<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 05:07:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>TEDx Bandung Ngariung &#124; Seize Our Space &#124; 22 Januari 2012</title>
		<link>http://commonroom.info/2012/tedx-bandung-ngariung-seize-our-space-22-januari-2012/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2012/tedx-bandung-ngariung-seize-our-space-22-januari-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 08:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2444</guid>
		<description><![CDATA[TEDx Bandung Ngariung 22 Januari 2012 &#124; 15.00 &#8211; 18.00 WIB Common Room &#124; Jl. Kyai Gede Utama no.8, Bandung Pembicara: Prananda Lutfiansyah Malasan (KEUKEN &#124; The Spice of Spaces) &#38; Reza Ramadhan Kurniawan (Komunitas ALEUT) &#124; Info Twitter: @TEDxBandung &#124; Facebook: fb.com/TEDxBandung]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2449" title="TEDXngariung" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2012/01/TEDXngariung1.jpg" alt="" width="640" height="529" /></p>
<p><strong>TEDx Bandung Ngariung</strong><br />
22 Januari 2012 | 15.00 &#8211; 18.00 WIB<br />
Common Room | Jl. Kyai Gede Utama no.8, Bandung<br />
Pembicara: Prananda Lutfiansyah Malasan (KEUKEN | The Spice of Spaces) &amp; Reza Ramadhan Kurniawan (Komunitas ALEUT) | Info Twitter: @TEDxBandung | Facebook: fb.com/TEDxBandung</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2012/tedx-bandung-ngariung-seize-our-space-22-januari-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#ScratchTheDay &#124; 1ON1 BBOY BATTLE &#124; Weekly every Thursday, started at 19.00 – end</title>
		<link>http://commonroom.info/2012/scratchtheday-1on1-bboy-battle/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2012/scratchtheday-1on1-bboy-battle/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 09:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2453</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2454" title="cr_03" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2012/01/cr_03.jpg" alt="" width="640" height="827" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2012/scratchtheday-1on1-bboy-battle/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>52 Wednesdays &#124; Pameran Foto oleh Lioni Beatrik &#124; 14 – 21 Januari 2012</title>
		<link>http://commonroom.info/2012/52-wednesday-oleh-lioni/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2012/52-wednesday-oleh-lioni/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 07:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Art Projects]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2428</guid>
		<description><![CDATA[52 Wednesdays &#124; Pameran Foto oleh Lioni Beatrik &#124; 14 &#8211; 21 Januari 2012 Pembukaan: Sabtu, 14 Januari 2012. 17.00 &#8211; end Common Room Jl. Kyai Gede Utama no 8 Bandung Featuring Stand up Tragedy &#38; Live Music bersama Rayhan Sudrajat, Raquel, Pepengtea, Deluciva, Ajie and Alex Lioni Beatrik Lioni, perempuan kelahiran 1980 ini sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2429" title="lioni_eflyer_web" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2012/01/lioni_eflyer_web.jpg" alt="" width="640" height="407" /></p>
<p><strong>52 Wednesdays | Pameran Foto oleh Lioni Beatrik | 14 &#8211; 21 Januari 2012</strong><br />
Pembukaan: Sabtu, 14 Januari 2012. 17.00 &#8211; end<br />
Common Room<br />
Jl. Kyai Gede Utama no 8 Bandung</p>
<p><em>Featuring Stand up Tragedy &amp; Live Music bersama Rayhan Sudrajat, Raquel, Pepengtea, Deluciva, Ajie and Alex</em></p>
<p><strong>Lioni Beatrik</strong><br />
Lioni, perempuan kelahiran 1980 ini sangat bergairah akan hidup dan kehidupan—bidang yang membawanya ke bidang humanitarian. Ia adalah lulusan Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad, dan sempat pula belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Selain humanisme, Lioni juga memiliki minat tinggi terhadap seni rupa. Ia pernah bekerja di sebuah galeri seni rupa di Jakarta. Sebelum 52 Wednesdays, ia juga pernah membuat beberapa proyek seni yang diantaranya adalah My Funeral, Funeral of Caste, Theater of the Oppressed, Playback Theater dan Kappaletta the singing telegram. Proyek fotografi ini merupakan proyek seni Lioni yang berlangsung paling lama, satu tahun dan kemungkinan akan terus berjalan.</p>
<p><span id="more-2428"></span></p>
<p><strong>[Pengantar]</strong></p>
<p><strong>Awalnya, Hanya Rabu untuk Alex</strong><br />
Satu tahun yang lalu, Lioni Beatrik jatuh cinta dan dibuat patah hati oleh seorang pemuda. Dalam adukan berbagai macam perasaan; sedih, bingung, penasaran, dan rindu, Lioni membuat satu foto dan mengirimkannya kepada sang pemuda lewat surat elektronik. Fotonya sederhana: Rex, tokoh terkenal dari film Toys Story, “berpose” dengan selembar post-it yang bertuliskan “I miss you” yang tertempel di dadanya.</p>
<p>Foto pertama itu ia kirimkan pada hari Rabu—yang setelah ditelusuri ulang, merupakan hari yang sama ketika Lioni menyatakan cintanya. Ternyata memotret Rex dan mengirimkan foto itu bisa menanggulangi rindu. Sekejap, Lioni tersembuhkan dari rasa sedih. Maka memotret dan mengirimkan satu foto Rex tiap Rabu menjadi hal yang rutin ia lakukan—sampai Rabu ke 52.</p>
<p><strong>Jejak Visual dan Sarana Terapi</strong><br />
Berekspresi menggunakan fotografi bukanlah barang baru. Kamera sudah jamak digunakan sebagian besar orang, dan fotografi pun telah menjalankan beragam fungsinya di masyarakat selama lebih dari dua abad. Begitu pula ketika fotografi digunakan sebagai medium ekspresi dan terapi. Sesungguhnya, pada tahun-tahun belakangan, banyak terapis yang telah menggunakan fotografi sebagai alat untuk memahami hubungan patologis dan untuk memfasilitasi proses mengekspresikan perasaan. Persentuhan dengan sisi kreatif dianggap dapat membuat seseorang berelasi erat dengan perasaan dan pemikiran yang berada di alam bawah sadar—dan ketika mempraktikkannya, ia dianggap dapat mencapai titik yang mendekati tingkat meditatif sehingga level stres pun dapat direduksi.</p>
<p>Begitu pula dengan praktik fotografi. Logikanya mungkin sesederhana ini: memikirkan foto seperti apa yang akan dikirimkan tiap pekan bisa membuat ia sebentar saja memikirkan hal lain selain perasaannya yang tak berbalas itu. Lioni memang masih memikirkan sang pemuda, hanya saja bukan dengan cara yang bisa semakin melukai perasaannya. Tiap hari, ada saja beberapa jam yang ia habiskan untuk merancang kelanjutan “cerita” Rex.</p>
<p>Rangkaian foto ini ditutup dengan foto yang menampakkan Rex—agak membelakangi kamera, dan di tubuhnya tertempel selembar post-it yang bertuliskan, “Have you been receiving my emails?”. Karena pada akhirnya, memang hanya pertanyaan itu yang ingin Lioni utarakan untuk memberi “akhir” pada tahun dan perasaan yang membuatnya berpikir banyak tentang konsep hubungan romantis dan perasaan yang mengikuti. Foto dengan pertanyaan polos khas Rex ini juga menjadi karya penutup yang jenaka dari seluruh rangkaian foto—dengan visual yang menyerupai foto yang pertama Lioni buat.</p>
<p><strong>Di Balik Gambar</strong><br />
Oleh karena itu, perjalanan Rex yang kita jumpai, adalah juga perjalanan Lioni—baik secara fisik maupun mental yang memperlihatkan perkembangan dan perubahan rasanya terhadap seseorang. Melalui proyek fotografi ini, Lioni melakukan terapi kepada dirinya sendiri dalam menghadapi patah hati: ada pemikiran, diskusi dan “penyadaran” yang muncul selama ia menjalani proyek ini. Ada kalanya ia bersemangat memotret. Ada kalanya pula ia benci seluruh kegiatan ini. Ia merasa telah menteror si pemuda dengan kiriman foto setiap Rabu: menjadi pihak yang menyalahgunakan perasaan dan bertindak sangat egois. Kemudian seiring dengan perjalanannya, Lioni sadar bahwa memotret Rex bukan lagi demi menyapanya, tapi untuk mengobati rindu; bukan lagi untuk menjalin hubungan dengan sang pemuda, tapi telah menjadi upaya untuk melupakannya.</p>
<p>Prosesi jatuh cinta dan patah hati yang dialami dirinya—dan setiap orang lainnya, bisa dilihat sebagai cara berkenalan kembali dengan diri sendiri; menyadari bahwa kita masih merasa, mencari tahu apa yang memicu rasa-rasa tertentu dan mempelajari cara-cara yang paling masuk akal untuk berhadapan dengan rasa itu. Dan bagi Lioni, membuat rangkaian foto adalah solusi dalam menghadapi persoalan rasa-merasa tersebut.</p>
<p>Memamerkan seluruh rangkaian foto yang ia buat selama setahun kemudian juga menjadi salah satu fase yang harus dilalui Lioni dalam menggunakan fotografi sebagai medium ekspresi dan terapi—seperti membuat akhir pada keadaannya yang terkatung-katung, menjadikan pameran ini sebagai pameran tentang perasaan—yang tak akan bisa didefinisikan. Manusia tidak punya cukup kosakata untuk membuat orang lain turut memahami sesungguhnya apa yang kita rasakan. Semoga bahasa visual yang lebih mampu menerjemahkan prosesi jatuh cinta dan patah hati—menerjemahkan rasa.</p>
<p><strong>Irma Chantily | Kurator Pameran</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2012/52-wednesday-oleh-lioni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Orasi Budaya] Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan &#124; Sabtu, 7 Januari 2012</title>
		<link>http://commonroom.info/2012/pidato-kebudayaan-awal-tahun-2012/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2012/pidato-kebudayaan-awal-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2417</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan Sabtu, 7 Januari 2012 Pk. 09.00 &#8211; 16.30 WIB Common Room Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung &#8211; 40132 Pengantar Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Sutan Takdir Alisyahbana telah sering menyampaikan kegelisahannya mengenai kebudayaan Indonesia. “Kebudayaan dalam krisis”, demikian kegelisahan STA tersebut jika kita rumuskan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2012/01/eflyer_katastrof1.png" alt="" title="eflyer_katastrof" width="640" height="905" class="alignnone size-full wp-image-2426" /></p>
<p><strong>Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan</strong><br />
Sabtu, 7 Januari 2012<br />
Pk. 09.00 &#8211; 16.30 WIB<br />
Common Room<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung &#8211; 40132</p>
<p><strong>Pengantar</strong><br />
Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Sutan Takdir Alisyahbana telah sering menyampaikan kegelisahannya mengenai kebudayaan Indonesia. “Kebudayaan dalam krisis”, demikian kegelisahan STA tersebut jika kita rumuskan dalam satu frase. Polemik kebudayaan pun terjadi. Polemik ini merupakan gumpalan kegelisahan STA dan para cerdik-cendikia saat itu: kegelisahan untuk merumuskan kebudayaan khususnya dan pada umumnya peradaban bangsa Indonesia di masa depan, yang dalam istilah STA disebut sebagai manusia baru Indonesia. Untuk menuju masa depan Indonesia, “kita harus meninggalkan tasik yang tenang dan menuju laut yang bergelora, dinamik”, demikian kurang lebih STA.</p>
<p>Kini, 80 tahun kemudian, sebuah pertanyaan reflektif kiranya perlu dilontarkan: apakah kebudayaan dan manusia baru yang dinamis, yang bergelora seperti ombak lautan itu telah terwujud? Sebenarnya tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Indonesia, hingga hari ini, masih tetap hidup dalam 21 abad sekaligus. Di sebuah dusun di pedalaman sebuah pulau, kita masih menemukan masyarakat yang masih hidup dalam ketertinggalan di berbagai bidang kehidupan. Mereka hidup di dalam ruang pengetahuan yang sangat terbatas. Sementara di belahan pulau lain, di kota-kota besar, sebagian masyarakat telah meloncat tinggi ke atas tangga posmodernitas, bahkan sedang bergerak ke wilayah-wilayah yang takterbayangkan oleh sebagian besar masyarakat.</p>
<p>Tapi, pun begitu, di lapis permukaan, secara general bisa disaksikan bagaimana kebudayaan tengah bergerak ke arah “ketakseimbangan” nilai. Pada titik tertentu, persoalan kebudayaan bahkan bisa dibilang sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai. Kebudayaan menjadi semacam artikulasi perilaku keseharian yang digerakkan oleh isu-isu yang diusung teknologi informasi, terutama televisi dan komputer. Di situ, segala batas menjadi lebur. Jika segala batas lebur, bagaimana kita bisa merumuskan sebuah nilai?</p>
<p>Di samping itu, dihubungkan dengan ruang, dalam hal ini alam (nature), perkembangan kebudayaan (culture) juga memperlihatkan ketakseimbangan lain. Culture yang telah “tanpa nilai” itu secara terus-menerus tampak mensubversi alam (nature). Akibatnya, kian hari alam kian kewalahan memenuhi hasrat manusia yang digerakkan oleh imaji-imaji budaya tanpa nilai tersebut. Akibatnya, terjadilah apa yang kami sebut sebagai “Katastrofe Kebudayaan”.</p>
<p>Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB) dan Common Room Networks Foundation sebagai institusi yang secara intens memperhatikan hal itu, terpanggil untuk coba mencatat, merumuskan, dan memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat menjadi pencerahan bagi para intelektual dan penentu kebijakan khusunya dan masyarakat secara umum. Kali ini, konstribusi itu diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan orasi kebudayaan dari beberapa orang yang dianggap kompeten untuk tema terkait.</p>
<p>Pidato kebudayaan ini terbagi menjadi tiga sesi, yaitu:</p>
<p>Sesi I<br />
Tema: Kompleksitas, Perubahan dan Spekulasi<br />
Pemateri: Joscev Audifax, Harifa Ali Albar Siregar, Ranti Puji Agusti, Ruly Darmawan</p>
<p>Sesi II<br />
Tema: Realitas diantara Persepsi, Mitos dan Fantasi<br />
Pemateri: Idhar Resmadi, Jejen Jaelani, Kimung, Alfathri Adlin</p>
<p>Sesi III<br />
Tema: Katastrofe Kebudayaan<br />
Pemateri: Hawe Setiawan, Gustaff H. Iskandar, Yasraf Amir Piliang, Acep Iwan Saidi, dan Tisna Sanjaya.</p>
<p>Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran.</p>
<p>Informasi lebih detail hubungi Zamzami Almakki (085795111981)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2012/pidato-kebudayaan-awal-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi Kebudayaan Akhir Tahun 2011 &#124; Babakan Siliwangi, 17 &#8211; 22 Desember 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/refleksi-kebudayaan-akhir-tahun-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/refleksi-kebudayaan-akhir-tahun-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 07:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Localities]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2398</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Di titik pergantian tahun, sebagaimana lazimnya, kita merasa perlu keluar sejenak dari rutinitas. Kita merenungi pengalaman di tahun yang segera berakhir seraya menerawang jalan kita di tahun yang segera datang. Akhir tahun adalah juga awal tahun, dan kita berupaya memaknai titik peralihan ini dengan meninjau lagi diri kita sendiri beserta keadaan di sekeliling kita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2399" title="babakansiliwangi" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/12/babakansiliwangi.png" alt="" width="640" height="367" /></p>
<p><strong>Pengantar</strong><br />
Di titik pergantian tahun, sebagaimana lazimnya, kita merasa perlu keluar sejenak dari rutinitas. Kita merenungi pengalaman di tahun yang segera berakhir seraya menerawang jalan kita di tahun yang segera datang. Akhir tahun adalah juga awal tahun, dan kita berupaya memaknai titik peralihan ini dengan meninjau lagi diri kita sendiri beserta keadaan di sekeliling kita. Kita menyambut tahun baru dengan menyalakan lagi harapan, menumbuhkan lagi cita-cita, dan merumuskan lagi agenda.</p>
<p>Jejaring kerja budaya yang terdiri dari kumpulan warga Kota Bandung hendak menyambut tahun 2012 bersama rekan-rekan dari kalangan seni, budaya, dan komunitas warga Bandung lainnya. Dengan memilih tempat di Babakan Siliwangi, satu di antara sedikit ruang terbuka hijau yang masih tersisa di kota ini, kegiatan yang dimaksudkan sebagai refleksi akhir tahun ini akan berlangsung selama lebih kurang sepekan, dari 17 s/d 22 Desember 2011. Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mewadahi sebanyak mungkin kegiatan dan aspirasi dari berbagai kalangan dalam semangat kebersamaan warga kota untuk merealisasikan kepentingan bersama.</p>
<p><em>* Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran</em></p>
<p><strong>Jadwal/ Rangkaian Kegiatan</strong></p>
<p><strong>17 Desember 2011</strong><br />
Doa Bersama | Batu Satangtung, Babakan Siliwangi | pk. 09.30 &#8211; 10.00 WIB<br />
Pertunjukan | Mantram Gayatri oleh Trie Utami &amp; Dewa Bujana | pk. 10.00 &#8211; 12.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | Kala Sunda oleh Ibu Miranda &amp; Bapak Dr. Suhardja | pk. 14.00 &#8211; 16.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | Kosmologi Sunda: Tata Salira Panca oleh Bapak Juhana | pk. 19.00 &#8211; 21.00 WIB</p>
<p><strong>18 Desember 2011</strong><br />
Diskusi/ Presentasi | Lokalitas Dalam Kekinian bersama Hawe Setiawan &amp; Setiaji Purnasatmoko | pk. 10.00 &#8211; 12.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | Lingga Yoni Dalam Perspektif Sunda Wiwitan bersama Bapak Jacob Soemardjo &amp; Bapak D.S. Ira Ujang | pk. 14.00 &#8211; 16.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | Komunitas Warga bersama Kang Aben &amp; Man Jasad | pk. 16.00 &#8211; 18.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | In Memoriam Lecture: Harry Roesly bersama Herri Dim &amp; Rully Handiman | pk. 19.00 &#8211; 21.00 WIB<br />
Pertunjukan | Eye Feel Six, Karinding Attack dan Mang Ayi (Pantun Buhun) | pk. 21.00 &#8211; 23.00 WIB</p>
<p><strong>19 Desember 2011</strong><br />
Diskusi/ Presentasi | Ngaguar Sasajen, Tumpeng dan Kujang bersama Kang Uci | pk. 10.00 &#8211; 12.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | Ngaguar Iket dan Kaulinan Budak bersama Kang Asep &amp; Kang Zaini Alif | pk. 14.00 &#8211; 16.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | Ngaguar Gunung Lalakon bersama Kang Dani (Turangga Seta) | pk. 16.00 &#8211; 18.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | Ngaguar Tata Negara Buhun dan Presentasi Nirlaga bersama Kang Uci &amp; Kang Iwan | pk. 19.00 &#8211; 21.00 WIB<br />
Pertunjukan | Kelompok Kesenian Tarling Universitas Pasundan | pk. 21.00 &#8211; 23.00 WIB</p>
<p><strong>20 Desember 2011</strong><br />
Kerja Bakti | Bebersih Cikapundung | 08.00 &#8211; 10.00 WIB <em>(Peserta dipersilahkan membawa perlengkapan masing-masing)</em><br />
Presentasi/ Diskusi | Urban Farming oleh Ayi Vivananda | pk. 11.00 &#8211; 12.30 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | For Better Life bersama Kang Wahyu, Layala Roesly &amp; Angga Wardhana | pk. 13.00 &#8211; 15.00 WIB</p>
<p><strong>21 Desember 2011</strong><br />
Ritual Tradisi | Ngawinkeun Batu Satangtung (Baris Kolot) | pk. 10.00 &#8211; 12.00 WIB<br />
Orasi Kebudayaan | Lingkungan Tatar Sunda oleh Solihin G.P. | pk. 13.00 &#8211; 15.00 WIB<br />
Diskusi/ Presentasi | Apresiasi Tarawangsa bersama Bapak Abun | pk. 19.00 WIB &#8211; selesai</p>
<p><strong>22 Desember 2011</strong><br />
Ritual Tradisi | Mendak Taun: Diseka-ngaseka Lingga Yoni | pk. 05.00 WIB (pagi) &#8211; selesai</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/refleksi-kebudayaan-akhir-tahun-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Pameran &amp; Workshop] The Illuminator: Destroy, Erase, Improve &#124; 9 s/d 11 Desember 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/pameran-workshop-the-illuminator-destroy-erase-improve-9-sd-11-desember-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/pameran-workshop-the-illuminator-destroy-erase-improve-9-sd-11-desember-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 04:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Ujungberung Update]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2388</guid>
		<description><![CDATA[The Illuminator: Destroy, Erase, Improve 9 s/d 11 Desember 2011 Pembukaan: 9 Desember 2011, pk. 18.00 &#8211; 21.00 WIB Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8 The Illuminator The Illuminator tercetus untuk pertama kalinya ketika tiga seniman artwork beda jaman Dinan Art, Ken Terror dan Gencuy Brutal Art memutuskan untuk kopi darat (bertemu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2389" title="the_illuminator_destroy_erase_improve" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/12/the_illuminator_destroy_erase_improve.jpg" alt="" width="640" height="675" /></p>
<p><strong>The Illuminator: Destroy, Erase, Improve</strong><br />
9 s/d 11 Desember 2011<br />
Pembukaan: 9 Desember 2011, pk. 18.00 &#8211; 21.00 WIB<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8</p>
<p><strong>The Illuminator</strong><br />
The Illuminator tercetus untuk pertama kalinya ketika tiga seniman artwork beda jaman Dinan Art, Ken Terror dan Gencuy Brutal Art memutuskan untuk kopi darat (bertemu untuk pertama kalinya) di Common Room pada liburan Idul Adha di tahun 2009. Merasa banyak menemui kesamaan pengalaman di dunia <em>artwork</em>, mereka bertiga kemudian menggagas sebuah pameran bersama. Harapan dan impian untuk bisa menggelar pameran bersama ini kemudian menjadi semakin nyata setelah Dinan bertemu Gustav Insuffer dan Yusep Sutrisna.</p>
<p>Untuk kepentingan pameran, Dinan kemudian menggunakan nama The Illuminator sebagai brand dari kumpulan seniman pembuat <em>artwork</em> yang akan berpameran. The Illuminator berasal dari penggabungan kata illustrator dan terminator yg berarti penggambar penghancur atau illustrator yg ingin menghancurkan batasan-batasan dalam berkarya. Karena kesamaan nasib, pengalaman dan garapan; akhirnya The Illuminator menjadi komunitas kecil para pekerja gambar untuk band underground di kota Bandung. </p>
<p>Ketika The Illuminator Artwork Exhibition digelar di Gallery Padi di pertengahan tahun 2010 lalu, Dinan bersama Gustav Insuffer dan kawan-kawannya yg lain menjadikan The Illuminator sebagai media alternatif pergerakan berbasis komunitas. Dalam pameran tersebut The Illuminator menjadi bagian penting dalam pergerakan yg mengangkat nasib para pekerja gambar dimana selama ini tak pernah ada yg mempedulikannya.</p>
<p>Selepas pameran di event Bandung Berisik V yang digelar di bulan Juli 2011 lalu, Dinan, Gustav, Yusep, Ridwan dan Jali Narchos kemudian mendirikan The Illuminator, Artwork School di Ujungberung. Sebuah institusi pendidikan bawah tanah pertama yg mengkhususkan diri sebagai tempat untuk belajar menguasai illustrasi dasar dan desain untuk band Underground. Media kreasi yg sering digunakan para illustrator ini memiliki kesamaan menggunakan alat gambar dasar seperti pensil, drawing pen, ballpoint dan spidol yg kemudian eksekusinya dikerjakan di media komputer. </p>
<p>Walau terlihat sederhana dan biasa saja, namun karena dasar musik underground yang kuat pada diri para illustrator yang bergabung di The Illuminator inilah yang kemudian membuat hasil karya mereka menjadi tak lazim dan tak memiliki batasan norma manusia pada umumnya. Walau berkesan sangar, dalam perjalanannya The Illuminator tak pernah berubah menjadi sebuah organisasi elite dengan segala urusan politisnya. The Illuminator hanyalah sekumpulan sahabat yang loyal terhadap komunitas yang selama ini membesarkannya.</p>
<p>Seniman: Gustav Insuffer, Dinan Art, Ken Terror, Yusep Mortem Art, Jali Jarchos, Gencuy Brutal Art, Wibowo Yudo Baskoro &amp; Ridwan Nandar Nugraha</p>
<p>Penampilan dari: Bandung Hip Hop Community</p>
<p><em>Acara ini merupakan kerjasama antara Common Room Networks Foundation, The Illuminator, Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung dalam rangka pengembangan industri kreatif di Kota Bandung.</em></p>
<p><span id="more-2388"></span></p>
<p><strong>Workshop Produksi dan Marketing Merchandise Band</strong><br />
Meledaknya perkembangan ekonomi kreatif beberapa tahun belakangan ini membuat industri fashion semakin semarak. Salah satu fenomena paling menarik yaitu mulai berkembang pesat laju penjualan merchandise band sebagai salah satu alternatif pendapatan bagi sebuah band. Di tengah situasi industri musik yang kian terpuruk, penjualan album rekaman yang menurun, persaingan harga antar band, royalti RBT yang mulai dihapus,membuat kini pendapatan sebuah band hanya berharap pada fee manggung.</p>
<p>Di tengah dekadensi industri musik seperti itu, sebuah band dituntut untuk mengolah kreativitasnya agar bisa maju terus. Salah satu hal yang bisa dimanfaatkan secara baik yaitu meningkatkan produktivitas profit lewat penjualan merchandise band. Peluang ini merupakan jalan terbaik bagi sebuah band untuk mendapatkan pendapatan selain bergantung pada fee manggung. Penjualan merchandise ini boleh dikatakan jalan terbaik karena antusiasme dan fanatisme anak muda kota Bandung terhadap grup musik sangatlah tinggi. Hal itulah yang membuat bahwa penjualan merchandise band merupakan salah satu langkah terbaik menyokong ekonomi kreatif di sektor musik.</p>
<p>Workshop Produksi dan Desain Merchandise Band ini bertujuan untuk memberikan panduan teknis dalam memproduksi merchandise band dengan bekal-bekal teknik seperti menyablon, mendesain, hingga juga cara memasarkannya dan persoalan royalti dan hak cipta. Workshop ini ingin mendorong kreativitas para anak muda kota Bandung agar dapat menyalurkan kreativitasnya di bidang musik dan fashion. Acara ini merupakan kerjasama antara Common Room Networks Foundation, The Illuminator, dan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung dalam rangka pengembangan industri kreatif di Kota Bandung.</p>
<p><strong>Jadwal Workshop*</strong><br />
10 s/d 11 Desember 2011, pk. 09.00 &#8211; 17.00 WIB<br />
Venue: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
<em>*Pendaftaran sudah ditutup</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/pameran-workshop-the-illuminator-destroy-erase-improve-9-sd-11-desember-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Diskusi] Mitigasi Kebencanaan Kota Bandung &#124; Sabtu, 26 November 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/diskusi-mitigasi-kebencanaan-kota-bandung-sabtu-26-november-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/diskusi-mitigasi-kebencanaan-kota-bandung-sabtu-26-november-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 11:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2377</guid>
		<description><![CDATA[[Diskusi] Mitigasi Kebencanaan Kota Bandung Sabtu, 26 November 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung Mitigasi kebencanaan adalah serangkaian upaya persiapan untuk menghadapi bencana. Selain menghadirkan para ahli dibidang geologi dan kebencanaan, diskusi ini juga mengundang para pengguna media sosial untuk membantu upaya penyebaran informasi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/11/siagabdg_eflyer1.png" alt="" title="siagabdg_eflyer" width="640" height="739" class="alignnone size-full wp-image-2381" /></p>
<p><strong>[Diskusi] Mitigasi Kebencanaan Kota Bandung</strong><br />
Sabtu, 26 November 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB<br />
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung</p>
<p>Mitigasi kebencanaan adalah serangkaian upaya persiapan untuk menghadapi bencana. Selain menghadirkan para ahli dibidang geologi dan kebencanaan, diskusi ini juga mengundang para pengguna media sosial untuk membantu upaya penyebaran informasi dan pengetahuan tentang mitigasi kebencanaan bagi masyarakat di wilayah Cekungan Bandung dan sekitarnya. Aktifitas ini diharapkan dapat membentuk kesadaran dan kesiapan masyarakat untuk mengantisipasi datangnya bencana, sekaligus mendorong pembentukan jaringan dan komunitas masyarakat yang tanggap pada proses mitigasi kebencanaan di wilayah Cekungan Bandung. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Pembicara: T. Bachtiar (Peneliti), Munasri (Peneliti) | Moderator: Man Jasad (Seniman)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/diskusi-mitigasi-kebencanaan-kota-bandung-sabtu-26-november-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Pameran Fotografi] Pause/ Urban Decay oleh Sandi Jaya Saputra &#124; 19 November s/d 4 Desember 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/pameran-fotografi-pause-urban-decay-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/pameran-fotografi-pause-urban-decay-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 07:26:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2372</guid>
		<description><![CDATA[[Pameran Fotografi] Pause/Urban Decay oleh Sandi Jaya Saputra 19 November s/d 4 Desember 2011, Pk. 10.00 – 17.00 WIB Pembukaan: Sabtu, 19 November 2011, Pk. 18.00 – 21.00 WIB Artist Talk: Jumat, 25 November 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB &#124; Moderator: Gustaff H. Iskandar Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2373" title="Poster_Pause_eflyer" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/11/Poster_Pause_eflyer.jpg" alt="" width="640" height="900" /></p>
<p><strong>[Pameran Fotografi] Pause/Urban Decay oleh Sandi Jaya Saputra</strong><br />
19 November s/d 4 Desember 2011, Pk. 10.00 – 17.00 WIB<br />
Pembukaan: Sabtu, 19 November 2011, Pk. 18.00 – 21.00 WIB<br />
Artist Talk: Jumat, 25 November 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB | Moderator: Gustaff H. Iskandar<br />
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung</p>
<p><span id="more-2372"></span></p>
<p><strong>Pause/Urban Decay: Sebuah Jeda di Keramaian Kota</strong><br />
Oleh Gustaff H. Iskandar</p>
<p>Sandi Jaya Saputra adalah seorang fotografer yang dilahirkan di kota Garut pada tahun 1985. Pada tahun 2006 ia mengenyam pendidikan di jurusan periklanan Universitas Padjadjaran Bandung. Setelahnya ia melanjutkan studi di bidang jurnalisme pada universitas yang sama dan lulus pada tahun 2010. Karirnya dibidang fotografi dimulai ketika ia bekerja untuk majalah Greeners sejak tahun 2008 s/d 2010. Pada tahun 2009, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar fotografi di Commune Illuminaty (Bandung) dan workshop fotografi di Angkor Wat (Kamboja) di bawah bimbingan Antoine D’Agata (Magnum Agency). Baru-baru ini ia mendapatkan beasiswa untuk mengambil program diploma jurnalisme fotografi di Ateneo de Manila University (Filipina).</p>
<p>Saat ini Sandi Jaya Saputra bekerja menjadi seorang fotografer lepasan sekaligus bekerja sebagai asisten laboratorium fotografi dan staff mata kuliah fotografi di almamaternya. Sehari-hari ia kerap mengambil berbagai foto tentang pemandangan kota. Beberapa ada yang dipamerkan, sementara yang lain disimpan sebagai dokumentasi yang merekam kehidupan pribadinya. Koleksi foto yang ia tampilkan di dalam pameran ini diambil tepat pada saat perayaan hari raya Idul Fitri di tahun 2009. Dalam kumpulan foto ini, ia seakan mengajak kita untuk melihat pemandangan kota Bandung yang lenggang dan sepi. Tidak ada aktifitas manusia dan hiruk-pikuk kesibukan kota di dalam foto-foto ini. Tidak ada suara bising dan kondisi kota yang semrawut. Tidak ada suasana kota yang selama ini kita kenal secara akrab, kecuali ruas jalan, gedung-gedung, serta pojokan ruang kota yang kosong melompong.</p>
<p>Sejak secara resmi berdiri sekitar 200 tahun yang lalu, kota Bandung telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa kehidupan manusia lengkap dengan segala detail persoalannya. Di masa keemasannya kota Bandung adalah sebuah permata yang memiliki segudang predikat menawan karena kesuburan serta keindahan pemandangan alamnya. Diantara sebutan yang paling populer adalah Bloemen van the Stad dan Parijs van Java. Dalam catatan Haryoto Kunto, kota ini pertama kali dinobatkan menjadi kota terbuka pada 21 Februari 1906 oleh Gubernur Jendral J.B. van Heutz. Selanjutnya kota ini sempat disebut sebagai pusat dunia intelektual di wilayah Hindia Belanda, serta pernah diusulkan menjadi pusat koloni orang Eropa di tanah Jawa oleh seorang pemikir Belanda bernama Ir. R. van Hoevell. Atas dasar ini, kiranya tidaklah mengherankan apabila sejak dahulu kota Bandung dikenal sebagai pusat bagi aktifitas perkebunan, perdagangan, pendidikan dan pariwisata. Namun kini kita harus mafhum bahwa catatan ini barangkali hanya sebagian dari narasi yang mungkin tidak lagi menggambarkan kondisi kota Bandung secara utuh. Kota ini tengah meluruh dimakan waktu, ditengah obsesi untuk menjadi mesin ekonomi yang kian menderu.</p>
<p>Karya foto Sandy Jaya Saputra dapat dilihat sebagai sebuah jeda yang memungkinkan kita untuk berhenti sejenak dan memandang kota dalam keadaan diam. Karyanya sekaligus mengajak kita untuk menelusuri kembali jejak yang ditinggalkan oleh jutaan manusia yang hidup didalamnya. Pada foto-foto ini kita juga dapat menemukan cermin yang mengguratkan narasi dan spiritualitas kehidupan masyarakat kota yang sedemikian kompleks dan memiliki lapisan dimensi yang tak bertepi. Wajah kota yang terekam dalam kumpulan foto ini merupakan pemandangan yang berkelindan diantara kemegahan narasi masa lalu dan kompleksitas persoalan hari ini. Alhasil kita menemukan sebuah pemandangan kota yang ambivalen dan penuh dengan kontradiksi. Di sana ada keindahan sekaligus teror yang mengerikan. Di sana juga ada keintiman yang dapat menjelma menjadi sebuah keterasingan yang menyakitkan. Kiranya foto-foto ini adalah sebentuk puisi yang memungkinkan kita untuk mengambil jarak dari kenyataan yang kian hari semakin meringkus perasaan dan imajinasi. Selain itu, kumpulan foto ini barangkali adalah reaksi balik dari dunia pengalaman yang memproyeksikan kritik dan refleksi untuk merajut makna tentang kehidupan masyarakat kota di sini dan hari ini, hic et nunc.</p>
<p>Kyai Gede Utama, 4 November 2011</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/pameran-fotografi-pause-urban-decay-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Workshop] A Guide to Music Biz &#124; Jumat, 18 November 2011</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/workshop-a-guide-to-music-biz-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/workshop-a-guide-to-music-biz-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 13:20:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2366</guid>
		<description><![CDATA[[Workshop] A Guide to Music Biz Jumat, 18 November 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung Industri musik terus berkembang dan memberi tantangan bagi para pelaku industri musik saat ini. Untuk menjawab perkembangan ini dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai diantara segenap pelaku industri musik yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/11/guide-to-music-bizz-eflyer.jpg" alt="" title="guide-to-music-bizz-eflyer" width="640" height="1006" class="alignnone size-full wp-image-2367" /></p>
<p><strong>[Workshop] A Guide to Music Biz</strong><br />
Jumat, 18 November 2011, Pk. 15.00 – 18.00 WIB<br />
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung</p>
<p>Industri musik terus berkembang dan memberi tantangan bagi para pelaku industri musik saat ini. Untuk menjawab perkembangan ini dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai diantara segenap pelaku industri musik yang ada. Selain penyelenggaraan konser, pengetahuan mengenai manajemen di bidang musik juga diperlukan untuk menyokong perkembangan yang ada. Diantara kegiatan manajemen musik diantaranya adalah promosi pertunjukan, mengatur jadwal, membuat kesepakatan dengan perusahaan rekaman, melakukan jejaring dengan lingkungan musik atau mencari tahu bagaimana cara mendistribusikan musik dengan baik.</p>
<p>Aspek lain diluar promosi dan pertunjukan seperti pekerjaan administrasi juga penting dalam mengembangkan aktifitas manajemen musik yang baik. Keterampilan komunikasi dan negosiasi juga merupakan hal penting yang dapat dipelajari melalui pengalaman para pelaku manajemen bisnis musik yang telah sukses membentuk pasarnya. Workshop ini akan mengulas manajemen musik dari segi perencanaan, produksi dan strategi yang diperlukan dalam memasarkan sebuah karya musik secara luas.</p>
<p>Pembicara: Marine Ramdhani (FFWD Records) dan Ridhan (Rocket Rockers Management) | Moderator: Idhar Resmadi (Jurnalis Musik) | Menampilkan: Teman Sebangku (Bandung) dan Paperback (Bandung)</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/workshop-a-guide-to-music-biz-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Pemberitahuan] Penyelenggaraan Bandung World Jazz Festival 2011 Diundur</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/bandung-world-jazz-festival-2011/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/bandung-world-jazz-festival-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 04:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2333</guid>
		<description><![CDATA[Penyelenggaraan Bandung World Jazz Festival 2011 Diundur Pada hari Minggu, 13 November 2011, panitia penyelenggara Bandung World Jazz Festival 2011 (BWJF’11) menyelenggarakan konferensi pers di Common Room. BWJF’11 adalah festival musik jazz yang diselenggarakan setiap tahun oleh Jendela Ide, sebuah yayasan budaya untuk anak dan remaja yang berdiri pada tahun 1995 di kota Bandung. Sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-2354" title="pengunduranbwjf2011" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2011/11/pengunduranbwjf2011.jpg" alt="" width="640" height="472" /></p>
<p><strong>Penyelenggaraan Bandung World Jazz Festival 2011 Diundur</strong><br />
Pada hari Minggu, 13 November 2011, panitia penyelenggara Bandung World Jazz Festival 2011 (BWJF’11) menyelenggarakan konferensi pers di Common Room. BWJF’11 adalah festival musik jazz yang diselenggarakan setiap tahun oleh Jendela Ide, sebuah yayasan budaya untuk anak dan remaja yang berdiri pada tahun 1995 di kota Bandung. Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009, BWJF adalah festival musik jazz yang mengusung keberagaman dan mengangkat kekayaan tradisi, sekaligus kegiatan pendidikan dan pengembangan keterampilan bermusik bagi anak dan remaja.</p>
<p>Seperti biasanya, penyelenggaraan festival tahun ini semula akan diisi dengan program pertunjukan, workshop, pameran, diskusi, kolaborasi, jam-session, dan artist-talk. Selain itu, mulanya BWJF’11 berencana menghadirkan 30 talent lokal dan internasional, yang diantaranya adalah Ayu Laksmi &amp; Svara Semesta, Jen Shyu, Sound of Hanamangke, Tesla feat. Mahagotra ITB, Anand Biharilal Sriwastava &amp; Rukmani Jaiswal, Ketut Riwin &amp; Tropical Transit, ESQIEF, UNIMED, Blues Libre, BLP, White Shoes &amp; The Couples Company, Mian Tiara, dll. Selain suguhan utama yang diisi oleh para musisi yang memiliki kecenderungan dan asal-usul yang beragam, festival tahun semula juga akan menyuguhkan Youth Concerts yang akan dimeriahkan oleh Bandung World Jazz Youth, Samba Sunda Junior, Half Whole Project – Lab Jazz Aru, Indonesian Youth Regeneration, Jazzy One, Storia, dll.</p>
<p>Pada acara konferensi pers di Common Room, kelompok Bandung World Jazz Youth menyuguhkan dua komposisi ciptaan sendiri yang berjudul &#8220;Our Dream&#8221; dan &#8220;Morning Blue&#8221;, serta dua komposisi ciptaan almarhum Harry Roesli yang berjudul Peacock Dog dan Baratayudha. Menurut Jaelani selaku kurator dari BWJF&#8217;11, suguhan dari kelompok Bandung World Jazz Youth merupakan pencapaian tersendiri bagi perkembangan musik jazz di kota Bandung mengingat komposisi yang mereka mainkan memiliki tingkat kesulitan dan kekayaan komposisi yang luar biasa. Dalam kesempatan ini, Jaelani juga menuturkan bahwa penyelenggaraan BWJF&#8217;11 sebetulnya berupaya untuk mencerminkan berbagai kecenderungan baru dalam perkembangan musik jazz di tanah air. Namun karena berbagai hal tampaknya perkembangan ini baru dapat ditampilkan secara utuh tahun depan.</p>
<p>Menurut Marintan Sirait, sejauh ini penyelenggaraan BWJF&#8217;11 telah menorehkan pencapaian tersendiri mengingat salah satu bobot dari penyelenggaraan festival ini adalah kegiatan pendidikan dan pengembangan keterampilan bermusik bagi kaum muda. Sejauh ini penyelenggaraan Bandung World Jazz Festival telah melahirkan banyak talenta muda, selain berbagai kecenderungan musikal yang baru dan beragam dari para musisi anak dan remaja. Oleh karena itu, Marintan berharap bahwa kegiatan BWJF&#8217;11 bisa terus diselenggarakan sebagai sebuah festival milik anak muda yang merayakan kreativitas dan kemampuan mereka secara total.</p>
<p>Dalam kesempatan ini Andar Manik mengungkapkan bahwa selain keterbatasan dana, salah satu kendala yang dihadapi  oleh BWJF&#8217;11 saat ini adalah sinergi antar pihak yang belum sempurna. Oleh karena itu, penyelenggaraan BWJF ke depan akan sangat membutuhkan dukungan dan partisipasi dari banyak pihak dan lembaga. BWJF adalah festival yang mengedepankan prinsip keberagaman, apresiasi pada kekayaan tradisi, serta proses pendidikan dan pengembangan potensi kreativitas bagi kaum muda. Oleh karena itu, penyelenggaraan festival perlu dukungan yang menyeluruh. Tidak hanya pada penyelenggaraan festival yang terjadi setiap tahun, tetapi juga pada proses yang berjalan dalam kurun waktu yang panjang.</p>
<p>Meskipun mengalami pengunduran waktu penyelenggaraan, sebagian peserta dan penikmat BWJF tidak berkecil hati. Pada kegiatan konferensi pers ini, Man Jasad berujar bahwa BWJF harus dapat terus diselenggarakan agar para musisi muda dapat terus mengembangkan bakatnya. Selain itu, masyarakat juga pasti merindukan penyelenggaraan BWJF karena festival ini mampu menampilkan berbagai kecenderungan musikal yang beragam dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Beberapa personil Bandung World Jazz Youth sendiri merasa bahwa pengunduran jadwal kegiatan festival justru memberi mereka peluang untuk berlatih dengan giat dan menciptakan karya yang baru untuk festival tahun depan yang rencananya akan digelar pada tanggal 7 s/d 8 Juli 2012.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/bandung-world-jazz-festival-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

