Peluncuran Buku Jan Breman “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa” | Rabu, 26 Maret 2014

UNDANGAN JAN BREMAN2

Peluncuran Buku Jan Breman “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa”
Narasumber: Jan Breman, Hawe Setiawan (Dosen Sastra Inggris UNPAS), Anas Luthfi (Sajogyo Institute)*, Gunawan Wiradi* | Moderator: Charina Chazali (Akatiga)
Hari/Tanggal: Rabu, 26 Maret 2014 | Waktu: 14.00 – 16.00 WIB
Tempat: Common Room, Jl. Muararajeun No. 15
*tentatif

Pengantar
“Pengetahuan masa lalu diperlukan untuk lebih mengetahui masa kini dan masa depan.” sedikit kutipan dari Jan Breman tentang bukunya ini sangat menggambarkan apa yang menjadi tujuan utama mengapa buku ini terbit. Buku ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangan terhadap penulisan ulang sejarah Indonesia dengan memberi perhatian yang sesuai kepada apa yang diambil secara paksa dari negara ini dan rakyatnya di bawah kekuasaan kolonial. Selain itu buku ini juga dapat dianggap sebagai pembaharuan dari penulisan sejarah dan juga sebagai suatu uraian ilmu sosial dari karya Multatuli.

Kolonialisme di Indonesia memang bukan lagi persoalan yang kasat mata seperti jaman Belanda menjajah dahulu. Namun sebenarnya masalah kolonialisme masih ada dalam bentuk yang lebih kepada pemanfaatan lahan maupun sumber daya manusia dan alam tanpa adanya timbal balik yang sepadan atau tidak adanya tanggung jawab atas pemanfaatan itu. Contoh masalah yang sedang dan seringkali terjadi adalah pembakaran hutan di Riau. Beberapa lahan di Indonesia digunakan oleh perusahaan negara asing untuk diambil sumber dayanya, yang keuntungannya tidak diperuntukkan bagi masyarakat Indonesia, namun malah merugikan karena asap pembakaran hutan tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat bahkan sampai ke negara tetangga.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki pertahanan kemandirian politik dan ekonomi yang baik. Bangsa Indonesia sudah merdeka 68 tahun, apakah masih ingin ada kolonialisme? Melalui buku yang ditulisnya, Jan Breman membuka salah satu halaman hitam sejarah Belanda dan memperlihatkan bagaimana VOC dan pemerintah yang berkuasa telah meninggalkan guratan pada sistem pertanian di Jawa. Dalam buku “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa” ia membahas pemberlakuan dan perluasan budidaya kopi di dataran tinggi Jawa Barat di bawah pemerintahan kolonial.

Buku ini merupakan buku terjemahan dari “Koloniaal Profijt Van Onvrije Arbeid: Het Preanger Stelsel van gedwongen Koffiteelt op Java, 1720-1870” yang telah diluncurkan pertama kali di Amsterdam pada bulan September 2010. Dalam kaitan dengan peluncuran buku, Jan Breman yang memiliki hubungan baik dengan Indonesia melakukan serangkaian acara peluncuran buku yang sudah diterjemahkan di 3 kota di Indonesia. Rangkaian acara ini dimulai dari kota Yogyakarta, Bandung kemudian Jakarta. Yayasan Obor dan AKATIGA bekerjasama untuk menggelar acara peluncuran buku tersebut di Bandung. Sementara itu Yayasan Obor bekerja sama dengan UI di Jakarta dan UGM di Yogyakarta.

Jan Breman adalah seorang guru besar emiritus ‘Comparative Sociology’ yang tergabung pada ‘Amsterdam Instituut voor Sociaal-Wetenschap Onderzoek’ (Lembaga Amsterdam Untuk Penelitian Pengetahuan Sosial). Minat penelitian beliau adalah mengenai hubungan antara pekerjaan dan tenaga kerja di Asia pada masa kini, sejarah kolonialisme, migrasi tenaga kerja, kondisi kemiskinan, dan masalah sosial dalam perspektif global. Bersama dengan beberapa rekannya beliau membuat suatu penelitian yang berdasarkan pada minat yang sama, yaitu proses perubahan yang terjadi di pedesaan Jawa. Penelitiannya berfokus pada sistem kerja paksa di daerah Jawa Barat pada jaman kolonial serta proses mobilisasi tenaga kerja dan lahan yang terjadi.

Pengkajiannya juga menelaah gagasan-gagasan apa yang mendasari penggunaan pemaksaan sebagai prinsip yang mengatur produksi dan apa saja dampak dari adanya pengambilan sumber daya masyarakat bagi perekonomian dan masyarakat. Penelitian yang memakan waktu kurang lebih tiga puluh tahun ini kemudian menghasilkan satu buku “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa”, yang menggambarkan sejarah Indonesia pada jaman kolonial Belanda dari sudut pandang yang lain. Dalam buku ini Jan Breman menempatkan dirinya sebagai seorang yang menolak pandangan sejarahwan kolonial yang mengemukakan bahwa sistem tanam paksa yang berat itu ~baik sengaja atau tidak sengaja~ juga membuka jalur kemajuan baru bagi kaum petani.

Leave a Reply