Updates from June, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Idharrez 10:30 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 3-selesai) 

    http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg");" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="389" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0">http://i2.ytimg.com/vi/ia5FxoeFJWI/hqdefault.jpg");" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="389" src="http://www.youtube.com/v/ia5FxoeFJWI&hl=en_US&fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true">

    Internet, Media, Kuasa dan Politik

    “Power can be bias in Internet, between powerful/ powerless are intertwine”[1]

    (Tim Jordan)

    Pada awal 1980-an, teknologi internet baru hadir di Indonesia untuk keperluan Universitas Indonesia (UI) saja. Pada masa itu infrastrukturnya belum mendukung sehingga internet tidak berkembang secara luas. Baru di tahun 1994, provider swasta mulai membuka jaringan dan internet mulai digunakan publik secara luas pada tahun 1995. Pada masa itu penggunaan internet belum terlalu marak karena biaya pemasangan dan kepemilikan jaringan masih mahal dan membutuhkan sambungan telepon pribadi untuk menyambung internet.[2]

    Keberadaan internet ternyata mampu menjadi media alternatif bagi masyarakat untuk mencari dan menyebarkan informasi, yang pada masa itu penyebarannya masih sangat dibatasi dan diatur sepenuhnya oleh Negara. Internet seakan menjadi angin segar yang menggugah masyarakat untuk lebih berani dan proaktif. Terbukti, internet menjadi salah satu alat untuk menggulingkan Soeharto dan tatanan Orde Baru yang dibangunnya.[3] Caranya?

    (More …)

     
    • jobloker 8:17 am on May 15, 2011 Permalink

      Internet selalu mempunyai 2 sisi negatif dan positif, dan merupakan sebuah katalis perubahan di dunia dan mempercepat perluasan informasi

  • Idharrez 10:21 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 2) 

    http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg");" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="388" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0">http://i4.ytimg.com/vi/WytNkw1xOIc/hqdefault.jpg");" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="388" src="http://www.youtube.com/v/WytNkw1xOIc&hl=en_US&fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true">

    Internet: Teknologi, Sosial dan Budaya.

    Internet, seperti keberadaan teknologi lainnya, seakan menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membantu dan memudahkan manusia, dan di sisi lainnya menjadi kebalikan dari sisi lainnya. Ia mampu merusak, menghilangkan dan mengeliminasi. Dalam hal ini tampaknya internet akan selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dimanapun dia berada, dan kapanpun dia mau.

    Anytime, everywhere, anywhere. Itulah sifat teknologi di masa kini yang akan selalu siap kapanpun, dimana pun, dan bagi siapapun yang membutuhkannya. Teknologi memberikan kemudahan, kenikmatan, kesenangan, sekaligus kesementaraan, kemewahan, dan hampir segalanya bagi kita ketika melalui dan memaknai hidup. Akhirnya: mereka menguasai kita.

    Dengan segala kemudahan dan kenikmatan yang diberikan, teknologi layaknya mata uang koin bersisi dua, selalu menempel dan membayangi sisi lainnya. Teknologi juga mirip seperti selembar kertas HVS yang pada salah satu sisinya diisi tulisan dan sisi satunya dibiarkan kosong: meng-ada-kan dan men-(t)iada-kan. Akhirnya: mereka mengakar, menggurita dan mengeruk; mengubah pola perilaku dan ritme hidup kita.

    (More …)

     
  • Idharrez 10:09 am on June 24, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Internet: Jerat, Ilusi dan Kuasa | Oleh Yasmin Kartikasari (Bagian 1) 

    http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg");" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="295" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0">http://i2.ytimg.com/vi/9hIQjrMHTv4/hqdefault.jpg");" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="295" src="http://www.youtube.com/v/9hIQjrMHTv4&hl=en_US&fs=1" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true">

    “Baudrillard’s hyperreality is not a map at all, but a participative process that may shape us, or may allow us to shape our surroundings. There is no other controller. Governance is our own hands but is set to mass agendas. The cybernetic loop has closed on postcapitalist society and cyberspace.”[1]

    (Andrea Keay, Hiperreality and Cyberspace)

    Dunia dalam dunia.[2] Itulah posisi internet di dunia ini. Dunia yang ada, hadir, dan bersanding secara paralel dengan dunia nyata. Dunia yang bukan lagi sebuah keberadaan fisik, namun sebuah ruang patafisika. Ia tidak dapat diraba, namun hadir; tidak dapat di sentuh, namun ada; seperti yang dijelaskan oleh Baudrillard (diungkapkan oleh Yasraf Amir Piliang) dalam uraian berikut:

    “Ia adalah sesuatu di luar ada, dalam pengertian sebuah kategori yang melampaui, baik fisika maupun metafisika. Dalam pengertian, ia bukan fenomena fisik, bukan juga metafisik, ia adalah patafisika (phataphysics). Ia adalah sesuatu yang menfakta, dalam pengertian bisa dirasakan, dilihat, diraba, didengar, tetapi tidak nyata (real), dalam pengertian tidak mengikuti hukum-hukum fisika Newtonian, akan tetapi tidak juga bersifat metafisik, oleh karena ia dapat dicapai oleh kapasitas intuisi, bahkan indra manusia.”[3]

    Itulah (ciri-ciri) internet. Lalu, bila aku yang mengatakan, ia hanya berupa digit-digit yang mereplikasi keberadaan bentuk fisik agar dapat hadir secara bersamaan, di waktu yang sama, namun terpisah oleh jarak, meskipun kemudian keberadaan jarak menjadi irelevan karena membiasnya batasan antara ruang. Dalam hal ini seakan kita semua berada pada satu titik yang sama untuk bisa saling berkomunikasi, bercanda, bercumbu, atau sekedar menjelajah dunia. Semuanya menjadi bertumpuk, namun tidak meluas dan tidak meninggi; menyalahi aturan matematis akan keruangan dan dimensi; mengubah struktur penunjang akan bentuk fisik dunia dan isiannya.

    (More …)

     
  • blauloretta 10:28 am on June 12, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    FIXER | Pameran Ruang Alternatif & Komunitas Seni Rupa di Indonesia | 19 – 28 Juni 2010 | North Art Space, Ancol – Jakarta 

    ancol

    FIXER | Pameran Ruang Alternatif & Komunitas Seni Rupa di Indonesia | North Art Space Jakarta, 19 – 28 Juni 2010

    Pameran ini menampilkan sejumlah organisasi seni yang dikelola oleh seniman, yang selama beberapa tahun terakhir berhasil bertahan dan berperan dalam perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Organisasi seniman dalam pameran ini setidaknya mempunyai dua kecenderungan praktik sekaligus. Pertama adalah kerja produksi artistik dimana organisasi/ komunitas tersebut memproduksi karya artistik secara bersama maupun individu sebagai sebuah pernyataan artistik, yang kedua adalah organisasi tersebut memiliki kesadaran publik dengan mengelola, baik secara mandiri maupun kolaborasi, kegiatan untuk publik luas seperti pameran, lokakarya, festival, diskusi, penerbitan, pemutaran film/ video, website, pengarsipan dan penelitian.

    Peserta
    Akademi Samali (Jakarta), Asbestos Art Space (Bandung), Atap Alis (Jakarta), BYAR Creative Industry (Semarang), Common Room Networks Foundation (Bandung), Forum Lenteng (Jakarta), Gardu Unik (Cirebon), House of Natural Fiber (Yogyakarta), Jatiwangi Art Factory (Jatiwangi), Kampung Segart (Jakarta), Malang Meeting Point (Malang), Maros Visual Culture Initiative (Jakarta), Performance Club (Yogyakarta), ruangrupa (Jakarta), Ruang Akal (Makassar), Ruang Mes56 (Yogyakarta), Sarueh (Padang Panjang), Serrum (Jakarta), Tembok Bomber (Jakarta), Urbanspace (Surabaya), & Video Lab (Bandung).

    Kurator
    Ade Darmawan & Rifky Effendi

    Pembukaan
    Jumat, 18 Juni 2010

    Dimeriahkan oleh
    Milinka Radisic, DJ Asung, White Shoes & the Couple Company, Jalan Surabaya etc.

    (More …)

     
    • Anna Begum 5:22 pm on October 6, 2010 Permalink

      there are lots of video websites these days on the internet and i always visit them *,-

  • blauloretta 9:22 am on June 8, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    Analitik Menggelitik Penanggulangan HIV/AIDS dan Napza di Indonesia | Oleh Ginan Koesmayadi (Rumah Cemara)* 

    Rumah Cemara,For Life,Babakan Asih,Common Room

    Sampai dengan 30 Juni 2009, laporan kasus HIV dan AIDS di Indonesia yang diterima oleh Ditjen PP & PL Departemen Kesehatan RI ada sekitar 17.699 kasus. Semuanya tersebar di sekitar 32 provinsi dan 300 Kabupaten/ Kota. Sementara itu, berdasarkan informasi yang juga dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI, pengguna napza suntik yang rentan terhadap HIV/AIDS terestimasi sebanyak 190.000 – 247.000 orang. Sebagai perbandingan, estimasi yang dikeluarkan oleh UNAIDS untuk kasus HIV/AIDS ada sekitar 270.000 kasus, dengan proyeksi estimasi pada tahun 2014 sebanyak 501.400 kasus. Terkait dengan hal ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) memproyeksikan estimasi pengguna Napza pada tahun 2009 adalah 1,9 % dari jumlah penduduk Indonesia atau sama dengan 4.750.000 orang.

    Meskipun pemerintah dan berbagai kelompok masyarakat telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi permasalahan Narkoba dan HIV/AIDS, namun sampai saat ini tampaknya inisiatif yang ada baru sampai pada tahap seremonial yang minim atensi yang maksimal. Kebanyakan program intervensi penanggulangan Narkoba dan HIV/AIDS masih berdasarkan pada pendekatan praktis dan pragmatis dalam menyelesaikan masalahnya. Apabila kita analisa lebih mendalam dengan menggunakan beberapa paradigma dan perspektif dari bermacam sudut pandang keilmuan, solusi bagi masalah Narkoba dan HIV/AIDS memerlukan beberapa tahapan intervensi yang dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.

    (More …)

     
    •  Headboard Light 7:03 pm on August 15, 2010 Permalink

      it is a very sad fact that until now, we still do not have the cure for HIV”-,

    • Bench Saw · 1:38 am on November 9, 2010 Permalink

      i think that it would still take us a long time before we can even find a cure for HIV ..

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
porno ukash canta modelleri sabo terlik escort ankara escort ilan escort ankara ilan