Open Platform for Art, Culture & ICT/Media || Bandung – Indonesia
Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon | Festival for Open Culture, Technology and Urban Ecology | 9 July - 1 Aug 2010 | Bandung - Indonesia
---------------------------------------------------
Visit the website for more information about Nu-Substance Festival 2010
---------------------------------------------------
Radio streaming program from Common Room. Server provided by Oom Buddy 8EH. Streaming engine by MuSE. Just click the blinking icon to listen to our program.
Address
Jl. Kyai Gede Utama no. 8
Bandung 40132
West Java - Indonesia
Telp./Fax.: +62.22.2503404
URL: http://commonroom.info
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
Presentasi Publik yang bertempat di CCF Bandung pada Selasa (20/7) ini diisi tiga orang pembicara yaitu Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network & Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura) dan Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris). Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Expert Meeting Nusubstance Festival 2010.
Pada pertemuan kali ini banyak dibahas tentang bagaimana menyikapi kondisi lingkungan hari ini. Tema yang diangkat adalah “Melakukan sesuatu untuk masa depan kota Bandung”. Acara yang di hadiri oleh 26 peserta baik dari dalam maupun luar negeri ini berlangsung dalam presentasi dan diskusi yang intens.
Suasana pagi yang cerah dengan sinar matahari yang hangat menjadikan suasana Expert Meeting for New Media, Civil Society, & Environmental Sustainabilitymenjadi lebih santai. Suguhan makanan ringan dan kopi serta koneksi wi-fi membuat setiap partisipan merasa nyaman. Seperti misalnya Dan McKinley, perwakilan dari Realtime Magazine, “Now I have a cup of coffee and internet connection, what else a person need?” Saat semua sudah merasa seperti di rumah, maka dialog bergizi hari ini dapat mulai dilaksanakan.
Gustaff membuka acara dan menyapa setiap partisipan yang hadir dan mulai merencanakan kegiatan harian yang akan dilaksanakan. Setiap partisipan yang hadir sangat terbuka dan bersemangat untuk saling berbagi mengenai kegiatan yang dilaksanakan di daerahnya masing-masing. Arthit (Thai Netizen Network & Creative Commons Thailand, Thailand), Vicky (ArcSpace Manchester/ Bricolabs, Inggris), dan Catherine (Tunza South East Asia Youth Environment Network, Filipina/Singapura) akan mengisi sesi presentasi pertama di CCF pada Selasa (20/7) malam di CCF.
Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mmendorong perkembangan media baru yang perkembangannya kian signifikan di lingkup Asia Tenggara. Itulah kesimpulan dari hasil pembukaan Expert Meeting yang dihadiri oleh sejumlah praktisi media, ahli teori, dan aktivis media dari Asia dan Eropa dalam rangkaian acara Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Sejumlah para ahli yang hadir dalam rapat yang dimulai pada Senin (19/7) sekitar pukul 11 siang itu dihadiri oleh Stephen Kovats (Transmediale, Jerman), Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris), Atteqa Thaver Malik (Mauj Media Collective, Pakistan), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network & Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura), Benjamin Laurent Aman (Seniman, Perancis), Marion Auburtin (Seniman, Perancis), Mirwan Andan (Ruang Rupa Jakarta, Indonesia), Sabina Santarossa dan Anupama Sekhar (Asia-Europe Foundation).
Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan tampaknya malah membuat mereka menari dengan atraktif. Mengayunkan badan ke kanan dan ke kiri, meloncat ke sana ke sini, serta menari lincah gemulai. Padahal usia para nenek tua itu hampir semuanya di atas kepala enam (malah seorang nenek mengaku berusia sekitar 127 tahun). Nyatanya kehadiran mereka membuat penonton terpana dalam kegiatan pembukaan Nu-Substance Festival 2010. Seorang pentolan band metal, Man (vokalis Jasad) tak ihwal ikut terpancing menari bersama mereka.
Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).
Dalam naskah Siksa kandang Karesian (1518M) dipaparkan pantun digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Asalnya cerita pantun seputar kisah kegagahan raja-raja di atas. Pada perkembangannya cerita pantun terus bertambah. Kita pasti tak asing dengan Lutung Kasarung, Langgasari, Ciung Wanara, Mundinglayadikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan, dll. Seni tua usianya ini melahirkan beberapa ahli pantun seperti Rd. Aria Cikondang dari Cianjur (abad 17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad 19), Uce dan Pantun Beton Wikatmana dari Bandung (awal abad 20) dan Ki Buyut Rombeng dari Bogor.
Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon
Selama beberapa tahun terakhir, ada banyak sekali lompatan yang terjadi di dalam wilayah irisan yang mempertautkan perkembangan di bidang teknologi komunikasi, media baru dan praktik budaya dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan media baru semakin mempengaruhi cara pandang kita dalam memahami kenyataan, sehingga ikut mengkonstrusi berbagai bentuk nilai dan etika yang kemudian beroperasi di tengah-tengah masyarakat.
Di level tertentu, perkembangan ini dapat dikatakan sebagai bagian dari konstelasi baru yang berkembang melalui berbagai bentuk inovasi dan inisiatif yang menggejala di tingkat lokal maupun internasional. Bertumbuhnya akses, keterbukaan dan konektifitas yang dimungkinkan melalui penggunaan teknologi komunikasi dan media baru telah ikut membentuk wajah peradaban dunia secara global. Dalam perkembangannya, hal ini semakin meleburkan sekat teritori politik dan budaya melalui serangkaian pola interaksi sosial dan ekonomi yang baru.
Meskipun hadir dengan sosok yang samar-samar, kemunculan kondisi baru yang berkembang saat ini setidaknya telah ikut mewarnai sebuah era yang ditandai dengan kehadiran berbagai bentuk situasi turbulensi yang melahirkan dinamika, tantangan dan riak perubahan di tengah-tengah masyarakat luas. Di satu sisi, hal ini kemudian mendorong lahirnya rasa ingin tahu dan antusiasme dalam menyambut berbagai prospek, aransemen dan spekulasi mengenai masa depan yang baru. Namun begitu, tampaknya pada saat yang bersamaan kondisi ini juga ikut menghadirkan berbagai bentuk kebingungan, keraguan dan skeptisisme yang mendalam di kalangan masyarakat luas.
“Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine”[1]
(Tim Jordan)
Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, provider swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai digunakan publik secara luas pada tahun 1995. Pada masa itu penggunaan internet belum terlalu marak karena biaya pemasangan dan kepemilikan jaringan masih mahal dan membutuhkan sambungan telepon pribadi untuk menyambung internet.[2]
Keberadaan internet ternyata mampu menjadi media alternatif bagi masyarakat untuk mencari dan menyebarkan informasi, yang pada masa itu penyebarannya masih sangat dibatasi dan diatur sepenuhnya oleh Negara. Internet seakan menjadi angin segar yang menggugah masyarakat untuk lebih berani dan proaktif. Terbukti, internet menjadi salah satu alat untuk menggulingkan Soeharto dan tatanan Orde Baru yang dibangunnya.[3] Caranya?
Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.
Anytime, everywhere, anywhere. Itulah sifat teknologi di masa kini yang akan selalu siap kapanpun, dimana pun, dan bagi siapapun yang membutuhkannya. Teknologi memberikan kemudahan, kenikmatan, kesenangan, sekaligus kesementaraan, kemewahan, dan hampir segalanya bagi kita ketika melalui dan memaknai hidup. Akhirnya: mereka menguasai kita.
Dengan segala kemudahan dan kenikmatan yang diberikan, teknologi layaknya mata uang koin bersisi dua, selalu menempel dan membayangi sisi lainnya. Teknologi juga mirip seperti selembar kertas HVS yang pada salah satu sisinya diisi tulisan dan sisi satunya dibiarkan kosong: meng-ada-kan dan men-(t)iada-kan. Akhirnya: mereka mengakar, menggurita dan mengeruk; mengubah pola perilaku dan ritme hidup kita.
“Baudrillard’s hyperreality is not a map at all, but a participative process that may shape us, or may allow us to shape our surroundings. There is no other controller. Governance is our own hands but is set to mass agendas. The cybernetic loop has closed on postcapitalist society and cyberspace.”[1]
(Andrea Keay, Hiperreality and Cyberspace)
Dunia dalam dunia.[2] Itulah posisi internet di dunia ini. Dunia yang ada, hadir, dan bersanding secara paralel dengan dunia nyata. Dunia yang bukan lagi sebuah keberadaan fisik, namun sebuah ruang patafisika. Ia tidak dapat diraba, namun hadir; tidak dapat di sentuh, namun ada; seperti yang dijelaskan oleh Baudrillard (diungkapkan oleh Yasraf Amir Piliang) dalam uraian berikut:
“Ia adalah sesuatu di luar ada, dalam pengertian sebuah kategori yang melampaui, baik fisika maupun metafisika. Dalam pengertian, ia bukan fenomena fisik, bukan juga metafisik, ia adalah patafisika (phataphysics). Ia adalah sesuatu yang menfakta, dalam pengertian bisa dirasakan, dilihat, diraba, didengar, tetapi tidak nyata (real), dalam pengertian tidak mengikuti hukum-hukum fisika Newtonian, akan tetapi tidak juga bersifat metafisik, oleh karena ia dapat dicapai oleh kapasitas intuisi, bahkan indra manusia.”[3]
Itulah (ciri-ciri) internet. Lalu, bila aku yang mengatakan, ia hanya berupa digit-digit yang mereplikasi keberadaan bentuk fisik agar dapat hadir secara bersamaan, di waktu yang sama, namun terpisah oleh jarak, meskipun kemudian keberadaan jarak menjadi irelevan karena membiasnya batasan antara ruang. Dalam hal ini seakan kita semua berada pada satu titik yang sama untuk bisa saling berkomunikasi, bercanda, bercumbu, atau sekedar menjelajah dunia. Semuanya menjadi bertumpuk, namun tidak meluas dan tidak meninggi; menyalahi aturan matematis akan keruangan dan dimensi; mengubah struktur penunjang akan bentuk fisik dunia dan isiannya.
FIXER | Pameran Ruang Alternatif & Komunitas Seni Rupa di Indonesia | North Art Space Jakarta, 19 – 28 Juni 2010
Pameran ini menampilkan sejumlah organisasi seni yang dikelola oleh seniman, yang selama beberapa tahun terakhir berhasil bertahan dan berperan dalam perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Organisasi seniman dalam pameran ini setidaknya mempunyai dua kecenderungan praktik sekaligus. Pertama adalah kerja produksi artistik dimana organisasi/ komunitas tersebut memproduksi karya artistik secara bersama maupun individu sebagai sebuah pernyataan artistik, yang kedua adalah organisasi tersebut memiliki kesadaran publik dengan mengelola, baik secara mandiri maupun kolaborasi, kegiatan untuk publik luas seperti pameran, lokakarya, festival, diskusi, penerbitan, pemutaran film/ video, website, pengarsipan dan penelitian.
Peserta
Akademi Samali (Jakarta), Asbestos Art Space (Bandung), Atap Alis (Jakarta), BYAR Creative Industry (Semarang), Common Room Networks Foundation (Bandung), Forum Lenteng (Jakarta), Gardu Unik (Cirebon), House of Natural Fiber (Yogyakarta), Jatiwangi Art Factory (Jatiwangi), Kampung Segart (Jakarta), Malang Meeting Point (Malang), Maros Visual Culture Initiative (Jakarta), Performance Club (Yogyakarta), ruangrupa (Jakarta), Ruang Akal (Makassar), Ruang Mes56 (Yogyakarta), Sarueh (Padang Panjang), Serrum (Jakarta), Tembok Bomber (Jakarta), Urbanspace (Surabaya), & Video Lab (Bandung).
Kurator
Ade Darmawan & Rifky Effendi
Pembukaan
Jumat, 18 Juni 2010
Dimeriahkan oleh
Milinka Radisic, DJ Asung, White Shoes & the Couple Company, Jalan Surabaya etc.