Illuminator Artwork Exhibition | Galeri Padi, 19 Nov s/d 4 Des 2010

Illuminator Artwork Exhibition
19 November s/d 4 Desember 2010
Featuring 8 underground artists: Dede Suhita, Ken Terror, Jali Narchos, Gustav Insuffer, Gencuy Brutal Art, Dinan Art, Yusep Mortem Art and Wibowo Yudo Baskoro

Jadwal Kegiatan
Opening: 19 November 2010, Pk. 15.00 – end | Feat. Karinding Attack dan Karinding Militan
Workshop & Sharing: 21 November 2010, Pk. 10.00 s/d 17.00 WIB | Bersama: Gustav Insuffer, Ken Terror, Jali Narchos, Dinan Art, Gencuy Brutal Art & Dede Suhita | Moderator: Jali Narchos
Artwork Fest: 28 s/d 30 November 2010, Pk. 13.00 – 21.00 WIB
Diskusi Etika dan Hak Cipta: 30 November 2010, Pk. 13.00 – 21.00 WIB
Presentasi riset buku Panjeg Dina Galur oleh Kimung: 3 Desember 2010, Pk. 14.00 – 18.00 WIB (Dilanjutkan dengan kegiatan Hang Outs with BADEBAH)
Penutupan: Sabtu, 4 Desember 2010

Galeri Padi
Jl. Ir. H. Juanda no. 329 (Dago atas)
Bandung

More info: Dinan (+6281312082666)

Catatan Kuratorial
Memaknai Ketelanjangan dan Sadisme
(sebuah doa pengantar menuju ruang otopsi)

Tubuh adalah bagian paling personal dan menjadi benteng pertahanan terakhir untuk segala macam bentuk saluran ekspresi. Ada sebuah fase dimana tubuh harus bergerak sendiri berdasarkan intuisi dan mengikuti kehendak hasrat tanpa harus sejalan dengan sensor motorik yang diperintahkan oleh otak. Ketika alam bawah sadar mencoba mengeluarkan sensasi-sensasi diluar batas kewajaran sehingga tubuh seolah dipaksa mampu menerima dan memahaminya sebagai sebuah perintah kewajaran. Untuk bisa masuk situasi tersebut dibutuhkan sebuah stimulan. Apapun itu bentuknya stimulan tersebut berfungsi mengalihkan kesadaran untuk masuk sebuah dimensi yang sarat sensasi yaitu dimensi transidental.

Ketika masuk diwilayah transidental maka tubuh seolah hilang sensor. Seperti seniman kuda lumping yang menjadikan tubuhnya sebagai media dan wahana untuk menciptakan ‘karya seni’. Menjadikan tubuh sebagai bagian dari aksi mempertontonkan kesadisan. Ada tubuh yang dicambuk, ada tubuh yang ditusuk dan disakiti. Atau lihatlah bagaimana seorang seniman debus yang memperlakukan tubuh sebagai media berekspresi dan melakukan kegiatan estetika. Lidah yang dipotong, kepala yang dibacok hingga putus, tangan yang disayat dan aksi lainnya yang mengumbar darah dan kesadisan. Tubuh menerima itu sebagai bagian dari ekspresi estetika.

Itulah yang sekarang sedang dilakukan oleh para artis yang tergabung dalam gelaran The Illuminator Artwork Exhibition “The Undead, Skull and Creatures”. Mereka menjadikan tubuh sebagai tema dan lahan untuk melakukan kegiatan eksplorasi estetika. Bukan tubuh mereka sendiri yang dieksploitasi melainkan tubuh-tubuh imajiner yang tercipta dari alam bawah sadar. Tubuh yang muncul dari alam transidental yang di stimulasi oleh musik-musik yang mereka konsumsi. Hantaman ketukan drum blastbeat, distorsi rapat gitar pada frekwensi low, teriakan scream dan guttural dan lirik-lirik yang mengumbar sadisme dan kekacauan menjadi gerbang yang sanggup menghantarkan mereka memasuki alam bawah sadar yang paling gelap, sunyi dan mencekam.

Mereka menjadikan alam bawah sadar menjadi sebuah ruangan otopsi bagi tubuh-tubuh imajiner. Dengan bebas mereka ‘mengacak-acak’ tubuh tersebut. Dengan bebas mereka melakukan kegiatan mutilasi dan mempraktekan aksi kanibalisme. Menelanjangi tubuh, memenggal kepala, mengurai usus dan mengkonsumsi organ tubuh. Bahkan beberapa diantara mereka menjadikan alam transidental sebagai laboratorium genetik dan melakukan eksperimen dengan menciptakan mahluk-mahluk menyeramkan. Semuanya tertuang dalam aneka rupa gambar yang sekarang sedang kalian nikmati.

Sadisme dan ketelanjangan adalah sesuatu yang puitis. Karena ada sebuah metaphora yang coba dieksplorasi secara detail melalui tubuh dan aneka mahluk yang sengaja diciptakan. Warna darah, aneka bentuk organ tubuh, ekspresi wajah dibekukan kedalam frame dan dapat dinikmati setiap detailnya. Setiap ‘rasa’ yang terkandung didalamnya adalah ruh yang juga menyertai setiap proses dalam menciptakan karya dan mempunyai makna yang sangat personal. Terlepas pada akhirnya apa yang mereka hasilkan menjadi bagian dari komodifikasi sebuah produk ‘seni pakai’. Makna karyanya tereduksi kedalam produk baju dan pernik merchandise lainnya sesuai dengan keinginan para ‘pemesan’. Menjadi barang-barang yang mengalami proses duplikasi dan diproduksi secara masal.

Tidak ada yang salah dalam proses ini karena sifat seni adalah universal seperti keindahan itu sendiri. Karena sifatnya inilah seni tidak menjadi milik dan dominasi salah satu kelompok dalam masyarakat. Ia harus bisa difahami dan dimaknai oleh siapa pun juga. Tidak perlu menunggu seseorang itu mempunyai deretan gelar lebih dulu untuk memaknai sebuah karya seni. Tidak perlu juga ada aturan-aturan tertentu yang cenderung mengada-ada untuk memaknai makna seni, pornografi dan sadisme.

Seni dan segala ekspresi yang terlahir merupakan penyokong citra moral apabila ia ditampilkan dengan wajah seni yang sesungguhnya. Tapi seni dapat menjadikan moral berada pada nilai terendah apabila ia ditampilkan dengan wajah pornografi dan sadisme. Karena sungguh, kekerdilan sebuah pola pikir ditentukan seberapa jauh ia bisa menilai mana seni dan mana pornografi, dan mana yang menyembunyikan wajah aslinya dengan berlindung pada wajah keindahan atas nama seni.

Addy Gembel
(Penulis, Vokalis, Ketua Solidaritas Independent Bandung dan Pejuang Kebebasan Berekspresi. Pada umur 9 tahun pernah bercita-cita jadi astronot)

Leave a Reply