[Diskusi MLI] Candrasengkala: Warisan Luhur Para Leluhur | Diskusi Bersama Agung Prabowo

candrasengkala

[Diskusi MLI] Candrasengkala: Warisan Luhur Para Leluhur | Diskusi Bersama Agung Prabowo
Waktu: Kamis, 22 Oktober 2015; pukul 14:00 – 17:00 WIB
Tempat: Gedung Perpustakaan Pusat ITB, Jl. Ganesha No. 10, Bandung

Pengantar
Leluhur nusantara mewariskan cara penyandian angka tahun dalam bentuk rangkaian kata-kata yang disebut candrasengkala. Pembuatannya memerlukan pengetahuan matematika dasar berupa penggunaan basis sepuluh dan nilai tempat, selain penyandian dan penggunaan prinsip angkanam vamato gatih.

Pembuatan candrasengakala juga memerlukan pengetahuan mengenai watak bilangan yang dimiliki oleh suatu kata, sehingga jawab terhadap pertanyaan bagaimana cara menentukan watak bilangan suatu kata juga dipaparkan di sini. Catatan sejarah menunjukkan meratanya penggunaan candrasengkala di wilayah nusantara, mulai dari Bali hingga Sumatera Barat. Bahkan Thomas Stamford Raffles dan John Crawfurd merekam penggunaan candrasengkala dalam buku karyanya masing-masing.

Di Eropa, candrasengkala disebut kronogram, meskipun memperlihatkan perbedaan nyata dengan kronogram Eropa. Sedangkan di India, Kamboja. dan Vietnam disebut bhutasamkhaya yang bentuknya persis sama. Namun, nusantara memiliki satu kekhasan sendiri yang tidak dimiliki oleh India, Kamboja dan Vietnam. Hingga hari ini pun, penggunaan sengkala masih terus dipertahankan, khususnya di Kerarton Yogyakarta dan Surakarta.

Dalam kesempatan ini akan ditinjau jenis-jenis candrasengkala berdasarkan jenis kalender yang digunakan dan media yang digunakan dalam pembuatannya. Beberapa contoh candrasengkala yang tertua juga dimunculkan baik yang digali dari manuskrip nusantara (berupa prasasti atau kitab) maupun dari peninggalan berupa bangunan candi, astana dan wayang. Pada bagian akhir, diwacanakan peluang candrasengkala menjadi Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO, serta mengembangkan ekonomi kreatif berbasis candrasengkala.

Kata kunci: candrasengkala, ekonomi kreatif, matematika, nusantara, penyandian, UNESCO

Leave a Reply