<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Entrepreneurship</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/tag/entrepreneurship/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 06:36:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>[Pameran &amp; Workshop] The Illuminator: Destroy, Erase, Improve &#124; 9 s/d 11 Desember 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/pameran-workshop-the-illuminator-destroy-erase-improve-9-sd-11-desember-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/pameran-workshop-the-illuminator-destroy-erase-improve-9-sd-11-desember-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 04:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Ujungberung Update]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2388</guid>
		<description><![CDATA[The Illuminator: Destroy, Erase, Improve 9 s/d 11 Desember 2011 Pembukaan: 9 Desember 2011, pk. 18.00 &#8211; 21.00 WIB Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8 The Illuminator The Illuminator tercetus untuk pertama kalinya ketika tiga seniman artwork beda jaman Dinan Art, Ken Terror dan Gencuy Brutal Art memutuskan untuk kopi darat (bertemu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2389" title="the_illuminator_destroy_erase_improve" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/12/the_illuminator_destroy_erase_improve.jpg" alt="" width="640" height="675" /></p>
<p><strong>The Illuminator: Destroy, Erase, Improve</strong><br />
9 s/d 11 Desember 2011<br />
Pembukaan: 9 Desember 2011, pk. 18.00 &#8211; 21.00 WIB<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8</p>
<p><strong>The Illuminator</strong><br />
The Illuminator tercetus untuk pertama kalinya ketika tiga seniman artwork beda jaman Dinan Art, Ken Terror dan Gencuy Brutal Art memutuskan untuk kopi darat (bertemu untuk pertama kalinya) di Common Room pada liburan Idul Adha di tahun 2009. Merasa banyak menemui kesamaan pengalaman di dunia <em>artwork</em>, mereka bertiga kemudian menggagas sebuah pameran bersama. Harapan dan impian untuk bisa menggelar pameran bersama ini kemudian menjadi semakin nyata setelah Dinan bertemu Gustav Insuffer dan Yusep Sutrisna.</p>
<p>Untuk kepentingan pameran, Dinan kemudian menggunakan nama The Illuminator sebagai brand dari kumpulan seniman pembuat <em>artwork</em> yang akan berpameran. The Illuminator berasal dari penggabungan kata illustrator dan terminator yg berarti penggambar penghancur atau illustrator yg ingin menghancurkan batasan-batasan dalam berkarya. Karena kesamaan nasib, pengalaman dan garapan; akhirnya The Illuminator menjadi komunitas kecil para pekerja gambar untuk band underground di kota Bandung. </p>
<p>Ketika The Illuminator Artwork Exhibition digelar di Gallery Padi di pertengahan tahun 2010 lalu, Dinan bersama Gustav Insuffer dan kawan-kawannya yg lain menjadikan The Illuminator sebagai media alternatif pergerakan berbasis komunitas. Dalam pameran tersebut The Illuminator menjadi bagian penting dalam pergerakan yg mengangkat nasib para pekerja gambar dimana selama ini tak pernah ada yg mempedulikannya.</p>
<p>Selepas pameran di event Bandung Berisik V yang digelar di bulan Juli 2011 lalu, Dinan, Gustav, Yusep, Ridwan dan Jali Narchos kemudian mendirikan The Illuminator, Artwork School di Ujungberung. Sebuah institusi pendidikan bawah tanah pertama yg mengkhususkan diri sebagai tempat untuk belajar menguasai illustrasi dasar dan desain untuk band Underground. Media kreasi yg sering digunakan para illustrator ini memiliki kesamaan menggunakan alat gambar dasar seperti pensil, drawing pen, ballpoint dan spidol yg kemudian eksekusinya dikerjakan di media komputer. </p>
<p>Walau terlihat sederhana dan biasa saja, namun karena dasar musik underground yang kuat pada diri para illustrator yang bergabung di The Illuminator inilah yang kemudian membuat hasil karya mereka menjadi tak lazim dan tak memiliki batasan norma manusia pada umumnya. Walau berkesan sangar, dalam perjalanannya The Illuminator tak pernah berubah menjadi sebuah organisasi elite dengan segala urusan politisnya. The Illuminator hanyalah sekumpulan sahabat yang loyal terhadap komunitas yang selama ini membesarkannya.</p>
<p>Seniman: Gustav Insuffer, Dinan Art, Ken Terror, Yusep Mortem Art, Jali Jarchos, Gencuy Brutal Art, Wibowo Yudo Baskoro &amp; Ridwan Nandar Nugraha</p>
<p>Penampilan dari: Bandung Hip Hop Community</p>
<p><em>Acara ini merupakan kerjasama antara Common Room Networks Foundation, The Illuminator, Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung dalam rangka pengembangan industri kreatif di Kota Bandung.</em></p>
<p><span id="more-2388"></span></p>
<p><strong>Workshop Produksi dan Marketing Merchandise Band</strong><br />
Meledaknya perkembangan ekonomi kreatif beberapa tahun belakangan ini membuat industri fashion semakin semarak. Salah satu fenomena paling menarik yaitu mulai berkembang pesat laju penjualan merchandise band sebagai salah satu alternatif pendapatan bagi sebuah band. Di tengah situasi industri musik yang kian terpuruk, penjualan album rekaman yang menurun, persaingan harga antar band, royalti RBT yang mulai dihapus,membuat kini pendapatan sebuah band hanya berharap pada fee manggung.</p>
<p>Di tengah dekadensi industri musik seperti itu, sebuah band dituntut untuk mengolah kreativitasnya agar bisa maju terus. Salah satu hal yang bisa dimanfaatkan secara baik yaitu meningkatkan produktivitas profit lewat penjualan merchandise band. Peluang ini merupakan jalan terbaik bagi sebuah band untuk mendapatkan pendapatan selain bergantung pada fee manggung. Penjualan merchandise ini boleh dikatakan jalan terbaik karena antusiasme dan fanatisme anak muda kota Bandung terhadap grup musik sangatlah tinggi. Hal itulah yang membuat bahwa penjualan merchandise band merupakan salah satu langkah terbaik menyokong ekonomi kreatif di sektor musik.</p>
<p>Workshop Produksi dan Desain Merchandise Band ini bertujuan untuk memberikan panduan teknis dalam memproduksi merchandise band dengan bekal-bekal teknik seperti menyablon, mendesain, hingga juga cara memasarkannya dan persoalan royalti dan hak cipta. Workshop ini ingin mendorong kreativitas para anak muda kota Bandung agar dapat menyalurkan kreativitasnya di bidang musik dan fashion. Acara ini merupakan kerjasama antara Common Room Networks Foundation, The Illuminator, dan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung dalam rangka pengembangan industri kreatif di Kota Bandung.</p>
<p><strong>Jadwal Workshop*</strong><br />
10 s/d 11 Desember 2011, pk. 09.00 &#8211; 17.00 WIB<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
<em>*Pendaftaran sudah ditutup</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/pameran-workshop-the-illuminator-destroy-erase-improve-9-sd-11-desember-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Everyone is a Change Maker &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/everyone-is-a-change-maker/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/everyone-is-a-change-maker/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 11:27:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=991</guid>
		<description><![CDATA[Common Room &#124; 8 Mei 2010 Social Entrepreneur adalah sebutan bagi orang-orang yang mampu melakukan perubahan pada lingkungan di sekitarnya. Mira Kusumarini (Ashoka Indonesia) menjelaskan, terdapat tiga prinsip dasar yang perlu dimiliki seseorang atau kelompoknya untuk menjadi social entrepreneur, yaitu: Idea (Ide), Person (Orang), Institution (Institusi). Ide, mencakup inovasi akan bidang atau teknik/cara yang dilakukan; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/05/Resize-of-IMG_0910.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<p>Common Room | 8 Mei 2010</p>
<p><em>Social Entrepreneur</em> adalah sebutan bagi orang-orang yang mampu melakukan perubahan pada lingkungan di sekitarnya. Mira Kusumarini (Ashoka Indonesia)  menjelaskan, terdapat tiga prinsip dasar yang perlu dimiliki seseorang atau kelompoknya untuk menjadi <em>social entrepreneur</em>, yaitu:<em> Idea </em>(Ide)<em>, Person</em> (Orang)<em>, Institution </em>(Institusi)<em>.</em></p>
<p><em><span id="more-991"></span></em> <strong>Ide</strong><em>,</em> mencakup inovasi akan bidang atau teknik/cara yang dilakukan; <strong>Orang,</strong> mencakup kemampuan akan intuisi, ambisi, cermat akan peluang, dan mampu memupuk kepercayaan; <strong>Institusi</strong>, mencakup kemampuan membangun dan membina jejaring, membangun dan membina pasar, serta membina kerjasama secara dua arah (mutualisme).</p>
<p>Sebagai contoh, Yuyun Ismawati dan Silverius Oscar Unggul. Yuyun dengan prestasinya membuat dan membina sistem persampahan &#8211; terutama untuk sampah perhotelan di Bali &#8211; bekerja sama dengan para pemulung berhasil mengelola sampah dan membuat perusahaan daur ulang. Sementara itu, Oscar berhasil membina masyarakat di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, untuk mengelola hutan secara berkesinambungan, dan membangun Koperasi Hutan Jaya Lestari. Kini, Yuyun berhasil membuat <em>Eco Hotel Rating</em> yang mulai diterapkan pula di luar Bali termasuk Bandung, dan Oscar, melalui koperasinya, berhasil mensertifikasi kayu-kayu yang dijualnya dan meningkatkan harga jual menjadi 4x lipat dari harga sebelumnya.</p>
<p><strong>Common Room: Wadah dan Jejaring Sosial </strong><br />
Cikal bakal Common Room (CR) diawali oleh aktifitas Bandung Center for New Media Arts yang berupaya untuk membentuk wadah bagi kegiatan diskusi dan <em>sharing</em> multidisiplin ilmu. Seiring perjalanannya, CR menyesuaikan diri dengan permasalahan lingkungan sekitar Bandung, sehingga berbagai aktifitasnya diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi dinamika perkembangan komunitas dan kota Bandung.</p>
<p>Reina Wulansari menceritakan bahwa kegiatan Common Room berawal dari lima orang pendiri CR di tahun 2003. Menginjak tahunnya yang ke-7, CR telah melegalkan organisasinya dalam bentuk yayasan dan memiliki lima staff  tetap (termasuk Direktur dan Manager) yang banyak dibantu oleh <em>volunteer. </em>Kunci utama CR sebagai wadah bagi para komunitas adalah membangun jaringan dan melakukan jejaring secara aktif.</p>
<p>Sebagai organisasi legal, diperlukan jalan setapak yang mengatur ‘kendaraan’ agar tidak melenceng dari tujuannya. Adapun jalan menuju tujuan dibangun dengan membangun kerjasama tim (hingga membentuk tim yang solid), menentukan target &amp; tujuan, menentukan strategi &amp; taktik, membangun struktur, dan membuat <em>Standard Operation Procedure</em> (SOP).  Memang membutuhkan waktu yang lama hingga akhirnya CR mencapai titik stabil (dalam tim) dan bersama-sama membangun yayasan dan ruang lingkup (kerja) yang lebih besar.</p>
<p>Tidak dipungkiri bahwa dinamika kelompok dan konflik anggota merupakan proses dalam pembentukan CR. Namun, semuanya dikembalikan pada tujuan awal, jika antar anggota telah terjadi perubahan misi (pribadi), dimana perpisahan tidak dapat dipungkiri, maka mengapa tidak demikian. Toh, berpisah bukan berarti tidak bekerja sama di kemudian hari. Justru, perpisahan menjadi tahapan pengembangan bagi masing-masing pribadi, yang kemudian akan membangun jejaring dan bekerja sama sesuai dengan kemampuan masing-masing.</p>
<p>Maka, bagi siapapun yang mengalami friksi-friksi dalam melegalkan komunitasnya menjadi organisasi resmi, yakinlah, bahwa semuanya adalah bagian dari proses alami yang perlu ditempuh dalam membangun organisasi yang kokoh dan solid. Komunikasi dan Kepercayaan, menjadi dua kunci utama. (yk)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/everyone-is-a-change-maker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Entrepreneureship &#124; Oleh Mira Kusumarini (Ashoka Indonesia)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/social-entrepreneureship-oleh-mira-kusumarini-ashoka-indonesia/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/social-entrepreneureship-oleh-mira-kusumarini-ashoka-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 11:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=930</guid>
		<description><![CDATA[Download Presentation * Materi ini dipresentasikan dalam workshop YES Club Bandung di Common Room pada tanggal 8 Mei 2010.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="__ss_4025072" style="width: 425px;"><object id="__sse4025072" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="402" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=ashokase-itb-100509063410-phpapp01&amp;stripped_title=social-entrepreneureship-oleh-mira-kusumarini-ashoka-indonesia" /><param name="name" value="__sse4025072" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed id="__sse4025072" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="402" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=ashokase-itb-100509063410-phpapp01&amp;stripped_title=social-entrepreneureship-oleh-mira-kusumarini-ashoka-indonesia" name="__sse4025072" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></div>
<p><a href="http://www.slideshare.net/gustaffharriman/social-entrepreneureship-oleh-mira-kusumarini-ashoka-indonesia/download" target="_blank">Download Presentation</a></p>
<p><em>* Materi ini dipresentasikan dalam workshop YES Club Bandung di Common Room pada tanggal 8 Mei 2010.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/social-entrepreneureship-oleh-mira-kusumarini-ashoka-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madu Pak Oden &#8211; Madu Dalem Wangi &#124; Oleh Andar Manik (Jendela Ide)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/madu-pak-oden-madu-dalem-wangi-oleh-andar-manik/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/madu-pak-oden-madu-dalem-wangi-oleh-andar-manik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 12:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Oral History]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=895</guid>
		<description><![CDATA[Peternakan Madu Dalem Wangi terletak di Kompleks PPR ITB &#8211; Pager Wangi Dago Bengkok. Lokasinya tepat berseberangan dengan Taman Hutan Juanda. Peternakan ini baru saja panen yang pertama kali secara serentak dari 10 rumah lebah. Hasilnya sekitar 12 kg. madu yang kebanyakan berasal dari sari bunga Kaliandra. Dari 10 rumah lebah yang kami bangun kini telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/04/pak_oden.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<p>Peternakan Madu Dalem Wangi terletak di Kompleks PPR ITB &#8211; Pager Wangi Dago Bengkok. Lokasinya tepat berseberangan dengan Taman Hutan Juanda. Peternakan ini baru saja panen yang pertama kali secara serentak dari 10 rumah lebah. Hasilnya sekitar 12 kg. madu yang kebanyakan berasal dari sari bunga Kaliandra.</p>
<p>Dari 10 rumah lebah yang kami bangun kini telah mengasilkan 8 ratu baru. Ada sekitar 4 koloni yang telah masuk ke dalam pikatan dan bersarang dalam pikatan yang kami pasang. Masing-masing koloni diperkirakan berjumlah 1000 lebah. 4 koloni sisanya kemungkinan bersarang di Hutan Taman Juanda atau masuk ke dalam pikatan yang di pasang oleh peternak madu lainnya.</p>
<p>Silahkan berkunjung ke peternakan lebah madu Dalem Wangi setiap saat. Namun hati-hati ada Torro, seekor anjing dogo argentino yang menjaga peternakan kami. Sebetulnya ia adalah anjing yang ramah. Tetapi ia suka mengigit orang yang memakai helm atau topi kupluk, terutama topi rimba tentara. Entah apa alasannya, namun sepertinya dia tidak suka pada figur yang samar alias tidak jelas wujudnya.</p>
<p><span id="more-895"></span></p>
<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/04/panen_madu.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<p>Peternakan lebah Dalem Wangi saat ini telah dijadikan laboratorium hidup oleh mahasiswa jurusan biologi ITB. Aktifitas kelompok mahasiswa ini secara langsung dipandu oleh peternak sungguhan yang bernama Pak Oden. Dahulu Pak Oden adalah seorang pemburu madu yang wilayah perburuannya di sekitar Pasir Muncang, Buni Wangi, Dago Pakar, Ciater, bahkan sampai ke daerah Pangandaran.</p>
<p>Ketika ada program penelitian peternakan lebah dari LIPI, Pak Oden dilibatkan dan menjadi konsultan madu para profesor. Setelah proyek penelitian selesai, Pak Oden meneruskan model beternak lebah secara modern di halaman rumahnya yang terletak di Desa Mekar Wangi. Desa ini termasuk wilayah yang banyak pohon Kaliandranya.</p>
<p>Ketika ada proyek sapi Banpres masuk desa, penduduk Desa Mekar Wangi pun ikut meramaikan penggiringan sapi masuk desa (rupa-rupanya bukan hanya ABRI yang masuk desa). Kebanyakan warga Desa Mekar Wangi kemudian menjadi peternak sapi perah. Belakangan diketahui bahwa salah satu pakan sapi yang dapat meningkatkan produksi susu adalah daun Kaliandra.</p>
<p>Selanjutnya pohon Kalindra menjadi rebutan peternak lebah dan peternak sapi. Apabila daun Kaliandra di babat, maka bunganya ikut terbabat. Sapi bisa makan dan menghasikan susu yang banyak, namun lebah kehilangan madu yang ada pada bunga Kaliandra. Karena hal ini, lebah ternak Pak Oden kemudian kabur mencari makan di tempat lain. Peternakan madu Pak Oden yang tadinya puluhan kotak, akhirnya tinggal 2-3 kotak saja.</p>
<p>Pak Oden bertemu dengan saya sekitar 8 bulan yang lalu. Pada saat itu Pak Oden sedang bekerja menjadi sopir di rumah Pak Koko, tetangga di blok F. Saya melihat Pak Oden sorot matanya lain ketika sedang menatap pohon Kaliandra yang masih subur disekitar kompleks PPR ITB dan di hutan Juanda yang berada diseberang kompleks. Beberapa waktu setelahnya saya lihat ada beberapa pikatan di pasang pada pagar rumah tetangga. Sementara itu, ada beberapa yang sudah berisi lebah. Pada saat itu saya tidak begitu tertarik karena sedang membangun rumah. &#8220;<em>Sieun teu jadi</em>&#8221; (takut tidak jadi), pikir saya waktu itu.</p>
<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/04/madu.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<p>Ketika rumah kami sudah selesai dibangun dan telah ditempati selama beberapa bulan, Pak Oden datang berkunjung. Kami berbincang-bincang dan belakangan saya mengetahui kalau Pak Oden sekarang sudah tidak lagi bekerja sebagai sopir di Pak Koko, karena yang bersangkutan sudah pindah rumah. Pak Oden menanyakan kemungkinan bekerja sebagai sopir di tempat kami. Namun saya bingung, karena kalau Pak Oden diterima sebagai sopir lantas pekerjaan saya apa dong? (He..he..he).</p>
<p>Akan tetapi saya tertarik pada cerita Pak Oden mengenai beternak lebah. Dalam kesempatan ini saya kemudian bertanya kepada Pak Oden, &#8220;<em>Apakah mau kalau Pak Oden beternak lebah di lahan penghijauan sebelah rumah?</em>&#8221; Ketika ditawari, Pak Oden terlihat sangat bersemangat. Malam itu juga dibawanya 1 kotak yang tersisa dari peternakan lebah di lahan rumahnya. Ternyata memindahkan lebah harus dilakukan pada malam hari karena pada saat itu lebah sedang beristrahat. Kata Pak Oden, &#8220;<em>Mun teu ngamuk atawa sok kabur,&#8230;kitu adatna</em>&#8221; (Kalau tidak ngamuk, lebahnya suka kabut,&#8230;memang begitu adatnya).</p>
<p>Dari 1 kotak pertama, dalam beberapa bulan pelan-pelan bertambah menjadi 10 kotak rumah lebah. Semuanya kami dapatkan dengan cara membeli hasil pikatan dari penduduk Desa Mekar Wangi atau saudara Pak Oden. Sebelum panen yang sekarang, kami sudah beberapa kali panen kecil-kecilan. Pak Oden kemudian merancang panen secara serentak pada musim lebah &#8220;<em>ngadua ratu</em>&#8220;.</p>
<p>Sampai sejauh ini model pembagian madu diantara kami adalah 4:6 atau kadang 3:7. Tentunya Pak Oden yang mendapat bagian yang lebih besar. Pak Oden sekarang kembali beternak lebah sambil bekerja sebagai sopir lepasan di beberapa keluarga. Biasanya Pak Oden memeriksa lebahnya satu kali dalam 2 minggu.</p>
<p><em>*Apabila ada rekan-rekan yang tertarik memesan madu Dalem Wangi silahkan menghubungi Andar Manik di nomor +628161951171.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/madu-pak-oden-madu-dalem-wangi-oleh-andar-manik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penelitian dan Pengembangan dalam Usaha Kecil</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Workshop YES Club &#124; 6 Maret 2010 &#124; Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung “Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik&#8230;” (Tegep Octaviansyah, owner of TEGEP BOOTS) Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/ws_yesclub6_01.jpg" border="0" alt="Common Room" /></p>
<p>Workshop YES Club | 6 Maret 2010 | Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung</p>
<p style="text-align: right;"><em>“Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik&#8230;”</em></p>
<p style="text-align: right;">(Tegep Octaviansyah, owner of <a href="http://www.tegepboots.com/01_thestore.html" target="_blank">TEGEP BOOTS</a>)</p>
<p>Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, inovasilah yang menjadikan sebuah produk selalu baru, segar, unik, dan berbeda. Namun, ini sering kali dilupakan oleh sebagian besar pengusaha kecil di Indonesia, yang terlalu memberi fokus pada nilai ekonomi: meraih laba sebesar mungkin dan menyingkirkan nilai inovasi. Tidak mengherankan apabila kita kerap menjumpai produk tertentu dengan desain yang telah berumur 10-15 tahun, namun masih tetap dikembangkan dengan cara yang sama dan dijual tanpa pengembangan yang berarti. Hal ini pulalah yang sering dijumpai pada usaha kerajinan dan usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia.</p>
<p>Karena kurangnya inovasi, tampaknya kebanyakan dari anggota masyarakat kemudian cenderung menjadi <em>follower</em> dan <em>consumer </em>saja<em>. </em>Banyak diantaranya<em> </em>yang hanya bisa mengikuti <em>trend</em> dan menggunakan barang-barang tanpa mau mempelajari dan mencerna produk yang mereka gunakan terlebih dahulu. Barangkali karena permasalahan ini jugalah kita kemudian menemukan kesulitan untuk menjumpai pribadi yang memiliki idealisme dan prinsip yang ajeg. Namun walaupun sedikit, dapat dikatakan bahwa saat ini keberadaan orang-orang yang memiliki idealisme sangat diperlukan untuk mendorong terjadinya perubahan dan inovasi. Barangkali salah satu dari sedikit pelaku yang telah banyak melakukan pembaharuan adalah Tegep Octaviansyah, pemilik TEGEP BOOTS.</p>
<p><span id="more-662"></span></p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/ws_yesclub6_04.jpg" border="0" alt="Common Room" /></p>
<p>Inovasi menjadi landasan utama bagi Tegep dalam menjalankan usahanya. Mulai dari desain, teknologi, sistem, manajemen, hingga distribusi. Inovasi selalu dilakukan dengan tujuan menemukan cara yang lebih baik dari cara yang sebelumnya. Hal ini mencakup pada berbagai pendekatan yang lebih baik dalam mengembangkan desain yang baru, segar dan berbeda, namun dengan tetap menomorsatukan kualitas. Tampaknya karena hal ini jugalah TEGEP BOOTS sampai saat ini selalu memiliki konsumen yang loyal terhadap produknya. Selain itu, dengan mengembangkan inovasi TEGEP BOOTS selalu berhasil menemukan konsumen baru yang kemudian menjadi pelanggan setia mereka.</p>
<p>Jika sebagian besar pengusaha di Indonesia dan bahkan pemerintah selalu mengutamakan eksport, tidak demikian dengan TEGEP BOOTS. Tegep yakin, pasar dalam negeri pun merupakan lahan yang sangat besar untuk dimanfaatkan dengan baik. Dalam hal ini ekspor produk hanya merupakan bonus dan bukan tujuan utama. Hal ini yang sering dipahami secara salah oleh sebagian besar usahawan, masyarakat, dan pemerintah di Indonesia. Kebanyakan diantara mereka beranggapan bahwa dengan melakukan eksport, sebuah usaha dapat meningkatkan nilai dan harga produk di mata masyarakat dan dunia. Sampai saat ini, dapat dikatakan bahwa ekspor produk menjadi salah satu tujuan utama bagi pemerintah dan dunia usaha di Indonesia dalam menjaga persaingan di era globalisasi, walaupun pada kenyataannya pasar dalam negeri merupakan potensi yang belum banyak dikelola secara maksimal.</p>
<p>Menurut Tegep yang memulai karir sejak tahun 1997, “<em>pengalaman merupakan pembelajaran yang baik untuk kita</em>”. Hal ini menuntut para pengusaha untuk berpikir terbuka dan fleksibel dalam menjalankan usaha mereka. Dalam upaya untuk mengembangkan usaha, ia berujar bahwa kita tidak boleh ragu untuk merubah visi perusahaan atau sudut pandang kita dalam menghadapi dunia yang dinamis. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa <em>uniqueness (product), segmented (market), and new vision</em> menjadi strategi dalam menjalankan usaha yang penuh dengan tantangan dan inovasi. <strong>(yk)</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Jiwa Entrepreneurship Berbasis Komunitas</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/membangun-jiwa-entrepreneurship-berbasis-komunitas/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/membangun-jiwa-entrepreneurship-berbasis-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 11:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[“If you have an idea, bend it as curve as you can” - Reza Pamungkas Project Director, Independent Network Indonesia Pertemuan YES Club Bandung kali ini membahas “jiwa entrepreneurship berbasis komunitas” dengan mengundang dua pembicara, yaitu Man Jasad (Bandung Death Metal Syndicate atau disingkat BDM) dan Reza Pamungkas (Independent Network Indonesia atau disingkat INI). Poin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/IMG_9891_s.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<p style="text-align: right;"><em>“If you have an idea, bend it as curve as you can”<br />
- Reza Pamungkas<br />
<strong>Project Director, Independent Network Indonesia</strong></em></p>
<p>Pertemuan YES Club Bandung kali ini membahas “jiwa entrepreneurship berbasis komunitas” dengan mengundang dua pembicara, yaitu Man Jasad (<em>Bandung Death Metal Syndicate</em> atau disingkat BDM) dan Reza Pamungkas (<em>Independent Network Indonesia</em> atau disingkat INI). Poin pentingnya, bagaimana membangun sebuah sistem bisnis dengan modal berbasis jaringan dan kepercayaan (<em>trust</em>) sebagai prinsip utama.</p>
<p>Sebelum membahas topik ini, pertemuan dimulai dengan presentasi dua orang member YES Club Bandung yang bertujuan memperkenalkan jenis usaha serta proses kerja bahkan pencapaian yang telah dicapai. Mereka adalah Project Manager Cenikrenik Wulantri dan Direktur Umum Greeneration Indonesia M. Bijaksana Junerosano atau akrab disapa Sano.</p>
<p><span id="more-516"></span></p>
<p>Cenikrenik yang berdiri sejak tahun 2007 ini berawal dari pertemanan tujuh orang perempuan lulusan FSRD ITB yang memiliki minat sama pada tas dan furniture. Bermula dari rasa iseng, mereka sepakat untuk serius menekuni minat tersebut menjadi bisnis. Cenikrenik sempat vakum ketika beberapa pendirinya melanjutkan sekolah di luar negeri. Sekembalinya ke Indonesia, pada tahun 2009, mereka sepakat meneruskan kembali usaha ini. Hingga saat ini, tersisa 3-4 orang yang  tetap berkarir di Cenikrenik.</p>
<p>Produk Cenikrenik kebanyakan tas, didesain sendiri oleh para pendirinya. Proses distribusi mengandalkan penjualan online terutama jejaring <em>Facebook </em>agar memudahkan Cenikrenik untuk berinteraksi langsung dengan para pembeli. Produk-produk Cenikrenik pun sudah mulai dititipkan di beberapa toko di pusat perbelanjaan Jakarta. Saat ini Cenikrenik berkeinginan untuk memiliki showroom sendiri dengan maksud menjaga image dan brand produk mereka. Rencananya pada tahun ini Cenikrenik sedang mempertimbangkan untuk melakukan ekspor.</p>
<p>Greeneration Indonesia (GI) yang berdiri sejak tahun 2005 merupakan perusahaan yang memperkenalkan gaya hidup ramah lingkungan (green lifestyle). GI didirikan oleh tiga orang sarjana yang berasal dari latar belakang akademik berbeda yaitu Sano (Teknik Lingkungan), Anindito (Arsitektur), dan Mufti Alem (Desain Produk). Karena latar belakang akademik yang berbeda, memungkinkan mereka untuk bergerak dan berpikir lintas disiplin.</p>
<p>Saat ini GI telah memperluas jaringan kerjasamanya mulai dari mahasiswa, akademisi, LSM/NGO (lokal/internasional), pemerintah, bahkan pengusaha. GI bergerak berdasar prinsip ABG (<em>Academic, Business, and Government</em>). Lewat salah satu produknya, Bagoes (tas <em>reusable</em>), GI berhasil menggandeng <em>Circle K</em> untuk menjual produk tersebut di lima kota besar diantaranya Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. GI pun menjadi partner Toyota dalam membuat kegiatan berbasis lingkungan. GI juga turut serta menjadi pendamping salah satu program<em> NGO Plan Indonesia</em> atau Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB). Setelah Cenikrenik dan GI selesai memaparkan presentasinya, tema utama dalam seminar <em>entrepreneurship </em>berbasis komunitas ini mulai dipaparkan oleh Man Jasad (BDM) dan Reza Pamungkas (INI).</p>
<p>Diskusi pada sesi ini diawali dengan pembicaraan soal modal penting dalam  membangun usaha berbasis komunitas. Kepercayaan (<em>Trust)</em> menjadi kata kunci dalam melakukan bisnis berbasis komunitas. Tidak hanya bagi Cenikrenik dan GI, demikian pula bagi BDM dan INI. BDM sendiri bergerak di ranah sosial, ekonomi, dan budaya, melalui kegiatan-kegiatan untuk mewadahi kreativitas anak muda (sosial), pengadaan merchandise band (ekonomi), dan penciptaan musik yang menggabungkan musik tradisional dengan musik masa kini (budaya). Sedangkan INI merupakan sebuah usaha di bidang <em>Event Management</em> dan <em>Communication Program Management</em> yang berdiri sejak tahun 1999. Mereka membangun usahanya atas dasar menciptakan dan membangun kesempatan, untuk diri maupun orang lain. Dan kini, terbukti, mereka telah mampu menggandeng rekan-rekan di komunitas lain untuk bekerja sama.</p>
<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/bisnis-model2.jpg" alt="" width="567" height="102" /></p>
<p>Bisnis yang mereka jalankan memiliki prinsip: dari komunitas, untuk komunitas. Walaupun demikian, bisnis yang dijalankan perlu dibuat secara struktural. Perlu ada pembagian peran dan tanggungjawab secara jelas. Dari gambaran di atas terdapat sebuah pola hubungan yang berawal dari komunitas kemudian menjadi bisnis dan menjaring komunitas dalam mengembangkan bisnisnya. Dalam menjalankan usaha ini dibutuhkan komitmen dan mutualisme antar komunitas, sehingga terbina rasa kepercayaan sebagai modal dasar. Apabila dapat berkembang baik dalam rentang waktu yang panjang, biasanya keberadaan komunitas menjadi satu kekuatan yang mulai diperhitungkan oleh banyak pihak. Mulai sebagai pangsa pasar yang potensial, jejaring produksi, distribusi, maupun konsumen yang loyal. Menurut Man Jasad, yang kemudian juga diamini oleh Reza, dalam menjalani bisnis ini, satu etika yang perlu dipegang adalah tidak “<em>culas</em>”* atau membiasakan menanam dan memegang kepercayaan. Dalam hal ini, Andar Manik (pendiri Jendela Ide) kemudian menambahkan prinsip komunitas yang mengedepankan nilai-nilai yang terbuka, non-diskriminatif, dan inklusif.</p>
<p>Penulis: Yasmin Kartikasari<br />
Editor: Idhar Resmadi</p>
<p><em>*Menikam dari belakang, menyalahi kepercayaan</em></p>
<p>Berita terkait bisa diakses di halaman berikut ini: <a rel="nofollow" href="http://bit.ly/crDPNN" target="_blank">http://bit.ly/crDPNN</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/membangun-jiwa-entrepreneurship-berbasis-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Bagi Pelaku Bisnis Pertunjukan di Kota Bandung</title>
		<link>http://commonroom.info/2008/kritik-bagi-pelaku-bisnis-pertunjukan-di-kota-bandung/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2008/kritik-bagi-pelaku-bisnis-pertunjukan-di-kota-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 07:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2008/kritik-bagi-pelaku-bisnis-pertunjukan-di-kota-bandung/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini diawali dengan diskusi pagi tentang etika bisnis yang diterapkan oleh beberapa pelaku bisnis pertunjukan lokal, khususnya sponsor acara dan event organizer (EO). Beberapa teman saya seringkali mengeluh ketika gagasan mereka kerap diadaptasi tanpa adanya kompensasi yang jelas dari pihak sponsor atau organizer. Sebagai informasi, teman-teman saya ini adalah orang gokil yang penuh dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini diawali dengan diskusi pagi tentang etika bisnis yang diterapkan oleh beberapa pelaku bisnis pertunjukan lokal, khususnya sponsor acara dan event organizer (EO). Beberapa teman saya seringkali mengeluh ketika gagasan mereka kerap diadaptasi tanpa adanya kompensasi yang jelas dari pihak sponsor atau organizer. Sebagai informasi, teman-teman saya ini adalah orang gokil yang penuh dengan ide liar dan super kreatif. Mereka ini orang-orang yang sangat terbuka bila diajak berkolaborasi selama itu menyenangkan. Sayangnya, sikap terbuka (saya menolak menyebut ini sebagai sikap yang naif) yang dimiliki oleh para pekerja kreatif ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Modusnya standar: menawarkan kerjasama untuk ikut terlibat dalam suatu acara dan meminta para pekerja kreatif untuk menulis proposal.</p>
<p>Biasanya dengan mudah para pekerja kreatif ini mengembangkan gagasan mereka dengan panjang lebar dalam bentuk proposal program. Biasanya si pelaku bisnis tiba-tiba bisa saja menyatakan bahwa ia tidak jadi menyelenggarakan acara yang telah dibicarakan sebelumnya. Ada satu lagi contoh yang lebih buruk: teman saya yang lain ada yang mengalami proposalnya didiamkan tanpa penjelasan sedikitpun. Selang beberapa waktu, ternyata acara yang dimaksud diwujudkan dan konsep yang sebelumnya telah direncanakan ikut dipakai tanpa pemberitahuan. Sayangnya pada saat realisasi konsep sang penggagas acara tidak dilibatkan dan hasilnya tidak maksimal. Akhirnya yang dikecewakan bukan cuma sang penggagas yang idenya dibajak, tapi juga penonton.</p>
<p>Itu baru satu contoh. Ada satu lagi pengalaman pahit seorang pekerja kreatif. Setelah melakukan brainstorming mengenai konsep sebuah acara selama berhari-hari dan dijanjikan profit sharing untuk keterlibatannya, tiba-tiba si pelaku bisnis menggaet sponsor lain dan bilang pada teman saya bahwa dia tidak bisa diikutsertakan. Pada saat hari H, saya datang ke event yang bersangkutan dan ternyata acara tersebut dikerjakan sesuai dengan konsep teman saya itu. Tapi karena bukan dia yang mengerjakannya, tetap saja ujung-ujungnya mengecewakan.</p>
<p>Bila dihubungkan dengan perbincangan mengenai industri kreatif yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini, penyelenggaraan acara atau festival-festival biasanya bisa menjadi ajang untuk mempromosikan produk tertentu. Selain itu ajang-ajang seperti ini juga biasanya sangat berguna untuk mempromosikan sebuah kota. Tetapi bagaimana penyelenggaraan sebuah acara bisa berkembang dan mencapai target-target yang sering didiskusikan oleh pekerja kreatif, pelaku bisnis, akademisi dan pemerintah?</p>
<p>Para sponsor dan event organizer kelihatannya banyak yang lebih senang mencomot ide dari para pekerja kreatif yang telah memiliki kredibilitas, tetapi kemudian memilih pekerja yang mau dibayar lebih murah.  Bila praktik seperti ini dibiarkan, tentu bisa merambat kemana-mana nantinya. Ujung-ujungnya yang rugi adalah para pekerja kreatif dan konsumen. Gagasan untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan bisa cuma jadi mimpi saja.</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan oleh para pekerja kreatif? Selain perlu mengembangkan etika bisnis yang sehat, kekompakan para pekerja kreatif diperlukan untuk menghadapi pelaku bisnis yang nakal seperti ini. Para pekerja kreatif bisa mangaplikasikan satu sistem yang seragam saat dealing dengan sponsor atau penyelenggara event. Sebenarnya para pekerja kreatif tidak perlu memberi proposal atau memaparkan secara detail ide-ide dia tentang acara yang hendak dibuat. Cukup menyerahkan portfolio, lalu atas dasar itu dikeluarkan kontrak kerja antara pihak pekerja kreatif dan sponsor/ event organizer. Kemudian, barulah diadakan brainstorming diantara keduanya. Tidak adanya kebijakan atau peraturan yang jelas untuk kasus-kasus yang disebutkan di awal tulisan menuntut para pekerja kreatif untuk kompak melindungi kepentingan mereka. (Dame/ CRNF)</p>
<p><em>** Ikuti diskusi tentang masalah ini di <a href="http://heterologia.multiply.com/journal/item/45/_Kritik_Bagi_Pelaku_Bisnis_Pertunjukan_di_Kota_Bandung" target="_blank">heterologia</a>.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2008/kritik-bagi-pelaku-bisnis-pertunjukan-di-kota-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Bagi Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/iydey-2007-picnic%e2%80%9907-pr-ekonomi-kreatif-di-indonesia/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/iydey-2007-picnic%e2%80%9907-pr-ekonomi-kreatif-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 12:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/iydey-2007-picnic%e2%80%9907-pr-ekonomi-kreatif-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[“Nobody knows what will happen in the future. We have to propose something anyway…”- Diskusi peserta IYDEY 2007 I Ajang International Young Design Entrepreneur of the Year Award 2007 (IYDEY 2007) baru saja berakhir beberapa waktu yang lalu. Melalui inisiatif dari British Council, sejak tanggal 10 s/d 21 September 2007 kompetisi ini mempertemukan 10 finalis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2223/1587603144_674ea0dc0c.jpg" title="iydey2007" alt="iydey2007" height="375" width="500" /></p>
<p align="right"><span style="font-style: italic" class="insertedphoto">“Nobody knows what will happen in the future. </span><br style="font-style: italic" /><span style="font-style: italic" class="insertedphoto">We have to propose something anyway…”</span><br style="font-style: italic" /><span class="insertedphoto">- Diskusi peserta IYDEY 2007</span></p>
<p align="center"><strong>I</strong></p>
<p align="left"><span class="insertedphoto">Ajang International Young Design Entrepreneur of the Year Award 2007 (IYDEY 2007) baru saja berakhir beberapa waktu yang lalu. Melalui inisiatif dari British Council, sejak tanggal 10 s/d 21 September 2007 kompetisi ini mempertemukan 10 finalis dari 10 negara yang terdiri dari Argentina, China, Estonia, India, Indonesia, Nigeria, Polandia, Slovenia, Thailand, dan Venezuela. Berbeda dengan kompetisi desain yang selama ini kita kenal, IYDEY 2007 melibatkan peserta yang memiliki latar belakang pengetahuan dan profesi yang beragam sehinga kita diajak untuk membayangkan dunia desain sebagai sebuah disiplin pengetahuan yang memiliki pengertian yang luas dan sangat cair.</span></p>
<p>Hal ini misalkan tercermin dari beberapa peserta semisal Manuel Rapoport (Argentina), Ruttikorn Vuttikorn (Thailand) dan Martin Bricelj (Slovenia). Manuel Rapaport adalah seorang desainer mebel yang juga bekerja sebagai aktifis pemberdayaan masyarakat dan pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan di Patagonia, sebuah daerah terpencil di Argentina bagian selatan. Lewat studionya, ia kerap melibatkan komunitas masyarakat setempat untuk terlibat dalam pengembangan desain yang ramah lingkungan. Ruttikorn Vuttikorn adalah seorang desainer boneka yang juga kerap aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengupayakan pengembangan desain boneka untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sementara Martin Bricelj adalah seniman new media yang kerap berkarya di ruang publik dengan memanfaatkan pengetahuan di bidang desain dan teknologi baru untuk mengekspresikan berbagai pandangan tentang berbagai persoalan yang ada di masyarakat.</p>
<p>Selama kurang lebih 10 hari, kompetisi ini mengajak para peserta terlibat dalam serangkaian kegiatan kunjungan, wawancara, dan diskusi dengan berbagai pihak dan organisasi yang terkait dengan bidang desain dan industri kreatif di London dan Glasgow. Sejak hari pertama, para peserta diajak untuk mengunjungi berbagai biro desain, studio arsitektur, toko, butik, agensi publik, lembaga riset, universitas, museum, galeri maupun berbagai institusi dan komunitas lokal yang memiliki kaitan yang khusus dengan perkembangan desain maupun industri kreatif  di Inggris. Melalui program ini, para peserta diajak untuk melihat secara langsung pranata dunia desain dan industri kreatif Inggris yang begitu komplit. Mulai dari institusi formal, lembaga pendidikan, agen, studio, toko sampai pada keberadaan berbagai komunitas dan institusi yang kerap melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghimpun berbagai pengetahuan dan informasi yang terkait dengan perkembangan desain maupun industri kreatif secara umum.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2016/1587603146_66c9e042d4.jpg" title="iydey2007" alt="iydey2007" height="375" width="500" /></p>
<p align="left">Diakhir program, sebagian peserta berkesempatan untuk menampilkan karya terbaik dari negara masing-masing dalam pameran 100% Design yang diselenggarakan di Earls Court London mulai tanggal 18 s/d 21 September 2007. Acara tahunan ini merupakan  ajang istimewa yang mempertemukan para pelaku industri desain produk dan interior dengan berbagai pihak yang secara langsung berkepentingan dengan industri ini. Selain menampilkan karya desain dan penemuan terbaru di bidang material dan teknologi, kegiatan ini juga menyelenggarakan berbagai konferensi, presentasi dan diskusi yang melibatkan para pelaku industri kreatif dari berbagai negara. Sayang dalam kesempatan ini Indonesia urung menampilkan karya craft kontemporer dari Ahadiat Joedawinata karena mendapat masalah dalam proses pengiriman karya ke Inggris.</p>
<p align="left">Sementara itu, Sigal Cohen (Venezuela) tampil sebagai pemenang untuk kompetisi IYDEY 2007. Sigal adalah seorang desainer multimedia yang kerap bekerja dengan menggunakan media digital. Untuk kompetisi ini, ia secara khusus melakukan penelitian mengenai perkembangan budaya visual dan desain grafis di Venezuela. Selain itu, ia juga merancang sebuah platform online yang akan dikembangkan menjadi database visual dan sumber inspirasi artistik bagi para desainer di Venezuela. Yang menarik, platform ini juga dapat digunakan secara interaktif, sehingga setiap orang dapat berkontribusi dan terlibat secara aktif dalam setiap proses penyusunan content. Untuk proyek ini, Sigal mengadaptasi perkembangan web 2.0 dan aplikasi social networking yang memang sedang marak berkembang di jagat internet selama beberapa tahun terakhir ini.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2288/1587603284_5a3d7d901c.jpg" title="picnic07" alt="picnic07" height="375" width="500" /></p>
<p align="center"> <strong>II</strong></p>
<p align="left">Sehari setelah pelaksanaan kegiatan IYDEY 2007 selesai, saya kemudian menjadi peserta dalam sebuah konferensi yang bertajuk PICNIC’07/Cross Media Week yang diselenggarakan pada tanggal 25 s/d 29 September 2007 di kota Amsterdam. Penyelenggara kegiatan ini adalah Cross Media Week Foundation yang terdiri dari sekelompok orang yang berasal dari beragam disiplin pengetahuan dan institusi yang saling berbeda. Organisasi ini didirikan oleh Bas Verhart (CEO Media Republic) dan Marlen Stikker (Direktur Waag Society), dengan anggota yang terdiri dari para peneliti, konsultan dan pelaku bisnis yang terkait dengan perkembangan teknologi dan industri kreatif  di negeri Belanda. Diselenggarakan untuk yang ke dua kali, PICNIC’07 merupakan sebuah acara tahunan yang secara khusus mencermati perkembangan teknologi dan industri media terkini di wilayah Eropa, Amerika Utara dan Asia.</p>
<p align="left">Dalam program ini, dilaksanakan serangkaian konferensi yang menghadirkan para pembicara yang terdiri dari seniman, desainer, arsitek, peneliti, programer, hacker, sampai pada para pelaku bisnis yang terkait dengan perkembangan di bidang teknologi dan industri media. Beberapa pembicara yang hadir antara lain adalah Prof . Dr. Emile Aarts (Philips Research Laboratories), David Silverman (Sutradara The Simpsons), Stefan Sagmaeister (Desainer pendiri Sagmeister Inc.), Sir Richard Branson (Pemilik Virgin Records), dsb. Di depan ratusan peserta, selama beberapa hari para pembicara ini memaparkan berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan kreatifitas, mulai dari sisi proses sampai pada berbagai informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perkembangan di bidang kreatifitas, teknologi dan bisnis.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2029/1587603292_fe4baadf3c.jpg" title="picnic07" alt="picnic07" height="375" width="500" /></p>
<p align="left"> Diantara sekian banyak pembicara juga hadir Woody Gershenfield, seorang aktor yang dikenal sebagai pemeran Larry Flynt dalam film The People vs. Larry Flynt (1996). Selain bekerja sebagai seorang aktor, Woody Gershenfield juga seorang aktifis yang banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan hidup yang memperjuangkan kelestarian hutan dan mencegah penebangan kayu liar. Kehadirannya dalam acara ini terkait dengan salah satu agenda PICNIC’07, yaitu program kampanye pelestarian lingkungan hidup dan antisipasi perubahan iklim global. Untuk itu, khusus dalam PICNIC’07 diselenggarakan Picnic Green Challenge yang mengajak berbagai pihak untuk berkompetisi menciptakan teknologi yang berguna bagi perbaikan kondisi lingkungan hidup yang saat ini tengah mengalami kerusakan yang parah. Dalam kompetisi ini Igor Kluin tampil sebagai sebagai pemenang setelah bersaing dengan 439 peserta dan berhak mendapatkan hadiah sebesar 500.000 euro. Igor merancang QBox yang berfungsi sebagai instrumen penunjang jaringan energi alternatif yang dapat memonitor dan mengoptimalkan penggunaan energi rumahan secara otomatis.</p>
<p align="left">Selain konferensi, acara ini juga menampilkan serangkaian presentasi, diskusi, pameran, pemutaran film, konser musik dan berbagai kegiatan yang memungkinkan para pelaku yang berasal dari beragam latar belakang disiplin pengetahuan dan profesi untuk saling berkenalan dan membangun jaringan kerjasama, baik dalam konteks lokal maupun internasional. Untuk kegiatan ini – atas dukungan Hivos (Sebuah organisasi non-profit yang berasal dari Belanda) – kesertaan saya dalam program PICNIC’07 juga terkait dengan upaya untuk membangun jejaring kerjasama selatan-selatan yang rencananya akan melibatkan beberapa medialab yang berada di wilayah India, Indonesia dan Brazil. Melalui inisiatif yang dimotori oleh Sarai Media Intiative (India), gagasan ini juga mendapatkan sambutan positif dari Waag Society (Belanda) dan Metareciclagem (Brazil). Upaya untuk membangun jaringan kerjasama selatan-selatan ini terutama ditujukan untuk menjembatani kesenjangan informasi dan pengetahuan yang masih menjadi endemi diantara komunitas masyarakat sipil di negara-negara yang terletak di bagian selatan dunia. Diharapkan melalui jaringan kerjasama selatan-selatan, Indonesia dapat menjadi salah satu motor penggerak yang menjembatani berbagai bentuk kesenjangan yang terjadi diantara negara maju dan negara berkembang.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2136/1587603300_79e184ba53.jpg" title="picnic07" alt="picnic07" height="375" width="500" /></p>
<p align="left">Salah satu program yang banyak menarik perhatian publik dalam kegiatan ini adalah  demontrasi mengenai perkembangan teknologi radio frequency identification device (RFID) yang dipresentasikan oleh kelompok Mediamatic (Belanda). Salah satu karya ciptaan mereka adalah Trace Table yang mampu menghimpun berbagai informasi personal yang dimiliki oleh setiap orang melalui piranti RFID yang mereka punya. Selama beberapa tahun terakhir, aplikasi perkembangan teknologi RFID telah memicu banyak kontroversi yang terkait dengan isu dibidang keamanan dan privasi. Sekeping sirkuit logam tembaga yang dapat memancarkan dan menerima sinyal berisi data dan informasi ini memang mulai banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Di beberapa negara, teknologi ini mulai dimanfaatkan sebagai kartu cerdas yang dapat memuat data dan informasi yang spesifik – mulai dari passport sampai pada pemindai pola sirkulasi produk industri – sehingga dicurigai dapat membobol informasi yang bersifat sangat pribadi. Program lain yang tidak kalah menarik adalah presentasi dari FabLab (<a href="http://www.fablab.nl" target="_blank">http://www.fablab.nl</a>) yang menampilkan workshop mengenai cara merakit printer 3 dimensi secara mandiri.</p>
<p align="center"><strong>III</strong></p>
<p>Berkaca dari kedua kegiatan di atas, secara jelas kita dapat melihat bagaimana penguasaan di bidang informasi, pengetahuan dan kreatifitas saat ini tengah menjadi titik sentral dalam perkembangan budaya secara global. Hal ini setidaknya juga ikut mengarahkan perkembangan di bidang teknologi dan bisnis yang memanfaatkan kreatifitas manusia sebagai ujung tombaknya. Sejak pertengahan tahun 1990-an, perkembangan di bidang informasi, pengetahuan dan kreatifitas juga ikut memicu lahirnya wacana mengenai industri kreatif yang saat ini telah menjadi fenomena global. Selain di negara maju, perkembangan industri kreatif setidaknya juga tumbuh secara pesat di beberapa negara berkembang semisal Cina, India, Brazil, Argentina, Meksiko dan bahkan Burkina Faso yang terletak di daratan Afrika. Di beberapa negara ini konon sektor ekonomi kreatif memberikan sumbangan GNP sebesar 3% (OAS Culture Series, 2003).</p>
<p>Di Inggris dan Belanda, sektor ekonomi kreatif tercatat memberikan kontribusi bagi penciptaan lapangan kerja baru sampai sebesar 30% (Richard Florida &amp; Irene Tinagli, 2004). Tidak mengherankan kalau pemerintah di masing-masing negara menggenjot perkembangan sektor ekonomi kreatif dengan mendorong berbagai inisiatif masyarakat sipil untuk meningkatkan kemampuan di bidang kreatifitas dengan menciptakan berbagai kebijakan publik yang mengambil fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perkembangan teknologi. Selain itu, di banyak negara maju pemerintah setempat kerap menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat sipil agar dapat mendorong penguasaan di bidang informasi dan pengetahuan secara luas. Untuk itu diciptakanlah berbagai kebijakan dan insentif yang dapat memicu pertumbuhan di bidang sektor kreatif dengan melibatkan pemerintah, lembaga keuangan, institusi pendidikan formal, dan berbagai kelompok independen yang menjadi tulang punggung bagi perkembangan ekonomi kreatif.</p>
<p align="left">Di Indonesia, perkembangan sektor ekonomi kreatif juga disinyalir tengah berkembang pesat di beberapa kota besar selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Melalui inisiatif komunitas anak muda di beberapa kota semisal Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, berbagai benih yang memicu pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat lokal telah mampu melahirkan karya film, animasi, fesyen, musik, software, game komputer, dsb. Beberapa diantara pelaku ekonomi kreatif ini malah telah mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karyanya di ajang internasional dan diterima dengan tangan terbuka. Yang mengagetkan, keberadaan talenta baru ini muncul tanpa infrastruktur yang memadai dan bahkan minim akan fasilitas. Berbeda dengan perkembangan sektor ekonomi kreatif negara maju yang didukung penuh oleh pemerintahnya, perkembangan sektor kreatif di Indonesia kebanyakan dipicu oleh terbukannya akses informasi dan pengetahuan yang didapat melalui internet. Selain itu kemunculan berbagai komunitas kreatif ini juga berkembang berkat intuisi untuk bertahan hidup di tengah masa-masa sulit. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila ditengah segala keterbatasan beberapa komunitas ini mampu melahirkan karya yang berkualitas, walau beberapa diantaranya disinyalir tercipta melalui penggunaan software bajakan.</p>
<p>Pemerintah sendiri akhir-akhir ini terlihat getol menyuarakan pentingnya mengembangkan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu upaya untuk keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Dalam Pekan Produk Budaya Indonesia, Presiden SBY menyatakan kalau ekonomi kreatif merupakan modal utama pembangunan ekonomi di gelombang empat peradaban (11/07/07). Hal ini tentu saja dapat kita artikan sebagai angin segar, walaupun wujud kongkrit bagi pengembangan sektor kreatif di dalam negeri masih merupakan tanda tanya besar. Setidaknya sampai saat ini sudah ada banyak pameran, seminar, workshop, usulan dan artikel di media massa yang membicarakan perkembangan ekonomi kreatif secara panjang lebar. Namun sayangnya upaya ini belum menunjukan kalau perkembangan ekonomi kreatif mendapatkan dukungan yang berarti dari berbagai pihak. Kalaupun ada, hampir semua mengambil fokus pada pembangunan infrastruktur (fisik) dan minim sekali perhatian pada peningkatan sumberdaya manusia melalui peningkatan akses terhadap informasi dan pengetahuan. Oleh karena itu, keinginan Presiden SBY untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai sektor unggulan yang dapat memberikan kontribusi penting bagi ekonomi nasional di masa depan bisa dikatakan masih merupakan mimpi yang entah kapan bisa menjadi kenyataan.</p>
<p><span style="font-style: italic">Kyai Gede Utama, 12 Oktober 2007</span></p>
<p>Gustaff H. Iskandar</p>
<p align="left"> <span style="font-weight: bold"></span></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/iydey-2007-picnic%e2%80%9907-pr-ekonomi-kreatif-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Toko Buku Independen, Siapa Bilang Gampang?</title>
		<link>http://commonroom.info/2007/46/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2007/46/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 23:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/2007/46/</guid>
		<description><![CDATA[By Iit Sukmiati (Omuniuum) Dari awal sampai pertengahan tahun 2005, dikabarkan banyak bermunculan toko buku independen dibandung, yang disebut toko buku independen disini adalah toko buku yang tidak bermodal besar, biasanya berbasis komunitas, tidak seperti gramedia atau gunung agung atau toga mas yang belakangan muncul juga di bandung, biasanya didirikan oleh komunitas atau individu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By <a href="http://itbo.multiply.com/journal/item/25/_Toko_Buku_Independen_Siapa_Bilang_Gampang_?replies_read=6" target="_blank">Iit Sukmiati</a> (Omuniuum)</p>
<p>Dari awal sampai pertengahan tahun 2005, dikabarkan banyak bermunculan toko buku independen dibandung, yang disebut toko buku independen disini adalah toko buku yang tidak bermodal besar, biasanya berbasis komunitas, tidak seperti gramedia atau gunung agung atau toga mas yang belakangan muncul juga di bandung, biasanya didirikan oleh komunitas atau individu yang mencintai buku dan berusaha perduli dengan kelangsungan minat baca di masyarakat.</p>
<p>Menurut peta literer yang disusun oleh Tobucil dan Dipan Senja, pada medio september 2005, di bandung ada sekitar 40 tempat berlangsungnya kegiatan literasi atau perbukuan termasuk palasari yang sudah lama dikenal publik bandung sebagai komplek pasar buku dan dan mizan learning center yang dimiliki oleh kelompok mizan group. Artinya diluar kedua tempat tersebut, ada 38 tempat yang menamakan dirinya independen berupa komunitas pecinta buku, toko buku, taman bacaan, distibutor, kelompok penulis, penerbit independen dan lainnya. Dari 38 nama tersebut ada yang kemudian selain berbasis komunitas atau perpustakaan juga berusaha menghidupi dirinya dengan berjualan buku, antara lain, Tobucil, Omuniuum, Ultimus, Rumah Malka, If Venue, toko buku Nalar, toko buku Taman Bunga, toko buku Cahaya Media, Beur-read, Senyum Selalu, Taboo, Litera, Eat &amp; Read/er, Das Mutterland, toko buku Bamboe, toko buku Awi Apus, Zoe bookstore dan lainnya.</p>
<p>Tahun itu juga media berlomba-lomba meliput maraknya pendirian toko buku ini, mulai dari liputan tentang keistimewaan masing-masing toko buku independen, kegiatan yang berlangsung ditempat tersebut, berusaha mengetahui semangat apa yang ada dibalik pendirian toko buku-toko buku ini. Penerbit atau distributor juga merasa senang karena kemudian banyak tempat bisa menjadi titik-titik penyaluran buku karena rata-rata toko buku independen itu memperoleh buku dari sistem konsinyasi yang ditawarkan penerbit atau distributor untuk kemudian perakhir bulan mereka memberikan laporan penjualan berdasarkan transaksi yang terjadi di tokonya.</p>
<p>Medio 2006, pertama kali dikejutkan oleh penutupan If Venue yang dikenal sebagai tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan anak muda selain di bidang literasi juga di bidang kegiatan seni budaya. Lalu tak lama kemudian muncul berita simpang siur yang biasanya diterima lewat sms yang mengabarkan kalau toko buku ini tutup, toko buku itu<br />
tutup, yang punya entah kemana atau lainnya. Keadaan ini sempat direspon oleh dipan senja yang mengadakan workshop untuk para pemilik toko buku, untuk kemudian mereka bisa lebih belajar lagi tentang manajemen toko buku. Berhasil?</p>
<p>Mungkin, tapi pada kenyataannya, pada saat ini, pertengahan tahun 2007, selain perpindahan tempat beberapa toko buku independen yang berusaha survive, diantaranya Tobucil dan Omuniuum yang berpindah tempat, beberapa tempat seperti Das Mutterland, Rumah Malka, toko buku Taman Bunga, Eat &amp; Read/er dikabarkan sudah tidak aktif lagi, bahkan menurut bocoran salah seorang teman distributor, dikabarkan salah satu tempat yang baru saja tutup masih menunggak pada penerbit atau distributor.</p>
<p>Mengamati perkembangan itu, kemudian dari beberapa diskusi yang terjadi setelah penutupan toko buku independen itu, memang ada perkiraan kalau mereka para pendiri atau pengelola toko buku ini kemudian memang tidak siap dengan apa yang terjadi. Ketika mereka membuka toko buku dengan bayangan bahwa modal yang diperlukan tidak perlu terlalu besar, hanya butuh tempat dan kontak penerbit atau distributor untuk konsinyasi buku, lalu toko buku akan berjalan<br />
sendirinya dan membuat pengelolanya makmur.</p>
<p>Padahal tidak semudah itu. Toko buku juga butuh pengelolaan atau manajemen yang sama dengan semua bidang usaha. Butuh pengolahan data, butuh manajemen operasional, butuh pengelolaan dana yang ketat dan butuh pengetahuan juga kemauan mengetahui perkembangan secara terus menerus dibidang buku itu sendiri. Jangan dikira setelah toko dibuka,<br />
buku dipajang, lantas semua datang dengan sendirinya.</p>
<p>Salah satu contoh, jika harga buku misalnya Rp. 45.000,- lalu sebagai toko buku mendapat diskon 30 %, sebesar Rp. 13.500,- kemudian kita memberi diskon 10 % pada konsumen, berarti Rp. 13.500,- dipotong Rp. 4.500,- berarti keuntungan dari satu buku adalah Rp. 9.000,- padahal untuk operasional satu bulan, selain membayar sewa dan lain-lainnya termasuk didalamnya listrik, keamanan, pegawai, dan lainnya misalnya sekitar Rp. 2.000.000,- berarti dari Rp. 9.000,- itu, kita harus bisa menjual dalam satu bulan buku sebanyak 222 eksemplar baru bisa memenuhi biaya<br />
operasional saja, belum untuk hidup dan kebutuhan sehari-hari.</p>
<p>Tidak bermaksud untuk menurunkan semangat independen atau juga menutup kemungkinan bahwa hitung-hitungan diatas adalah hitungan kasar karena di banyak tempat kita juga bisa menemui tempat-tempat yang dibangun dengan semangat bersama dan mengusahakan segala cara agar tempat yang kita cintai itu bisa berjalan tanpa harus mengeluarkan biaya operasional yang terlalu tinggi tapi justru ini adalah satu hal yang harus kita pikirkan bersama sebelum memulai segala sesuatu, bahwa idealisme sebesar apapun, ada hal-hal yang harus dipikirkan resikonya dan sangat disayangkan jika kita sudah memulai sesuatu kemudian hal itu berhenti dan kita tidak bisa memenuhi kewajiban kita pada yang berhak atas itu. Ini harapan bahwa untuk teman-teman yang lain, yang juga punya toko buku atau berniat membuka toko buku, sebelumnya berpikiran lebih panjang dengan menghitung semua untung dan rugi, daripada kemudian hari kita mendengar kabar bahwa ada toko buku tutup dengan meninggalkan hutang kepada penerbit atau distributornya, kemudian pengelolanya juga lari entah kemana.</p>
<p>Yang susah siapa ? selain distributor, ya teman-teman kita juga, yang kemungkinan besar tidak akan dipercaya lagi oleh para distributor atau penerbit untuk menjual buku-bukunya. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.</p>
<p>Iit Sukmiati<br />
Pengelola Omuniuum</p>
<p>Dimuat di Media Parahyangan<br />
Edisi 1/Agustus/2007</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2007/46/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

