Laporan Penanganan Bencana Longsor Ciwidey

Sumbangan Gempa Ciwidey

Oleh Addy Gembel (Forgotten/ Solidaritas Independen Bandung)

Desa Tenjolaya merupakan sebuah perkampungan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Pasir Jambu, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Desa ini tepat berada ditengah-tengah lembah kawasan hutan lindung Gunung Tilu. Artinya letak kampung tersebut ‘dikepung’ beberapa puncak gunung dengan kemiringan kontur yang tajam dan curam. Pada tahun 1956 untuk pertama kalinya kawasan ini dibuka untuk lahan perkebunan teh oleh PT Chakra. Seiring dengan adanya kegiatan pengolahan teh, maka dimulailah pembukaan lahan yang berstatus HGU (Hak Guna Usaha) yang kemudian dijadikan perumahan bagi sebagian karyawan dari PT Perkebunan Dewata. Dari tahun ke tahun populasi masyarakat yang mendiami wilayah tersebut terus bertambah seiring dengan adanya peningkatan pembangunan sarana jalan dan fasilitas umum lainnya.

Pada hari Selasa (23/2) sekitar pukul delapan pagi, kawasan ini dilanda longsor. Puluhan rumah di enam rukun tetangga yang ada diwilayah RW 11 musnah tertimbun tanah. Sekitar 35 Kepala Keluarga (KK) atau delapan puluh jiwa hingga kini masih belum ditemukan dan diperkirakan tewas tertimbun. Hingga kini penyebab longsor tersebut masih simpang siur. Beberapa ada yang menyebutkan apabila longsor ini terjadi karena ambruknya patahan di Gunung Tilu akibat gempa yang terjadi tahun kemarin karena tingginya curah hujan belakangan ini. Sebagian ada yang memprediksi bahwa bencana ini terjadi akibat adanya pembukaan lahan baru untuk perkebunan sehingga daya serap tanah terhadap air menjadi berkurang.

Penampungan Bantuan

Data yang dihimpun oleh Common Room dan Solidaritas Independen Bandung (SIB) terkait dengan kondisi terbaru dari lokasi bencana longsor pada tanggal 25 Februari 2010 adalah sebagai berikut:

  • Evakuasi dan pencarian korban longsor terhambat oleh kendala cuaca yang ekstrim. Hampir setiap hari kawasan tersebut hujan dan jarak pandang terhambat oleh kabut. Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketakutan akan datangnya lonsor susulan. Pada hari Kamis 25 Februari 2010 tim relawan berhasil menemukan 2 jenazah sehingga total korban yang berhasil ditemukan berjumlah 20 orang.
  • Kondisi jalan menuju lokasi bencana dari arah jalan Raya Ciwidey sepanjang 30 km tergolong rusak parah sehingga menghambat mobililitas realawan dan bantuan logistik.
  • Minimnya peralatan evakuasi manual seperti cangkul mengakibatkan relawan bekerja dengan peralatan seadanya. Sementara satu buah alat berat berupa bachoe berhasil masuk kelokasi bencana dan satu lagi masih tertahan dibawah karena beratnya medan jalan.
  • Terhitung sejak hari Kamis tanggal 25 Februari instalasi listrik sudah mulai terpasang walaupun dengan kapasitas daya yang masih rendah.
  • Terhitung sejak Kamis tanggal 25 Februari instalasi komunikasi seperti radio amatir dan Handphone telah terpasang dan berfungsi. Khusus untuk sinyal HP dilokasi bencana yang dapat diakses hanya dari provider Indosat.
  • Layanan medis telah berjalan untuk melayani kebutuhan kesehatan para relawan dan pengungsi.
  • Penduduk yang berada diwilayah bencana sebagian telah dievakuasi untuk menghindari longsor susulan.
  • Pengungsi tersebar dibeberapa titik pengungsian di desa-desa sekitar lokasi bencana sehingga menyulitkan pembagian bantuan.

Sortir Bantuan

Berikut data lokasi pengungsi yang dikumpulkan oleh relawan di lapangan:

  • Desa Kana’an terdiri dari Dewasa (41 orang) dan Anak-anak (42 orang)
  • Desa Sugih Mukti terdiri dari Dewasa (11 Orang), Anak-anak (13 orang), dan Balita (6 orang)
  • Desa Tenjolaya (29 orang)
  • Desa Cisondari (30 orang)
  • Desa Lebak  Muncang (4 orang)
  • Desa Alam Endah (15 orang)
  • Ciasin (5 orang)
  • Cibodas (5 orang)

Total pengungsi (140 orang)

Kebutuhan mendesak para pengungsi:

  • Tenda
  • Pakaian layak pakai (dewasa dan anak-anak)
  • Obat-obatan
  • Nutrisi anak
  • Selimut
  • Air mineral
  • Sembako

Pembagian Bantuan

Pada hari Kamis, tanggal (25/2) secara resmi SIB membuka posko tanggap darurat untuk menerima dan mengkoordinir sumbangan bagi korban longsor di Ciwidey yang bertempat di Common Room, Jalan Kyai Gede Utama no. 8 Bandung. Dikarenakan luasnya wilayah penyebaran pengungsi korban longsor  dan terbatasnya armada transportasi untuk mengangkut bantuan untuk proses distribusi, pihak SIB akhirnya berkoordinasi dengan Posko Alam Endah di Ciwidey yang dikoordinir oleh Asep Ester.

Berikut adalah bantuan yang terkumpul dan telah didistribusikan ke posko Alam Endah pada hari Minggu, 28 Februari 2010:

  1. 105 paket sembako (masing-masing terdiri dari 3 bungkus mie instant, 1 kaleng sarden, minyak goreng @225 ml, 4 susu anak, gula pasir 250 gram, beras 3 kg.)
  2. Pempers (11 pak/ @16 pieces)
  3. Biskuit bayi 8 bulan (11 pieces)
  4. Bubur bayi 6 bulan (13 pieces)
  5. Bubur bayi 8 bulan (8 pieces)
  6. Biscuit (8 bungkus)
  7. Minuman ringan (2 dus/ 48 pieces)
  8. Kayu putih (5 box/ 60 pieces)
  9. Minyak telon (4 pieces)
  10. Obat diare anak (5 botol)
  11. Betadine (2 botol)
  12. Plester (10 pieces)
  13. Air mineral gelas (24 dus/ 1152 gelas)
  14. Pakaian dewasa pria (6 dus)
  15. Pakaian dewasa wanita (9 dus)
  16. Pakaian anak-anak (3 dus)
  17. Pakaian pria/wanita (4 kantung)
  18. Mukena/sajadah (1 dus)
  19. Uang tunai (Rp. 550.000,-)

Dari data yang masuk pada tanggal 27 Februari 2010 dari sekitar lokasi bencana longsor masih terdapat 657 pengungsi yang tersebar di  12 desa  meliputi wilayah Kecamatan Gambung dan Pasir Jambu  Ciwidey. Prioritas kebutuhan bantuan bagi para pengungsi pada saat itu adalah:

  1. Perlengkapan sekolah terdiri dari buku tulis, alat tulis, dan seragam SD dan SMP
  2. Pakaian dalam wanita
  3. Perlengkapan bayi
  4. Makanan bayi
  5. Tikar
  6. Selimut
  7. Pembalut wanita
  8. Bumbu masak
  9. Uang tunai untuk membeli bahan bakar untuk memasak
  10. Obat-obatan

Seiring dengan selesainya situasi tanggap darurat longsor di Ciwidey maka sisa bantuan yang telah terkumpul disalurkan ke posko banjir yang ada di Bale Endah.

Leave a Reply