Search



Photo Stream



Archive for Articles

10 July, 2008 | No comments

Olee – Sebuah Karya Kolaborasi Lintas Benua

Photobucket
* Olee (Customized by Jimmy Foo)

Sejak CAPO exhibition tahun lalu, demam urban toys melanda para pekerja kreatif di Bandung. Sebenarnya sejak dulu mereka sudah menjadi kolektor urban toys, tetapi eksibisi CAPO mendorong sekelompok orang untuk mulai menghasilkan mainan mereka sendiri. Sebut saja Marine, pemilik toko clothing Monik. Akhir-akhir ini dia sering terlihat berkutat di dapur rumahnya, menekuni karakter yang ia bangun bersama-sama teamnya.

Baru-baru ini Marine mempublikasikan karakter baru yang diberi sentuhan personal oleh salah seorang ‘customizer’ handal di dunia urban toys bernama Jimmy Foo, yang saat ini berdomisili di Inggris. Gambar dua dimensi Olee sendiri dibuat oleh designer grafis dari Australia, Francz Varga, yang membuat desain dua dimensi Olee setelah bentuk prototype ada di tangannya. Yang lebih unik lagi, kedua orang inilah yang menawarkan diri untuk mengerjakan hal-hal tersebut setelah melihat foto-foto Olee yang diterbitkan di forum-forum urban toys. Perkenalan ketiga orang penggemar urban toys ini pun terjadi lewat forum di dunia maya.

Proses pembuatan Olee sendiri tergolong unik. Awalnya Marine sedang ditengah-tengah proses pembuatan karakternya bernama Jouwe, seekor badak bercula satu. Setelah berminggu-minggu proses pembuatan prototype Jouwe, kebosanan melanda Marine dan Dira, pematung yang membantu Marine dalam proses ini. Mereka ingin mengerjakan sesuatu yang berbeda untuk menyegarkan pikiran. Di satu siang yang terik, tukang kebun di halaman rumah Marine yang bernama Mang Ulee, iseng-iseng membuat patung-patungan. Bentuknya: bulat dengan dua kuping. Melihat potensi bentuk geometrik yang dihasilkan Mang Ulee, Marine dan Dira memutuskan untuk mengembangkan bentuk ini lebih lanjut.

Gue dan Dira mengolah bentuk kuping Olee dan memberi sepasang kaki buat Olee. Olee adalah hasil kerja team; Ulee, Dira, gue dan Francz Varga”, tutur Marine. Akhirnya jadilah sebuah Olee, yang namanya diambil dari nama Mang Ulee. Sebuah hasil karya yang dibuat secara spontan tanpa desain dua dimensi terlebih dahulu. Francz Varga pertama kali tertarik membuat desain dua dimensi Olee karena ia menyukai bentuk dan sentuhan Olee. Ia melihat bentuk yang sangat spesial dalam diri Olee dibandingkan mainan-mainan platform yang ada di pasar urban toys (ket: mainan platform biasanya dijual dalam keadaan kosong, belum terolah; sebutan lain mainan platform: mainan DoItYourself).

Alasan serupa dikemukakan oleh Jimmy Foo saat ia ditanya apa yang membuatnya tertarik untuk meng-custom Olee, “It has an odd mix of animal features and a simple geometric shape. This is the first time I’ve seen this combination done so successfully”. Terlebih lagi, menurut Jimmy Foo, keindahan dari bentuk figure seperti ini memungkinkan ruang yang luas bagi para artist untuk mengubah-ubah sesuai keinginan personal si seniman. Marine tidak mencoba memaksakan sebuah karakter yang siap jadi, melainkan ia memberi bidang bagi sebuah proses penciptaan yang berawal dari ide para seniman.
Ada banyak figur yang diciptakan secara khusus untuk diubah secara personal dan figur-figur tersebut dinamakan figur ‘DIY’ (Do It Yourself). Tetapi, dari pengalaman Jimmy Foo, ia seringkali menemukan figur-figur semacam itu terlalu kosong atau kalau tidak, mereka sebenarnya hanyalah sebuah bentuk berwarna putih dari figur yang telah ada. Berbeda dengan Olee yang menawarkan sebuah rasa kolaborasi antara customizer dengan para seniman pencipta karakter.

Konsep kolaborasi yang ditawarkan Olee adalah refleksi dari penciptanya. Marine percaya bahwa sebuah hasil karya seni seharusnya melibatkan sebuah team. Sebuah candi bisa dapat berdiri tegak berkat kerja banyak orang. “Di Indonesia tenaga kerja murah, banyak orang butuh kerjaan sedangkan tawaran kerja terbatas. Jadi, kenapa tidak menjalankan proyek-proyek yang melibatkan beberapa orang?” tegasnya.

Saat ini telah 20 buah Olee diubah oleh Yunis Kartikasari, seorang seniman yang juga berdomisili di Bandung. Selain Jimmy Foo dan Yunis, ada beberapa seniman yang menunggu untuk memberi sentuhan personal mereka atas Olee. Francz Varga sendiri tidak berhenti di gambar dua dimensi untuk Olee. Saat ini ia sedang menyiapkan kemasan bagi Olee. Kerjasama yang unik antara team Olee di Bandung dengan para seniman di belahan dunia lain ini bisa terjadi berkat teknologi internet yang telah menjadi makanan rutin bagi Marine. Figur mainan urban, Olee, telah memberi angin segar bagi dunia kreatif di Bandung. Proses pembuatan maupun faktor-faktor pendukung marketing Olee sangat memanfaatkan teknologi komunikasi yang berkembang saat ini.

Dame Christina

** Silahkan kunjungi www.mytummytoys.com untuk informasi update mengenai Olee.

Top

14 May, 2008 | 2 comments

Common Room Update | Mei 2008

Pada tanggal 27 – 28 April 2008, Common Room menerima kunjungan Ita Amahorseija dari Anna Frank Foundation (NL). Rencananya Common Room akan menjalin program kerjasama dengan Anna Frank Foundation di sepanjang tahun 2008 - 2009. Beberapa kegiatan yang direncanakan adalah penyelenggaraan pameran mengenai kehidupan Anna Frank, pemutaran film Freedom Writers, workshop sejarah oral, dan penelitian mengenai situasi perang dunia ke-2 di kota Bandung. Perwakilaan dari Common Room bersama Bandung Creative City Forum kemudian diundang untuk menghadiri pertemuan di Auditorium Rosada yang bertempat di Balai Kota Bandung pada tanggal 2 Mei 2008.

Acara ini diselenggarakan oleh sekertaris daerah (Sekda) pemerintah kota Bandung dan dihadiri oleh Walikota Bandung beserta jajaran pegawai pemerintahan, beberapa perwakilan dari institusi non pemerintah, wartawan dan pelaku dunia usaha di kota Bandung. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari beberapa pertemuan yang melibatkan Bappeda Kota Bandung dengan Bandung Creative City Forum selama beberapa waktu terakhir. Dalam kesempatan ini Ir. H. Ridwan Kamil, M. Ur. D. (URBANE/ Bandung Creative City Forum) pemaparan beberapa uraian mengenai perkembangan ekonomi kreatif dan kaitannya dengan pengembangan kebijakan dan pembangunan infrastruktur kota.

Teman-teman Ujungberung Rebels menyelenggarakan konser dangdut electone yang menampilkan duo Hana & Kang Dani yang berkolaborasi dengan Jimbot pada tanggal 4 Mei 2008. Dalam kesempatan ini selain pertunjukan yang heboh dari Hana, Jimbot juga ikut menyemarakan suasana melalui permainan kendang yang sangat mantap. Klub Linux Bandung bekerjasama dengan Common Room menyelenggarakan Ubuntu Hardy Heron Release Party pada hari Sabtu, tanggal 10 Mei 2008. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk memperkenalkan penggunaan software open source di kalangan masyarakat luas, khususnya para pengguna Ubuntu.

Selain memperkenalkan sekaligus menyebarkan CD Ubuntu 8.04 (Hardy Heron), kegiatan ini juga diisi dengan acara diskusi yang membahas agenda pemberdayaan teknologi informasi untuk mendukung berbagai sektor kehidupan masyarakat di kota Bandung. Diskusi ini dipandu oleh Agung Prasetyo dari Pusat Pemberdayaan Open Source Software ITB (POSS – ITB) dan melibatkan Gustaff H. Iskandar selaku perwakilan dari Common Room, Rendy Maulana selaku perwakilan dari pengusaha muda di bidang IT dan Ikhlasul Amal yang selama ini dikenal sebagai blogger, praktisi IT, sekaligus aktivis komunitas open source.

Beberapa artikel terkait:
KLuB Bagi-bagi CD Linux Gratis
Mahasiswi Bandung Mulai Lirik Linux

Top

9 May, 2008 | No comments

Common Room Update | April 2008

Photobucket

Pada tanggal 9 s/d 14 April 2008, Common Room bekerjasama dengan Japan Foundation menyelenggarakan workshop video Pika Pika yang diinisiasi oleh Tochka, duo seniman Jepang yang terdiri dari Takeshi Nagata dan Kazue Monno. Selama kurang lebih 2 minggu, kedua seniman ini bekerjasama dengan warga kota Bandung untuk membuat video Pika Pika versi lokal yang juga memanfaatkan karya musik dari para musisi tradisional Sunda seperti Agus (Bonang), Mang Ayi (Trompet) dan Jimbot (Kendang). Informasi mengenai proyek ini bisa dibaca di halaman Jakarta Post.

Karya video animasi dari kegiatan ini diputar pada tanggal 21 April 2008 di Selasar Sunaryo Artspace. Program ini merupakan rangkaian dari Proyek Kita!!, yang merupakan bagian dari perayaan 50 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Selain melakukan serangkaian kegiatan workshop dan pameran di Bandung, program ini juga diselenggarakan secara serempak di kota Jakarta dan Yogyakarta.

Pada saat yang hampir bersamaan, Common Room juga kedatangan 2 orang personil DFuse (UK), yaitu Barney dan Mike yang datang untuk melakukan riset di kota Bandung sejak tanggal 7 s/d 14 April 2008 atas dukungan dari British Council Indonesia. Beberapa tempat yang mereka kunjungi selama berada di kota Bandung adalah Common Room, Pabrik C-59, Pabrik Kopi Aroma dan beberapa lokasi di daerah Lembang, Gunung Manglayang dan Ujungberung. Beberapa foto hasil riset ini dapat dilihat di halaman flickr milik Barney di link berikut.

Selama berada di kota Bandung, kedua seniman ini merekam dan mengumpulkan berbagai informasi mengenai kota Bandung dengan menggunakan kamera video dan foto digital. Rencananya materi yang dihasilkan melalui riset ini akan ditampilkan dalam pertunjukan DFuse (Surface/ Re-emagining The City) yang akan diselenggarakan berbarengan dengan kegiatan Helar Festival di bulan Agustus 2008. Setelah melakukan penjajakan dengan beberapa seniman dari kota Bandung, DFuse juga berencana untuk berkolaborasi dengan beberapa seniman lokal dalam pertunjukan mereka yang mendatang.

Awal tahun ini Common Room juga bekerjasama dengan teman-teman OpenLab yang menyelenggarakan kegiatan rutin untuk bereksplorasi sekaligus mewadahi perkembangan komunitas dan musisi elektronik di kota Bandung. Setelah menyelenggarakan beberapa kegiatan rutin di Common Room, mereka menggelar konser The Ostend pada tanggal 27 April 2008 dan menampilkan beberapa vj dan musisi elektronik lokal seperti DaMiNaTiLaDa, Killafternoon, Musik Elektrik, These R Fake, Bersekutu Dengan Disko dan Souldelay. Konser The Ostend didukung oleh EAT sebagai sponsor utama dari kegiatan ini. OpenLab akan kembali terlibat dalam pelaksanaan kegiatan Nu-Substance Creative Media 2008 yang rencananya akan diselenggarakan pada akhir bulan Juli 2008 sampai awal bulan Agustus 2008.

Top

9 May, 2008 | No comments

Common Room Update | Maret 2008

Photobucket

Disela-sela beberapa kegiatan yang ada, Common Room bekerjasama dengan LFM – ITB, Kineruku dan VideoLab menyelenggarakan workshop One Minute Video pada tanggal 19 Februari s/d 1 Maret 2008. Setelah melakukan eksplorasi bersama selama kurang lebih 2 Minggu, 32 karya video diputar di Rumah Buku pada tanggal 1 Maret 2008. Karya hasil workshop saat ini telah dirangkum ke dalam kompilasi DVD dan rencananya akan diikutsertakan dalam kompetisi One Minute Video 2008 di kota Amsterdam pada bulan November 2008.

Setelah melakukan pemutaran karya One minute Video, Begundal Burgerkill kemudian menyelenggarakan acara pemutaran film berjudul Metal: A Headbanger Journey (Sam Dunn & Scot McFadyen, 2005) yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi dengan para Begundal di Common Room pada tanggal 2 Maret 2008. Selain dihadiri oleh para Begundal, kegiatan ini juga dihadiri oleh para personil Burgerkill dan komunitas Ujungberung Rebels.

Pada tanggal 17 s/d 18 Maret 2008, British Council bekerjasama dengan pemerintah Australia dan Australia Council for the Arts menyelenggarakan sebuah seminar bertajuk Making Creative Cities: The Value of Cultural Diversity in the Arts yang diselenggarakan di kota Melbourne. Dalam kesempatan ini, perwakilan dari Common Room ikut menghadiri seminar bersama-sama dengan Ir. Tamsil Tahir, MSP (Bappeda Kotamadya Bandung), Dr. Himasari Hanan (Prodi Arsitektur – ITB) dan Endro Catur (British Council Indonesia).

Selama dua hari berturut-turut, diskusi mengenai pengembangan kota kreatif dalam perspektif keberagaman budaya menjadi tema sentral yang memancing perdebatan dan diskusi diantara para peserta seminar yang melibatkan para seniman, akademisi, praktisi bisnis, perwakilan pemerintah dan komentator yang berasal dari Inggris, Australia, New Zealand, Indonesia dan Taiwan.

Selanjutnya di akhir bulan Maret, Hardy Mendrofa menyelenggarakan pameran Tano Niha (Peoples Land) di Common Room pada tanggal 28 Maret 2008. Kegiatan pameran ini sekaligus menjadi acara peringatan 3 tahun terjadinya peristiwa gempa yang terjadi di pulau Nias pada tahun 2005 yang telah lalu. Selain pameran, acara ini juga diisi dengan pemutaran slide dan video yang menampilkan situasi di pulau Nias pada saat sebelum dan sesudah gempa terjadi.

Top

9 May, 2008 | No comments

Common Room Update | Februari 2008

Photobucket

Pada tanggal 2 Februari 2008, British Council Indonesia bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation merilis http://bandungcreativecityblog.wordpress.com. Blog ini secara khusus dikembangkan untuk menghimpun berbagai informasi yang berhubungan dengan perkembangan dan wacana mengenai ekonomi kreatif di kota Bandung. Sementara itu, blog ini dirancang dan dikembangkan oleh tim riset Common Room yang terdiri dari Gustaff H. Iskandar, Dame Christina, Yasmin Kartikasari dan Addy Handy. Diharapkan blog ini dapat menjadi sumber informasi dan pengetahuan yang dapat memperkaya pengetahuan publik di bidang kreativitas dan ekonomi kreatif, sehingga dapat memicu terciptanya platform pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan di kota Bandung.

NoLabelStuff menyelenggarakan konser tunggal Efek Rumah Kaca pada tanggal 3 Februari 2008 di Common Room. Acara ini diberi nama Konser Intim Cinta Melulu dan menampilkan lagu – lagu dari album pertama mereka yang berjudul Self Title (Paviliun Records, 2007). Pada tanggal 9 Februari 2008, kami dikejutkan oleh insiden Sabtu Kelabu yang terjadi di gedung pertunjukan Asia Africa Cultural Center (AACC). 11 orang teman kita meninggal ketika selesai menonton konser launching album kelompok Beside yang berasal dari Ujungberung. Ditengah kebingungan, kesedihan dan frustasi, teman-teman kita yang tergabung dalam kolektif Solidaritas Independen Bandung (SIB) dan Rumah Cemara mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan acara dialog publik pada tanggal 16 Februari 2008 di Gedung Teater Tertutup Dago Tea Huis.

Dihadiri oleh ratusan penggemar musik dan komunitas independen di kota Bandung, acara ini juga dihadiri oleh kelompok band Beside, perwakilan keluarga korban dan beberapa pembicara seperti dr. Teddy Hidayat SpKJ (Psikolog), Yesmil Anwar S.H., M.Si. (Kriminolog), Kimung (Penulis), Addy Gembel (Musisi), Tisna Sanjaya (Seniman), dsb. Ditutup dengan tabur bunga dan doa bersama di gedung AACC, dalam acara ini teman-teman SIB juga mengumpulkan sumbangan untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Semua aktifitas ini kemudian mengkerucut pada kampanye Melawan Lupa yang dikumandangkan pada tanggal 14 Maret 2008 oleh teman-teman SIB untuk mencatat insiden Sabtu Kelabu sebagai momentum pembelajaran yang berharga bagi semua pihak di kota Bandung.

Top



« Next entries