Citizen Journalism: Sebuah Pengantar | Oleh Santi Indra Astuti (Bandung School of Communication Studies)

commonroom

Walau pun bukan sesuatu yang baru bagi kalangan media massa, istilah citizen journalism (Cj) mendadak ngetop kembali belakangan ini. Pesta Blogger Indonesia bisa dibilang salah satu momen yang meramaikan wacana Cj. Di sisi lain, juga memunculkan pertanyaan: apakah maraknya blog menjadi penanda munculnya Cj? Apakah setiap pemilik blog berarti adalah praktisi Cj? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita tinjau konsep-konsep dasar Cj.

A. Apakah Citizen Journalism?
Pada dasarnya, definisi Cj berpulang pada konsep jurnalisme yang diajarkan di seantero program studi komunikasi di Indonesia, yaitu ‘kegiatan mencari, mengolah, dan menyebarluaskan berita’. Apa yang membedakan Cj dengan jurnalisme pada umumnya adalah term citizen. Jika pengelola berita dalam konsep jurnalisme the old school adalah lembaga media, maka dalam konsep Cj, khalayak menjadi pengelolanya.

Dengan bersemangat everybody could be a journalist, maka konsep ini mempunyai implikasi dalam aspek produksi-konsumsi: batas antara produsen dan konsumen mengabur, konsumen pun bisa menjadi sang produsen yang produknya dikonsumsi oleh media—padahal media ini tadinya adalah produsen tunggal (berita).

Kemunculan Cj dilatarbelakangi ketidakpuasan terhadap media massa yang melakukan seleksi isu sedemikian rupa, sehingga gagal memuaskan publik. Dalam arti, banyak isu yang diseleksi tidak mencerminkan kepentingan publik. Maka, muncullah citizen journalism yang menggagas partisipasi publik dalam ‘pasar berita’.

B. Prinsip Citizen Journalism

(The Roots of Civic Journalism by David K. Perry, 1990)

  1. “Attempting to situate newspapers and journalists as active participants in community life, rather than as detached spectators.”
  2. “Making a newspaper a forum for discussion of community issues.”
  3. “Favoring the issues, events and problems important to ordinary people.”
  4. “Considering public opinion through the process of discussion and debate among members of a community.”
  5. “Attempting to use journalism to enhance social capital.”

C. Langkah-langkah Menggagas Citizen Journalism

I. Perspektif Media (Steve Outing, 11 Layer of Citizen Journalism)

  1. Creating public debate, opening up public comments. Tentukan dulu isunya.
  2. Merekrut warga sebagai reporter
  3. Open source reporting: invite audience to give comments before ‘official’ published, using reader’s panel, etc.
  4. Citizen bloghouse: aggregator approach vs. selective approach
  5. Transparan: sharing proses dengan khalayak
  6. Stand-alone citizen-journalism site: Edited version
  7. Stand-alone citizen-journalism site:  Unedited version
  8. Add-on print version
  9. The hybrid: pro+Cj under one roof
  10. Integrating the hybrid

II. Perspektif Publik/ Citizen

  1. Mengidentifikasi isu
  2. Membuka wacana (dengan blog sendiri, atau memanfaatkan ruang-ruang yang disediakan media)
  3. Berpartisipasi dalam forum-forum perdebatan publik
  4. Writing, researching, discussing …
  5. Publish!
  6. Harus ada produk kongkret, not just share the idea
  7. Konsisten pada goals, itu lebih baik

III. Amunisi yang Diperlukan

  1. Kepekaan mengenali isu publik
  2. Kemampuan menulis
  3. Dasar-dasar jurnalisme: struktur/ anatomi berita, elemen berita, nilai berita
  4. Kecakapan menggunakan teknologi media
  5. Mental attitude: jujur, kredibel & tekun

Ingat! Tanpa pengunjung, situs Cj sebagus apapun tak akan dibaca, atau dikunjungi. Dan pada konteks ini, Cj tidak akan terbentuk.

* Materi ini dipresentasikan dalam workshop jurnalisme warga dan jurnalisme konvergen di Common Room pada tanggal 23 April 2010.

One thought on “Citizen Journalism: Sebuah Pengantar | Oleh Santi Indra Astuti (Bandung School of Communication Studies)

Leave a Reply