Tagged: Articles RSS

  • blauloretta 3:17 am on August 10, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Articles, ,   

    Kondisi Manusia di Awal Abad 21 oleh Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto* 

    I. Topografi Psikokultural

    1. Cyber-Culture: jaringan komunikasi Cyber telah memungkinkan interaksi global. Kepekaan terhadap perbedaan meningkat, kesadaran atas pluralisme menajam, tendensi ke arah relativitas menguat, prinsip “keabsolutan” makin kadaluwarsa. Pola digital dalam budaya cyber juga telah memungkinkan kaburnya “fakta” dan “fiksi”. Segala yang kita tonton atau pun baca selalu bisa merupakan produk rekayasa. Kegiatan penciptaan berbagai simbol atau cerita pun menjadi cenderung “self-referential”, tak mesti bersentuhan dengan realitas pengalaman.
    2. The End of Ideology: Perseteruan ideologi politik besar telah sirna dan usang, wacana-wacana besar kini diragukan, bahkan agama-agama besar mengalami krisis tafsiran internal yang membuatnya tak lagi meyakinkan. Prinsip-prinsip pokok yang mendasari sistem-sistem simbol sentral rusak, menjadi polifonik. Akibatnya tak ada lagi sistem tunggal yang merekat pengalaman-pengalaman yang centang-perenang; tak ada lagi jembatan yang menjamin kesesuaian antara inner dan outer reality; tak ada lagi dasar konstituen kultur yang jelas, yang bisa melahirkan antusiasme, gairah, impian, ketakutan dan kebahagiaan manusia. Tak jelas lagi kapan kita mesti merasa gagal, berdosa, atau pun berhasil; untuk apa loyal, kepada kelompok mana saya perlu loyal.
    3. Kapitalisme yang ambivalen: Di satu sisi kapitalisme mengeruk untung dengan mempermainkan “basic instinct” inderawi kita (seks, makanan, barang-barang dan sensasi memabukkan) dan menjajakan kebebasan tanpa batas hingga menumpulkan hati nurani, melahirkan aneka keliaran dan kekerasan. Di sisi lain kita senang bahkan menginginkan dan memburu segala hal yang ditawarkannya juga.

    II. Aneka Teori Tentang “Kebenaran”

    Manusia zaman sekarang melihat kebenaran juga tidak lagi sederhana, lebih rumit, lebih melihat banyak sisi. Ini pun ikut menambah kebingungan.

    1. Teori “Korespondensi”: benar berarti terdapat kesesuaian antara pernyataan dari Subjek dan kenyataan dari wilayah Objek; antara omongan dan kenyataan. Kesesuaian itu dibayangkan satu banding satu, seperti bila orang bercermin.
    2. Teori “Koherensi”: benar berarti terdapat kait mengkait logis yang kokoh dan kompak antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya; tidak mengandung kontradiksi dan tidak saling menyangkal.
    3. Teori Pragmatis : benar berarti “ada manfaatnya, ada gunanya”. Tidak jadi soal apakah sesungguhnya persis sesuai dengan kenyataan ataupun mengandung kontradiksi. Perdebatan teoritis di sini tak terlampau penting. Segala konsep akan benar saja bila dalam praktik hidup kita, itu memang berguna.
    4. Teori “Performatif”: benar atau tidak itu relatif, sebab sebenarnya itu soal bagaimana kita meyakinkan, mempengaruhi dan mengubah pendapat orang lain. Substansinya relatif, sebab banyak unsur ikut berpengaruh di dalamnya.
    5. Teori “Revelasi”: Benar apabila secara otentik diwahyukan oleh pihak yang berotoritas (Tuhan).
    6. Teori “Disclosure”: Benar adalah bila membuat saya menyadari sesuatu yang tadinya saya tidak sadari/ tidak lihat. Yang biasa disebut “pencerahan”.
    7. Teori “eksistensial”: Benar artinya “sangat berarti” bagi saya. Soal nilai dan keberartian, erat terkait dengan pengalaman konkrit.

    III. Perkembangan Sikap terhadap “Kebenaran”

    1. Absolutis: benar itu satu, tak mungkin banyak.
    2. Relativis historis: Segala prinsip itu benar tidaknya tergantung situasi dan kondisi sejarah. Dulu “banyak anak banyak rejeki” itu dianggap benar, kini tidak.
    3. Relativis perspektival: Tiap kebudayaan punya cara pandang yang berbeda tentang apa yang mereka anggap benar.
    4. Relativis linguistik: Tiap bahasa mempunyai pola pikir yang spesifik, maka kebenaran pun relatif.
    5. Relativis hermeneutis: Segala hal tergantung cara melihat dan menafsirnya; segala hal adalah perkara tafsiran. Tak ada kenyataan “murni” objektif. Dunia manusia adalah dunia tafsir.
    6. Relasional: Segala hal adalah “proses”, proses adalah “relasi”. Maka cara melihat segala sesuatu sebagai “substansi” tak lagi relevan. Segala sesuatu selalu dalam proses “menjadi”, maka kebenaran mesti dilihat dalam relasi, “in between”. Siapa itu Tuhan bukan persis seperti yang ada dalam dogma-dogma, tapi Dia yang ada saat kita sembahyang atau sedang memikirkan Dia, yang tak bisa persis dirumuskan, yang ada dalam “peristiwa aku dan Dia”. Hakikat “palu” yang sesungguhnya bukanlah yang ada dalam definisi, tapi yang saya alami saat saya sedang menggenggamnya dan memukulkannya pada paku. Definisi atau dogma hanyalah pegangan awal, gambaran minimal.

    IV. Beberapa Dampak

    1. Secara individual: manusia masa kini kehilangan kerangka-kerangka dasar untuk memahami diri dan kehidupan. Banyak orang sekarang mengalami kecemasan tanpa arah, kemarahan tanpa alamat, kerinduan tanpa sasaran, keterpesonaan tanpa alasan.
    2. Secara sosial: ada berbagai kecenderungan paradoks, saling bertabrakan. Ada hiteria kosmopolitanisme, sekaligus kecenderungan neo-tribalisme; Happy Nihilism, sekaligus Depressive Nihilism; Kerjasama baur antar golongan, sekaligus toleransi tanpa peduli; Konsumerisme trendi dan fanatik, sekaligus paranoia yang marah terhadap dunia.

    * Catatan ini diunggah di laman group FB Yasraf Amir Piliang Institute (YAP Institute) oleh Alfathri Adlin. Ditampilkan kembali di laman ini atas seizin beliau.

     
  • blauloretta 1:42 pm on May 2, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Articles   

    [The Cultural Weapon] How Can the Arts Contribute to Freedom of Expression? by Mike van Graan 

    The programme for the PEN World Voices Festival taking place in New York at this time states that a key mission of the Festival “is to encourage people to speak out against censorship and condemn the suppression of freedom of expression everywhere”. The three signatories to this introduction – Laszlo Jakab Orsos, the Director of the Festival; Salman Rushdie, the chairperson of the festival steering committee and K. Anthony Appiah, the President of the PEN American Centre that hosts the Festival – further state “we firmly believe in literature as a key weapon in fighting this battle.

    South Africa celebrates 17 years of democracy this week, 17 years of the abolition of censorship boards, 17 years of freedom of expression guaranteed in the country’s Constitution which states: “everyone has the right to freedom of expression which includes a. freedom of the press and other media b. freedom to receive and impact information or ideas c. freedom of artistic creativity and d. academic freedom and freedom of scientific research.

    As part of the PEN Festival, an excerpt of my play Green Man Flashing was staged as a reading at the Martin E. Segal Theatre and was followed by a discussion.

    The play is set six weeks before South Africa’s second elections in 1999. Gabby Anderson, a one-time political activist now working in government, alleges she has been raped by her boss, a high-profile government minister with an impeccable anti-apartheid struggle record and who plays a key role in quelling violence between the African National Congress (ANC) and the Inkatha Freedom Party in his native KwaZulu Natal. If the allegations go public, it could hurt the ruling party in the elections, lead to a high number of deaths in election-related violence and compromise international investment. The ANC sends a two-person delegation to Anderson to convince her not to go through with the charges.

    (More …)

     
  • blauloretta 4:07 am on April 1, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Articles   

    [The Cultural Weapon] Development as A Destroyer of Culture by Mike van Graan 

    The Government of Uganda has decided that the Uganda National Museum – the country’s only national museum – will be demolished to make way for a 60-storey East Africa Trade Centre. The proposed “ultramodern” building – which politicians suggest will take 3-5 years to complete but which will take closer to 30 years according to civil society activists and commentators familiar with such Ugandan projects – will house the Ministry of Tourism, Trade and Industry, commercial retail outlets and office space. Oh, and two floors will be allocated to a new national museum.

    Established in 1908, the Museum is more than one-hundred years old and is thus itself a heritage site.

    This is a classic case of “development” versus “culture”, in much the same way as “development” has often destroyed the natural environment in the name of economic growth and social progress. For those who advocate “culture as a vector of development”, this particular case presents a major challenge, both philosophically and strategically.

    Increasingly, “culture as a vector of development” has come to mean the catalysing and support of the creative industries as economic drivers, as job-creation mechanisms, as generators of the financial resources that will be used to address major social and human development needs in the areas of health, education and the eradication of poverty, all important in the pursuit of the Millennium Development Goals.

    (More …)

     
  • blauloretta 9:22 am on June 8, 2010 Permalink | Reply
    Tags: Articles, , ,   

    Analitik Menggelitik Penanggulangan HIV/AIDS dan Napza di Indonesia | Oleh Ginan Koesmayadi (Rumah Cemara)* 

    Rumah Cemara,For Life,Babakan Asih,Common Room

    Sampai dengan 30 Juni 2009, laporan kasus HIV dan AIDS di Indonesia yang diterima oleh Ditjen PP & PL Departemen Kesehatan RI ada sekitar 17.699 kasus. Semuanya tersebar di sekitar 32 provinsi dan 300 Kabupaten/ Kota. Sementara itu, berdasarkan informasi yang juga dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI, pengguna napza suntik yang rentan terhadap HIV/AIDS terestimasi sebanyak 190.000 – 247.000 orang. Sebagai perbandingan, estimasi yang dikeluarkan oleh UNAIDS untuk kasus HIV/AIDS ada sekitar 270.000 kasus, dengan proyeksi estimasi pada tahun 2014 sebanyak 501.400 kasus. Terkait dengan hal ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) memproyeksikan estimasi pengguna Napza pada tahun 2009 adalah 1,9 % dari jumlah penduduk Indonesia atau sama dengan 4.750.000 orang.

    Meskipun pemerintah dan berbagai kelompok masyarakat telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi permasalahan Narkoba dan HIV/AIDS, namun sampai saat ini tampaknya inisiatif yang ada baru sampai pada tahap seremonial yang minim atensi yang maksimal. Kebanyakan program intervensi penanggulangan Narkoba dan HIV/AIDS masih berdasarkan pada pendekatan praktis dan pragmatis dalam menyelesaikan masalahnya. Apabila kita analisa lebih mendalam dengan menggunakan beberapa paradigma dan perspektif dari bermacam sudut pandang keilmuan, solusi bagi masalah Narkoba dan HIV/AIDS memerlukan beberapa tahapan intervensi yang dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.

    (More …)

     
    •  Headboard Light 7:03 pm on August 15, 2010 Permalink

      it is a very sad fact that until now, we still do not have the cure for HIV”-,

    • Bench Saw · 1:38 am on November 9, 2010 Permalink

      i think that it would still take us a long time before we can even find a cure for HIV ..

  • blauloretta 11:00 am on May 27, 2010 Permalink | Reply
    Tags: Articles, , , , , ,   

    Mengurai Seni Kontemporer Asia via Seoul | Oleh Gustaff H. Iskandar* 

    Beberapa waktu yang lalu, sebuah kompetisi seni kontemporer bertajuk Asia Art Award (A3) diselenggarakan di kota Seoul, Korea Selatan. Perhelatan ini diselenggarakan oleh CJ Culture Foundation, Alternative Space LOOP, dan Korea Sports Promotion Foundation yang juga didukung oleh beberapa institusi budaya yang berasal dari beberapa negara Eropa dan Asia Pasifik. Sejak tanggal 9 April s/d 6 Juni 2010, kompetisi ini menampilkan karya dari 6 finalis yang dipamerkan di Soma Museum of Art yang terletak di kompleks Olimpiade Seoul. Mereka terdiri dari Apichatpong Weerasethakul (TH), Ashok Sukumaran (IN), ChimPom (JP), Jompet Kuswidananto (ID), Shi Jin Song (CN) dan Yangachi (KR). Tampil sebagai pemenang pertama yang berhak mendapatkan hadiah sebesar USD. 20.000,- adalah Apichatpong Weerasethakul yang menampilkan karya video dengan judul “Phantoms of Nabua” (2009).

    Kompetisi ini digadang-gadang sebagai babak baru perkembangan seni kontemporer di wilayah Asia. Suh Jinsuk, kurator dari Alternative Space LOOP yang bertindak sebagai direktur kompetisi ini menuliskan bahwa A3 merupakan titik balik bagi perkembangan seni rupa di Asia yang sebelumnya selalu mengekor perkembangan seni kontemporer barat. Tidak tanggung-tanggung, untuk menyelenggarakan kompetisi ini panitia melibatkan sekitar 42 ahli dari Korea Selatan, Jepang, Cina, India dan beberapa negara di wilayah Asia Tenggara, termasuk kurator Agung Hujatnikajennong yang mewakili Indonesia. Mereka secara khusus diundang untuk merekomendasikan sekitar 42 seniman yang kemudian diseleksi oleh 7 orang juri utama yang diminta untuk mengusulkan 6 finalis. Adapun dewan juri yang dilibatkan dalam kompetisi ini adalah Alexandra Munroe (US), Apinan Poshyananda (TH), Carolyn Christov-Bakargiev (US), Fumio Nanjo (JP), Jonathan Watkins (UK), Kim Honghee (KR) dan Wu Hung (CN).

    (More …)

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
porno ukash canta modelleri sabo terlik escort ankara escort ilan escort ankara ilan