Archive for Articles
13 January, 2008 | 3 comments
Ujungberung Update: …never let your friend fighting alone!

Sore itu akhir tahun 1996. Sore yang cerah. Selesai latihan band di Studio Palapa saya langsung nongkrong dipinggir jalan. Ada Yayat Jasad, Iyang Bangke, Dinan, Ameng, Andris, Bebi, Ivan Scumbag dan beberapa teman yang lainnya. Lagi asik ngobrol ngalor ngidul, sebuah angkot berhenti tepat di depan kami. Andri Kadal turun bersama seseorang yang tidak kami kenal. Menyapa kami semua lalu ikutan nongkrong. Berbagi miras dan rokok. Temannya hanya diam memperhatikan kami. Hanya merokok sambil sesekali tersenyum ketika diantara kami saling melemparkan banyolan.
“Oh enya sori…kenalkeun ieu babaturan urang di komplek”, Andri Kadal baru tersadar saking mabuknya. Teman Andri Kadal bangkit dari jongkok lalu dia menyalami kami satu persatu. “Mbie!”, tangan kanannya erat menjabat tangan saya. Sekilas saya melihat tato motif tribal dipergelangan tangannya. Mirip tato Max Cavalera vokalis Sepultura. Setelah itu dia jongkok di pinggir saya. “Rokok ‘a ?”, Mbie menawari saya rokok. Menyodorkan bungkus garfitnya yang tinggal satu batang. “Oh nuhun, aya!”, jawab saya sambil mengacungkan rokok yang masih menyala. Setelah itu dia kembali terdiam. Asik memperhatikan kami yang tertawa-tawa membahas berbagai hal. Hingga malam menjelang dan jumlah botol kosong di depan kami makin bertambah banyak.
Itulah awal saya kenal dengan Mbie. Seorang remaja tanggung dengan dandanan lusuh. Dia mengaku baru saja kabur dari sebuah pesantren di jawa timur. Berbekal baju yang melekat dibadan dan beberapa lembar rupiah disaku celananya dia memutuskan untuk cabut dari rumah. Atas jasa baik Yayat Jasad akhirnya Mbie ditampung di studio Palapa. Dari situlah awal Mbie tertarik dengan gitar. Oleh Yayat Jasad Mbie diajari beberapa tehnik dasar bermain gitar metal. Istilahnya grip gantung. Mbie juga serius belajar tentang teknik sound gitar.
Pada saat itu hampir semua band Ujungberung memakai jasa Mbie sebagai teknisi gitar. Disamping sebagai mata pencaharian menjadi teknisi gitar adalah ajang mencari ilmu. Tak segan Mbie menghabiskan waktu berhari-hari di rumah Ferli Jasad atau Toteng Forgotten. Dengan tekun Mbie mempelajari setiap tehnik baru yang didapatkan dari mereka. Sementara usaha sampingannya yang lain adalah berjualan merchandise dan produk rekaman band Ujungberung. Bersama saya Mbie kerap menghabiskan waktu berkeliling ke setiap tongkrongan di Bandung. Berdagang t-shirt, kaset, fanzine dan foto-foto band. Hingga malam menjelang dan kami kembali terdampar dijalan berbagi selimut kain spanduk.
Tahun 1998 akhirnya Mbie berhasil membuat band. Personilnya adalah Andi (vokal), Awan (gitar), Mbie (gitar), Rusli (drum) dan Dase (bass). Band pertama Mbie adalah Impure. Band death metal yang banyak terinspirasi dari Napalm Death, Malevolent Creation dan Suffocation. Bersama Impure Mbie banyak menimba pengalaman manggung. Suka duka bermain band kami lewati dengan sepenuh hati. Dalam keseharian itu saya makin kenal dengan sosok Mbie. Mbie yang sangat obsesif dan selalu mempunyai semangat yang menyala-nyala. Disisi lain Mbie adalah sosok yang sangat setia kawan dan mengerti betul makna dan arti sebuah pertemanan. Namun karir bermain band Mbie bersama Impure hanya berjalan beberapa tahun.
Selepas membubarkan band-nya, Mbie bergabung bersama Jeruji. Posisinya sebagai gitaris mendampingi Useng. Hingga akhirnya posisi Mbie beralih menjadi basist selepas Jeruji ditinggal basistnya. Bersama Jeruji, Mbie makin malang melintang di dunia musik underground. Bagi komunitas Ujungberung Rebels, Mbie adalah salah satu aset yang berharga. Atas jasa Mbie pagelaran Bandung Berisik 3 dapat digelar dengan sukses. Begitu juga dengan semua kegiatan dan rencana kerja Ujungberung rebels. Mbie selalu ikut serta dan memberikan kontribusi yang sangat besar. Pengaruh Mbie pada musikalitas Jeruji juga membawa dampak yang besar. Pasca Mbie masuk komposisi lagu-lagu Jeruji makin bertambah sangar. Bisa disimak pada album “Jeruji” dimana hampir semua komposisi lagu yang terdapat dalam album tersebut adalah garapan Mbie. Boleh dibilang pada album tersebut adalah idealisme-nya Mbie.
Keputusan Mbie masuk Jeruji sama mengagetkannya ketika dia memutuskan untuk keluar dari Jeruji. Semua orang berpendapat Mbie hengkang dari Jeruji dikarenakan kesibukan dia mengurus lahan bisnisnya. Ada juga yang menyatakan bahwa dia terlibat konflik dengan Themfuck dan personil lainnya. Saya melihatnya berbeda. Semua terlepas dari semua hal itu. Nampaknya Mbie sedang mempersiapkan sesuatu yang besar yang berhubungan dengan karir bermusiknya. Sama halnya ketika dia memutuskan untuk membubarkan band-nya dan masuk Jeruji yang secara teknis sangat jauh berbeda karakter dengan band Impure. Pribadi Mbie memang selalu penuh dengan kejutan.
Namun semua rencana besarnya harus tertunda ditengah jalan. Tanggal 1 Desember 2007, pukul 1 malam, Mbie ditemukan terkapar disekitar pelataran pinggir jalan Merdeka dalam kondisi mengenaskan. Kepalanya terluka parah hingga membuatnya koma selama hampir tiga minggu diruangan ICU. Pasca operasi besar dikepala untuk mengangkat serpihan tulang tengkoraknya, Mbie mengalami trauma hebat dikepalanya. Memori dalam otak Mbie terganggu sehingga mempengaruhi kinerja sensor motorik yang berhubungan dengan kordinasi gerakan anggota badannya.
Namun Mbie pantang menyerah. Seperti juga Indah istrinya yang selalu setia mendampingi Mbie. Seperti apapun kondisi Mbie dengan sabar Indah memberi motivasi dan harapan. Indah sangat mengerti dengan semua cita-cita Mbie. Indah juga sangat mengerti tentang makna pengorbanan dan kesetiaan. Seperti juga Mbie yang tidak pernah mengecewakan teman-temannya. Mbie yang selalu ada ketika kita membutuhkan pertolongan. Mbie yang rela berkorban demi semua impian dan harapan teman-temannya.
Kita semua mengenal Mbie dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kita juga telah sama-sama mengerti tentang makna kesetiaan dan pengorbanan. Pemulihan Mbie pasca operasi membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk untuk berbagi dan memberi. Sebagai “teman”…jangan biarkan Mbie berjuang sendirian! (Addy Gembel)
** Bagi teman-teman yang ingin ikut menyumbang untuk proses penyembuhan Mbie, silahkan mengirimkan bantuan ke nomer rekening BCA No. 3461732745, atas sama Indah P.D.
Top
8 January, 2008 | 6 comments
Pertemuan Bandung Creative City Forum | Common Room | 7 Januari 2008

Melanjutkan pertemuan sebelumnya, working group Bandung Creative City Forum kembali melakukan pertemuan di Common Room pada tanggal 7 Januari 2008. Seperti yang telah disepakati, kali ini pertemuan hanya diikuti oleh anggota working group yang terdiri dari perwakilan beberapa komunitas dan organisasi yang terlibat dalam beberapa pertemuan sebelumnya. Adapun anggota working group yang hadir di dalam pertemuan ini adalah Addy Gembel (Ujungberung Rebels), Gustaff H. Iskandar (Common Room), Utun (GPSP/ Sunda Underground), Iit (Omuniuum), Tata Soemardi (Artepolis/ PSUD), Agus Rakasiwi (Aliansi Jurnalis Independen/ AJI) , Fiki Satari (KICK) & Ridwan Kamil (URBANE). Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri oleh Endin (Artepolis/ PSUD) & Trie (Omuniuum).
Agenda yang dibicarakan di dalam pertemuan ini adalah koordinasi kerja working group Bandung Creative City Forum dan penyusunan rencana program kegiatan di sepanjang tahun 2008. Untuk susunan tim working group yang dibicarakan adalah sebagai berikut:
1. Koordinator Program: Gustaff H. Iskandar
2. Kesekertariatan: URBANE
3. Government Relation: Fiki Satari & Utun
4. Bendahara: Woerjantari Soedarsono
5. Koordinator Dana Usaha & External Relation: Ridwan Kamil
6. Koordinator Media: Agus Rakasiwi, Dewi Lestari, Adi Gembel & Iit
Untuk program kegiatan tahun 2008, forum ini sepakat untuk menggunakan nama HELAR FESTIVAL 2008 sebagai nama untuk rangkaian kegiatan yang direncanakan. Adapun beberapa kegiatan yang diusulkan antara lain adalah:
1. Sunda Festival (Festival budaya tradisional masyarakat Sunda)
2. Artepolis (Seminar urban planning & budaya kreatif)
3. KickFest (Festival industri clothing independen)
4. Public Art Project (Proyek seni ruang publik)
5. Bandung Deathfest (Konser musik death metal)
6. Bandung Creative Writing Festival (Festival sastra dan penulisan kreatif)
7. Architecture Biennalle (Pameran arsitektur)
8. Bandung New Emergence (Pameran seni visual)
9. Riset Komunitas Ujungberung Rebels (Riset komunitas kreatif)
10. Freedom Jazz Festival (Konser musik jazz)
11. Street Soccer Fest. (Kompetisi olah raga)
12. Bandung Creative Community Competition
13. Saparua Project (Revitalisasi gedung konser Saparua)
14. Penerbitan buku Bandung Creative City Forum
Selain beberapa kegiatan di atas, ada beberapa kegiatan lain yang diusulkan dan akan dikonfirmasi oleh working group pada pertemuan selanjutnya. Dalam waktu dekat, working group akan melakukan pendataan, perancangan & penjadwalan program dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan di sepanjang tahun 2008. Rencananya, rangkaian kegiatan Helar Festival 2008 akan dilaksanakan di sepanjang bulan Agustus dan September 2008. Terkait dengan persiapan pelaksanaan program, forum juga mendiskusikan logo kegiatan yang diperlukan sebagai sarana komunikasi dan publikasi bagi seluruh kegiatan Bandung Creative City Forum. M. Yahya dari Image Nation telah memberikan masukan dan agenda ini akan dibahas oleh forum pada pertemuan selanjutnya.
Dalam pertemuan ini, forum juga menyepakati kalau sebaiknya Bandung Creative City Forum juga bisa membicarakan beberapa hal yang lebih strategis dan tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan kegiatan bersama. Hal ini terutama ditujukan agar Bandung Creative City Forum dan pembicaraan mengenai pengembangan platform ekonomi kreatif di kota Bandung dapat menyentuh berbagai persoalan yang lebih esensial dan berdampak bagi masyarakat luas. Untuk itu forum sepakat kalau tahun 2008b diharapkan dapat menjadi momentum bagi pengembangan platform ekonomi kreatif yang berkelanjutan di Kota Bandung.
Top
8 January, 2008 | 1 comment
Kritik Bagi Pelaku Bisnis Pertunjukan di Kota Bandung
Hari ini diawali dengan diskusi pagi tentang etika bisnis yang diterapkan oleh beberapa pelaku bisnis pertunjukan lokal, khususnya sponsor acara dan event organizer (EO). Beberapa teman saya seringkali mengeluh ketika gagasan mereka kerap diadaptasi tanpa adanya kompensasi yang jelas dari pihak sponsor atau organizer. Sebagai informasi, teman-teman saya ini adalah orang gokil yang penuh dengan ide liar dan super kreatif. Mereka ini orang-orang yang sangat terbuka bila diajak berkolaborasi selama itu menyenangkan. Sayangnya, sikap terbuka (saya menolak menyebut ini sebagai sikap yang naif) yang dimiliki oleh para pekerja kreatif ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Modusnya standar: menawarkan kerjasama untuk ikut terlibat dalam suatu acara dan meminta para pekerja kreatif untuk menulis proposal.
Biasanya dengan mudah para pekerja kreatif ini mengembangkan gagasan mereka dengan panjang lebar dalam bentuk proposal program. Biasanya si pelaku bisnis tiba-tiba bisa saja menyatakan bahwa ia tidak jadi menyelenggarakan acara yang telah dibicarakan sebelumnya. Ada satu lagi contoh yang lebih buruk: teman saya yang lain ada yang mengalami proposalnya didiamkan tanpa penjelasan sedikitpun. Selang beberapa waktu, ternyata acara yang dimaksud diwujudkan dan konsep yang sebelumnya telah direncanakan ikut dipakai tanpa pemberitahuan. Sayangnya pada saat realisasi konsep sang penggagas acara tidak dilibatkan dan hasilnya tidak maksimal. Akhirnya yang dikecewakan bukan cuma sang penggagas yang idenya dibajak, tapi juga penonton.
Itu baru satu contoh. Ada satu lagi pengalaman pahit seorang pekerja kreatif. Setelah melakukan brainstorming mengenai konsep sebuah acara selama berhari-hari dan dijanjikan profit sharing untuk keterlibatannya, tiba-tiba si pelaku bisnis menggaet sponsor lain dan bilang pada teman saya bahwa dia tidak bisa diikutsertakan. Pada saat hari H, saya datang ke event yang bersangkutan dan ternyata acara tersebut dikerjakan sesuai dengan konsep teman saya itu. Tapi karena bukan dia yang mengerjakannya, tetap saja ujung-ujungnya mengecewakan.
Bila dihubungkan dengan perbincangan mengenai industri kreatif yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini, penyelenggaraan acara atau festival-festival biasanya bisa menjadi ajang untuk mempromosikan produk tertentu. Selain itu ajang-ajang seperti ini juga biasanya sangat berguna untuk mempromosikan sebuah kota. Tetapi bagaimana penyelenggaraan sebuah acara bisa berkembang dan mencapai target-target yang sering didiskusikan oleh pekerja kreatif, pelaku bisnis, akademisi dan pemerintah?
Para sponsor dan event organizer kelihatannya banyak yang lebih senang mencomot ide dari para pekerja kreatif yang telah memiliki kredibilitas, tetapi kemudian memilih pekerja yang mau dibayar lebih murah. Bila praktik seperti ini dibiarkan, tentu bisa merambat kemana-mana nantinya. Ujung-ujungnya yang rugi adalah para pekerja kreatif dan konsumen. Gagasan untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan bisa cuma jadi mimpi saja.
Apa yang bisa dilakukan oleh para pekerja kreatif? Selain perlu mengembangkan etika bisnis yang sehat, kekompakan para pekerja kreatif diperlukan untuk menghadapi pelaku bisnis yang nakal seperti ini. Para pekerja kreatif bisa mangaplikasikan satu sistem yang seragam saat dealing dengan sponsor atau penyelenggara event. Sebenarnya para pekerja kreatif tidak perlu memberi proposal atau memaparkan secara detail ide-ide dia tentang acara yang hendak dibuat. Cukup menyerahkan portfolio, lalu atas dasar itu dikeluarkan kontrak kerja antara pihak pekerja kreatif dan sponsor/ event organizer. Kemudian, barulah diadakan brainstorming diantara keduanya. Tidak adanya kebijakan atau peraturan yang jelas untuk kasus-kasus yang disebutkan di awal tulisan menuntut para pekerja kreatif untuk kompak melindungi kepentingan mereka. (Dame/ CRNF)
** Ikuti diskusi tentang masalah ini di heterologia.
Top
22 November, 2007 | 2 comments
Strategi Baru Label Rekaman “Membunuh” Artis-Artisnya
Oleh http://wenzrawk.multiply.com/
Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.
Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.
Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label).
Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih “belajar” maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label
Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.
Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.
Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya.
Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.
Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:
- Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.
- Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan “pembusukan”. Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.
- Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita ![]()
- Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It’s a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman!
- Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo’on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari “kuli musikal.”
Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.
Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).
Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya.
Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming “fame & fortune” di industri musik. Padahal belum tentu bakal “booming” juga
Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.
Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself!
Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi “popularitas maksimal dua atau tiga album saja!” Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.
Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band!
Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan “easy come, easy go!”
Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It’s not the end of the world as we know it
Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.
Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.
Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai “label rekaman”. Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya….. dan mereka cukup berhasil! Salute!
Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar!
Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.
Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa.
Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu:
Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.
Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.
Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall
Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.
Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.
Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!
Hope we could make real changes together.
For better, not worst….
Vive le rawk!
** Ikuti diskusi mengenai topik ini di halaman berikut.
Top
12 November, 2007 | 23 comments
Review Launching Buku My Self: Scumbag Beyond Life and Death by Kimung (Minorbooks, 2007)

Akhirnya buku My Self: Scumbag Beyond Life and Death dirilis! Peristiwa penting ini disaksikan oleh para kerabat dekat Ivan Scumbag, gerombolan Ujungberung Rebels/ Homelesss Crew dan para Begundal Burgerkill di Common Room pada tanggal 11 November 2007. Setelah bekerja keras selama kurang lebih satu setengah tahun, Kimung berhasil menyelesaikan buku yang menceritakan kisah hidup Ivan sahabatnya. Sama-sama besar di jalanan Ujungberung, duet maut Kimung-Ivan selama ini dikenal sebagai pendiri yang ikut membesarkan Burgerkill, sebuah band cadas legendaris dari Ujungberung. Kolaborasi mereka berdua sempat terhenti ketika Kimung keluar dari Burgerkill pada tahun 2000.
Persahabatan mereka terus berjalan seiring dengan waktu. Kedua sahabat ini menjalankan hidup mereka bersama-sama sampai akhirnya Ivan meninggal dunia karena sakit parah. Dikelilingi oleh para sahabat dekatnya, Ivan meninggalkan Kimung dan kawanan Ujungberung Rebels/ Homelesss Crew, termasuk kelompok musik Burgerkill pada pertengahan tahun 2006. Melalui buku yang ditulis Kimung, kisah hidup Ivan dicurahkan ke dalam kisah yang begitu intim. Kisah yang begitu dekat dengan keseharian kita. Terutama bagi mereka yang lahir dan besar di pinggiran kota besar, khususnya Ujungberung - Bandung. Ada banyak kisah yang begitu lugu dan jujur, diantara banyak tekanan, konflik dan kegembiraan yang berujung pada kegetiran hidup seorang Ivan.
Dipandu oleh Une sebagai MC, acara peluncuran buku dihadiri oleh ratusan sahabat dekat Kimung dan Ivan. Selain para personil Burgerkill, terlihat para Begundal dan gerombolan Ujungberung Rebels/ Homelesss Crew. Dalam acara tersebut, secara bergantian Kimung, Ojel dan Papap menjelaskan secara panjang lebar proses penulisan buku, mulai dari proses penelitian, penulisan, penyuntingan sampai dengan cetak. Beberapa rekan Ivan dari Ujungberung ikut berbagi cerita mengenai Ivan. Beberapa diantaranya adalah Adi Gembel (Forgotten), para personil Burgerkill, Dadan Ketu, Irvine, Jimbo, dll. Diantara jeda acara, Burgerkill membawakan lagu Tiga Titik Hitam dan Angkuh dalam format akustik. Sore itu semua terasa hampir sempurna. Sayang Ivan sudah tidak ada.
** Berita terkait bisa dibaca di lembar Kampus Pikiran Rakyat. Foto dokumentasi kegiatan bisa dilihat di deniborin.multiply.com dan Heterologia. Review terbaru bisa dibaca di www.deathrockstar.info.
Top
« Next entries Previous entries »











