Ambience of Nature: Rekaman Karinding Attack | Oleh Addy Gembel

Dalam sebuah proses rekaman audio ada banyak faktor diluar aspek non-teknis yang juga begitu penting untuk diperhatikan. Selain kesiapan alat dan teknologi rekaman, peran artis dalam memunculkan sebuah proses kreatif amatlah penting untuk diperhatikan. Salah satunya adalah faktor kejiwaan atau psikologis yang akan berpengaruh dalam membangun karakter sebuah lagu atau album. Faktor psikologis juga yang pada akhirnya akan memberikan ‘nyawa’ pada lagu tersebut.

Banyak hal dilakukan untuk bisa menstimulan kondisi psikologis seniman. Salah satunya adalah membangun sebuah ekosistem dimana seniman diberi ruang imajinasi sebebas mungkin sebagai habitat alami sebagai bagian proses untuk menghasilkan sebuah karya yang brilian. Pada akhirnya hal teknis menyangkut alat dan teknologi rekaman menjadi sesuatu yang sekunder dan sifatnya hanya sebagai pendukung saja.

Banyak produser band luar negeri yang melakukan hal itu. Mereka menghabiskan biaya jutaan dollar untuk membangun sebuah habitat dan ruang-ruang untuk berimajinasi bagi para musisinya. Pada tahun 1966 produser band The Who menyewa sebuah kapal pesiar lalu disulap menjadi sebuah studio rekaman. Selama 3 bulan para personil band melakukan perjalanan menyusuri sungai Missisipi sambil melakukan proses rekaman. Band Sepultura yang mendadak membangun studio rekaman dipedalaman hutan Amazon lalu para personilnya selama berbulan-bulan hidup bersama suku Indian Amazon. Pada salah satu albumnya band Slayer menyewa sebuah kastil berhantu dan pernah menjadi tempat eksekusi pembunuh berantai. Mereka membangun studio rekaman dan melakukan penggarapan lagu dan mampu memberikan nyawa pada lagu-lagu mereka.

Karinding Attack adalah sebuah ‘band’ yang mencoba melakukan hal yang sama. Musik karinding adalah musik yang identik dengan filosofis kearifan lokal terhadap alam. Menjadikan musik sebagai media untuk melakukan ‘pemujaan’ terhadap alam. Karena itulah maka alam mempunyai peran yang sangat penting untuk membangun karakter dan memberikan nyawa pada musik karinding.

Selama berhari-hari para personil band karinding Attack tinggal didalam hutan untuk melakukan prosesi rekaman. Lokasinya dikawasan hutan konsevasi gunung Kareumbi – Masigit didaerah perbatasan antara Kabupaten Bandung – Sumedang – Garut. Mereka membawa semua perlengkapan rekaman dan membangun sebuah ‘studio’ di alam terbuka. Siang dan malam mereka bekerja merekam lagu demi lagu ditengah hambatan cuaca dan keterbatasan sarana. Ditambah lagi dengan ‘gangguan’ dari alam spiritual yang justru makin menambah nuansa ‘magis’ dalam setiap lagu mereka.

Semua dilakukan demi mendapatkan ruh bagi lagu-lagu mereka. Suara-suara alam yang alami seolah menjadi tambahan personil buat mereka dan mampu memberikan nyawa untuk lagu-lagu mereka. Kita nantikan saja album mereka yang akan segera dirilis diakhir tahun 2010 ini.

Foto-foto dokumentasi proses rekaman Karinding Attack dapan dilihat di laman berikut.
Catatan detail proses rekaman Karinding Attack juga dapat dibaca di laman Jurnal Karat.

Leave a Reply