Tagged: Education RSS

  • blauloretta 5:37 am on May 22, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , Education   

    [Diskusi] Menafsir Pemikiran Tan Malaka tentang Pendidikan Matematika | Rabu, 23 Mei 2012 

    Penyaji: Iwan Pranoto (Moedomo Learning Initiatives)
    Waktu: Rabu, 23 Mei 2012, 16:00-18:00 WIB
    Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no.8, Bandung

    Dari sekian Bapak Bangsa Republik ini, mungkin kita harus menyebut bahwa Tan malaka adalah pemimpin yang sangat menjiwai dalam bermatematika. Beliau sangat mengagumi matematika, sampai sikap bermatematika merasuk ke dalam cara berpikirnya.

    Matematika bagi Tan bukan sekedar ilmu belaka, tapi merupakan cara berpikirnya dan sikap berpikirnya (attitude of mind). Walau kita tahu bahwa Sam Ratulangi adalah doktor matematika pertama Indonesia, namun Tan Malakalah yang benar-benar berkelakuan dan bertindak sangat matematika.

    Rasionalitas bagi Tan sangat mutlak. Beliau berangan-angan Republik ini didasari oleh rasionalitas. Untuknya matematikalah wahana bagi seseorang untuk mengembangkan rasionalitasnya. Justru karena hal ini, pada tahun 1940an, Tan sudah sangat risau dengan praktik pengajaran matematika. Sekolah dasar terlalu fokus pada berhitung semata, tetapi melupakan bernalar.

    Sangat menarik, karena kerisauan Beliau tentang praktik pembelajaran matematika yang mengasingkan proses bernalar justru semakin menjadi-jadi pada Abad 21 ini. Dalam diskusi ini, kita akan mengkaji dan mentelaah apa saja gagasan Tan Malaka tentang pembelajaran matematika yang dapat kita terapkan pada masa sekarang.

    Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

    * Acara ini terlaksana atas kerjasama Moedomo Learning Initiatives dengan Common Room

     
  • blauloretta 7:01 pm on May 5, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , Education, , ,   

    [Workshop] YOUR CUP OF TEH? | Common Room | Minggu, 6 Mei 2012 

    YOUR CUP OF TEH?
    Dialog dan Proses Karya Bersama tentang Bahasa Populer di Indonesia dan Malaysia

    Tempat dan Waktu:
    Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8
    6 Mei 2012, pk. 10.00 – 17.00 WIB

    Di Indonesia dan Malaysia yang masyarakatnya terbentuk dari berbagai ras dapat menghasilkan beragam bahasa dan dialek yang dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Melalui workshop ini kami ingin menemukan lebih jauh berbagai bentuk pengaruh sosial yang membentuk bahasa ini sebagai kultur populer, selain sebagai hasil transisi dari masa lalu hingga masa kini. Selain dapat melihat fenomena bahasa yang dimanfaatkan ke dalam teks atau typography, kecenderungan ini juga memungkinkan kita untuk melihat efektifitas dan hasil penggunaan konten lokal untuk berkomunikasi secara visual. Misalnya di Malaysia, penggunaan kata “kepo” yang diduga berasal dari bahasa hokkian yang terdiri dari ‘Ke’ (bertanya) dan ‘Po/Apo’ (Orang tua atau Nenek-nenek yang suka bertanya). Kata “kepo” ini kemudian diadaptasi ke dalam kultur populer dan memberikannya makna baru, yaitu orang yang selalu ingin tahu.

    Workshop ini merupakan kerjasama antara Malaysia Design Students dan Common Room Networks Foundation. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini silahkan hubungi Common Room di nomor 022-2503404.

     
  • blauloretta 11:30 am on April 8, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , Education, , , , ,   

    Informasi Agenda Kegiatan Common Room | April 2012 

    [Workshop] Video Subtitling Bersama Engagmedia, Sabtu, 8 April 2012 [Pemutaran Film] Kita vs. Korupsi | Pemutaran Film & Diskusi Bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis, 12 April 2012 [Workshop] A Music Biz #2: How to Make Promotion Kit and Press Release, Sabtu, 14 April 2012 [Gathering] Persiapan Festival Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) Untuk Rakyat, Senin, 16 April 2012 [Festival] TIK untuk Rakyat: Wilujeng Surfing 2012 | Semua bisa jadi Relawan TIK | Gedung Politeknik Telkom, Sabtu dan Minggu, 28 – 29 April 2012

    [Kelas Belajar] Kelas Tari Tradisional oleh Teh Dewi setiap hari Senin dmulai pk. 14.00 – 16.00 WIB | Kelas Menggambar The Illuminator setiap hari Selasa mulai pk. 15.00 – 18.00 WIB | Kelas Karinding oleh Hendra Attack setiap hari Rabu mulai pk. 17.00 – 19.00 WIB dan Jumat pk. 17.00 – 19.00 WIB | Kelas Kacapi Suling oleh Iman Zimbot setiap hari Kamis mulai pk. 16.00 – 18.00 WIB | Pertemuan Mingguan Bandung Oral History setiap hari Kamis mulai pk. 17.00 WIB | Pertemuan Mingguan Workshop DJ Openlabs x Bandung Hiphop Community setiap hari Kamis mulai pk. 19.00 WIB

    [Latihan Musik] Karinding Attack setiap hari Senin dan Rabu mulai pk. 13.00 – 17.00 WIB | Paper Back setiap hari Selasa mulai pk. 20.00 – 22.00 WIB | Trah Project setiap hari Rabu mulai pk. 18.00 – 23.00 WIB | Flava Madrim setiap hari Kamis mulai pk. 13.00 – 17.00 WIB | Karinding Riot setiap hari Kamis pk. 17.00 – 19.00 WIB | Laras setiap hari Jumat mulai pk. 18.00 – 20.00 WIB

    [Siaran Radio Online] Madness Monday/Sixteenloops setiap hari Senin pk. 19.00 – 22.00 WIB | Gigsonsky setiap hari Selasa pk. 19.00 – 22.00 WIB | Gigsonsky Playmix Setiap hari Selasa pk. 22.00 – 23.00 WIB | Neng Ita setiap hari Rabu pk. 16.00 – 18.00 WIB | Radiologia setiap hari Rabu pk. 19.00 – 22.00 WIB | Kamis Tiris setiap hari Kamis pk. 19.00 – 22.00 WIB | Gigsonsky Marimar setiap hari Kamis pk. 22.00 – 00.00 WIB | Our Playlist / Live Streaming / 24 Hours Loop**
    **tentative hari Sabtu dan Minggu

    (More …)

     
  • blauloretta 1:00 pm on March 22, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , Education, ,   

    [Peluncuran Buku & Diskusi] Budaya Bebas karya Lawrence Lessig | Sabtu, 24 Maret 2012 

    Sabtu, 24 Maret 2012
    Pk. 15.00 – 18.00 WIB
    Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung

    Upaya penerjemahan buku ‘Free Culture: How Big Media Uses Technology and the Law to Lock Down Culture and Control Creativity’ yang ditulis Lawrence Lessig oleh rekan-rekan KUNCI Cultural Studies Center dengan dukungan Ford Foundation ini merupakan usaha untuk mendorong arus informasi mengenai merebaknya budaya digital di berbagai belahan dunia agar sampai ke pembaca yang tidak berbahasa asing. Melalui buku ini Lessig memperlihatkan bahwa di luar kenyataan tentang teknologi baru yang selalu melahirkan hukum baru, kini para pelaku monopoli budaya justru memanfaatkan ketakutan yang diciptakan teknologi baru, meskipun korporasi-korporasi ini juga menggunakan teknologi yang sama untuk semakin mengendalikan apa yang dapat dan apa yang tidak dapat kita perbuat dengan budaya. Seiring dengan semakin terdigitalkannya budaya, semakin pula ia dikontrol seturut dengan diperketatnya hukum atas dorongan kelompok media besar. Yang menjadi korban disini adalah kebebasan-kebebasan untuk mencipta, kebebasan untuk membangun, dan akhirnya, kebebasan berimajinasi.

    Pembicara: Ferdiansyah Thajib (KUNCI Cultural Studies), Gustaff H. Iskandar (Common Room), Hawe Setiawan (Dosen Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS), Laina Rafianti, S.H., M.H. (Dosen Fakultas Hukum UNPAD) & Ranti Puji Agusti (Common Room)

    Unduh buku di laman berikut ini:

    Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran (gratis).

     
  • blauloretta 9:03 am on January 5, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , Education, ,   

    [Orasi Budaya] Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan | Sabtu, 7 Januari 2012 

    Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan
    Sabtu, 7 Januari 2012
    Pk. 09.00 – 16.30 WIB
    Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama no. 8
    Bandung – 40132

    Pengantar
    Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Sutan Takdir Alisyahbana telah sering menyampaikan kegelisahannya mengenai kebudayaan Indonesia. “Kebudayaan dalam krisis”, demikian kegelisahan STA tersebut jika kita rumuskan dalam satu frase. Polemik kebudayaan pun terjadi. Polemik ini merupakan gumpalan kegelisahan STA dan para cerdik-cendikia saat itu: kegelisahan untuk merumuskan kebudayaan khususnya dan pada umumnya peradaban bangsa Indonesia di masa depan, yang dalam istilah STA disebut sebagai manusia baru Indonesia. Untuk menuju masa depan Indonesia, “kita harus meninggalkan tasik yang tenang dan menuju laut yang bergelora, dinamik”, demikian kurang lebih STA.

    Kini, 80 tahun kemudian, sebuah pertanyaan reflektif kiranya perlu dilontarkan: apakah kebudayaan dan manusia baru yang dinamis, yang bergelora seperti ombak lautan itu telah terwujud? Sebenarnya tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Indonesia, hingga hari ini, masih tetap hidup dalam 21 abad sekaligus. Di sebuah dusun di pedalaman sebuah pulau, kita masih menemukan masyarakat yang masih hidup dalam ketertinggalan di berbagai bidang kehidupan. Mereka hidup di dalam ruang pengetahuan yang sangat terbatas. Sementara di belahan pulau lain, di kota-kota besar, sebagian masyarakat telah meloncat tinggi ke atas tangga posmodernitas, bahkan sedang bergerak ke wilayah-wilayah yang takterbayangkan oleh sebagian besar masyarakat.

    Tapi, pun begitu, di lapis permukaan, secara general bisa disaksikan bagaimana kebudayaan tengah bergerak ke arah “ketakseimbangan” nilai. Pada titik tertentu, persoalan kebudayaan bahkan bisa dibilang sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai. Kebudayaan menjadi semacam artikulasi perilaku keseharian yang digerakkan oleh isu-isu yang diusung teknologi informasi, terutama televisi dan komputer. Di situ, segala batas menjadi lebur. Jika segala batas lebur, bagaimana kita bisa merumuskan sebuah nilai?

    Di samping itu, dihubungkan dengan ruang, dalam hal ini alam (nature), perkembangan kebudayaan (culture) juga memperlihatkan ketakseimbangan lain. Culture yang telah “tanpa nilai” itu secara terus-menerus tampak mensubversi alam (nature). Akibatnya, kian hari alam kian kewalahan memenuhi hasrat manusia yang digerakkan oleh imaji-imaji budaya tanpa nilai tersebut. Akibatnya, terjadilah apa yang kami sebut sebagai “Katastrofe Kebudayaan”.

    Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB) dan Common Room Networks Foundation sebagai institusi yang secara intens memperhatikan hal itu, terpanggil untuk coba mencatat, merumuskan, dan memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat menjadi pencerahan bagi para intelektual dan penentu kebijakan khusunya dan masyarakat secara umum. Kali ini, konstribusi itu diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan orasi kebudayaan dari beberapa orang yang dianggap kompeten untuk tema terkait.

    Pidato kebudayaan ini terbagi menjadi tiga sesi, yaitu:

    Sesi I
    Tema: Kompleksitas, Perubahan dan Spekulasi
    Pemateri: Joscev Audifax, Harifa Ali Albar Siregar, Ranti Puji Agusti, Ruly Darmawan

    Sesi II
    Tema: Realitas diantara Persepsi, Mitos dan Fantasi
    Pemateri: Idhar Resmadi, Jejen Jaelani, Kimung, Alfathri Adlin

    Sesi III
    Tema: Katastrofe Kebudayaan
    Pemateri: Hawe Setiawan, Gustaff H. Iskandar, Yasraf Amir Piliang, Acep Iwan Saidi, dan Tisna Sanjaya.

    Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran.

    Informasi lebih detail hubungi Zamzami Almakki (085795111981)

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
escort ankara escort ilan escort ankara ilan
xvideos porn xhamster dn porn ei porn welcome to extremeporn cools video centerextreme pornextreme tube new hd porn sites xvideos porn