#ScratchTheDay | 1ON1 BBOY BATTLE: Final Round | 16 Februari 2012




52 Wednesdays | Pameran Foto oleh Lioni Beatrik | 14 – 21 Januari 2012
Pembukaan: Sabtu, 14 Januari 2012. 17.00 – end
Common Room
Jl. Kyai Gede Utama no 8 Bandung
Featuring Stand up Tragedy & Live Music bersama Rayhan Sudrajat, Raquel, Pepengtea, Deluciva, Ajie and Alex
Lioni Beatrik
Lioni, perempuan kelahiran 1980 ini sangat bergairah akan hidup dan kehidupan—bidang yang membawanya ke bidang humanitarian. Ia adalah lulusan Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad, dan sempat pula belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Selain humanisme, Lioni juga memiliki minat tinggi terhadap seni rupa. Ia pernah bekerja di sebuah galeri seni rupa di Jakarta. Sebelum 52 Wednesdays, ia juga pernah membuat beberapa proyek seni yang diantaranya adalah My Funeral, Funeral of Caste, Theater of the Oppressed, Playback Theater dan Kappaletta the singing telegram. Proyek fotografi ini merupakan proyek seni Lioni yang berlangsung paling lama, satu tahun dan kemungkinan akan terus berjalan.

Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan
Sabtu, 7 Januari 2012
Pk. 09.00 – 16.30 WIB
Common Room
Jl. Kyai Gede Utama no. 8
Bandung – 40132
Pengantar
Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Sutan Takdir Alisyahbana telah sering menyampaikan kegelisahannya mengenai kebudayaan Indonesia. “Kebudayaan dalam krisis”, demikian kegelisahan STA tersebut jika kita rumuskan dalam satu frase. Polemik kebudayaan pun terjadi. Polemik ini merupakan gumpalan kegelisahan STA dan para cerdik-cendikia saat itu: kegelisahan untuk merumuskan kebudayaan khususnya dan pada umumnya peradaban bangsa Indonesia di masa depan, yang dalam istilah STA disebut sebagai manusia baru Indonesia. Untuk menuju masa depan Indonesia, “kita harus meninggalkan tasik yang tenang dan menuju laut yang bergelora, dinamik”, demikian kurang lebih STA.
Kini, 80 tahun kemudian, sebuah pertanyaan reflektif kiranya perlu dilontarkan: apakah kebudayaan dan manusia baru yang dinamis, yang bergelora seperti ombak lautan itu telah terwujud? Sebenarnya tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Indonesia, hingga hari ini, masih tetap hidup dalam 21 abad sekaligus. Di sebuah dusun di pedalaman sebuah pulau, kita masih menemukan masyarakat yang masih hidup dalam ketertinggalan di berbagai bidang kehidupan. Mereka hidup di dalam ruang pengetahuan yang sangat terbatas. Sementara di belahan pulau lain, di kota-kota besar, sebagian masyarakat telah meloncat tinggi ke atas tangga posmodernitas, bahkan sedang bergerak ke wilayah-wilayah yang takterbayangkan oleh sebagian besar masyarakat.
Tapi, pun begitu, di lapis permukaan, secara general bisa disaksikan bagaimana kebudayaan tengah bergerak ke arah “ketakseimbangan” nilai. Pada titik tertentu, persoalan kebudayaan bahkan bisa dibilang sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai. Kebudayaan menjadi semacam artikulasi perilaku keseharian yang digerakkan oleh isu-isu yang diusung teknologi informasi, terutama televisi dan komputer. Di situ, segala batas menjadi lebur. Jika segala batas lebur, bagaimana kita bisa merumuskan sebuah nilai?
Di samping itu, dihubungkan dengan ruang, dalam hal ini alam (nature), perkembangan kebudayaan (culture) juga memperlihatkan ketakseimbangan lain. Culture yang telah “tanpa nilai” itu secara terus-menerus tampak mensubversi alam (nature). Akibatnya, kian hari alam kian kewalahan memenuhi hasrat manusia yang digerakkan oleh imaji-imaji budaya tanpa nilai tersebut. Akibatnya, terjadilah apa yang kami sebut sebagai “Katastrofe Kebudayaan”.
Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB) dan Common Room Networks Foundation sebagai institusi yang secara intens memperhatikan hal itu, terpanggil untuk coba mencatat, merumuskan, dan memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat menjadi pencerahan bagi para intelektual dan penentu kebijakan khusunya dan masyarakat secara umum. Kali ini, konstribusi itu diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan orasi kebudayaan dari beberapa orang yang dianggap kompeten untuk tema terkait.
Pidato kebudayaan ini terbagi menjadi tiga sesi, yaitu:
Sesi I
Tema: Kompleksitas, Perubahan dan Spekulasi
Pemateri: Joscev Audifax, Harifa Ali Albar Siregar, Ranti Puji Agusti, Ruly Darmawan
Sesi II
Tema: Realitas diantara Persepsi, Mitos dan Fantasi
Pemateri: Idhar Resmadi, Jejen Jaelani, Kimung, Alfathri Adlin
Sesi III
Tema: Katastrofe Kebudayaan
Pemateri: Hawe Setiawan, Gustaff H. Iskandar, Yasraf Amir Piliang, Acep Iwan Saidi, dan Tisna Sanjaya.
Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran.
Informasi lebih detail hubungi Zamzami Almakki (085795111981)

Pengantar
Di titik pergantian tahun, sebagaimana lazimnya, kita merasa perlu keluar sejenak dari rutinitas. Kita merenungi pengalaman di tahun yang segera berakhir seraya menerawang jalan kita di tahun yang segera datang. Akhir tahun adalah juga awal tahun, dan kita berupaya memaknai titik peralihan ini dengan meninjau lagi diri kita sendiri beserta keadaan di sekeliling kita. Kita menyambut tahun baru dengan menyalakan lagi harapan, menumbuhkan lagi cita-cita, dan merumuskan lagi agenda.
Jejaring kerja budaya yang terdiri dari kumpulan warga Kota Bandung hendak menyambut tahun 2012 bersama rekan-rekan dari kalangan seni, budaya, dan komunitas warga Bandung lainnya. Dengan memilih tempat di Babakan Siliwangi, satu di antara sedikit ruang terbuka hijau yang masih tersisa di kota ini, kegiatan yang dimaksudkan sebagai refleksi akhir tahun ini akan berlangsung selama lebih kurang sepekan, dari 17 s/d 22 Desember 2011. Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mewadahi sebanyak mungkin kegiatan dan aspirasi dari berbagai kalangan dalam semangat kebersamaan warga kota untuk merealisasikan kepentingan bersama.
* Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran
Jadwal/ Rangkaian Kegiatan
17 Desember 2011
Doa Bersama | Batu Satangtung, Babakan Siliwangi | pk. 09.30 – 10.00 WIB
Pertunjukan | Mantram Gayatri oleh Trie Utami & Dewa Bujana | pk. 10.00 – 12.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | Kala Sunda oleh Ibu Miranda & Bapak Dr. Suhardja | pk. 14.00 – 16.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | Kosmologi Sunda: Tata Salira Panca oleh Bapak Juhana | pk. 19.00 – 21.00 WIB
18 Desember 2011
Diskusi/ Presentasi | Lokalitas Dalam Kekinian bersama Hawe Setiawan & Setiaji Purnasatmoko | pk. 10.00 – 12.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | Lingga Yoni Dalam Perspektif Sunda Wiwitan bersama Bapak Jacob Soemardjo & Bapak D.S. Ira Ujang | pk. 14.00 – 16.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | Komunitas Warga bersama Kang Aben & Man Jasad | pk. 16.00 – 18.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | In Memoriam Lecture: Harry Roesly bersama Herri Dim & Rully Handiman | pk. 19.00 – 21.00 WIB
Pertunjukan | Eye Feel Six, Karinding Attack dan Mang Ayi (Pantun Buhun) | pk. 21.00 – 23.00 WIB
19 Desember 2011
Diskusi/ Presentasi | Ngaguar Sasajen, Tumpeng dan Kujang bersama Kang Uci | pk. 10.00 – 12.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | Ngaguar Iket dan Kaulinan Budak bersama Kang Asep & Kang Zaini Alif | pk. 14.00 – 16.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | Ngaguar Gunung Lalakon bersama Kang Dani (Turangga Seta) | pk. 16.00 – 18.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | Ngaguar Tata Negara Buhun dan Presentasi Nirlaga bersama Kang Uci & Kang Iwan | pk. 19.00 – 21.00 WIB
Pertunjukan | Kelompok Kesenian Tarling Universitas Pasundan | pk. 21.00 – 23.00 WIB
20 Desember 2011
Kerja Bakti | Bebersih Cikapundung | 08.00 – 10.00 WIB (Peserta dipersilahkan membawa perlengkapan masing-masing)
Presentasi/ Diskusi | Urban Farming oleh Ayi Vivananda | pk. 11.00 – 12.30 WIB
Diskusi/ Presentasi | For Better Life bersama Kang Wahyu, Layala Roesly & Angga Wardhana | pk. 13.00 – 15.00 WIB
21 Desember 2011
Ritual Tradisi | Ngawinkeun Batu Satangtung (Baris Kolot) | pk. 10.00 – 12.00 WIB
Orasi Kebudayaan | Lingkungan Tatar Sunda oleh Solihin G.P. | pk. 13.00 – 15.00 WIB
Diskusi/ Presentasi | Apresiasi Tarawangsa bersama Bapak Abun | pk. 19.00 WIB – selesai
22 Desember 2011
Ritual Tradisi | Mendak Taun: Diseka-ngaseka Lingga Yoni | pk. 05.00 WIB (pagi) – selesai
Proudly powered by WordPress. Theme: P2 by Automattic.