Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Idharrez 8:04 am on March 30, 2010 Permalink | Reply
    Tags:   

    Laporan Penanganan Bencana Longsor Ciwidey 

    Sumbangan Gempa Ciwidey

    Oleh Addy Gembel (Forgotten/ Solidaritas Independen Bandung)

    Desa Tenjolaya merupakan sebuah perkampungan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Pasir Jambu, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Desa ini tepat berada ditengah-tengah lembah kawasan hutan lindung Gunung Tilu. Artinya letak kampung tersebut ‘dikepung’ beberapa puncak gunung dengan kemiringan kontur yang tajam dan curam. Pada tahun 1956 untuk pertama kalinya kawasan ini dibuka untuk lahan perkebunan teh oleh PT Chakra. Seiring dengan adanya kegiatan pengolahan teh, maka dimulailah pembukaan lahan yang berstatus HGU (Hak Guna Usaha) yang kemudian dijadikan perumahan bagi sebagian karyawan dari PT Perkebunan Dewata. Dari tahun ke tahun populasi masyarakat yang mendiami wilayah tersebut terus bertambah seiring dengan adanya peningkatan pembangunan sarana jalan dan fasilitas umum lainnya.

    Pada hari Selasa (23/2) sekitar pukul delapan pagi, kawasan ini dilanda longsor. Puluhan rumah di enam rukun tetangga yang ada diwilayah RW 11 musnah tertimbun tanah. Sekitar 35 Kepala Keluarga (KK) atau delapan puluh jiwa hingga kini masih belum ditemukan dan diperkirakan tewas tertimbun. Hingga kini penyebab longsor tersebut masih simpang siur. Beberapa ada yang menyebutkan apabila longsor ini terjadi karena ambruknya patahan di Gunung Tilu akibat gempa yang terjadi tahun kemarin karena tingginya curah hujan belakangan ini. Sebagian ada yang memprediksi bahwa bencana ini terjadi akibat adanya pembukaan lahan baru untuk perkebunan sehingga daya serap tanah terhadap air menjadi berkurang.

    (More …)

     
  • blauloretta 6:17 am on March 26, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Di Bawah Bayangan Sang Pahlawan | Solo exhibition by Roumy Handayani Pesona 

    pameran

    Di Bawah Bayangan Sang Pahlawan/ Under the Hero’s Shadows

    Proyek Khusus oleh : Roumy Handayani Pesona
    28 Maret – 11 April 2010

    Pembukaan:
    Sabtu / Saturday: 28 Maret 2010 pukul 16.00 (dilanjutkan dengan artist’s talk)

    Deskripsi
    Roumy Handayani Pesona menggarap sejumlah potret. Bagi kita yang akrab dengan indoktrinasi kepahlawanan militeristik ala Orde Baru, wajah-wajah yang ditampakan pada karya Roumy mengingatkan pada citra umum pahlawan perang.

    Roumy menggarap potret dengan menggunakan aspalt—material yang biasa digunakan dalam preparasi teknik cetak—sebagai pengganti cat. Aspalt diadposi Roumy untuk melukis dengan teknik “basah di atas basah”. Efeknya, potret tidak menjadi rekaman yang akurat dari sosok nyata tertentu.

    Efek ini mendedahkan pertanyaan: apakah ada rekaman akurat dalam sejarah? Apa yang mendasari penokohan dalam sejarah? Kita mengenal banyak sosok yang ditegaskan sebagai pahlawan oleh sejarah. Pada saat bersamaan sesungguhnya dalam sejarah ada lebih banyak area buram yang berisi sosok-sosok tidak terjelaskan.

    Sebagai respon khusus Roumy atas tema “menyoal Kolonialisme” yang dikembangkan oleh Platform3 di tahun ini. Karya-karyanya kali ini didedikasikan bagi “para pelaku yang perannya tidak diakui secara ajeg dan ketokohannya amat samar” dalam sejarah. Barangkali mereka adalah orang-orang yang benar berada “di bawah bayangan sang pahlawan”: mereka berada di sekitar sosok-sosok yang ditegaskan sebagai pahlawan dalam sejarah, citra mereka tertutupi bayangan sang pahlawan hingga kita tak bisa mengenalinya dengan tegas.

    (More …)

     
  • blauloretta 12:05 pm on March 22, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , , ,   

    Meneropong Masa Depan Lewat transmediale.10: Futurity Now! 

    transmediale.10

    Oleh Gustaff H. Iskandar*

    Pertunjukan malam itu ditutup dengan sebuah dentuman besar yang membahana ke segala penjuru ruangan. Sejenak sekitar 1000 pemirsa yang hadir malam itu terkesiap senyap selama beberapa detik. Tak lama berselang, ruang auditorium House of World Culture (HKW) dipenuhi oleh riuh rendah tepuk tangan pemirsa yang mengiringi kepergian Ryoji Ikeda ke belakang panggung. Hadir dengan tajuk Pattern Recognition, acara malam itu menyuguhkan pertunjukan multimedia berjudul Materia Obscura milik Jurgen Reble & Thomas Koner (DE), serta Test Pattern yang ditampilkan oleh Ryoji Ikeda & Tomonaga Tokuyama (JP). Kedua pertunjukan ini menampilkan komposisi bebunyian yang berpadu sempurna dengan karya visual yang ditampilkan dalam format raksasa. Selama kurang lebih satu jam lamanya para pemirsa disuguhi pertunjukan bebunyian, dibalut citraan gambar bergerak yang membawa kita ke alam fantasi dan teror gelap masa depan.

    Acara di atas merupakan salah satu suguhan utama di hari ke-2 dalam rangkaian kegiatan transmediale.10, sebuah festival seni dan kultur digital yang berlangsung mulai tanggal 2 – 7 Februari 2010 di gedung HKW Berlin. Melalui tema Futurity Now!, festival transmediale.10 mengajak khalayak ramai membicarakan masa depan melalui serangkaian kegiatan pameran, konferensi, workshop, pertunjukan, pemutaran film & video. Selain itu, festival ini juga menampilkan beberapa program satelit dan konser musik yang menampilkan karya dan pemikiran dari para seniman, desainer, musisi, pemikir, kritikus, ahli teori, blogger, praktisi media dan peneliti dari berbagai belahan dunia. Beberapa diantara peserta yang terlibat diantaranya adalah Ryoji Ikeda (JP), Gabriella Giannachi (IT), Drew Hemment (UK), Regine Debatty (BE), Jem Finer (UK), Jan Edler (DE), Maja Kuzmanovic (HR/ BE), Joy Ayo Tang (TW), Jaromil (IT/ NL/ BE), Alice Miceli (BR), Tapio Makela (FI), Juliana Rotich (KE), dsb. Sejatinya festival ini membincangkan berbagai fenomena terkini dalam ranah eksplorasi di bidang seni dan teknologi, serta dampaknya secara sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan secara luas.

    (More …)

     
  • blauloretta 6:24 am on March 18, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , ,   

    Pertunjukan Pantun Buhun Mang Ayi dan Wa Itok (Subang) | Common Room, 19 Maret 2010 

    Pantun Buhun Ayi Itokt

    Tanggal: 19 Maret 2010
    Jam: 19.00 – 21.00 WIB
    Tempat: Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Bandung

    Deskripsi Singkat
    Mang Ayi dan Wa Itok adalah duo seniman tradisional yang mempelajari seni pantun buhun secara alami. Keduanya selama ini dikenal sebagai seniman tradisi yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Mang Ayi dan Wa Itok akan membawakan cerita dengan judul yang masih mereka rahasiakan. Selain menampilkan seni pantun, selama ini Mang Ayi dan Wa Itok juga kerap aktif menampilkan berbagai bentuk seni tradisi Sunda semisal bajidoran, sisingaan, terbang, gembyung, dsb. Program ini merupakan bagian dari kegiatan yang dikembangkan oleh kelompok TRAH yang diinisiasi oleh Gigi Priadji, Indra Nugraha dan Iman Zimbot sejak tahun 2007. Selain aktif mengembangkan eksplorasi yang memadukan ranah perkembangan musik elektronik dengan kesenian masyarakat Sunda, kelompok ini juga kerap berkolaborasi dengan seniman dan musisi yang berasal dari latar belakang yang beragam.

    (More …)

     
  • Idharrez 9:20 am on March 12, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , , ,   

    Review Workshop Visual for Live Performance 

    Photobucket

    Berikut merupakan dokumentasi dari kegiatan workshop yang diselenggarakan oleh Openlabs pada tanggal 11 Maret 2009.

    *Berita terkait baca di: http://www.tempointeraktif.com/hg/musik/2010/03/12/brk,20100312-232104,id.html

     
  • Idharrez 8:18 am on March 8, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    Workshop & Diskusi Aplikasi Video Untuk Live Performance | Common Room | 11 Maret 2010 

    biosampler

    For us, VJ-ing is more than projecting real time combined images on a screen. I’d like to look at it as an activity of creating an evolving visual experience/ universe. First, the gap between spectator/ performer, stage/ seat, premeditated/ spontaneous, mine/ yours etc; should be obliterated. To rebuild something we have to destroy/ deconstruct the initial form and limitations. Second, interaction and respond is imminent. By doing so, we have created a moebius loop where an idea shall move back and forth, left to right, passed from person to person, and it would evolve and change while being so. And that is Real Time Interaction. It’s like a complex game of “pong”.” (Chainsmokingbastard/ Biosampler)

    Date
    Thursday, March 11, 2010
    Time
    3:00 – 6:00 PM
    Location
    Common Room, Jl. Kyai Gede Utama No. 8

    Deskripsi Singkat
    Aplikasi medium video, seperti yang sudah lebih banyak dikenal terlebih dulu, dapat kita lihat pada iklan TV, film digital, maupun video klip. Dengan semakin berkembangnya teknologi video dan media digital, beberapa tahun belakangan video juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung live performance. Pemanfaatan video dalam pertunjukan dapat menjadi pendukung dari sebuah pagelaran, selain dapat juga berdiri sendiri sebagai sebuah karya seni.

    Dalam program ini, akan membahas beberapa aspek penting pemanfaatan medium video untuk aktifitas live performance. Pendekatan untuk aplikasi ini sedikit berbeda dengan beberapa pemanfaatan video untuk kepentingan yang lain. Dalam sebuah live performance, sesuai dengan namanya, video dapat dimainkan secara langsung. Kemampuan untuk berfikir dan bertindak cepat dalam memainkan video menjadi sangat penting, karena di dalam sebuah pertunjukan dituntut kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan flow dan audience. Sangat berbeda dengan proses pembuatan video yang telah dikenal sebelumnya, dimana materi video dapat di edit sesuai dengan keinginan tanpa waktu yang terbatas.

    (More …)

     
  • Idharrez 12:05 pm on March 6, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Penelitian dan Pengembangan dalam Usaha Kecil 

    Common Room

    Workshop YES Club | 6 Maret 2010 | Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Bandung

    “Salah besar jika segala sesuatu (selalu) dikonversikan dengan uang, (terkadang) kita perlu berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik…”

    (Tegep Octaviansyah, owner of TEGEP BOOTS)

    Inovasi menjadi kata kunci utama dalam membangun dan membina usaha. Dengan kata lain, inovasilah yang menjadikan sebuah produk selalu baru, segar, unik, dan berbeda. Namun, ini sering kali dilupakan oleh sebagian besar pengusaha kecil di Indonesia, yang terlalu memberi fokus pada nilai ekonomi: meraih laba sebesar mungkin dan menyingkirkan nilai inovasi. Tidak mengherankan apabila kita kerap menjumpai produk tertentu dengan desain yang telah berumur 10-15 tahun, namun masih tetap dikembangkan dengan cara yang sama dan dijual tanpa pengembangan yang berarti. Hal ini pulalah yang sering dijumpai pada usaha kerajinan dan usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia.

    Karena kurangnya inovasi, tampaknya kebanyakan dari anggota masyarakat kemudian cenderung menjadi follower dan consumer saja. Banyak diantaranya yang hanya bisa mengikuti trend dan menggunakan barang-barang tanpa mau mempelajari dan mencerna produk yang mereka gunakan terlebih dahulu. Barangkali karena permasalahan ini jugalah kita kemudian menemukan kesulitan untuk menjumpai pribadi yang memiliki idealisme dan prinsip yang ajeg. Namun walaupun sedikit, dapat dikatakan bahwa saat ini keberadaan orang-orang yang memiliki idealisme sangat diperlukan untuk mendorong terjadinya perubahan dan inovasi. Barangkali salah satu dari sedikit pelaku yang telah banyak melakukan pembaharuan adalah Tegep Octaviansyah, pemilik TEGEP BOOTS.

    (More …)

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel