Tagged: Books RSS

  • blauloretta 8:03 am on November 11, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Books, ,   

    Book Launching | My Self: Scumbag, Beyond Life and Death by Kimung | Minor Books, 2007 

    Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

    kukencani malaikat maut
    dalam penjara batin

    biar kupendam semua benci
    dan dendam

    hilang identitas diri tanpa disadari
    terasing dalam kumpulanku
    terhanyutku dalam lamunan

    basa-basi
    bahasa jadi basi

    tak pernah kusangka
    luka semakin menganga

    cengkram mulut dan asaku
    tanpa harapanku

    beri aku
    ruang gerak

    Ivan Scumbag, 2000

    Ivan, Scumbag Begundal Hardcore Ugal-ugalan adalah pionir generasi pendobrak Ujungberung Rebels. Bersama bandnya Burgerkill, ia membuat terobosan besar yang semakin mengangkat dinamika musik independen ke tataran yang lebih tinggi dan fenomenal. Yang kemudian menjadi sangat personal, dengan segala pencapaiannya, Ivan tak lantas berubah menjadi sosok lain. Ia tetap dengan segala kerendahan hatinya, membumi bersama mereka yang mengusungnya.

    Buku ini mengisahkan Ivan dengan segala kompleksitasnya. Kisah hidupnya, Ivan sang musisi, rockstar, cita-cita, harapan dan kekecewaan, totalitas bermusik yang lalu mengantarnya menjadi besar, semakin besar, semakin besar, bahkan lebih besar dari hidupnya, serta segala ironi yang mengintip dengan kejam di balik kebesaran itu, mencuri jiwanya diam-diam…

    (Review oleh boit.multiply.com)

    Book Launching

    Minggu, 11 November 2007
    Pukul 15.00 – 18.00 WIB
    At Commonroom,
    Jl. Kyai Gede Utama No.8
    Bandung
    West Java – Indonesia

    Acara peluncuran buku akan diisi dengan pemutaran film dokumenter, pameran kecil yang menampilkan beberapa karya Ivan Scumbag, diskusi bersama kawan-kawan dekan Ivan dan pertunjukan musik akustik oleh Burgerkill. Informasi lebih rinci silahkan hubungi Mbak Nunung di +62.22.70800620.

     
    • vandals 3:27 am on December 10, 2008 Permalink

      wah…..q malah baru tau skrng yah….ktnggalan berita ikh…..
      q kagum ma musik2 burger kill terutama ama syair2 bang ivan scumbag…..pengen tanya nie, buku BEYOND LIFE AND DEATH dijual umum apa hanya untuk kalangan terbatas saja??????????? tebal bukunya?????? q pngen beli nie>>>>>>>>……….

  • blauloretta 11:29 pm on September 4, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , Books, ,   

    Toko Buku Independen, Siapa Bilang Gampang? 

    By Iit Sukmiati (Omuniuum)

    Dari awal sampai pertengahan tahun 2005, dikabarkan banyak bermunculan toko buku independen dibandung, yang disebut toko buku independen disini adalah toko buku yang tidak bermodal besar, biasanya berbasis komunitas, tidak seperti gramedia atau gunung agung atau toga mas yang belakangan muncul juga di bandung, biasanya didirikan oleh komunitas atau individu yang mencintai buku dan berusaha perduli dengan kelangsungan minat baca di masyarakat.

    Menurut peta literer yang disusun oleh Tobucil dan Dipan Senja, pada medio september 2005, di bandung ada sekitar 40 tempat berlangsungnya kegiatan literasi atau perbukuan termasuk palasari yang sudah lama dikenal publik bandung sebagai komplek pasar buku dan dan mizan learning center yang dimiliki oleh kelompok mizan group. Artinya diluar kedua tempat tersebut, ada 38 tempat yang menamakan dirinya independen berupa komunitas pecinta buku, toko buku, taman bacaan, distibutor, kelompok penulis, penerbit independen dan lainnya. Dari 38 nama tersebut ada yang kemudian selain berbasis komunitas atau perpustakaan juga berusaha menghidupi dirinya dengan berjualan buku, antara lain, Tobucil, Omuniuum, Ultimus, Rumah Malka, If Venue, toko buku Nalar, toko buku Taman Bunga, toko buku Cahaya Media, Beur-read, Senyum Selalu, Taboo, Litera, Eat & Read/er, Das Mutterland, toko buku Bamboe, toko buku Awi Apus, Zoe bookstore dan lainnya.

    Tahun itu juga media berlomba-lomba meliput maraknya pendirian toko buku ini, mulai dari liputan tentang keistimewaan masing-masing toko buku independen, kegiatan yang berlangsung ditempat tersebut, berusaha mengetahui semangat apa yang ada dibalik pendirian toko buku-toko buku ini. Penerbit atau distributor juga merasa senang karena kemudian banyak tempat bisa menjadi titik-titik penyaluran buku karena rata-rata toko buku independen itu memperoleh buku dari sistem konsinyasi yang ditawarkan penerbit atau distributor untuk kemudian perakhir bulan mereka memberikan laporan penjualan berdasarkan transaksi yang terjadi di tokonya.

    Medio 2006, pertama kali dikejutkan oleh penutupan If Venue yang dikenal sebagai tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan anak muda selain di bidang literasi juga di bidang kegiatan seni budaya. Lalu tak lama kemudian muncul berita simpang siur yang biasanya diterima lewat sms yang mengabarkan kalau toko buku ini tutup, toko buku itu
    tutup, yang punya entah kemana atau lainnya. Keadaan ini sempat direspon oleh dipan senja yang mengadakan workshop untuk para pemilik toko buku, untuk kemudian mereka bisa lebih belajar lagi tentang manajemen toko buku. Berhasil?

    Mungkin, tapi pada kenyataannya, pada saat ini, pertengahan tahun 2007, selain perpindahan tempat beberapa toko buku independen yang berusaha survive, diantaranya Tobucil dan Omuniuum yang berpindah tempat, beberapa tempat seperti Das Mutterland, Rumah Malka, toko buku Taman Bunga, Eat & Read/er dikabarkan sudah tidak aktif lagi, bahkan menurut bocoran salah seorang teman distributor, dikabarkan salah satu tempat yang baru saja tutup masih menunggak pada penerbit atau distributor.

    Mengamati perkembangan itu, kemudian dari beberapa diskusi yang terjadi setelah penutupan toko buku independen itu, memang ada perkiraan kalau mereka para pendiri atau pengelola toko buku ini kemudian memang tidak siap dengan apa yang terjadi. Ketika mereka membuka toko buku dengan bayangan bahwa modal yang diperlukan tidak perlu terlalu besar, hanya butuh tempat dan kontak penerbit atau distributor untuk konsinyasi buku, lalu toko buku akan berjalan
    sendirinya dan membuat pengelolanya makmur.

    Padahal tidak semudah itu. Toko buku juga butuh pengelolaan atau manajemen yang sama dengan semua bidang usaha. Butuh pengolahan data, butuh manajemen operasional, butuh pengelolaan dana yang ketat dan butuh pengetahuan juga kemauan mengetahui perkembangan secara terus menerus dibidang buku itu sendiri. Jangan dikira setelah toko dibuka,
    buku dipajang, lantas semua datang dengan sendirinya.

    Salah satu contoh, jika harga buku misalnya Rp. 45.000,- lalu sebagai toko buku mendapat diskon 30 %, sebesar Rp. 13.500,- kemudian kita memberi diskon 10 % pada konsumen, berarti Rp. 13.500,- dipotong Rp. 4.500,- berarti keuntungan dari satu buku adalah Rp. 9.000,- padahal untuk operasional satu bulan, selain membayar sewa dan lain-lainnya termasuk didalamnya listrik, keamanan, pegawai, dan lainnya misalnya sekitar Rp. 2.000.000,- berarti dari Rp. 9.000,- itu, kita harus bisa menjual dalam satu bulan buku sebanyak 222 eksemplar baru bisa memenuhi biaya
    operasional saja, belum untuk hidup dan kebutuhan sehari-hari.

    Tidak bermaksud untuk menurunkan semangat independen atau juga menutup kemungkinan bahwa hitung-hitungan diatas adalah hitungan kasar karena di banyak tempat kita juga bisa menemui tempat-tempat yang dibangun dengan semangat bersama dan mengusahakan segala cara agar tempat yang kita cintai itu bisa berjalan tanpa harus mengeluarkan biaya operasional yang terlalu tinggi tapi justru ini adalah satu hal yang harus kita pikirkan bersama sebelum memulai segala sesuatu, bahwa idealisme sebesar apapun, ada hal-hal yang harus dipikirkan resikonya dan sangat disayangkan jika kita sudah memulai sesuatu kemudian hal itu berhenti dan kita tidak bisa memenuhi kewajiban kita pada yang berhak atas itu. Ini harapan bahwa untuk teman-teman yang lain, yang juga punya toko buku atau berniat membuka toko buku, sebelumnya berpikiran lebih panjang dengan menghitung semua untung dan rugi, daripada kemudian hari kita mendengar kabar bahwa ada toko buku tutup dengan meninggalkan hutang kepada penerbit atau distributornya, kemudian pengelolanya juga lari entah kemana.

    Yang susah siapa ? selain distributor, ya teman-teman kita juga, yang kemungkinan besar tidak akan dipercaya lagi oleh para distributor atau penerbit untuk menjual buku-bukunya. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.

    Iit Sukmiati
    Pengelola Omuniuum

    Dimuat di Media Parahyangan
    Edisi 1/Agustus/2007

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
escort ankara escort ilan escort ankara ilan