Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004)

Selasa, 13 Februari 2007, Pk. 15.00

"You can erase someone from your mind, getting them out of your heart, is another story" Kolaborasi kedua Charlie Kaufman (penulis cerita) dan Michael Gondry (sutradara), setelah film pertama mereka Human Nature. Film dimana Jim Carey dan Kate Winslet beradu akting dengan serius. Jika berharap Carey, muncul dengan kekonyolan karakter, film ini bukan tentang itu.

Dengan cara bercerita Charlie Kaufman yang khas dan eksperimentasi Gondry dalam penggarapan video musik, dan tentu saja pemilihan Jim Carey sebagai bintang utamanya, dan perpaduan ini jadinya dasyat. Kaufman selama ini senang sekali mengaduk-ngaduk ingatan tokoh-tokohnya, sehingga batas-batas pengalaman nyata dan imajinasi menjadi kabur.

Tentunya, sesuai dengan quote yang aku tulis di atas, film ini tentunya berkisah tentang proses orang-orang yang saling mencintai, mengingat kenangan yang menyengkan dan melupakan hal-hal yang menyakitkan. Tapi bisakah kenangan-kenangan buruk itu benar-benar di hapus? Bagaimana proses mengingat dan menghapus kenangan-kenangan itu dan segala kemungkinan-kemungkinannya, itulah yang dieksplorasi oleh Gondy dan Kaufman. (tarlen)

Labels:

Hiding and Seeking (2004)

Rabu, 14 Februari 2007, Pk. 15:00

Sutradara Menachem Daum and Oren Rudavsky. Tentang tiga generasi dalam keluarga yahudi ortodok naratornya adalah generasi kedua. Dia seperti jadi jembatan antara bapaknya yang mengalami holocaust dan anaknya yang tidak lagi mempersoalkan mimpi buruk sejarah itu karena buat anaknya ga kebayang aja gimana rasanya holocaust. Nah generasi kedua kemudian menjembatani pengalaman itu. Dia mengajak anaknya untuk melacak jejak kakeknya (generasi pertama) ke polandia, juga mengunjungi keluarga yang menyelamatkan kakeknya itu dari kejaran tentara NAZI, dengan cara menyembunyikan kakeknya dan dua sodaranya yang lain di sebuah lubang yang tertutup jerami. Yang menarik dari film ini kemudian adalah proses transformasi pengalaman sejarah antara generasi pertama(yang mengalami langsung) dan generasi ketiga yang dibesarkan oleh mitos sejarah. Bagaimana kemudian generasi ketiga setelah proses transforamasi itu terjadi, justru bisa melihat sisi lain dari mimpi buruk sejarah. Kemudan sisi gelap itu bisa dilihat lebih positif dan sejarah kemudian memberikan tawaran untuk untuk berdamai dengan mimpi buruk itu. Apalagi dalam konteks bangsa yahudi, setidaknya, film ini bisa memberikan pandangan lain untuk menyembuhkan luka-luka sejarah tanpa membuat luka baru. Seperti film promises.

Selama ini agama (dan kemudian Tuhan) selalu disalahkan atas mimpi-mimpi buruk sejarah. Agama menjadi atas nama masalah peradaban. Dan ketika orang menghadapi jalan buntu dengan agama, orang lupa, bahwa mereka bisa menggali sisi yang lain untuk melihat jalan keluarnya. Kupikir ini adalah tantangan peradaban kita sekaran ini. Kupikir mungkin jawababannya sama seperti yang dibilang pi patel dalam life of pi, ketika tiga pemuka agama bersitegang mempertanyakan kenapa pi menjalankan ritual 3 agama sekaligu (islam, Kristen, hindu) pi membarikan jawaban yang sederhana tapi kupikir sangat menyetuh esensi dari persoalannya: itu semua karena aku ingin mengasihi Tuhan. Aku sendiri sejauh ini merasa buntu dengan pengejawantahan agama dalam kehidupan sehari-hari karena aku sulit menangkap esensinya, tapi aku percaya agama bisa menawarkan banyak hal yang aku tidak bayangkan sebelumnya dan itu semua karena untuk memenuhi kebutuhan hakiki manusia untuk berTuhan. Kenapa aku sebut itu kebutuhan hakiki, secara jujur, persoalan yang paling menggelisahkan umat manusia adalah ketika dia mempertanyakan dirinya, mempertanyakan keberadaannya di dunia ini, dan persoalan inilah yang kemudian membawa setiap individu mengenali Tuhannya. Paham atau tidak terhadap keberadaan Tuhan, kupikir tergantung dari kesabaran individu untuk mau memahami hidup yang dia jalani.(tarlen)

(review dari blogku yang lama, 25 Januari 2005)

Labels:

'11'09"01 (2002)

Kamis, 15 Februari 2007, Pk. 15.00

Sebuah kompilasi film pendek yang dibuat untuk merespon peristiwa 11 september 2001 yang dibuat untuk memperingati setahun tragedi 9/11. Ada Youssef Chahine/Mesir, Amos Gitai/Israel, Alejandro Gonzales Inarritu/Meksiko, Paul Laverty/UK, Sabrina Dhawan/India, Claude Lelouch/Perancis, ken Loach/UK, Samira Makhmalbaf/Iran, Idrissa Oeudraogo/Bukrina Faso, Sean pean/USA, Marie-Jose Sanselme/Israel, Danis Tanovic/Bosnia Herzegovina, daisuke Tengan/Jepang, Pierre Uyterrhoeven/Perancis, Vladimir Vega/UK), masing-masing bikin film berdurasi 11 menit. Banyak hal menarik di kompilasi ini, terutama bagaimana masing-masing sutradara dari berbagai negara itu, merespon 9/11 dengan perspektif dan pandangan dunianya masing-masing.

Beberapa diantaranya menurutku cukup kritis melihat peristiwa ini. Karya Amos Gitai dari Israel salah satunya. Amos memotret 9/11 lewat sebuah peristiwa meledaknya bom mobil di pasar loak, di salah satu sudut kota Jerusalem. Polisi, ambulance, masyarakat sekitar tampak heboh dengan kejadian itu. Seorang reporter televisi berusaha meliput peristiwa itu secara langsung. Namun tak ada satupun yang orang di tempat kejian yang bisa memberikan keterangan dengan pasti. Sampai dia mulai melantur tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di tangal 11 September: "on sept 11th, 1777, washington was taken by the english, on sept 11th 1855 French took malakoff, on sept 11th 1944, Roselvet and churchill met and devided nazi germany into three parts: British, American, Russian. On Spet 11th, 1997. Lighting killed 19 people in India.." dan ketika editornya bilang, bahwa si reporter tak bisa on air, karena sesuatu yang serius tengah terjadi di New York, si reporter marah-marah dan ga mau tau seiring dengan kehebohan di sudut pasar loak yang berangsur-angsur normal kembali. Yeah, kita bisa menafsir banyak hal disitu. Bagiku pribadi, itu adalah cerminan bagaimana masyarakat Israel yang selama ini selalu jadi anak emas barat, ga ambil pusing dengan apa yang terjadi pada 11 september 2001.

Film lainnya yang cukup reflektif dan menampar pemerintah Amerika sendiri adalah karya Sean Pean (USA). Aktor gaek ini membuat sebuah film pendek yang ga ngomong sepatah katapun tentang peristiwa itu. Dia ngomong pake bahasa visual yang sangat kena dan nampar. Ada satu kata yang kena banget "you need a light to wake up.." film karyanya ini, sempat dilarang pemutarannya di Amerika oleh pemerintahan Bush, karena dianggap tidak sensitif terhadap perasaan rakyat AS pada saat itu.

Film yang banyak disalah pahami, adalah karya Alejandro Gonzales Innarittu (my favorite director). kenapa aku bilang disalah pahami, karena dari beberapa screening, penonton selalu mengira kalo film itu rusak.. karena memang gambarnya tv yang antenenya ga jelas gitu.. jadi gambarnya cuma semut dan ada kilasan-kilasan gambar dari peristiwa 9/11 itu. Ga ada teks atau narator disitu. Tapi menurutku, karyanya Innarittu ini yang paling sublim merespon peristiwa 9/11 ini.

Sisanya, silahkan tonton dan bandingkan, bagaimana masing-masing merespon dan mengingat peristiwa itu.(tarlen)

Labels:

Klab Desain: Presentasi Desain Grafis Dua Warna

Pertemuan Klab Desain: Presentasi Grafis Dua Warna "Menyiasati Keterbatasan Anggaran dan Memaksimalkan Kreativitas"
Presenter: R.E. Hartanto (Creative Departement Common Room Networks) dan Tarlen H. (Communication Departement CRN)

Kamis, 14 September 2006 Pk. 18.30 - 20.00 Tempat Common Room Jl. Kyai Gede Utama 8 Bandung Tel. 022 2503404

***




Budget Design


Oleh: R.E. Hartanto (Creative Department Common Room Networks)

Tulisan ini dibuat untuk materi presentasi di acara Klab Desain, yang akan kembali aktif di Common Room pada hari Kamis, 14 September 2006. Bagi yang berminat untuk hadir, silakan datang ke Jl. Kyai Gede Utama 8, Bandung. Nanti waktunya saya beri tahu. Sebagai tambahan, pameran sehari “Seni Bandung Masa Kini 2006”, karena animo masyarakat yang tinggi dan untuk memberi kesempatan pada mereka yang tidak sempat hadir pada hari Minggu, 10 September 2006, diteruskan untuk dibuka. Jadi dengan hadir pada acara Klab Desain hari Kamis nanti, Anda juga bisa melihat-lihat pameran “Seni Bandung Masa Kini 2006”.


Dirancang sebagai materi presentasi pertama setelah sekian lama Klab Desain tidak aktif, Common Room memulai dengan sebuah presentasi tentang desain cetak dua warna, yang selama ini menjadi karakteristik materi publikasi cetak yang dibuat setiap bulan. Common Room mengembangkan desain cetak dua warna dengan alasan ekonomis, supaya murah sehingga dana yang tersisa bisa digunakan untuk mencetak lebih banyak karena kebutuhan publikasi Common Room tidak kecil.

Bersamaan dengan itu, saya pribadi, yang bekerja sebagai freelance graphic designer di sebuah perusahaan penerbitan di Yogyakarta, membuat obyek-obyek vektor dalam aplikasi rancangan sampul yang saya buat. Rancangan vektor yang saya buat tepat untuk diaplikasikan dua warna. Bila saya berkesempatan untuk merancang publikasi Common Room, biasanya saya menggunakan rancangan vektor dalam aplikasi dua warna. Selain saya, Tarlen dan Bram, adalah perancang-perancang grafis di Common Room. Tulisan ini akan memuat karya kami semua.

Common Room tidak punya sponsor yang mendanai publikasinya, sehingga dana yang ada harus dihemat. Kami nggak mampu setiap kali mencetak full-color dan desain cetak dua warna betul-betul salah satu solusinya. Selain itu, kami juga menggunakan kertas yang berharga lebih murah, membuat ukuran cetak berdasarkan ukuran bahan kertas supaya efisien dan tidak menggunakan finishing apapun di atas hasil cetakan. Publikasi yang dibuat oleh Common Room kebanyakan benar-benar mementingkan informasi yang harus tersampaikan, masalah lain diantisipasi dengan mengoptimalisasi desain terkait dengan metoda cetaknya.

Saya dan teman-teman percaya, biaya produksi yang murah bisa tetap menghasilkan hasil cetakan yang, bukan hanya informasinya jelas dibaca dan mudah dimengerti, namun juga enak dilihat. Ini masalah desain dan tata letak, pada prinsipnya, rancangan grafis yang saya buat diusahakan supaya bisa menyusun komponen-komponennya secara seimbang. Sudah, itu saja. Mengusahakan supaya rancangan grafis bisa memasukkan semua informasi yang dibutuhkan dalam tempat yang terbatas, sekaligus membuat perwajahan menjadi cantik, hanya dalam dua komposisi warna dengan bahan yang cocok, adalah tantangannya.


Publikasi adalah penting bagi semua orang. Bahkan tempat kost yang perlu diisi pun butuh publikasi. Masalahnya, untuk publikasi yang fungsinya bukan hanya menyampaikan informasi, namun juga menggambarkan citra diri/kelompok kita, kita perlu membuat publikasi dengan ‘gaya’. Rancangan grafis yang bisa menarik perhatian orang bila dijajarkan dengan berbagai macam bentuk publikasi lain; yang informasinya jelas terbaca dan membantu; yang enak dilihat dan bila dijajarkan dari edisi ke edisi sehingga bisa dijadikan sebuah graphic showcase yang unik dan berkarakter; itulah yang kita butuhkan. =)

Desain dua warna adalah sebuah komposisi tanpa batas. Ada banyak sekali kombinasi yang bisa dieksplorasi. Namun kasus umum untuk publikasi yang menampilkan teks untuk dibaca, kombinasinya seringkali mengharuskan kita menggunakan warna dengan gelap-terang yang cukup kontras. Tidak bijaksana mencampurkan dua jenis warna gelap, atau dua jenis warna terang pada saat yang bersamaan karena tulisan akan menjadi lebih sulit dibaca.

Bagi yang belum mengenal dunia cetak, desain full color menggunakan 4 buah plat cetak dengan komposisi warna CMYK, cyan, magenta, yellow, black. Semua warna yang ingin ditampilkan diterjemahkan sebagai komposisi CMYK dalam kepekatan yang berbeda-beda. Kombinasi empat plat dengan variasi kepekatan yang ada menghasilkan warna yang diinginkan. Mesin cetak modern bahkan memiliki lebih dari 4 warna sehingga hasil cetakan bisa memiliki kualitas gambar yang lebih vivid lagi. Komposisi desain dua warna hanya menggunakan dua plat warna saja. Kepekatan bisa diatur dari 100% hingga 0% untuk menghasilkan gradasi warna dari gelap ke terang. Dalam komposisi dua warna ini, saya memilih warna yang cocok, kemudian menurunkan kepekatan tiap warna secara gradual, dan menjadikannya palette saya. Setiap komponen seperti teks dan gambar akan diberi warna apa saja yang ada dalam palette tersebut dan jangan yang lain. Desain jadi dipindahkan ke film dan plat, siap untuk dicetak. Sesudah itu, apa yang saya lakukan adalah memilih dua carik contoh warna dari color guide. Percetakan akan mencari warna yang paling dekat dengan contoh warna itu.

Efisien berarti tidak membuang-buang bahan. Seringkali ukuran produk publikasi Common Room ditentukan oleh ukuran kertas yang belum dipotong. Kami selalu mengusahakan potongan yang sesedikit mungkin membuang bahan kertas. Bila potongan menyisakan tempat, kami selalu menggunakannya untuk mencetak benda-benda kecil seperti kartu dan pembatas buku yang bisa dibagikan di Tobucil atau di tempat lain. Tidak ada yang tersisa! =)

Di Bandung, kami menggunakan percetakan kecil yang harganya murah, dan bisa temenan sama boss sekaligus pekerjanya. Tentu saja, kualitasnya tidak konsisten, kadang-kadang itu bisa diterima kalau kita mengerjakan sebuah produksi murah meriah. Tetapi, menggunakan jasa percetakan yang sama berkali-kali, membicarakan setiap kekurangan dalam kasus cetak terakhir dan berusaha mencari solusinya, termasuk bersama-sama bereksperimen dengan bahan, akan perlahan-lahan meningkatkan kualitas cetak. Pada akhirnya, kita akan mendapatkan rumusan, bahan kertas BC yang tidak mahal cocok dicetak dengan warna relatif terang, misalnya. Dan color guide membuat semuanya mudah karena kita benar-benar berpatokan pada warna tersebut, distorsi warna yang terlalu jauh akan mudah terlihat. Percetakan tidak berani mengambil resiko cetak ulang atas tanggungan mereka karena distorsi warna yang terlalu jauh dan biasanya mereka mampu mengatasi masalah ini setelah beberapa kali melakukan kesalahan.

Demikianlah sekilas mengenai budget design. Membuat budget design berarti harus mau blasak-blusuk masuk pasar kertas, pergi ke percetakan yang panas dan macet, mempelajari karakter bahan dan mau menerima kegagalan dalam bereksperimen serta mampu mendapatkan solusinya. Sebenarnya, dalam prosesnya kita bisa banyak belajar. Karena kita berusaha untuk meningkatkan kualitas, kita juga berkomunikasi langsung dan mencari solusi bersama orang-orang produksi. Mereka juga belajar. Sebenarnya, beberapa dari mereka adalah orang-orang yang antusias dengan pekerjaannya dan menarik untuk diajak bekerja sama.

Budget design cocok untuk diterapkan di lembaga kecil (atau bahkan kelas personal) yang membutuhkan sebuah metoda cetak yang murah meriah tapi bagus, terutama bagi yang akan mencetak secara berkala. Metoda ini cocok untuk membuat zine, buletin, poster, flyer, leaflet, bahkan buku sekalipun. Untuk Anda yang punya kebutuhan serupa, silakan mempertimbangkan untuk menggunakan metoda budget design. ***

Tips Membuat Publikasi yang Efektif
Oleh: tarlen (Communication Dept. Common Room Networks)

1. Kenali target audiencemu.
Sebelum menentukan strategi visual seperti apa yang akan dipakai, tentukan dulu, siapa sasaran yang akan dituju.

2. Hitung, berapa uang yang kamu miliki. Untuk kegiatan berbiaya rendah, lebih baik jika kita menghitung terlebih berapa besar uang yang kita miliki untuk memproduksi materi publikasi. Akan lebih mudah, jika strategi disusun berdasarkan kemampuan keuangan kita.

3. Setelah menentukan target audience dan biaya yang kita miliki, baru menentukan strategi visual seperti apa yang akan kita lakukan. Misalnya: format publikasi yang akan kita buat (mana yang lebih efektif, membuat poster atau flyer?), berapa eksemplar yang akan kita produksi? desain grafis seperti apa yang akan digunakan yang mencerminkan kegiatan atau organisasi kita? kemana saja distribusi materi publikasi itu akan kita sebarkan? bahan seperti apa yang akan kita gunakan?

4. Redaksional. Perhatikan informasi apa saja yang akan kita sampaikan. Seringkali terlalu banyak informasi yang ingin disampaikan, malah membuat materi publikasi yang kita cetak menjadi kurang komunikatif. Untuk itu, setelah menentukan format materi publikasi yang akan kita buat. Untuk poster misalnya, ada tagline atau kalimat kunci yang bisa kita ekspos atau tekankan untuk membentuk image acara/tempat yang kita buat, karena poster punya ukuran lebih besar dari materi publikasi lain misalnya flyer. Untuk flyer, karena ukurannya lebih kecil, dan orang bisa membawa flyer, informasi yang ditulis bisa lebih detail.

5. Jangan lupa menulis waktu kegiatan, tempat, alamat dan kontak person kegiatan yang bisa dihubungi. Banyak publikasi yang seringkali lupa mencantumkan informasi yang sangat penting ini, padahal materi publikasinya sudah di buat sedemikian lux dan mahal. Kelalaian ini fatal akibatnya, karena membuat publikasi menjadi kurang efektif. Cantumkan kontak peson dan nomor kontak yang memang bisa dihubungi dan bisa memberikan informasi ketika orang ingin mengetahui lebih banyak kegiatan yang akan diselenggarakan. Jangan mencantumkan nomer kontak yang tidak dapat dihubungi.

6. Hindari penggunaan jenis font lebih dari 3 macam dalam satu publikasi. Penggunaan font yang terlalu beraneka ragam, membuat informasi yang disampaikan menjadi kurang fokus.

7. Perlu diketahui kebiasaan penempelan poster di daerahmu. Misalnya, di Bandung, ketika kamu mengira, menempelkan poster di malam hari adalah waktu yang tepat, ternyata pikiran itu salah. Karena keesokan harinya, poster yang telah kamu tempel dan sebarkan, sudah tertutup oleh poster yang lain. Ada baiknya jika kamu mengetahui jam brapa kira-kira penempelan poster yang tepat.

8. Selain waktu penempelan poster, titik distribusi juga mesti kamu perhatikan. Jika perlu, kamu sediakan kolom khusus untuk menyebutkan titik-titik distribusi publikasi yang kamu buat. Setidaknya ketika nama outlet distribusi kamu sebutkan, akan terjadi kerjasama yang saling menguntungkan juga antara kegiatan dan outlet yang membantu menyebarkan materi publikasi itu.
"Kami, Jogja Kita"
Adakah pemaknaan yang "Jogja" atas Jogja hari ini?

Ketika Jogja sedang dirundung kepedihan. Ketika Jogja sedang karam. Ketika bencana alam meluluhlantakkan segalanya.. Memberi makna atas harapan, semangat juang, dan solidaritas yang menggugah inspirasi untuk bangkit. Melawan kesedihan, trauma, gelisah, dan suasana membingungkan. Mentransformasikan energi negatif menjadi daya positif...

"Kami, Jogja Kita" adalah sebuah program film karya para pembuat film dari Yogyakarta yang mengangkat tema tentang semangat juang, solidaritas serta usaha melawan kesedihan, trauma, kegelisahan, dan suasana yang membingungkan. Sejak pengumumannya pertama kali pada awal Juni 2006, fasilitator program ini telah memperoleh 11 film yang masuk dalam kurasi program. Seluruh film tersebut merupakan karya hasil jerih payah kawan-kawan para pembuat film di Yogyakarta yang juga terlibat dalam berbagai proses penanganan korban pasca bencana gempa.

informasi lebih lanjut dan program acara klik: klab nonton

Program ini terselenggara atas kerjasama: Konfiden dan Klab Nonton Common Room

Latest Comments



Site Statistic

Silktide SiteScore for this website

Creative Commons License

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com