[Huma Screening] Kembang 6 Rupa | Pemutaran 6 Film Dokumenter Remaja

poster-kembang-6-rupa

[Huma Screening] Kembang 6 Rupa | Pemutaran 6 Film Dokumenter Remaja

Venue: Huma Coffee, Jl. Tengku Angkasa 47, Bandung 40132 (Peta Lokasi: http://bit.ly/HumaCoffee)
Tanggal/Waktu: 11 & 18 Januari 2017, setiap pukul 19:00 – 21:00 WIB

Pengantar
Kembang 6 Rupa adalah seri film dokumenter pendek tentang 6 remaja perempuan yang tengah menghadapi masa depan di kampung halamannya. Kembang 6 Rupa diproduksi oleh Yayasan Kampung Halaman yang berkolaborasi dengan 6 (enam) sutradara dan 6 (enam) remaja perempuan di Indramayu, Sumedang, Kuningan, Sleman, Sumbawa dan Wamena.

Sinopsis

Indramayu: Miang Meng Jakarta (Aku ingin ke Jakarta)
Sutradara: Opan Rinaldi, Durasi 14:29 menit
Ika (16 tahun) dari Desa Amis, Indramayu sangat ingin bekerja ke Jakarta. Masa lalu yang buruk membuat Ika memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya saat di SMP. Usianya yang belum cukup, dan keinginan ibunya agar dia tetap tinggal di Indramayu membuatnya frustasi. Segala upaya dia lakukan agar segera pergi dari Amis. Akankah Ika terus bertahan di kampungnya?

Kuningan: Karatagan Ciremai
Sutradara Ady Mulyana, Durasi 17:15 menit
Anih Kurniasih (15 tahun) dari Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya: Sunda Wiwitan. Berdasarkan alasan negara hanya mengakui enam agama resmi, Anih dan keluarganya senantiasa mengalami diskriminasi. Sejak lahir, ia tercatat sebagai anak angkat dari kedua orangtua kandungnya. Pernikahan orangtuanya dianggap tidak sah. Akibatnya, Anih dan adik-­adiknya kesulitan untuk mendapatkan akte kelahiran dan surat administrasi kependudukan lainnya. Disadari atau tidak, yang dialami Anih adalah diskriminasi terstruktur. Sampai kapan hal ini terus berlangsung? Bisakah Anih memperoleh pendidikan setinggi mungkin sesuai dengan cita-­citanya?

Sumbawa: Haruskah ke Negeri Lain?
Sutradara Anton Susilo, Durasi 15.31 menit
Maesarah (17 tahun) adalah satu dari remaja dari Pulau Bungin, Sumbawa yang ingin memperbaiki kehidupan keluarganya dengan bekerja di Malaysia. Untuk dapat dikirim ke Malaysia, SMK tempat Maesarah (Mae) bersekolah meminta calon pekerja seperti Mae untuk menyiapkan biaya sebesar Rp. 2 juta. Saat Mae mencari informasi dari tetangga yang sudah memberangkatkan anak mereka ke Malaysia, dia menemukan adanya indikasi adanya jaring laba-­laba seputar biaya keberangkatan yang melibatkan pihak sekolahnya.

Sleman: Bangun Pemuda! Pemudi Sudah
Sutradara Michael A.C Winanditya, Durasi 08.38 menit
Nala Sahita Putri (17 tahun), adalah anggota perempuan yang sangat kritis di GAMA 55, sebuah sub Karang Taruna di Dusun Krapyak, Desa Wedomartani, DIY. Berdiri sejak 1984, GAMA 55 diharapkan menjadi salah satu ujung tombak masyarakat, khususnya dari pihak orang tua untuk menjadi wadah bagi remajanya untuk ikut membangun dusun. Itukah yang terjadi? Bagaimana kerjasama antara anggota perempuan dan anggota laki-­laki GAMA 55? Kenapa anggota perempuan dianggap tidak memiliki potensi? Benarkah?

Wamena: Agnes, Pewaris Budaya Dunia?
Sutradara: Arief Hartawan, Durasi 06:50 menit
Agnes Asso (17 tahun) adalah remaja perempuan dari Distrik Asolokobal (11 KM dari Wamena, Papua). Kehamilan dan kelahiran putrinya membuat sekolah Agnes terhenti di kelas 1 SMA. Karena sampai saat ini Agnes belum juga dinikahi oleh pasangannya, maka untuk menyambung kehidupannya sebagai orangtua tunggal, Agnes mengandalkan keterampilannya dalam menganyam dan menjual noken. Bisakah noken memenuhi kebutuhan sehari-­hari dan impian untuk melanjutkan sekolah?

Sumedang: Bintang di Pelupuk Mata (Tak Tampak)
Sutradara: Dwi Sujanti Nugraheni, Durasi: 16:03 menit
Pipit Fitrianti (16 tahun) dari Desa Cibeureum Wetan, Sumedang adalah gadis ceria yang sudah kenyang diberi stigma sebagai “cabe-­cabean” oleh orang-­orang di kampungnya. Stigma itu yang membuat prestasi Pipit tidak diakui. Padahal Pipit adalah murid dan atlet berprestasi. Cita-­citanya tak muluk, ia hanya ingin menjadi guru olahraga atau guru matematika, tapi jalan yang penuh rintang sepertinya akan menghadang, bahkan pihak sekolahnya enggan mendukung cita-­cita Pipit. Siapa seharusnya yang mendukung Pipit?

Profil Sutradara

Ady Mulyana
Ady lahir di Garut, Jawa Barat. Dia mengenyam pendidikan di SMAN 27 Jakarta. Belajar film secara otodidak, berawal dari perpustakaan film di rumah perupa Dolorosa Sinaga. Selain itu, Ady juga kerap menjadi fasilitator pada rangkaian workshop dan diskusi film di beragam komunitas. Saat ini Ady sedang menyelesaikan dokumenter panjangnya “Temu Rindu Menggugat Sunyi”/ Breaking The Lies tentang Gerakan Perempuan Indonesia di era 1950-­1965 (Gerwani).

Anton Susilo
Anton Susilo, lahir di kota Yogyakarta, saat ini berdomisili di Sumbawa Besar dan pernah mengenyam pendidikan formal di program studi broadcasting Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada. Pada tahun 2005 ia membuat dokumenter bersama Yuli Andari berjudul Joki Kecil dan film ini terpilih sebagai Film Terbaik Eagle Awards Documentary Competition 2005.

Michael A.C Winanditya
Michael A.C. Winanditya (Chandra), lulusan Antropologi UGM adalah salah satu pengelola Forum Film Dokumenter, organisasi yang membidani Festival Film Dokumenter (FFD), sebuah festival pertama di Asia Tenggara yang fokus ke film dokumenter sejak 2002. Saat ini ia bekerja sebagai Koordinator Riset di Yayasan Kampung Halaman. “Bangun Pemudi! Pemuda Sudah”, merupakan proyek dokumenter pertamanya sebagai sutradara.

Arief Hartawan
Arief Hartawan (Oyyik) adalah lulusan Desain Grafis Universitas Udayana Denpasar tahun 2003. Saat ini Arief adalah seorang freelancer di dunia videografi. Berbagai video klip, profile dan film dokumenter telah ia hasilkan. Di antaranya adalah Dokumenter TV Dhaup Ageng (2013) dan Ring Of Fire Expedition (2013).

Opan Rinaldi
Opan lahir di Sumbawa Besar, menyelesaikan studi di jurusan Desain Komunikasi Visual tahun 2005. Freelancer di dunia grafis dan videografi. Pernah terlibat di beberapa proyek dokumenter dan fiksi sebagai kameraman, yang diantaranya adalah Selayar: Rahasia Surga Laut Tropis (2012), Bulan Sabit di Tengah Laut (2007), dan Jogja Berhati Mural (2007).

Dwi Sujanti Nugraheni
Heni lahir dan besar di Yogyakarta. Ia mengenyam pendidikan di Sastra Jawa, FIB dan Ilmu Pemerintahan FISIP UGM. Mengelola Festival Film Dokumenter di Yogyakarta dari tahun 2003 -­2012, dan bekerja sebagai intern di Women Make Movies di NYC dan Appalshop di Kentucky, 2009. Tahun 2013 dia menerima fellowship dari John Darling Fellowship untuk mengikuti post-­graduate course film etnografi di Australian National University. Denok dan Gareng (89 Menit), Film dokumenter panjang pertamanya diputar pertama kali (World Premiere) di IDFA Amsterdam/IDFA First Appearance Competition. Karyanya juga diputar di Yamagata International Documentary Film Festival (New Asian Currents) dan menjadi Film Terbaik di Festival Film Indonesia dan Salaya Doc Thailand.

Tim Kerja
Produser Eksekutif:
Rachma Safitri || Direktur Eksekutif Yayasan Kampung Halaman. Produser Eksekutif: (a.l. Workshop Video Diary & Foto Story Remaja dan Pekerja Rumah Tangga, Kampung Halaman & ILO, 2015). Penulis & Fotografer (a.l. Berbagi Ruang Berbagi Peluang Aksesibiltas Warga Berkebutuhan Khusus, National Geographic Indonesia, 2013).

Produser:
Dian Herdiany || Produser (a.l, Temu Rindu Menggugat Sunyi “Breaking The Lies”, Film Dokumenter, 2016). Fasilitator (a.l, Workshop Pemberdayaan Remaja Menghadapi Perubahan Iklim, OXFAM and IKEA Founda-­ tion 2015). Supervisor Produksi (a.l Workshop Video Diary Disabili-­ tas bersama ILO, 2013).

Prima Rusdi || Penulis skenario film (a.l, AADC2 (2016) bersama Mira Lesmana). Penulis (a.l Bikin Film Kata 40 Pekerja Film, Gramedia 2007). Produser (a.l. 9808 Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia, 2008).

Profil Lembaga
Yayasan Kampung Halaman adalah organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2006. Berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Kami bekerja dengan berbagai rekan di seluruh Indonesia untuk memperkuat peran remaja dan anak muda di komunitasnya masing – masing melalui media berbasis komunitas yang dilakukan secara kolaborasi. Alamat: Yayasan Kampung Halaman Dusun Krapyak, No 18, Rt. 05/Rw. 55 Desa Wedomartani, Kec. Ngemplak, Kab. Sleman Yogyakarta -­ 55584, Indonesia. Email: kembang6rupa@kampunghalaman.org

Leave a Reply