Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • blauloretta 4:47 am on November 27, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Peringatan 60th Deklarasi Hak Asasi Universal | Common Room | 6 Desember 2008 – 10 Januari 2008 

    “Setiap orang memiliki hak yang sama untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan menikmati kesenian, selain turut serta dalam mengecap kemajuan dan manfaat dari ilmu pengetahuan.”

    (Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, pasal 27, ayat 1. Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 di Palais de Chailot – Paris, melalui resolusi 217 A (III).)

    Sejak dibentuk pada tahun 2003, Common Room telah menaruh perhatian khusus pada pengembangan wacana maupun praktik bagi penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia melalui kegiatan seni dan kebudayaan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Kami menyadari bahwa prinsip HAM adalah hak dasar yang vital bagi perkembangan dan otonomi masyarakat sipil, terutama menyangkut hak untuk hidup dan berekspresi secara bebas bagi segenap anggota masyarakat. Hal ini juga meliputi hak dasar untuk memiliki posisi yang sama di mata hukum serta hak dasar di bidang sosial, budaya dan ekonomi.

    Pada akhir tahun yang lalu, sebagai bagian dari kampanye mengenai kebebasan berekspresi dan toleransi di Indonesia, kami menyelenggarakan peluncuran buku Myself: Scumbag Beyond Life and Death yang ditulis oleh Kimung di Common Room. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi dan bedah buku yang menampilkan pertunjukan musik akustik dari Burgerkill di Selasar Seni Sunaryo pada awal tahun 2008. Untuk tahun ini, bertepatan dengan peringatan 60 Tahun Deklarasi HAM Universal, kami kembali menyelenggarakan serangkaian kegiatan untuk terus mengkampanyekan penegakan HAM, serta kebebasan berekspresi dan toleransi di Indonesia.

    Khusus untuk kegiatan tahun ini, kami menampilkan serangkaian kegiatan berupa pameran arsip dan dokumentasi kehidupan Anne Frank, pemutaran film “Freedom Writers” (Richard LaGravenese, 2007), dan workshop sejarah lisan yang akan dipandu oleh Kimung (Minor Books) dan Drs. Reiza D. Dienaputra (Staff pengajar Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran). Pameran Anne Frank merupakan salah satu program utama yang diharapkan dapat memberikan inspirasi dan memicu perbincangan mengenai persoalan HAM dan sejarah lisan dari sudut pandang yang personal.

    Di Indonesia perbincangan mengenai HAM barangkali masih merupakan persoalan yang pelik, mengingat berbagai pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu. Bahkan sampai hari ini berbagai bentuk pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara maupun oleh sesama kelompok masyarakat masih kerap terjadi, ditengah berbagai bentuk ketimpangan sosial, politik dan ekonomi; selain gejala autisme sosial yang akut, serta ancaman radikalisasi pandangan nasionalisme, primordialisme dan gerakan fundamentalisme. Untuk hal ini, kami merasa bahwa upaya untuk mengkampanyekan kesadaran mengenai HAM, termasuk menegakan prinsip mengenai kebebasan berekspresi dan sikap toleransi di Indonesia sangat relevan untuk terus diperbincangkan secara kritis agar kita memiliki masa depan yang lebih beradab dan berperikemanusiaan.

    Kami mengundang anda untuk terlibat pada rangkaian acara Peringatan 60 Tahun Deklarasi Hak Asasi Manusia Universal yang diselenggarakan di Common Room mulai tanggal 6 Desember 2008 s/d 10 Januari 2009. Adapun detail dari rangkaian kegiatan ini adalah sebagai berikut:

    Pembukaan Pameran Kehidupan Anna Frank
    Sabtu, 6 Desember 2008 Pk.16.00 WIB
    Pameran berlangsung sejak tanggal 6 – 21 Desember 2008
    Pk.10.00 s.d Pk.17.00 WIB

    Diskusi “Kebebasan Berekspresi dan Toleransi di Indonesia”
    Jumat, 12 Desember 2008
    Pk.15.00 s/d Pk.17.30 WIB

    Pemutaran & Diskusi Film “Freedom Writers” (Richard LaGravenese, 2007)
    Jumat, 19 Desember 2008
    Pk.14.00 s/d Pk.17.00 WIB

    Workshop Sejarah Lisan
    Dipandu oleh Kimung (Minor Books) & Drs. Reiza D. Dienaputra (Staff pengajar Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran)
    13 Desember 2008 s/d 10 Januari 2009 (4 kali pertemuan)
    Pendaftaran 6 – 12 Desember 2008
    Biaya workshop:
    Umum Rp. 50.000,-
    Pelajar/ Mahasiswa Rp. 30.000,-

    Untuk informasi dan pendaftaran silahkan hubungi Ibu Nunung di +62.22.250.3404

    Venue
    Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama No. 8
    Bandung 40132
    Jawa Barat – Indonesia
    Telp. Fax: +62.22.2503404

    * Kegiatan ini diselenggarakan oleh Common Room Networks Foundation atas dukungan dari Hivos, Anna Frank Foundation, Erasmus Huis, Minor Books, DetikBandung.com, Deathrockstar.info dan MediaLab.

     
  • blauloretta 5:15 am on November 25, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Sedikit Catatan dari Kunjungan ke YCAM** 

    YCAM Building

    Selepas dari Kyoto, saya dan Yap Sau Bin melanjutkan perjalanan ke Fukuoka untuk menghadiri program The 4th Asian Museum Curator’s Conference. Namun sebelum langsung menuju Fukuoka, kami memutuskan untuk singgah di kota Yamaguchi dan mengunjungi Yamaguchi Center for Art and Media (YCAM). Lembaga ini didirikan pada tahun 2003 dan menjadi wadah bagi berbagai kegiatan pertunjukan, pameran, pemutaran film, kuliah umum, diskusi, serta riset dan pengembangan di bidang seni, teknologi dan media. Dirancang oleh Arata Isozaki, selain memiliki fasilitas galeri, ruang pertunjukan pertunjukan dan bioskop mini, gedung YCAM juga dilengkapi dengan perpustakaan umum yang memiliki koleksi buku, film, serta CD dengan topik yang bermacam-macam.

    Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger & Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)

    Ketika kami mengunjungi YCAM, lembaga ini tengah menyelenggarakan perayaan ulang tahun yang ke-5. Untuk kegiatan ini, YCAM menyelenggarakan sebuah pameran dengan judul “Minimum Interface“, yang menampilkan karya dari Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger, Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)/Akihiro Kubota /LEADING EDGE DESIGN/Zachary Lieberman, dan Theodore Watson/Daan Roosegaarde/SHINCHIKA/Chris Sugrue/Shunsuke Takawo. Salah satu karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah reacTable yang beberapa waktu kebelakang banyak menarik perhatian khalayak internasional sejak digunakan dalam tur konser Björk untuk album Volta.

    Selain melihat pameran dan meninjau beberapa fasilitas di YCAM, kami juga sempat berbincang-bincang dengan Kazuano Abe (Chief Curator) dan Miki Fukuda (InterLab Manager). Kazuano Abe mengungkapkan kebijakan kuratorial di YCAM yang berupaya untuk menampilkan karya-karya yang memanfaatkan perkembangan teknologi, eksperimentasi dan kolaborasi bagi berbagai bentuk ekspresi artistik dalam pengertian yang sangat luas dan beragam. Untuk beberapa proyek khusus, YCAM biasanya mengundang seniman untuk bekerja dan mengembangkan karya mereka di InterLab, salah satu fasilitas yang dimiliki oleh YCAM. Miki Fukuda menjelaskan keberadaan InterLab merupakan salah satu fasilitas yang penting di YCAM. Di laboratorium ini, para seniman yang terlibat dalam kegiatan YCAM dapat melakukan eksperimentasi dan kolaborasi yang ditunjang dengan fasilitas dan sumberdaya manusia yang memiliki keahlian yang sangat beragam.

    Program pendidikan untuk publik di YCAM

    Karena berbagai program dan kegiatan YCAM didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah Yamaguchi, maka pihak YCAM juga memiliki kewajiban untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang dapat diakses oleh masyarakat di kota Yamaguchi. Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang penting adalah program edukasi publik yang memungkinkan masyarakat setempat untuk mempelajari dan mengapresiasi berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh YCAM dari dekat. Salah satunya adalah kegiatan kunjungan rutin murid sekolah dasar agar dapat mengapresiasi perkembangan di bidang seni, pengetahuan dan teknologi secara langsung.

    Menurut Miki Fukuda, rencana untuk mendirikan YCAM di Yamaguchi sebetulnya sudah dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu. Waktu itu, walikota Yamaguchi merasa perlu untuk mengembangkan sebuah kebijakan strategi kebudayaan kota Yamaguchi yang memanfaatkan perkembangan di bidang teknologi informasi. Selama 20 tahun, gagasan ini menjadi sumber perdebatan dan polemik, karena banyak pihak yang meragukan manfaat langsung dari kebijakan ini. Baru pada tahun 2003 rencana ini kemudian diimplementasikan ketika YCAM didirikan sebagai sebuah lembaga yang mengambil fokus pada kegiatan kebudayaan dan teknologi.

    Setelah 5 tahun berselang, saat ini banyak anggota masyarakat yang mulai melihat manfaat langsung dari YCAM. Melalui berbagai kegiatan yang dikembangkan oleh YCAM, kota Yamaguchi kemudian memiliki reputasi yang cemerlang di bidang perkembangan budaya kontemporer dan teknologi. Selain itu, kota ini juga berhasil meraih reputasi di level internasional yang membuat kota Yamaguchi memiliki daya tarik tersendiri. Kembali menurut Miki Fukuda, beberapa tahun kebelakang generasi muda kota Yamaguchi yang sebelumnya pindah ke kota lain mulai kembali dan mengembangkan berbagai kegiatan mereka di kota ini. Dalam hal ini, keberadaan YCAM tampaknya telah berhasil melahirkan kembali energi kreatifitas kota Yamaguchi.

    ** Untuk laporan lengkap dari kegiatan kunjungan ke Jepang, silahkan kunjungi blog dengan alamat http://visitingjapan.wordpress.com.

     
  • blauloretta 3:51 pm on November 18, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Napak Tilas – 12 Tahun Perjalanan Musikal Cozzy Street Corner 

    Paparan Musikal Cozy Street Corner, mempersembahkan:
    Napak Tilas 12 tahun perjalanan musikal Cozy Street Corner

    Menampilkan teman seperjalanan musikal:
    - Keroncong Merah Putih
    - Saung Angklung Udjo
    - Kurtukoji
    - Kang Hari Pochank
    - Yoga PeHaBe
    - Bonita
    - Nelden Djakababa
    - Shindu, Dhitta dan Shana

    Time and Place:
    Sabtu, 22 November 2008
    7:30pm – 11:00pm

    Location:
    Selasar Sunaryo
    Bukit Pakar Timur No.100
    Bandung, Indonesia

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel