Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Idharrez 10:17 am on February 22, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Melawan Lupa: Mengenang 2 Tahun Insiden AACC | Common Room | 17 Februari 2010 

    suasana pengajian

    Kejadian Sabtu Kelabu yang terjadi pada tahun 2008 yang telah lalu masih membekas di benak orang-orang yang hadir dalam malam peringatan dua tahun Tragedi AACC. Insiden ini merupakan malam yang tidak akan dilupakan oleh sebagian orang, sehingga dirasa penting untuk berefleksi dan mengenang kejadiannya, selain mengenang momen kebersamaan, serta mengambil hikmah dari kejadian itu. Melawan Lupa, adalah momen krusial dan tagline penting dalam peringatan tahun ini. Berbeda dengan acara peringatan tahun lalu, agenda yang dilakukan tahun ini adalah mengaji dan berdoa untuk para korban dengan cara yang lebih sederhana. Malam peringatan pun dihadiri keluarga korban sebagai bentuk penghargaan kepada para korban yang telah menjadi bagian dari komunitas anak muda yang terlibat di dalam insiden ini.

    Satu yang perlu disadari bahwa, insiden AACC bukanlah kesalahan satu pihak, namun kesalahan berbagai elemen terkait. Entah itu mulai dari pihak penyelenggara acara, penonton, pengelola gedung, polisi, pemerintah, media massa, hingga masyarakat. Banyak pihak yang sebetulnya berperan dalam insiden ini. Momen penting malam peringatan dua tahun tersebut merupakan pembelajaran untuk berbuat lebih nyata, mengambil hikmahnya, bersatu padu, dan menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini. Dan kejadian malam tersebut, merupakan pelajaran untuk masa depan yang lebih baik, jika kita mampu menyikapinya dengan bijak. Selesai berdoa, acara ditutup dengan makan tumpeng bersama dan melanjutkannya dengan menabur bunga di pelataran Gedung AACC. (yk)

     
  • blauloretta 4:53 pm on December 15, 2009 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    UNDER ONE SKY | pemutaran film + diskusi: HAM dan Jurnalisme | Rabu, 16 Desember 2009 

    film

    Under One Sky adalah judul dari sebuah film dokumenter di bawah arahan dan suntingan Kiri Dalena, seorang seniman Phillipina yang saat ini tengah menjalani program residensi singkat di Common Room. Film produksi tahun 2009 dan berdurasi 30 menit ini dikerjakan secara bersama-sama dengan Patricia Evangelista. Keduanya berasal dari Phillipina.

    Film ini bercerita tentang sebuah insiden yang terjadi pada tanggal 23 November 2009, ketika sebuah pembantaian terjadi di wilayah Maguindanao dan kemudian dikenal dengan insiden Pembantaian Maguindanau. Dalam insiden ini, sekitar 57 laki-laki dan perempuan dibunuh secara brutal. Secara khusus, film ini berkisah mengenai orang-orang yang menjadi korban, termasuk keluarga yang ditinggalkan. Dalam insiden ini, juga tercatat kematian 31 orang wartawan yang ikut menjadi korban pembantaian yang dilakukan secara membabi buta.

    (More …)

     
  • blauloretta 12:17 pm on November 16, 2009 Permalink | Reply
    Tags:   

    Charter for Innovation, Creativity and Access to Knowledge 

    We, a broad coalition from over 20 countries, of hundreds of thousands of citizens, users, consumers, organizations, artists, hackers, members of the free culture movement, economists, lawyers, teachers, students, researchers, scientists, activists, workers, unemployed, entrepreneurs, creators…

    We invite all citizens to make this Charter theirs, share it and put it into practice.

    We invite all governments, multinationals and institutions urgently to listen to it, understand it and enforce it.

    More info: http://fcforum.net/

    Download Video:
    .ogg version
    .mov version

    Download PDF

     
  • blauloretta 5:59 am on February 9, 2009 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Peringatan Satu Tahun Insiden Sabtu Kelabu | Gedung AACC | 9 Februari 2009 

    aacc09

    Insiden Sabtu Kelabu, Setelah Satu Tahun Berlalu
    Oleh Gustaff H. Iskandar**

    I

    “Setiap orang memiliki hak yang sama untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan menikmati kesenian, selain turut serta dalam mengecap kemajuan dan manfaat dari ilmu pengetahuan.” (Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, pasal 27, ayat 1. Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 di Palais de Chailot – Paris, melalui resolusi 217 A (III).)

    Bagi sebagian komunitas anak muda di kota Bandung, penghujung tahun 2007 dapat dikatakan merupakan sebuah momen yang melahirkan semangat yang baru. Pada bulan November 2007, Minor Books merilis buku berjudul My Self: Scumbag Beyond Life and Death yang ditulis oleh Kimung. Buku ini menceritakan sepak terjang kehidupan Ivan Scumbag yang meninggal dunia pada tahun 2006. Ia adalah salah satu pendiri sekaligus vokalis dari BurgerKill yang berasal dari daerah Ujungberung. Saat itu acara peluncuran buku diselenggarakan di Common Room dengan suasana yang sangat sederhana dan mengharukan. Seakan-akan sosok Ivan Scumbag masih hidup dan hadir di tengah-tengah semua yang hadir pada saat itu.

    Pada bulan Januari 2008, Minor Books kemudian menyelenggarakan acara diskusi dan bedah buku, lengkap dengan pertunjukan musik akustik dari Burgerkill di Selasar Sunaryo Artspace. Selain dihadiri oleh sekitar 300 orang kerabat dekat Ivan, acara ini juga menghadirkan dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung. Selama kurang lebih 3 jam lamanya, para peserta yang hadir diajak untuk membicarakan berbagai aspek hidup Ivan Scumbag. Secara panjang lebar Kimung bercerita mengenai perjuangan Ivan dan teman-temannya di Ujungberung dalam membangun komunitas yang selama ini memiliki akar dan kecintaan terhadap apa yang mereka tekuni secara sungguh-sungguh: musik metal.

    Rangkaian kegiatan ini rupa-rupanya melahirkan gairah baru di kalangan komunitas pecinta musik metal di kota Bandung. Peluncuran buku My Self: Scumbag Beyond Life and Death seakan menandai babak baru dari perkembangan musik ekstrim di kota Bandung yang telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Setelah Ivan Scumbag meninggal dunia, semangat untuk mengembangkan komunitas penggemar musik metal di kota Bandung tidak lantas padam. Pengaruh perkembangan komunitas musik metal di Ujungberung selama ini dapat dikatakan telah memberikan warna tersendiri di kota Bandung. Dengan segala keterbatasan yang ada, komunitas Ujungberung menjadi salah satu elemen penting yang melahirkan banyak musisi, teknisi dan operator yang menjadi garda terdepan bagi perkembangan industri musik independen di kota Bandung.

    Namun selanjutnya kenyataan berbicara lain. Pada tanggal 9 Februari 2008 sebuah insiden terjadi di gedung Asia Africa Cultural Center (AACC). Saat itu ratusan anak muda penggemar musik metal kota Bandung bergerombol menghadiri konser kelompok Beside yang meluncurkan album pertama mereka yang berjudul Against Ourselves (Absolute Records/ Parapatan Rebel, 2008). Beberapa saat setelah konser selesai, kericuhan terjadi di pintu keluar. Kerumunan massa yang berdesak-desakan melahirkan sebuah bencana yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi malam itu. 11 orang anak muda meninggal. Seketika suasana kota Bandung menjadi begitu kelam. Beberapa teman harus menginap di kantor Polisi, sementara yang lain tercerai berai tak tentu arah. (More …)

     
    • Maman Gantra 4:17 am on March 29, 2009 Permalink

      Sedap. Sebuah reportase yang informatif sekaligus bernas. Ditengah duka lantaran Musibah Situ Gintung, meski agak terlambat, saya juga tepekur untuk teman-teman yang syahid dalam Insiden Sabut Kelabu. Semoga arwah mereka diterima di sisiNya, menjadi api yang terus membara bagi kita semua.

      Salam,
      Maman Gantra

    • blauloretta 12:07 pm on March 31, 2009 Permalink

      Nuhun Kang Maman! Apa kabar? Jigana kudu loba tepekur karena banyak musibah. Mulai dari musibah alam, sampai musibah karena kebodohan kita sendiri. Sing eling jeung waspada, ameh salamet dunia akherat. Amin.

      Salam,
      - Gustaff

    • soerya adi s 2:39 am on April 2, 2009 Permalink

      maturnuwun mas!reportnya
      jujur jd merinding bacatulisanya+jd ingat jg kejadian 1 th lalu di aacc.yaah bandung memang inspiratif.
      mugi-mugi sedoyo nipun saget ambeto berkhah sakeng gusti pengeran murbeing dumadi kagem kito sedoyo…..amien
      rahayu…rahayu…rahayu!
      sakujasmerah

  • blauloretta 5:18 am on January 1, 2009 Permalink | Reply
    Tags:   

    Selamat Tahun Baru 2009! 

    2009

    * Photo by Rimba Patria

     
    • queercambodia 7:15 am on January 9, 2009 Permalink

      hi! blog hopping! Exchange links please? Inform me at my blog! thanks!
      Have a fabulous day!

      Cheers!

      x,
      QC (QueerCambodia)

  • blauloretta 4:47 am on November 27, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Peringatan 60th Deklarasi Hak Asasi Universal | Common Room | 6 Desember 2008 – 10 Januari 2008 

    “Setiap orang memiliki hak yang sama untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan menikmati kesenian, selain turut serta dalam mengecap kemajuan dan manfaat dari ilmu pengetahuan.”

    (Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, pasal 27, ayat 1. Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 di Palais de Chailot – Paris, melalui resolusi 217 A (III).)

    Sejak dibentuk pada tahun 2003, Common Room telah menaruh perhatian khusus pada pengembangan wacana maupun praktik bagi penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia melalui kegiatan seni dan kebudayaan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Kami menyadari bahwa prinsip HAM adalah hak dasar yang vital bagi perkembangan dan otonomi masyarakat sipil, terutama menyangkut hak untuk hidup dan berekspresi secara bebas bagi segenap anggota masyarakat. Hal ini juga meliputi hak dasar untuk memiliki posisi yang sama di mata hukum serta hak dasar di bidang sosial, budaya dan ekonomi.

    Pada akhir tahun yang lalu, sebagai bagian dari kampanye mengenai kebebasan berekspresi dan toleransi di Indonesia, kami menyelenggarakan peluncuran buku Myself: Scumbag Beyond Life and Death yang ditulis oleh Kimung di Common Room. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi dan bedah buku yang menampilkan pertunjukan musik akustik dari Burgerkill di Selasar Seni Sunaryo pada awal tahun 2008. Untuk tahun ini, bertepatan dengan peringatan 60 Tahun Deklarasi HAM Universal, kami kembali menyelenggarakan serangkaian kegiatan untuk terus mengkampanyekan penegakan HAM, serta kebebasan berekspresi dan toleransi di Indonesia.

    Khusus untuk kegiatan tahun ini, kami menampilkan serangkaian kegiatan berupa pameran arsip dan dokumentasi kehidupan Anne Frank, pemutaran film “Freedom Writers” (Richard LaGravenese, 2007), dan workshop sejarah lisan yang akan dipandu oleh Kimung (Minor Books) dan Drs. Reiza D. Dienaputra (Staff pengajar Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran). Pameran Anne Frank merupakan salah satu program utama yang diharapkan dapat memberikan inspirasi dan memicu perbincangan mengenai persoalan HAM dan sejarah lisan dari sudut pandang yang personal.

    Di Indonesia perbincangan mengenai HAM barangkali masih merupakan persoalan yang pelik, mengingat berbagai pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu. Bahkan sampai hari ini berbagai bentuk pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara maupun oleh sesama kelompok masyarakat masih kerap terjadi, ditengah berbagai bentuk ketimpangan sosial, politik dan ekonomi; selain gejala autisme sosial yang akut, serta ancaman radikalisasi pandangan nasionalisme, primordialisme dan gerakan fundamentalisme. Untuk hal ini, kami merasa bahwa upaya untuk mengkampanyekan kesadaran mengenai HAM, termasuk menegakan prinsip mengenai kebebasan berekspresi dan sikap toleransi di Indonesia sangat relevan untuk terus diperbincangkan secara kritis agar kita memiliki masa depan yang lebih beradab dan berperikemanusiaan.

    Kami mengundang anda untuk terlibat pada rangkaian acara Peringatan 60 Tahun Deklarasi Hak Asasi Manusia Universal yang diselenggarakan di Common Room mulai tanggal 6 Desember 2008 s/d 10 Januari 2009. Adapun detail dari rangkaian kegiatan ini adalah sebagai berikut:

    Pembukaan Pameran Kehidupan Anna Frank
    Sabtu, 6 Desember 2008 Pk.16.00 WIB
    Pameran berlangsung sejak tanggal 6 – 21 Desember 2008
    Pk.10.00 s.d Pk.17.00 WIB

    Diskusi “Kebebasan Berekspresi dan Toleransi di Indonesia”
    Jumat, 12 Desember 2008
    Pk.15.00 s/d Pk.17.30 WIB

    Pemutaran & Diskusi Film “Freedom Writers” (Richard LaGravenese, 2007)
    Jumat, 19 Desember 2008
    Pk.14.00 s/d Pk.17.00 WIB

    Workshop Sejarah Lisan
    Dipandu oleh Kimung (Minor Books) & Drs. Reiza D. Dienaputra (Staff pengajar Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran)
    13 Desember 2008 s/d 10 Januari 2009 (4 kali pertemuan)
    Pendaftaran 6 – 12 Desember 2008
    Biaya workshop:
    Umum Rp. 50.000,-
    Pelajar/ Mahasiswa Rp. 30.000,-

    Untuk informasi dan pendaftaran silahkan hubungi Ibu Nunung di +62.22.250.3404

    Venue
    Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama No. 8
    Bandung 40132
    Jawa Barat – Indonesia
    Telp. Fax: +62.22.2503404

    * Kegiatan ini diselenggarakan oleh Common Room Networks Foundation atas dukungan dari Hivos, Anna Frank Foundation, Erasmus Huis, Minor Books, DetikBandung.com, Deathrockstar.info dan MediaLab.

     
  • blauloretta 7:36 am on September 21, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Surili, Endangered Species in West Java, Indonesia 

    Western Javan Surili (Presbytis comata comata) a.k.a Grizzled Leaf Monkey is the endemic monkey of West Java that are currently listed on the IUCN red list of endangered species because of habitat loss due to human activity. They are smart, agile, have a great sense of humour and likes to gather arround. They represent freedom, and, more or less the character of the people here in Bandung.

    (From: http://helarfest.com/)

     
  • blauloretta 12:05 pm on June 3, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia | Community Gathering | Diskusi | Parade | Botram | 5 & 8 Juni 2008 

    Photobucket

    (Mimpi) Hak Atas Lingkungan Hidup Yang Sehat

    Hak atas lingkungan tidak diatur secara aksplisit dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM). Namun, gerakan lingkungan hidup (environmental movement) belum sepenuhnya efektif dalam mencoba mendorong ekplisitas hukum sebagai hak dasar. Meski cukup banyak pengaturan lainnya menyangkut hak atas lingkungan dalam hukum internasional seperti yang tersebut di atas, hak atas lingkungan sebagai hak asasi manusia barulah mendapat pengakuan dalam bentuk kesimpulan oleh sidang Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia pada bulan April 2001 bahwa “Setiap orang memiliki hak hidup di dunia yang bebas dari polusi bahan-bahan beracun dan degradasi lingkungan hidup”.

    Bagi Indonesia, pembangunan nasional yang diselenggarakan adalah mengikuti pola pembangunan yang berkelanjutan yang diakomodasi dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat (3). Ketentuan tersebut memberikan dasar hukum bagi penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan melestarikan kemampuan lingkungan hidup agar dapat tetap menunjang kesejahteraan dan mutu hidup generasi lingkungan hidup.

    Generasi lingkungan hidup akan terwujud ketika peran serta atau partisipasi masyarakat merupakan bagian yang lekat dalam proses politik, kebudayaan dan demokrasi. Salah satu prasyarat utama dalam mewujudkan partisipasi itu adalah adanya keterbukaan dan transparansi. Beberapa hal yang memungkinkan keterbukaan (openness) terjadi adalah:

    1. Hak untuk mengetahui (right to know/ meeweten) secara utuh, benar dan akurat.
    2. Hak untuk memikirkan (right to think/ meedenken); terlibat dalam pemikiran, pengkajian dan penelitian tentang apa yang sikap yang baik dalam pengelolaan lingkungan hidup.
    3. Hak untuk menyatakan pendapat (right to speech/ meespreken)
    4. Hak untuk mempengaruhi pengambilan keputusan (right to participate in decision making process/ meebeslissen)
    5. Hak untuk mengawasi pelaksanaan keputusan (right to watch in implementing of the decision/ meetoezien) kontrol masyarakat.

    Mungkinkah? Hukum sampai saat ini belum menunjukan sebagai suatu yang mendorong ajegnya suatu perlindungan akan hak. Sepertinya hukum dan hak adalah hal yang paralel. Kesadaran masyarakatnya sendiri yang harus mengambil posisi yang strategis sebagai fondasi civil society. Budaya sebagai sebuah hasil interaksi sosial akan mengambil peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan kesadaran publik akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat dan beradab.

    Diskusi publik yang digagas akan mencoba menerobos batasan hukum dan budaya. Dan kemudian akan menjadikan sebuah tawaran yang mungkin akan lebih membumi, termanifestasi dan terintegrasi secara utuh dalam sikap. Untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik. Alam yang lebih alami, hidup yang lebih manusiawi lebih hidup…

    Berita terkait bisa diakses di halaman berikut:
    - SIB Kritik Pemerintah
    - Bandung Sarat Polusi Selama 55 Hari/ Tahun
    - Mencari Udara Bersih

     
  • blauloretta 4:39 am on April 23, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , Graphics   

    LIBERTE! 

    Photobucket

     
    • kimun666 9:14 am on February 7, 2009 Permalink

      naon ieu??? absurd hehehehe…

    • blauloretta 1:07 pm on February 25, 2009 Permalink

      Pokonamah bebaskeun weh!!!

  • blauloretta 11:29 am on February 15, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Dialog Publik dan Malam Seribu Lilin | Solidaritas Independen Bandung untuk Korban Insiden Sabtu Kelabu | Sabtu, 16 Februari 2008 

    underground_berkabung

    Undangan terbuka Solidaritas Independen Bandung (SIB)* dalam rangka menyikapi insiden Sabtu Kelabu yang menelan 11 korban nyawa dalam konser launching album kelompok band BESIDE pada tanggal 9 Februari 2008 di gedung Asia Africa Cultural Center (AACC).

    Acara ini diharapkan dapat menjadi forum rekonsiliasi yang membangun pemahaman baru akan kultur anak muda di kota Bandung. Selain itu, acara ini diharapkan dapat menjadi momentum pembelajaran atas insiden yang terjadi.

    Kegiatan ini akan melibatkan pihak-pihak terkait, terutama dari unsur komunitas masyarakat, akademisi, pemerintah dan kepolisian, diselingi dengan pertunjukan kesenian oleh komunitas seniman dan musisi Bandung. Selanjutnya acara ini akan dilanjutkan dengan kegiatan tabur bunga dan doa bersama di gedung Asia Africa Cultural Center.

    Waktu dan Tempat Kegiatan
    Sabtu, 16 Februari 2008
    - Dialog Publik: Gedung Teater Tertutup Dago Tea Huis, pukul 15.00 – 18.00 WIB
    - Malam Seribu Lilin: Gedung Asia Africa Cultural Center: 19.00 – 21.00 WIB

    Pembicara
    1. Kimung (Ujung Berung Rebels)
    2. Addy Handi (Forgotten/ Ujung Berung Rebels)
    3. dr. Teddy Hidayat
    4. Bapak Tisna Sanjaya
    5. Disbudpar Provinsi Jawa Barat
    6. Kapolda Jawa Barat
    7. Bapak Yesmil Anwar

    Penyelenggara
    Rumah Cemara
    LBH Bandung
    Sunda Underground
    Ujung Berung Rebels
    Common Room Networks Foundation
    Solidaritas Independen Bandung (SIB)
    Yayasan Adikaka
    Rumah Musik Harry Roesly (RMHR)

    * Solidaritas Independen Bandung (SIB) adalah forum ad hoc yang diinisiasi oleh beberapa komunitas, pelaku dan individu penggemar musik independen di kota Bandung.
    ** Informasi selengkapnya silahkan hubungi Man (Jasad) di nomor 08156211840 dan Iyo (Ripple/ Pure Saturday) di nomor 0817221489

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel