yang letaknya berdampingan dengan wilayah penambangan batu kapur.

    (More …)

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
escort ankara escort ilan escort ankara ilan