Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • blauloretta 5:15 am on November 25, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Sedikit Catatan dari Kunjungan ke YCAM** 

    YCAM Building

    Selepas dari Kyoto, saya dan Yap Sau Bin melanjutkan perjalanan ke Fukuoka untuk menghadiri program The 4th Asian Museum Curator’s Conference. Namun sebelum langsung menuju Fukuoka, kami memutuskan untuk singgah di kota Yamaguchi dan mengunjungi Yamaguchi Center for Art and Media (YCAM). Lembaga ini didirikan pada tahun 2003 dan menjadi wadah bagi berbagai kegiatan pertunjukan, pameran, pemutaran film, kuliah umum, diskusi, serta riset dan pengembangan di bidang seni, teknologi dan media. Dirancang oleh Arata Isozaki, selain memiliki fasilitas galeri, ruang pertunjukan pertunjukan dan bioskop mini, gedung YCAM juga dilengkapi dengan perpustakaan umum yang memiliki koleksi buku, film, serta CD dengan topik yang bermacam-macam.

    Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger & Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)

    Ketika kami mengunjungi YCAM, lembaga ini tengah menyelenggarakan perayaan ulang tahun yang ke-5. Untuk kegiatan ini, YCAM menyelenggarakan sebuah pameran dengan judul “Minimum Interface“, yang menampilkan karya dari Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger, Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)/Akihiro Kubota /LEADING EDGE DESIGN/Zachary Lieberman, dan Theodore Watson/Daan Roosegaarde/SHINCHIKA/Chris Sugrue/Shunsuke Takawo. Salah satu karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah reacTable yang beberapa waktu kebelakang banyak menarik perhatian khalayak internasional sejak digunakan dalam tur konser Björk untuk album Volta.

    Selain melihat pameran dan meninjau beberapa fasilitas di YCAM, kami juga sempat berbincang-bincang dengan Kazuano Abe (Chief Curator) dan Miki Fukuda (InterLab Manager). Kazuano Abe mengungkapkan kebijakan kuratorial di YCAM yang berupaya untuk menampilkan karya-karya yang memanfaatkan perkembangan teknologi, eksperimentasi dan kolaborasi bagi berbagai bentuk ekspresi artistik dalam pengertian yang sangat luas dan beragam. Untuk beberapa proyek khusus, YCAM biasanya mengundang seniman untuk bekerja dan mengembangkan karya mereka di InterLab, salah satu fasilitas yang dimiliki oleh YCAM. Miki Fukuda menjelaskan keberadaan InterLab merupakan salah satu fasilitas yang penting di YCAM. Di laboratorium ini, para seniman yang terlibat dalam kegiatan YCAM dapat melakukan eksperimentasi dan kolaborasi yang ditunjang dengan fasilitas dan sumberdaya manusia yang memiliki keahlian yang sangat beragam.

    Program pendidikan untuk publik di YCAM

    Karena berbagai program dan kegiatan YCAM didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah Yamaguchi, maka pihak YCAM juga memiliki kewajiban untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang dapat diakses oleh masyarakat di kota Yamaguchi. Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang penting adalah program edukasi publik yang memungkinkan masyarakat setempat untuk mempelajari dan mengapresiasi berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh YCAM dari dekat. Salah satunya adalah kegiatan kunjungan rutin murid sekolah dasar agar dapat mengapresiasi perkembangan di bidang seni, pengetahuan dan teknologi secara langsung.

    Menurut Miki Fukuda, rencana untuk mendirikan YCAM di Yamaguchi sebetulnya sudah dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu. Waktu itu, walikota Yamaguchi merasa perlu untuk mengembangkan sebuah kebijakan strategi kebudayaan kota Yamaguchi yang memanfaatkan perkembangan di bidang teknologi informasi. Selama 20 tahun, gagasan ini menjadi sumber perdebatan dan polemik, karena banyak pihak yang meragukan manfaat langsung dari kebijakan ini. Baru pada tahun 2003 rencana ini kemudian diimplementasikan ketika YCAM didirikan sebagai sebuah lembaga yang mengambil fokus pada kegiatan kebudayaan dan teknologi.

    Setelah 5 tahun berselang, saat ini banyak anggota masyarakat yang mulai melihat manfaat langsung dari YCAM. Melalui berbagai kegiatan yang dikembangkan oleh YCAM, kota Yamaguchi kemudian memiliki reputasi yang cemerlang di bidang perkembangan budaya kontemporer dan teknologi. Selain itu, kota ini juga berhasil meraih reputasi di level internasional yang membuat kota Yamaguchi memiliki daya tarik tersendiri. Kembali menurut Miki Fukuda, beberapa tahun kebelakang generasi muda kota Yamaguchi yang sebelumnya pindah ke kota lain mulai kembali dan mengembangkan berbagai kegiatan mereka di kota ini. Dalam hal ini, keberadaan YCAM tampaknya telah berhasil melahirkan kembali energi kreatifitas kota Yamaguchi.

    ** Untuk laporan lengkap dari kegiatan kunjungan ke Jepang, silahkan kunjungi blog dengan alamat http://visitingjapan.wordpress.com.

     
  • blauloretta 3:52 am on October 12, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Perlukah Perlindungan HKI? 

    Dalam sebuah sebuah mailing list, pembicaraan mengenai HKI kembali mengemuka terkait dengan wacana mengenai perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Sebagian pihak berpendapat kalau karya intelektual mutlak harus diproteksi agar para pencipta bisa mendapatkan insentif dari karya mereka. Saya kok malah berpendapat sebaliknya ya? Sejak semula saya sebetulnya termasuk orang yang tidak terlalu tertarik dengan konsep HKI. Dalam beberapa aspek rasanya memang diperlukan tetapi tidak semua karya intelektual menurut saya harus diproteksi. Bagi mereka yang percaya bahwa informasi dan pengetahuan seharusnya menjadi hak dasar yang idealnya bisa diakses secara terbuka oleh orang banyak sebagai wahana pemberdayaan, konsep tentang HKI tentu saja menjadi gagasan yang kontra produktif.

    Isu HKI menurut saya juga masih menjadi dilema di Indonesia karena apabila dilihat dari aspek tradisi dan latar belakang budaya, masyarakat Indonesia tidak mengenal konsep perlindungan hak kekayaan intelektual. Bagi sebagian masyarakat tradisi, seniman dan intelektual memiliki fungsi tertentu di dalam masyarakat. Hal ini juga berlaku bagi berbagai karya yang dihasilkan oleh para seniman, pengrajin atau penulis yang biasanya membiarkan karyanya berada di tataran domain publik sehingga bisa diakses, direproduksi dan disebarkan sendiri sesuai dengan keperluan masing-masing.

    Di Indonesia kita juga mengenal konsep “kagunan” atau darma sebagai “rights and duties of each individual“, yang menjelaskan posisi seniman atau intelektual sebagai sumber inspirasi pengetahuan bagi masyarakatnya. Tidak mengherankan apabila misalkan bagi sebagian seniman dan pengrajin tradisional di Bali, masyarakat dibebaskan untuk mereproduksi dan menyebarkan karya seni ataupun kerajinan yang dihasilkan untuk kepentingan bersama. Hal ini kurang lebih senada dengan konsep kagunan atau darma tadi. Namun sayangnya konsep mengenai kagunan atau darma kemudian harus berseberangan dengan gagasan tentang HKI seperti yang kita lihat pada kasus ditangkapnya seorang pengrajin di Bali karena dituduh membajak desain karya kerajinan sebuah perusahaan asing yang kebetulan memproteksi sebuah karya desain kerajinan perak Bali yang sudah turun temurun diwariskan di kalangan masyarakat Bali.

    Info tentang hal ini bisa dibaca di halaman http://kompas.com

    Dalam perkembangan teknologi digital dan kultur media, persoalannya agak berbeda ketika saat ini melalui teknologi digital kebanyakan orang memiliki kemudahan untuk menduplikasi (copy), memodifikasi (sampling) dan menyebarkan (distribute) data digital secara bebas. Tidak mengherankan sempat ada perdebatan di kalangan pengguna internet perihal gagasan untuk memproteksi penyebaran mp3 di jagat maya. Tampaknya mau tidak mau harus diperhatikan kalau isu HKI sebetulnya tidak begitu populer di kalangan pengguna internet, walaupun ada banyak produsen seperti Microsoft yang berkeras untuk memproteksi produk mereka dari pembajakan dan penggunaan secara ilegal.

    Terkait dengan perkembangan teknologi digital dan kultur media, tampaknya perlindungan HKI akan terus menjadi bahan perdebatan dan menimbulkan pro-kontra. Saya sendiri sebetulnya belum mengenal konsep HKI yang dikembangkan di Indonesia secara mendalam. Tapi dalam sebuah konferensi yang berjudul “Contested Common/ Trespassing Publics” yang diselenggarakan oleh Sarai Media Initiative pada tahun 2005 di New Delhi, secara eksplisit dinyatakan kalau penerapan HKI di beberapa negara berkembang telah melahirkan konflik dan persoalan di tengah-tengah masyarakat luas.

    Info mengenai konferensi di atas bisa diakses di http://www.sarai.net

    Barangkali kasus yang bisa dijadikan contoh adalah masalah benih jagung yang dikembangkan oleh Monsanto, sebuah perusahaan agrikultur yang harus berurusan dengan banyak kasus lingkungan dan kesehatan sehingga menjadi bulan-bulanan para aktifis lingkungan dan penentang arus globalisasi. Dalam hal ini barangkali kita perlu juga mendengarkan pandangan yang menyatakan kalau HKI sebetulnya merupakan perpanjangan dari budaya korporasi dan merepresentasikan kepentingan negara maju atau para pemilik modal untuk mengontrol mekanisme produksi informasi dan pengetahuan di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Dalam hal ini saya tidak serta merta menentang HKI. Tapi menurut saya kita perlu kritis dan agak berhati-hati dalam memperkenalkan konsep HKI kepada masyarakat.

    Ada kasus menarik dari penyelenggaraan Nu-Substance Helar Festival 2008 yang telah lalu di Bandung. Dalam sebuah sesi presentasi karya software, ada seorang peserta bernama Arry Ardiansyah (http://aradaz.blogspot.com/) yang membuat VST plugin dan membagikan karyanya secara cuma-cuma melalui blog pribadinya. Dalam diskusi dia menyatakan kalau pengguna VST plugin yang dia buat saat ini kurang lebih telah mencapai 20.000 pengguna di seluruh dunia. Untuk Arry, keputusan untuk menyebarkan VST plugin secara gratis terutama disebabkan oleh persoalan etika karena pada dasarnya VST plugin yang dia bikin menggunakan software bajakan dan sumber kode yang dibuat oleh orang lain. Semua sumber kode yang dia gunakan untuk membangun VST plugin ia dapat melalui jaringan internet.

    Yang menarik, dengan menyebarkan VST plugin secara gratis, ia juga kemudian mendapat banyak kesempatan untuk berkolaborasi dengan sesama pengembang software di seluruh dunia. Menurut pengakuannya, walau bisa diunduh gratis, dia bisa tetap mendapatkan insentif dari karya VST plugin yang dia buat dengan mendapatkan uang hasil pemasangan google adsense di blog pribadinya. Hal ini menurut saya setidaknya mencerminkan bagaimana teknologi digital dan kultur media telah melahirkan relasi konsumsi-produksi yang baru, dimana setiap pengguna informasi dan pengetahuan di internet dapat bekerjasama alias berkolaborasi untuk menghasilkan karya secara bersama-sama.

    Informasi ini menurut saya tentu saja secara gamblang juga memperlihatkan kalau saat ini perkembangan teknologi internet dan kultur media telah melahirkan sebuah formula baru dalam bisnis kreatif. HKI bukan satu-satunya cara untuk memproteksi karya intelektual sehingga seorang pencipta bisa mendapatkan insentif dari karya yang mereka buat. Ada aspek-aspek lain seperti teknologi, kultur dan etika yang juga bisa dikedepankan untuk menghargai karya intelektual seseorang. Oleh karena itu, saya merasa kita perlu untuk memilah-milah secara teliti untuk mengaplikasikan HKI, terutama dalam kaitannya dengan mekanisme produksi dan distribusi informasi maupun pengetahuan di Indonesia.

    Tokyo, 12 Oktober 2008

    Gustaff H. Iskandar

    * Mari terlibat dalam pembicaraan mengenai HKI dalam forum diskusi berikut:

    >Multiply

    >Facebook

     
    • kimun666 3:00 am on October 29, 2008 Permalink

      haki teh eur kepentingan industri kan..? lain keur kepentingan seniman..?

      bebaskan!

  • blauloretta 5:32 am on July 10, 2008 Permalink | Reply  

    Olee – Sebuah Karya Kolaborasi Lintas Benua 

    Photobucket
    * Olee (Customized by Jimmy Foo)

    Sejak CAPO exhibition tahun lalu, demam urban toys melanda para pekerja kreatif di Bandung. Sebenarnya sejak dulu mereka sudah menjadi kolektor urban toys, tetapi eksibisi CAPO mendorong sekelompok orang untuk mulai menghasilkan mainan mereka sendiri. Sebut saja Marine, pemilik toko clothing Monik. Akhir-akhir ini dia sering terlihat berkutat di dapur rumahnya, menekuni karakter yang ia bangun bersama-sama teamnya.

    Baru-baru ini Marine mempublikasikan karakter baru yang diberi sentuhan personal oleh salah seorang ‘customizer’ handal di dunia urban toys bernama Jimmy Foo, yang saat ini berdomisili di Inggris. Gambar dua dimensi Olee sendiri dibuat oleh designer grafis dari Australia, Francz Varga, yang membuat desain dua dimensi Olee setelah bentuk prototype ada di tangannya. Yang lebih unik lagi, kedua orang inilah yang menawarkan diri untuk mengerjakan hal-hal tersebut setelah melihat foto-foto Olee yang diterbitkan di forum-forum urban toys. Perkenalan ketiga orang penggemar urban toys ini pun terjadi lewat forum di dunia maya.

    Proses pembuatan Olee sendiri tergolong unik. Awalnya Marine sedang ditengah-tengah proses pembuatan karakternya bernama Jouwe, seekor badak bercula satu. Setelah berminggu-minggu proses pembuatan prototype Jouwe, kebosanan melanda Marine dan Dira, pematung yang membantu Marine dalam proses ini. Mereka ingin mengerjakan sesuatu yang berbeda untuk menyegarkan pikiran. Di satu siang yang terik, tukang kebun di halaman rumah Marine yang bernama Mang Ulee, iseng-iseng membuat patung-patungan. Bentuknya: bulat dengan dua kuping. Melihat potensi bentuk geometrik yang dihasilkan Mang Ulee, Marine dan Dira memutuskan untuk mengembangkan bentuk ini lebih lanjut.

    Gue dan Dira mengolah bentuk kuping Olee dan memberi sepasang kaki buat Olee. Olee adalah hasil kerja team; Ulee, Dira, gue dan Francz Varga”, tutur Marine. Akhirnya jadilah sebuah Olee, yang namanya diambil dari nama Mang Ulee. Sebuah hasil karya yang dibuat secara spontan tanpa desain dua dimensi terlebih dahulu. Francz Varga pertama kali tertarik membuat desain dua dimensi Olee karena ia menyukai bentuk dan sentuhan Olee. Ia melihat bentuk yang sangat spesial dalam diri Olee dibandingkan mainan-mainan platform yang ada di pasar urban toys (ket: mainan platform biasanya dijual dalam keadaan kosong, belum terolah; sebutan lain mainan platform: mainan DoItYourself).

    Alasan serupa dikemukakan oleh Jimmy Foo saat ia ditanya apa yang membuatnya tertarik untuk meng-custom Olee, “It has an odd mix of animal features and a simple geometric shape. This is the first time I’ve seen this combination done so successfully”. Terlebih lagi, menurut Jimmy Foo, keindahan dari bentuk figure seperti ini memungkinkan ruang yang luas bagi para artist untuk mengubah-ubah sesuai keinginan personal si seniman. Marine tidak mencoba memaksakan sebuah karakter yang siap jadi, melainkan ia memberi bidang bagi sebuah proses penciptaan yang berawal dari ide para seniman.
    Ada banyak figur yang diciptakan secara khusus untuk diubah secara personal dan figur-figur tersebut dinamakan figur ‘DIY’ (Do It Yourself). Tetapi, dari pengalaman Jimmy Foo, ia seringkali menemukan figur-figur semacam itu terlalu kosong atau kalau tidak, mereka sebenarnya hanyalah sebuah bentuk berwarna putih dari figur yang telah ada. Berbeda dengan Olee yang menawarkan sebuah rasa kolaborasi antara customizer dengan para seniman pencipta karakter.

    Konsep kolaborasi yang ditawarkan Olee adalah refleksi dari penciptanya. Marine percaya bahwa sebuah hasil karya seni seharusnya melibatkan sebuah team. Sebuah candi bisa dapat berdiri tegak berkat kerja banyak orang. “Di Indonesia tenaga kerja murah, banyak orang butuh kerjaan sedangkan tawaran kerja terbatas. Jadi, kenapa tidak menjalankan proyek-proyek yang melibatkan beberapa orang?” tegasnya.

    Saat ini telah 20 buah Olee diubah oleh Yunis Kartikasari, seorang seniman yang juga berdomisili di Bandung. Selain Jimmy Foo dan Yunis, ada beberapa seniman yang menunggu untuk memberi sentuhan personal mereka atas Olee. Francz Varga sendiri tidak berhenti di gambar dua dimensi untuk Olee. Saat ini ia sedang menyiapkan kemasan bagi Olee. Kerjasama yang unik antara team Olee di Bandung dengan para seniman di belahan dunia lain ini bisa terjadi berkat teknologi internet yang telah menjadi makanan rutin bagi Marine. Figur mainan urban, Olee, telah memberi angin segar bagi dunia kreatif di Bandung. Proses pembuatan maupun faktor-faktor pendukung marketing Olee sangat memanfaatkan teknologi komunikasi yang berkembang saat ini.

    Dame Christina

    ** Silahkan kunjungi http://www.mytummytoys.com untuk informasi update mengenai Olee.

     
  • blauloretta 3:22 am on May 14, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Common Room Update | Mei 2008 

    Pada tanggal 27 – 28 April 2008, Common Room menerima kunjungan Ita Amahorseija dari Anna Frank Foundation (NL). Rencananya Common Room akan menjalin program kerjasama dengan Anna Frank Foundation di sepanjang tahun 2008 – 2009. Beberapa kegiatan yang direncanakan adalah penyelenggaraan pameran mengenai kehidupan Anna Frank, pemutaran film Freedom Writers, workshop sejarah oral, dan penelitian mengenai situasi perang dunia ke-2 di kota Bandung. Perwakilaan dari Common Room bersama Bandung Creative City Forum kemudian diundang untuk menghadiri pertemuan di Auditorium Rosada yang bertempat di Balai Kota Bandung pada tanggal 2 Mei 2008.

    Acara ini diselenggarakan oleh sekertaris daerah (Sekda) pemerintah kota Bandung dan dihadiri oleh Walikota Bandung beserta jajaran pegawai pemerintahan, beberapa perwakilan dari institusi non pemerintah, wartawan dan pelaku dunia usaha di kota Bandung. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari beberapa pertemuan yang melibatkan Bappeda Kota Bandung dengan Bandung Creative City Forum selama beberapa waktu terakhir. Dalam kesempatan ini Ir. H. Ridwan Kamil, M. Ur. D. (URBANE/ Bandung Creative City Forum) pemaparan beberapa uraian mengenai perkembangan ekonomi kreatif dan kaitannya dengan pengembangan kebijakan dan pembangunan infrastruktur kota.

    Teman-teman Ujungberung Rebels menyelenggarakan konser dangdut electone yang menampilkan duo Hana & Kang Dani yang berkolaborasi dengan Jimbot pada tanggal 4 Mei 2008. Dalam kesempatan ini selain pertunjukan yang heboh dari Hana, Jimbot juga ikut menyemarakan suasana melalui permainan kendang yang sangat mantap. Klub Linux Bandung bekerjasama dengan Common Room menyelenggarakan Ubuntu Hardy Heron Release Party pada hari Sabtu, tanggal 10 Mei 2008. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk memperkenalkan penggunaan software open source di kalangan masyarakat luas, khususnya para pengguna Ubuntu.

    Selain memperkenalkan sekaligus menyebarkan CD Ubuntu 8.04 (Hardy Heron), kegiatan ini juga diisi dengan acara diskusi yang membahas agenda pemberdayaan teknologi informasi untuk mendukung berbagai sektor kehidupan masyarakat di kota Bandung. Diskusi ini dipandu oleh Agung Prasetyo dari Pusat Pemberdayaan Open Source Software ITB (POSS – ITB) dan melibatkan Gustaff H. Iskandar selaku perwakilan dari Common Room, Rendy Maulana selaku perwakilan dari pengusaha muda di bidang IT dan Ikhlasul Amal yang selama ini dikenal sebagai blogger, praktisi IT, sekaligus aktivis komunitas open source.

    Beberapa artikel terkait:
    KLuB Bagi-bagi CD Linux Gratis
    Mahasiswi Bandung Mulai Lirik Linux

     
    • yasmin 8:56 am on May 20, 2008 Permalink

      hwaaaaaaaaa!!! menyesal melewatkan acara yang keren2 ini. huhuhuhuhuhuhuhuhu..

      maaf ya, belum balik lagi ke CR. hiks hiks.

      -yk-

    • ajeng 3:40 am on June 12, 2008 Permalink

      WADUUUHHH ada pmutaran freedom writers?? hwaaaa.. ga tauu nih.. huuu.. padahal pengen banget nonton itu.. penasaran.. baru baca bukunya separo.. niatnya mau lanjut ntn filmnya begitu sampe di indo.. tnyata ga nyampe2 juga yaaa… huuuu.. sial terlewatkaaan…

  • blauloretta 7:11 am on May 9, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Common Room Update | April 2008 

    Photobucket

    Pada tanggal 9 s/d 14 April 2008, Common Room bekerjasama dengan Japan Foundation menyelenggarakan workshop video Pika Pika yang diinisiasi oleh Tochka, duo seniman Jepang yang terdiri dari Takeshi Nagata dan Kazue Monno. Selama kurang lebih 2 minggu, kedua seniman ini bekerjasama dengan warga kota Bandung untuk membuat video Pika Pika versi lokal yang juga memanfaatkan karya musik dari para musisi tradisional Sunda seperti Agus (Bonang), Mang Ayi (Trompet) dan Jimbot (Kendang). Informasi mengenai proyek ini bisa dibaca di halaman Jakarta Post.

    Karya video animasi dari kegiatan ini diputar pada tanggal 21 April 2008 di Selasar Sunaryo Artspace. Program ini merupakan rangkaian dari Proyek Kita!!, yang merupakan bagian dari perayaan 50 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Selain melakukan serangkaian kegiatan workshop dan pameran di Bandung, program ini juga diselenggarakan secara serempak di kota Jakarta dan Yogyakarta.

    Pada saat yang hampir bersamaan, Common Room juga kedatangan 2 orang personil DFuse (UK), yaitu Barney dan Mike yang datang untuk melakukan riset di kota Bandung sejak tanggal 7 s/d 14 April 2008 atas dukungan dari British Council Indonesia. Beberapa tempat yang mereka kunjungi selama berada di kota Bandung adalah Common Room, Pabrik C-59, Pabrik Kopi Aroma dan beberapa lokasi di daerah Lembang, Gunung Manglayang dan Ujungberung. Beberapa foto hasil riset ini dapat dilihat di halaman flickr milik Barney di link berikut.

    Selama berada di kota Bandung, kedua seniman ini merekam dan mengumpulkan berbagai informasi mengenai kota Bandung dengan menggunakan kamera video dan foto digital. Rencananya materi yang dihasilkan melalui riset ini akan ditampilkan dalam pertunjukan DFuse (Surface/ Re-emagining The City) yang akan diselenggarakan berbarengan dengan kegiatan Helar Festival di bulan Agustus 2008. Setelah melakukan penjajakan dengan beberapa seniman dari kota Bandung, DFuse juga berencana untuk berkolaborasi dengan beberapa seniman lokal dalam pertunjukan mereka yang mendatang.

    Awal tahun ini Common Room juga bekerjasama dengan teman-teman OpenLab yang menyelenggarakan kegiatan rutin untuk bereksplorasi sekaligus mewadahi perkembangan komunitas dan musisi elektronik di kota Bandung. Setelah menyelenggarakan beberapa kegiatan rutin di Common Room, mereka menggelar konser The Ostend pada tanggal 27 April 2008 dan menampilkan beberapa vj dan musisi elektronik lokal seperti DaMiNaTiLaDa, Killafternoon, Musik Elektrik, These R Fake, Bersekutu Dengan Disko dan Souldelay. Konser The Ostend didukung oleh EAT sebagai sponsor utama dari kegiatan ini. OpenLab akan kembali terlibat dalam pelaksanaan kegiatan Nu-Substance Creative Media 2008 yang rencananya akan diselenggarakan pada akhir bulan Juli 2008 sampai awal bulan Agustus 2008.

     
  • blauloretta 7:09 am on May 9, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Common Room Update | Maret 2008 

    Photobucket

    Disela-sela beberapa kegiatan yang ada, Common Room bekerjasama dengan LFM – ITB, Kineruku dan VideoLab menyelenggarakan workshop One Minute Video pada tanggal 19 Februari s/d 1 Maret 2008. Setelah melakukan eksplorasi bersama selama kurang lebih 2 Minggu, 32 karya video diputar di Rumah Buku pada tanggal 1 Maret 2008. Karya hasil workshop saat ini telah dirangkum ke dalam kompilasi DVD dan rencananya akan diikutsertakan dalam kompetisi One Minute Video 2008 di kota Amsterdam pada bulan November 2008.

    Setelah melakukan pemutaran karya One minute Video, Begundal Burgerkill kemudian menyelenggarakan acara pemutaran film berjudul Metal: A Headbanger Journey (Sam Dunn & Scot McFadyen, 2005) yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi dengan para Begundal di Common Room pada tanggal 2 Maret 2008. Selain dihadiri oleh para Begundal, kegiatan ini juga dihadiri oleh para personil Burgerkill dan komunitas Ujungberung Rebels.

    Pada tanggal 17 s/d 18 Maret 2008, British Council bekerjasama dengan pemerintah Australia dan Australia Council for the Arts menyelenggarakan sebuah seminar bertajuk Making Creative Cities: The Value of Cultural Diversity in the Arts yang diselenggarakan di kota Melbourne. Dalam kesempatan ini, perwakilan dari Common Room ikut menghadiri seminar bersama-sama dengan Ir. Tamsil Tahir, MSP (Bappeda Kotamadya Bandung), Dr. Himasari Hanan (Prodi Arsitektur – ITB) dan Endro Catur (British Council Indonesia).

    Selama dua hari berturut-turut, diskusi mengenai pengembangan kota kreatif dalam perspektif keberagaman budaya menjadi tema sentral yang memancing perdebatan dan diskusi diantara para peserta seminar yang melibatkan para seniman, akademisi, praktisi bisnis, perwakilan pemerintah dan komentator yang berasal dari Inggris, Australia, New Zealand, Indonesia dan Taiwan.

    Selanjutnya di akhir bulan Maret, Hardy Mendrofa menyelenggarakan pameran Tano Niha (Peoples Land) di Common Room pada tanggal 28 Maret 2008. Kegiatan pameran ini sekaligus menjadi acara peringatan 3 tahun terjadinya peristiwa gempa yang terjadi di pulau Nias pada tahun 2005 yang telah lalu. Selain pameran, acara ini juga diisi dengan pemutaran slide dan video yang menampilkan situasi di pulau Nias pada saat sebelum dan sesudah gempa terjadi.

     
  • blauloretta 7:07 am on May 9, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Common Room Update | Februari 2008 

    Photobucket

    Pada tanggal 2 Februari 2008, British Council Indonesia bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation merilis http://bandungcreativecityblog.wordpress.com. Blog ini secara khusus dikembangkan untuk menghimpun berbagai informasi yang berhubungan dengan perkembangan dan wacana mengenai ekonomi kreatif di kota Bandung. Sementara itu, blog ini dirancang dan dikembangkan oleh tim riset Common Room yang terdiri dari Gustaff H. Iskandar, Dame Christina, Yasmin Kartikasari dan Addy Handy. Diharapkan blog ini dapat menjadi sumber informasi dan pengetahuan yang dapat memperkaya pengetahuan publik di bidang kreativitas dan ekonomi kreatif, sehingga dapat memicu terciptanya platform pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan di kota Bandung.

    NoLabelStuff menyelenggarakan konser tunggal Efek Rumah Kaca pada tanggal 3 Februari 2008 di Common Room. Acara ini diberi nama Konser Intim Cinta Melulu dan menampilkan lagu – lagu dari album pertama mereka yang berjudul Self Title (Paviliun Records, 2007). Pada tanggal 9 Februari 2008, kami dikejutkan oleh insiden Sabtu Kelabu yang terjadi di gedung pertunjukan Asia Africa Cultural Center (AACC). 11 orang teman kita meninggal ketika selesai menonton konser launching album kelompok Beside yang berasal dari Ujungberung. Ditengah kebingungan, kesedihan dan frustasi, teman-teman kita yang tergabung dalam kolektif Solidaritas Independen Bandung (SIB) dan Rumah Cemara mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan acara dialog publik pada tanggal 16 Februari 2008 di Gedung Teater Tertutup Dago Tea Huis.

    Dihadiri oleh ratusan penggemar musik dan komunitas independen di kota Bandung, acara ini juga dihadiri oleh kelompok band Beside, perwakilan keluarga korban dan beberapa pembicara seperti dr. Teddy Hidayat SpKJ (Psikolog), Yesmil Anwar S.H., M.Si. (Kriminolog), Kimung (Penulis), Addy Gembel (Musisi), Tisna Sanjaya (Seniman), dsb. Ditutup dengan tabur bunga dan doa bersama di gedung AACC, dalam acara ini teman-teman SIB juga mengumpulkan sumbangan untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Semua aktifitas ini kemudian mengkerucut pada kampanye Melawan Lupa yang dikumandangkan pada tanggal 14 Maret 2008 oleh teman-teman SIB untuk mencatat insiden Sabtu Kelabu sebagai momentum pembelajaran yang berharga bagi semua pihak di kota Bandung.

     
  • blauloretta 10:52 am on May 8, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Common Room Update | Januari 2008 

    Photobucket

    Sejak awal tahun 2008, kegiatan di Common Room bertambah ramai dengan inisiatif dari teman-teman yang datang dari latar belakang yang semakin beragam. Sebelumnya, pada akhir tahun 2007, Common Room ikut memfasilitasi pembentukan Bandung Creative City Forum. Pertemuan pertama yang membicarakan rencana pembentukan forum dirintis pada acara community gathering di Common Room pada tanggal 25 Desember 2007. Selanjutnya working group Bandung Creative City Forum secara resmi dibentuk di Common Room pada tanggal 7 Januari 2008.

    Rencananya, forum ini akan mengembangankan program Bandung Creative City dan menginisiasi beberapa kegiatan yang dirangkum dalam acara Helar Festival yang akan diselenggarakan di sepanjang tahun 2008. Beberapa diantaranya adalah kegiatan Nu-Substance Creative Media 2008 (Common Room), Artepolis (Arsitektur ITB), KickFest2008 (KICK), Freedom Jazz Festival 2008 (Jendela Ide), Deathfest 2008 (Ujungberung Rebels), dsb. Informasi mendetail untuk kegiatan ini akan kami update secepatnya.

    Salah satu kegiatan yang menarik di awal tahun adalah pameran Capo (NLS) yang diselenggarakan pada tanggal 15 s/d 25 Januari di Galeri LIP Yogyakarta oleh teman-teman dari NoLabelStuff. Pameran ini menampilkan kurang lebih 50 karya custom toys yang dibuat oleh para seniman dan komunitas kreatif di kota Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Selain pameran, kegiatan ini juga dilengkapi dengan diskusi yang dihadiri oleh para mahasiswa. Capo kemudian dipamerkan di kota Semarang pada tanggal 5 – 15 April 2008. Pameran diselenggarakan di Rumah Seni Yaitu dan mendapatkan sambutan yang hangat dari khalayak kota Semarang.

    Sementara itu, Common Room juga ikut membantu menyelenggarakan acara bedah buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death (Minor Books, 2007) yang menghadirkan beberapa pembicara seperti dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M. Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung (Penulis buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death). Selain bedah buku dan diskusi, acara ini juga diselingi dengan pertunjukan musik akustik dari kelompok Burgerkill yang diselenggarakan di Selasar Sunaryo Artspace pada tanggal 19 Januari 2008.

     
    • prima mulia 7:36 am on November 6, 2008 Permalink

      bisa tolong terus kasih info kegiatan Common Room lewat email, terimakasih, keep in touch!

  • blauloretta 11:32 am on February 19, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Bom Waktu & Konser Maut 

    Oleh http://wenzrawk.multiply.com

    Tragedi konser metal maut di Bandung sebenernya bisa terjadi di mana saja dan kapan saja di Indonesia ini. Setelah sebelumnya konser-konser band mainstream yang menelan korban (Sheila On 7, Padi, Ungu) dan kita sering ”ngejek” karena ternyata yang ”menye-menye” jauh lebih ”membunuh” dibanding yang rock, akhirnya sekarang kejadian juga di musik yang kita senangi.

    Sepertinya kita terlalu menganggap remeh dan lupa bahwa sebenarnya malaikat maut juga sudah mengintai konser-konser underground. Banyak ”bom waktu” sudah ditanam di berbagai venue konser seperti ini di seluruh Indonesia. Memang sepertinya tinggal nunggu momentum dan venue yang tepat untuk diledakkan saja.

    Sudah menjadi rahasia umum juga kalo sejak puluhan tahun yang lalu organizer konser-konser indie/underground yang melibatkan ratusan atau ribuan penonton rata-rata tidak menganggap serius atau menyiapkan hal-hal di bawah ini:

    1. Tim medis, ruang medis atau mobil ambulance apabila terjadi insiden seperti ini.
    2. Akses masuk-keluar venue dan pintu darurat buat penonton yang nggak diperhatikan serius atau diprioritaskan.
    3. Kapasitas venue yang tidak diindahkan organizer.
    4. Pembawa acara atau MC setelah konser berakhir tidak memberikan instruksi lewat pengeras suara bagi para penonton yang akan keluar dari venue.
    5. Tim keamanan (peace patrol) yang jumlahnya memadai, terlatih dan paham apa yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat. Karena sebenarnya tidak perlu mengerahkan banyak polisi juga. Yang terpenting adalah tetap berkoordinasi dengan mereka.

    Dan ”bom waktu” itu akhirnya kemarin meledak juga di Bandung. Menelan korban jiwa 10 orang yang rata-rata kehabisan napas dan terinjak-injak. Kebanyakan masih remaja ABG pula. Sangat menyedihkan dan disesalkan pastinya. Tidak seharusnya juga ada orang mati sia-sia setelah nonton konser!

    Sebagai penonton konser yang telah membayar tiket mereka tidak berhak mati, mereka malah berhak untuk bersenang-senang!

    Kita semua langsung terkaget-kaget dan seperti nggak percaya kalau jenis musik death metal ternyata bisa berdampak secara harfiah seperti ini.

    Pihak Enk Ink Enk sebagai organizer menurut gue sebenernya ketiban apes aja. Apes karena ternyata ”bom waktu” itu meledak di konser yang mereka selenggarakan. Padahal selama sekitar 15 tahun ada konser-konser sejenis semuanya seperti berlangsung ”aman-aman saja.”

    Gue percaya nggak ada satu pihak pun yang mengharapkan tragedi ini terjadi, termasuk pihak Enk Ink Enk sendiri. Karena mereka pun menyelenggarakan konser ini bukan untuk mengeruk keuntungan besar-besar tapi lebih karena semangat untuk mendukung band-band lokal dan gerakan musik underground itu sendiri.

    Berapa sih keuntungan yang di dapat dari penyelenggaraan konser underground dengan harga tiket Rp. 10.000 seperti ini? Hampir tidak ada! Bisa jadi mereka malah merugi terus. Belum lagi jarangnya sponsor komersial yang mau mendukung proyek konser idealis seperti ini.

    Lalu kenapa konser-konser seperti ini berlanjut terus?

    Karena kita senang dan ingin terus bersenang-senang dengan musik ini tentunya. Senang kalau band-band teman kita yang bagus menjadi maju, lebih dikenal dan memiliki fanbase besar. Senang kalau teman-teman kita yang menggemari musik seperti ini bisa terhibur dan having a good time. Senang kalau kebudayaan ini bisa menjadi alternatif bagi publik untuk terhindar dari keseragaman jenis musik yang bahkan bisa merendahkan martabat sebagai manusia.

    Lalu apakah kemudian organizernya bisa kaya? Tidak juga pastinya. Kalau kata dedikasi dianggap terlalu muluk tapi memang seperti itulah keadaan yang sebenarnya. Saya angkat topi setinggi-tingginya untuk organizer-organizer konser ini. Tanpa kerja mereka semua sudah pasti rock show punah dari negeri ini!

    Buat orang awam gue yakin bakal susah untuk dimengerti alasannya. Begitu juga buat orangtua, polisi, gubernur, walikota dan birokrat-birokrat uzur lainnya. Selain korupsi mereka memang nggak akan pernah bisa mengerti apa yang anak-anak muda ini lakukan.

    Polisi malah hanya bisa menuduh tanpa dasar kalau panitia konser ini ”membagi-bagikan alkohol kepada para penonton.” Tuduhan yang sangat tolol dari aparat kepolisian kita tentunya. Dan setelah otopsi dilakukan ternyata tidak terbukti dan mereka pun kembali belagak bego. Sejak kapan organizer konser bertiket murah bisa menjadi sinterklas?

    Tujuannya pasti hanya untuk mendiskreditkan fans musik rock yang selalu distereotipkan akrab dengan alkohol dan narkotika. Mereka lupa atau belagak bego kalau di konser-konser dangdut tak hanya alkohol dan narkotika saja yang beredar, namun juga golok, celurit dan berbagai senjata tajam lainnya :)

    Karena publikasi tentang tragedi ini sudah sangat meluas ke dalam dan luar negeri, bahkan sudah jadi ”insiden internasional” (Blabbermouth, BBC, AOL, Yahoo, MSNBC, Reuters) maka gue prediksi ini yang akan terjadi selanjutnya di scene musik lokal kita nantinya:

    1. Konser-konser band rock/metal internasional di Indonesia akan kembali mengalami kemunduran. Pihak booking agency artis-artis ini akan sangat cerewet mempertanyakan profesionalisme promotor lokal atau malah sepihak membatalkan kontrak-kontrak show di Indonesia. Alasan gampangnya mereka nggak akan mau menjadi kambing hitam apabila insiden yang sama terulang!
    2. Para orangtua akan segera melarang anak-anak mereka yang masih ABG untuk datang ke konser-konser musik terlepas apapun itu jenis musiknya. Mereka sudah melihat mimpi buruknya langsung via televisi!
    3. Kepolisian akan melarang atau sangat memperketat keluarnya izin penyelenggaraan konser musik (khususnya rock/metal).
    4. Pemerintah daerah akan mengeluarkan seribu satu macam alasan untuk melarang penggunaan venue publik bagi aktivitas anak muda yang berhubungan dengan musik rock.
    5. Sponsor-sponsor komersial akan menarik dukungannya bagi penyelenggaraan konser musik rock karena takut terkena imbasnya apabila terjadi insiden serupa.
    6. Banyak EO/promotor rock yang gulung tikar dan berubah menjadi promotor dugem karena lebih menguntungkan dan indah secara visual :)
    7. Band-band rock indie/underground akan kesulitan mencari panggung.
    8. Dan akhirnya scene musik rock lokal pun mati dengan sendirinya haha..

    Tapi tenang saja….

    Negara ini sudah sangat terkenal karena hangat-hangat tahi ayamnya. Ketika tanah makam para 10 korban ini belum mengering dijamin semua pihak di atas juga akan cepat lupa dengan tragedi ini. Semua larangan akan dilanggar dan semua upaya antisipasi tidak akan dipedulikan lagi. Semua akan kembali berjalan ”normal” seperti sedia kala nantinya.

    Yah, minimal sampai ”bom waktu” yang lebih besar lagi meledak dan rekor korban jiwa terpecahkan nantinya. Bukankah 10 korban tewas di konser Ungu di Pekalongan hanya berselang 1 tahun saja dengan tragedi Bandung ini?

    10? 20? 30? 100? 200 orang mati di konser rock? Bukan tidak mungkin.

    Ini Indonesia, bung!

    ++++++++++++++++++

    Kalau ini Amerika Serikat maka ini hak para penonton konser di sana:

    1. Hak untuk menikmati konser dalam lingkungan yang aman.
    2. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari panitia, keamanan dan performers terlepas dari apapun yang berhubungan dengan SARA.
    3. Hak untuk mendapatkan informasi tentang kewajiban-kewajiban bagi pemegang tiket dan menaati segala peraturan yang berlaku di venue.

    Jika Anda sepakat ini bukan Indonesia maka seharusnya kita melakukan hal-hal dibawah ini di masa depan:

    Event Organizer/Promoter

    1. Menyediakan tim medis, ruang medis dan mobil ambulance.
    2. Tidak menjual tiket melebihi kapasitas venue (80% terisi, 20% kosongkan).
    3. Menginformasikan tata letak venue dan letak pintu darurat di tiket.
    4. Menginformasikan peraturan selama konser berlangsung di tiket.
    5. Menginformasikan kepada penonton etiket di mosh-pit sebelum atau selama konser berlangsung.
    6. Menginformasikan bahaya aksi stage-diving atau crowd surfing.
    7. Menyediakan tim keamanan konser yang memadai, terlatih dan berpengalaman.
    8. Memperhatikan ventilasi dan sirkulasi udara yang baik bagi penonton.
    9. Suka atau tidak suka, menjalin koordinasi dengan polisi atau aparat keamanan selama dan setelah konser berlangsung.
    10. Apapun yang terjadi di luar venue jangan membuka pintu masuk jika venue sudah 80% terisi. Hormati pembeli tiket, jangan hormati para penonton jebolan!

    Performers

    1. Menginformasikan kepada penonton etiket di mosh-pit sebelum atau selama konser berlangsung.
    2. Menginformasikan bahaya aksi stage-diving atau crowd surfing.
    3. Segera memberhentikan konser jika terjadi keributan atau kerusuhan di mosh pit.
    4. Menciptakan kondisi yang kondusif selama konser berlangsung.
    5. Melalui website-website band lakukan edukasi bagi para fans yang akan datang ke konser Anda.

    Audience

    1. Membeli tiket.
    2. Jangan lupa membawa identitas diri (KTP, KTM) jika pergi ke konser.
    3. Jangan lupa makan dan minum secukupnya sebelum ke konser (apalagi jika konser di outdoor).
    4. Taati peraturan yang berlaku selama konser berlangsung. Semuanya dibuat dengan alasan dan tujuan yang jelas: Demi konser yang aman dan nyaman.
    5. Jika mengonsumsi alkohol sebelum ke konser pastikan takaran yang bijaksana :) Banyak silly things bisa terjadi jika kita mabuk di konser.
    6. Paham bahaya dan konsekuensi jika terjadi kegagalan melakukan moshing, stage diving atau crowd surfing.
    7. Segeralah menolong jika ada siapapun terjatuh di mosh pit.
    8. Hindari penggunaan aksesoris yang dapat melukai orang di mosh-pit.
    9. Kenakan earplug (jika ada).
    10. Jangan ikut-ikutan berkomplot untuk menjebol pintu masuk. Tolol!
    11. Untuk apa nongkrong di depan pintu masuk? Pastikan tujuan datang ke konser hanya untuk menikmati konser. Nongkronglah di kakus atau tempat nongkrong yang semestinya :)
     
    • habib 11:58 am on April 11, 2008 Permalink

      Viva India! SAY NO to the communication control

    • habib 11:59 am on April 11, 2008 Permalink

      Viva Indonesia! SAY NO to the communication control

    • Ifan 8:15 pm on September 30, 2008 Permalink

      Salute!!!
      No Comment dah

  • blauloretta 6:03 am on January 22, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    Review Acara Bedah Buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death | Selasar Sunaryo Artspace | 19 Januari 2008 

    Burgerkill

    Setelah tertunda selama kurang lebih satu bulan, akhirnya acara bedah buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ jadi diselenggarakan di Selasar Sunaryo Artspace pada tanggal 19 Januari 2008. Sesuai rencana semula, acara ini menghadirkan beberapa pembicara dari berbagai kalangan, yang terdiri dari dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung (Penulis buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death). Selain itu, acara ini juga menampilkan pertunjukan musik akustik dari Burgerkill yang malam itu memainkan musik mereka dalam format akustik.

    Diantara para penggemar mereka, Burgerkill dikenal sebagai band cadas asal Ujungberung yang didirikan oleh Eben, Kimung, Ivan Scumbag (alm.) dan Toto pada tahun 1995. Sementara itu, buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ merupakan biografi kehidupan Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill yang meninggal karena penyakit radang selaput otak pada tahun 2006. Saat ini posisi Ivan digantikan oleh Vicki yang sebelumnya pernah bergabung dengan Balcony dan Heaven Fall. Selain dihadiri oleh kerabat dan teman-teman dekat Ivan, acara ini juga dihadiri oleh ratusan Begundal/ BHC yang merupakan fans setia dari kelompok Burgerkill. Dimulai pada pukul 19.30, acara dibuka oleh Burgerkill yang membawakan lagu Angkuh (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) yang berhasil menghangatkan suasana malam yang cerah di amphitheater Selasar Sunaryo Artspace.

    Acara dilanjutkan dengan paparan dari dr. Teddy Hidayat yang memberikan pandangan tentang kondisi psikologis Ivan berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari buku yang ditulis oleh Kimung. Dokter Teddy menjelaskan secara panjang lebar bagaimana selama mengembangkan karirnya sebagai musisi, Ivan mengalami tekanan batin yang sangat mendalam. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kimung yang merupakan sahabat dekat dari Ivan Scumbag. Seperti yang diungkapkan oleh Kimung dan Dokter Teddy, tekanan psikologis yang dialami oleh Ivan terutama karena pertentangan nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga dengan situasi lingkungan yang beresiko tinggi dalam penggunaan obat-obatan dan zat psikotropika, seperti misalnya kebiasaan dalam mengkonsumsi alkohol, putaw, ganja, dsb. (NAPZA).

    Lebih jauh Dokter Teddy memaparkan bahwa masalah seperti ini memang lazim terjadi dalam dunia remaja. Hal ini setidaknya membuat dunia anak muda menjadi rentan bagi penyebaran penyakit HIV/AIDS, yang biasanya juga tersebar melalui penggunaan jarum suntik. Oleh karena itu, persoalan seperti ini harus ditangani secara hati-hati. Idealnya persoalan semacam ini tidak dilihat sebagai persoalan kriminal, tetapi harus dilihat sebagai persoalan masyarakat yang bisa ditangani secara medis. Salah satu solusi yang barangkali dapat dilakukan untuk mengantisipasi resiko penggunaan NAPZA di kalangan anak muda adalah dengan menyalurkan bakat dan kreatifitas yang mereka miliki. Hal ini setidaknya juga tercermin dari apa yang terjadi pada diri Ivan. Ketika masih hidup, Ivan menyalurkan berbagai kegelisahan yang ia alami melalui karya-karyanya bersama Burgerkill. Kembali menurut Dokter Teddy, adalah tugas bagi para orang tua dan guru untuk menemukan bakat anak muda sehingga mereka dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan terhindar dari resiko penggunaan NAPZA dan terjangkit HIV/AIDS.

    Diskusi

    Sebelum melanjutkan diskusi, Burgerkill kembali tampil dengan mempersembahkan lagu We Will Bleed (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) dan Something in the Way milik Nirvana yang telah diaransemen ulang. Setelah itu Drs. Reiza D. Dienaputra melanjutkan diskusi dengan menyoroti persoalan sejarah kecil (micro narratives) yang berhasil diungkap secara panjang lebar melalui buku ini. Saat ini, perbincangan mengenai sejarah kecil menjadi semakin relevan karena sejarah kemudian dilihat sebagai sumber pengetahuan yang secara langsung dapat merefleksikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini jauh berbeda dengan persoalan sejarah besar (grand narratives) yang biasanya membicarakan persoalan-persoalan yang berjarak dengan kenyataan hidup masyarakat kebanyakan. Dalam buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death, Drs. Reiza D. Dienaputra mendapati berbagai persoalan keseharian yang begitu intim, namun penuh dengan persoalan kemanusiaan, lengkap dengan berbagai kekonyolan dan tragedi yang menyertai kehidupan Ivan dan para sahabatnya di Ujungberung.

    Dalam diskusi ini Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto menyoroti wacana perlawanan yang selama ini kerap didengungkan oleh komunitas underground. Sebagai sebuah kritik, wacana perlawanan terhadap kapitalisme global bisa jadi merupakan persoalan yang absurd karena bagaimanapun paham kapitalisme juga dianggap telah berhasil menyulap semangat perlawanan menjadi komoditas. Disadari atau tidak, bagaimanapun harus diakui kalau berbagai ekspresi musik dan tanda-tanda yang terkait dengan ideologi perlawanan di Indonesia bisa jadi hanya sekedar imitasi yang memiliki konteks tersendiri dan dipahami secara berbeda dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Oleh karena itu, Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto lebih melihat berbagai ekspresi yang diungkap oleh komunitas underground sebagai sebuah fenomena keragaman pandangan politik pribadi dan ekspresi artistik yang juga layak untuk terus diapresiasi keberadaannya.

    Selepas diskusi, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Alex yang secara khusus didedikasikan untuk Ivan. Selanjutnya acara ditutup dengan doa bersama yang dipersembahkan untuk mendiang Ivan Scumbag. Semua pihak sepakat bahwa walaupun Ivan sudah meninggal, sebagai sebuah spirit semangatnya masih tetap ada. Untuk itu, Kimung sangat berharap kalau apa yang telah dibangun oleh Ivan dapat terus dikembangkan oleh mereka yang banyak terlibat dalam perkembangan musik underground di Indonesia. Sebagai penutup, Burgerkill kembali tampil membawakan lagu Tiga Titik Hitam (Berkarat, Sony Music, 2003), yang dibawakan bersama-sama dengan Andi Fadly. Sebelumnya Fadly sempat menceritakan sedikit pengalamannya ketika berkolaborasi dengan Ivan dalam lagu Tiga Titik Hitam. Acara ini merupakan bagian dari kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia yang diselenggarakan bersama oleh Minor Books, Common Room Networks Foundation, Rumah Cemara, Selasar Sunaryo Artspace dan Ujungberung Rebels. (Gustaff/CRNF)

     
    • ahmad bunda mulia school 7:39 am on July 29, 2008 Permalink

      wah bagus bgt tuch kapan kpan blh donk ke sekolah saya untuk bedah buku…..saya tunggu e mailnya

      Regards,

      Ahmad/ Librarian

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel