Membangun Jiwa Entrepreneurship Berbasis Komunitas

“If you have an idea, bend it as curve as you can”
– Reza Pamungkas
Project Director, Independent Network Indonesia

Pertemuan YES Club Bandung kali ini membahas “jiwa entrepreneurship berbasis komunitas” dengan mengundang dua pembicara, yaitu Man Jasad (Bandung Death Metal Syndicate atau disingkat BDM) dan Reza Pamungkas (Independent Network Indonesia atau disingkat INI). Poin pentingnya, bagaimana membangun sebuah sistem bisnis dengan modal berbasis jaringan dan kepercayaan (trust) sebagai prinsip utama.

Sebelum membahas topik ini, pertemuan dimulai dengan presentasi dua orang member YES Club Bandung yang bertujuan memperkenalkan jenis usaha serta proses kerja bahkan pencapaian yang telah dicapai. Mereka adalah Project Manager Cenikrenik Wulantri dan Direktur Umum Greeneration Indonesia M. Bijaksana Junerosano atau akrab disapa Sano.

Cenikrenik yang berdiri sejak tahun 2007 ini berawal dari pertemanan tujuh orang perempuan lulusan FSRD ITB yang memiliki minat sama pada tas dan furniture. Bermula dari rasa iseng, mereka sepakat untuk serius menekuni minat tersebut menjadi bisnis. Cenikrenik sempat vakum ketika beberapa pendirinya melanjutkan sekolah di luar negeri. Sekembalinya ke Indonesia, pada tahun 2009, mereka sepakat meneruskan kembali usaha ini. Hingga saat ini, tersisa 3-4 orang yang tetap berkarir di Cenikrenik.

Produk Cenikrenik kebanyakan tas, didesain sendiri oleh para pendirinya. Proses distribusi mengandalkan penjualan online terutama jejaring Facebook agar memudahkan Cenikrenik untuk berinteraksi langsung dengan para pembeli. Produk-produk Cenikrenik pun sudah mulai dititipkan di beberapa toko di pusat perbelanjaan Jakarta. Saat ini Cenikrenik berkeinginan untuk memiliki showroom sendiri dengan maksud menjaga image dan brand produk mereka. Rencananya pada tahun ini Cenikrenik sedang mempertimbangkan untuk melakukan ekspor.

Greeneration Indonesia (GI) yang berdiri sejak tahun 2005 merupakan perusahaan yang memperkenalkan gaya hidup ramah lingkungan (green lifestyle). GI didirikan oleh tiga orang sarjana yang berasal dari latar belakang akademik berbeda yaitu Sano (Teknik Lingkungan), Anindito (Arsitektur), dan Mufti Alem (Desain Produk). Karena latar belakang akademik yang berbeda, memungkinkan mereka untuk bergerak dan berpikir lintas disiplin.

Saat ini GI telah memperluas jaringan kerjasamanya mulai dari mahasiswa, akademisi, LSM/NGO (lokal/internasional), pemerintah, bahkan pengusaha. GI bergerak berdasar prinsip ABG (Academic, Business, and Government). Lewat salah satu produknya, Bagoes (tas reusable), GI berhasil menggandeng Circle K untuk menjual produk tersebut di lima kota besar diantaranya Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. GI pun menjadi partner Toyota dalam membuat kegiatan berbasis lingkungan. GI juga turut serta menjadi pendamping salah satu program NGO Plan Indonesia atau Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB). Setelah Cenikrenik dan GI selesai memaparkan presentasinya, tema utama dalam seminar entrepreneurship berbasis komunitas ini mulai dipaparkan oleh Man Jasad (BDM) dan Reza Pamungkas (INI).

Diskusi pada sesi ini diawali dengan pembicaraan soal modal penting dalam membangun usaha berbasis komunitas. Kepercayaan (Trust) menjadi kata kunci dalam melakukan bisnis berbasis komunitas. Tidak hanya bagi Cenikrenik dan GI, demikian pula bagi BDM dan INI. BDM sendiri bergerak di ranah sosial, ekonomi, dan budaya, melalui kegiatan-kegiatan untuk mewadahi kreativitas anak muda (sosial), pengadaan merchandise band (ekonomi), dan penciptaan musik yang menggabungkan musik tradisional dengan musik masa kini (budaya). Sedangkan INI merupakan sebuah usaha di bidang Event Management dan Communication Program Management yang berdiri sejak tahun 1999. Mereka membangun usahanya atas dasar menciptakan dan membangun kesempatan, untuk diri maupun orang lain. Dan kini, terbukti, mereka telah mampu menggandeng rekan-rekan di komunitas lain untuk bekerja sama.

Bisnis yang mereka jalankan memiliki prinsip: dari komunitas, untuk komunitas. Walaupun demikian, bisnis yang dijalankan perlu dibuat secara struktural. Perlu ada pembagian peran dan tanggungjawab secara jelas. Dari gambaran di atas terdapat sebuah pola hubungan yang berawal dari komunitas kemudian menjadi bisnis dan menjaring komunitas dalam mengembangkan bisnisnya. Dalam menjalankan usaha ini dibutuhkan komitmen dan mutualisme antar komunitas, sehingga terbina rasa kepercayaan sebagai modal dasar. Apabila dapat berkembang baik dalam rentang waktu yang panjang, biasanya keberadaan komunitas menjadi satu kekuatan yang mulai diperhitungkan oleh banyak pihak. Mulai sebagai pangsa pasar yang potensial, jejaring produksi, distribusi, maupun konsumen yang loyal. Menurut Man Jasad, yang kemudian juga diamini oleh Reza, dalam menjalani bisnis ini, satu etika yang perlu dipegang adalah tidak “culas”* atau membiasakan menanam dan memegang kepercayaan. Dalam hal ini, Andar Manik (pendiri Jendela Ide) kemudian menambahkan prinsip komunitas yang mengedepankan nilai-nilai yang terbuka, non-diskriminatif, dan inklusif.

Penulis: Yasmin Kartikasari
Editor: Idhar Resmadi

*Menikam dari belakang, menyalahi kepercayaan

Berita terkait bisa diakses di halaman berikut ini: http://bit.ly/crDPNN

Leave a Reply