Meneropong Masa Depan Lewat transmediale.10: Futurity Now!

transmediale.10

Oleh Gustaff H. Iskandar*

Pertunjukan malam itu ditutup dengan sebuah dentuman besar yang membahana ke segala penjuru ruangan. Sejenak sekitar 1000 pemirsa yang hadir malam itu terkesiap senyap selama beberapa detik. Tak lama berselang, ruang auditorium House of World Culture (HKW) dipenuhi oleh riuh rendah tepuk tangan pemirsa yang mengiringi kepergian Ryoji Ikeda ke belakang panggung. Hadir dengan tajuk Pattern Recognition, acara malam itu menyuguhkan pertunjukan multimedia berjudul Materia Obscura milik Jurgen Reble & Thomas Koner (DE), serta Test Pattern yang ditampilkan oleh Ryoji Ikeda & Tomonaga Tokuyama (JP). Kedua pertunjukan ini menampilkan komposisi bebunyian yang berpadu sempurna dengan karya visual yang ditampilkan dalam format raksasa. Selama kurang lebih satu jam lamanya para pemirsa disuguhi pertunjukan bebunyian, dibalut citraan gambar bergerak yang membawa kita ke alam fantasi dan teror gelap masa depan.

Acara di atas merupakan salah satu suguhan utama di hari ke-2 dalam rangkaian kegiatan transmediale.10, sebuah festival seni dan kultur digital yang berlangsung mulai tanggal 2 – 7 Februari 2010 di gedung HKW Berlin. Melalui tema Futurity Now!, festival transmediale.10 mengajak khalayak ramai membicarakan masa depan melalui serangkaian kegiatan pameran, konferensi, workshop, pertunjukan, pemutaran film & video. Selain itu, festival ini juga menampilkan beberapa program satelit dan konser musik yang menampilkan karya dan pemikiran dari para seniman, desainer, musisi, pemikir, kritikus, ahli teori, blogger, praktisi media dan peneliti dari berbagai belahan dunia. Beberapa diantara peserta yang terlibat diantaranya adalah Ryoji Ikeda (JP), Gabriella Giannachi (IT), Drew Hemment (UK), Regine Debatty (BE), Jem Finer (UK), Jan Edler (DE), Maja Kuzmanovic (HR/ BE), Joy Ayo Tang (TW), Jaromil (IT/ NL/ BE), Alice Miceli (BR), Tapio Makela (FI), Juliana Rotich (KE), dsb. Sejatinya festival ini membincangkan berbagai fenomena terkini dalam ranah eksplorasi di bidang seni dan teknologi, serta dampaknya secara sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan secara luas.

Pada malam pembukaan, dijelaskan bagaimana imajinasi tentang masa depan di sebagian kalangan masyarakat Eropa terbentuk oleh ideologi peradaban Barat yang juga terpengaruh oleh perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan cerita fiksi. Dalam pengantar yang ditulis oleh Stephen Kovats yang bertindak sebagai direktur artistik, tahun 2000 dan 2010 merupakan tahun yang penting dalam banyak cerita fiksi mengenai masa depan. Periode ini dibayangkan sebagai sebuah era dimana perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah berhasil membangun sebentuk harmoni sosial yang baru, dan menjadi sebuah era kemajuan total (total progress) yang diproyeksikan secara masif melalui berbagai bentuk media dan karya seni, mulai dari novel, karya musik, seni rupa, arsitektur, film, pertunjukan teater, sampai dunia fashion. Namun begitu, tampaknya utopia masa depan yang selama ini dibayangkan telah bergeser menjadi sebuah dystopia, dimana angan-angan kemajuan tidak sepenuhnya berhasil dicapai dan malah cenderung bermutasi menjadi sebuah skenario buruk yang tampaknya akan berujung kepada ancaman bencana besar (cataclysm) peradaban manusia.

Beberapa saat setelah acara ini diresmikan, tujuh buah proyeksi sinar laser berwarna pelangi terlihat membentang dari atap gedung HKW sampai ke menara TV di daerah Alexanderplatz. Proyeksi laser ini merupakan karya berjudul From One to Many yang dibuat oleh Yvete Mattern (US). Sepertinya karya ini berupaya untuk merefleksikan hubungan simbolik yang baru bagi dua gedung yang terletak di bagian barat dan timur kota Berlin. Proyeksi laser warna-warni ini pertama kali ditampilkan di New York pada tanggal 19 Januari 2009, bersamaan dengan hari peringatan Martin Luther King Jr. Tepat satu hari sebelum malam inagurasi Barack Obama. Pada saat itu, komposisi proyeksi laser ini membentang dari daerah Manhattan sampai ke jembatan Brooklyn, yang kemudian melewati sungai Hudson dan berakhir di lokasi gedung World Trade Center Tower yang hancur ditabrak pesawat pada tahun 2001. Tampil ditengah-tengah badai salju kota Berlin yang dingin mencekam, karya ini sepertinya juga berupaya untuk mencerminkan simbolisme tradisional dari pelangi yang menyuarakan spirit keberagaman budaya, perdamaian dan harapan. Ratusan khalayak yang hadir malam itu terlihat begitu antusias dan dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar, meskipun harus menggigil di tengah-tengah hujan salju dan hembusan angin yang bertiup kencang.

Di dalam ruang pameran, gambaran masa depan yang suram tercermin melalui karya Alice Miceli yang berjudul Chernobyl Project – The Invisible Stain (2008 – 2009), yang menampilkan seri karya fotografi yang diambil dari wilayah tertutup pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl di perbatasan Belarusia. Karya ini merekam jejak kebocoran radio aktif dalam sebuah bencana yang terjadi pada tanggal 26 April 1986, dengan menggunakan teknik auto-radiografi dan kamera lubang jarum. Hasilnya adalah sebuah seri karya artistik yang merekam jejak mengerikan dari kebocoran radio aktif yang tidak dapat ditangkap oleh mata telanjang. transmediale.10 merupakan festival pertama yang menampilkan karya ini secara lengkap ke hadapan khalayak luas. Sebagai sebuah proyek yang membicarakan persoalan yang sangat spesifik, karya ini menjadi semacam peringatan bagi penggunaan teknologi yang pada level tertentu dapat menjadi ancaman dan mimpi buruk bagi keberlangsungan hidup manusia beserta lingkungannya.

transmediale.10

Dalam nuansa yang berbeda, gambaran masa depan yang angkuh dan dingin disuguhkan melalui karya Ryoji Ikeda dengan judul DATA.TRON [3SXGA+ Version] (2007-2009). Pada karya ini, Ryoji Ikeda menampilkan karya instalasi audio visual berukuran monumental yang mengandung lautan data elektronik dalam wujud huruf, angka, simbol-simbol, serta bebunyian tertentu. Karya ini merupakan bagian dari seri eksperimentasi proyek Datamatics yang berupaya untuk mematerialisasi data digital melalui serangkaian kalkulasi matematis yang dilakukan secara cermat. Karya ini sekilas mirip dengan proyeksi citraan gambar televisi yang didominasi oleh white noise dan berkonfrontasi langsung dengan pemirsa dalam sebuah ruangan yang serba gelap. Apabila para ilmuan dan ahli matematika menggunakan metode ini untuk memprediksi masa depan, Ryozi Ikeda memanfaatkannya untuk menghasilkan pengalaman yang begitu intens sehingga mampu mengepung kesadaran kita (immersive). Untuk karya ini, Ryozi Ikeda mengolah citraan grafis dan mengembangkan program komputer bersama-sama dengan Shohei Matsukawa, Norimichi Hirakawa, dan Tomonaga Tokuyama.

Hampir senada dengan karya Ryoji Ikeda, Zilvinas Kempinas (LT) menampilkan karya berjudul White Noise (2007) yang dibangun dengan menggunakan ribuan meter pita kaset video bekas yang ditampilkan sedemikian rupa, sehingga sekilas tampak seperti citraan pixel hitam putih yang diproyeksikan ke dalam layar berukuran besar. Sayup-sayup terdengar bebunyian gelombang rendah, namun dalam hal ini suara yang dihasilkan berasal dari pita video yang saling bergesek dan bergetar-getar. Selebihnya karya seni yang ditampilkan dalam festival ini terdiri dari beberapa karya instalasi audio visual, instrumen robotik, selain sejumlah karya film & video. Beberapa diantara karya yang dipamerkan memanfaatkan teknologi augmented reality, sensor elektronis, sampai pada eksplorasi gelombang elektromagnetik. Secara keseluruhan pameran ini dirangkum dalam sebuah frame kuratorial yang berjudul Future Obscura yang secara khusus dikurasi oleh Honor Harger (NZ). Lebih jauh, pameran ini juga berupaya untuk mengeksplorasi pandangan para seniman dalam memanfaatkan mesin dan materi yang digunakan untuk membangun citraan tertentu mengenai masa depan yang berseberangan dengan gambaran umum yang berkembang selama ini.

Perbincangan Panjang
Sebagai salah satu program inti untuk festival tahun ini, sebuah konferensi internasional yang menyoroti perkembangan teknologi media terkini diselenggarakan mulai tanggal 5 – 7 Februari 2010 di ruang auditorium HKW. Dengan tajuk Future Observatory, secara umum konferensi ini diselenggarakan untuk menguji berbagai bentuk batasan, gap dan disfungsi masa depan yang saat ini kita pahami. Hal ini dikembangkan sebagai sebuah proyeksi kultural yang mengungkap berbagai bentuk kemungkinan, strategi, spekulasi dan skenario masa depan yang baru. Seri pertama dari konferensi ini dibuka melalui sesi dialog yang berjudul Futurity Long Conversation, yang berisi serangkaian pembicaraan maraton yang berlangsung selama 9 jam non-stop tanpa moderasi dan interupsi. Sesi ini menghadirkan 22 pembicara yang terdiri dari seniman, desainer, ahli teori, wartawan, penulis, dan praktisi media yang mengekplorasi berbagai ide abstrak dan gagasan kualitatif yang merefleksikan pandangan mengenai masa depan secara kritis. Melalui rangkaian dialog yang membuka peluang refleksi estetik dan analitik secara kolaboratif, para pemirsa yang hadir diajak untuk menelisik uraian kompleks yang mempertautkan imajinasi tentang masa depan dengan wacana di bidang seni, teknologi, ilmu pengetahuan dan ekonomi baru.

Sebelum dimulai, sesi Futurity Long Conversation diawali dengan kuliah umum dari Dr. Richard Barbrook (UK) yang menyampaikan makalah dari bukunya yang berjudul Imaginary Futures: From Talking Machine to The Global Village. Secara jernih Dr. Richard Barbrook menguraikan fenomena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Amerika paska perang dunia ke-2, yang terutama dipicu oleh pertentangan ideologi di era perang dingin. Situasi ini kemudian mengantarkan blok barat dan timur pada kompetisi di bidang militer, industri, dan perlombaan untuk menaklukan ruang angkasa; selain mendorong berbagai inovasi dan penemuan baru di bidang teknologi media, khususnya internet. Menurutnya periode ini juga diwarnai oleh obsesi untuk menaklukan masa depan, terutama dengan adanya pandangan bahwa siapa yang dapat menguasai masa depan akan dapat menguasai dunia. Dalam konteks ini, teknologi internet kemudian dikembangkan karena dianggap memiliki potensi untuk membentuk struktur masyarakat di masa depan. Setelah berkembang selama lebih dari dua dekade, saat ini dapat dikatakan bahwa teknologi internet telah menjelma menjadi sumber kekuatan ekonomi dan politik baru yang menghegemoni masyarakat global (global society).

Konferensi kemudian dilanjutkan melalui dialog 22 pembicara yang menyampaikan pandangan mereka secara simultan. Pada sesi ini setiap pembicara tampil berpasangan dan berestafet untuk mengutarakan berbagai pandangan, kritik dan refleksi, termasuk berbagai prediksi dan spekulasi masa depan melalui serangkaian dialog yang intim. Secara bersamaan, kelompok Sosolimited (US) memanfaatkan sesi dialog ini sebagai bagian dari materi pertunjukan yang berlangsung di panggung cafe HKW. Kelompok ini merupakan trio lulusan MIT yang terdiri dari Justin Manor, Eric Gunther dan John Rostenberg. Dalam pertunjukan mereka, Sosolimited mengembangkan sebuah software khusus yang mampu mengurai rekaman diskusi ke dalam materi video, audio dan teks. Selanjutnya mereka mengekspos isi dan struktur dialog ke dalam visualisasi data yang memungkinkan para pemirsa menyimak konferensi dengan cara yang berbeda. Dalam pertunjukan ini khalayak ramai mendapat kesempatan untuk menelusuri beberapa kata kunci, uraian kalimat, serta simpulan ide dan gagasan abstrak dari para pembicara yang diterjemahkan ke dalam skema presentasi multimedia yang menarik, sehingga memungkinkan terjadinya pola interpretasi informasi dan pengetahuan dengan cara yang kongkrit. Setelah berjalan selama 9 jam, konferensi hari pertama ditutup oleh dialog antara Drew Hemment dan Tapio Makela yang menawarkan struktur dan narasi masa depan yang lebih plural dan terbuka bagi proses emansipasi.

transmediale.10

Pada hari berikutnya konferensi dilanjutkan melalui dua sesi kuliah umum dan diskusi yang secara khusus membahas ideologi dan masa depan internet. Selain itu, konferensi ini juga membicarakan fenomena “atemporality” yang mencerminkan percepatan perkembangan masyarakat yang terjadi secara ekstrim, sehingga cenderung menciutkan kondisi realitas di masa kini. Sesi pertama menampilkan Conrad Wolfram (UK) yang menyampaikan makalah berjudul Wolfram Alpha: Information, Computation and the New Era of Knowledge. Dalam uraiannya, Conrad Wolfram menyoroti potensi pemanfaatan teknologi informasi dan media baru yang telaht merubah mekanisme produksi dan distribusi pengetahuan, termasuk pola komunikasi yang dapat menyebarkan informasi dan pengetahuan dengan cara yang radikal. Menurutnya, saat ini kita telah hidup dalam sebuah era dimana keberagaman budaya dapat mengalami proses pertukaran, dialog dan kolaborasi secara virtual, sehingga kita perlu memikirkan kembali pemahaman mengenai identitas, terutama dari aspek komunikasi, interaksi dan pola hubungan antar manusia di seluruh jagat alam raya. Selanjutnya pada sesi kedua Bruce Sterling (US) menyampaikan makalah dengan judul Atemporality – A Cultural Speed Control. Dalam presentasinya Bruce Sterling menyampaikan bagaimana kecepatan dalam proses pengumpulan data dan informasi, serta kecepatan dalam mekanisme produksi dan distribusi produk, jasa dan informasi dapat membawa kita kepada jalan buntu peradaban. Hal ini terutama terjadi ketika kemajuan (progress) sebagai paradigma modernitas secara perlahan bermutasi menjadi sekedar serangkaian modulasi peristiwa yang terjadi secara terus menerus tanpa henti dan larut dalam perayaan pesta orgy perubahan dan variasi yang cenderung kehilangan tujuan dan maknanya yang hakiki.

Tampaknya secara umum berbagai kegiatan dan pembicaraan yang berlangsung dalam festival ini mengajak kita untuk mempertanyakan kembali pemahaman dan gambaran yang kita miliki tentang masa depan peradaban manusia dalam konteks perkembangan teknologi media. Hal ini terutama menyoroti berbagai aspek terkait yang memiliki intensi politis, serta tatanan nilai dan etika yang sedang beroperasi di tengah-tengah masyarakat zaman kiwari. Dalam konteks ini, kita sepertinya telah kehilangan kuasa untuk terlibat secara langsung dalam proses politik yang idealnya ditujukan untuk memuliakan nilai-nilai dan etika melalui serangkaian aktifitas dan praktik yang bersandar pada nilai-nilai budaya dengan manusia sebagai subyek utamanya. Sebagai taruhannya, kita kemudian berkonfrontasi dengan kenyataan bahwa tubuh kita telah mengalami proses de-personalisasi dan de-subyektifikasi, ditengah-tengah gemuruh perubahan yang dituntun oleh perkembangan teknologi (media) yang begitu mendominasi. Sementara itu, berbagai institusi yang menyangga peradaban manusia saat ini tampaknya tengah mengalami kegagapan yang laten, sehingga ikut terhimpit dalam arus perubahan yang berlangsung tanpa jeda. Di zaman edan, situasi turbulensi yang mencekam telah mengeliminasi ruang untuk menyampaikan reaksi balik berupa dialog, kritik, dan refleksi yang bermakna.

Alhasil melalui festival ini kita dapat melihat cerminan masa depan yang dipenuhi oleh kegamangan, keraguan dan ambivalensi, selain juga optimisme, gairah dan semangat untuk meraih peluang yang berjalan seiring dengan berbagai spekulasi dan konstelasi kuasa (politik) yang baru. Gambaran situasi ini tentu saja menuntut sikap yang awas dan hati-hati, terutama menyoal berbagai bentuk perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi media yang seakan terus bergerak dengan kecepatan yang melampaui kesadaran dan detak jantung kita. Dalam perspektif lokal, barangkali kita bisa mengutip uraian Rakeyan Darmasiksa dalam Amanat Galunggung yang berbunyi, “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke“, yang artinya kurang lebih, “Ada kemarin ada hari ini, apabila tak ada kemarin maka tak ada hari ini.” Melalui testamen yang ditulis oleh Raja Sunda ke-25 pada sekitar abad ke-15 ini, kita dapat mengambil hikmah bahwasanya masa depan yang lebih baik hanya dapat kita raih ketika kita dapat membaca kembali berbagai persoalan, kegagalan serta disfungsi masa lalu dan masa kini, sebagai upaya untuk mengkalibrasi ulang arah peradaban yang baru dengan cara yang lebih reflektif dan manusiawi.

Berlin, 7 Februari 2010

* Penulis adalah seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation. Terlibat dalam festival ini atas dukungan Goethe Institute Jakarta dan Hivos.

** Tulisan ini dipresentasikan dalam acara diskusi di Common Room pada tanggal 23 Februari 2010. Simak liputan mengenai diskusi ini di halaman Kampus Pikiran Rakyat.

*** Arsip video aktifitas transmediale.10 bisa diakses di halaman berikut.

**** Simak ulasan terkait di halaman berikut:
In conversation at Transmediale (Contributed by Judith Staines)
Transmediale.10 – Futurity Now! (A collaborative review by Marcello Lussana and Gaia Novati)

Leave a Reply