Search



Photo Stream



Archive for Campaign

3 June, 2008 | No comments

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia | Community Gathering | Diskusi | Parade | Botram | 5 & 8 Juni 2008

Photobucket

(Mimpi) Hak Atas Lingkungan Hidup Yang Sehat

Hak atas lingkungan tidak diatur secara aksplisit dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM). Namun, gerakan lingkungan hidup (environmental movement) belum sepenuhnya efektif dalam mencoba mendorong ekplisitas hukum sebagai hak dasar. Meski cukup banyak pengaturan lainnya menyangkut hak atas lingkungan dalam hukum internasional seperti yang tersebut di atas, hak atas lingkungan sebagai hak asasi manusia barulah mendapat pengakuan dalam bentuk kesimpulan oleh sidang Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia pada bulan April 2001 bahwa “Setiap orang memiliki hak hidup di dunia yang bebas dari polusi bahan-bahan beracun dan degradasi lingkungan hidup”.

Bagi Indonesia, pembangunan nasional yang diselenggarakan adalah mengikuti pola pembangunan yang berkelanjutan yang diakomodasi dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat (3). Ketentuan tersebut memberikan dasar hukum bagi penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan melestarikan kemampuan lingkungan hidup agar dapat tetap menunjang kesejahteraan dan mutu hidup generasi lingkungan hidup.

Generasi lingkungan hidup akan terwujud ketika peran serta atau partisipasi masyarakat merupakan bagian yang lekat dalam proses politik, kebudayaan dan demokrasi. Salah satu prasyarat utama dalam mewujudkan partisipasi itu adalah adanya keterbukaan dan transparansi. Beberapa hal yang memungkinkan keterbukaan (openness) terjadi adalah:

  1. Hak untuk mengetahui (right to know/ meeweten) secara utuh, benar dan akurat.
  2. Hak untuk memikirkan (right to think/ meedenken); terlibat dalam pemikiran, pengkajian dan penelitian tentang apa yang sikap yang baik dalam pengelolaan lingkungan hidup.
  3. Hak untuk menyatakan pendapat (right to speech/ meespreken)
  4. Hak untuk mempengaruhi pengambilan keputusan (right to participate in decision making process/ meebeslissen)
  5. Hak untuk mengawasi pelaksanaan keputusan (right to watch in implementing of the decision/ meetoezien) kontrol masyarakat.

Mungkinkah? Hukum sampai saat ini belum menunjukan sebagai suatu yang mendorong ajegnya suatu perlindungan akan hak. Sepertinya hukum dan hak adalah hal yang paralel. Kesadaran masyarakatnya sendiri yang harus mengambil posisi yang strategis sebagai fondasi civil society. Budaya sebagai sebuah hasil interaksi sosial akan mengambil peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan kesadaran publik akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat dan beradab.

Diskusi publik yang digagas akan mencoba menerobos batasan hukum dan budaya. Dan kemudian akan menjadikan sebuah tawaran yang mungkin akan lebih membumi, termanifestasi dan terintegrasi secara utuh dalam sikap. Untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik. Alam yang lebih alami, hidup yang lebih manusiawi lebih hidup…

Berita terkait bisa diakses di halaman berikut:
- SIB Kritik Pemerintah
- Bandung Sarat Polusi Selama 55 Hari/ Tahun
- Mencari Udara Bersih

Top

23 April, 2008 | No comments

LIBERTE!

Photobucket

Top

15 February, 2008 | No comments

Dialog Publik dan Malam Seribu Lilin | Solidaritas Independen Bandung untuk Korban Insiden Sabtu Kelabu | Sabtu, 16 Februari 2008

underground_berkabung

Undangan terbuka Solidaritas Independen Bandung (SIB)* dalam rangka menyikapi insiden Sabtu Kelabu yang menelan 11 korban nyawa dalam konser launching album kelompok band BESIDE pada tanggal 9 Februari 2008 di gedung Asia Africa Cultural Center (AACC).

Acara ini diharapkan dapat menjadi forum rekonsiliasi yang membangun pemahaman baru akan kultur anak muda di kota Bandung. Selain itu, acara ini diharapkan dapat menjadi momentum pembelajaran atas insiden yang terjadi.

Kegiatan ini akan melibatkan pihak-pihak terkait, terutama dari unsur komunitas masyarakat, akademisi, pemerintah dan kepolisian, diselingi dengan pertunjukan kesenian oleh komunitas seniman dan musisi Bandung. Selanjutnya acara ini akan dilanjutkan dengan kegiatan tabur bunga dan doa bersama di gedung Asia Africa Cultural Center.

Waktu dan Tempat Kegiatan
Sabtu, 16 Februari 2008
- Dialog Publik: Gedung Teater Tertutup Dago Tea Huis, pukul 15.00 - 18.00 WIB
- Malam Seribu Lilin: Gedung Asia Africa Cultural Center: 19.00 - 21.00 WIB

Pembicara
1. Kimung (Ujung Berung Rebels)
2. Addy Handi (Forgotten/ Ujung Berung Rebels)
3. dr. Teddy Hidayat
4. Bapak Tisna Sanjaya
5. Disbudpar Provinsi Jawa Barat
6. Kapolda Jawa Barat
7. Bapak Yesmil Anwar

Penyelenggara
Rumah Cemara
LBH Bandung
Sunda Underground
Ujung Berung Rebels
Common Room Networks Foundation
Solidaritas Independen Bandung (SIB)
Yayasan Adikaka
Rumah Musik Harry Roesly (RMHR)

* Solidaritas Independen Bandung (SIB) adalah forum ad hoc yang diinisiasi oleh beberapa komunitas, pelaku dan individu penggemar musik independen di kota Bandung.
** Informasi selengkapnya silahkan hubungi Man (Jasad) di nomor 08156211840 dan Iyo (Ripple/ Pure Saturday) di nomor 0817221489

Top

11 February, 2008 | No comments

Pers Rilis Insiden Sabtu Kelabu | Gedung AACC Bandung, 9 Februari 2008

Photobucket

Kami mewakili Solidaritas Independen Bandung (SIB)* mengucapkan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya atas insiden dalam konser Launching Album kelompok band BESIDE, yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 9 Februari 2008 dan bertempat di gedung Asia Africa Cultural Centre (AACC). Peristiwa yang terjadi dalam musibah tersebut merupakan insiden yang tidak diinginkan dan direncanakan oleh pihak manapun. Mudah-mudahan insiden tersebut merupakan peristiwa yang terakhir kalinya dan dapat kita jadikan sebagai pembelajaran bagi semua pihak. Kami juga mendoakan semoga para korban dapat diterima disisi-Nya dan keluarga korban dapat menghadapi musibah ini dengan lapang dada. Amin

Kami memandang kejadian ini sebagai musibah yang tidak hanya terkait dengan kegiatan komunitas tertentu saja. Musibah tersebut juga bukan hanya merupakan sebuah insiden dalam pertunjukan musik, tetapi juga terkait dengan infrastruktur dan prosedur penyelenggaraan acara yang melibatkan masyarakat luas. Dalam hal ini, insiden tersebut di atas sebaiknya dipandang sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh banyak pihak, sehingga dapat dipandang sebagai pelajaran yang berharga bagi masyarakat umum maupun pemerintah.

Insiden yang memakan korban jiwa 10 orang tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus kita tanggapi secara objektif. AACC selama ini dikenal sebagai tempat bagi penyelenggaraan konser musik yang mewadahi luapan ekspresi anak muda di kota Bandung. Selama ini sudah banyak kelompok band yang menjadikan AACC sebagai gelanggangnya. Dari keterangan-keterangan yang terhimpun baik dari saksi maupun media, untuk sementara dapat disimpulkan bahwa rata-rata korban meninggal akibat kekurangan oksigen akibat luapan massa yang membludak. Hal ini setidaknya memperlihatkan bahwa energi kreatif yang dimiliki oleh komunitas musisi di kota Bandung sudah tidak dapat ditampung oleh gedung AACC. Oleh karena itu, kota Bandung sudah selayaknya memiliki fasilitas publik yang dapat mengakomodasi energi kreatif yang berkembang di kota ini secara aman.

* Solidaritas Independen Bandung (SIB) adalah forum ad hoc yang diinisiasi oleh beberapa komunitas, pelaku dan individu penggemar musik independen di kota Bandung.

Top

22 January, 2008 | No comments

Review Acara Bedah Buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death | Selasar Sunaryo Artspace | 19 Januari 2008

Burgerkill

Setelah tertunda selama kurang lebih satu bulan, akhirnya acara bedah buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ jadi diselenggarakan di Selasar Sunaryo Artspace pada tanggal 19 Januari 2008. Sesuai rencana semula, acara ini menghadirkan beberapa pembicara dari berbagai kalangan, yang terdiri dari dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung (Penulis buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death). Selain itu, acara ini juga menampilkan pertunjukan musik akustik dari Burgerkill yang malam itu memainkan musik mereka dalam format akustik.

Diantara para penggemar mereka, Burgerkill dikenal sebagai band cadas asal Ujungberung yang didirikan oleh Eben, Kimung, Ivan Scumbag (alm.) dan Toto pada tahun 1995. Sementara itu, buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ merupakan biografi kehidupan Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill yang meninggal karena penyakit radang selaput otak pada tahun 2006. Saat ini posisi Ivan digantikan oleh Vicki yang sebelumnya pernah bergabung dengan Balcony dan Heaven Fall. Selain dihadiri oleh kerabat dan teman-teman dekat Ivan, acara ini juga dihadiri oleh ratusan Begundal/ BHC yang merupakan fans setia dari kelompok Burgerkill. Dimulai pada pukul 19.30, acara dibuka oleh Burgerkill yang membawakan lagu Angkuh (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) yang berhasil menghangatkan suasana malam yang cerah di amphitheater Selasar Sunaryo Artspace.

Acara dilanjutkan dengan paparan dari dr. Teddy Hidayat yang memberikan pandangan tentang kondisi psikologis Ivan berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari buku yang ditulis oleh Kimung. Dokter Teddy menjelaskan secara panjang lebar bagaimana selama mengembangkan karirnya sebagai musisi, Ivan mengalami tekanan batin yang sangat mendalam. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kimung yang merupakan sahabat dekat dari Ivan Scumbag. Seperti yang diungkapkan oleh Kimung dan Dokter Teddy, tekanan psikologis yang dialami oleh Ivan terutama karena pertentangan nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga dengan situasi lingkungan yang beresiko tinggi dalam penggunaan obat-obatan dan zat psikotropika, seperti misalnya kebiasaan dalam mengkonsumsi alkohol, putaw, ganja, dsb. (NAPZA).

Lebih jauh Dokter Teddy memaparkan bahwa masalah seperti ini memang lazim terjadi dalam dunia remaja. Hal ini setidaknya membuat dunia anak muda menjadi rentan bagi penyebaran penyakit HIV/AIDS, yang biasanya juga tersebar melalui penggunaan jarum suntik. Oleh karena itu, persoalan seperti ini harus ditangani secara hati-hati. Idealnya persoalan semacam ini tidak dilihat sebagai persoalan kriminal, tetapi harus dilihat sebagai persoalan masyarakat yang bisa ditangani secara medis. Salah satu solusi yang barangkali dapat dilakukan untuk mengantisipasi resiko penggunaan NAPZA di kalangan anak muda adalah dengan menyalurkan bakat dan kreatifitas yang mereka miliki. Hal ini setidaknya juga tercermin dari apa yang terjadi pada diri Ivan. Ketika masih hidup, Ivan menyalurkan berbagai kegelisahan yang ia alami melalui karya-karyanya bersama Burgerkill. Kembali menurut Dokter Teddy, adalah tugas bagi para orang tua dan guru untuk menemukan bakat anak muda sehingga mereka dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan terhindar dari resiko penggunaan NAPZA dan terjangkit HIV/AIDS.

Diskusi

Sebelum melanjutkan diskusi, Burgerkill kembali tampil dengan mempersembahkan lagu We Will Bleed (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) dan Something in the Way milik Nirvana yang telah diaransemen ulang. Setelah itu Drs. Reiza D. Dienaputra melanjutkan diskusi dengan menyoroti persoalan sejarah kecil (micro narratives) yang berhasil diungkap secara panjang lebar melalui buku ini. Saat ini, perbincangan mengenai sejarah kecil menjadi semakin relevan karena sejarah kemudian dilihat sebagai sumber pengetahuan yang secara langsung dapat merefleksikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini jauh berbeda dengan persoalan sejarah besar (grand narratives) yang biasanya membicarakan persoalan-persoalan yang berjarak dengan kenyataan hidup masyarakat kebanyakan. Dalam buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death, Drs. Reiza D. Dienaputra mendapati berbagai persoalan keseharian yang begitu intim, namun penuh dengan persoalan kemanusiaan, lengkap dengan berbagai kekonyolan dan tragedi yang menyertai kehidupan Ivan dan para sahabatnya di Ujungberung.

Dalam diskusi ini Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto menyoroti wacana perlawanan yang selama ini kerap didengungkan oleh komunitas underground. Sebagai sebuah kritik, wacana perlawanan terhadap kapitalisme global bisa jadi merupakan persoalan yang absurd karena bagaimanapun paham kapitalisme juga dianggap telah berhasil menyulap semangat perlawanan menjadi komoditas. Disadari atau tidak, bagaimanapun harus diakui kalau berbagai ekspresi musik dan tanda-tanda yang terkait dengan ideologi perlawanan di Indonesia bisa jadi hanya sekedar imitasi yang memiliki konteks tersendiri dan dipahami secara berbeda dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Oleh karena itu, Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto lebih melihat berbagai ekspresi yang diungkap oleh komunitas underground sebagai sebuah fenomena keragaman pandangan politik pribadi dan ekspresi artistik yang juga layak untuk terus diapresiasi keberadaannya.

Selepas diskusi, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Alex yang secara khusus didedikasikan untuk Ivan. Selanjutnya acara ditutup dengan doa bersama yang dipersembahkan untuk mendiang Ivan Scumbag. Semua pihak sepakat bahwa walaupun Ivan sudah meninggal, sebagai sebuah spirit semangatnya masih tetap ada. Untuk itu, Kimung sangat berharap kalau apa yang telah dibangun oleh Ivan dapat terus dikembangkan oleh mereka yang banyak terlibat dalam perkembangan musik underground di Indonesia. Sebagai penutup, Burgerkill kembali tampil membawakan lagu Tiga Titik Hitam (Berkarat, Sony Music, 2003), yang dibawakan bersama-sama dengan Andi Fadly. Sebelumnya Fadly sempat menceritakan sedikit pengalamannya ketika berkolaborasi dengan Ivan dalam lagu Tiga Titik Hitam. Acara ini merupakan bagian dari kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia yang diselenggarakan bersama oleh Minor Books, Common Room Networks Foundation, Rumah Cemara, Selasar Sunaryo Artspace dan Ujungberung Rebels. (Gustaff/CRNF)

Top



« Next entries