<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Articles</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/cat/articles/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 18:54:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kondisi Ekologi Bandung Penuh Paradoks &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 09:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Salah satu kegiatan penting dalam Expert Meeting kali ini yaitu site visit (studi observasi) untuk meninjau secara langsung kondisi ekologis di Kota Bandung pada Kamis (22/7). Program site visit kali ini ditujukan untuk melihat kondisi penambangan kapur di daerah Citatah, Padalarang sekaligus meninjau situs purbakala Gua Pawon yang dipandu oleh Budi Brahmantyo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4392.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Salah satu kegiatan penting dalam Expert Meeting kali ini yaitu site visit (studi observasi) untuk meninjau secara langsung kondisi ekologis di Kota Bandung pada Kamis (22/7). Program site visit kali ini ditujukan untuk melihat kondisi penambangan kapur di daerah Citatah, Padalarang sekaligus meninjau situs purbakala Gua Pawon yang dipandu oleh Budi Brahmantyo dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Selain meninjau daerah Bandung Barat, kegiatan site visit juga mengeksplorasi wilayah Bandung Utara untuk melihat dari dekat fenomena eksploitasi lingkungan dalam bentuk pembangunan perumahan dan villa yang merusak kualitas lingkungan sekitar daerah tersebut.</p>
<p>Site visit kali ini juga merupakan bagian dari program kajian environmental sustainability (lingkungan berkelanjutan) dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Setahun sebelumnya Nu-Substance Festival meninjau kondisi ruang perkampungan padat yang terletak di jantung kawasan urban kota Bandung, yaitu lingkungan Kampung Babakan Asih. Gambaran yang mengkhawatirkan ketika secara langsung mengunjungi wilayah Citatah yang terletak di daerah Padalarang adalah kegiatan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam yang sekaligus mengancam warisan situs purbakala yang letaknya berdampingan dengan wilayah penambangan batu kapur.</p>
<p><span id="more-1369"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4356.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Dalam kunjungan kali ini bukan hanya eksploitasi terhadap sumber daya alam saja yang terungkap, tetapi juga kondisi para pekerja yang dibayar dengan harga yang sangat murah di tengah lingkungan kerja yang sangat buruk. Para peserta Expert Meeting sempat bertemu dan mewawancarai dua pekerja kasar yang usianya di atas 60 tahun. Keduanya hanya dibayar Rp. 10.000,- sehari untuk 100 karung kapur yang berhasil mereka kumpulkan setiap hari. Kebanyakan para pekerja yang ada juga diharuskan bekerja layaknya orang kantoran dari pagi hingga petang.</p>
<p>Eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlebihan tampaknya merupakan cerminan dari lemahnya kebijakan dalam mewujudkan pola relasi yang ideal antara pemerintah, pengusaha, pekerja, dan alam itu sendiri. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai persoalan lingkungan semisal polusi udara, krisis air bersih, hingga ancaman penyakit pernafasan. Belum munculnya kesadaran yang baik pada sebagian masyarakat kita menjadi persoalan tersendiri untuk mewujudkan gagasan mengenai lingkungan yang berkelanjutan.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4371.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Setelah melihat kondisi penambangan kapur, peserta diajak untuk melihat situs Purbakala di Gua Pawon yang letaknya tak jauh dari lokasi penambangan kapur. Sungguh ironis bagaimana situs purbakala yang semestinya dilestarikan saat ini kondisinya tengah terancam akibat adanya eksploitasi penambangan kapur yang dilakukan secara membabi buta.</p>
<p>Menginjak sore hari peserta diajak untuk meninjau kondisi lingkungan di wilayah Bandung Utara. Selama ini wilayah tersebut dikenal sebagai wilayah respirasi (resapan) air di Kota Bandung. Namun sedikit demi sedikit wilayah ini terancam dengan kehadiran rumah-rumah dan villa-villa yang menggerus kondisi lingkungan di wilayah tersebut. Hal ini dapat dikatakan telah menjadi salah satu penyebab krisis air bersih di kota Bandung. Kota Bandung dikenal sebagai wilayah yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga seringkali mengakibatkan surplus air atau banjir di beberapa wilayah. Paradoksnya, saat ini beberapa wilayah di kota Bandung juga tengah mengalami krisis air bersih atau defisit air.</p>
<p>Selanjutnya peserta juga diajak menuju kawasan Gunung Tangkuban Parahu. Saat ini kawasan Gunung Tangkuban Parahu tengah menghadapi upaya komersialisasi dan privatisasi. Hal ini menjadi persoalan tersendiri dan mengancam aspek pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan ketika kawasan yang semula dikenal sebagai hutan lindung berubah fungsi menjadi kawasan komersial yang hanya menguntungkan kelompok tertentu saja.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelombang dalam Ruang Kebersamaan &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 12:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1353</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut Expert Meeting hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang Mauj [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4135.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut <em>Expert Meeting</em> hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang Mauj Media Collective, Atteqa bercerita  sedikit mengenai kondisi di Pakistan. Bagaimana huru-hara yang terjadi di Pakistan belakangan ini, sedikit banyak memang mempengaruhi kebiasaan, dan kultur keseharian mereka. Termasuk pada perilaku berorganisasi Mauj itu sendiri.</p>
<p>Mauj sendiri memilik dua arti. Arti yang pertama adalah gelombang (wave). Seperti gelombang yang tidak ada artinya tanpa keberadaan laut, begitu juga dengan seseorang yang menjadi kecil/lemah jika  sendirian, namun menjadi kuat bila bergabung dengan yang lain. Prinsip itulah yang menjadi pegangan Mauj dalam berorganisasi. Arti yang kedua adalah &#8216;to have fun&#8217;, dimana  Mauj menjadi wadah bagi tiap orang untuk berekspresi, termasuk dalam pembuatan film, video, digital art, kartun, dll.</p>
<p><span id="more-1353"></span></p>
<p>Ada yang menarik dari strategi Mauj dalam melakukan aktifitas mereka. Dalam mengumpulkan publik, termasuk media, mereka hanya mengirimkan informasi singkat lewat sms, yang berisi mengenai keterangan tempat dan waktu berkumpul. Di waktu yang telah ditentukan, aksi pun digelar, dan tepat sejam kemudian, aksi berakhir. Semua berjalan dengan cepat dan efisien.</p>
<p>Begitu pun dalam pengadaan suatu acara. Kondisi birokrasi yang rumit, menjadikan Mauj membuat alternatif lain untuk menyebarluaskan acara-acaranya. Salah satunya adalah melalui media internet. Seringkali, acara yang dilangsungkan hanya mengundang segelitir orang saja, namun suasana dan kegiatan acara direkam, lalu disebarkan melalui internet agar masyarakat luas dapat mengaksesnya juga.</p>
<p>Ternyata, tidak hanya urusan birokrasi yang mirip dengan Indonesia, di ranah politik pun terdapat kemiripan, yaitu kaum pebisnis yang memasuki dunia politik. Alhasil, bidang perekonomian selalu mendapat perhatian utama dan khusus dalam kenegaraan. Namun, sama halnya dengan di Indonesia, kekuatan masyarakat terus menyala. Komunitas-komunitas kecil akan selalu ada untuk mengkritisi hal-hal sosial, dan melakukan aksi untuk memperbaiki diri dan lingkungan. Semangat inilah yang membuat komunitas dan kelompok kecil selalu ada untuk memperbaiki kondisi di sekitarnya.</p>
<p>Hal inilah yang dilakukan oleh Common Room di Bandung. Berdiri 2003 (sebelumnya adalah Bandung Centre for New Media Art, 2001), hingga kini Common Room intens untuk melakukan kegiatan sosial, penyebaran ilmu pengetahuan, maupun pemetaan komunitas, dimana teknologi menjadi alat untuk menyebarkan pengetahuan.</p>
<p>Di Bandung sendiri telah terjadi degradasi kualitas lingkungan kota. Jika dulu Bandung dikenal sebagai kota dengan suasana yang nyaman, aman, dan segar, tidak demikian dengan sekarang. Struktur kota yang semrawut, minimnya sarana dan prasarana, seperti menunjukkan sosok yang tidak siap mengalami perubahan yang begitu cepat. Semua diserap, tanpa adanya penyaringan. Berlandaskan hal itulah, Common Room melandaskan gerakannya pada aktivitas di seputar seni, budaya, dan pemanfaatan ICT/Media, sebagai dasar untuk mengupayakan perubahan sosial, menghimpun kekuatan masyarakat, dan kegiatan penelitian untuk mendorong terjadinya mekanisme produksi informasi dan pengetahuan.</p>
<p>Untuk mendorong perubahan sosial di lingkungan sekitarnya, pada tahun 2008 Common Room pun ikut memfasilitasi kegiatan komunitas warga Babakan Asih yang aktif melakukan perbaikan kualitas lingkungan mereka sejak beberapa sejak kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Daerah Babakan Asih yang sebelumnya kerap terkena musibah banjir tahunan, saat ini telah berhasil membuat sistem sumur penampungan yang mampu mengalihkan air hujan dengan cepat. Banjir yang biasa berminggu-minggu terjadi di sekitar lingkungan mereka, saat ini hanya membutuhkan waktu maksimal 30 menit untuk surut.</p>
<p>Tidak hanya itu, bekerja sama dengan Solidaritas Independen Bandung (SIB), Common Room melakukan aksi penanaman pohon di sekitar Gunung Manglayang, Ujungberung, sebagai bentuk kepedulian akan krisis air yang terjadi di daerah Ujungberung. Kegiatan ini rencananya akan diulang kembali pada akhir Agustus depan.</p>
<p>Belajar dari dua organisasi tersebut, terdapat kemiripan walau berbeda Negara dan Bahasa. Mereka sama-sama menyuarakan aspirasi publik dan bergerak untuk kebaikan bersama. Persoalan apapun yang dihadapi, akan terlewati jika kebersamaan yang dipegang.</p>
<p>Rumah Serat dari Jogja</p>
<p>Sesi kedua dilakukan setelah sesi makan siang yang santai dan hangat. Selesai makan, Venzha dari House of Natural Fiber (HONF – <a href="http://www.natural-fiber.com" rel="nofollow">http://www.natural-fiber.com</a>), mulai mempresentasikan mengenai HONF dan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.</p>
<p>Dengan logat Jawa yang kental dan khas, serta pembawaannya yang santai, presentasi berjalan alon, asal kelakon. HONF sendiri berdiri tahun 1999, dengan semangat berkarya bagi pengembangan diri para personilnya. Namun dalam perjalanannya, HONF banyak berkolaborasi dengan berbagai pihak. Berbeda dengan Common Room, HONF sering bekerja sama dengan akademisi, khususnya UGM. Salah satu yang pernah dikerjakannya adalah mencari solusi untuk kasus Congek yang pernah terjadi pasca Gempa, di tahun 2005 yang lalu. Dalam project ini, HONF menggabungkan antara DNA dengan karya seni.</p>
<p>Nama HONF sendiri diambil dari semangat berkolaborasi dan membentuk jejaring seluas-luasnya. Itulah yang menyebabkan Venzha memilih Fiber untuk mewakilkan semangat kebersamaan tersebut. Hingga kini, HONF memiliki 7 pegawai tetap, dan puluhan relawan untuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan tahunan, seperti Yogyakarta International Media Art Festival dan Yogyakarta International Videowork Festival.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi Tentang Informasi, Komunikasi, dan Teknologi&#124; Oleh Zulfikar</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 08:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel
Sekitar pukul delapan para peserta Expert Meeting sudah hadir di ruang Auditorium CCF Bandung dan mempersiapkan presentasi yang akan dilaksanakan pada Selasa (20/7) malam. Ruang Auditorium CCF pun sudah mulai didatangi oleh para partisipan. Obrolan santai mengalir sembari menikmati suguhan kantin CCF sampai sekitar pukul delapan, Gustaff membuka presentasi dan memperkenalkan ketiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4040.jpg" border="0" alt="public presentation 2" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Sekitar pukul delapan para peserta Expert Meeting sudah hadir di ruang Auditorium CCF Bandung dan mempersiapkan presentasi yang akan dilaksanakan pada Selasa (20/7) malam. Ruang Auditorium CCF pun sudah mulai didatangi oleh para partisipan. Obrolan santai mengalir sembari menikmati suguhan kantin CCF sampai sekitar pukul delapan, Gustaff membuka presentasi dan memperkenalkan ketiga peserta yang akan mempresentasikan proyeknya yaitu Arthit Suriyawongkul, Catherine Candano, dan Victoria Sinclair.</p>
<p>Arthit mempresentasikan kegiatannya yaitu Mekong ICT. Sebuah program kolaborasi melalui informasi, komunikasi, dan teknologi antara wilayah Sungai Mekong yang meliputi Burma, Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam. Individu yang menjadi sasaran dari kegiatan ini adalah para <em>hackers</em> (memiliki semangat berteknologi dan kreatif), jurnalis, dan pekerja sosial. Dengan berkolaborasi dan saling berbagi diharapkan dapat memunculkan banyak solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi. Dengan berjaringan di Mekong ICT, maka warga wilayah Sungai Mekong dapat mencari tahu segala sesuatu melalui Mekong ICT. Hal ini digambarkan dengan suatu tokoh yang berkata: “I know why but I don’t know what and how. But I know who knows it, I’ll ask him/her.” Kemudian apapun yang ia cari dapat mudah didapatkannya.</p>
<p><span id="more-1334"></span></p>
<p>Presentasi kedua yang diberikan oleh Cathy menerangkan tentang bagaimana perubahan iklim mengubah media. Salah satu yang berubah dari materi menurut Cathy adalah dengan menggunakan media sebagai propaganda permasalahan perubahan iklim. Tiga media utama menurutnya adalah televisi, radio, dan koran/majalah. Ketiga media ini harus dimanfaatkan untuk mencerdaskan masyarakat. Karena ternyata menurut Cathy, masyarakat umumnya telah tahu adanya perubahan iklim, namun mereka tidak mengerti bagaimana hal tersebut berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari dan apa yang sebaiknya dilakukan. Di sinilah peran media menjadi  penyambung <em>knowledge gap</em> tersebut kepada masyarakat. Salah satu contoh yang diberikan oleh Cathy adalah South East Asian Youth Environmental Network yang membuat blog, video, dan media lainnya untuk mengkampanyekan kegiatan yang dapat dilaksanakan untuk mengantisipasi perubahan iklim.</p>
<p>Presentasi terakhir dengan pembicara Vicky menerangkan tentang ARCSpace yaitu suatu forum <em>Glocal </em>(global&amp;local) <em>hub</em> tempat berkumpulnya orang-orang yang <em>Autonomous, Reflective, Creative </em>(ARC). Mirip dengan Mekong ICT, program ini dianalogikan oleh Vicky sebagai <em>melting pot for ideas</em>. Di sini partisipan program dapat saling berbagi mengenai masalah yang mereka hadapi di wilayah lokal mereka dengan partisipan dari wilayah lain (global) sehingga terjadi pertukaran pikiran yang dapat menghasilkan solusi-solusi. Salah satu program dari ARCSpace ini adalah International Water Project yang diluncurkan awal 2010 kemarin.</p>
<p>Pada akhir sesi presentasi Vicky membagi partisipan Nu Substance menjadi tiga kelompok dan meminta setiap kelompok melakukan simulasi forum dengan membahas persoalan air di daerah Bandung. Membahas suatu masalah lokal dengan komunitas global ternyata dapat memberikan hasil yang menarik. Misalnya dialog permasalahan kota A dengan warga kota B. Persoalan yang dialami Kota A ternyata bukan lagi merupakan persoalan di wilayah kota B, karena di Kota B sudah dilaksanakan solusi yang tanpa disadari oleh Kota B ternyata menjadi penyelamat mereka dari persoalan Kota A. Atau sebaliknya, kadang dengan membicarakan persoalan pihak lain membuat kita terbangun bahwa kitapun masih terjebak dalam persoalan yang sama secara tidak kita sadari. Namun pada akhirnya dialog yang terbangun selalu dapat menemukan solusi baru dan menarik karena pandangan dari pihak luarseringkali merupakan ide baru yang dapat diwujudkan. Semakin luas jaringan yang terbangun, semakin terbuka peluang kemajuan yang dapat dilaksanakan. Inilah yang diharapkan dari Festival Nu Substance 2010.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/presentasi-tentang-informasi-komunikasi-dan-teknologi-oleh-zulfikar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presentasi Publik Menyoal Masa Depan Lingkungan Kita Bersama &#124; Oleh Yogi Apriandi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/presentasi-publik-menyoal-masa-depan-lingkungan-kita-bersama-oleh-yogi-apriandi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/presentasi-publik-menyoal-masa-depan-lingkungan-kita-bersama-oleh-yogi-apriandi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 08:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1330</guid>
		<description><![CDATA[Foto oleh Addy Gembel
Presentasi Publik yang bertempat di CCF Bandung pada Selasa (20/7) ini diisi tiga orang pembicara yaitu Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &#38; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura) dan Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris). Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Expert Meeting Nusubstance Festival 2010.
Pada pertemuan kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4011.jpg" border="0" alt="public presentation 1" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Foto oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Presentasi Publik yang bertempat di CCF Bandung pada Selasa (20/7) ini diisi tiga orang pembicara yaitu Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura) dan Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris). Kegiatan ini merupakan bagian dari acara <em>Expert Meeting</em> Nusubstance Festival 2010.</p>
<p>Pada pertemuan kali ini banyak dibahas tentang bagaimana menyikapi kondisi lingkungan hari ini. Tema yang diangkat adalah “Melakukan sesuatu untuk masa depan kota Bandung”. Acara yang di hadiri oleh 26 peserta baik dari dalam maupun luar negeri ini berlangsung dalam presentasi dan diskusi yang intens.</p>
<p><span id="more-1330"></span></p>
<p>Acara dimulai tepat pada pukul delapan malam. Arthit Suriyawongkul (Thai) menjadi pembicara pertama. Dalam kesempatan ini,  ia menjelaskan 3 elemen penting untuk dicermati bersama seperti; informasi-manajemen, komunikasi-advokasi dan teknologi- infrastruktur. Dijelaskan juga tentang pentingnya inovasi baru dalam penyebarluasan informasi. Sehingga dapat mempermudah dalam membentuk perkembangan sosial, atau penggunaan aplikasi <em>mobile </em>sehingga memudahkan seluruh warga dalam berinteraksi. Sebagai salah satu tema umum dari kecenderungan pembangunan saat ini adalah berbagi. Ruang komunitas bersama juga sangat di butuhkan keberadaannya sebagai suatu wadah pengembangan dan pembelajaran yang akan mewujudkan perubahan sosial.</p>
<p>Kesempatan kedua diberikan kepada Catherine Candano (National University Singapore). Penjelasannya menitik beratkan keberadaan <em>Media main stream</em>, yang hanya menampilkan kejadian ataupun dampak buruk dari perubahan iklim. <em>Media main stream</em> tidak pernah memberikan  pengetahuan terhadap masyarakat, tentang apa sebenarnya perubahan iklim. Sehingga yang muncul justru ketakutan yang berlebihan, tanpa pernah berpikir bagaimana mencari solusi yang tepat. Diperlukan adanya sebuah media baru yang dapat memberikan informasi yang benar tentang apa itu perubahan iklim dan cara menanggulanginya. Dengan cara tersebut nantinya ketakutan tentang akibat dari perubahan iklim akan berubah menjadi usaha-usaha dalam menanggulangi perubahan iklim.</p>
<p>Acara yang berlangsung selama dua jam ini ditutup oleh Victoria Elizabeth Sinclair (Inggris). Dalam paparannya ia membahas seputar kegiatan Arcspace Manchester, sebuah <em>hub</em> untuk pertukaran budaya dan eco-techno berbagai keterampilan. Beberapa kegiatan yang di kembangkan seperti; Kreatif <em>Techno Eco</em>-proyek termasuk tekstil etis, perhitungan karbon, mata uang alternatif, daur ulang komputer, makanan lokal, <em>permaculture</em> dan menyesuaikan tindakan individu rencana pengurangan karbon, Internasional <em>streaming online-dance off</em> dengan Brasil, Kolombia dan Pakistan menggunakan perangkat lunak bebas. Sebelum menutup kegiatan hari ini diadakan juga diskusi kelompok yang terbagi tiga group dari seluruh peserta yang hadir dengan tema “Masalah Air Bersih di Bandung”. Dari diskusi tersebut dapat diketahui apa saja yang menjadi kendala kesulitan air bersih, dan bagaimana mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut lewat suatu <em>focus group discussion</em> yang menarik.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/presentasi-publik-menyoal-masa-depan-lingkungan-kita-bersama-oleh-yogi-apriandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembahasan Expert Meeting Hari Kedua &#124; Oleh Zulfikar</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/pembahasan-expert-meeting-day-2-oleh-zulfikar/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/pembahasan-expert-meeting-day-2-oleh-zulfikar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 06:21:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1326</guid>
		<description><![CDATA[foto oleh Addy Gembel
Suasana pagi yang cerah dengan sinar matahari yang hangat menjadikan suasana Expert Meeting for New Media, Civil Society, &#38; Environmental Sustainability menjadi lebih santai. Suguhan makanan ringan dan kopi serta koneksi wi-fi membuat setiap partisipan merasa nyaman. Seperti misalnya Dan McKinley, perwakilan dari Realtime Magazine, “Now I have a cup of coffee [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_3804.jpg" border="0" alt="expert meeting day 2" width="400" height="267" /></p>
<p><em>foto oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Suasana pagi yang cerah dengan sinar matahari yang hangat menjadikan suasana <em>Expert Meeting for New Media, Civil Society, &amp; Environmental Sustainability</em><em> </em>menjadi lebih santai. Suguhan makanan ringan dan kopi serta koneksi wi-fi membuat setiap partisipan merasa nyaman. Seperti misalnya Dan McKinley, perwakilan dari Realtime Magazine, “<em>Now I have a cup of coffee and internet connection, what else a person need?</em>” Saat semua sudah merasa seperti di rumah, maka dialog bergizi hari ini dapat mulai dilaksanakan.</p>
<p>Gustaff membuka acara dan menyapa setiap partisipan yang hadir dan mulai merencanakan kegiatan harian yang akan dilaksanakan. Setiap partisipan yang hadir sangat terbuka dan bersemangat untuk saling berbagi mengenai kegiatan yang dilaksanakan di daerahnya masing-masing. Arthit (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand, Thailand), Vicky (ArcSpace Manchester/ Bricolabs, Inggris), dan Catherine (Tunza South East Asia Youth Environment Network, Filipina/Singapura) akan mengisi sesi presentasi pertama di CCF pada Selasa (20/7) malam di CCF.</p>
<p><span id="more-1326"></span></p>
<p>Arthit akan mempresentasikan <em>Mekong Project</em> yang dilaksanakannya, sedangkan Vicky akan berbicara tentang <em>International Water Project</em> dan <em>Arcspace Manchester</em>, dan  Catherine akan menerangkan presentasinya malam itu. Presentasi lainnya juga bakal dilaksanakan oleh Atteqa (Mauj Media Collective, Pakistan), Venzha (House of Natural Fiber, Indonesia), dan Gustaff (Common Room, Indonesia) pada keesokannya Rabu (21/7). Ketiganya akan mempresentasikan program yang dilaksanakan oleh masing-masing lembaganya. Selain sesi presentasi akan dilaksanakan juga <em>streaming session </em>dengan Perancis pada hari Rabu 21 Juli 2010 pukul 16.00-18.00 dan Brazil dan Kolombia pada hari Jumat 23 Juli 2010 pukul 19.00-21.00.</p>
<p>Setiap partisipan memiliki harapan yang seragam dari pertemuan ini. Mereka berharap agar mereka dapat saling berjaringan dan saling membantu dengan mengkolaborasikan ide masing-masing dan Gustaff juga berharap agar pertemuan ini dapat menghasilkan suatu hal yang konkrit seperti misalnya membuat dan melaksanakan program bersama. Selain kegiatan presentasi dalam ruangan, akan dilaksanakan juga kegiatan lapangan seperti mengunjungi beberapa area yang merupakan lokasi pelaksanaan program Common Room. Di luar kegiatan-kegiatan tersebut, tentunya direncanakan juga kegiatan yang bersifat menghibur seperti rencana mengunjungi pemandian air panas Ciater, dan kegiatan wisata lainnya.</p>
<p>Suasana kekeluargaan sudah mulai terasa mengalir sejak sesi awal ini. Para partisipan saling bercerita mengenai pelaksanaan programnya di daerah masing-masing dan berbagai hal yang mereka hadapi. Curahan hati setiap partisipan selalu mendapat tanggapan baik berupa sharing solusi dari partisipan lainnya. Walaupun berasal dari benua yang berbeda, ternyata tidak sedikit masalah serupa yang dihadapi seperti misalnya permasalahan birokrasi, hubungan dengan pemerintah dan perguruan tinggi setempat, tingkat partisipasi masyarakat, dan lainnya. Tips yang dibagi sangat bervariasi dan menarik, seperti bagaimana menyelundup dalam birokrasi, bagaimana menarik minat masyarakat setempat, bagaimana membangun kesadaran, dan lainnya. Walaupun rangkaian acara Nu Substance masih banyak, ternyata keterbukaan dan semangat setiap partisipan telah terbangun di awal acara dan mulai membuka banyak peluang baru.</p>
<p>***</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/pembahasan-expert-meeting-day-2-oleh-zulfikar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Keterbukaan Budaya dalam Pembukaan Expert Meeting Nu-Substance Festival 2010  &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/diskusi-keterbukaan-budaya-dalam-pembukaan-expert-meeting-nu-substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/diskusi-keterbukaan-budaya-dalam-pembukaan-expert-meeting-nu-substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 04:34:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1317</guid>
		<description><![CDATA[foto oleh Addy Gembel
Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mmendorong perkembangan media baru yang perkembangannya kian signifikan di lingkup Asia Tenggara. Itulah kesimpulan dari hasil pembukaan Expert Meeting yang dihadiri oleh sejumlah praktisi media, ahli teori, dan aktivis media dari Asia dan Eropa dalam rangkaian acara Nu-Substance Festival 2010: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_3669.jpg" border="0" alt="expert meeting" width="400" height="267" /></p>
<p><em>foto oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mmendorong perkembangan <em>media baru </em>yang perkembangannya kian signifikan di lingkup Asia Tenggara. Itulah kesimpulan dari hasil pembukaan <em>Expert Meeting</em> yang dihadiri oleh sejumlah praktisi media, ahli teori, dan aktivis media dari Asia dan Eropa dalam rangkaian acara Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Sejumlah para ahli yang hadir dalam rapat yang dimulai pada Senin (19/7) sekitar pukul 11 siang itu dihadiri oleh Stephen Kovats (Transmediale, Jerman), Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris), Atteqa Thaver Malik (Mauj Media Collective, Pakistan), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura), Benjamin Laurent Aman (Seniman, Perancis), Marion Auburtin (Seniman, Perancis), Mirwan Andan (Ruang Rupa Jakarta, Indonesia), Sabina Santarossa dan Anupama Sekhar (Asia-Europe Foundation).</p>
<p><span id="more-1317"></span></p>
<p>Mirwan Andan mengemukakan perkembangan media massa di Indonesia saat ini telah dikuasai para elit politik. Ia melanjutkan dengan memberi contoh studi kasus pada televisi-televisi di Indonesia yaitu TV One dan Metro TV. Jurnalisme televisi yang berkembang di Indonesia dianggap tidak sehat karena selalu memunculkan kepentingan-kepentingan para konglomerat media. Bahkan kecenderungan-kecenderungan pemilik media berkecimpung pula di partai-partai politik. Eratnya hubungan politik dan  media massa adalah kondisi kisruh dalam perkembangan media massa di Indonesia, terutama sejak dibukanya keran konglomerasi media sejak zaman orde baru.</p>
<p>Perkembangan media baru di negara-negara Asia banyak memiliki hambatan dan tantangan yang banyak dicampuri oleh pemerintah. Menurut Catherine, sangat penting untuk menumbuhkan <em>civil society</em> dalam konteks perkembangan media baru. Ia menambahkan khusus untuk negara-negara Asia Tenggara, saat ini keberadaan <em>civil society</em> sangat lemah. Itu karena kebebasan berekspresi masyarakat sipil seringkali menjadi ancaman bagi pemerintah <em>status quo</em>. Sebagai contoh, kebijakan pemanfaatan media baru<em> </em>di Singapura saat ini diatur begitu ketat. Hal itu membuat kebebasan berekspresi memiliki posisi yang sangat rentan karena ketatnya aturan dari pemerintah dalam mengontrol penggunaan internet.</p>
<p>Hal itu sejalan dengan pendapat Stephen Kovats. Menurutnya, pemerintah seringkali tidak tanggap dan seolah impoten ketika mengatur <em>digital activism</em>. Salah satu upaya yang bisa dikembangkan sebagai jalur alternatif adalah dengan membuka keran-keran dari sektor independen untuk mendorong pertumbuhan aktivisme digital.  Inisiasi yang dilakukan lembaga-lembaga non-pemerintah untuk mengembangkan digital activism, seperti Asia-Europe Foundation (ASEF) sangat diperlukan. Sabinda dan Anupama dari ASEF membicarakan perihal pemetaan dan pembuatan kerangka dalam proses mengembangkan ruang-ruang media alternatif. Dalam kesempatan ini, diskusi kemudian mengarah pada perbincangan yang intens mengenai rekomendasi kebijakan pemanfaatan media baru pada beberapa negara di Asia dan Eropa.</p>
<p><strong>Budaya dalam arsip digital </strong><br />
Pada sesi kedua, pemateri yang hadir adalah Endo Suwanda (ethnomusicologist). Endo memaparkan tentang konteks globalisasi terutama dalam kajian-kajian lokal-interlokal-nasional. Ia memberikan contoh pada seni dan budaya yang berkembang di Indonesia. Percampuran antara budaya barat dan timur menjadi satu budaya baru yang berkembang di masyarakat. Contohnya, alat musik asal Pelambang yang “mirip” akordeon. Atau patung-patung Hanoman yang berpencar di seluruh negara baik dari Indonesia, Cina, Thailand, dan Vietnam. Wacana menyoal tradisi “asli” pun menjadi pertanyaan besar soal orisinalitas budaya asli bangsa Indonesia.</p>
<p>Sebuah upaya yang dilakukan oleh Endo untuk melestarikan seni dan budaya yang berkembang di masyarakat Indonesia yaitu dengan menciptakan arsip digital yang berisi daftar dan kategori seni-budaya Indonesia. Seperti situs-situs yang dikembangkan Endo, <a href="http://www.tikar.or.id/">http://www.tikar.or.id</a> dan <a href="http://www.lpsn.org/">http://www.lpsn.org</a> untuk mendokumentasikan seni-budaya yang berkembang di Indonesia. Namun, hal itu tidak mudah. Menurutnya, pengategorisasian dan taksonomi adalah problem paling menyulitkan dalam pengumpulan data-data dokumentasi. Hal itu diakui Endo karena sudah semakin kompleksnya laju seni-budaya yang berkembang di Indonesia. Ia memberikan contoh alat musik asal pulau Sumba, Jungga, yang suara dan bentuknya tidak jauh beda dengan gitar elektrik modern.</p>
<p>Menurut Endo, ada dua permasalahan dalam mengembangkan arsip digital. Pertama, produksi teknis seperti editing dan permasalahan utama yaitu, akses dan pendanaan untuk keberlansungan proyek riset dan dokumentasi. Padahal keberlangsungan arsip digital merupakan hal yang krusial seperti memberikan akses pengetahuan buat orang banyak dan mengetahui laju perkembangan seni-budaya Indonesia. Proses pengembangan arsip digital di masa depan dinilai penting karena akan punahnya material-material berbahan analog.</p>
<p>Pembukaan <em>Expert Meeting</em> hari pertama ini ditutup dengan makan malam bersama  antara para partisipan bersama para pejabat Pemerintahan Kota Bandung untuk mendiskusikan harapan komunitas kreatif kepada pemerintah.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/diskusi-keterbukaan-budaya-dalam-pembukaan-expert-meeting-nu-substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai-Nilai Kebajikan Sunda Buhun di Pembukaan Nu –Substance Festival 2010 &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 07:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1309</guid>
		<description><![CDATA[Ayunan para penari. Foto oleh Idhar Resmadi
Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan membuat mereka menari dengan atraktifnya. Mengayunkan badan ke kanan- [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/dancer2.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Ayunan para penari. Foto oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Empat orang nenek itu menari-nari dengan sangat agresif. Kulit keriput mereka tidak menggerus semangat mereka untuk menari mengiringi lantunan kawih Sunda yang dialunkan oleh Mang Ayi dan Wa Itok. Suasana malam yang cukup membuat badan menggigil tidak mempengaruhi mereka dan membuat mereka menari dengan atraktifnya. Mengayunkan badan ke kanan- ke kiri, meloncat ke sana ke sini, dan menari lincah gemulai. Padahal usia para nenek tua itu hampir semuanya di atas kepala enam­ (malah seorang nenek mengaku berusia sekitar 127 tahun)nyatanya membuat penonton terpana dalam kegiatan pembukaan Nu-Substance Festival 2010. Seorang pentolan band metal, Man (vokalis Jasad) tak ihwal ikut terpancing menari bersama mereka.<span id="more-1309"></span><br />
<a href="http://s929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/?action=view&amp;current=mangayi.jpg" target="_blank"><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/mangayi.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="400" height="267" /></a></p>
<p><em>Mang Ayi. Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Pemandangan tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam pembukaan Nu-Substance Festival 2010 pada Jum&#8217;at (9/7) lalu. Dengan mengusung tema “Floating Horizon”, sebuah keadaan yang dipenuhi semangat zaman penuh ambivalensi dan kontradiksi, keberadaan Pantun Buhun merupakan salah satu cerminan yang patut kita apresiasi saat ini karena nilai-nilainya mengandung banyak kebajikan dan mengandung makna-makna positif untuk ditelaah. Pantun buhun adalah salah satu bentuk pertunjukan tradisional yang berkembang di daerah Jawa Barat secara turun temurun. Fungsi utamanya sebagai <em>mepeling </em>(mengingatkan) khalayak untuk mencermati pelbagai kondisi atau atau situasi yang terjadi di sekeliling masyarakat.</p>
<p>Sebagai sebuah masyarakat yang dibesarkan dalam tradisi lisan yang kental, Pantun Sunda adalah salah satu aspek konkret yang tak bisa dikesampingkan dalam tradisi budaya lisan masyarakat Sunda. Pantun Sunda merupakan sebuah seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Biasanya seni Pantun Sunda ini dimainkan oleh seorang juru pantun dan diiringi kecapi yang dimainkannya sendiri. Pola pertunjukan pantun tak pernah berubah mulai dari penyediaan sesajen sebagai simbol dan penutupan dengan mengumandangkan rajah pamungkas.</p>
<p>Untuk gelaran kali ini, dua orang seniman Sunda asal Subang, Mang Ayi dan Wa Itok memamerkan kebolehannya dalam menuturkan cerita mengenai lakon “Berhala Gugur” (Fallen Idols). Lakon ini menceritakan tentang nilai kebajikan lama antara perang tak berkesudahan si baik melawan si jahat. Terutama dalam konteks perkembangan teknologi, pemberdayaan masyarakat sipil dan lingkungan yang berkelanjutan.  Kondisi ini mencerminkan tema yang diusung Nu-Substance mengenai kondisi ambivalensi dalam semangat zaman masyarakat Indonesia.</p>
<p>Pada umumnya Pantun Sunda berisi nasihat bagi manusia agar kehidupannya bisa lebih baik. Agar selalu ingat pada Tuhan dan leluhurnya. Tidak jarang juga jika Pantun dijadikan alat kritik terhadap masalah sosial dan politik. Tak ayal, dalam beberapa bagian ceritanya Mang Ayi dan Wa Itok bercerita soal korupsi yang menyesengsarakan rakyat, penyelundupan beras miskin (raskin), hingga kondisi politik yang kacau balau dan membuat rakyat yang selalu menjadi korban. Kedua seniman ini memasukan lelucon-lelucon yang selalu ditimpali oleh para penonton dan biasanya berhasil membuat penonton tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>Mang Ayi dan Wa Itok mendongengkan cerita dalam tiga babak. Acara yang dimulai sekitar pukul delapan malam ini berakhir hingga hampir tengah malam ini sebelumnya dibuka oleh penampilan Karinding Attack. Sekitar delapan orang pemuda berbaju hitam dengan kepala dibingkai iket Sunda tampil di altar dan melantunkan beberapa komposisinya. Karinding Attack juga adalah salah satu contoh konkret perkembangan wacana menyoal glokalisasi secara signifikan. Glokalisasi atau bisa disebut akronim dari globalisasi-lokal adalah sebuah wacana yang menyerempet persoalan seni, budaya, dan sosial tentang perpaduan atau percampuran antara budaya/nilai barat (global) dengan nilai-nilai lokal.</p>
<p>Hal ini misalnya bisa kita simak dari perbauran nama “Karinding” sebagai salah satu alat musik tradisi sunda dengan paduan kata “Attack” yang diambil dari bahasa Inggris yang memiliki arti “serang”.</p>
<p><a href="http://s929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/?action=view&amp;current=karat1.jpg" target="_blank"><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/karat1.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="400" height="267" /></a></p>
<p><em>Penampilan Karinding Attack. Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Beberapa lagu seperti yang dibawakan Karinding Attack malam itu yaitu “Hampura Ma” dan “Wasit Goblog”, merupakan sebuah cerminan artistik yang mewakili kondisi perasaan masyarakat Bandung saat ini. Beberapa nilai dan makna dalam kandungan lagu-lagu Karinding Attack mencerminkan semangat-semangat lokal lewat kritik-kritik membangunnya. Komposisi-komposisi musik Karinding Attack didominasi oleh alat musik tradisionil Sunda bermaterial bambu macam karinding sebagai instrumen utama, ditambah instrumen-instrumen pengiring seperti toleat, suling, dan celempung.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/nilai-nilai-kebajikan-sunda-buhun-di-pembukaan-nu-%e2%80%93substance-festival-2010-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Lebih Dekat Pantun Sunda &#124; Oleh Kimun666</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 16:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Localities]]></category>
		<category><![CDATA[Performance]]></category>
		<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[Foto: Idhar Resmadi 
Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).
Dalam naskah Siksa kandang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/opening%20nu%20substance-%20pantun%20buhun%20mang%20ayi%20wa%20ito/laskarpelangi.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="400" height="267" /></p>
<p><em>Foto: Idhar Resmadi </em></p>
<p>Pantun Sunda merupakan seni pertunjukan cerita sastra Sunda lama yang disajikan dalam paparan, dialog, dan nyanyian. Seni pantun dilakukan seorang juru pantun diiringi kacapi yang dimainkannya sendiri. Seni pantun Sunda berbeda dengan pantun Melayu yang serupa sindiran dalam tradisi Sunda (puisi yang terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi).</p>
<p>Dalam naskah Siksa kandang Karesian (1518M) dipaparkan pantun digunakan sejak zaman Langgalarang, Banyakcatra, dan Siliwangi. Asalnya cerita pantun seputar kisah kegagahan raja-raja di atas. Pada perkembangannya cerita pantun terus bertambah. Kita pasti tak asing dengan Lutung Kasarung, Langgasari, Ciung Wanara, Mundinglayadikusumah, Dengdeng Pati Jayaperang, Ratu Bungsu Kamajaya, Sumur Bandung, Demung Kalagan, dll. Seni tua usianya ini melahirkan beberapa ahli pantun seperti Rd. Aria Cikondang dari Cianjur (abad 17), Aong Jaya Lahiman dan Jayawireja (abad 19), Uce dan Pantun Beton Wikatmana dari Bandung (awal abad 20) dan Ki Buyut Rombeng dari Bogor.</p>
<p><span id="more-1303"></span></p>
<p>Seni pantun Sunda umumnya merupakan kisah yang disampaikan oleh pendongeng profesional pada zamannya yang seringkali berkelana dari desa ke desa untuk menyampaikan ceritanya kepada semua orang. Tujuan sang juru pantun bertutur adalah untuk mengajarkan agama, kepercayaan, sejarah, mitologi, moral, dan tata krama. Sepanjang abad ini, dongeng-dongeng para juru pantun lambat laun berubah menjadi cerita anak-anak. Salah satu pantun Sunda yang sangat terkenal adalah Lutung Kasarung. Dengan syair yang panjangnya lebih dari 1000 baris, kisah yang berasal dari abad 15 ini begitu populer hingga termasuk kisah pertama yang difilmkan di Indonesia pada 1926.</p>
<p>Pantun disajikan dalam dua bentuk. Yang pertama sajian untuk hiburan dan yang kedua merupakan sajian ritual (ruwatan).Sebagai sajian hiburan, pantun diceritakan atas permintaan penaggap. Sebagai sajian ruwatan, pantun ditampilkan sama dengan cerita wayang, seperti Batara Kala, Kama Salah, atau Murwa Kala. Pertunjukan pantun, baik dalam fungsi hiburan maupun ritual, tidak disajikan sembarangan. Sifatnya yang sakral dipertahankan karena bagi masyarakat Sunda membaca dan mendengarkan pantun berisi cerita raja-raja atau leluhur mereka merupakan bentuk penghormatan tersendiri kepada nenek moyang.</p>
<p>Pola pertunjukan pantun tak pernah berubah: penyediaan sesajen, <em>ngukus</em> (membakar kemenyan), mengumandangkan rajah pamunah, babak cerita dari awal hingga akhir, dan penutupan dengan mengumandangkan rajah pamungkas. Pertunjukan biasanya diiringi alat jusik kacapi. Awalnya, kacapi yang dipergunakan sangatlah sederhana seperti kacapi Baduy yang hanya berdawai 7 kawat. Seiring dengan pertumbuhan seni Cianjuran, kacapi kecil itu digantikan dengan kacapi gelung (tembang) dan akhirnya kacapi siter. Laras yang dimainkan mengiringi pantun biasanya adalah laras pelog dan salendro.</p>
<p>Sebagai kesenian yang hidup di tatar Sunda sejak zaman purba sampai Islam dan menjadi anutan masyarakat, tak heran jika ungkapan, ajaran, dan petuah ki juru pantun yang terdapat dalam isi pantun adalah pembauran kedua zaman itu. Selain banyak ungkapan-ungkapan yang berasal dari budaya Islam seperti istighfar, takbir, dll., terdapat pula ungkapan khas Hindu-Budha seperti ka dewata, ka pohaci, ka para karuhun, buyut, dan lain-lain.</p>
<p>Harus diakui, dewasa ini, kondisi seni pantun sangat memprihatinkan. Walaupun seni pantun masih dapat bertahan sebagai seni yang adiluhung, tetap saja telah terjadi pergeseran terutama dalam fungsinya dari yang sakral menjadi profan.</p>
<p><em>*penulis adalah penulis buku &#8220;Myself Scumbag&#8221;, guru sejarah, dan musisi Karinding Attack</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/mengenal-lebih-dekat-pantun-sunda-oleh-kimun666/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa &#124; Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 3-selesai)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/1239/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/1239/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1239</guid>
		<description><![CDATA[Internet, Media, Kuasa dan Politik
&#8220;Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine&#8221;[1]
 (Tim Jordan)
Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, provider swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="background-image: url(&quot;http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg&quot;);" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="389" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/ia5FxoeFJWI&amp;hl=en_US&amp;fs=1" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="background-image: url(&quot;http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg&quot;);" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="389" src="http://www.youtube.com/v/ia5FxoeFJWI&amp;hl=en_US&amp;fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Internet, Media, Kuasa dan Politik</strong></p>
<p><em>&#8220;Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine&#8221;<a href="#_ftn1">[1]</a></em></p>
<p><em> (Tim Jordan)</em></p>
<p>Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, <em>provider</em> swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai digunakan publik secara luas pada tahun 1995. Pada masa itu penggunaan internet belum terlalu marak karena biaya pemasangan dan kepemilikan jaringan masih mahal dan membutuhkan sambungan telepon pribadi untuk menyambung internet.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Keberadaan internet ternyata mampu menjadi media alternatif bagi masyarakat untuk mencari dan menyebarkan informasi, yang pada masa itu penyebarannya masih sangat dibatasi dan diatur sepenuhnya oleh Negara. Internet seakan menjadi angin segar yang menggugah masyarakat untuk lebih berani dan proaktif. Terbukti, internet menjadi salah satu alat untuk menggulingkan Soeharto dan tatanan Orde Baru yang dibangunnya.<a href="#_ftn3">[3]</a> Caranya?</p>
<p><span id="more-1239"></span></p>
<p><em>“Syafei developed his Jendela Indonesia site running since October 5, 1995, at the Illinois Institute of Technology, Chicago. It hosted a mailing list and news archive which originally catered to university and student matters. But from 1997 onwards it too became a much frequented portal for non-censored news, including material from Apakabar/Indonesia-L.&#8221; (Tangkar, n.d.)</em></p>
<p><em>&#8220;In May 1998, at the time of student occupation of the parliament building and subsequent resignment of Soeharto, frequency of visits at the Jendela Indonesia portal caused the server of the Illinois Institute of Technology to crash again and again. The head of the computer center, Michael Hites, seriously considered closing down Jendela Indonesia, but realizing that frequency of use was actually demonstrating its usefulness and finding that the Indonesian movement for democracy deserved to be supported, he decided instead to invest $35,000 to step up the server’s efficiency.&#8221; (Tangkar n.d.)<a href="#_ftn4">[4]</a></em></p>
<p>Hal ini sama dengan yang tertulis pada sebuah <em>website</em> yang membahas keberadaan internet dan politik, sebagai berikut:</p>
<p><em>“Beberapa waktu yang lalu orang berpendapat bahwa orang yang menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang memiliki kekuasaan, tetapi sekarang pendapat tersebut sedikit berubah karena orang yang dianggap memiliki kekuasaan adalah orang yang menguasai informasi. Politik juga merupakan masalah kekuasaan, sehingga sumber informasi bisa menjadi alat politik yang efektif.&#8221;</em><a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Teknologi Internet dapat dianalogikan sebagai suatu jalan raya informasi bebas hambatan, siapapun yang terkoneksi dengan jaringan, bisa mencari dan memberikan informasi mengenai apapun. Hal ini membawa dampak dalam aspek kehidupan politik. Dalam waktu singkat peristiwa demonstrasi berdarah yang terjadi di Tiananmen Square di Beijing tersebar dan dibicarakan oleh banyak orang di seluruh dunia. Hal yang sama juga terjadi pada berita penyerangan Amerika Serikat terhadap Irak yang semuanya dapat dilihat dengan jelas. Oleh sebab itu Internet dapat digunakan untuk menegakan demokrasi, karena tidak ada hal yang dapat disembunyikan dan siapapun memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat mereka. Tetapi sebaliknya Internet juga dapat dipakai oleh perorangan maupun kelompok untuk membentuk opini publik dengan menyebarkan informasi demi mencapai tujuan politik tertentu.</p>
<p>Ternyata, internet sebagai media <em>‘powerless’</em> mampu menggulingkan kekuasaan yang sangat besar <em>(powerfull)</em>, seperti apa yang terjadi di Indonesia. Barangkali dapat dikatakan apabila seseorang diberikan suatu kuasa kecil untuk bebas, dia dapat menggunakan kuasa itu untuk mengajak orang lain berpartisipasi sehingga menjadi suatu kekuatan yang besar, seperti halnya kekuatan rakyat.</p>
<p>Selanjutnya, batasan antara ranah kultural dan ranah politik  di internet telah menyatu, bercampur, mengalami pembiasan, serta dapat saling mempengaruhi (lihat kasus ‘Cicak vs. Buaya’ dan ‘Koin untuk Prita’).<a href="#_ftn6">[6]</a> Dalam kedua kasus tersebut, informasi mengenai berita keduanya tersebar dengan cepat di internet, lalu dikomentari oleh banyak orang, sehingga membangun simpati dan emosi yang berujung pada aksi nyata yang mempengaruhi opini atas kasus keduanya.</p>
<p>Pengumpulan Koin Prita yang awalnya merupakan simbol simpatik masyarakat dan bentuk perlawanan akan ketidakadilan hukum atas kebebasan berpendapat, berbuah pada kesatuan suara yang mampu merubah suatu tatanan sistem yang dirasa tidak adil. Begitupun pada kasus Cicak vs. Buaya, informasi dihadirkan sebebas-bebasnya, dan membentuk suatu persepsi tertentu di masyarakat.</p>
<p>Dapat dikatakan bahwa Internet tidak netral. Internet dipengaruhi oleh siapa yang memiliki kuasa pada saat tertentu. Namun kekuasaan dapat bergerak melampaui hal-hal yang tidak diinginkan sehingga apapun dapat terjadi di <em>cyberspace.</em> Dalam konteks ini, siapapun dapat melakukan apapun, untuk membangun agenda, identitas, komunitas, atau apapun yang dia inginkan di ruang cyber.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Lalu kini, setelah setiap orang di kota-kota besar, terutama sebagian besar daerah di Pulau Jawa telah mampu mengakses internet, akankah ada perubahan yang mampu dibawa internet? Toh, internet dipercaya telah mengusung semangat kebebasan, dimana kebebasan menjadi dambaan setiap manusia dalam hidup. Namun, apakah kebebasan itu dapat dimaknai dengan bijak? Saat ini internet telah mampu membebaskan informasi sehingga dapat bergerak lalu lalang dan hinggap pada siapapun yang membutuhkan, tanpa ada batasan, dan disuguhkan secara vulgar.<a href="#_ftn8">[8]</a> Semuanya kembali pada pribadi setiap orang. Jika moral mampu menjadi pagar, niscaya, dunia akan baik-baik saja.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Jordan, Tim. <em>Cyberpower: The Culture and Politics of Cyberspace. </em>Diakses di:<em> </em><a href="http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm">http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lim, Merlyna. (2009) <em>Muslim Voices in the Blogosphere: Mosaics of Local-Global Discourses</em>”in Gerard Goggin and Mark McLelland [eds.], Internationalizing Internet: Beyond Anglophone Paradigm, London: Routledge, p. 178-195. Dapat di akses di: <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf">http://www.public.asu.edu/~mlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lim, Merlyna. <em>The Internet, Social Networks, and Reform in Indonesia</em>. <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf">http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_Ch17.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Mahdi, Waruno. <em>The Internet Factor in Indonesia: Was that All?</em>. Edisi Revisi 2004. Diakses dari: <a href="http://waruno.de/PDFs/wm_IDinetsaga.pdf">http://waruno.de/PDFs/wm_IDinetsaga.pdf</a></p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Diambil dari: <a href="http://go-kerja.com/kehidupan-sosial-vs-internet/">http://go-kerja.com/kehidupan-sosial-vs-internet/</a></p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lim, Merlyna. “<em>[Talk] Pop ‘n Politics: Web 2.0 and Participatory Culture in Indonesia”. </em>2009, dibawakan pada <em>First Annual Digital Media and Learning Conference: “Diversifying Participation”</em> di University of California, San Diego, 19 Februari 2009. Diakses di: <a href="http://merlyna.org/?p=1192">http://merlyna.org/?p=1192</a></p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Jordan, Tim. <em>Cyberpower: The Culture and Politics of Cyberspace. </em>Diakses di:<em> </em><a href="http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm">http://www.isoc.org/inet99/proceedings/3i/3i_1.htm</a></p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lim, Merlyna. (2009) <em>Muslim Voices in the Blogosphere: Mosaics of Local-Global Discourses</em>”in Gerard Goggin and Mark McLelland [eds.], Internationalizing Internet: Beyond Anglophone Paradigm, London: Routledge, p. 178-195. Dapat di akses di: <a href="http://www.public.asu.edu/%7Emlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf">http://www.public.asu.edu/~mlim4/files/Lim_IranIndoblog.pdf</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/1239/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa &#124; Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 2)</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1228</guid>
		<description><![CDATA[Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.
Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.
Anytime, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="background-image: url(&quot;http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg&quot;);" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="388" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/WytNkw1xOIc&amp;hl=en_US&amp;fs=1" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="background-image: url(&quot;http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg&quot;);" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="388" src="http://www.youtube.com/v/WytNkw1xOIc&amp;hl=en_US&amp;fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.</strong></p>
<p>Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.</p>
<p><em>Anytime, everywhere, anywhere.</em> Itulah sifat teknologi di masa kini yang akan selalu siap kapanpun, dimana pun, dan bagi siapapun yang membutuhkannya. Teknologi memberikan kemudahan, kenikmatan, kesenangan, sekaligus kesementaraan, kemewahan, dan hampir segalanya bagi kita ketika melalui dan memaknai hidup. Akhirnya: mereka menguasai kita.</p>
<p>Dengan segala kemudahan dan kenikmatan yang diberikan, teknologi layaknya mata uang koin bersisi dua, selalu menempel dan membayangi sisi lainnya. Teknologi juga mirip seperti selembar kertas HVS yang pada salah satu sisinya diisi tulisan dan sisi satunya dibiarkan kosong: meng-ada-kan dan men-(t)iada-kan. Akhirnya: mereka mengakar, menggurita dan mengeruk; mengubah pola perilaku dan ritme hidup kita.</p>
<p><span id="more-1228"></span></p>
<p>Saat ini manusia menjadi sangat tergantung dengan keberadaannya, tidak terkecuali internet. Suatu istilah yang kini telah menjadi keseharian, yang bahkan ketiadaannya mampu membuat manusia menjadi gundah gulana, resah, cemas, akan sesuatu yang entah apa, namun terasa. Keberadaan internet seakan menjadi pengada jati diri seseorang, terutama dengan keberadaan situs jejaring sosial, dimana setiap orang dapat terkoneksi secara langsung dengan siapapun berpartisipasi dan terhubung secara langsung, agar dapat <em>update</em> setiap saat. Tidak ada lagi <em>six degrees of separation (human web)</em><a href="#_ftn1">[1]</a>, sebuah hipotesa yang dibuat Frigyes Karinthy yang mengatakan bahwa setiap orang di muka bumi ini berjarak enam langkah dari manusia lainnya. Saat ini keberadaan kita di dunia ini seakan ditentukan oleh <em>status update</em> hari ini, agar mendapat perhatian dari manusia lainnya. Sebagian kecil mungkin, tapi tidak dengan sebagian besar lainnya.</p>
<p>Dalam dunia internet, berbagai percampuran, pembengkokan, pelubangan telah terjadi. Dengan segala bujuk rayunya, internet telah menggerayangi kita untuk selalu lekat dengan dirinya. Menjadi selalu ada dalam dirinya namun menjadi terpisah dengan realitas yang ada. Menjadi candu, ekstasi, serta hingar bingar pesona kemudahan dan kecepatan. Memutus rantai kehidupan dan menjadi dunia yang berdiri sendiri<a href="#_ftn2">[2]</a>. Manusia modern kemudian tercabut dari habitatnya, dari ekosistemnya, dari akarnya. Berdiri sendiri untuk membuat dunia baru yang dapat dikuasai, dia atur, dan diwarnai sesuka hati. Inilah paralel dunia.</p>
<p><strong>Aku, Kamu dan Kita Semua Adalah Masyarakat Tontonan</strong></p>
<p>Bermula dari Friendster dan Facebook, sebuah situs jejaring sosial yang menghubungkan banyak orang dalam suatu wadah (<em>website</em>) dan menjadi situs yang paling sering dibuka oleh hampir setiap orang di Indonesia<a href="#_ftn3">[3]</a>. Kedua situs ini diminati oleh (kebanyakan) anak muda karena menjadi media penghubung untuk berkomunikasi langsung dengan teman lama ataupun mencari teman baru. Saat ini umur tampaknya tidak menjadi batasan pengguna facebook. Segala lapisan umur, pangkat, gaji, status, serta kelas sosial kini telah berbaur dan menjadi pengguna berbagai situs jejaring sosial, demi apapun tujuan mereka menggunakannya.</p>
<p>Dengan fasilitas yang diberikan, situs jejaring sosial memfasilitasi eksistensi diri seseorang untuk selalu ada dan hadir dalam ‘dunia’. Ketika dunia real belum mampu ia jajal, dunia <em>cyber</em> menjadi alternatif bagi orang-orang yang haus akan penghargaan. Tidak hanya itu, dengan kolom ‘status’nya, orang-orang sibuk beradu ‘kehebatan, kemewahan, keanehan, kegayaan, keseharian, dan hal-hal remeh lainnya. Keberadaan kolom yang tertulis <em>“what’s on your mind”</em> diisi dengan laporan akan keberadaan diri atau (sekedar) curahan hati. Yah, ini lah yang terjadi pada masyarakat di sebuah Negara yang masih berbudaya lisan menanggapi teknologi berupa tulisan (<em>text</em>). Tidak ada yang salah di sini, yang ada hanya kejelasan akan kultur yang dimiliki oleh suatu masyarakat akan diadaptasi berbeda oleh kultur masyarakat yang lain.</p>
<p>Gambaran masyarakat yang seperti ini, cocok dengan masyarakat yang disebut Guy Debord sebagai <em>The Society of Spectacle</em> atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi <em>masyarakat tontonan</em>. Walaupun ia mengkritisi keberadaan media yang mempengaruhi perilaku dan pola pikir masyarakat yang menontonnya<a href="#_ftn4">[4]</a>, namun istilah ini menggambarkan kondisi masyarakat yang senang melihat dan mengawasi keberadaan orang lain melalui berbagai situs jejaring sosial. Dalam hal ini segenap individu meng’ada’kan dirinya agar ‘hadir’ dan ‘ditonton’ oleh orang lain, menjadi penonton dan ditonton.</p>
<p>Situs jejaring sosial menjadi salah satu bentuk <em>‘media surveillance’</em>, dimana setiap orang dapat diamati oleh orang lain tanpa sadar dan secara sukarela, sehingga menjadi salah satu sarana eksistensi yang dapat menghadirkan dirinya dalam sebuah dunia.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Diakses dari: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation">http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation</a></p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Piliang, Yasraf Amir. <em>Dunia yang Dilipat: ….</em> . Jalasutra. Yogyakarta. 2004.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Belum ada kajian spesifik dan data pasti.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Debord, Guy. <em>The Societies of Spectacles</em>. 1967  Dapat diakses di: <a href="http://www.bopsecrets.org/">http://www.bopsecrets.org</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/internet-jerat-ilusi-dan-kuasa-oleh-yasmin-kartikasari-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
