Tagged: Critics RSS

  • blauloretta 4:05 pm on April 9, 2013 Permalink | Reply
    Tags: Critics, , , ,   

    Bincang Buku: Melampaui Penglihatan | Common Room, Rabu, 10 April 2013 

    Bincang Buku: Melampaui Penglihatan; Kumpulan Esai Antropologi Visual tentang Media (Audio) Visual, Seni, dan Penonton
    Penulis: M. Zamzam Fauzanafi (penulis buku)
    Pembahas: Jejen Jaelani (Forum Studi Kebudayaan ITB)
    Tempat: Common Room, Jl. Muararajeun no. 15, Bandung
    Tanggal/pukul: 10 April 2013/19.00 s.d selesai

    Penglihatan dan Apa yang Melampauinya
    Buku ini merupakan kumpulan esai yang ditulis oleh M. Zamzam Fauzanafi sebagai akademisi sekaligus pegiat yang mendalami kajian antropologi visual. Melampaui Penglihatan dimaksudkan sebagai suatu upaya penafsiran budaya sehari-hari melalui detail citra media tontonan sebagai hasil; kerja kamera, mata penglihatan, visualitas, caption dan perbincangan mengenai penglihatan, pun pemaknaan di luar penglihatan itu sendiri.

    Kumpulan esai dalam buku ini mencakup uraian dan penjelasan tentang dua wilayah kerja antropologi visual. Pertama, penggunaan medium/materi visual dalam riset, terutama foto dan video. Kedua, analisis terhadap materi visual dan properti sistem visual mengenai bagaimana segala sesuatu dilihat, serta bagaimana penglihatan dipahami dalam berbagai ekspresi dan pengalaman sosial (melalui lukisan, mural, televisi, hingga puisi, pengalaman menonton film).

    Esai-esai ini bukan semata-mata mengenai dunia visual atau penglihatan, melainkan sebuah usaha untuk menempatkan yang visual dalam relasi kultural, sosial, dan politik yang kompleks. Melalui esai-esai ini yang visual, sebagaimana diungkap oleh MacDougall (2006: 222), ditempatkan sebagai jalan bagi indra yang lain untuk mengalami kompleksitas proses sosial, kultural, dan politik. Jalan yang tidak hanya membutuhkan penglihatan dan penafsiran, tetapi melibatkan emosi dan pemahaman indrawi.

    Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Rumah Sinema dan Common Room. Gratis dan terbuka untuk umum.

     
  • blauloretta 11:43 am on March 11, 2013 Permalink | Reply
    Tags: Critics, ,   

    Kuliah Jalanan Bersama Hikmat Darmawan: Aspek-Aspek Budaya Pop | Sabtu, 23 Maret 2013 

    Kuliah Jalanan Bersama Hikmat Darmawan: Aspek-Aspek Budaya Pop
    Sabtu, 23 Maret 2013; pk. 10.00 – 12.00 WIB
    Common Room, Jl. Muararajeun no. 15

    Pengantar
    Kuliah Jalanan adalah kegiatan yang digagas oleh Hikmat Darmawan, seorang pakar komik dan pengamat budaya populer yang juga dikenal sebagai seorang penulis lepas. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung terjadinya proses produksi dan distribusi pengetahuan secara langsung di tengah-tengah khalayak luas. Bentuk dari kegiatan Kuliah Jalanan adalah kuliah umum dengan subjek spesifik yang berlangsung selama 1-2 jam. Narasumber akan memberikan ceramah dan memfasilitasi proses tanya jawab sebagaimana kegiatan perkuliahan pada umumnya. Kegiatan Kuliah Jalanan juga dapat berbentuk obrolan tentang subjek tertentu yang sangat khusus, selama 5-7 menit di ruang publik. Seluruh kegiatan Kuliah Jalanan terbuka luas untuk publik secara gratis.

    Hikmat Darmawan sempat mengecap pendidikan di FISIP UI jurusan komunikasi dan bekerja sebagai penulis lepas untuk berbagai media massa. Ia juga dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan budaya di Indonesia, serta ikut mengelola lembaga Musyawarah Burung dan Akademi Samali. Di sela-sela aktivitasnya ia bekerja sebagai editor untuk http://rumahfilm.org. Pada periode 2010-2011 ia menerima Asian Public Intellectual (API) fellowship untuk melakukan penelitian identitas nasional pada gambar komik di 3 negara, yaitu Jepang, Thailand dan Indonesia.

    (More …)

     
  • blauloretta 5:14 am on March 6, 2013 Permalink | Reply
    Tags: Critics, ,   

    [Pemutaran & Diskusi] Di Balik Frekuensi | Sabtu, 9 Maret 2013 

    Pemutaran dan Diskusi Film Dokumenter Di Balik Frekuensi
    Diskusi bersama Ucu Agustin (Sutradara) dan Luthfi Adam (Dosen Jurnalistik Fikom Unpad)
    Sabtu, 9 Maret 2013, pk. 14.00 – 18.00 WIB
    Common Room, Jl. Muararajeun no. 15

    Sinopsis
    Setelah reformasi, dengan cepat konglomerasi menjadi corak industri media di Indonesia. Pola tersebut terus berkembang dan seolah dilanggengkan dengan dijadikannya sistem itu sebagai pegangan oleh para pelaku usaha media yang menjalankan operasional industri media di Indonesia.

    Ribuan media dengan aneka format baik cetak, online, radio, televisi, yang informasinya diserap 250 juta penduduk Indonesia, hanya dikendalikan oleh 12 grup media.  Tiap pemilik grup ini memiliki kepentingannya sendiri-sendiri dan kerap terang-terangan membanjiri publik dengan berita dan tayangan-tayangan dalam kanal-kanal media milik mereka yang banyak me-manisfestasi-kan kepentingan yang jelas bukan merupakan kepentingan publik.

    Luviana adalah  seorang jurnalis, telah bekerja 10 tahun di Metro TV, di-PHK-kan karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi newsroom. Hari Suwandi dan Harto Wiyono adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong-Sidoarjo ke Jakarta, menghabiskan waktu hampir satu bulan dalam perjalanan demi tekad untuk  mencari keadilan bagi warga korban Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi.

    Melalui dua kisah tersebut, film dokumenter ini akan membawa kita pada perjalanan Di Balik Frekuensi yang menuntun kita akan sebuah pencarian terhadap makna ‘apa itu media’? Seperti apakah seharusnya media bekerja? Untuk siapakah mereka ada?

    *Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum, terutama bagi mahasiswa, seniman, jurnalis, serta peminat kajian sosial, politik, dan media di Indonesia.

    (More …)

     
  • blauloretta 4:05 am on January 22, 2013 Permalink | Reply
    Tags: Critics, ,   

    Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2013 “Indonesia Tenggelam” | Senin, 28 Januari 2013 

    Di ITB terdapat sebuah kolam. Di dasar kolam tersebut terhampar peta Indonesia. Kolam itu pun lantas dikenal dengan sebutan Kolam Indonesia Tenggelam. (Peta lokasi: http://goo.gl/maps/hxx2X)

    Sekilas, gagasan pembuatan peta di dasar kolam tersebut tampak intuitif, bahkan mungkin hanya main-main. Namun, jika dipahami lebih dalam, bisa ditemukan petunjuk yang menuju ke arah kebenarannya. Peta Indonesia yang tenggelam di kolam itu menjadi semacam “metafora indeksikal” yang merefer pada berbagai kenyataan yang sedang dihadapi bangsa ini.

    Pertanyaannya: Bagaimana kenyataan itu? Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Masih adakah harapan di sana? Bagaimana kita harus bersikap?

    Forum Studi Kebudayaan-FSRD ITB, bekerja sama dengan Common Room dan KM-ITB akan mencoba membongkar asal-usul permasalahan tersebut. Dengan kata lain, kami akan mencoba menyelam ke dalam kolam tempat Indonesia tenggelam itu melalui sebuah acara Pidato Kebudayaan Awal tahun 2013. Seperti nama kolamnya, acara ini diberi tajuk “Indonesia Tenggelam”.

    Mereka yang akan menyelam adalah Iwan Pranoto, Yasraf Amir Piliang, Acep Iwan Saidi, T. Bachtiar, Tisna Sanjaya, Gustaff H. Iskandar, Aat Suratin, & Harry Pochang.

    * Pidato Kebudayaan ini juga akan diisi oleh pertunjukan musik dan performance art.

     
  • blauloretta 6:46 am on October 18, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Critics, ,   

    Seminar Nasional Kebudayaan Kontemporer II / SURAT MALAM UNTUK PRESIDEN: 84 PATAHAN NARASI / Senin, 29 Oktober 2012 

    Forum Studi Kebudayaan ITB dan Yap Institute mempersembahkan:
    Seminar Nasional Kebudayaan Kontemporer II / SURAT MALAM UNTUK PRESIDEN: 84 PATAHAN NARASI

    Waktu: Senin, 29 Oktober 2012, pk. 08.00 – 16.00 WIB
    Tempat: AULA Barat ITB, Jl. Ganeca no. 10

    Pembicara:
    Seminar Sesi I

    1. Dr. Intan Rizky Mutiaz “Narasi Media Sosial dan Kebangsaan”
    2. Dr. Ninok Leksono ”Narasi Media dan Problematika Kebangsaan”
    3. Budhiana Kartawijaya ”Narasi Internet sebagai Media Publik”
    4. Dimas Ginanjar Merdeka (Bob Maicih) ”Narasi Media Sosial dan Industri Kreatif”

    Seminar Sesi II

    1. Acep Zamzam Noor ”Narasi Kebudayaan dan Kebangsaan”
    2. Prof. Dr. Iwan Pranoto ”Narasi Pendidikan dan Pemimpin Berkarakter”
    3. Rieke Diah Pitaloka “Narasi Kerakyatan dalam Politik”
    4. Prof. Dr. Bambang Hidayat ”Narasi Bahasa dan Peradaban”
    Monolog
    Wawan Sofwan “Surat Malam untuk Presiden”
    Acep Iwan Saidi “Testimoni untuk Negeri: Bangsa dalam Patahan Narasi”

    *Informasi dan pendaftaran silahkan hubungi Forum Studi Kebudayaan ITB di nomor 081220273036 atau kirim email ke alamat fsk.itb[at]gmail.com

    (More …)

     
  • blauloretta 9:03 am on January 5, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Critics, , , ,   

    [Orasi Budaya] Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan | Sabtu, 7 Januari 2012 

    Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan
    Sabtu, 7 Januari 2012
    Pk. 09.00 – 16.30 WIB
    Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama no. 8
    Bandung – 40132

    Pengantar
    Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Sutan Takdir Alisyahbana telah sering menyampaikan kegelisahannya mengenai kebudayaan Indonesia. “Kebudayaan dalam krisis”, demikian kegelisahan STA tersebut jika kita rumuskan dalam satu frase. Polemik kebudayaan pun terjadi. Polemik ini merupakan gumpalan kegelisahan STA dan para cerdik-cendikia saat itu: kegelisahan untuk merumuskan kebudayaan khususnya dan pada umumnya peradaban bangsa Indonesia di masa depan, yang dalam istilah STA disebut sebagai manusia baru Indonesia. Untuk menuju masa depan Indonesia, “kita harus meninggalkan tasik yang tenang dan menuju laut yang bergelora, dinamik”, demikian kurang lebih STA.

    Kini, 80 tahun kemudian, sebuah pertanyaan reflektif kiranya perlu dilontarkan: apakah kebudayaan dan manusia baru yang dinamis, yang bergelora seperti ombak lautan itu telah terwujud? Sebenarnya tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Indonesia, hingga hari ini, masih tetap hidup dalam 21 abad sekaligus. Di sebuah dusun di pedalaman sebuah pulau, kita masih menemukan masyarakat yang masih hidup dalam ketertinggalan di berbagai bidang kehidupan. Mereka hidup di dalam ruang pengetahuan yang sangat terbatas. Sementara di belahan pulau lain, di kota-kota besar, sebagian masyarakat telah meloncat tinggi ke atas tangga posmodernitas, bahkan sedang bergerak ke wilayah-wilayah yang takterbayangkan oleh sebagian besar masyarakat.

    Tapi, pun begitu, di lapis permukaan, secara general bisa disaksikan bagaimana kebudayaan tengah bergerak ke arah “ketakseimbangan” nilai. Pada titik tertentu, persoalan kebudayaan bahkan bisa dibilang sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai. Kebudayaan menjadi semacam artikulasi perilaku keseharian yang digerakkan oleh isu-isu yang diusung teknologi informasi, terutama televisi dan komputer. Di situ, segala batas menjadi lebur. Jika segala batas lebur, bagaimana kita bisa merumuskan sebuah nilai?

    Di samping itu, dihubungkan dengan ruang, dalam hal ini alam (nature), perkembangan kebudayaan (culture) juga memperlihatkan ketakseimbangan lain. Culture yang telah “tanpa nilai” itu secara terus-menerus tampak mensubversi alam (nature). Akibatnya, kian hari alam kian kewalahan memenuhi hasrat manusia yang digerakkan oleh imaji-imaji budaya tanpa nilai tersebut. Akibatnya, terjadilah apa yang kami sebut sebagai “Katastrofe Kebudayaan”.

    Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB) dan Common Room Networks Foundation sebagai institusi yang secara intens memperhatikan hal itu, terpanggil untuk coba mencatat, merumuskan, dan memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat menjadi pencerahan bagi para intelektual dan penentu kebijakan khusunya dan masyarakat secara umum. Kali ini, konstribusi itu diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan orasi kebudayaan dari beberapa orang yang dianggap kompeten untuk tema terkait.

    Pidato kebudayaan ini terbagi menjadi tiga sesi, yaitu:

    Sesi I
    Tema: Kompleksitas, Perubahan dan Spekulasi
    Pemateri: Joscev Audifax, Harifa Ali Albar Siregar, Ranti Puji Agusti, Ruly Darmawan

    Sesi II
    Tema: Realitas diantara Persepsi, Mitos dan Fantasi
    Pemateri: Idhar Resmadi, Jejen Jaelani, Kimung, Alfathri Adlin

    Sesi III
    Tema: Katastrofe Kebudayaan
    Pemateri: Hawe Setiawan, Gustaff H. Iskandar, Yasraf Amir Piliang, Acep Iwan Saidi, dan Tisna Sanjaya.

    Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran.

    Informasi lebih detail hubungi Zamzami Almakki (085795111981)

     
  • blauloretta 1:08 pm on October 21, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Critics, ,   

    [Seminar Nasional] 55 Lipatan Dunia: Mengurai Pemikiran Yasraf Amir Piliang | Selasa, 25 Oktober 2011 

     
  • blauloretta 3:17 am on August 10, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , Critics,   

    Kondisi Manusia di Awal Abad 21 oleh Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto* 

    I. Topografi Psikokultural

    1. Cyber-Culture: jaringan komunikasi Cyber telah memungkinkan interaksi global. Kepekaan terhadap perbedaan meningkat, kesadaran atas pluralisme menajam, tendensi ke arah relativitas menguat, prinsip “keabsolutan” makin kadaluwarsa. Pola digital dalam budaya cyber juga telah memungkinkan kaburnya “fakta” dan “fiksi”. Segala yang kita tonton atau pun baca selalu bisa merupakan produk rekayasa. Kegiatan penciptaan berbagai simbol atau cerita pun menjadi cenderung “self-referential”, tak mesti bersentuhan dengan realitas pengalaman.
    2. The End of Ideology: Perseteruan ideologi politik besar telah sirna dan usang, wacana-wacana besar kini diragukan, bahkan agama-agama besar mengalami krisis tafsiran internal yang membuatnya tak lagi meyakinkan. Prinsip-prinsip pokok yang mendasari sistem-sistem simbol sentral rusak, menjadi polifonik. Akibatnya tak ada lagi sistem tunggal yang merekat pengalaman-pengalaman yang centang-perenang; tak ada lagi jembatan yang menjamin kesesuaian antara inner dan outer reality; tak ada lagi dasar konstituen kultur yang jelas, yang bisa melahirkan antusiasme, gairah, impian, ketakutan dan kebahagiaan manusia. Tak jelas lagi kapan kita mesti merasa gagal, berdosa, atau pun berhasil; untuk apa loyal, kepada kelompok mana saya perlu loyal.
    3. Kapitalisme yang ambivalen: Di satu sisi kapitalisme mengeruk untung dengan mempermainkan “basic instinct” inderawi kita (seks, makanan, barang-barang dan sensasi memabukkan) dan menjajakan kebebasan tanpa batas hingga menumpulkan hati nurani, melahirkan aneka keliaran dan kekerasan. Di sisi lain kita senang bahkan menginginkan dan memburu segala hal yang ditawarkannya juga.

    II. Aneka Teori Tentang “Kebenaran”

    Manusia zaman sekarang melihat kebenaran juga tidak lagi sederhana, lebih rumit, lebih melihat banyak sisi. Ini pun ikut menambah kebingungan.

    1. Teori “Korespondensi”: benar berarti terdapat kesesuaian antara pernyataan dari Subjek dan kenyataan dari wilayah Objek; antara omongan dan kenyataan. Kesesuaian itu dibayangkan satu banding satu, seperti bila orang bercermin.
    2. Teori “Koherensi”: benar berarti terdapat kait mengkait logis yang kokoh dan kompak antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya; tidak mengandung kontradiksi dan tidak saling menyangkal.
    3. Teori Pragmatis : benar berarti “ada manfaatnya, ada gunanya”. Tidak jadi soal apakah sesungguhnya persis sesuai dengan kenyataan ataupun mengandung kontradiksi. Perdebatan teoritis di sini tak terlampau penting. Segala konsep akan benar saja bila dalam praktik hidup kita, itu memang berguna.
    4. Teori “Performatif”: benar atau tidak itu relatif, sebab sebenarnya itu soal bagaimana kita meyakinkan, mempengaruhi dan mengubah pendapat orang lain. Substansinya relatif, sebab banyak unsur ikut berpengaruh di dalamnya.
    5. Teori “Revelasi”: Benar apabila secara otentik diwahyukan oleh pihak yang berotoritas (Tuhan).
    6. Teori “Disclosure”: Benar adalah bila membuat saya menyadari sesuatu yang tadinya saya tidak sadari/ tidak lihat. Yang biasa disebut “pencerahan”.
    7. Teori “eksistensial”: Benar artinya “sangat berarti” bagi saya. Soal nilai dan keberartian, erat terkait dengan pengalaman konkrit.

    III. Perkembangan Sikap terhadap “Kebenaran”

    1. Absolutis: benar itu satu, tak mungkin banyak.
    2. Relativis historis: Segala prinsip itu benar tidaknya tergantung situasi dan kondisi sejarah. Dulu “banyak anak banyak rejeki” itu dianggap benar, kini tidak.
    3. Relativis perspektival: Tiap kebudayaan punya cara pandang yang berbeda tentang apa yang mereka anggap benar.
    4. Relativis linguistik: Tiap bahasa mempunyai pola pikir yang spesifik, maka kebenaran pun relatif.
    5. Relativis hermeneutis: Segala hal tergantung cara melihat dan menafsirnya; segala hal adalah perkara tafsiran. Tak ada kenyataan “murni” objektif. Dunia manusia adalah dunia tafsir.
    6. Relasional: Segala hal adalah “proses”, proses adalah “relasi”. Maka cara melihat segala sesuatu sebagai “substansi” tak lagi relevan. Segala sesuatu selalu dalam proses “menjadi”, maka kebenaran mesti dilihat dalam relasi, “in between”. Siapa itu Tuhan bukan persis seperti yang ada dalam dogma-dogma, tapi Dia yang ada saat kita sembahyang atau sedang memikirkan Dia, yang tak bisa persis dirumuskan, yang ada dalam “peristiwa aku dan Dia”. Hakikat “palu” yang sesungguhnya bukanlah yang ada dalam definisi, tapi yang saya alami saat saya sedang menggenggamnya dan memukulkannya pada paku. Definisi atau dogma hanyalah pegangan awal, gambaran minimal.

    IV. Beberapa Dampak

    1. Secara individual: manusia masa kini kehilangan kerangka-kerangka dasar untuk memahami diri dan kehidupan. Banyak orang sekarang mengalami kecemasan tanpa arah, kemarahan tanpa alamat, kerinduan tanpa sasaran, keterpesonaan tanpa alasan.
    2. Secara sosial: ada berbagai kecenderungan paradoks, saling bertabrakan. Ada hiteria kosmopolitanisme, sekaligus kecenderungan neo-tribalisme; Happy Nihilism, sekaligus Depressive Nihilism; Kerjasama baur antar golongan, sekaligus toleransi tanpa peduli; Konsumerisme trendi dan fanatik, sekaligus paranoia yang marah terhadap dunia.

    * Catatan ini diunggah di laman group FB Yasraf Amir Piliang Institute (YAP Institute) oleh Alfathri Adlin. Ditampilkan kembali di laman ini atas seizin beliau.

     
  • blauloretta 10:50 am on April 17, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Critics, ,   

    [Repost] Menulis Musik Adalah Menulis Tentang Manusia | Oleh M. Taufiqurrahman (http://jakartabeat.net/) 

    Menulis tentang musik sangatlah mudah. Jadi jangan percaya kepada siapapun yang mengatakan bahwa menulis musik dan jurnalisme musik adalah sesuatu yang mustahil. Siapapun yang mengatakan menulis tentang musik adalah seperti menari demi arsitektur (writing music is like dancing to architecture) sebenarnya sedang menilai keterampilan menulis mereka terlalu tinggi.

    Siapa saja bisa menulis tentang musik—dan ini ditunjukkan oleh betapa banyaknya zine, webzines, blogs, Facebook notes, website sampai majalah professional yang mendedikasikan dirinya hanya untuk menulis tentang musik. Yang dibutuhkan tidak banyak. Anda cukup menjadi pecinta musik—dan semua orang adalah pecinta musik—penggemar sebuah atau beberapa kelompok musik, dan anda bisa menjadi penulis yang fasih yang mampu bercerita tentang gitar solo yang menyayat, ketukan drum yang kompleks sampai lengkingan suara yang membahana dari sang vokalis.

    Jika anda rajin membaca majalah Spin, NME atau Rolling Stone, tulisan anda bisa menjadi semakin kaya dengan membubuhkan tarikh dari band-band legendaris kesukaan anda, lengkap dengan kata-kata bijak dari sang vokalis atau penulis lirik, siapa yang merancang cover art album legendaris mereka sampai gosip terbaru tentang akan di mana band tersebut akan manggung berikutnya (Sampai pada taraf tertentu kami di Jakartabeat masih harus melakukannya. Pilihan kami terbatas karena beginilah keadaan jurnalisme musik selama hampir 40 tahun terakhir). Dan jika anda sering membaca pitchfork.com, anda bisa banyak menggunakan kata ironi, hip dan “air quote.

    (More …)

     
  • blauloretta 1:06 pm on February 7, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Critics, ,   

    Internet, Moralitas dan Masyarakat Sipil* 

    Selama beberapa dekade terakhir perkembangan teknologi internet dan media digital semakin menjadi komponen yang penting bagi kehidupan masyarakat sipil. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Sejak pertama kali ‘diciptakan’ pada tahun 1989 oleh Tim Barners-Lee, sampai saat ini sudah ada sekitar 6,8 milyar pengguna internet yang terhubung hampir di seluruh penjuru dunia. Teknologi internet dan media digital semakin mempermudah penyebaran data dan informasi, serta memberikan dampak tersendiri bagi perkembangan budaya masyarakat global. Rasanya tidaklah berlebihan apabila disebutkan bahwa teknologi internet memiliki potensi untuk membentuk tatanan masyarakat yang baru di masa depan (Barbrook, 2007).

    Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Netcraft sampai dengan bulan Desember 2010, sejauh ini sudah ada sekitar 255,287,546 situs internet yang tersebar di seluruh dunia dangan isi yang bermacam-macam. Dari jumlah ini, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa sampai tahun 2004 jumlah domain internet yang terdaftar di ID-TLD (Indonesia) sudah mencapai angka 21.762. Lebih lanjut, dalam arsipnya APJII juga menyebutkan bahwa sampai dengan tahun 2007 sudah ada sekitar 25.000.000 pengguna internet di Indonesia. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat secara tajam seiring dengan berkembangnya teknologi, mobilitas manusia, serta tumbuhnya infrastruktur teknologi internet di Indonesia.

    Perkembangan teknologi internet juga menandai lompatan menuju abad informasi yang melahirkan tata nilai dan proyeksi peradaban yang baru. Teknologi internet tidak hanya memberikan pengaruh terhadap perkembangan teknologi media dan informasi, tetapi juga membawa dampak secara sosial, politik dan ekonomi. Hal ini misalkan ditandai dengan semakin cairnya sekat teritori politik dan budaya sehingga memungkinkan terjadinya pola interaksi trans-regional yang menembus batas-batas negara. Selain itu, teknologi internet juga mendorong lahirnya pola produksi dan penyebaran informasi serta ilmu pengetahuan yang baru. Dalam hal ini, internet telah menjadi kanal bagi beragam pandangan dan tata nilai yang juga membawa kita pada perdebatan mengenai hukum, etika dan moralitas baru yang semakin kompleks. Berbagai bentuk pandangan dan nilai-nilai yang sebelumnya berdiri secara ajeg seakan meluruh dan melebur menjadi satu di jagat internet.

    (More …)

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
cialis geciktirici online film izle bedava film izle chat