<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Mar 2010 06:34:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pertunjukan Pantun Buhun Mang Ayi dan Wa Itok (Subang) &#124; Common Room, 19 Maret 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/pertunjukan-pantun-buhun-mang-ayi-dan-wa-itok-subang-common-room-19-maret-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/pertunjukan-pantun-buhun-mang-ayi-dan-wa-itok-subang-common-room-19-maret-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 06:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Ethnology]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Oral History]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal: 19 Maret 2010
Jam: 19.00 &#8211; 21.00 WIB
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung
Deskripsi Singkat
Mang Ayi dan Wa Itok adalah duo seniman tradisional yang mempelajari seni pantun buhun secara alami. Keduanya selama ini dikenal sebagai seniman tradisi yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Mang Ayi dan Wa Itok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/image_ayi_itok.jpg" border="0" alt="Pantun Buhun Ayi Itokt" /></p>
<p>Tanggal: 19 Maret 2010<br />
Jam: 19.00 &#8211; 21.00 WIB<br />
Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung</p>
<p><strong>Deskripsi Singkat<br />
</strong>Mang Ayi dan Wa Itok adalah duo seniman tradisional yang mempelajari seni pantun buhun secara alami. Keduanya selama ini dikenal sebagai seniman tradisi yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Mang Ayi dan Wa Itok akan membawakan cerita dengan judul yang masih mereka rahasiakan. Selain menampilkan seni pantun, selama ini Mang Ayi dan Wa Itok juga kerap aktif menampilkan berbagai bentuk seni tradisi Sunda semisal <em>bajidoran, sisingaan, terbang, gembyung,</em> dsb. Program ini merupakan bagian dari kegiatan yang dikembangkan oleh kelompok TRAH yang diinisiasi oleh Gigi Priadji, Indra Nugraha dan Iman Zimbot sejak tahun 2007. Selain aktif mengembangkan eksplorasi yang memadukan ranah perkembangan musik elektronik dengan kesenian masyarakat Sunda, kelompok ini juga kerap berkolaborasi dengan seniman dan musisi yang berasal dari latar belakang yang beragam.</p>
<p><span id="more-703"></span></p>
<p>Pertunjukan pantun buhun merupakan salah satu bentuk pertunjukan tradisional yang berkembang di daerah Jawa Barat secara turun temurun. Kesenian ini juga tersebar di beberapa daerah di Nusantara dalam wujud dan bentuk yang beragam, serta dikenal secara populer di kalangan masyarakat Melayu. Beberapa komunitas masyarakat tradisional di Indonesia juga mengenal seni pantun walaupun dengan nama dan istilah yang berbeda. Selain dikenal dengan nama pantun, kesenian ini juga kerap disebut dengan nama <em>parikan</em> (Jawa) atau <em>paparikan</em> (Sunda). Dalam hal ini, seni pantun dapat juga disebut sebagai salah satu jenis sastra lisan yang berkembang di kalangan masyarakat tradisi.</p>
<p>Berbeda dengan kesenian pantun yang selama ini biasa kita kenal, kesenian pantun buhun biasanya disampaikan dalam format cerita dongeng (<em>story telling</em>). Dalam hal ini, pertunjukan pantun buhun biasanya juga dibuka dengan <em>rajah</em> (doa) yang menyisipkan <em>kawih</em> atau nyanyian tradisional. Biasanya pertunjukan pantun buhun juga dilengkapi dengan ungkapan atau nyanyian modern yang merefleksikan kondisi kekinian. Selain memiliki fungsi hiburan, pertunjukan pantun buhun juga memiliki fungsi <em>mepeling</em> (mengingatkan) khalayak untuk mencermati berbagai kondisi atau situasi yang tengah terjadi di sekeliling mereka. Bagi sebagian masyarakat tradisi, seni pantun juga kerap dimaafaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan pengetahuan ataupun nilai-nilai tertentu kepada masyarakat luas. Kesenian ini juga sering ditampilkan pada beberapa acara khusus seperti selamatan kelahiran anak, ruwatan rumah, muludan, atau acara perayaan tradisional lainnya.</p>
<p><em>Pertunjukan ini gratis dan terbuka untuk umum, khususnya bagi para seniman, desainer, musisi, sastrawan, peneliti, akademisi, ahli sejarah, pejabat, polisi, ibu rumah tangga, pegawai negeri, pembantu, tukang parkir, mantri, dokter, arsitek, pengusaha, tukang baso, dsb. Meskipun gratis, para pemirsa yang hadir diwajibkan membawa uang secukupnya untuk SAWERAN! Pelaksanaan kegiatan ini juga didukung oleh Common Room Networks Foundation (Common Room) dan Hivos.</em></p>
<p><em>Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi Ibu Nunung di nomor 0222503404 atau Gigi Priadji di nomor 0818637512.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/pertunjukan-pantun-buhun-mang-ayi-dan-wa-itok-subang-common-room-19-maret-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop &amp; Diskusi Aplikasi Video Untuk Live Performance &#124; Common Room &#124; 11 Maret 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/workshopdiskusi-mengenai-aplikasi-video-sebagai-live-performance/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/workshopdiskusi-mengenai-aplikasi-video-sebagai-live-performance/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 08:18:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[“For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like to look at it as an activity of creating an evolving visual experience/ universe. First, the gap between spectator/ performer, stage/ seat, premeditated/ spontaneous, mine/ yours etc; should be obliterated. To rebuild something we have to destroy/ deconstruct the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/niang_biosampler.jpg" border="0" alt="biosampler" /></p>
<p>“<em>For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like to look at it as an activity of creating an evolving visual experience/ universe. First, the gap between spectator/ performer, stage/ seat, premeditated/ spontaneous, mine/ yours etc; should be obliterated. To rebuild something we have to destroy/ deconstruct the initial form and limitations. Second, interaction and respond is imminent. By doing so, we have created a moebius loop where an idea shall move back and forth, left to right, passed from person to person, and it would evolve and change while being so. And that is Real Time Interaction. It’s like a complex game of “pong”.</em>” (<a href="http://www.vjtheory.net/what_is_it/biosampler_what_is.htm" target="_blank">Chainsmokingbastard/ Biosampler</a>)</p>
<p><strong>Date</strong><br />
Thursday, March 11, 2010<br />
<strong>Time</strong><br />
3:00 &#8211; 6:00 PM<br />
<strong>Location</strong><br />
Common Room, Jl. Kyai Gede Utama No. 8</p>
<p><strong>Deskripsi Singkat</strong><br />
Aplikasi medium video, seperti yang sudah lebih banyak dikenal terlebih dulu, dapat kita lihat pada iklan TV, film digital, maupun video klip. Dengan semakin berkembangnya teknologi video dan media digital, beberapa tahun belakangan video juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung <em>live performance</em>. Pemanfaatan video dalam pertunjukan dapat menjadi pendukung dari sebuah pagelaran, selain dapat juga berdiri sendiri sebagai sebuah karya seni.</p>
<p>Dalam program ini, akan membahas beberapa aspek penting pemanfaatan medium video untuk aktifitas <em>live performance</em>. Pendekatan untuk aplikasi ini sedikit berbeda dengan beberapa pemanfaatan video untuk kepentingan yang lain. Dalam sebuah <em>live performance</em>, sesuai dengan namanya, video dapat dimainkan secara langsung. Kemampuan untuk berfikir dan bertindak cepat dalam memainkan video menjadi sangat penting, karena di dalam sebuah pertunjukan dituntut kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan <em>flow</em> dan <em>audience</em>. Sangat berbeda dengan proses pembuatan video yang telah dikenal sebelumnya, dimana materi video dapat di edit sesuai dengan keinginan tanpa waktu yang terbatas.</p>
<p><span id="more-645"></span></p>
<p>Di kota Bandung pada khususnya, semakin sering terlihat dimana <em>visual live performance</em> sudah menjadi elemen yang sangat penting dalam sebuah pertunjukan. Video tidak hanya diputar secara otomatis sebagai pengiring dari sebuah band, namun melalui <em>visual live performance</em>, video dapat menjadi media untuk membangun emosi dari sebuah pertunjukan seperti halnya musik. Walaupun masih banyak pandangan yang menilai para VJ (visual jockey) dengan sebelah mata karena terlihat seperti hanya memasang video secara bergantian sesuka hati, ada beberapa persiapan penting yang perlu dilakukan seorang VJ sebelum bermain dalam sebuah pertunjukan. Hal ini tidak lebih mudah daripada persiapan seorang musisi dalam menghadapi sebuah pertunjukan.</p>
<p>Berikut beberapa materi yang akan dibahas dalam program ini:</p>
<ul>
<li>Introduksi mengenai video</li>
<li><em>Live Performance</em> sebagai salah satu aplikasi dari video</li>
<li>Pengenalan jenis <em>Visual Live Performance</em> dan beberapa tekniknya</li>
<li>Penerjemahan musik ke dalam bentuk visual</li>
<li><em>Pre-Production</em> dan <em>Post-Production</em> visual/ footage</li>
<li>Pengenalan beberapa software pendukung</li>
<li>Contoh Visual Live Performance</li>
<li>Diskusi</li>
</ul>
<p><em>Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin OpenLabs yang didukung oleh Common Room dan Hivos.</em> <em>Terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi Ibu Nunung di nomor +62222503404 atau Ranti di nomor +628120189953.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/workshopdiskusi-mengenai-aplikasi-video-sebagai-live-performance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penelitian dan Pengembangan dalam Usaha Kecil</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Workshop YES Club &#124; 6 Maret 2010 &#124; Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung
“Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik&#8230;”
(Tegep Octaviansyah, owner of TEGEP BOOTS)
Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, inovasilah yang menjadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/ws_yesclub6_01.jpg" border="0" alt="Common Room" /></p>
<p>Workshop YES Club | 6 Maret 2010 | Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung</p>
<p style="text-align: right;"><em>“Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik&#8230;”</em></p>
<p style="text-align: right;">(Tegep Octaviansyah, owner of <a href="http://www.tegepboots.com/01_thestore.html" target="_blank">TEGEP BOOTS</a>)</p>
<p>Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, inovasilah yang menjadikan sebuah produk selalu baru, segar, unik, dan berbeda. Namun, ini sering kali dilupakan oleh sebagian besar pengusaha kecil di Indonesia, yang terlalu memberi fokus pada nilai ekonomi: meraih laba sebesar mungkin dan menyingkirkan nilai inovasi. Tidak mengherankan apabila kita kerap menjumpai produk tertentu dengan desain yang telah berumur 10-15 tahun, namun masih tetap dikembangkan dengan cara yang sama dan dijual tanpa pengembangan yang berarti. Hal ini pulalah yang sering dijumpai pada usaha kerajinan dan usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia.</p>
<p>Karena kurangnya inovasi, tampaknya kebanyakan dari anggota masyarakat kemudian cenderung menjadi <em>follower</em> dan <em>consumer </em>saja<em>. </em>Banyak diantaranya<em> </em>yang hanya bisa mengikuti <em>trend</em> dan menggunakan barang-barang tanpa mau mempelajari dan mencerna produk yang mereka gunakan terlebih dahulu. Barangkali karena permasalahan ini jugalah kita kemudian menemukan kesulitan untuk menjumpai pribadi yang memiliki idealisme dan prinsip yang ajeg. Namun walaupun sedikit, dapat dikatakan bahwa saat ini keberadaan orang-orang yang memiliki idealisme sangat diperlukan untuk mendorong terjadinya perubahan dan inovasi. Barangkali salah satu dari sedikit pelaku yang telah banyak melakukan pembaharuan adalah Tegep Octaviansyah, pemilik TEGEP BOOTS.</p>
<p><span id="more-662"></span></p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/ws_yesclub6_04.jpg" border="0" alt="Common Room" /></p>
<p>Inovasi menjadi landasan utama bagi Tegep dalam menjalankan usahanya. Mulai dari desain, teknologi, sistem, manajemen, hingga distribusi. Inovasi selalu dilakukan dengan tujuan menemukan cara yang lebih baik dari cara yang sebelumnya. Hal ini mencakup pada berbagai pendekatan yang lebih baik dalam mengembangkan desain yang baru, segar dan berbeda, namun dengan tetap menomorsatukan kualitas. Tampaknya karena hal ini jugalah TEGEP BOOTS sampai saat ini selalu memiliki konsumen yang loyal terhadap produknya. Selain itu, dengan mengembangkan inovasi TEGEP BOOTS selalu berhasil menemukan konsumen baru yang kemudian menjadi pelanggan setia mereka.</p>
<p>Jika sebagian besar pengusaha di Indonesia dan bahkan pemerintah selalu mengutamakan eksport, tidak demikian dengan TEGEP BOOTS. Tegep yakin, pasar dalam negeri pun merupakan lahan yang sangat besar untuk dimanfaatkan dengan baik. Dalam hal ini ekspor produk hanya merupakan bonus dan bukan tujuan utama. Hal ini yang sering dipahami secara salah oleh sebagian besar usahawan, masyarakat, dan pemerintah di Indonesia. Kebanyakan diantara mereka beranggapan bahwa dengan melakukan eksport, sebuah usaha dapat meningkatkan nilai dan harga produk di mata masyarakat dan dunia. Sampai saat ini, dapat dikatakan bahwa ekspor produk menjadi salah satu tujuan utama bagi pemerintah dan dunia usaha di Indonesia dalam menjaga persaingan di era globalisasi, walaupun pada kenyataannya pasar dalam negeri merupakan potensi yang belum banyak dikelola secara maksimal.</p>
<p>Menurut Tegep yang memulai karir sejak tahun 1997, “<em>pengalaman merupakan pembelajaran yang baik untuk kita</em>”. Hal ini menuntut para pengusaha untuk berpikir terbuka dan fleksibel dalam menjalankan usaha mereka. Dalam upaya untuk mengembangkan usaha, ia berujar bahwa kita tidak boleh ragu untuk merubah visi perusahaan atau sudut pandang kita dalam menghadapi dunia yang dinamis. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa <em>uniqueness (product), segmented (market), and new vision</em> menjadi strategi dalam menjalankan usaha yang penuh dengan tantangan dan inovasi. <strong>(yk)</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/rd-dalam-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Critical Reflection &amp; Speculative Review on Art, Culture, ICT/ Media in Bandung &#8211; Indonesia</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 05:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Forum]]></category>
		<category><![CDATA[Gathering]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[This material was presented during the opening of 1st FOWAB gathering at Common Room, 18 February 2010. Read event review at ruangfreelance (by Dian Ara) and dailysocial (by Wiku Baskoro). FOWAB (Forum Web Anak Bandung) is being initiated by iCreativelabs, Chocaholic, Gagas Imaji, Rave Warrior, Galenic, and ThinkRooms.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="margin: 0px;" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan2010programpresentasifowabpresentasifowab2010-100222230443-phpapp02&amp;stripped_title=critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="margin: 0px;" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=usersharrimaniskandardocumentsgustaffworkscommonroomkegiatan2010programpresentasifowabpresentasifowab2010-100222230443-phpapp02&amp;stripped_title=critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>This material was presented during the opening of 1st <a href="http://fowab.tumblr.com/" target="_blank">FOWAB</a> gathering at Common Room, 18 February 2010. Read event review at <a href="http://www.ruangfreelance.com/2010/02/20/fowab-kuak-kiprah-kreatif-it/" target="_blank">ruangfreelance</a> (by <a href="http://cerebrumdianara.blogspot.com/" target="_blank">Dian Ara</a>) and <a href="http://dailysocial.net/2010/02/19/event-review-fowab-forum-web-anak-bandung/" target="_blank">dailysocial</a> (by <a href="http://wikupedia.multiply.com/" target="_blank">Wiku Baskoro</a>). <strong>FOWAB (Forum Web Anak Bandung)</strong> is being initiated by <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/portfolio.icreativelabs.com/category/blog/');" href="http://portfolio.icreativelabs.com/category/blog/" target="_blank">iCreativelabs</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/madebychocaholic.com/');" href="http://madebychocaholic.com/" target="_blank">Chocaholic</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/gagasimaji.com/');" href="http://gagasimaji.com/" target="_blank">Gagas Imaji</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/ravewarrior.com/');" href="http://ravewarrior.com/" target="_blank">Rave Warrior</a>, <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/galenic.web.id/');" href="http://galenic.web.id/" target="_blank">Galenic</a>, and <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outgoing/thinkrooms.com/');" href="http://thinkrooms.com/" target="_blank">ThinkRooms</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/critical-reflection-speculative-review-on-art-culture-ict-media-in-bandung-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Lupa: Mengenang 2 Tahun Insiden AACC &#124; Common Room &#124; 17 Februari 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/melawan-lupa-mengenang-2-tahun-malam-insiden-kelabu-aacc/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/melawan-lupa-mengenang-2-tahun-malam-insiden-kelabu-aacc/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 10:17:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Human Rights]]></category>
		<category><![CDATA[Ujungberung Update]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=598</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian Sabtu Kelabu yang terjadi pada tahun 2008 yang telah lalu masih membekas di benak orang-orang yang hadir dalam malam peringatan dua tahun Tragedi AACC. Insiden ini merupakan malam yang tidak akan dilupakan oleh sebagian orang, sehingga dirasa penting untuk berefleksi dan mengenang kejadiannya, selain mengenang momen kebersamaan, serta mengambil hikmah dari kejadian itu. Melawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_601" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/Resize-of-IMG_0022.jpg"><img class="size-medium wp-image-601" title="melawan lupa " src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/Resize-of-IMG_0022-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">suasana pengajian </p></div>
<p>Kejadian Sabtu Kelabu yang terjadi pada tahun 2008 yang telah lalu masih membekas di benak orang-orang yang hadir dalam malam peringatan dua tahun Tragedi AACC. Insiden ini merupakan malam yang tidak akan dilupakan oleh sebagian orang, sehingga dirasa penting untuk berefleksi dan mengenang kejadiannya, selain mengenang momen kebersamaan, serta mengambil hikmah dari kejadian itu. Melawan Lupa, adalah momen krusial dan tagline penting dalam peringatan tahun ini. Berbeda dengan acara peringatan tahun lalu, agenda yang dilakukan tahun ini adalah mengaji dan berdoa untuk para korban dengan cara yang lebih sederhana. Malam peringatan pun dihadiri keluarga korban sebagai bentuk penghargaan kepada para korban yang telah menjadi bagian dari komunitas anak muda yang terlibat di dalam insiden ini.</p>
<p>Satu yang perlu disadari bahwa, insiden AACC bukanlah kesalahan satu pihak, namun kesalahan berbagai elemen terkait. Entah itu mulai dari pihak penyelenggara acara, penonton, pengelola gedung, polisi, pemerintah, media massa, hingga masyarakat. Banyak pihak yang sebetulnya berperan dalam insiden ini. Momen penting malam peringatan dua tahun tersebut merupakan pembelajaran untuk berbuat lebih nyata, mengambil hikmahnya, bersatu padu, dan menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini. Dan kejadian malam tersebut, merupakan pelajaran untuk masa depan yang lebih baik, jika kita mampu menyikapinya dengan bijak. Selesai berdoa, acara ditutup dengan makan tumpeng bersama dan melanjutkannya dengan menabur bunga di pelataran Gedung AACC. <strong>(yk)</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/melawan-lupa-mengenang-2-tahun-malam-insiden-kelabu-aacc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review Workshop Radio Crystal &#124; Common Room &#124; 13 Februari 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/workshop-radio-common-room-13-februari-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/workshop-radio-common-room-13-februari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 09:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Projects]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=580</guid>
		<description><![CDATA[Membuat radio ternyata tidaklah serumit yang kita bayangkan. Cukup dengan perangkat-perangkat sederhana, yaitu selongsong tisu gulung bekas, kawat enamel, diode germanium 1N60, Crystal Earphone 2,000k Ohm, dan antena, kita dapat membuat sebuah radio rakitan sederhana dan digunakan tanpa menggunakan tenaga listrik atau batu baterai. Radio ini bernama Radio Kristal. Prinsip kerja Radio Kristal adalah menangkap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-591" title="1" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Membuat radio ternyata tidaklah serumit yang kita bayangkan. Cukup dengan perangkat-perangkat sederhana, yaitu selongsong tisu gulung bekas, kawat enamel, diode germanium 1N60, Crystal Earphone 2,000k Ohm, dan antena, kita dapat membuat sebuah radio rakitan sederhana dan digunakan tanpa menggunakan tenaga listrik atau batu baterai. Radio ini bernama Radio Kristal. Prinsip kerja Radio Kristal adalah menangkap gelombang radio AM di udara.</p>
<p><span id="more-580"></span></p>
<p><a href="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-583" title="2- workshop radio " src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
<a href="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-588" title="3" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Walaupun sederhana, namun tidak mudah dilakukan untuk sebagian besar anak-anak, terutama ketika menggulung kawat enamel pada selongsong tisu gulung bekas sebanyak 76 kali. Gulungan kawat perlu disusun rapi berulang kali secara hati-hati dan jangan sampai ada kawat yang terhimpit atau menimpa kawat lainnya. Dengan bantuan beberapa orang dewasa (termasuk orang tua dan pemateri), anak-anak mampu melewati tahapan ini.</p>
<p>Setelah kawat terlilit rapi, bersama dengan perangkat-perangkat lain, semua komponen disusun di atas balok kayu yang sudah disediakan. Setelah rangkaian radio tersusun sesuai dengan skema dan antena telah terpasang dengan baik,  radio siap untuk mencari gelombang. Tinggal pasang earphone ke telinga, putar varco untuk mencari sinyal, maka radio siap dipakai! <strong>(yk)</strong></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/workshop-radio-common-room-13-februari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menangkap Siaran Radio Tanpa Baterai dengan Radio Crystal</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/menangkap-siaran-radio-tanpa-baterai-dengan-radio-chrystal/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/menangkap-siaran-radio-tanpa-baterai-dengan-radio-chrystal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 09:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Projects]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Materi oleh Andar Manik (Jendela Ide)
Di sekitar kita sebenarnya banyak sekali gelombang radio yang berseliweran. Semisal gelombang TV, radio FM, AM, pesawat, satelit, handphone, dan lain-lain.  Untuk menangkap gelombang tersebut diperlukan alat yang sesuai peruntukannya.
Salah satu cara sederhana untuk “menangkap” gelombang radio tersebut adalah menggunakan pesawat sederhana yang disebut Radio Kristal, Radio Diode Kristal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/chrystal_radio.jpg" border="0" alt="Chrystal Radio" width="480" height="360" /></p>
<p><em>Materi oleh Andar Manik (Jendela Ide)</em></p>
<p>Di sekitar kita sebenarnya banyak sekali gelombang radio yang berseliweran. Semisal gelombang TV, radio FM, AM, pesawat, satelit, handphone, dan lain-lain.  Untuk menangkap gelombang tersebut diperlukan alat yang sesuai peruntukannya.</p>
<p>Salah satu cara sederhana untuk “menangkap” gelombang radio tersebut adalah menggunakan pesawat sederhana yang disebut Radio Kristal, Radio Diode Kristal, atau Radio Angin. Alat ini mampu menangkap gelombang AM tanpa menggunakan tenaga listrik atau batu baterai sama sekali. Mirip kalau kita menerbangkan layang-layang, kita hanya membutuhkan angin untuk menerbangkannya, tidak perlu bahan bakar. Tentu saja kualitas penerimaannya tidak sebagus radio yang dijual di toko  atau seperti yang kita punya di rumah.</p>
<p><span id="more-599"></span></p>
<p><strong>Cara Kerja Radio Chrystal</strong><br />
<img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/skema_01.jpg" border="0" alt="Komponen 01" width="480" height="215" /></p>
<p>Saat stasiun radio menyiarkan berita atau lagu-lagu seperti yang biasa kita dengar di radio maka sebenarnya stasiun radio tersebut sedang memancarkan gelombang elektromagnetik yang ditumpangi sinyal suara sehingga suara itu dapat terdengar oleh kita meski jaraknya sangat jauh.</p>
<p>Ketika campuran gelombang tadi masuk ke pesawat  radio maka gelombang dipisahkan oleh komponen yang bernama “detektor” menjadi 2  seperti saat dipancarkan. Tetapi di sini gelombang  elektromagnetik “dibuang” alias tidak dipakai sementara gelombang suara diteruskan menuju  speaker. Maka terdengarlah  suara penyiar atau lagu-lagu seperti yang dipancarkan radio tadi.</p>
<p>Tenaga yang digunakan untuk menggerakkan radio ini adalah energi dari siaran radio itu sendiri. Akan tetapi karena energi radio tadi sangat kecil maka diperlukan alat khusus agar dapat kita dengarkan langsung, yakni dengan menggunakan crystal earphone berimpedansi 2,000 ohm atau lebih. Headphone biasa yang kita pakai di rumah tidak cukup kuat untuk meneruskan energi tadi.</p>
<p><strong>Komponen</strong><br />
Berikut adalah skema sederhana dari radio kristal:</p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/skema_02.jpg" border="0" alt="Komponen 02" /></p>
<p>Komponen yang kita butuhkan adalah:</p>
<ol>
<li>Variable capacitor radio AM</li>
<li>Kawat enamel 0,3 &#8211; 1 mm dengan panjang <span style="text-decoration: underline;">+</span> 15 meter</li>
<li>Selongsong tisu gulung bekas</li>
<li>Diode germanium 1N60</li>
<li>Crystal earphone 2,000k Ohm</li>
<li>Antena (minimal tinggi 5 meter)</li>
<li>Ground (terbuat dari sebatang besi yang ditancapkan ke tanah lembab)</li>
</ol>
<p><strong>Mari Kita Buat!</strong></p>
<ol>
<li> Buat koil dengan menggulung rapi kawat enamel ke wadah tisu bekas sebanyak 76 lilit. Usahakan dililit rapi, satu dengan lain rapat. Jangan lupa sisakan beberapa centi untuk sambungan.</li>
<li>Rangkai komponen varco dan diode seperti skema di atas. Untuk varco hubungkan kaki tengah ke ground dan yang kanan atau kiri ke koil.</li>
<li>Pasang komponen ke antena.</li>
<li>Pasang komponen ke ground.</li>
<li>Pasang earphone ke telinga dan putar-putar varco.</li>
<li>Jika tidak terdengar suara apapun periksa kembali sambungan, antena, dan ground-nya.</li>
<li>Jika semuanya terpasang baik maka akan terdengar suara siaran radio  yang dekat denganmu!</li>
<li>Untuk hasil lebih baik gunakan antena yang lebih tinggi.</li>
</ol>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/menangkap-siaran-radio-tanpa-baterai-dengan-radio-chrystal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Jiwa Entrepreneurship Berbasis Komunitas</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/membangun-jiwa-entrepreneurship-berbasis-komunitas/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/membangun-jiwa-entrepreneurship-berbasis-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 11:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[“If you have an idea, bend it as curve as you can”
- Reza Pamungkas
Project Director, Independent Network Indonesia
Pertemuan YES Club Bandung kali ini membahas “jiwa entrepreneurship berbasis komunitas” dengan mengundang dua pembicara, yaitu Man Jasad (Bandung Death Metal Syndicate atau disingkat BDM) dan Reza Pamungkas (Independent Network Indonesia atau disingkat INI). Poin pentingnya, bagaimana membangun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/IMG_9891_s.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-518" title="diskusi YESS club" src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/IMG_9891_s-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></em></p>
<p style="text-align: right;"><em>“If you have an idea, bend it as curve as you can”<br />
- Reza Pamungkas<br />
<strong>Project Director, Independent Network Indonesia</strong></em></p>
<p>Pertemuan YES Club Bandung kali ini membahas “jiwa entrepreneurship berbasis komunitas” dengan mengundang dua pembicara, yaitu Man Jasad (<em>Bandung Death Metal Syndicate</em> atau disingkat BDM) dan Reza Pamungkas (<em>Independent Network Indonesia</em> atau disingkat INI). Poin pentingnya, bagaimana membangun sebuah sistem bisnis dengan modal berbasis jaringan dan kepercayaan (<em>trust</em>) sebagai prinsip utama.</p>
<p>Sebelum membahas topik ini, pertemuan dimulai dengan presentasi dua orang member YES Club Bandung yang bertujuan memperkenalkan jenis usaha serta proses kerja bahkan pencapaian yang telah dicapai. Mereka adalah Project Manager Cenikrenik Wulantri dan Direktur Umum Greeneration Indonesia M. Bijaksana Junerosano atau akrab disapa Sano.</p>
<p><span id="more-516"></span></p>
<p>Cenikrenik yang berdiri sejak tahun 2007 ini berawal dari pertemanan tujuh orang perempuan lulusan FSRD ITB yang memiliki minat sama pada tas dan furniture. Bermula dari rasa iseng, mereka sepakat untuk serius menekuni minat tersebut menjadi bisnis. Cenikrenik sempat vakum ketika beberapa pendirinya melanjutkan sekolah di luar negeri. Sekembalinya ke Indonesia, pada tahun 2009, mereka sepakat meneruskan kembali usaha ini. Hingga saat ini, tersisa 3-4 orang yang  tetap berkarir di Cenikrenik.</p>
<p>Produk Cenikrenik kebanyakan tas, didesain sendiri oleh para pendirinya. Proses distribusi mengandalkan penjualan online terutama jejaring <em>Facebook </em>agar memudahkan Cenikrenik untuk berinteraksi langsung dengan para pembeli. Produk-produk Cenikrenik pun sudah mulai dititipkan di beberapa toko di pusat perbelanjaan Jakarta. Saat ini Cenikrenik berkeinginan untuk memiliki showroom sendiri dengan maksud menjaga image dan brand produk mereka. Rencananya pada tahun ini Cenikrenik sedang mempertimbangkan untuk melakukan ekspor.</p>
<p>Greeneration Indonesia (GI) yang berdiri sejak tahun 2005 merupakan perusahaan yang memperkenalkan gaya hidup ramah lingkungan (green lifestyle). GI didirikan oleh tiga orang sarjana yang berasal dari latar belakang akademik berbeda yaitu Sano (Teknik Lingkungan), Anindito (Arsitektur), dan Mufti Alem (Desain Produk). Karena latar belakang akademik yang berbeda, memungkinkan mereka untuk bergerak dan berpikir lintas disiplin.</p>
<p>Saat ini GI telah memperluas jaringan kerjasamanya mulai dari mahasiswa, akademisi, LSM/NGO (lokal/internasional), pemerintah, bahkan pengusaha. GI bergerak berdasar prinsip ABG (<em>Academic, Business, and Government</em>). Lewat salah satu produknya, Bagoes (tas <em>reusable</em>), GI berhasil menggandeng <em>Circle K</em> untuk menjual produk tersebut di lima kota besar diantaranya Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. GI pun menjadi partner Toyota dalam membuat kegiatan berbasis lingkungan. GI juga turut serta menjadi pendamping salah satu program<em> NGO Plan Indonesia</em> atau Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB). Setelah Cenikrenik dan GI selesai memaparkan presentasinya, tema utama dalam seminar <em>entrepreneurship </em>berbasis komunitas ini mulai dipaparkan oleh Man Jasad (BDM) dan Reza Pamungkas (INI).</p>
<p>Diskusi pada sesi ini diawali dengan pembicaraan soal modal penting dalam  membangun usaha berbasis komunitas. Kepercayaan (<em>Trust)</em> menjadi kata kunci dalam melakukan bisnis berbasis komunitas. Tidak hanya bagi Cenikrenik dan GI, demikian pula bagi BDM dan INI. BDM sendiri bergerak di ranah sosial, ekonomi, dan budaya, melalui kegiatan-kegiatan untuk mewadahi kreativitas anak muda (sosial), pengadaan merchandise band (ekonomi), dan penciptaan musik yang menggabungkan musik tradisional dengan musik masa kini (budaya). Sedangkan INI merupakan sebuah usaha di bidang <em>Event Management</em> dan <em>Communication Program Management</em> yang berdiri sejak tahun 1999. Mereka membangun usahanya atas dasar menciptakan dan membangun kesempatan, untuk diri maupun orang lain. Dan kini, terbukti, mereka telah mampu menggandeng rekan-rekan di komunitas lain untuk bekerja sama.</p>
<p><img src="http://commonroom.info/wp-content/uploads/2010/02/bisnis-model2.jpg" alt="" width="567" height="102" /></p>
<p>Bisnis yang mereka jalankan memiliki prinsip: dari komunitas, untuk komunitas. Walaupun demikian, bisnis yang dijalankan perlu dibuat secara struktural. Perlu ada pembagian peran dan tanggungjawab secara jelas. Dari gambaran di atas terdapat sebuah pola hubungan yang berawal dari komunitas kemudian menjadi bisnis dan menjaring komunitas dalam mengembangkan bisnisnya. Dalam menjalankan usaha ini dibutuhkan komitmen dan mutualisme antar komunitas, sehingga terbina rasa kepercayaan sebagai modal dasar. Apabila dapat berkembang baik dalam rentang waktu yang panjang, biasanya keberadaan komunitas menjadi satu kekuatan yang mulai diperhitungkan oleh banyak pihak. Mulai sebagai pangsa pasar yang potensial, jejaring produksi, distribusi, maupun konsumen yang loyal. Menurut Man Jasad, yang kemudian juga diamini oleh Reza, dalam menjalani bisnis ini, satu etika yang perlu dipegang adalah tidak “<em>culas</em>”* atau membiasakan menanam dan memegang kepercayaan. Dalam hal ini, Andar Manik (pendiri Jendela Ide) kemudian menambahkan prinsip komunitas yang mengedepankan nilai-nilai yang terbuka, non-diskriminatif, dan inklusif.</p>
<p>Penulis: Yasmin Kartikasari<br />
Editor: Idhar Resmadi</p>
<p><em>*Menikam dari belakang, menyalahi kepercayaan</em></p>
<p>Berita terkait bisa diakses di halaman berikut ini: <a rel="nofollow" href="http://bit.ly/crDPNN" target="_blank">http://bit.ly/crDPNN</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/membangun-jiwa-entrepreneurship-berbasis-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Engko by Mang Ayi (Subang) &#124; Trah Project, 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/engko-by-mang-ayi-2010/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/engko-by-mang-ayi-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 02:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Ethnology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[Engko is a very old Sundanese folk song. Recorded by Gigi in early 2010 as part of Trah Project.  This song is performed by  Mang Ayi,  a renowed  native artist from Subang. Engko is the song about the light of God. Engko, in general term means &#8220;later&#8221;, while Ya Nur Yallah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="data" value="http://www.youtube.com/v/okMqvDba31k&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/okMqvDba31k&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/okMqvDba31k&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" data="http://www.youtube.com/v/okMqvDba31k&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;"></embed></object></p>
<p>Engko is a very old Sundanese folk song. Recorded by Gigi in early 2010 as part of Trah Project.  This song is performed by  Mang Ayi,  a renowed  native artist from Subang. Engko is the song about the light of God. Engko, in general term means &#8220;later&#8221;, while Ya Nur Yallah means the light of God.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/engko-by-mang-ayi-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UNDER ONE SKY &#124; pemutaran film + diskusi: HAM dan Jurnalisme &#124; Rabu, 16 Desember 2009</title>
		<link>http://commonroom.info/2009/under-one-sky-pemutaran-film-diskusi-ham-dan-jurnalisme-rabu-16-desember-2009/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2009/under-one-sky-pemutaran-film-diskusi-ham-dan-jurnalisme-rabu-16-desember-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 16:53:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Discussion]]></category>
		<category><![CDATA[Residency]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Under One Sky adalah judul dari sebuah film dokumenter di bawah arahan dan suntingan Kiri Dalena, seorang seniman Phillipina yang saat ini tengah menjalani program residensi singkat di Common Room. Film produksi tahun 2009 dan berdurasi 30 menit ini dikerjakan secara bersama-sama dengan Patricia Evangelista. Keduanya berasal dari Phillipina.
Film ini bercerita tentang sebuah insiden yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Noel" src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/noel_blog.jpg" border="0" alt="film" /></p>
<p>Under One Sky adalah judul dari sebuah film dokumenter di bawah arahan dan suntingan Kiri Dalena, seorang seniman Phillipina yang saat ini tengah menjalani program residensi singkat di Common Room. Film produksi tahun 2009 dan berdurasi 30 menit ini dikerjakan secara bersama-sama dengan Patricia Evangelista. Keduanya berasal dari Phillipina.</p>
<p>Film ini bercerita tentang sebuah insiden yang terjadi pada tanggal 23 November 2009, ketika sebuah pembantaian terjadi di wilayah Maguindanao dan kemudian dikenal dengan insiden Pembantaian Maguindanau. Dalam insiden ini, sekitar 57 laki-laki dan perempuan dibunuh secara brutal. Secara khusus, film ini berkisah mengenai orang-orang yang menjadi korban, termasuk keluarga yang ditinggalkan. Dalam insiden ini, juga tercatat kematian 31 orang wartawan yang ikut menjadi korban pembantaian yang dilakukan secara membabi buta.</p>
<p><span id="more-496"></span></p>
<p>Program ini merupakan bagian dari program peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang biasanya diselenggarakan setiap tanggal 10 Desember di seluruh dunia. Kali ini, kegiatan peringatan mengambil fokus pada diskusi mengenai posisi dan peran jurnalis dalam konteks penegakan HAM dengan perbandingan situasi di Phillipina dan Indonesia. Melalui kegiatan pemutaran dan diskusi kali ini, akan dibahas secara detail bagaimana posisi seorang jurnalis yang memiliki peran yang strategis dalam upaya penegakan HAM, terutama dalam perspektif menunaikan hak dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan.</p>
<p>Dalam banyak kasus di Indonesia ataupun negara lain, kita dapat menyaksikan bagaimana insiden dan pelanggaran HAM juga kerap menjadikan para jurnalis sebagai korbannya. Diharapkan melalui kegiatan ini, masyarakat luas dapat membicarakan berbagai aspek yang terkait dengan upaya penegakan HAM dan melihat peran para jurnalis secara reflektif dan kritis. Selain itu, kegiatan ini juga akan membicarakan berbagai aspek yang terkait dengan perundang-undangan dan hukum positif Indonesia dalam koridor Deklarasi HAM Universal yang pertama kali dikumandangkan kurang lebih 61 tahun yang lalu.</p>
<p>Selain kegiatan pemutaran film Under One Sky serta diskusi mengenai HAM dan Jurnalisme, kegiatan ini juga akan diisi dengan pemutaran film Balibo V, yang merujuk kepada kasus terbunuhnya lima wartawan asing, yaitu Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Leste (dulu Timor-Timur) pada tahun 1975. Film ini merupakan arahan dari sutradara Rob Conolly dan sempat dilarang diputar dalam acara Jakarta International Film Festival (JIFFEST) pada bulan Desember tahun ini.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="data" value="http://www.youtube.com/v/rN6YM2d2TgM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/rN6YM2d2TgM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/rN6YM2d2TgM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" data="http://www.youtube.com/v/rN6YM2d2TgM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;"></embed></object></p>
<p>Host: Common Room<br />
Date: Rabu, 16 Desember, 2009<br />
Time: 3:00 pm &#8211; 7:00 pm<br />
Location: Common Room<br />
Street: Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
City/Town: Bandung, Indonesia</p>
<p><strong>TOR Diskusi:</strong><br />
Hak asasi manusia (HAM) adalah hak yang melekat pada diri manusia sehingga memiliki sifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan Yang Maha Pencipta yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat, maupun negara.</p>
<p>John Locke mengemukakan hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Karena itu, tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya. Hak ini sifatnya mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia, serta merupakan hal kodrati yang tidak bisa dipisahkan.</p>
<p>Dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia pasal 1 disebutkan, “<em>Hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia</em>”.</p>
<p>Berdasarkan beberapa rumusan HAM, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM, yaitu:</p>
<ol>
<li>HAM tidak perlu diberikan, dibeli, atau diwarisi. HAM adalah bagian dari keberadaan manusia secara otomatis.</li>
<li>HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.</li>
<li>HAM tidak bisa dilanggar. Tidak ada yang bisa membatasi atau melangggar hak orang lain. Seseorang tetap memiliki HAM walaupun negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM tersebut.</li>
</ol>
<p>Selanjutnya, secara operasional dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, ada beberapa bentuk:</p>
<ol>
<li> Hak untuk hidup;</li>
<li>Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan;</li>
<li>Hak mengembangkan diri;</li>
<li>Hak memperoleh keadilan;</li>
<li>Hak atas kebebasan pribadi;</li>
<li>Hak atas rasa aman;</li>
<li>Hak atas kesejahteraan;</li>
<li>Hak turut serta dalam pemerintahan;</li>
<li>Hak wanita; dan</li>
<li>Hak anak.</li>
</ol>
<p>Deklarasi tentang HAM juga memasukkan hak atas kebebasan berekspresi dan beropini. Sebagai contoh, pasal 19 dalam deklarasi yang disahkan pada tahun 1948 itu adalah;</p>
<p>”<em>Setiap orang berhak atas kebebasan beropini dan berekspresi, hak ini meliputi kebebasan untuk memiliki opini tanpa intervensi, serta untuk mencari, menerima, dan mengungkapkan informasi serta gagasan melalui media apapun dan tidak terikat pada garis berpendapat</em>”.</p>
<p>Pada pasal 18 juga tercantum kalimat, ”<em>Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir&#8230;</em>”. Bentuk dari kebebasan berekspresi adalah kebebasan berpendapat. Sementara Undang-undang Dasar hasil amandemen pasal 28 pun menyatakan; ”<em>Kemerdekaan berserikat dan bekumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang</em>”.</p>
<p>Filosofi kelahiran hak atas kebebasan berekspresi ini adalah menguatnya tekanan negara terhadap perjuangan atas hak-hak dasar manusia. Dalam perspektif Marxian, perjuangan atas hak dasar ekonomi menjadi alasan bagi negara untuk menegakan kebebasan dalam organisasi sipil-politik.</p>
<p>Kebebasan berekspresi merupakan isu yang menjadi domain penting dan mendesak untuk diperjuangan. Tanpa kebebasan bereskpresi (di dalamnya termaktub kebebasan pers, memberikan informasi dan mendapat informasi), perjuangan HAM di bidang-bidang lain dapat ikut terhambat keberadaannya.</p>
<p>Sudah banyak korban bergelimpangan ketika perjuangan untuk berekspresi dan berbicara dibungkam secara paksa. Penangkapan, penculikan, pembunuhan, dan pemenjaraan aktivis serta jurnalis merupakan bukti bagaimana institusi dan aparat negara selalu berupaya untuk mencegah perbaikan sistemik di negeri ini.</p>
<p>Peran jurnalis dan masyarakat dalam masa reformasi memiliki peran yang penting untuk melawan kejahatan HAM. Tetapi, pemerintah dan DPR malah mengutak-atik masalah kebebasan melalui beberapa aturan perundang-undangan dan tata aturan hukum yang bias.</p>
<p>Beberapa pereaturan yang mengancam suara dan kebebasan publik diantaranya adalah UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Sebagaimana polemik yang berkembang selama beberapa waktu terakhir, Prita Mulyasari adalah salah satu korban dari kesewenangan ini.</p>
<p>Produk lain yang hendak keluar adalah RUU Rahasia Negara. Rancangan aturan ini memiliki peluang untuk melakukan proses kriminalisasi bagi warga negara Indonesia yang membocorkan rahasia institusi atau pejabat publik. Beberapa organisasi masyarakat sipil (OMS) pro kebebasan berekspresi menduga langkah pemerintah ini cenderung untuk melindungi perilaku negatif pejabat publik. Publik kemudian tidak diperkenankan untuk melihat kinerja aparatus, berkas dokumen, serta laporan keuangan dengan alasan rahasia negara.</p>
<p>Selain itu, produk hukum lama yang termaktub dalam Kitab UU Hukum Pidana juga masih menyimpan beragam jebakan bagi kebebasan pers. Pasal-pasal defamasi (pencemaran nama baik) masih berserakan dalam KUHP yang merupakan produk kolonial tersebut.</p>
<p>Diantara yang negatif, posisi publik dalam perjuangan kebebasan menyampaikan dan mendapatkan informasi masih dijamin dalam pasal 28 UUD Amandemen 1945, UU Pers, dan UU Keterbukaan Informasi Publik.</p>
<p>Dengan penjelasan tersebut maka kiranya perlu pembahasan lebih lanjut seperti:</p>
<ol>
<li>Bagaimanakah publik memanfaatkan produk aturan yang membela perjuangan kebebasan berekspresi?</li>
<li>Apakah model <em>citizen journalism</em> bisa memberi tawaran konkret terhadap penyebaran informasi?</li>
<li>Perlukah manajemen informasi dan etika ketat agar model citizen journalism tidak terjebak pasal-pasal defamasi dan jeratan hukum pidana lainnya?</li>
</ol>
<p><em>Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI Bandung) yang bekerjasama dengan Common Room. Sementara Kiri Dalena merupakan seorang seniman yang tengah menjalani program residensi di Common Room. Kehadirannya merupakan bagian dari program pertukaran seniman yang didukung oleh Ateneo Gallery (Manila), HIVOS &amp; Common Room. Gratis dan terbuka untuk umum, terutama para pelajar, mahasiswa, guru, wartawan, seniman, desainer, musisi, ibu rumah tangga, polisi, tentara, dsb.<br />
</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2009/under-one-sky-pemutaran-film-diskusi-ham-dan-jurnalisme-rabu-16-desember-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
