<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Common Room Networks Foundation &#187; Articles</title>
	<atom:link href="http://commonroom.info/cat/articles/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://commonroom.info</link>
	<description>Open Platform for Art, Culture &#38; ICT/Media &#124;&#124; Bandung - Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 06:36:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kondisi Manusia di Awal Abad 21 oleh Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto*</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/kondisi-manusia-di-awal-abad-21-oleh-prof-dr-i-bambang-sugiharto/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/kondisi-manusia-di-awal-abad-21-oleh-prof-dr-i-bambang-sugiharto/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 03:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=2162</guid>
		<description><![CDATA[I. Topografi Psikokultural Cyber-Culture: jaringan komunikasi Cyber telah memungkinkan interaksi global. Kepekaan terhadap perbedaan meningkat, kesadaran atas pluralisme menajam, tendensi ke arah relativitas menguat, prinsip “keabsolutan” makin kadaluwarsa. Pola digital dalam budaya cyber juga telah memungkinkan kaburnya “fakta” dan “fiksi”. Segala yang kita tonton atau pun baca selalu bisa merupakan produk rekayasa. Kegiatan penciptaan berbagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I. Topografi Psikokultural</strong></p>
<ol>
<li><em>Cyber-Culture</em>: jaringan komunikasi <em>Cyber</em> telah memungkinkan interaksi global. Kepekaan terhadap perbedaan meningkat, kesadaran atas pluralisme menajam, tendensi ke arah relativitas menguat, prinsip “keabsolutan” makin kadaluwarsa. Pola digital dalam budaya <em>cyber</em> juga telah memungkinkan kaburnya “fakta” dan “fiksi”. Segala yang kita tonton atau pun baca selalu bisa merupakan produk rekayasa. Kegiatan penciptaan berbagai simbol atau cerita pun menjadi cenderung “<em>self-referential</em>”, tak mesti bersentuhan dengan realitas pengalaman.</li>
<li><em>The End of Ideology</em>: Perseteruan ideologi politik besar telah sirna dan usang, wacana-wacana besar kini diragukan, bahkan agama-agama besar mengalami krisis tafsiran internal yang membuatnya tak lagi meyakinkan. Prinsip-prinsip pokok yang mendasari sistem-sistem simbol sentral rusak, menjadi polifonik. Akibatnya tak ada lagi sistem tunggal yang merekat pengalaman-pengalaman yang centang-perenang; tak ada lagi jembatan yang menjamin kesesuaian antara <em>inner</em> dan <em>outer reality</em>; tak ada lagi dasar konstituen kultur yang jelas, yang bisa melahirkan antusiasme, gairah, impian, ketakutan dan kebahagiaan manusia. Tak jelas lagi kapan kita mesti merasa gagal, berdosa, atau pun berhasil; untuk apa loyal, kepada kelompok mana saya perlu loyal.</li>
<li>Kapitalisme yang ambivalen: Di satu sisi kapitalisme mengeruk untung dengan mempermainkan “<em>basic instinct</em>” inderawi kita (seks, makanan, barang-barang dan sensasi memabukkan) dan menjajakan kebebasan tanpa batas hingga menumpulkan hati nurani, melahirkan aneka keliaran dan kekerasan. Di sisi lain kita senang bahkan menginginkan dan memburu segala hal yang ditawarkannya juga.</li>
</ol>
<p><strong>II. Aneka Teori Tentang “Kebenaran”</strong></p>
<p>Manusia zaman sekarang melihat kebenaran juga tidak lagi sederhana, lebih rumit, lebih melihat banyak sisi. Ini pun ikut menambah kebingungan.</p>
<ol>
<li>Teori “Korespondensi”: benar berarti terdapat kesesuaian antara pernyataan dari Subjek dan kenyataan dari wilayah Objek; antara omongan dan kenyataan. Kesesuaian itu dibayangkan satu banding satu, seperti bila orang bercermin.</li>
<li>Teori “Koherensi”: benar berarti terdapat kait mengkait logis yang kokoh dan kompak antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya; tidak mengandung kontradiksi dan tidak saling menyangkal.</li>
<li>Teori Pragmatis : benar berarti “ada manfaatnya, ada gunanya”. Tidak jadi soal apakah sesungguhnya persis sesuai dengan kenyataan ataupun mengandung kontradiksi. Perdebatan teoritis di sini tak terlampau penting. Segala konsep akan benar saja bila dalam praktik hidup kita, itu memang berguna.</li>
<li>Teori “Performatif”: benar atau tidak itu relatif, sebab sebenarnya itu soal bagaimana kita meyakinkan, mempengaruhi dan mengubah pendapat orang lain. Substansinya relatif, sebab banyak unsur ikut berpengaruh di dalamnya.</li>
<li>Teori “Revelasi”: Benar apabila secara otentik diwahyukan oleh pihak yang berotoritas (Tuhan).</li>
<li>Teori “<em>Disclosure</em>”: Benar adalah bila membuat saya menyadari sesuatu yang tadinya saya tidak sadari/ tidak lihat. Yang biasa disebut “pencerahan”.</li>
<li>Teori “eksistensial”: Benar artinya “sangat berarti” bagi saya. Soal nilai dan keberartian, erat terkait dengan pengalaman konkrit.</li>
</ol>
<p><strong>III. Perkembangan Sikap terhadap “Kebenaran”</strong></p>
<ol>
<li>Absolutis: benar itu satu, tak mungkin banyak.</li>
<li>Relativis historis: Segala prinsip itu benar tidaknya tergantung situasi dan kondisi sejarah. Dulu “banyak anak banyak rejeki” itu dianggap benar, kini tidak.</li>
<li>Relativis perspektival: Tiap kebudayaan punya cara pandang yang berbeda tentang apa yang mereka anggap benar.</li>
<li>Relativis linguistik: Tiap bahasa mempunyai pola pikir yang spesifik, maka kebenaran pun relatif.</li>
<li>Relativis hermeneutis: Segala hal tergantung cara melihat dan menafsirnya; segala hal adalah perkara tafsiran. Tak ada kenyataan “murni” objektif. Dunia manusia adalah dunia tafsir.</li>
<li>Relasional: Segala hal adalah “proses”, proses adalah “relasi”. Maka cara melihat segala sesuatu sebagai “substansi” tak lagi relevan. Segala sesuatu selalu dalam proses “menjadi”, maka kebenaran mesti dilihat dalam relasi, “<em>in between</em>”. Siapa itu Tuhan bukan persis seperti yang ada dalam dogma-dogma, tapi Dia yang ada saat kita sembahyang atau sedang memikirkan Dia, yang tak bisa persis dirumuskan, yang ada dalam “peristiwa aku dan Dia”. Hakikat “palu” yang sesungguhnya bukanlah yang ada dalam definisi, tapi yang saya alami saat saya sedang menggenggamnya dan memukulkannya pada paku. Definisi atau dogma hanyalah pegangan awal, gambaran minimal.</li>
</ol>
<p><strong>IV. Beberapa Dampak</strong></p>
<ol>
<li>Secara individual: manusia masa kini kehilangan kerangka-kerangka dasar untuk memahami diri dan kehidupan. Banyak orang sekarang mengalami kecemasan tanpa arah, kemarahan tanpa alamat, kerinduan tanpa sasaran, keterpesonaan tanpa alasan.</li>
<li>Secara sosial: ada berbagai kecenderungan paradoks, saling bertabrakan. Ada hiteria kosmopolitanisme, sekaligus kecenderungan neo-tribalisme; <em>Happy Nihilism</em>, sekaligus <em>Depressive Nihilism</em>; Kerjasama baur antar golongan, sekaligus toleransi tanpa peduli; Konsumerisme trendi dan fanatik, sekaligus paranoia yang marah terhadap dunia.</li>
</ol>
<p><em>* Catatan ini diunggah di laman group FB Yasraf Amir Piliang Institute (<a href="http://www.facebook.com/groups/114301448639268/" target="_blank">YAP Institute</a>) oleh <a href="http://www.facebook.com/alfathri">Alfathri Adlin</a>. Ditampilkan kembali di laman ini atas seizin beliau.</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/kondisi-manusia-di-awal-abad-21-oleh-prof-dr-i-bambang-sugiharto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[The Cultural Weapon] Development as A Destroyer of Culture by Mike van Graan</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/the-cultural-weapon-development-as-a-destroyer-of-culture-by-mike-van-graan/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/the-cultural-weapon-development-as-a-destroyer-of-culture-by-mike-van-graan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 04:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1922</guid>
		<description><![CDATA[The Government of Uganda has decided that the Uganda National Museum &#8211; the country’s only national museum &#8211; will be demolished to make way for a 60-storey East Africa Trade Centre. The proposed “ultramodern” building – which politicians suggest will take 3-5 years to complete but which will take closer to 30 years according to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Government of Uganda has decided that the Uganda National Museum &#8211; the country’s only national museum &#8211; will be demolished to make way for a 60-storey East Africa Trade Centre. The proposed “ultramodern” building – which politicians suggest will take 3-5 years to complete but which will take closer to 30 years according to civil society activists and commentators familiar with such Ugandan projects &#8211; will house the Ministry of Tourism, Trade and Industry, commercial retail outlets and office space. Oh, and two floors will be allocated to a new national museum.</p>
<p>Established in 1908, the Museum is more than one-hundred years old and is thus itself a heritage site.</p>
<p>This is a classic case of “development” versus “culture”, in much the same way as “development” has often destroyed the natural environment in the name of economic growth and social progress. For those who advocate “culture as a vector of development”, this particular case presents a major challenge, both philosophically and strategically.</p>
<p>Increasingly, “culture as a vector of development” has come to mean the catalysing and support of the creative industries as economic drivers, as job-creation mechanisms, as generators of the financial resources that will be used to address major social and human development needs in the areas of health, education and the eradication of poverty, all important in the pursuit of the Millennium Development Goals.</p>
<p><span id="more-1922"></span></p>
<p>This is particularly relevant to Uganda whose per capita income is a mere $460 and which is ranked a lowly 143 on the Human Development Index.</p>
<p>What the Ugandan government is saying is that the Ugandan National Museum – a national heritage site and the primary repository of the nation’s historical artefacts &#8211; is not a vector of development in that it is poorly attended by locals and tourists; it does not generate income; it serves no real economic purpose, and, if anything, it consumes limited public resources. From their point of view then, it is a no-brainer to demolish the museum in favour of a building that will generate substantial income through more commercially viable uses, and which could then very well contribute to economic, social and human development in Uganda.</p>
<p>By the same logic, the Ugandan government can next make a move on the National Theatre. Why bother to have a National Theatre – even if it is better used than the National Museum – when the economy can benefit more from a shopping mall or prestigious office block or apartment building in its place?</p>
<p>Therein lies the philosophical challenge to the “culture as a vector of development” proponents i.e. by making the case for the arts primarily on the basis of their economic contribution, the corollary is that where cultural institutions or the arts do not make an economic contribution or make an economic contribution that is substantially less than another option, then politicians and bureaucrats feel justified in destroying culture in favour of a better “development” option.</p>
<p>And yet, the proposed 60-storey building does not simply represent the destruction of culture in the form of the possible demolition of the National Museum; in truth, it represents a culture that is different, even foreign to the one represented by the Museum. The 60-storey building represents a culture of materialism, an elitist culture of ostentation, a globalised culture with a building and the values that it represents that could be in any major city of the world. The National Museum on the other hand – the one destined for destruction – is about Ugandan identity; unique Ugandan history; values, traditions and worldviews that are peculiar to Uganda, a building and content that celebrates cultural diversity as envisaged by UNESCO’s Convention on the Protection and Promotion of the Diversity of Cultural Expressions.</p>
<p>Uganda is not a signatory to the Convention. Not yet anyway.</p>
<p>And herein lies the strategic challenge to proponents of “culture as a vector of development”: to mobilise an international movement to prevent the destruction of the National Ugandan Museum, thus preserving cultural diversity in a globalised world, and contributing to a richer understanding of the relationship between culture and social, human and economic development.</p>
<p>NOTES<br />
1. The views expressed in this column are entirely those of the writer and are necessarily representative of any of the organisations in which he is involved.<br />
2. This column may be forwarded by the recipient to any other interested party, and may be reproduced by any publication or website at no charge, provided that writer is acknowledged.<br />
3. To engage with the content of this column or to provide feedback, go to <a href="www.mikevangraan.wordpress.com" target="_blank">http://www.mikevangraan.wordpress.com</a></p>
<p><em>Mike van Graan is the Secretary General of Arterial Network, a continent-wide network of artists, activists and creative enterprises active in the African creative sector and its contribution to development, human rights and democracy on the continent. He is also the Executive Director of the African Arts Institute (AFAI), a South African NGO based in Cape Town that harnesses expertise, resources and markets in the service of Africa’s creative sector. He is considered to be one of his country’s leading contemporary playwrights.</em></p>
<p>For further information, see <a href="www.arterialnetwork.org">http://www.arterialnetwork.org</a>, <a href="www.africanartsinstitute.org">http://www.africanartsinstitute.org</a> and <a href="www.mikevangraan.co.za">http://www.mikevangraan.co.za</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/the-cultural-weapon-development-as-a-destroyer-of-culture-by-mike-van-graan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet, Moralitas dan Masyarakat Sipil*</title>
		<link>http://commonroom.info/2011/internet-moralitas-dan-masyarakat-sipil/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2011/internet-moralitas-dan-masyarakat-sipil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 13:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blauloretta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1764</guid>
		<description><![CDATA[Selama beberapa dekade terakhir perkembangan teknologi internet dan media digital semakin menjadi komponen yang penting bagi kehidupan masyarakat sipil. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Sejak pertama kali &#8216;diciptakan&#8217; pada tahun 1989 oleh Tim Barners-Lee, sampai saat ini sudah ada sekitar 6,8 milyar pengguna internet yang terhubung hampir di seluruh penjuru dunia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama beberapa dekade terakhir perkembangan teknologi internet dan media digital semakin menjadi komponen yang penting bagi kehidupan masyarakat sipil. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Sejak pertama kali <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Internet">&#8216;diciptakan&#8217;</a> pada tahun 1989 oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tim_Berners-Lee" target="_blank">Tim Barners-Lee</a>, sampai saat ini sudah ada sekitar 6,8 milyar pengguna internet yang terhubung hampir di seluruh penjuru dunia. Teknologi internet dan media digital semakin mempermudah penyebaran data dan informasi, serta memberikan dampak tersendiri bagi perkembangan budaya masyarakat global. Rasanya tidaklah berlebihan apabila disebutkan bahwa teknologi internet memiliki potensi untuk membentuk tatanan masyarakat yang baru di masa depan (<a href="http://www.imaginaryfutures.net/" target="_blank">Barbrook, 2007</a>).</p>
<p>Berdasarkan survey yang dilakukan oleh <a href="http://news.netcraft.com/" target="_blank">Netcraft</a> sampai dengan bulan <a href="http://news.netcraft.com/archives/2010/12/01/december-2010-web-server-survey.html" target="_blank">Desember 2010</a>, sejauh ini sudah ada sekitar 255,287,546 situs internet yang tersebar di seluruh dunia dangan isi yang bermacam-macam. Dari jumlah ini, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (<a href="http://www.apjii.or.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=59&amp;Itemid=53" target="_blank">APJII</a>) mencatat bahwa sampai tahun 2004 jumlah domain internet yang terdaftar di ID-TLD (Indonesia) sudah mencapai angka 21.762. Lebih lanjut, dalam arsipnya APJII juga menyebutkan bahwa sampai dengan tahun 2007 sudah ada sekitar 25.000.000 pengguna internet di Indonesia. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat secara tajam seiring dengan berkembangnya teknologi, mobilitas manusia, serta tumbuhnya infrastruktur teknologi internet di Indonesia.</p>
<p>Perkembangan teknologi internet juga menandai lompatan menuju abad informasi yang melahirkan tata nilai dan proyeksi peradaban yang baru. Teknologi internet tidak hanya memberikan pengaruh terhadap perkembangan teknologi media dan informasi, tetapi juga membawa dampak secara sosial, politik dan ekonomi. Hal ini misalkan ditandai dengan semakin cairnya sekat teritori politik dan budaya sehingga memungkinkan terjadinya pola interaksi trans-regional yang menembus batas-batas negara. Selain itu, teknologi internet juga mendorong lahirnya pola produksi dan penyebaran informasi serta ilmu pengetahuan yang baru. Dalam hal ini, internet telah menjadi kanal bagi beragam pandangan dan tata nilai yang juga membawa kita pada perdebatan mengenai hukum, etika dan moralitas baru yang semakin kompleks. Berbagai bentuk pandangan dan nilai-nilai yang sebelumnya berdiri secara ajeg seakan meluruh dan melebur menjadi satu di jagat internet.</p>
<p><span id="more-1764"></span></p>
<p><a href="http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Sejarah_Internet_Indonesia:Awal_Internet_Indonesia" target="_blank">Secara historis</a>, masyarakat Indonesia mulai mengenal teknologi internet sejak akhir tahun 1980-an. Upaya untuk membangun jaringan internet sudah dirintis sejak tahun 1986-1987, melalui serangkaian eksperimentasi penggunaan jaringan Bulletin Board System (BBS) yang terhubung dengan server BBS di seluruh dunia. Inspirasi awal pengembangan jaringan internet di Indonesia bermula dari kegiatan amatir radio yang dikembangkan oleh Amatir Radio Club (ARC) ITB pada sekitar tahun 1986. Bermodalkan pesawat Transceiver HF SSB Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama dan komputer Apple II milik Onno W. Purbo, sekitar belasan mahasiswa ITB berguru pada para senior amatir radio seperti Robby Soebiakto, Achmad Zaini dan Yos di band 40m. Disebutkan bahwa Robby Soebiakto merupakan pakar diantara para amatir radio di Indonesia, khususnya untuk komunikasi data radio paket yang dikembangkan ke arah TCP/IP.</p>
<p>Teknologi radio paket ini kemudian di adopsi oleh BPPT, LAPAN, UI dan ITB; sehingga bermuara pada pembentukan PaguyubanNet di tahun 1992 -1994. Pada periode ini penyedia jasa Internet Service Provider (ISP) mulai mengembangkan fasilitas internet di Jakarta melalui jaringan yang dikembangkan oleh IndoNet. Langkah ini kemudian diikuti dengan kemunculan para penyedia jasa ISP lainnya, sehingga jaringan internet di beberapa kota besar Indonesia dapat berkembang dengan pesat. Sampai tahun 1995, setidaknya sudah ada sekitar 10.000 pengguna internet di Jakarta, 1000 pengguna di Bandung dan 3000 pengguna di Surabaya. Secara perlahan teknologi internet mulai dimanfaatkan secara luas dan menjadi komponen penting yang mewarnai berbagai bentuk dinamika dan perubahan di masyarakat dalam skala yang sangat masif.</p>
<p>Sebagian pengguna internet di Indonesia mungkin cukup akrab dengan keberadaan mailing list (milis) <a href="http://www.library.ohiou.edu/indopubs/briefhistory.html" target="_blank">“Apakabar”</a> yang dimoderasi oleh John A. MacDougall sejak bulan Oktober 1990 s/d Februari 2002. Melalui milis ini, masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh dunia dapat saling berkomunikasi dan menyampaikan berbagai aspirasi politik mereka secara bebas. Situs internet, blog dan mailing list pada saat itu merupakan sarana komunikasi alternatif. Teknologi internet telah berhasil mencairkan dominasi kontrol media dan informasi di era rezim politik Orde Baru. Selanjutnya kehadiran teknologi internet ikut menunjang proses konsolidasi gerakan pro-demokrasi di Indonesia. Sampai bulan Februari 2002, milis ini setidaknya telah menampung sekitar 175.000 posting berbahasa Indonesia dan Inggris yang diakses oleh sedikitnya 250.000 pembaca dari 96 negara yang berbeda.</p>
<p>Meskipun telah digunakan secara luas oleh masyarakat, pemerintah Indonesia baru memiliki perangkat perundang-undangan yang mengatur penggunaan teknologi internet pada tahun 2008. Maraknya penggunaan teknologi internet ikut memicu kasus penipuan dan kejahatan internet (cyber crime), termasuk penyebaran konten pornografi di jagat virtual. Sebagai respon atas situasi ini, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang disahkan oleh Presiden Republik Indonesia dan diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM pada tanggal 21 April 2008. Selanjutnya pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi) yang disahkan dan diundangkan pada tanggal 26 November 2008.</p>
<p>Kemunculan kedua undang-undang ini memicu polemik tersendiri di masyarakat luas. Sebagian berpendapat bahwa kedua produk perundang-undangan ini telah mengebiri hak masyarakat untuk mengakses informasi dan pengetahuan secara bebas. Dalam klausul yang mengatur penyebaran konten digital di internet, pemerintah juga dinilai telah melampaui kewenangan mereka dengan menggunakan justifikasi moral dan kesusilaan. Lebih jauh, banyak pihak yang kemudian berpendapat bahwa UU ITE dan UU Pornografi juga berpeluang untuk menjadi instrumen kriminalisasi warga sipil oleh negara. Meskipun memancing polemik dan perdebatan di kalangan masyarakat sipil, pemerintah tidak bergeming dan bersikeras menerbitkan kedua undang-undang yang kemudian menuai kontroversi.</p>
<p>Tak lama setelah disahkan, anggota masyarakat yang menjadi korban kriminalisasi mulai bermunculan. Salah satu yang menonjol adalah kasus yang menimpa <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Prita_Mulyasari" target="_blank">Prita Mulyasari</a>. Peristiwa ini berawal dari keluhan Prita atas perawatan R.S Omni International yang menurutnya tidak profesional dan telah melakukan penipuan. Pesan ini dikirimkan melalui email kepada beberapa rekan Prita yang kemudian menyebar di beberapa milis tanpa sepengetahuan pembuatnya. Karena email ini, Prita diadukan atas kasus pencemaran nama baik melalui gugatan perdata dan pidana yang dilayangkan oleh R.S. Omni Internasional pada bulan September 2008. Dalam kasus ini, Prita dijerat pasal 27 ayat 3 UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), pasal 310 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik, serta pasal 311 KUHP tentang Fitnah. Setelah menjalani persidangan panjang yang melelahkan dan sempat keluar masuk penjara, Prita kemudian dibebaskan dari segala tuntutan. Hal ini terjadi berkat dukungan yang luar biasa dari masyarakat yang menggelar Gerakan Koin Keadilan Untuk Prita.</p>
<p>Kasus berikut yang menohok perhatian publik adalah gugatan yang menimpa Nazriel Irham alias <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nazril_Irham" target="_blank">Ariel</a>, vokalis dari kelompok musik Peterpan yang berasal dari kota Bandung. Dalam perkara ini Ariel dijerat 3 pasal sekaligus; yaitu pasal 29 UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi, pasal 27 UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta pasal 282 KUHP. Selain dituduh terlibat dalam pembuatan dan penyebaran video porno, Ariel juga didakwa sengaja dan tanpa hak mendistribusikan/ mentrasmisikan dan mengetahui/ membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan. Berbanding terbalik dengan kasus Prita Mulyasari, dalam perkara ini Ariel langsung disudutkan karena dianggap telah merusak moral bangsa.</p>
<p>Sejak awal penyidikan di Jakarta, tuntutan berbagai elemen masyarakat untuk menghukum Ariel datang silih berganti. Ariel kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan menyerahkan diri ke Mabes Polri pada tanggal 22 Juni 2010. Setelah menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Bandung selama hampir 2 bulan, Ariel dituntut hukuman 5 tahun dan denda sebesar Rp. 250 juta pada tanggal 6 Januari 2011. Meski tidak terbukti melakukan dakwaan yang diajukan, tekanan segelintir kelompok masyarakat terus berlanjut. Proses persidangan berjalan sangat alot. Pada tanggal 31 Januari 2011 majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung kemudian menetapkan vonis 3 tahun 6 bulan dan denda Rp. 250 juta. Dengan dalih telah merusak moralitas bangsa, beberapa ormas terus mengutuk Ariel dan menuntut pengadilan memberi hukuman yang lebih berat. Mereka bahkan menuntut vonis lebih daripada hukuman Gayus Tambunan, terpidana kasus korupsi dan manipulasi pajak yang terbukti telah merugikan negara.</p>
<p>Justifikasi moral dan kesusilaan dalam perkara Ariel semakin membuat kasus ini menjadi sumber perdebatan yang tidak berkesudahan. Alih-alih dapat menjerat pelaku penyebaran video porno di internet, penyelesaian kasus ini tampaknya semakin dekat dengan pepatah jauh panggang daripada api. Selain menjadi ajang kriminalisasi yang menjatuhkan banyak korban, muncul kecurigaan bahwa perkara ini telah dimanfaatkan untuk menutupi kasus lain yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari aparat hukum dan masyarakat luas. Dalam konteks ini justifikasi moral dan kesusilaan yang kerap didengungkan seakan telah kehilangan makna. Aparatus negara seakan telah melakukan pembiaran atas berbagai persoalan yang menggerogoti rasa keadilan masyarakat yang paling mendasar. Institusi hukum yang seharusnya menjadi salah satu pilar penyangga eksistensi negara dan masyarakat sipil di Indonesia saat ini seperti tengah dibajak menjadi arena yang dipenuhi oleh lelucon dan pertunjukan sirkus.</p>
<p>Barangkali saat ini kita juga perlu memahami bahwa media digital dan teknologi internet itu hanya sekedar alat. Selain mampu menyebarkan informasi dan pengetahuan yang dapat membentuk pemahaman dan nilai-nilai yang baru, teknologi internet juga dapat menjadi sumber persoalan yang membawa petaka. Sementara itu, perdebatan mengenai moralitas di kalangan masyarakat sipil seharusnya merupakan ajang negosiasi yang terbebas dari campur tangan negara. Intervensi aparatus negara terhadap pandangan moralitas dan kesusilaan hanya akan melahirkan korban yang menjadi tumbal konflik kepentingan. Di masa depan, teknologi internet akan semakin menjadi komponen yang vital bagi kehidupan kita. Idealnya negara dan masyarakat sipil dapat memberi perhatian pada persoalan yang lebih mendasar. Cita-cita Indonesia adalah menegakan keadilan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Persoalan mengenai internet, moralitas dan masyarakat sipil di Indonesia hanya dapat diurai dengan jernih apabila kita menggunakan nalar, akal sehat dan pengetahuan; bukan dogma dan moralitas palsu.</p>
<p>Kyai Gede Utama, 26 Januari 2011</p>
<p><em>**Tulisan ini diterbitkan dalam rubrik @Jejaring Harian Pikiran Rakyat (07/02/11)</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2011/internet-moralitas-dan-masyarakat-sipil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asyiknya, Merakit Synthesizer Secara Do It Yourself &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 14:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_3567.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Belasan anak muda tengah khusyuk menyolder satu per satu partikel dalam satu komponen untuk membuat sebuah synthesizer. Perkakas-perkakas elektronik mulai tercecer seperti PCI, PCB, solder, timah, gunting kabel, dan masih banyak lagi. Mereka bukan sedang mengikuti kuliah teknik elektronik. Akan tetapi, anak muda tersebut merupakan peserta workshop Merakit 8-Step Sequencer Synthesizer. Workshop ini merupakan rangkaian dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon.</p>
<p>Sejak pukul empat sore, para peserta tampak asyik merakit. Mereka dengan seksama memerhatikan instruksi dari mentor Evan (Storn). Evan sendiri dikenal sebagai perakit alat musik macam synthesizer, moog, efek gitar, dan sebagainya secara mandiri. Untuk kegiatan kali ini, Evan memberikan modul perakitan synthesizer secara sederhana. Piranti musik seperti sequencer synthesizer merupakan salah satu instrumen penting yang dapat menunjang para musisi elektronik untuk menciptakan musik sesuai dengan selera mereka. Alat ini sangat bermanfaat bagi para musisi dalam menciptakan tempo, nada dan harmoni. Selain kemampuan teknis dalam menggunakan sequencer, idealnya seorang musisi elektronik juga mengetahui seluk beluk dari piranti elektronik yang mereka gunakan.</p>
<p>Dalam workshop ini Evan memberikan panduan untuk merakit 8-Step Sequencer Synthesizer secara sederhana. Para peserta workshop akan diajak untuk menciptakan 8-Step Sequencer Synthesizer dengan beberapa fitur yang terdiri dari 1 knop tempo, 1 push button play/ stop, 1 knop tune, 8 step knop nada, 1 knop volume, 2 jack clock in/ clock out, dan 1 jack audio out.</p>
<p>Namun, Evan mengakui kerumitan dari workshop ini diluar bayangannya semula. Alhasil, dari sekian banyak peserta tak ada satupun yang berhasil membereskan synthesizer secara sempurna. Sementara, seperti yang diakui oleh salah seorang peserta, Reza Cahaya Pratama, mengaku bahwa persiapan teknis yang kurang siap serta temaramnya lampu menjadi salah satu alasan kenapa para peserta seolah gagap dalam menyelesaikan workshop.</p>
<p>Para peserta mengaku meski sulit dan rumit mengerjakan komponen tersebut, namun mereka mendapat pengalaman baru dan mengasyikkan seputar merakit alat musik. Menariknya, alat musik ciptaan mereka sendiri atau<em> do it yourself tools</em> tersebut bisa mereka miliki. Rencananya, setelah semua alat synthesizer milik peserta beres, akan diadakan sesi jamming menggunakan alat tersebut. Salah satu keunggulan 8-step sequencer synthesizer yaitu antara satu instrumen dengan instrument lainnya bisa dikombinasikan sehingga merangkai suara yang menarik. Asyiknya…</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/asyiknya-merakit-synthesizer-secara-do-it-yourself-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksistensi Pentas Musik Elektronik &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/eksistensi-pentas-musik-elektronik-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/eksistensi-pentas-musik-elektronik-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 13:26:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Electronic Music]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[OpenLabs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1400</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi Tulisan “As long as you stay with me you’re safe” terpampang dalam instalasi sebuah kursi dan gitar yang berada di area penonton. Kursi itu dilengkapi dengan selongsong bambu, sebuah harmonika, dan beberapa sobekan kertas. Para penonton mengernyitkan dahi melihat instalasi tersebut. Instalasi itu ditempatkan tak beda layaknya penonton. Diam dan statis. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/P1040069.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="639" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Tulisan “As long as you stay with me you’re safe” terpampang dalam instalasi sebuah kursi dan gitar yang berada di area penonton. Kursi itu dilengkapi dengan selongsong bambu, sebuah harmonika, dan beberapa sobekan kertas. Para penonton mengernyitkan dahi melihat instalasi tersebut. Instalasi itu ditempatkan tak beda layaknya penonton. Diam dan statis. Jumlah penonton yang tak begitu banyak memadati ruang Auditorium CCF Bandung itu terheran oleh penampilan musisi asal Perancis, Benjamin Laurent Aman. Mungkin hal itu dilakukan Benjamin untuk “memancing” apresiasi penonton, karena musik seni-derau (art-noise) yang dimainkannya sangat susah untuk diapresiasi oleh masyarakat awam.</p>
<p>Dalam penampilannya, ia tak hanya menyajikan musik seni-derau (art-noise) kepada penonton. Setiap kali musik menyala lampu venue berubah terang, sebaliknya ketika satu lagu telah selesai lampu pun kembali padam. Hal ini kontras dengan apa yang ditampilkan para band-band sebelumnya. Konsep matang yang memadukan instalasi rupa, suara, dan cahaya menjadi satu konsep tertentu yang ingin disampaikan oleh Benjamin Aman. Ia bermain seolah berada pada ruang suara dan cahaya yang mengitari seantero ruangan Auditorium. Ia bermain di mana cahaya dan suara adalah satu bentuk utuh dari suatu irama.</p>
<p><span id="more-1400"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/ed.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="279" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Penampilan Benjamin Laurent Aman di Bandung hadir untuk meramaikan konser Silent Zone in conjunction with The Ostend Emerge: an Openlabs Audio Compilation Launching Party. Sebelumnya musisi asal Perancis yang kerap berkarya di Jerman ini tampil pula dalam beberapa show-show kecil di Bandung seperti Pembukaan Pameran The Loss of the Real dan sebuah sesi kecil di Common Room Bandung.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_2821.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Konser ini dirayakan untuk menyambut rilisnya album kompilasi Openlabs. Sekitar delapan band elektronik hadir meramaikan launching tersebut. Openlabs sendiri merupakan komunitas musik elektronik di Bandung yang telah eksis sejak tahun 2007. Band-band pengisi konser pun berasal dari komunitas tersebut yang diantaranya yaitu Asturiaz, Bottlesmoker, Do Ear, Europe in de Tropen, Slylab, Space and Missile, text/tuRE, dan #KRESS. Acara ini pun dikolaborasikan dengan visual dari VJ-VJ Open Labs seperti  Diskjim, Admiral, 19ate6, dan Isha Hening.</p>
<p>Konser yang dimulai pukul tujuh malam itu memberikan eksistensi berarti bagi pegiat musik elektronik. Rilisnya album kompilasi bergenre elektronik boleh dikatakan ‘milestone’ bagi komunitas ini untuk memperlihatkan karya musiknya kepada khalayak banyak. Notabene musik-musik elektronik yang dimainkan oleh komunitas Openlabs berada di wilayah yang segmented. Band-band yang tampil dalam konser ini memiliki ragam warna karakter musiknya. Ada musik-musik elektronik dengan sentuhan downtempo dan shoegaze seperti Asturiaz dan Slylab, atau warna post-rock instrumental dari Space and Missile, electropop-nya Bottlesmoker dan Europe in de Tropen, electroglitch dari text/tuRE, hingga drum n bass dari #KRESS dan Do Ear.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/eksistensi-pentas-musik-elektronik-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu dan Ajar tentang Free &amp; Open Source &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 08:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[FOSS]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1397</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Mang Tahu Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. voila… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut. Salah satu project yang menggunakan software gratis ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/IMG_2549.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /><br />
<em>Foto Oleh Mang Tahu</em></p>
<p>Buat apa menggunakan software berbayar, jika ada yang gratis. Tinggal mencarinya di internet, mengunduhnya, menguliknya, dan .. <em>voila</em>… hasilnya tidak berbeda dengan software berbayar lainnya. Bahkan, tanpa perlu mengeluarkan uang, kita dapat maksimal untuk berkreasi dan dapat turut mengembangkan aplikasi di software tersebut.</p>
<p>Salah satu project yang menggunakan software gratis ini adalah <em>The Otuz: Screaming Graphic Novel Project</em> (<a href="http://www.theotuz.org/">http://www.theotuz.org/</a>), yang diinisiasi oleh Monty Aji, seniman dan desainer Screamous Clothing Indonesia (<a href="http://www.screamous.com/">http://www.screamous.com/</a>). Monty yang berbagi cerita pada Jumat (30/07) sore yang lalu di Common Room menekankan bahwa penggunaan software Open Source dapat diandalkan. Bahkan George Lucas pun menggunakan software Open Source untuk mengembangkan visual effect dalam beberapa filmnya.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/IMG_2558.jpg" border="0" alt="Photobucket" width="480" height="359" /><br />
<em>Foto Oleh Mang Tahu</em></p>
<p>Beberapa diantara software Open Source yang dapat dimanfaatkan untuk bidang desain grafis dan seni visual adalah Gimp (<a href="http://www.gimp.org/">http://www.gimp.org/</a>), Inkscape (<a href="http://www.inkscape.org/">http://www.inkscape.org/</a>), Blender (<a href="http://www.blender.org/">http://www.blender.org/</a>), Alchemy (<a href="http://al.chemy.org/">http://al.chemy.org/</a>), dsb. Asyiknya lagi, selain dapat diinstal pada sistem operasi perangkat lunak sumber terbuka (FOSS) semisal <a href="http://www.ubuntu.com/" target="_blank">Ubuntu</a>, semua software tersebut dapat diinstal pada sistem operasi berbayar (<em>proprietary</em>) seperti Windows ataupun Mac Os.  Namun, minimnya publikasi menyebabkan software tersebut belum banyak digunakan oleh masyarakat secara luas. Begitu pun dengan perguruan tinggi yang tidak mengajarkan penggunaan perangkat lunak sumber terbuka sebagai materi kuliah.</p>
<p>Selama ini mahasiswa dibiasakan untuk menggunakan software berbayar, sehingga kebiasaan ini dilanjutkan terus sampai pada masa pasca kuliah. Berangkat dari permasalahan ini, salah satu cara untuk mendekati masyarakat adalah dengan menyelenggarakan workshop penggunaan software Open Source yang dilengkapi dengan pameran karya. Diharapkan, masyarakat luas dapat lebih mengetahui keberadaan software Open Source dan dapat maksimal dalam mengembangkan potensi serta karya mereka.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/temu-dan-ajar-tentang-free-open-source-oleh-yasmin-kartikasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deklarasi Bandung demi Keterbukaan Informasi &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 08:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1384</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi Perkembangan teknologi informasi dan media baru merupakan jaringan yang tak bisa dihindarkan lagi dalam konteks masyarakat sipil dewasa ini. Namun, untuk memunculkan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil diperlukan suatu kolaborasi penting. Terutama menyoal kesepahaman bersama mengenai media baru dan teknologi informasi untuk menciptakan ruang baru dalam keterbukaan budaya, teknologi, dan lingkungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_4087.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Perkembangan teknologi informasi dan media baru merupakan jaringan yang tak bisa dihindarkan lagi dalam konteks masyarakat sipil dewasa ini. Namun, untuk memunculkan kesadaran kritis bagi masyarakat sipil diperlukan suatu kolaborasi penting. Terutama menyoal kesepahaman bersama mengenai media baru dan teknologi informasi untuk menciptakan ruang baru dalam keterbukaan budaya, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan.</p>
<p>Itulah garis besar dari pertemuan Expert Meeting Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Nu-Substance itu sendiri merupakan festival new-media yang diselenggarakan oleh Common Room Networks Foundation dan telah bergulir sejak tahun 2007. Pertemuan program Expert Meeting ini dihadiri oleh para praktisi media, aktivis, akademisi dari dalam dan luar negeri seperti Stephen Kovats (Transmediale, Jerman), Victoria Elizabeth Sinclair (Arcspace Manchester, Inggris), Atteqa Thaver Malik (Mauj Media Collective, Pakistan), Arthit Suriyawongkul (Thai Netizen Network &amp; Creative Commons Thailand), Catherine Candano (National University Singapore, Singapura), Mirwan Andan (Ruang Rupa, Jakarta), Venzha Christiawan (House of Natural Fiber, Yogyakarta) dan Gustaff H. Iskandar (Common Room, Bandung).  Expert Meeting ini adalah upaya untuk merumuskan sebuah wacana dalam bidang new-media dan teknologi informasi dengan menggunakan pendekatan dialog antar-budaya. Hal ini terlihat dari latar belakang para peserta yang berasal dari beragam wilayah.</p>
<p><span id="more-1384"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3999.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Hasil dari Expert Meeting tersebut melahirkan notulensi yang dideklarasikan pada Sabtu (24/7) di acara Artepolis yang bertempat di Gedung Museum Asia Afrika. Beberapa poin penting dalam deklarasi tersebut yaitu pentingnya akses untuk memperoleh informasi, jaringan, dan pengetahuan; penggunaan dan pengembangan open dan free technology; pluralisme dan kebebasan berekspresi dalam praktik artistik dan budaya, tanggung jawab terhadap lingkungan, hingga membangun praktik kekuatan masyarakat sipil melalui teknologi informasi.  Kurang lebih ada 22 poin penting dalam deklarasi yang juga ditandatangani para peserta konferensi.</p>
<p>Deklarasi ini ingin menyampaikan tentang pengetahuan dan informasi sebagai wadah utama untuk menyebarkan ekspresi-ekspresi artistik dan kebudayaan. Keberagaman ekspresi tersebut diharapkan dapat membuka mata masyarakat tentang pentingnya rasa toleransi dan pluralisme. Pentingnya keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan dialog antar-budaya menjadi hal yang paling krusial dalam mendorong perkembangan <em>new-media</em><em> </em>yang kian signifikan di lingkup Asia Tenggara.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3887.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Menurut Catherine Candano, khusus negara-negara Asia Tenggara keberadaan masyarakat sipil dipandang sangat lemah. Itu karena kebebasan berekspresi masyarakat sipil seringkali menjadi ancaman bagi pemerintah <em>status quo</em>. Hal itu membuat kebebasan berekspresi memiliki posisi yang sangat rentan karena ketatnya aturan dari pemerintah dalam mengontrol penggunaan internet.</p>
<p>Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Stephen Kovats bahwa pemerintah kerap kali impoten dan kurang tanggap dalam mengatur permasalahan wacana kebebasan berekpresi dan teknologi informasi.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_4057.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>“<em>Dengan adanya deklarasi seperti ini akan memperkuat kedudukan masyarakat sipil dalam mengembangkan teknologi informasi dan kebebasan berekspresi bagi masyarakat sipil secara bertanggungjawab,</em>” tutur Stephen Kovats.</p>
<p>Poin-poin penting tersebut merupakan kajian penting dalam kontelasi masyarakat sipil baik dalam konteks global maupun lokal. Deklarasi tersebut merupakan hasil rumusan selama satu minggu rapat dalam merancang kajian mengenai keterbukaan budaya, perkembangan teknologi, dan lingkungan berkelanjutan. Menurut Gustaff Harriman Iskandar, mobilitas, keterbukaan, dan konektivitas bisa tercapai melalui penggunaan spektrum media digital, teknologi komunikasi, dan praktik jaringan dalam masyarakat sipil dan mesti digunakan secara kritis.</p>
<p><em>*Artikel dimuat dalam Pikiran Rakyat Edisi 29 Juli 2010</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/deklarasi-bandung-demi-keterbukaan-informasi-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspresi Media Pengganti Kenyataaan &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 07:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Media Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Idhar Resmadi Perkembangan media tentu tak bisa dikesampingkan dalam ranah dunia seni kontemporer. Seiring perkembangan zaman, ia bisa menjadi pengganti “kenyataan” itu sendiri. Setidaknya inilah yang diperlihatkan dalam pameran The Loss of the Real di Selasar Sunaryo pada Minggu (18/7) lalu. Pameran berlangsung hingga tanggal 1 Agustus 2010. Pameran ini menyajikan beragam karya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3427.jpg" border="0" alt="" width="480" height="317" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>Perkembangan media tentu tak bisa dikesampingkan dalam ranah dunia seni kontemporer. Seiring perkembangan zaman, ia bisa menjadi pengganti “kenyataan” itu sendiri. Setidaknya inilah yang diperlihatkan dalam pameran The Loss of the Real di Selasar Sunaryo pada Minggu (18/7) lalu. Pameran berlangsung hingga tanggal 1 Agustus 2010. Pameran ini menyajikan beragam karya seni mulai dari instalasi, fotografi, video, lukisan, hingga audio (sound-art). Simak misalnya karya seniman Jepang, Daito Manabe yang berjudul “Face Visualizer”. Karyanya itu menampilkan ekspresi beragam wajah yang terkena sensor sehingga melahirkan ritma suara yang menarik. Atau karya fotografi dari Agan Harahap yang menampilkan citra Presiden Soeharto yang sedang duduk bersama Joker, tokoh karakter film Batman, dalam karya berjudul “Cendana, Jakarta 1967”. Tentu saja foto tersebut sudah didahului dengan rekayasa media fotografi.</p>
<p><span id="more-1380"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3429.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p>“<em>Sekarang ini kehidupan sehari-hari kita memang berdampingan dengan yang namanya media. Pemahaman kita tentang realitas pun bergeser dari kenyataan bendawi atau fisik kearah kenyataan yang dibentuk oleh media global semacam televisi dan internet</em>,” ujar kurator Agung Hujatnikajennong pada sesi artist talk Selasa (20/7).</p>
<p>Pameran ini memang mendokumentasikan perkembangan praktik seni media mutakhir. Karya-karya yang ditampilkan seolah terbebas dari dikotomi “media lama” atau “media baru”. Semua menjadi satu dalam pameran ini. Dalam pameran ini ditampilkan karya-karya dengan teknologi rendah dan analog berdampingan dengan karya-karya yang menggunakan pendekatan serba canggih dan digital. Karya analog yang paling banyak mengundang penasaran, misal, karya seniman Perancis Benjamin Laurent Aman yang menampilkan rekonstruksi Selasar Sunaryo dengan memajang dua pipa, satu vinyl, dan batu bata dalam karyanya “S.S. Stage (Reconstitution)”. Sangat jauh dari kesan digitalisasi. Uniknya, benda-benda tersebut “hanya” diperoleh dari riset dia di sekitar area Galeri Selasar. Karya lainnya adalah karya fotografi komunitas Bandung Oral History yang memotret lanskap Kota Bandung dengan kamera lubang jarumnya. Karya ini menjadi paradoks karena notabene kini memasuki era fotografi digital.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/_MG_3843.jpg" border="0" alt="" width="480" height="319" /><br />
<em>Foto Oleh Idhar Resmadi</em></p>
<p><em>“Bagi saya, media baru tak hanya tentang komputer atau digitalisasi. Akan tetapi, bagaimana kita bisa menampilkan ide dan bereksperimentasi didalamnya,</em>” ujar Benjamin Laurent Aman dalam wawancara dengan <em>Kampus</em>, Senin (26/7).</p>
<p><em>*Dimuat dalam Artikel Pikiran Rakyat Edisi 29 Juli 2010</em></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/ekspresi-media-pengganti-kenyataaan-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kondisi Ekologi Bandung Penuh Paradoks &#124; Oleh Idhar Resmadi</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 09:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel Salah satu kegiatan penting dalam Expert Meeting kali ini yaitu site visit (studi observasi) untuk meninjau secara langsung kondisi ekologis di Kota Bandung pada Kamis (22/7). Program site visit kali ini ditujukan untuk melihat kondisi penambangan kapur di daerah Citatah, Padalarang sekaligus meninjau situs purbakala Gua Pawon yang dipandu oleh Budi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4392.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Salah satu kegiatan penting dalam Expert Meeting kali ini yaitu site visit (studi observasi) untuk meninjau secara langsung kondisi ekologis di Kota Bandung pada Kamis (22/7). Program site visit kali ini ditujukan untuk melihat kondisi penambangan kapur di daerah Citatah, Padalarang sekaligus meninjau situs purbakala Gua Pawon yang dipandu oleh Budi Brahmantyo dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Selain meninjau daerah Bandung Barat, kegiatan site visit juga mengeksplorasi wilayah Bandung Utara untuk melihat dari dekat fenomena eksploitasi lingkungan dalam bentuk pembangunan perumahan dan villa yang merusak kualitas lingkungan sekitar daerah tersebut.</p>
<p>Site visit kali ini juga merupakan bagian dari program kajian environmental sustainability (lingkungan berkelanjutan) dalam kegiatan Nu-Substance Festival 2010: Floating Horizon. Setahun sebelumnya Nu-Substance Festival meninjau kondisi ruang perkampungan padat yang terletak di jantung kawasan urban kota Bandung, yaitu lingkungan Kampung Babakan Asih. Gambaran yang mengkhawatirkan ketika secara langsung mengunjungi wilayah Citatah yang terletak di daerah Padalarang adalah kegiatan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam yang sekaligus mengancam warisan situs purbakala yang letaknya berdampingan dengan wilayah penambangan batu kapur.</p>
<p><span id="more-1369"></span></p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4356.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Dalam kunjungan kali ini bukan hanya eksploitasi terhadap sumber daya alam saja yang terungkap, tetapi juga kondisi para pekerja yang dibayar dengan harga yang sangat murah di tengah lingkungan kerja yang sangat buruk. Para peserta Expert Meeting sempat bertemu dan mewawancarai dua pekerja kasar yang usianya di atas 60 tahun. Keduanya hanya dibayar Rp. 10.000,- sehari untuk 100 karung kapur yang berhasil mereka kumpulkan setiap hari. Kebanyakan para pekerja yang ada juga diharuskan bekerja layaknya orang kantoran dari pagi hingga petang.</p>
<p>Eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlebihan tampaknya merupakan cerminan dari lemahnya kebijakan yang dapat mewujudkan pola relasi yang ideal antara pemerintah, pengusaha, pekerja, dan sumber daya alam yang kita miliki. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai persoalan lingkungan semisal polusi udara, krisis air bersih, hingga ancaman penyakit pernafasan di kalangan masyarakat. Belum munculnya kesadaran yang baik pada sebagian besar masyarakat kita merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi upaya untuk mewujudkan gagasan mengenai lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia.</p>
<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4371.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /><br />
<em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Setelah melihat kondisi penambangan kapur, para peserta kemudian diajak untuk mengunjungi situs Purbakala di Gua Pawon yang letaknya tak jauh dari lokasi penambangan kapur. Sungguh ironis bagaimana situs purbakala yang semestinya dilestarikan saat ini kondisinya tengah terancam akibat adanya eksploitasi penambangan kapur yang dilakukan secara membabi buta.</p>
<p>Menginjak sore hari peserta diajak untuk meninjau kondisi lingkungan di wilayah Bandung Utara. Selama ini wilayah tersebut dikenal sebagai wilayah respirasi (resapan) air di Kota Bandung. Namun sedikit demi sedikit wilayah ini terancam dengan kehadiran rumah-rumah dan villa-villa yang menggerus kondisi lingkungan di wilayah tersebut. Hal ini dapat dikatakan telah menjadi salah satu penyebab krisis air bersih di kota Bandung. Kota Bandung dikenal sebagai wilayah yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga seringkali mengakibatkan surplus air atau banjir di beberapa wilayah. Paradoksnya, saat ini beberapa wilayah di kota Bandung juga tengah mengalami krisis air bersih atau defisit air.</p>
<p>Selanjutnya peserta juga diajak menuju kawasan Gunung Tangkuban Parahu. Saat ini kawasan Gunung Tangkuban Parahu tengah menghadapi upaya komersialisasi dan privatisasi. Hal ini menjadi persoalan tersendiri dan mengancam aspek pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan ketika kawasan yang semula dikenal sebagai hutan lindung berubah fungsi menjadi kawasan komersial yang hanya menguntungkan kelompok tertentu saja.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/kondisi-ekologi-bandung-penuh-paradoks-oleh-idhar-resmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelombang dalam Ruang Kebersamaan &#124; Oleh Yasmin Kartikasari</title>
		<link>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/</link>
		<comments>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 12:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idharrez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Free Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://commonroom.info/?p=1353</guid>
		<description><![CDATA[Foto Oleh Addy Gembel Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut Expert Meeting hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i929.photobucket.com/albums/ad133/idharrez/DSC_4135.jpg" border="0" alt="" width="480" height="318" /></p>
<p><em>Foto Oleh Addy Gembel</em></p>
<p>Pukul sebelas siang, suasana di Bale Handap, Selasar Sunaryo pada Rabu (21/7) terasa segar dan sejuk untuk menyambut <em>Expert Meeting</em> hari ketiga. Ditambah kopi dan teh hangat, suasana mendukung untuk melakukan perbincangan yang hangat dan renyah. Tak urung, Atteqa Malik dari Mauj Media Collective, Pakistan pun memulai sesi. Sebelum bercerita tentang Mauj Media Collective, Atteqa bercerita  sedikit mengenai kondisi di Pakistan. Bagaimana huru-hara yang terjadi di Pakistan belakangan ini, sedikit banyak memang mempengaruhi kebiasaan, dan kultur keseharian mereka. Termasuk pada perilaku berorganisasi Mauj itu sendiri.</p>
<p>Mauj sendiri memilik dua arti. Arti yang pertama adalah gelombang (wave). Seperti gelombang yang tidak ada artinya tanpa keberadaan laut, begitu juga dengan seseorang yang menjadi kecil/lemah jika  sendirian, namun menjadi kuat bila bergabung dengan yang lain. Prinsip itulah yang menjadi pegangan Mauj dalam berorganisasi. Arti yang kedua adalah &#8216;to have fun&#8217;, dimana  Mauj menjadi wadah bagi tiap orang untuk berekspresi, termasuk dalam pembuatan film, video, digital art, kartun, dll.</p>
<p><span id="more-1353"></span></p>
<p>Ada yang menarik dari strategi Mauj dalam melakukan aktifitas mereka. Dalam mengumpulkan publik, termasuk media, mereka hanya mengirimkan informasi singkat lewat sms, yang berisi mengenai keterangan tempat dan waktu berkumpul. Di waktu yang telah ditentukan, aksi pun digelar, dan tepat sejam kemudian, aksi berakhir. Semua berjalan dengan cepat dan efisien.</p>
<p>Begitu pun dalam pengadaan suatu acara. Kondisi birokrasi yang rumit, menjadikan Mauj membuat alternatif lain untuk menyebarluaskan acara-acaranya. Salah satunya adalah melalui media internet. Seringkali, acara yang dilangsungkan hanya mengundang segelitir orang saja, namun suasana dan kegiatan acara direkam, lalu disebarkan melalui internet agar masyarakat luas dapat mengaksesnya juga.</p>
<p>Ternyata, tidak hanya urusan birokrasi yang mirip dengan Indonesia, di ranah politik pun terdapat kemiripan, yaitu kaum pebisnis yang memasuki dunia politik. Alhasil, bidang perekonomian selalu mendapat perhatian utama dan khusus dalam kenegaraan. Namun, sama halnya dengan di Indonesia, kekuatan masyarakat terus menyala. Komunitas-komunitas kecil akan selalu ada untuk mengkritisi hal-hal sosial, dan melakukan aksi untuk memperbaiki diri dan lingkungan. Semangat inilah yang membuat komunitas dan kelompok kecil selalu ada untuk memperbaiki kondisi di sekitarnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Common Room di Bandung. Berdiri 2003 (sebelumnya adalah Bandung Centre for New Media Art, 2001), hingga kini Common Room intens untuk melakukan kegiatan sosial, penyebaran ilmu pengetahuan, maupun pemetaan komunitas, dimana teknologi menjadi alat untuk menyebarkan pengetahuan.</p>
<p>Di Bandung sendiri telah terjadi degradasi kualitas lingkungan kota. Jika dulu Bandung dikenal sebagai kota dengan suasana yang nyaman, aman, dan segar, tidak demikian dengan sekarang. Struktur kota yang semrawut, minimnya sarana dan prasarana, seperti menunjukkan sosok yang tidak siap mengalami perubahan yang begitu cepat. Semua diserap, tanpa adanya penyaringan. Berlandaskan hal itulah, Common Room melandaskan gerakannya pada aktivitas di seputar seni, budaya, dan pemanfaatan ICT/Media, sebagai dasar untuk mengupayakan perubahan sosial, menghimpun kekuatan masyarakat, dan kegiatan penelitian untuk mendorong terjadinya mekanisme produksi informasi dan pengetahuan.</p>
<p>Untuk mendorong perubahan sosial di lingkungan sekitarnya, pada tahun 2008 Common Room pun ikut memfasilitasi kegiatan komunitas warga Babakan Asih yang aktif melakukan perbaikan kualitas lingkungan mereka sejak beberapa sejak kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Daerah Babakan Asih yang sebelumnya kerap terkena musibah banjir tahunan, saat ini telah berhasil membuat sistem sumur penampungan yang mampu mengalihkan air hujan dengan cepat. Banjir yang biasa berminggu-minggu terjadi di sekitar lingkungan mereka, saat ini hanya membutuhkan waktu maksimal 30 menit untuk surut.</p>
<p>Tidak hanya itu, bekerja sama dengan Solidaritas Independen Bandung (SIB), Common Room melakukan aksi penanaman pohon di sekitar Gunung Manglayang, Ujungberung, sebagai bentuk kepedulian akan krisis air yang terjadi di daerah Ujungberung. Kegiatan ini rencananya akan diulang kembali pada akhir Agustus depan. Belajar dari dua organisasi tersebut, terdapat kemiripan walau berbeda Negara dan Bahasa. Mereka sama-sama menyuarakan aspirasi publik dan bergerak untuk kebaikan bersama. Persoalan apapun yang dihadapi, akan terlewati jika kebersamaan yang dipegang.</p>
<p><strong>Rumah Serat dari Jogja</strong><br />
Sesi kedua dilakukan setelah sesi makan siang yang santai dan hangat. Selesai makan, Venzha dari House of Natural Fiber (HONF), mulai mempresentasikan mengenai HONF dan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dengan logat Jawa yang kental dan khas, serta pembawaannya yang santai, presentasi berjalan alon, asal kelakon. HONF sendiri berdiri tahun 1999, dengan semangat berkarya bagi pengembangan diri para personilnya. Namun dalam perjalanannya, HONF banyak berkolaborasi dengan berbagai pihak. Berbeda dengan Common Room, HONF sering bekerja sama dengan akademisi, khususnya UGM. Salah satu yang pernah dikerjakannya adalah mencari solusi untuk kasus Congek yang pernah terjadi pasca Gempa, di tahun 2005 yang lalu. Dalam project ini, HONF menggabungkan antara DNA dengan karya seni.</p>
<p>Nama HONF sendiri diambil dari semangat berkolaborasi dan membentuk jejaring seluas-luasnya. Itulah yang menyebabkan Venzha memilih Fiber untuk mewakilkan semangat kebersamaan tersebut. Hingga kini, HONF memiliki 7 pegawai tetap, dan puluhan relawan untuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan tahunan, seperti Yogyakarta International Media Art Festival dan Yogyakarta International Videowork Festival.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://commonroom.info/2010/gelombang-dalam-ruang-kebersamaan-oleh-yasmin-kartikasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

