Seminar Nasional Kebudayaan Kontemporer II / SURAT MALAM UNTUK PRESIDEN: 84 PATAHAN NARASI / Senin, 29 Oktober 2012

Forum Studi Kebudayaan ITB dan Yap Institute mempersembahkan:
Seminar Nasional Kebudayaan Kontemporer II / SURAT MALAM UNTUK PRESIDEN: 84 PATAHAN NARASI

Waktu: Senin, 29 Oktober 2012, pk. 08.00 – 16.00 WIB
Tempat: AULA Barat ITB, Jl. Ganeca no. 10

Pembicara:
Seminar Sesi I

  1. Dr. Intan Rizky Mutiaz “Narasi Media Sosial dan Kebangsaan”
  2. Dr. Ninok Leksono ”Narasi Media dan Problematika Kebangsaan”
  3. Budhiana Kartawijaya ”Narasi Internet sebagai Media Publik”
  4. Dimas Ginanjar Merdeka (Bob Maicih) ”Narasi Media Sosial dan Industri Kreatif”

Seminar Sesi II

  1. Acep Zamzam Noor ”Narasi Kebudayaan dan Kebangsaan”
  2. Prof. Dr. Iwan Pranoto ”Narasi Pendidikan dan Pemimpin Berkarakter”
  3. Rieke Diah Pitaloka “Narasi Kerakyatan dalam Politik”
  4. Prof. Dr. Bambang Hidayat ”Narasi Bahasa dan Peradaban”
Monolog
Wawan Sofwan “Surat Malam untuk Presiden”
Acep Iwan Saidi “Testimoni untuk Negeri: Bangsa dalam Patahan Narasi”

*Informasi dan pendaftaran silahkan hubungi Forum Studi Kebudayaan ITB di nomor 081220273036 atau kirim email ke alamat fsk.itb[at]gmail.com

Pengantar
Seminar Nasional Kebudayaan Kontemporer II / SURAT MALAM UNTUK PRESIDEN: 84 PATAHAN NARASI

Delapan puluh empat tahun telah dilewati bangsa ini sejak sekelompok pemuda berikrar meneguhkan tekad persatuan dan kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa pada 28 Oktober 1928. Sejak itu nasionalisme tumbuh, segala kepentingan individu dan kelompok disisihkan sehingga 17 tahun kemudian (1945) kemerdekaan dari belenggu penjajahan fisik pun dapat diraih.

Namun, kemerdekaan fisik sedemikian ternyata tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan kebangsaan itu sendiri. Segala permasalahan justru muncul dan bersumber dari dalam, berkelindan di antara kepentingan individu dan kelompok. Setelah melewati royan revolusi sampai selesainya kekuasaan rezim Orde Lama, bangsa ini pun berhadap dengan persoalan lain yang tidak kalah pelik: pemerintahan rezim Orde Baru.

Kurang lebih selama 3 dasawarsa bangsa ini dibungkam dalam kepongahan kuasa rezim yang militeristik, hingga akhirnya amuk massa terjadi dan rezim yang represif itu pun terguling. Saat rezim ini runtuh, kita memiliki harapan pada reformasi 1998. Tapi, sejauh ini harapan tersebut tak juga kunjung terpenuhi. Hingga hari ini, kita terus-menerus berada dalam keadaan centang-perenang, terutama dalam wilayah politik dan kepemimpinan. Moralitas bangsa ambruk. Kita nyaris tidak memiliki karakter yang ajeg sebagai bangsa.

Situasi demikian jelas tidak bisa terus-menerus didiamkan. Kita tidak boleh terlena berada dalam keadaan lepas kendali. Hal ini berarti bahwa seluruh elemen bangsa harus diajak untuk kembali membaca jadwal keberangkatan, dalam hal ini memahami kembali makna sumpah kesatuan dan kebersatuan hidup berbangsa sebagaimana 84 tahun silam telah diikrarkan. Kita harus kembali menyusun narasi kebangsaan yang telah terporakporandakan dalam berbagai patahan kepentingan: ego individu, kepentingan kelompok, angkara kuasa, dan lain-lain.

Terkait hal tersebut, Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB bekerjasama dengan YAP Institute, Jurnal Sosioteknologi, dan Common Room Networks Foundation menyelenggarakan seminar nasional bertajuk Surat Malam Untuk Presiden: 84 Patahan Narasi. Seminar ini merupakan seri kedua dari seri seminar nasional yang kami adakan sejak bulan Oktober tahun lalu. Sebagaimana telah dicanangkan pada seminar pertama, tema seminar bertolak dari karya dan pemikiran seorang tokoh. Seminar kali ini bertumpu pada buku Surat Malam Untuk Presiden, Narasi 501 Status Facebook yang ditulis Acep Iwan Saidi. Keseluruhan isi buku ini berkaitan dengan berbagai permasalahan kebangsaan yang diamati dan teramati penulisnya yang selama kurang lebih delapan bulan berdiskusi dalam jejaring sosial facebook. Kami menganggap pemikiran dalam buku ini memiliki kaitan dengan momen Sumpah Pemuda yang tahun ini diperingati ke-84 kalinya.

Leave a Reply