<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 10:51:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Survei ITC dan Civil Society</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/survei-itc-dan-civil-society/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/survei-itc-dan-civil-society/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 10:25:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[New Media]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1454</guid>
		<description><![CDATA[
Survey SoftwareEnterprise Feedback ManagementSilakan klik link ini untuk berpartisipasi dalam survey
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--BEGIN QUALTRICS SURVEY--><br />
<iframe src="http://mbs.qualtrics.com/SE?SID=SV_0cEQLkCyokGzZME" width=650 height=950><br />
<a target="_blank" title="Survey Software" href="http://www.qualtrics.com/survey-software/">Survey Software</a><br/><a target="_blank" title="Enterprise Feedback Management" href="http://www.qualtrics.com/solutions/enterprise-feedback-management/">Enterprise Feedback Management</a><br/><a target="_blank" href="http://mbs.qualtrics.com/SE?SID=SV_0cEQLkCyokGzZME">Silakan klik link ini untuk berpartisipasi dalam survey</a><br/></iframe><br />
<!--END QUALTRICS SURVEY--></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/survei-itc-dan-civil-society/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dune 4.1 &#124; Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL) &#124; Common Room, 13 &#8211; 18 Agustus 2010</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 04:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Media Arts]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[Dune 4.1 &#124; Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL)
13 &#8211; 18 Agustus 2010
Setiap hari pukul 10.00 &#8211; 17.00 WIB
Pembukaan pameran
Jumat, 13 Agustus 2010, pukul 15.00 WIB &#8211; selesai
(dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama)
Venue
Common Room Networks Foundation (Common Room)
Jl. Kyai Gede Utama no. 8
Bandung 40132
Telp./Fax.: +62.22.2503404
URL: http://commonroom.info


Deskripsi
 Apa yang bakal terjadi apabila teknologi melompat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/poster_daan_low.jpg" border="0" alt="commonroom" /></p>
<p><strong>Dune 4.1 | Pameran Karya Seni Interaktif oleh Daan Roosegaarde (NL)</strong></p>
<p>13 &#8211; 18 Agustus 2010<br />
Setiap hari pukul 10.00 &#8211; 17.00 WIB</p>
<p><strong>Pembukaan pameran<br />
</strong>Jumat, 13 Agustus 2010, pukul 15.00 WIB &#8211; selesai<br />
(dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama)</p>
<p><strong>Venue</strong><br />
Common Room Networks Foundation (Common Room)<br />
Jl. Kyai Gede Utama no. 8<br />
Bandung 40132<br />
Telp./Fax.: +62.22.2503404<br />
URL: <a href="http://commonroom.info" rel="nofollow">http://commonroom.info</a></p>
<p><span id="more-1407"></span></p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/dune_low_01.jpg" border="0" alt="Dune" /></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
<em> Apa yang bakal terjadi apabila teknologi melompat keluar dari layar dan berbaur dengan alam serta lanskap di zaman kiwari? Perenungan ini pada awalnya adalah sebuah pertanyaan di dalam benak pikiran seniman Daan Roosegaarde ketika mengerjakan karya interaktif ‘Dune’ selama 4 tahun terakhir ini.</em></p>
<p>Dune 4.1 adalah sebuah karya interaktif yang dapat bereaksi terhadap tingkah laku manusia. Gabungan dari fenomena alam dan teknologi ini terdiri dari sejumlah besar serat yang dapat menyala menurut suara dan gerakan pengunjung yang berlalu lalang. Dalam hal ini, Dune 4.1 menyelidiki kondisi alam dalam kaitan futuristiknya dengan tata ruang kota melalui cara melihat, berjalan dan berinteraksi. Berjalan melalui karya ini digambarkan oleh pers internasional seakan tengah berada di dalam ‘Alice in Technoland’ (analogi cerita &amp; film ‘Alice in Wonderland’).</p>
<p>Walaupun Dune 4.1 secara fisik dikemas dengan teknologi tinggi, pameran ini memberi penekanan kepada dunia pengalaman sensual dimana teknologi merupakan alat yang dibutuhkan namun tidak perlu terlihat keberadaannya. Dengan bereaksi terhadap suara dan gerakan, karya instalasi ini mengajak pemirsa untuk menciptakan ruang personal yang seolah menyelimuti seluruh permukaan tubuh kita. Melalui pengalaman ini, para pengunjung pameran mendapat kesempatan untuk membangun kesadaran akan hubungan yang dinamis dengan lingkungan di sekitar mereka.</p>
<p>Di beberapa tempat seperti Slovenia, dimana kebanyakan orang terbiasa pada sebuah situasi di mana dinding pun dapat memata-matai, generasi yang lebih tua agak merasa kurang nyaman dengan kehadiran Dune 4.1. Sebaliknya, aktor-aktor di Hollywood yang melihat karya ini dalam sebuat presentasi kerap mengatakan, “<em>Lagi, lagi, perlihatkan lagi!</em>”</p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/dune_low_02.jpg" border="0" alt="Dune" /></p>
<p>Terinspirasi oleh novel J. G. Ballard dan film-film David Lynch, karya Roosegaarde pada umumnya selalu berusaha untuk berbicara dengan mendorong interaksi yang langsung dengan setiap pengunjung pamerannya. Aplikasi teknologi interaktif mutakhir pada karya Dune 4.1 melahirkan karya cerdas yang dapat memodifikasi penampilannya sendiri berdasarkan deteksi yang dinamis pada perilaku manusia.</p>
<p>Melalui karya ini, Roosegaarde juga menggambarkan ketertarikan yang tidak berkesudahan pada wilayah abu-abu, yang mempertemukan dunia arsitektur, manusia dan teknologi. Dalam dunia seniman, secara konvensional ruang dan lingkungan adalah tempat bagi berbagai bentuk eksperimentasi dan uji coba. Selain itu, secara teoritik juga digambarkan bahwa alam dan teknologi yang berkembang secara bersamaan pada akhirnya akan menyatu. Pameran ini barangkali adalah sebuah gambaran yang kongkrit dari gagasan-gagasan tersebut.</p>
<p>Khusus untuk pameran di Indonesia, Roosegaarde juga terinspirasi oleh novel ‘The Tea Merchants’ yang ditulis oleh Hella Haase. Novel ini berkisah tentang pasangan Rudolf Kerkhoven dan anggota keluarga Jenny Roosegaarde Bisschop yang melakukan perjalanan dari Belanda ke perkebunan teh terpencil di daerah Preanger, Jawa Barat pada tahun 1871. Kisah ini adalah sebuah cerita yang hidup dari dunia yang hilang pada masa Hindia Belanda. Melalui pameran Dune 4.1 di Indonesia, sebuah hubungan baru telah mempertemukan lanskap kebun teh kuno dari keluarga Roosegaarde dengan pemandangan masa depan yang berpadu menjadi sebuah bentang alam yang baru.</p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd114/gustaffharriman/roosegaarde_low.jpg" border="0" alt="Daan Rooseegarde" /></p>
<p><strong>Sekilas Tentang Daan Roosegaarde</strong><br />
Berbasis di Rotterdam, Daan Roosegaarde belajar di Academy of Fine Arts (AKI) yang terletak di Enschede. Ia mengambil jurusan Monumental Sculpture sebelum melanjutkan untuk memperoleh gelar Master di bidang Arsitek dari Berlage Institute. Pada tahun 2005 dia mendirikan Studio Roosegaarde dan dengan cepat mendapat pengakuan dunia atas karya serta desainnya yang interaktif dan tidak biasa.</p>
<p>Sejak didirikan, Studio Roosegaarde menjadi pusat pengembangan kreatifitas untuk melakukan eksplorasi ide serta konsep yang konsisten dengan visi artistik Roosegaarde. Studio ini secara spesifik menyoroti dinamika hubungan antara dunia arsitektur, masyarakat dan e-culture. Kebanyakan dari karya Roosegaarde juga dibuat untuk membangkitkan situasi yang dapat mengakomodasi sebuah prinsip yang disebut “<em>tactile high-tech</em>”, dimana pengunjung dan ruang publik dapat menjadi satu dalam kurun waktu tertentu.</p>
<p>Roosegaarde sendiri tidak percaya pada penerapan yang statis dari perkembangan teknik, semisal menatap secara pasif pada layar komputer. Aplikasi teknis akan menjadi lebih interaktif ketika ia dapat menyesuaikan diri pada prilaku penggunanya. Sebagai contoh barangkali adalah penggunaan tangga berjalan. 100 tahun yang lalu tangga berjalan masih merupakan sebentuk instrumen teknis yang statis.</p>
<p>Dewasa ini tangga berjalan telah dapat menyesuaikan kecepatannya. Jika tidak ada orang yang menggunakannya, ia akan bergerak lebih lambat untuk menghemat energi. Pada saat seseorang menggunakannya, ia kemudian akan bergerak lebih cepat. Dalam hal ini kita dapat sama-sama melihat bagaimana perkembangan teknik dapat memiliki hubungan yang lebih alami dengan manusia dan lingkungannya.</p>
<p>Setelah mendapat pengakuan atas karyanya (diantaranya adalah “Dune” dan “Sustainable Dance Floor”), Roosegaarde kemudian mendapatkan kesempatan untuk menampilkan proyek interaktifnya di berbagai venue internasional seperti V2_, Netherlands Media Art Institute Montevideo, Tate Modern London, Yamaguchi Center for Arts and Media Japan, National Art Center Tokyo, Venice Biennale 2009 dan Victoria &amp; Albert Museum London.</p>
<p>URL: <a href="http://www.studioroosegaarde.net/" target="_blank">http://www.studioroosegaarde.net/</a></p>
<p><em>Pameran ini terselenggara atas kerjasama dari Erasmus Huis, Common Room Networks Foundation dan HIVOS</em>. <em>Juga didukung oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual &#8211; Institut Teknologi Bandung</em>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/dune-4-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asyiknya, Merakit Synthesizer Secara Do It Yourself &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 14:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. Workshop [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_3567.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. Workshop ini merupakan rangkaian dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon.</p>
<p>Sejak pukul empat sore, para peserta tampak asyik merakit. Mereka dengan seksama memerhatikan instruksi dari mentor Evan (Storn). Evan sendiri dikenal sebagai perakit alat musik macam synthesizer, moog, efek gitar, dan sebagainya secara mandiri. Untuk kegiatan kali ini, Evan memberikan modul perakitan synthesizer secara sederhana. Piranti musik seperti sequencer synthesizer merupakan salah satu instrumen penting yang dapat menunjang para musisi elektronik untuk menciptakan musik sesuai dengan selera mereka. Alat ini sangat bermanfaat bagi para musisi dalam menciptakan tempo, nada dan harmoni. Selain kemampuan teknis dalam menggunakan sequencer, idealnya seorang musisi elektronik juga mengetahui seluk beluk dari piranti elektronik yang mereka gunakan.</p>
<p>Dalam workshop ini Evan memberikan panduan untuk merakit 8-Step Sequencer Synthesizer secara sederhana. Para peserta workshop akan diajak untuk menciptakan 8-Step Sequencer Synthesizer dengan beberapa fitur yang terdiri dari 1 knop tempo, 1 push button play/ stop, 1 knop tune, 8 step knop nada, 1 knop volume, 2 jack clock in/ clock out, dan 1 jack audio out.</p>
<p>Namun, Evan mengakui kerumitan dari workshop ini diluar bayangannya semula. Alhasil, dari sekian banyak peserta tak ada satupun yang berhasil membereskan synthesizer secara sempurna. Sementara, seperti yang diakui oleh salah seorang peserta, Reza Cahaya Pratama, mengaku bahwa persiapan teknis yang kurang siap serta temaramnya lampu menjadi salah satu alasan kenapa para peserta seolah gagap dalam menyelesaikan workshop.</p>
<p>Para peserta mengaku meski sulit dan rumit mengerjakan komponen tersebut, namun mereka mendapat pengalaman baru dan mengasyikkan seputar merakit alat musik. Menariknya, alat musik ciptaan mereka sendiri atau<em> do it yourself tools</em> tersebut bisa mereka miliki. Rencananya, setelah semua alat synthesizer milik peserta beres, akan diadakan sesi jamming menggunakan alat tersebut. Salah satu keunggulan 8-step sequencer synthesizer yaitu antara satu instrumen dengan instrument lainnya bisa dikombinasikan sehingga merangkai suara yang menarik. Asyiknya…</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksistensi Pentas Musik Elektronik &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/eksistensi-pentas-musik-elektronik-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/eksistensi-pentas-musik-elektronik-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 13:26:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[OpenLabs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1400</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi
Tulisan “As long as you stay with me you’re safe” terpampang dalam instalasi sebuah kursi dan gitar yang berada di area penonton. Kursi itu dilengkapi dengan selongsong bambu, sebuah harmonika, dan beberapa sobekan kertas. Para penonton mengernyitkan dahi melihat instalasi tersebut. Instalasi itu ditempatkan tak beda layaknya penonton. Diam dan statis. Jumlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/P1040069.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="639" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Tulisan “As long as you stay with me you’re safe” terpampang dalam instalasi sebuah kursi dan gitar yang berada di area penonton. Kursi itu dilengkapi dengan selongsong bambu, sebuah harmonika, dan beberapa sobekan kertas. Para penonton mengernyitkan dahi melihat instalasi tersebut. Instalasi itu ditempatkan tak beda layaknya penonton. Diam dan statis. Jumlah penonton yang tak begitu banyak memadati ruang Auditorium CCF Bandung itu terheran oleh penampilan musisi asal Perancis, Benjamin Laurent Aman. Mungkin hal itu dilakukan Benjamin untuk “memancing” apresiasi penonton, karena musik seni-derau (art-noise) yang dimainkannya sangat susah untuk diapresiasi oleh masyarakat awam.</p>
<p>Dalam penampilannya, ia tak hanya menyajikan musik seni-derau (art-noise) kepada penonton. Setiap kali musik menyala lampu venue berubah terang, sebaliknya ketika satu lagu telah selesai lampu pun kembali padam. Hal ini kontras dengan apa yang ditampilkan para band-band sebelumnya. Konsep matang yang memadukan instalasi rupa, suara, dan cahaya menjadi satu konsep tertentu yang ingin disampaikan oleh Benjamin Aman. Ia bermain seolah berada pada ruang suara dan cahaya yang mengitari seantero ruangan Auditorium. Ia bermain di mana cahaya dan suara adalah satu bentuk utuh dari suatu irama.</p>
<p><span id="more-1400"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/ed.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="279" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Penampilan Benjamin Laurent Aman di Bandung hadir untuk meramaikan konser Silent Zone in conjunction with The Ostend Emerge: an Openlabs Audio Compilation Launching Party. Sebelumnya musisi asal Perancis yang kerap berkarya di Jerman ini tampil pula dalam beberapa show-show kecil di Bandung seperti Pembukaan Pameran The Loss of the Real dan sebuah sesi kecil di Common Room Bandung.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_2821.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Konser ini dirayakan untuk menyambut rilisnya album kompilasi Openlabs. Sekitar delapan band elektronik hadir meramaikan launching tersebut. Openlabs sendiri merupakan komunitas musik elektronik di Bandung yang telah eksis sejak tahun 2007. Band-band pengisi konser pun berasal dari komunitas tersebut yang diantaranya yaitu Asturiaz, Bottlesmoker, Do Ear, Europe in de Tropen, Slylab, Space and Missile, text/tuRE, dan #KRESS. Acara ini pun dikolaborasikan dengan visual dari VJ-VJ Open Labs seperti  Diskjim, Admiral, 19ate6, dan Isha Hening.</p>
<p>Konser yang dimulai pukul tujuh malam itu memberikan eksistensi berarti bagi pegiat musik elektronik. Rilisnya album kompilasi bergenre elektronik boleh dikatakan ‘milestone’ bagi komunitas ini untuk memperlihatkan karya musiknya kepada khalayak banyak. Notabene musik-musik elektronik yang dimainkan oleh komunitas Openlabs berada di wilayah yang segmented. Band-band yang tampil dalam konser ini memiliki ragam warna karakter musiknya. Ada musik-musik elektronik dengan sentuhan downtempo dan shoegaze seperti Asturiaz dan Slylab, atau warna post-rock instrumental dari Space and Missile, electropop-nya Bottlesmoker dan Europe in de Tropen, electroglitch dari text/tuRE, hingga drum n bass dari #KRESS dan Do Ear.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/eksistensi-pentas-musik-elektronik-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu dan Ajar tentang Free &amp; Open Source &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 08:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[FOSS]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1397</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Mang Tahu
Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. voila… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut.
Salah satu project yang menggunakan software gratis ini adalah The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/IMG_2549.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /><br />
<em>Foto Oleh Mang Tahu</em></p>
<p>Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. <em>voila</em>… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut.</p>
<p>Salah satu project yang menggunakan software gratis ini adalah <em>The Otuz: Screaming Graphic Novel Project</em> (<a href="http://www.theotuz.org/">http://www.theotuz.org/</a>), yang diinisiasi oleh Monty Aji, seniman dan desainer Screamous Clothing Indonesia (<a href="http://www.screamous.com/">http://www.screamous.com/</a>). Monty yang berbagi cerita pada Jumat (30/07) sore yang lalu di Common Room menekankan bahwa penggunaan software Open Source dapat diandalkan. Bahkan George Lucas pun menggunakan software Open Source untuk mengembangkan visual effect dalam beberapa filmnya.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/IMG_2558.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /><br />
<em>Foto Oleh Mang Tahu</em></p>
<p>Beberapa diantara software Open Source yang dapat dimanfaatkan untuk bidang desain grafis dan seni visual adalah Gimp (<a href="http://www.gimp.org/">http://www.gimp.org/</a>), Inkscape (<a href="http://www.inkscape.org/">http://www.inkscape.org/</a>), Blender (<a href="http://www.blender.org/">http://www.blender.org/</a>), Alchemy (<a href="http://al.chemy.org/">http://al.chemy.org/</a>), dsb. Asyiknya lagi, selain dapat diinstal pada sistem operasi perangkat lunak sumber terbuka (FOSS) semisal <a href="http://www.ubuntu.com/" target="_blank">Ubuntu</a>, semua software tersebut dapat diinstal pada sistem operasi berbayar (<em>proprietary</em>) seperti Windows ataupun Mac Os.  Namun, minimnya publikasi menyebabkan software tersebut belum banyak digunakan oleh masyarakat secara luas. Begitu pun dengan perguruan tinggi yang tidak mengajarkan penggunaan perangkat lunak sumber terbuka sebagai materi kuliah.</p>
<p>Selama ini mahasiswa dibiasakan untuk menggunakan software berbayar, sehingga kebiasaan ini dilanjutkan terus sampai pada masa pasca kuliah. Berangkat dari permasalahan ini, salah satu cara untuk mendekati masyarakat adalah dengan menyelenggarakan workshop penggunaan software Open Source yang dilengkapi dengan pameran karya. Diharapkan, masyarakat luas dapat lebih mengetahui keberadaan software Open Source dan dapat maksimal dalam mengembangkan potensi serta karya mereka.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deklarasi Bandung demi Keterbukaan Informasi &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 08:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1384</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi
Perkembangan teknologi informasi dan media baru merupakan jaringan yang tak bisa dihindarkan lagi dalam konteks masyarakat sipil dewasa ini. Namun, untuk memunculkan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil diperlukan suatu kolaborasi penting. Terutama menyoal kesepahaman bersama mengenai media baru dan teknologi informasi untuk menciptakan ruang baru dalam keterbukaan budaya, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan.
Itulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_4087.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Perkembangan teknologi informasi dan media baru merupakan jaringan yang tak bisa dihindarkan lagi dalam konteks masyarakat sipil dewasa ini. Namun, untuk memunculkan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil diperlukan suatu kolaborasi penting. Terutama menyoal kesepahaman bersama mengenai media baru dan teknologi informasi untuk menciptakan ruang baru dalam keterbukaan budaya, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan.</p>
<p>Itulah garis besar dari pertemuan Expert Meeting Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Nu-Substance itu sendiri merupakan festival new-media yang diselenggarakan oleh Common Room Networks Foundation dan telah bergulir sejak tahun 2007. Pertemuan program Expert Meeting ini dihadiri oleh para praktisi media, aktivis, akademisi dari dalam dan luar negeri seperti Stephen Kovats (Transmediale, Jerman), Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris), Atteqa Thaver Malik (Mauj Media Collective, Pakistan), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura), Mirwan Andan (Ruang Rupa, Jakarta), Venzha Christiawan (House of Natural Fiber, Yogyakarta) dan Gustaff H. Iskandar (Common Room, Bandung).  Expert Meeting ini adalah upaya untuk merumuskan sebuah wacana dalam bidang new-media dan teknologi informasi dengan menggunakan pendekatan dialog antar-budaya. Hal ini terlihat dari latar belakang para peserta yang berasal dari beragam wilayah.</p>
<p><span id="more-1384"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3999.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Hasil dari Expert Meeting tersebut melahirkan notulensi yang dideklarasikan pada Sabtu (24/7) di acara Artepolis yang bertempat di Gedung Museum Asia Afrika. Beberapa poin penting dalam deklarasi tersebut yaitu pentingnya akses untuk memperoleh informasi, jaringan, dan pengetahuan; penggunaan dan pengembangan open dan free technology; pluralisme dan kebebasan berekspresi dalam praktik artistik dan budaya, tanggung jawab terhadap lingkungan, hingga membangun praktik kekuatan masyarakat sipil melalui teknologi informasi.  Kurang lebih ada 22 poin penting dalam deklarasi yang juga ditandatangani para peserta konferensi.</p>
<p>Deklarasi ini ingin menyampaikan tentang pengetahuan dan informasi sebagai wadah utama untuk menyebarkan ekspresi-ekspresi artistik dan kebudayaan. Keberagaman ekspresi tersebut diharapkan dapat membuka mata masyarakat tentang pentingnya rasa toleransi dan pluralisme. Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mendorong perkembangan <em>new-media</em><em> </em>yang kian signifikan di lingkup Asia Tenggara.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3887.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Menurut Catherine Candano, khusus negara-negara Asia Tenggara keberadaan masyarakat sipil dipandang sangat lemah. Itu karena kebebasan berekspresi masyarakat sipil seringkali menjadi ancaman bagi pemerintah <em>status quo</em>. Hal itu membuat kebebasan berekspresi memiliki posisi yang sangat rentan karena ketatnya aturan dari pemerintah dalam mengontrol penggunaan internet.</p>
<p>Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Stephen Kovats bahwa pemerintah kerap kali impoten dan kurang tanggap dalam mengatur permasalahan wacana kebebasan berekpresi dan teknologi informasi.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_4057.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>“<em>Dengan adanya deklarasi seperti ini akan memperkuat kedudukan masyarakat sipil dalam mengembangkan teknologi informasi dan kebebasan berekspresi bagi masyarakat sipil secara bertanggungjawab,</em>” tutur Stephen Kovats.</p>
<p>Poin-poin penting tersebut merupakan kajian penting dalam kontelasi masyarakat sipil baik dalam konteks global maupun lokal. Deklarasi tersebut merupakan hasil rumusan selama satu minggu rapat dalam merancang kajian mengenai keterbukaan budaya, perkembangan teknologi, dan lingkungan berkelanjutan. Menurut Gustaff Harriman Iskandar, mobilitas, keterbukaan, dan konektivitas bisa tercapai melalui penggunaan spektrum media digital, teknologi komunikasi, dan praktik jaringan dalam masyarakat sipil dan mesti digunakan secara kritis.</p>
<p><em>*Artikel dimuat dalam Pikiran Rakyat Edisi 29 Juli 2010</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspresi Media Pengganti Kenyataaan &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 07:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi
Perkembangan media tentu tak bisa dikesampingkan dalam ranah dunia seni kontemporer. Seiring perkembangan zaman, ia bisa menjadi pengganti “kenyataan” itu sendiri. Setidaknya inilah yang diperlihatkan dalam pameran The Loss of the Real di Selasar Sunaryo pada Minggu (18/7) lalu. Pameran berlangsung hingga tanggal 1 Agustus 2010. Pameran ini menyajikan beragam karya seni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3427.jpg" border="0" alt="" width="480" height="317" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Perkembangan media tentu tak bisa dikesampingkan dalam ranah dunia seni kontemporer. Seiring perkembangan zaman, ia bisa menjadi pengganti “kenyataan” itu sendiri. Setidaknya inilah yang diperlihatkan dalam pameran The Loss of the Real di Selasar Sunaryo pada Minggu (18/7) lalu. Pameran berlangsung hingga tanggal 1 Agustus 2010. Pameran ini menyajikan beragam karya seni mulai dari instalasi, fotografi, video, lukisan, hingga audio (sound-art). Simak misalnya karya seniman Jepang, Daito Manabe yang berjudul “Face Visualizer”. Karyanya itu menampilkan ekspresi beragam wajah yang terkena sensor sehingga melahirkan ritma suara yang menarik. Atau karya fotografi dari Agan Harahap yang menampilkan citra Presiden Soeharto yang sedang duduk bersama Joker, tokoh karakter film Batman, dalam karya berjudul “Cendana, Jakarta 1967”. Tentu saja foto tersebut sudah didahului dengan rekayasa media fotografi.</p>
<p><span id="more-1380"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3429.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>“<em>Sekarang ini kehidupan sehari-hari kita memang berdampingan dengan yang namanya media. Pemahaman kita tentang realitas pun bergeser dari kenyataan bendawi atau fisik kearah kenyataan yang dibentuk oleh media global semacam televisi dan internet</em>,” ujar kurator Agung Hujatnikajennong pada sesi artist talk Selasa (20/7).</p>
<p>Pameran ini memang mendokumentasikan perkembangan praktik seni media mutakhir. Karya-karya yang ditampilkan seolah terbebas dari dikotomi “media lama” atau “media baru”. Semua menjadi satu dalam pameran ini. Dalam pameran ini ditampilkan karya-karya dengan teknologi rendah dan analog berdampingan dengan karya-karya yang menggunakan pendekatan serba canggih dan digital. Karya analog yang paling banyak mengundang penasaran, misal, karya seniman Perancis Benjamin Laurent Aman yang menampilkan rekonstruksi Selasar Sunaryo dengan memajang dua pipa, satu vinyl, dan batu bata dalam karyanya “S.S. Stage (Reconstitution)”. Sangat jauh dari kesan digitalisasi. Uniknya, benda-benda tersebut “hanya” diperoleh dari riset dia di sekitar area Galeri Selasar. Karya lainnya adalah karya fotografi komunitas Bandung Oral History yang memotret lanskap Kota Bandung dengan kamera lubang jarumnya. Karya ini menjadi paradoks karena notabene kini memasuki era fotografi digital.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3843.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p><em>“Bagi saya, media baru tak hanya tentang komputer atau digitalisasi. Akan tetapi, bagaimana kita bisa menampilkan ide dan bereksperimentasi didalamnya,</em>” ujar Benjamin Laurent Aman dalam wawancara dengan <em>Kampus</em>, Senin (26/7).</p>
<p><em>*Dimuat dalam Artikel Pikiran Rakyat Edisi 29 Juli 2010</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kondisi Ekologi Bandung Penuh Paradoks &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 09:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Salah satu kegiatan penting dalam Expert Meeting kali ini yaitu site visit (studi observasi) untuk meninjau secara langsung kondisi ekologis di Kota Bandung pada Kamis (22/7). Program site visit kali ini ditujukan untuk melihat kondisi penambangan kapur di daerah Citatah, Padalarang sekaligus meninjau situs purbakala Gua Pawon yang dipandu oleh Budi Brahmantyo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4392.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Salah satu kegiatan penting dalam Expert Meeting kali ini yaitu site visit (studi observasi) untuk meninjau secara langsung kondisi ekologis di Kota Bandung pada Kamis (22/7). Program site visit kali ini ditujukan untuk melihat kondisi penambangan kapur di daerah Citatah, Padalarang sekaligus meninjau situs purbakala Gua Pawon yang dipandu oleh Budi Brahmantyo dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Selain meninjau daerah Bandung Barat, kegiatan site visit juga mengeksplorasi wilayah Bandung Utara untuk melihat dari dekat fenomena eksploitasi lingkungan dalam bentuk pembangunan perumahan dan villa yang merusak kualitas lingkungan sekitar daerah tersebut.</p>
<p>Site visit kali ini juga merupakan bagian dari program kajian environmental sustainability (lingkungan berkelanjutan) dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Setahun sebelumnya Nu-Substance Festival meninjau kondisi ruang perkampungan padat yang terletak di jantung kawasan urban kota Bandung, yaitu lingkungan Kampung Babakan Asih. Gambaran yang mengkhawatirkan ketika secara langsung mengunjungi wilayah Citatah yang terletak di daerah Padalarang adalah kegiatan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam yang sekaligus mengancam warisan situs purbakala yang letaknya berdampingan dengan wilayah penambangan batu kapur.</p>
<p><span id="more-1369"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4356.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Dalam kunjungan kali ini bukan hanya eksploitasi terhadap sumber daya alam saja yang terungkap, tetapi juga kondisi para pekerja yang dibayar dengan harga yang sangat murah di tengah lingkungan kerja yang sangat buruk. Para peserta Expert Meeting sempat bertemu dan mewawancarai dua pekerja kasar yang usianya di atas 60 tahun. Keduanya hanya dibayar Rp. 10.000,- sehari untuk 100 karung kapur yang berhasil mereka kumpulkan setiap hari. Kebanyakan para pekerja yang ada juga diharuskan bekerja layaknya orang kantoran dari pagi hingga petang.</p>
<p>Eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlebihan tampaknya merupakan cerminan dari lemahnya kebijakan yang dapat mewujudkan pola relasi yang ideal antara pemerintah, pengusaha, pekerja, dan sumber daya alam yang kita miliki. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai persoalan lingkungan semisal polusi udara, krisis air bersih, hingga ancaman penyakit pernafasan di kalangan masyarakat. Belum munculnya kesadaran yang baik pada sebagian besar masyarakat kita merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi upaya untuk mewujudkan gagasan mengenai lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4371.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Setelah melihat kondisi penambangan kapur, para peserta kemudian diajak untuk mengunjungi situs Purbakala di Gua Pawon yang letaknya tak jauh dari lokasi penambangan kapur. Sungguh ironis bagaimana situs purbakala yang semestinya dilestarikan saat ini kondisinya tengah terancam akibat adanya eksploitasi penambangan kapur yang dilakukan secara membabi buta.</p>
<p>Menginjak sore hari peserta diajak untuk meninjau kondisi lingkungan di wilayah Bandung Utara. Selama ini wilayah tersebut dikenal sebagai wilayah respirasi (resapan) air di Kota Bandung. Namun sedikit demi sedikit wilayah ini terancam dengan kehadiran rumah-rumah dan villa-villa yang menggerus kondisi lingkungan di wilayah tersebut. Hal ini dapat dikatakan telah menjadi salah satu penyebab krisis air bersih di kota Bandung. Kota Bandung dikenal sebagai wilayah yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga seringkali mengakibatkan surplus air atau banjir di beberapa wilayah. Paradoksnya, saat ini beberapa wilayah di kota Bandung juga tengah mengalami krisis air bersih atau defisit air.</p>
<p>Selanjutnya peserta juga diajak menuju kawasan Gunung Tangkuban Parahu. Saat ini kawasan Gunung Tangkuban Parahu tengah menghadapi upaya komersialisasi dan privatisasi. Hal ini menjadi persoalan tersendiri dan mengancam aspek pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan ketika kawasan yang semula dikenal sebagai hutan lindung berubah fungsi menjadi kawasan komersial yang hanya menguntungkan kelompok tertentu saja.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelombang dalam Ruang Kebersamaan &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 12:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1353</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut Expert Meeting hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang Mauj [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4135.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut <em>Expert Meeting</em> hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang Mauj Media Collective, Atteqa bercerita  sedikit mengenai kondisi di Pakistan. Bagaimana huru-hara yang terjadi di Pakistan belakangan ini, sedikit banyak memang mempengaruhi kebiasaan, dan kultur keseharian mereka. Termasuk pada perilaku berorganisasi Mauj itu sendiri.</p>
<p>Mauj sendiri memilik dua arti. Arti yang pertama adalah gelombang (wave). Seperti gelombang yang tidak ada artinya tanpa keberadaan laut, begitu juga dengan seseorang yang menjadi kecil/lemah jika  sendirian, namun menjadi kuat bila bergabung dengan yang lain. Prinsip itulah yang menjadi pegangan Mauj dalam berorganisasi. Arti yang kedua adalah &#8216;to have fun&#8217;, dimana  Mauj menjadi wadah bagi tiap orang untuk berekspresi, termasuk dalam pembuatan film, video, digital art, kartun, dll.</p>
<p><span id="more-1353"></span></p>
<p>Ada yang menarik dari strategi Mauj dalam melakukan aktifitas mereka. Dalam mengumpulkan publik, termasuk media, mereka hanya mengirimkan informasi singkat lewat sms, yang berisi mengenai keterangan tempat dan waktu berkumpul. Di waktu yang telah ditentukan, aksi pun digelar, dan tepat sejam kemudian, aksi berakhir. Semua berjalan dengan cepat dan efisien.</p>
<p>Begitu pun dalam pengadaan suatu acara. Kondisi birokrasi yang rumit, menjadikan Mauj membuat alternatif lain untuk menyebarluaskan acara-acaranya. Salah satunya adalah melalui media internet. Seringkali, acara yang dilangsungkan hanya mengundang segelitir orang saja, namun suasana dan kegiatan acara direkam, lalu disebarkan melalui internet agar masyarakat luas dapat mengaksesnya juga.</p>
<p>Ternyata, tidak hanya urusan birokrasi yang mirip dengan Indonesia, di ranah politik pun terdapat kemiripan, yaitu kaum pebisnis yang memasuki dunia politik. Alhasil, bidang perekonomian selalu mendapat perhatian utama dan khusus dalam kenegaraan. Namun, sama halnya dengan di Indonesia, kekuatan masyarakat terus menyala. Komunitas-komunitas kecil akan selalu ada untuk mengkritisi hal-hal sosial, dan melakukan aksi untuk memperbaiki diri dan lingkungan. Semangat inilah yang membuat komunitas dan kelompok kecil selalu ada untuk memperbaiki kondisi di sekitarnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Common Room di Bandung. Berdiri 2003 (sebelumnya adalah Bandung Centre for New Media Art, 2001), hingga kini Common Room intens untuk melakukan kegiatan sosial, penyebaran ilmu pengetahuan, maupun pemetaan komunitas, dimana teknologi menjadi alat untuk menyebarkan pengetahuan.</p>
<p>Di Bandung sendiri telah terjadi degradasi kualitas lingkungan kota. Jika dulu Bandung dikenal sebagai kota dengan suasana yang nyaman, aman, dan segar, tidak demikian dengan sekarang. Struktur kota yang semrawut, minimnya sarana dan prasarana, seperti menunjukkan sosok yang tidak siap mengalami perubahan yang begitu cepat. Semua diserap, tanpa adanya penyaringan. Berlandaskan hal itulah, Common Room melandaskan gerakannya pada aktivitas di seputar seni, budaya, dan pemanfaatan ICT/Media, sebagai dasar untuk mengupayakan perubahan sosial, menghimpun kekuatan masyarakat, dan kegiatan penelitian untuk mendorong terjadinya mekanisme produksi informasi dan pengetahuan.</p>
<p>Untuk mendorong perubahan sosial di lingkungan sekitarnya, pada tahun 2008 Common Room pun ikut memfasilitasi kegiatan komunitas warga Babakan Asih yang aktif melakukan perbaikan kualitas lingkungan mereka sejak beberapa sejak kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Daerah Babakan Asih yang sebelumnya kerap terkena musibah banjir tahunan, saat ini telah berhasil membuat sistem sumur penampungan yang mampu mengalihkan air hujan dengan cepat. Banjir yang biasa berminggu-minggu terjadi di sekitar lingkungan mereka, saat ini hanya membutuhkan waktu maksimal 30 menit untuk surut.</p>
<p>Tidak hanya itu, bekerja sama dengan Solidaritas Independen Bandung (SIB), Common Room melakukan aksi penanaman pohon di sekitar Gunung Manglayang, Ujungberung, sebagai bentuk kepedulian akan krisis air yang terjadi di daerah Ujungberung. Kegiatan ini rencananya akan diulang kembali pada akhir Agustus depan. Belajar dari dua organisasi tersebut, terdapat kemiripan walau berbeda Negara dan Bahasa. Mereka sama-sama menyuarakan aspirasi publik dan bergerak untuk kebaikan bersama. Persoalan apapun yang dihadapi, akan terlewati jika kebersamaan yang dipegang.</p>
<p><strong>Rumah Serat dari Jogja</strong><br />
Sesi kedua dilakukan setelah sesi makan siang yang santai dan hangat. Selesai makan, Venzha dari House of Natural Fiber (HONF), mulai mempresentasikan mengenai HONF dan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dengan logat Jawa yang kental dan khas, serta pembawaannya yang santai, presentasi berjalan alon, asal kelakon. HONF sendiri berdiri tahun 1999, dengan semangat berkarya bagi pengembangan diri para personilnya. Namun dalam perjalanannya, HONF banyak berkolaborasi dengan berbagai pihak. Berbeda dengan Common Room, HONF sering bekerja sama dengan akademisi, khususnya UGM. Salah satu yang pernah dikerjakannya adalah mencari solusi untuk kasus Congek yang pernah terjadi pasca Gempa, di tahun 2005 yang lalu. Dalam project ini, HONF menggabungkan antara DNA dengan karya seni.</p>
<p>Nama HONF sendiri diambil dari semangat berkolaborasi dan membentuk jejaring seluas-luasnya. Itulah yang menyebabkan Venzha memilih Fiber untuk mewakilkan semangat kebersamaan tersebut. Hingga kini, HONF memiliki 7 pegawai tetap, dan puluhan relawan untuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan tahunan, seperti Yogyakarta International Media Art Festival dan Yogyakarta International Videowork Festival.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi Tentang Informasi, Komunikasi, dan Teknologi&#124; Oleh Zulfikar</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 08:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Sekitar pukul delapan para peserta Expert Meeting sudah hadir di ruang Auditorium CCF Bandung dan mempersiapkan presentasi yang akan dilaksanakan pada Selasa (20/7) malam. Ruang Auditorium CCF pun sudah mulai didatangi oleh para partisipan. Obrolan santai mengalir sembari menikmati suguhan kantin CCF sampai sekitar pukul delapan, Gustaff membuka presentasi dan memperkenalkan ketiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4040.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Sekitar pukul delapan para peserta Expert Meeting sudah hadir di ruang Auditorium CCF Bandung dan mempersiapkan presentasi yang akan dilaksanakan pada Selasa (20/7) malam. Ruang Auditorium CCF pun sudah mulai didatangi oleh para partisipan. Obrolan santai mengalir sembari menikmati suguhan kantin CCF sampai sekitar pukul delapan, Gustaff membuka presentasi dan memperkenalkan ketiga peserta yang akan mempresentasikan proyeknya yaitu Arthit Suriyawongkul, Catherine Candano, dan Victoria Sinclair.</p>
<p>Arthit mempresentasikan kegiatannya yaitu Mekong ICT. Sebuah program kolaborasi melalui informasi, komunikasi, dan teknologi antara wilayah Sungai Mekong yang meliputi Burma, Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam. Individu yang menjadi sasaran dari kegiatan ini adalah para <em>hackers</em> (memiliki semangat berteknologi dan kreatif), jurnalis, dan pekerja sosial. Dengan berkolaborasi dan saling berbagi diharapkan dapat memunculkan banyak solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi. Dengan berjaringan di Mekong ICT, maka warga wilayah Sungai Mekong dapat mencari tahu segala sesuatu melalui Mekong ICT. Hal ini digambarkan dengan suatu tokoh yang berkata: “I know why but I don’t know what and how. But I know who knows it, I’ll ask him/her.” Kemudian apapun yang ia cari dapat mudah didapatkannya.</p>
<p><span id="more-1334"></span></p>
<p>Presentasi kedua yang diberikan oleh Cathy menerangkan tentang bagaimana perubahan iklim mengubah media. Salah satu yang berubah dari materi menurut Cathy adalah dengan menggunakan media sebagai propaganda permasalahan perubahan iklim. Tiga media utama menurutnya adalah televisi, radio, dan koran/majalah. Ketiga media ini harus dimanfaatkan untuk mencerdaskan masyarakat. Karena ternyata menurut Cathy, masyarakat umumnya telah tahu adanya perubahan iklim, namun mereka tidak mengerti bagaimana hal tersebut berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari dan apa yang sebaiknya dilakukan. Di sinilah peran media menjadi  penyambung <em>knowledge gap</em> tersebut kepada masyarakat. Salah satu contoh yang diberikan oleh Cathy adalah South East Asian Youth Environmental Network yang membuat blog, video, dan media lainnya untuk mengkampanyekan kegiatan yang dapat dilaksanakan untuk mengantisipasi perubahan iklim.</p>
<p>Presentasi terakhir dengan pembicara Vicky menerangkan tentang ARCSpace yaitu suatu forum <em>Glocal </em>(global&amp;local) <em>hub</em> tempat berkumpulnya orang-orang yang <em>Autonomous, Reflective, Creative </em>(ARC). Mirip dengan Mekong ICT, program ini dianalogikan oleh Vicky sebagai <em>melting pot for ideas</em>. Di sini partisipan program dapat saling berbagi mengenai masalah yang mereka hadapi di wilayah lokal mereka dengan partisipan dari wilayah lain (global) sehingga terjadi pertukaran pikiran yang dapat menghasilkan solusi-solusi. Salah satu program dari ARCSpace ini adalah International Water Project yang diluncurkan awal 2010 kemarin.</p>
<p>Pada akhir sesi presentasi Vicky membagi partisipan Nu Substance menjadi tiga kelompok dan meminta setiap kelompok melakukan simulasi forum dengan membahas persoalan air di daerah Bandung. Membahas suatu masalah lokal dengan komunitas global ternyata dapat memberikan hasil yang menarik. Misalnya dialog permasalahan kota A dengan warga kota B. Persoalan yang dialami Kota A ternyata bukan lagi merupakan persoalan di wilayah kota B, karena di Kota B sudah dilaksanakan solusi yang tanpa disadari oleh Kota B ternyata menjadi penyelamat mereka dari persoalan Kota A. Atau sebaliknya, kadang dengan membicarakan persoalan pihak lain membuat kita terbangun bahwa kitapun masih terjebak dalam persoalan yang sama secara tidak kita sadari. Namun pada akhirnya dialog yang terbangun selalu dapat menemukan solusi baru dan menarik karena pandangan dari pihak luarseringkali merupakan ide baru yang dapat diwujudkan. Semakin luas jaringan yang terbangun, semakin terbuka peluang kemajuan yang dapat dilaksanakan. Inilah yang diharapkan dari Festival Nu Substance 2010.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
