Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 2)

Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.

Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.

Anytime, everywhere, anywhere. Itulah sifat teknologi di masa kini yang akan selalu siap kapanpun, dimana pun, dan bagi siapapun yang membutuhkannya. Teknologi memberikan kemudahan, kenikmatan, kesenangan, sekaligus kesementaraan, kemewahan, dan hampir segalanya bagi kita ketika melalui dan memaknai hidup. Akhirnya: mereka menguasai kita.

Dengan segala kemudahan dan kenikmatan yang diberikan, teknologi layaknya mata uang koin bersisi dua, selalu menempel dan membayangi sisi lainnya. Teknologi juga mirip seperti selembar kertas HVS yang pada salah satu sisinya diisi tulisan dan sisi satunya dibiarkan kosong: meng-ada-kan dan men-(t)iada-kan. Akhirnya: mereka mengakar, menggurita dan mengeruk; mengubah pola perilaku dan ritme hidup kita.

Saat ini manusia menjadi sangat tergantung dengan keberadaannya, tidak terkecuali internet. Suatu istilah yang kini telah menjadi keseharian, yang bahkan ketiadaannya mampu membuat manusia menjadi gundah gulana, resah, cemas, akan sesuatu yang entah apa, namun terasa. Keberadaan internet seakan menjadi pengada jati diri seseorang, terutama dengan keberadaan situs jejaring sosial, dimana setiap orang dapat terkoneksi secara langsung dengan siapapun berpartisipasi dan terhubung secara langsung, agar dapat update setiap saat. Tidak ada lagi six degrees of separation (human web)[1], sebuah hipotesa yang dibuat Frigyes Karinthy yang mengatakan bahwa setiap orang di muka bumi ini berjarak enam langkah dari manusia lainnya. Saat ini keberadaan kita di dunia ini seakan ditentukan oleh status update hari ini, agar mendapat perhatian dari manusia lainnya. Sebagian kecil mungkin, tapi tidak dengan sebagian besar lainnya.

Dalam dunia internet, berbagai percampuran, pembengkokan, pelubangan telah terjadi. Dengan segala bujuk rayunya, internet telah menggerayangi kita untuk selalu lekat dengan dirinya. Menjadi selalu ada dalam dirinya namun menjadi terpisah dengan realitas yang ada. Menjadi candu, ekstasi, serta hingar bingar pesona kemudahan dan kecepatan. Memutus rantai kehidupan dan menjadi dunia yang berdiri sendiri[2]. Manusia modern kemudian tercabut dari habitatnya, dari ekosistemnya, dari akarnya. Berdiri sendiri untuk membuat dunia baru yang dapat dikuasai, dia atur, dan diwarnai sesuka hati. Inilah paralel dunia.

Aku, Kamu dan Kita Semua Adalah Masyarakat Tontonan

Bermula dari Friendster dan Facebook, sebuah situs jejaring sosial yang menghubungkan banyak orang dalam suatu wadah (website) dan menjadi situs yang paling sering dibuka oleh hampir setiap orang di Indonesia[3]. Kedua situs ini diminati oleh (kebanyakan) anak muda karena menjadi media penghubung untuk berkomunikasi langsung dengan teman lama ataupun mencari teman baru. Saat ini umur tampaknya tidak menjadi batasan pengguna facebook. Segala lapisan umur, pangkat, gaji, status, serta kelas sosial kini telah berbaur dan menjadi pengguna berbagai situs jejaring sosial, demi apapun tujuan mereka menggunakannya.

Dengan fasilitas yang diberikan, situs jejaring sosial memfasilitasi eksistensi diri seseorang untuk selalu ada dan hadir dalam ‘dunia’. Ketika dunia real belum mampu ia jajal, dunia cyber menjadi alternatif bagi orang-orang yang haus akan penghargaan. Tidak hanya itu, dengan kolom ‘status’nya, orang-orang sibuk beradu ‘kehebatan, kemewahan, keanehan, kegayaan, keseharian, dan hal-hal remeh lainnya. Keberadaan kolom yang tertulis “what’s on your mind” diisi dengan laporan akan keberadaan diri atau (sekedar) curahan hati. Yah, ini lah yang terjadi pada masyarakat di sebuah Negara yang masih berbudaya lisan menanggapi teknologi berupa tulisan (text). Tidak ada yang salah di sini, yang ada hanya kejelasan akan kultur yang dimiliki oleh suatu masyarakat akan diadaptasi berbeda oleh kultur masyarakat yang lain.

Gambaran masyarakat yang seperti ini, cocok dengan masyarakat yang disebut Guy Debord sebagai The Society of Spectacle atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi masyarakat tontonan. Walaupun ia mengkritisi keberadaan media yang mempengaruhi perilaku dan pola pikir masyarakat yang menontonnya[4], namun istilah ini menggambarkan kondisi masyarakat yang senang melihat dan mengawasi keberadaan orang lain melalui berbagai situs jejaring sosial. Dalam hal ini segenap individu meng’ada’kan dirinya agar ‘hadir’ dan ‘ditonton’ oleh orang lain, menjadi penonton dan ditonton.

Situs jejaring sosial menjadi salah satu bentuk ‘media surveillance’, dimana setiap orang dapat diamati oleh orang lain tanpa sadar dan secara sukarela, sehingga menjadi salah satu sarana eksistensi yang dapat menghadirkan dirinya dalam sebuah dunia.


[1] Diakses dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation

[2] Piliang, Yasraf Amir. Dunia yang Dilipat: …. . Jalasutra. Yogyakarta. 2004.

[3] Belum ada kajian spesifik dan data pasti.

[4] Debord, Guy. The Societies of Spectacles. 1967  Dapat diakses di: http://www.bopsecrets.org

Leave a Reply