Jl. Kyai Gede Utama No. 8
Bandung - 40132
West Java - Indonesia
Tel./Fax: +62.22.2503404




Search



Photo Stream



Archive for Events

17 February, 2008 | No comments

Workshop One Minute Video | Kineruku - Common Room Networks Foundation - Videolab | 19 Feb - 2 March 2008

Photobucket

Melanjutkan penyelenggaraan Ganesha Film Festival 2008, Liga Film Mahasiswa (LFM) bekerjasama dengan Kineruku, Common Room Networks Foundation dan Videolab bermaksud untuk menyelenggarakan workshop “One Minute Video” yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 19 Februari s/d 1 Maret 2008. One Minute Video adalah sebuah genre film dan video berdurasi singkat yang memberi penekanan pada keragaman eksplorasi bahasa artistik dan teknik produksinya. Ciri utama dari genre “One Minute” adalah durasi film dan video yang tepat 1 menit atau 60 detik (termasuk title).

Agenda Program
Program ini diharapkan dapat menyebarluaskan minat masyarakat untuk mengembangkan dan mengapresiasi perkembangan film dan video berdurasi pendek di kota Bandung. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk mendorong perkembangan genre One Minute Video di kota Bandung, meliputi pengembangan eksplorasi bahasa artistik dan teknik produksi film dan video berdurasi pendek. Rencananya, hasil workshop ini akan dirangkum menjadi kompilasi Bandung One Minute Video Compilation 2008 dan akan diikutsertakan dalam ajang pemutaran One Minute Video Festival di acara Olimpiade Beijing bekerjasama dengan organisasi OneMinuteFoundation (Belanda).

Peserta
Rencananya kegiatan ini akan melibatkan komunitas masyarakat umum di kota Bandung, termasuk komunitas pelajar dan mahasiswa. Untuk sementara kegiatan ini akan dibatasi dengan melibatkan 30 peserta (individu dan kelompok) yang diharapkan dapat menghasilkan 30 karya film dan video berdurasi pendek. Untuk kegiatan workshop, panitia akan menetapkan biaya workshop sebesar Rp. 30.000,- untuk biaya sertifikat dan konsumsi peserta selama workshop berlangsung.

* Informasi lengkap dan formulir pendaftaran bisa di dowload di halaman ini.

Top

13 February, 2008 | No comments

Review One Minute Video Screening di Ganesha Film Festival | LFM – ITB | 31 Januari 2008

Photobucket

Dalam rangka pelaksanaan Ganesha Film Festival 2008, LFM – ITB bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation menyelenggarakan pemutaran kompilasi One Minute Video pada tanggal 31 Januari yang telah lalu. Acara ini menampilkan karya kompilasi video dari para pemenang One MinuteVideo Festival 2006 yang diselenggarakan oleh The One Minutes Foundation. Selain pemutaran, kegiatan ini juga disertai dengan diskusi mengenai perkembangan genre video berdurasi singkat yang berkembang pesat di beberapa negara selama beberapa waktu terakhir ini. Dapat dikatakan bahwa saat ini perkembangan karya film dan video berdurasi pendek telah memiliki tempat tersendiri diantara para penikmat karya audio-visual.

Program pemutaran One Minute Video dalam acara ini menampilkan sekitar 30 karya film dan video berdurasi pendek yang mencerminkan beragam kecenderungan, baik dari segi teknis maupun cerita. Sebagian besar karya yang ditampilkan juga memperlihatkan beragam gaya dan teknik produksi semisal found footage, stop motion, still camera, animasi, dsb. Tampaknya perkembangan teknologi digital memiliki peran yang begitu besar dalam mendorong perkembangan genre film dan video berdurasi pendek. Hal ini misalkan tercermin melalui aspek produksi, penyebaran, maupun beragam kecenderungan bahasa visual yang tercermin dari setiap karya yang ada.


Salah satu karya yang menarik untuk disimak barangkali adalah karya animasi yang berjudul “Pa-No-Rama” (Diego Zucchi/ IT), yang menceritakan pengalaman konyol seorang kakek tua yang tengah bepergian dengan kereta api. Karena kurang beruntung, sang kakek harus kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan yang indah selama di perjalanan. Selain itu, ada juga karya politis berjudul “Statement” (Stina Östberg/ SE), yang secara sengaja menampilkan rekaman perilaku penonton sepak bola yang dimanfaatkan sebagai media propaganda oleh seorang aktifis feminis sehingga menjadi tontonan yang kocak.

Melalui karya-karya yang ditampilkan, terlihat bagaimana genre film dan video berdurasi singkat mampu mencerminkan refleksi subyektif tentang realitas kehidupan sehari-hari, selain berbagai pandangan yang bersifat puitis dan bahkan politis. Selain itu, ada juga beberapa karya yang hanya sekedar menonjolkan aspek eksplorasi bahasa artistik dan sensasi visual tertentu. Meskipun memiliki durasi yang sangat singkat, terbukti genre film dan video masih dapat dinikmati dan memberikan kesan tersendiri bagi para penikmatnya. Rencananya LFM - ITB bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, Kineruku dan VideLab akan menyelenggarakan workshop “One Minute Video” dalam waktu dekat untuk ikut mendorong perkembangan genre film dan video berdurasi pendek di kota Bandung.

Ganesha Film Festival 2008 merupakan festival film pertama yang diselenggarakan oleh LFM – ITB. Selain pemutaran film, festival ini juga menyelenggarakan kompetisi film independen yang melibatkan karya para sineas muda dari beberapa kota di Indonesia. Untuk festival kali ini, ada sekitar 98 karya film dan 4 video art yang diperlombakan. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan pre screening di Common Room pada tanggal 28 Januari 2008. Sementara itu, puncak dari kegiatan festival yang sekaligus menjadi ajang penyerahan penghargaan kompetisi diselenggarakan di Campus Center ITB pada tanggal 2 Februari 2008.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai Ganesha Film Festival 2008 silahkan mengunjungi halaman berikut ini:

Top

9 February, 2008 | No comments

Selepas Konser Cinta Melulu: Efek Rumah Kaca Harus Masuk Major Label?

Photobucket

Cholil dengan suara pelan memberi tahu penonton bahwa lagu berikut adalah lagu terakhir. Penonton menyanggah. Mereka tidak ingin menemui akhir yang datang terlalu dini.

Nggak ada lagunya lagi,” ujar Cholil.

Tidak berapa lama, lewat serangkaian komunikasi pendek dengan Akbar, sang drummer, mereka memainkan lagu Efek Rumah Kaca. Lagu itu tidak ada di dalam rencana mereka malam itu.

Menjelang lagu Cinta Melulu, lagu yang seharusnya menjadi lagu terakhir mereka malam itu, penonton berdiri. Semuanya ingin mendekat ke arah panggung kecil itu. Orang yang dapat posisi agak ke belakang, pasti terhalangi. Saya beruntung, saya ada di baris kedua dari depan. Jadi, masih bisa merapat. Saya sedang menjalani salah satu konser menyenangkan dalam hidup saya. Seperti biasa, mata saya sudah mengarah pada setlist milik Cholil yang ada di samping efek gitarnya. Saya akan mengambilnya, maka langsung mencari posisi enak untuk langsung menyeruak ke depan setelah konser selesai.

Koor penonton semakin membahana pada lagu ini. Lagu ini memang cukup menyenangkan. Terlepas bahwa ini merupakan singel radio paling baru mereka. Dan terlepas pula bahwa ERK bersama panitia membagikan lembaran lirik kepada setiap penonton yang datang.

Lagu itu pun selesai. Penonton tidak ingin beranjak. Mereka sudah ingin mengakhiri konser itu. Tapi tidak dengan penonton. Mereka meminta encore. Saya termasuk orang yang berteriak meminta lagu tambahan.

Duh, udah semua dimainin, gimana dong?” kata Cholil, lagi-lagi pelan.

Ulang aja, ulang,” teriak banyak penonton, termasuk saya.

Tidak perlu waktu lama, mereka memutuskan untuk mengulang lagu Di Udara.

Ok, diulang. Cuma nyanyi bareng ya,” pinta Cholil. Penonton menurut, termasuk saya. Kata pertama sudah menjadi santapan bersama.

Dan lagu itu membahana berulang-ulang. Keluar dari pakem standar mereka ketika bermain. Bahkan ada satu bagian di mana para personil ERK bingung harus menyanyikan apa. “Lupa gue,” ujar Cholil sembari terkekeh dan melanjutkan suara gitarnya.

Entah berapa kali bagian reffrain lagu itu dimainkan. Entah berapa kuat suara penonton malam itu menganggu tetangga sekitar. Tapi, tidak perlu peduli terlalu banyak.

Intimasi konser itu menemui ekspektasinya. Hampir semua orang di situ bernyanyi. Ruang pertunjukan pun terasa sesak, karena memang jadinya terlalu kecil untuk jumlah orang yang datang malam itu.

Konser berakhir, band itu langsung diserbu banyak orang. Ada yang ingin berfoto bersama, ada yang ingin meminta tanda tangan. Mata saya langsung mengontak mata Cholil, karena ia sudah menyadari kesadaran saya di deretan penonton. Saya langsung memberi kode bahwa saya menginginkan setlist miliknya. Ia langsung mengamankan setlist itu, bahkan tanpa diminta pun langsung meminjam spidol seorang yang ingin meminta tanda tangan kepadanya dan menorehkan tulisan “To Felix” sebelum tanda tangannya.

Saya mengambil setlist itu dan menyalaminya, “Terima kasih untuk konser yang menyenangkan, Lil,” ujar saya kalau tidak salah. Pekerjaan saya, menunggu dua orang lainnya menandatangani setlist itu. Saya harus mendapatkan tanda tangan mereka malam itu, kalau keluar dari malam itu rasa dan sensasinya pasti berbeda.

Ini adalah lagu yang mereka mainkan di konser itu:

INTRO
DEBU-DEBU BETERBANGAN
INSOMNIA
BUKAN LAWAN JENIS
DI UDARA
DESEMBER
HUJAN JANGAN MARAH
JALANG
JATUH CINTA ITU BIASA SAJA
BELANJA TERUS SAMPAI MATI
MELANKOLIA
SEBELAH MATA
EFEK RUMAH KACA
CINTA MELULU
========
DI UDARA

Total ada lima belas lagu.

Selepas menunggu mereka diwawancara oleh dua buah televisi, saya meminta tanda tangan kepada Akbar dan Adrian. Mereka tampak canggung memberikan tanda tangan.

Malam itu saya baru saja menyaksikan sebuah konser calon band penuh talenta untuk pasar besar musik Indonesia. Sehabis konser itu, saya percaya bahwa band ini akan mengawali karir major label mereka satu hari nanti.

Teman saya, Dimas Ario, meninggalkan sebuah komentar singkat, “Gila, Lix. Terakhir kali gue nonton konser diulang lagunya itu Indra Lesmana. Yang diulang lagu Selamat Tinggal.” Konser itu berlangsung tahun 90an. Sudah cukup lama untuknya.

Terima ERK, untuk konser yang sangat sulit untuk dilupakan. (pelukislangit)

*) Rumah Bandung, sebelum bekerja. 4 Februari 2008. Didedikasikan kepada Boit yang tidak bisa menyaksikan konser ini sampai selesai dan Satria Ramadhan yang urung mengabadikan ERK di konser ini karena alasan kesehatan. Kalian pasti menyesal!

**) Artikel ini merupakan potongan review yang ditulis oleh pelukislangit. Simak review lengkap di http://pelukislangit.multiply.com

***) Foto oleh Dame Christina

Top

18 January, 2008 | 1 comment

Bedah Buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death | Selasar Sunaryo Artspace | 19 Januari 2008

Photobucket

Dalam rangka kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia
Minor Books bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, Rumah Cemara dan Selasar Sunaryo Art Space menyelenggarakan program bedah buku dan konser musik akustik, “My Self : Scumbag, Beyond Life and Death”. Sebagai bagian dari kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia, acara bedah buku ini juga akan menghadirkan beberapa pembicara yang berasal dari latar belakang yang beragam. Selain diskusi dan bedah buku, acara ini juga akan menampilkan Burgerkill, band cadas asal Ujungberung yang akan memainkan musik mereka dalam format akustik dan berkolaborasi dengan Fadly (Padi).

Pembicara
1. dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater)
2. Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah)
3. Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf)
4. Andy Fadly (Musisi)
5. Kimung (Penulis)

Waktu dan Tempat
Hari/tanggal: Sabtu/19 Januari 2008
Waktu: Pk.18.30 – 21.30 WIB
Tempat: Amphitheataer – Selasar Sunaryo Art Space,
Jl. Bukit Pakar Timur no.100
Bandung

Tempat Pengambilan Undangan
Cronic Rock
Jalan Kalimantan No. 11 (Sebelah SMA 3)

Common Room
Jl. Kyai Gede Utama No. 8
Telp. +62.22.250.3404
http://commonroom.info/

Selasar Sunaryo Artspace
Jl. Bukit Pakar Timur no.100
Telp. +62.22.2507939
http://www.selasarsunaryo.com/

Top

20 November, 2007 | No comments

Workshop Capo di Common Room

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Gilang Anom M. Manik (9 tahun), sedang memodifikasi Capo sambil ditemani oleh teman-teman dari AEWORX. Pada hari Minggu tanggal 18 November 2007, tim desain AEWORX dari NLS menyelenggarakan workshop Capo yang diikuti oleh kurang lebih 14 orang peserta di Common Room. Workshop dimulai sejak jam 11 siang dan berakhir pada pukul 18.00 sore. Meskipun ada beberapa peserta yang terlambat datang, secara keseluruhan workshop berjalan secara menyenangkan.

Acara diawali dengan presentasi dari tim AEWORX dan beberapa peserta pameran Capo semisal Radi Arwinda, Dewi Aditya, Marina Tasya, Ryoichi Adiwaluyo, Cindaga, dsb. Masing-masing peserta pameran saling berbagi pengalaman dan informasi mengenai teknik memodifikasi Capo sambil berbincang secara langsung dengan para peserta workshop. Setelah selesai melakukan sesi tanya jawab, para peserta workshop kemudian mulai merancang Capo sesuai dengan keinginan dan minat mereka masing-masing. Selanjutnya para peserta workshop mulai memodifikasi Capo sambil dipandu oleh teman-teman dari AEWORX.

Beberapa peserta yang terlibat di dalam kegiatan ini antara lain adalah Andi, Gilang, Gorky, Lucy, Dika, Evan D., Atinna, Yudi, Aditya, Kadek, Deri, Asep Wahyu, Fuad dan Rami. Rencananya karya-karya hasil workshop ini akan ikut dipamerkan dalam seri pameran Capo selanjutnya. Terimakasih untuk teman-teman yang telah terlibat dan ikut membantu pelaksanaan kegiatan ini. Foto-foto suasana workshop bisa dilihat di capotoys.multiply.com.

Top



« Next entries Previous entries »