Archive for Articles
8 May, 2008 | No comments
Common Room Update | Januari 2008

Sejak awal tahun 2008, kegiatan di Common Room bertambah ramai dengan inisiatif dari teman-teman yang datang dari latar belakang yang semakin beragam. Sebelumnya, pada akhir tahun 2007, Common Room ikut memfasilitasi pembentukan Bandung Creative City Forum. Pertemuan pertama yang membicarakan rencana pembentukan forum dirintis pada acara community gathering di Common Room pada tanggal 25 Desember 2007. Selanjutnya working group Bandung Creative City Forum secara resmi dibentuk di Common Room pada tanggal 7 Januari 2008.
Rencananya, forum ini akan mengembangankan program Bandung Creative City dan menginisiasi beberapa kegiatan yang dirangkum dalam acara Helar Festival yang akan diselenggarakan di sepanjang tahun 2008. Beberapa diantaranya adalah kegiatan Nu-Substance Creative Media 2008 (Common Room), Artepolis (Arsitektur ITB), KickFest2008 (KICK), Freedom Jazz Festival 2008 (Jendela Ide), Deathfest 2008 (Ujungberung Rebels), dsb. Informasi mendetail untuk kegiatan ini akan kami update secepatnya.
Salah satu kegiatan yang menarik di awal tahun adalah pameran Capo (NLS) yang diselenggarakan pada tanggal 15 s/d 25 Januari di Galeri LIP Yogyakarta oleh teman-teman dari NoLabelStuff. Pameran ini menampilkan kurang lebih 50 karya custom toys yang dibuat oleh para seniman dan komunitas kreatif di kota Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Selain pameran, kegiatan ini juga dilengkapi dengan diskusi yang dihadiri oleh para mahasiswa. Capo kemudian dipamerkan di kota Semarang pada tanggal 5 – 15 April 2008. Pameran diselenggarakan di Rumah Seni Yaitu dan mendapatkan sambutan yang hangat dari khalayak kota Semarang.
Sementara itu, Common Room juga ikut membantu menyelenggarakan acara bedah buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death (Minor Books, 2007) yang menghadirkan beberapa pembicara seperti dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M. Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung (Penulis buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death). Selain bedah buku dan diskusi, acara ini juga diselingi dengan pertunjukan musik akustik dari kelompok Burgerkill yang diselenggarakan di Selasar Sunaryo Artspace pada tanggal 19 Januari 2008.
Top
19 February, 2008 | 3 comments
Bom Waktu & Konser Maut
Oleh http://wenzrawk.multiply.com
Tragedi konser metal maut di Bandung sebenernya bisa terjadi di mana saja dan kapan saja di Indonesia ini. Setelah sebelumnya konser-konser band mainstream yang menelan korban (Sheila On 7, Padi, Ungu) dan kita sering ”ngejek” karena ternyata yang ”menye-menye” jauh lebih ”membunuh” dibanding yang rock, akhirnya sekarang kejadian juga di musik yang kita senangi.
Sepertinya kita terlalu menganggap remeh dan lupa bahwa sebenarnya malaikat maut juga sudah mengintai konser-konser underground. Banyak ”bom waktu” sudah ditanam di berbagai venue konser seperti ini di seluruh Indonesia. Memang sepertinya tinggal nunggu momentum dan venue yang tepat untuk diledakkan saja.
Sudah menjadi rahasia umum juga kalo sejak puluhan tahun yang lalu organizer konser-konser indie/underground yang melibatkan ratusan atau ribuan penonton rata-rata tidak menganggap serius atau menyiapkan hal-hal di bawah ini:
- Tim medis, ruang medis atau mobil ambulance apabila terjadi insiden seperti ini.
- Akses masuk-keluar venue dan pintu darurat buat penonton yang nggak diperhatikan serius atau diprioritaskan.
- Kapasitas venue yang tidak diindahkan organizer.
- Pembawa acara atau MC setelah konser berakhir tidak memberikan instruksi lewat pengeras suara bagi para penonton yang akan keluar dari venue.
- Tim keamanan (peace patrol) yang jumlahnya memadai, terlatih dan paham apa yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat. Karena sebenarnya tidak perlu mengerahkan banyak polisi juga. Yang terpenting adalah tetap berkoordinasi dengan mereka.
Dan ”bom waktu” itu akhirnya kemarin meledak juga di Bandung. Menelan korban jiwa 10 orang yang rata-rata kehabisan napas dan terinjak-injak. Kebanyakan masih remaja ABG pula. Sangat menyedihkan dan disesalkan pastinya. Tidak seharusnya juga ada orang mati sia-sia setelah nonton konser!
Sebagai penonton konser yang telah membayar tiket mereka tidak berhak mati, mereka malah berhak untuk bersenang-senang!
Kita semua langsung terkaget-kaget dan seperti nggak percaya kalau jenis musik death metal ternyata bisa berdampak secara harfiah seperti ini.
Pihak Enk Ink Enk sebagai organizer menurut gue sebenernya ketiban apes aja. Apes karena ternyata ”bom waktu” itu meledak di konser yang mereka selenggarakan. Padahal selama sekitar 15 tahun ada konser-konser sejenis semuanya seperti berlangsung ”aman-aman saja.”
Gue percaya nggak ada satu pihak pun yang mengharapkan tragedi ini terjadi, termasuk pihak Enk Ink Enk sendiri. Karena mereka pun menyelenggarakan konser ini bukan untuk mengeruk keuntungan besar-besar tapi lebih karena semangat untuk mendukung band-band lokal dan gerakan musik underground itu sendiri.
Berapa sih keuntungan yang di dapat dari penyelenggaraan konser underground dengan harga tiket Rp. 10.000 seperti ini? Hampir tidak ada! Bisa jadi mereka malah merugi terus. Belum lagi jarangnya sponsor komersial yang mau mendukung proyek konser idealis seperti ini.
Lalu kenapa konser-konser seperti ini berlanjut terus?
Karena kita senang dan ingin terus bersenang-senang dengan musik ini tentunya. Senang kalau band-band teman kita yang bagus menjadi maju, lebih dikenal dan memiliki fanbase besar. Senang kalau teman-teman kita yang menggemari musik seperti ini bisa terhibur dan having a good time. Senang kalau kebudayaan ini bisa menjadi alternatif bagi publik untuk terhindar dari keseragaman jenis musik yang bahkan bisa merendahkan martabat sebagai manusia.
Lalu apakah kemudian organizernya bisa kaya? Tidak juga pastinya. Kalau kata dedikasi dianggap terlalu muluk tapi memang seperti itulah keadaan yang sebenarnya. Saya angkat topi setinggi-tingginya untuk organizer-organizer konser ini. Tanpa kerja mereka semua sudah pasti rock show punah dari negeri ini!
Buat orang awam gue yakin bakal susah untuk dimengerti alasannya. Begitu juga buat orangtua, polisi, gubernur, walikota dan birokrat-birokrat uzur lainnya. Selain korupsi mereka memang nggak akan pernah bisa mengerti apa yang anak-anak muda ini lakukan.
Polisi malah hanya bisa menuduh tanpa dasar kalau panitia konser ini ”membagi-bagikan alkohol kepada para penonton.” Tuduhan yang sangat tolol dari aparat kepolisian kita tentunya. Dan setelah otopsi dilakukan ternyata tidak terbukti dan mereka pun kembali belagak bego. Sejak kapan organizer konser bertiket murah bisa menjadi sinterklas?
Tujuannya pasti hanya untuk mendiskreditkan fans musik rock yang selalu distereotipkan akrab dengan alkohol dan narkotika. Mereka lupa atau belagak bego kalau di konser-konser dangdut tak hanya alkohol dan narkotika saja yang beredar, namun juga golok, celurit dan berbagai senjata tajam lainnya
Karena publikasi tentang tragedi ini sudah sangat meluas ke dalam dan luar negeri, bahkan sudah jadi ”insiden internasional” (Blabbermouth, BBC, AOL, Yahoo, MSNBC, Reuters) maka gue prediksi ini yang akan terjadi selanjutnya di scene musik lokal kita nantinya:
- Konser-konser band rock/metal internasional di Indonesia akan kembali mengalami kemunduran. Pihak booking agency artis-artis ini akan sangat cerewet mempertanyakan profesionalisme promotor lokal atau malah sepihak membatalkan kontrak-kontrak show di Indonesia. Alasan gampangnya mereka nggak akan mau menjadi kambing hitam apabila insiden yang sama terulang!
- Para orangtua akan segera melarang anak-anak mereka yang masih ABG untuk datang ke konser-konser musik terlepas apapun itu jenis musiknya. Mereka sudah melihat mimpi buruknya langsung via televisi!
- Kepolisian akan melarang atau sangat memperketat keluarnya izin penyelenggaraan konser musik (khususnya rock/metal).
- Pemerintah daerah akan mengeluarkan seribu satu macam alasan untuk melarang penggunaan venue publik bagi aktivitas anak muda yang berhubungan dengan musik rock.
- Sponsor-sponsor komersial akan menarik dukungannya bagi penyelenggaraan konser musik rock karena takut terkena imbasnya apabila terjadi insiden serupa.
- Banyak EO/promotor rock yang gulung tikar dan berubah menjadi promotor dugem karena lebih menguntungkan dan indah secara visual
- Band-band rock indie/underground akan kesulitan mencari panggung.
- Dan akhirnya scene musik rock lokal pun mati dengan sendirinya haha..
Tapi tenang saja….
Negara ini sudah sangat terkenal karena hangat-hangat tahi ayamnya. Ketika tanah makam para 10 korban ini belum mengering dijamin semua pihak di atas juga akan cepat lupa dengan tragedi ini. Semua larangan akan dilanggar dan semua upaya antisipasi tidak akan dipedulikan lagi. Semua akan kembali berjalan ”normal” seperti sedia kala nantinya.
Yah, minimal sampai ”bom waktu” yang lebih besar lagi meledak dan rekor korban jiwa terpecahkan nantinya. Bukankah 10 korban tewas di konser Ungu di Pekalongan hanya berselang 1 tahun saja dengan tragedi Bandung ini?
10? 20? 30? 100? 200 orang mati di konser rock? Bukan tidak mungkin.
Ini Indonesia, bung!
++++++++++++++++++
Kalau ini Amerika Serikat maka ini hak para penonton konser di sana:
- Hak untuk menikmati konser dalam lingkungan yang aman.
- Hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari panitia, keamanan dan performers terlepas dari apapun yang berhubungan dengan SARA.
- Hak untuk mendapatkan informasi tentang kewajiban-kewajiban bagi pemegang tiket dan menaati segala peraturan yang berlaku di venue.
Jika Anda sepakat ini bukan Indonesia maka seharusnya kita melakukan hal-hal dibawah ini di masa depan:
Event Organizer/Promoter
- Menyediakan tim medis, ruang medis dan mobil ambulance.
- Tidak menjual tiket melebihi kapasitas venue (80% terisi, 20% kosongkan).
- Menginformasikan tata letak venue dan letak pintu darurat di tiket.
- Menginformasikan peraturan selama konser berlangsung di tiket.
- Menginformasikan kepada penonton etiket di mosh-pit sebelum atau selama konser berlangsung.
- Menginformasikan bahaya aksi stage-diving atau crowd surfing.
- Menyediakan tim keamanan konser yang memadai, terlatih dan berpengalaman.
- Memperhatikan ventilasi dan sirkulasi udara yang baik bagi penonton.
- Suka atau tidak suka, menjalin koordinasi dengan polisi atau aparat keamanan selama dan setelah konser berlangsung.
- Apapun yang terjadi di luar venue jangan membuka pintu masuk jika venue sudah 80% terisi. Hormati pembeli tiket, jangan hormati para penonton jebolan!
Performers
- Menginformasikan kepada penonton etiket di mosh-pit sebelum atau selama konser berlangsung.
- Menginformasikan bahaya aksi stage-diving atau crowd surfing.
- Segera memberhentikan konser jika terjadi keributan atau kerusuhan di mosh pit.
- Menciptakan kondisi yang kondusif selama konser berlangsung.
- Melalui website-website band lakukan edukasi bagi para fans yang akan datang ke konser Anda.
Audience
- Membeli tiket.
- Jangan lupa membawa identitas diri (KTP, KTM) jika pergi ke konser.
- Jangan lupa makan dan minum secukupnya sebelum ke konser (apalagi jika konser di outdoor).
- Taati peraturan yang berlaku selama konser berlangsung. Semuanya dibuat dengan alasan dan tujuan yang jelas: Demi konser yang aman dan nyaman.
- Jika mengonsumsi alkohol sebelum ke konser pastikan takaran yang bijaksana
Banyak silly things bisa terjadi jika kita mabuk di konser. - Paham bahaya dan konsekuensi jika terjadi kegagalan melakukan moshing, stage diving atau crowd surfing.
- Segeralah menolong jika ada siapapun terjatuh di mosh pit.
- Hindari penggunaan aksesoris yang dapat melukai orang di mosh-pit.
- Kenakan earplug (jika ada).
- Jangan ikut-ikutan berkomplot untuk menjebol pintu masuk. Tolol!
- Untuk apa nongkrong di depan pintu masuk? Pastikan tujuan datang ke konser hanya untuk menikmati konser. Nongkronglah di kakus atau tempat nongkrong yang semestinya
Top
22 January, 2008 | 1 comment
Review Acara Bedah Buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death | Selasar Sunaryo Artspace | 19 Januari 2008

Setelah tertunda selama kurang lebih satu bulan, akhirnya acara bedah buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ jadi diselenggarakan di Selasar Sunaryo Artspace pada tanggal 19 Januari 2008. Sesuai rencana semula, acara ini menghadirkan beberapa pembicara dari berbagai kalangan, yang terdiri dari dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung (Penulis buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death). Selain itu, acara ini juga menampilkan pertunjukan musik akustik dari Burgerkill yang malam itu memainkan musik mereka dalam format akustik.
Diantara para penggemar mereka, Burgerkill dikenal sebagai band cadas asal Ujungberung yang didirikan oleh Eben, Kimung, Ivan Scumbag (alm.) dan Toto pada tahun 1995. Sementara itu, buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ merupakan biografi kehidupan Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill yang meninggal karena penyakit radang selaput otak pada tahun 2006. Saat ini posisi Ivan digantikan oleh Vicki yang sebelumnya pernah bergabung dengan Balcony dan Heaven Fall. Selain dihadiri oleh kerabat dan teman-teman dekat Ivan, acara ini juga dihadiri oleh ratusan Begundal/ BHC yang merupakan fans setia dari kelompok Burgerkill. Dimulai pada pukul 19.30, acara dibuka oleh Burgerkill yang membawakan lagu Angkuh (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) yang berhasil menghangatkan suasana malam yang cerah di amphitheater Selasar Sunaryo Artspace.
Acara dilanjutkan dengan paparan dari dr. Teddy Hidayat yang memberikan pandangan tentang kondisi psikologis Ivan berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari buku yang ditulis oleh Kimung. Dokter Teddy menjelaskan secara panjang lebar bagaimana selama mengembangkan karirnya sebagai musisi, Ivan mengalami tekanan batin yang sangat mendalam. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kimung yang merupakan sahabat dekat dari Ivan Scumbag. Seperti yang diungkapkan oleh Kimung dan Dokter Teddy, tekanan psikologis yang dialami oleh Ivan terutama karena pertentangan nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga dengan situasi lingkungan yang beresiko tinggi dalam penggunaan obat-obatan dan zat psikotropika, seperti misalnya kebiasaan dalam mengkonsumsi alkohol, putaw, ganja, dsb. (NAPZA).
Lebih jauh Dokter Teddy memaparkan bahwa masalah seperti ini memang lazim terjadi dalam dunia remaja. Hal ini setidaknya membuat dunia anak muda menjadi rentan bagi penyebaran penyakit HIV/AIDS, yang biasanya juga tersebar melalui penggunaan jarum suntik. Oleh karena itu, persoalan seperti ini harus ditangani secara hati-hati. Idealnya persoalan semacam ini tidak dilihat sebagai persoalan kriminal, tetapi harus dilihat sebagai persoalan masyarakat yang bisa ditangani secara medis. Salah satu solusi yang barangkali dapat dilakukan untuk mengantisipasi resiko penggunaan NAPZA di kalangan anak muda adalah dengan menyalurkan bakat dan kreatifitas yang mereka miliki. Hal ini setidaknya juga tercermin dari apa yang terjadi pada diri Ivan. Ketika masih hidup, Ivan menyalurkan berbagai kegelisahan yang ia alami melalui karya-karyanya bersama Burgerkill. Kembali menurut Dokter Teddy, adalah tugas bagi para orang tua dan guru untuk menemukan bakat anak muda sehingga mereka dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan terhindar dari resiko penggunaan NAPZA dan terjangkit HIV/AIDS.

Sebelum melanjutkan diskusi, Burgerkill kembali tampil dengan mempersembahkan lagu We Will Bleed (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) dan Something in the Way milik Nirvana yang telah diaransemen ulang. Setelah itu Drs. Reiza D. Dienaputra melanjutkan diskusi dengan menyoroti persoalan sejarah kecil (micro narratives) yang berhasil diungkap secara panjang lebar melalui buku ini. Saat ini, perbincangan mengenai sejarah kecil menjadi semakin relevan karena sejarah kemudian dilihat sebagai sumber pengetahuan yang secara langsung dapat merefleksikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini jauh berbeda dengan persoalan sejarah besar (grand narratives) yang biasanya membicarakan persoalan-persoalan yang berjarak dengan kenyataan hidup masyarakat kebanyakan. Dalam buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death, Drs. Reiza D. Dienaputra mendapati berbagai persoalan keseharian yang begitu intim, namun penuh dengan persoalan kemanusiaan, lengkap dengan berbagai kekonyolan dan tragedi yang menyertai kehidupan Ivan dan para sahabatnya di Ujungberung.
Dalam diskusi ini Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto menyoroti wacana perlawanan yang selama ini kerap didengungkan oleh komunitas underground. Sebagai sebuah kritik, wacana perlawanan terhadap kapitalisme global bisa jadi merupakan persoalan yang absurd karena bagaimanapun paham kapitalisme juga dianggap telah berhasil menyulap semangat perlawanan menjadi komoditas. Disadari atau tidak, bagaimanapun harus diakui kalau berbagai ekspresi musik dan tanda-tanda yang terkait dengan ideologi perlawanan di Indonesia bisa jadi hanya sekedar imitasi yang memiliki konteks tersendiri dan dipahami secara berbeda dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Oleh karena itu, Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto lebih melihat berbagai ekspresi yang diungkap oleh komunitas underground sebagai sebuah fenomena keragaman pandangan politik pribadi dan ekspresi artistik yang juga layak untuk terus diapresiasi keberadaannya.
Selepas diskusi, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Alex yang secara khusus didedikasikan untuk Ivan. Selanjutnya acara ditutup dengan doa bersama yang dipersembahkan untuk mendiang Ivan Scumbag. Semua pihak sepakat bahwa walaupun Ivan sudah meninggal, sebagai sebuah spirit semangatnya masih tetap ada. Untuk itu, Kimung sangat berharap kalau apa yang telah dibangun oleh Ivan dapat terus dikembangkan oleh mereka yang banyak terlibat dalam perkembangan musik underground di Indonesia. Sebagai penutup, Burgerkill kembali tampil membawakan lagu Tiga Titik Hitam (Berkarat, Sony Music, 2003), yang dibawakan bersama-sama dengan Andi Fadly. Sebelumnya Fadly sempat menceritakan sedikit pengalamannya ketika berkolaborasi dengan Ivan dalam lagu Tiga Titik Hitam. Acara ini merupakan bagian dari kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia yang diselenggarakan bersama oleh Minor Books, Common Room Networks Foundation, Rumah Cemara, Selasar Sunaryo Artspace dan Ujungberung Rebels. (Gustaff/CRNF)
Top
21 January, 2008 | No comments
Capo Exhibition | Galeri LIP Yogyakarta | 15 – 25 November 2008

Setelah dipamerkan di Common Room pada tanggal 2 November 2007, NLS/AEWORX bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, LIP Yogyakarta dan IVAA kembali memamerkan Capo di Galeri LIP Yogyakarta mulai tanggal 15 s/d 25 Januari 2008. Kali ini koleksi Capo yang dipamerkan bertambah menjadi 64 buah, yang terdiri dari 49 karya Capo dari seri pameran pertama, 11 Capo karya para peserta workshop yang diselenggarakan di Common Room pada tanggal 18 November 2007, dan Capo tambahan karya 4 seniman Yogyakarta; yaitu Arie Dyanto, Roli aka LoveHateLove, Pras aka Pixeliips-YORC dan Riono a.k.a Tatsoy.
Beberapa saat sebelum pameran dibuka, panitia pameran di Yogyakarta menyelenggarakan diskusi mengenai Capo dan custom toy yang dihadiri oleh para mahasiswa desain produk tk. 2, Universitas Kristen Duta Wacana. Dalam kesempatan ini, Aji, Dini dan Ryoichi dari NLS/AEWORX memberikan penjelasan panjang lebar mengenai proses pembuatan Capo. Beberapa hal yang dibicarakan di dalam diskusi ini antara lain adalah proses brain storming, pembuatan sketsa, membentuk model dan prototype, sampai pada proses produksi yang dilakukan dalam jumlah yang terbatas.
Menurut Aji, secara keseluruhan proses pembuatan Capo yang dibuat dari bahan resin ini memakan waktu selama kurang lebih 1 tahun lebih. Setelah itu, masing-masing peserta pameran membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk memodifikasi Capo sesuai dengan keinginan mereka. Untuk kegiatan ini, NLS/AEWORX melibatkan peserta pameran yang memiliki latar belakang yang beragam. Sebagian diantaranya adalah seniman, desainer, musisi, mahasiswa dan pelajar SD dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.
Kembali menurut Aji, kendala yang paling besar pada saat memproduksi Capo adalah menemukan bentuk dan bahan yang paling cocok dengan karakter Capo. Dalam diskusi ini juga diungkapkan kalau seri Capo yang dipamerkan sebetulnya masih dalam proses uji coba. Sebagai sebuah prototype, Capo seri ini masih memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan lebih jauh. Hal ini misalkan tercermin dari beraneka ragam desain Capo yang dihasilkan oleh para peserta pameran, sehingga sebagai sebuah custom toy, Capo juga dinilai telah berhasil merangsang kreatifitas yang mencerminkan keragaman ekspresi para pembuatnya, baik dari sisi teknis maupun bentukan ekspresi yang ada.
Beberapa peserta pameran sepertinya memanfaatkan Capo sebagai wahana untuk mengekspresikan identitas pribadi, sementara ada juga beberapa peserta yang mencurahkan pandangan personal yang terkait dengan berbagai persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Lewat karya mereka, para peserta pameran memang diperkenankan untuk melakukan berbagai bentuk ekplorasi artistik dalam memodifikasi Capo, sesuai dengan aspirasi personal dan pendekatan teknis yang mereka kuasai. Melalui proyek mereka dapat dikatakan NLS/AEWORX telah berhasil memberikan warna bagi perkembangan custom toy di Indonesia.
* Bagi teman-teman yang tertarik untuk menyaksikan pameran Capo di Yogyakarta silahkan mengunjungi LIP Yogyakarta di Jalan Sagan No. 3. Pameran akan berlangsung sampai tanggal 25 Januari 2008.
Top
13 January, 2008 | 3 comments
Ujungberung Update: …never let your friend fighting alone!

Sore itu akhir tahun 1996. Sore yang cerah. Selesai latihan band di Studio Palapa saya langsung nongkrong dipinggir jalan. Ada Yayat Jasad, Iyang Bangke, Dinan, Ameng, Andris, Bebi, Ivan Scumbag dan beberapa teman yang lainnya. Lagi asik ngobrol ngalor ngidul, sebuah angkot berhenti tepat di depan kami. Andri Kadal turun bersama seseorang yang tidak kami kenal. Menyapa kami semua lalu ikutan nongkrong. Berbagi miras dan rokok. Temannya hanya diam memperhatikan kami. Hanya merokok sambil sesekali tersenyum ketika diantara kami saling melemparkan banyolan.
“Oh enya sori…kenalkeun ieu babaturan urang di komplek”, Andri Kadal baru tersadar saking mabuknya. Teman Andri Kadal bangkit dari jongkok lalu dia menyalami kami satu persatu. “Mbie!”, tangan kanannya erat menjabat tangan saya. Sekilas saya melihat tato motif tribal dipergelangan tangannya. Mirip tato Max Cavalera vokalis Sepultura. Setelah itu dia jongkok di pinggir saya. “Rokok ‘a ?”, Mbie menawari saya rokok. Menyodorkan bungkus garfitnya yang tinggal satu batang. “Oh nuhun, aya!”, jawab saya sambil mengacungkan rokok yang masih menyala. Setelah itu dia kembali terdiam. Asik memperhatikan kami yang tertawa-tawa membahas berbagai hal. Hingga malam menjelang dan jumlah botol kosong di depan kami makin bertambah banyak.
Itulah awal saya kenal dengan Mbie. Seorang remaja tanggung dengan dandanan lusuh. Dia mengaku baru saja kabur dari sebuah pesantren di jawa timur. Berbekal baju yang melekat dibadan dan beberapa lembar rupiah disaku celananya dia memutuskan untuk cabut dari rumah. Atas jasa baik Yayat Jasad akhirnya Mbie ditampung di studio Palapa. Dari situlah awal Mbie tertarik dengan gitar. Oleh Yayat Jasad Mbie diajari beberapa tehnik dasar bermain gitar metal. Istilahnya grip gantung. Mbie juga serius belajar tentang teknik sound gitar.
Pada saat itu hampir semua band Ujungberung memakai jasa Mbie sebagai teknisi gitar. Disamping sebagai mata pencaharian menjadi teknisi gitar adalah ajang mencari ilmu. Tak segan Mbie menghabiskan waktu berhari-hari di rumah Ferli Jasad atau Toteng Forgotten. Dengan tekun Mbie mempelajari setiap tehnik baru yang didapatkan dari mereka. Sementara usaha sampingannya yang lain adalah berjualan merchandise dan produk rekaman band Ujungberung. Bersama saya Mbie kerap menghabiskan waktu berkeliling ke setiap tongkrongan di Bandung. Berdagang t-shirt, kaset, fanzine dan foto-foto band. Hingga malam menjelang dan kami kembali terdampar dijalan berbagi selimut kain spanduk.
Tahun 1998 akhirnya Mbie berhasil membuat band. Personilnya adalah Andi (vokal), Awan (gitar), Mbie (gitar), Rusli (drum) dan Dase (bass). Band pertama Mbie adalah Impure. Band death metal yang banyak terinspirasi dari Napalm Death, Malevolent Creation dan Suffocation. Bersama Impure Mbie banyak menimba pengalaman manggung. Suka duka bermain band kami lewati dengan sepenuh hati. Dalam keseharian itu saya makin kenal dengan sosok Mbie. Mbie yang sangat obsesif dan selalu mempunyai semangat yang menyala-nyala. Disisi lain Mbie adalah sosok yang sangat setia kawan dan mengerti betul makna dan arti sebuah pertemanan. Namun karir bermain band Mbie bersama Impure hanya berjalan beberapa tahun.
Selepas membubarkan band-nya, Mbie bergabung bersama Jeruji. Posisinya sebagai gitaris mendampingi Useng. Hingga akhirnya posisi Mbie beralih menjadi basist selepas Jeruji ditinggal basistnya. Bersama Jeruji, Mbie makin malang melintang di dunia musik underground. Bagi komunitas Ujungberung Rebels, Mbie adalah salah satu aset yang berharga. Atas jasa Mbie pagelaran Bandung Berisik 3 dapat digelar dengan sukses. Begitu juga dengan semua kegiatan dan rencana kerja Ujungberung rebels. Mbie selalu ikut serta dan memberikan kontribusi yang sangat besar. Pengaruh Mbie pada musikalitas Jeruji juga membawa dampak yang besar. Pasca Mbie masuk komposisi lagu-lagu Jeruji makin bertambah sangar. Bisa disimak pada album “Jeruji” dimana hampir semua komposisi lagu yang terdapat dalam album tersebut adalah garapan Mbie. Boleh dibilang pada album tersebut adalah idealisme-nya Mbie.
Keputusan Mbie masuk Jeruji sama mengagetkannya ketika dia memutuskan untuk keluar dari Jeruji. Semua orang berpendapat Mbie hengkang dari Jeruji dikarenakan kesibukan dia mengurus lahan bisnisnya. Ada juga yang menyatakan bahwa dia terlibat konflik dengan Themfuck dan personil lainnya. Saya melihatnya berbeda. Semua terlepas dari semua hal itu. Nampaknya Mbie sedang mempersiapkan sesuatu yang besar yang berhubungan dengan karir bermusiknya. Sama halnya ketika dia memutuskan untuk membubarkan band-nya dan masuk Jeruji yang secara teknis sangat jauh berbeda karakter dengan band Impure. Pribadi Mbie memang selalu penuh dengan kejutan.
Namun semua rencana besarnya harus tertunda ditengah jalan. Tanggal 1 Desember 2007, pukul 1 malam, Mbie ditemukan terkapar disekitar pelataran pinggir jalan Merdeka dalam kondisi mengenaskan. Kepalanya terluka parah hingga membuatnya koma selama hampir tiga minggu diruangan ICU. Pasca operasi besar dikepala untuk mengangkat serpihan tulang tengkoraknya, Mbie mengalami trauma hebat dikepalanya. Memori dalam otak Mbie terganggu sehingga mempengaruhi kinerja sensor motorik yang berhubungan dengan kordinasi gerakan anggota badannya.
Namun Mbie pantang menyerah. Seperti juga Indah istrinya yang selalu setia mendampingi Mbie. Seperti apapun kondisi Mbie dengan sabar Indah memberi motivasi dan harapan. Indah sangat mengerti dengan semua cita-cita Mbie. Indah juga sangat mengerti tentang makna pengorbanan dan kesetiaan. Seperti juga Mbie yang tidak pernah mengecewakan teman-temannya. Mbie yang selalu ada ketika kita membutuhkan pertolongan. Mbie yang rela berkorban demi semua impian dan harapan teman-temannya.
Kita semua mengenal Mbie dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kita juga telah sama-sama mengerti tentang makna kesetiaan dan pengorbanan. Pemulihan Mbie pasca operasi membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk untuk berbagi dan memberi. Sebagai “teman”…jangan biarkan Mbie berjuang sendirian! (Addy Gembel)
** Bagi teman-teman yang ingin ikut menyumbang untuk proses penyembuhan Mbie, silahkan mengirimkan bantuan ke nomer rekening BCA No. 3461732745, atas sama Indah P.D.
Top
« Next entries Previous entries »











