Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • blauloretta 11:32 am on February 19, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Bom Waktu & Konser Maut 

    Oleh http://wenzrawk.multiply.com

    Tragedi konser metal maut di Bandung sebenernya bisa terjadi di mana saja dan kapan saja di Indonesia ini. Setelah sebelumnya konser-konser band mainstream yang menelan korban (Sheila On 7, Padi, Ungu) dan kita sering ”ngejek” karena ternyata yang ”menye-menye” jauh lebih ”membunuh” dibanding yang rock, akhirnya sekarang kejadian juga di musik yang kita senangi.

    Sepertinya kita terlalu menganggap remeh dan lupa bahwa sebenarnya malaikat maut juga sudah mengintai konser-konser underground. Banyak ”bom waktu” sudah ditanam di berbagai venue konser seperti ini di seluruh Indonesia. Memang sepertinya tinggal nunggu momentum dan venue yang tepat untuk diledakkan saja.

    Sudah menjadi rahasia umum juga kalo sejak puluhan tahun yang lalu organizer konser-konser indie/underground yang melibatkan ratusan atau ribuan penonton rata-rata tidak menganggap serius atau menyiapkan hal-hal di bawah ini:

    1. Tim medis, ruang medis atau mobil ambulance apabila terjadi insiden seperti ini.
    2. Akses masuk-keluar venue dan pintu darurat buat penonton yang nggak diperhatikan serius atau diprioritaskan.
    3. Kapasitas venue yang tidak diindahkan organizer.
    4. Pembawa acara atau MC setelah konser berakhir tidak memberikan instruksi lewat pengeras suara bagi para penonton yang akan keluar dari venue.
    5. Tim keamanan (peace patrol) yang jumlahnya memadai, terlatih dan paham apa yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat. Karena sebenarnya tidak perlu mengerahkan banyak polisi juga. Yang terpenting adalah tetap berkoordinasi dengan mereka.

    Dan ”bom waktu” itu akhirnya kemarin meledak juga di Bandung. Menelan korban jiwa 10 orang yang rata-rata kehabisan napas dan terinjak-injak. Kebanyakan masih remaja ABG pula. Sangat menyedihkan dan disesalkan pastinya. Tidak seharusnya juga ada orang mati sia-sia setelah nonton konser!

    Sebagai penonton konser yang telah membayar tiket mereka tidak berhak mati, mereka malah berhak untuk bersenang-senang!

    Kita semua langsung terkaget-kaget dan seperti nggak percaya kalau jenis musik death metal ternyata bisa berdampak secara harfiah seperti ini.

    Pihak Enk Ink Enk sebagai organizer menurut gue sebenernya ketiban apes aja. Apes karena ternyata ”bom waktu” itu meledak di konser yang mereka selenggarakan. Padahal selama sekitar 15 tahun ada konser-konser sejenis semuanya seperti berlangsung ”aman-aman saja.”

    Gue percaya nggak ada satu pihak pun yang mengharapkan tragedi ini terjadi, termasuk pihak Enk Ink Enk sendiri. Karena mereka pun menyelenggarakan konser ini bukan untuk mengeruk keuntungan besar-besar tapi lebih karena semangat untuk mendukung band-band lokal dan gerakan musik underground itu sendiri.

    Berapa sih keuntungan yang di dapat dari penyelenggaraan konser underground dengan harga tiket Rp. 10.000 seperti ini? Hampir tidak ada! Bisa jadi mereka malah merugi terus. Belum lagi jarangnya sponsor komersial yang mau mendukung proyek konser idealis seperti ini.

    Lalu kenapa konser-konser seperti ini berlanjut terus?

    Karena kita senang dan ingin terus bersenang-senang dengan musik ini tentunya. Senang kalau band-band teman kita yang bagus menjadi maju, lebih dikenal dan memiliki fanbase besar. Senang kalau teman-teman kita yang menggemari musik seperti ini bisa terhibur dan having a good time. Senang kalau kebudayaan ini bisa menjadi alternatif bagi publik untuk terhindar dari keseragaman jenis musik yang bahkan bisa merendahkan martabat sebagai manusia.

    Lalu apakah kemudian organizernya bisa kaya? Tidak juga pastinya. Kalau kata dedikasi dianggap terlalu muluk tapi memang seperti itulah keadaan yang sebenarnya. Saya angkat topi setinggi-tingginya untuk organizer-organizer konser ini. Tanpa kerja mereka semua sudah pasti rock show punah dari negeri ini!

    Buat orang awam gue yakin bakal susah untuk dimengerti alasannya. Begitu juga buat orangtua, polisi, gubernur, walikota dan birokrat-birokrat uzur lainnya. Selain korupsi mereka memang nggak akan pernah bisa mengerti apa yang anak-anak muda ini lakukan.

    Polisi malah hanya bisa menuduh tanpa dasar kalau panitia konser ini ”membagi-bagikan alkohol kepada para penonton.” Tuduhan yang sangat tolol dari aparat kepolisian kita tentunya. Dan setelah otopsi dilakukan ternyata tidak terbukti dan mereka pun kembali belagak bego. Sejak kapan organizer konser bertiket murah bisa menjadi sinterklas?

    Tujuannya pasti hanya untuk mendiskreditkan fans musik rock yang selalu distereotipkan akrab dengan alkohol dan narkotika. Mereka lupa atau belagak bego kalau di konser-konser dangdut tak hanya alkohol dan narkotika saja yang beredar, namun juga golok, celurit dan berbagai senjata tajam lainnya :)

    Karena publikasi tentang tragedi ini sudah sangat meluas ke dalam dan luar negeri, bahkan sudah jadi ”insiden internasional” (Blabbermouth, BBC, AOL, Yahoo, MSNBC, Reuters) maka gue prediksi ini yang akan terjadi selanjutnya di scene musik lokal kita nantinya:

    1. Konser-konser band rock/metal internasional di Indonesia akan kembali mengalami kemunduran. Pihak booking agency artis-artis ini akan sangat cerewet mempertanyakan profesionalisme promotor lokal atau malah sepihak membatalkan kontrak-kontrak show di Indonesia. Alasan gampangnya mereka nggak akan mau menjadi kambing hitam apabila insiden yang sama terulang!
    2. Para orangtua akan segera melarang anak-anak mereka yang masih ABG untuk datang ke konser-konser musik terlepas apapun itu jenis musiknya. Mereka sudah melihat mimpi buruknya langsung via televisi!
    3. Kepolisian akan melarang atau sangat memperketat keluarnya izin penyelenggaraan konser musik (khususnya rock/metal).
    4. Pemerintah daerah akan mengeluarkan seribu satu macam alasan untuk melarang penggunaan venue publik bagi aktivitas anak muda yang berhubungan dengan musik rock.
    5. Sponsor-sponsor komersial akan menarik dukungannya bagi penyelenggaraan konser musik rock karena takut terkena imbasnya apabila terjadi insiden serupa.
    6. Banyak EO/promotor rock yang gulung tikar dan berubah menjadi promotor dugem karena lebih menguntungkan dan indah secara visual :)
    7. Band-band rock indie/underground akan kesulitan mencari panggung.
    8. Dan akhirnya scene musik rock lokal pun mati dengan sendirinya haha..

    Tapi tenang saja….

    Negara ini sudah sangat terkenal karena hangat-hangat tahi ayamnya. Ketika tanah makam para 10 korban ini belum mengering dijamin semua pihak di atas juga akan cepat lupa dengan tragedi ini. Semua larangan akan dilanggar dan semua upaya antisipasi tidak akan dipedulikan lagi. Semua akan kembali berjalan ”normal” seperti sedia kala nantinya.

    Yah, minimal sampai ”bom waktu” yang lebih besar lagi meledak dan rekor korban jiwa terpecahkan nantinya. Bukankah 10 korban tewas di konser Ungu di Pekalongan hanya berselang 1 tahun saja dengan tragedi Bandung ini?

    10? 20? 30? 100? 200 orang mati di konser rock? Bukan tidak mungkin.

    Ini Indonesia, bung!

    ++++++++++++++++++

    Kalau ini Amerika Serikat maka ini hak para penonton konser di sana:

    1. Hak untuk menikmati konser dalam lingkungan yang aman.
    2. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari panitia, keamanan dan performers terlepas dari apapun yang berhubungan dengan SARA.
    3. Hak untuk mendapatkan informasi tentang kewajiban-kewajiban bagi pemegang tiket dan menaati segala peraturan yang berlaku di venue.

    Jika Anda sepakat ini bukan Indonesia maka seharusnya kita melakukan hal-hal dibawah ini di masa depan:

    Event Organizer/Promoter

    1. Menyediakan tim medis, ruang medis dan mobil ambulance.
    2. Tidak menjual tiket melebihi kapasitas venue (80% terisi, 20% kosongkan).
    3. Menginformasikan tata letak venue dan letak pintu darurat di tiket.
    4. Menginformasikan peraturan selama konser berlangsung di tiket.
    5. Menginformasikan kepada penonton etiket di mosh-pit sebelum atau selama konser berlangsung.
    6. Menginformasikan bahaya aksi stage-diving atau crowd surfing.
    7. Menyediakan tim keamanan konser yang memadai, terlatih dan berpengalaman.
    8. Memperhatikan ventilasi dan sirkulasi udara yang baik bagi penonton.
    9. Suka atau tidak suka, menjalin koordinasi dengan polisi atau aparat keamanan selama dan setelah konser berlangsung.
    10. Apapun yang terjadi di luar venue jangan membuka pintu masuk jika venue sudah 80% terisi. Hormati pembeli tiket, jangan hormati para penonton jebolan!

    Performers

    1. Menginformasikan kepada penonton etiket di mosh-pit sebelum atau selama konser berlangsung.
    2. Menginformasikan bahaya aksi stage-diving atau crowd surfing.
    3. Segera memberhentikan konser jika terjadi keributan atau kerusuhan di mosh pit.
    4. Menciptakan kondisi yang kondusif selama konser berlangsung.
    5. Melalui website-website band lakukan edukasi bagi para fans yang akan datang ke konser Anda.

    Audience

    1. Membeli tiket.
    2. Jangan lupa membawa identitas diri (KTP, KTM) jika pergi ke konser.
    3. Jangan lupa makan dan minum secukupnya sebelum ke konser (apalagi jika konser di outdoor).
    4. Taati peraturan yang berlaku selama konser berlangsung. Semuanya dibuat dengan alasan dan tujuan yang jelas: Demi konser yang aman dan nyaman.
    5. Jika mengonsumsi alkohol sebelum ke konser pastikan takaran yang bijaksana :) Banyak silly things bisa terjadi jika kita mabuk di konser.
    6. Paham bahaya dan konsekuensi jika terjadi kegagalan melakukan moshing, stage diving atau crowd surfing.
    7. Segeralah menolong jika ada siapapun terjatuh di mosh pit.
    8. Hindari penggunaan aksesoris yang dapat melukai orang di mosh-pit.
    9. Kenakan earplug (jika ada).
    10. Jangan ikut-ikutan berkomplot untuk menjebol pintu masuk. Tolol!
    11. Untuk apa nongkrong di depan pintu masuk? Pastikan tujuan datang ke konser hanya untuk menikmati konser. Nongkronglah di kakus atau tempat nongkrong yang semestinya :)
     
    • habib 11:58 am on April 11, 2008 Permalink

      Viva India! SAY NO to the communication control

    • habib 11:59 am on April 11, 2008 Permalink

      Viva Indonesia! SAY NO to the communication control

    • Ifan 8:15 pm on September 30, 2008 Permalink

      Salute!!!
      No Comment dah

  • blauloretta 2:50 pm on February 17, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    Workshop One Minute Video | Kineruku – Common Room Networks Foundation – Videolab | 19 Feb – 2 March 2008 

    Photobucket

    Melanjutkan penyelenggaraan Ganesha Film Festival 2008, Liga Film Mahasiswa (LFM) bekerjasama dengan Kineruku, Common Room Networks Foundation dan Videolab bermaksud untuk menyelenggarakan workshop “One Minute Video” yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 19 Februari s/d 1 Maret 2008. One Minute Video adalah sebuah genre film dan video berdurasi singkat yang memberi penekanan pada keragaman eksplorasi bahasa artistik dan teknik produksinya. Ciri utama dari genre “One Minute” adalah durasi film dan video yang tepat 1 menit atau 60 detik (termasuk title).

    Agenda Program
    Program ini diharapkan dapat menyebarluaskan minat masyarakat untuk mengembangkan dan mengapresiasi perkembangan film dan video berdurasi pendek di kota Bandung. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk mendorong perkembangan genre One Minute Video di kota Bandung, meliputi pengembangan eksplorasi bahasa artistik dan teknik produksi film dan video berdurasi pendek. Rencananya, hasil workshop ini akan dirangkum menjadi kompilasi Bandung One Minute Video Compilation 2008 dan akan diikutsertakan dalam ajang pemutaran One Minute Video Festival di acara Olimpiade Beijing bekerjasama dengan organisasi OneMinuteFoundation (Belanda).

    Peserta
    Rencananya kegiatan ini akan melibatkan komunitas masyarakat umum di kota Bandung, termasuk komunitas pelajar dan mahasiswa. Untuk sementara kegiatan ini akan dibatasi dengan melibatkan 30 peserta (individu dan kelompok) yang diharapkan dapat menghasilkan 30 karya film dan video berdurasi pendek. Untuk kegiatan workshop, panitia akan menetapkan biaya workshop sebesar Rp. 30.000,- untuk biaya sertifikat dan konsumsi peserta selama workshop berlangsung.

    * Informasi lengkap dan formulir pendaftaran bisa di dowload di halaman ini.

     
  • blauloretta 11:29 am on February 15, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Dialog Publik dan Malam Seribu Lilin | Solidaritas Independen Bandung untuk Korban Insiden Sabtu Kelabu | Sabtu, 16 Februari 2008 

    underground_berkabung

    Undangan terbuka Solidaritas Independen Bandung (SIB)* dalam rangka menyikapi insiden Sabtu Kelabu yang menelan 11 korban nyawa dalam konser launching album kelompok band BESIDE pada tanggal 9 Februari 2008 di gedung Asia Africa Cultural Center (AACC).

    Acara ini diharapkan dapat menjadi forum rekonsiliasi yang membangun pemahaman baru akan kultur anak muda di kota Bandung. Selain itu, acara ini diharapkan dapat menjadi momentum pembelajaran atas insiden yang terjadi.

    Kegiatan ini akan melibatkan pihak-pihak terkait, terutama dari unsur komunitas masyarakat, akademisi, pemerintah dan kepolisian, diselingi dengan pertunjukan kesenian oleh komunitas seniman dan musisi Bandung. Selanjutnya acara ini akan dilanjutkan dengan kegiatan tabur bunga dan doa bersama di gedung Asia Africa Cultural Center.

    Waktu dan Tempat Kegiatan
    Sabtu, 16 Februari 2008
    - Dialog Publik: Gedung Teater Tertutup Dago Tea Huis, pukul 15.00 – 18.00 WIB
    - Malam Seribu Lilin: Gedung Asia Africa Cultural Center: 19.00 – 21.00 WIB

    Pembicara
    1. Kimung (Ujung Berung Rebels)
    2. Addy Handi (Forgotten/ Ujung Berung Rebels)
    3. dr. Teddy Hidayat
    4. Bapak Tisna Sanjaya
    5. Disbudpar Provinsi Jawa Barat
    6. Kapolda Jawa Barat
    7. Bapak Yesmil Anwar

    Penyelenggara
    Rumah Cemara
    LBH Bandung
    Sunda Underground
    Ujung Berung Rebels
    Common Room Networks Foundation
    Solidaritas Independen Bandung (SIB)
    Yayasan Adikaka
    Rumah Musik Harry Roesly (RMHR)

    * Solidaritas Independen Bandung (SIB) adalah forum ad hoc yang diinisiasi oleh beberapa komunitas, pelaku dan individu penggemar musik independen di kota Bandung.
    ** Informasi selengkapnya silahkan hubungi Man (Jasad) di nomor 08156211840 dan Iyo (Ripple/ Pure Saturday) di nomor 0817221489

     
  • blauloretta 9:19 am on February 13, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Review One Minute Video Screening di Ganesha Film Festival | LFM – ITB | 31 Januari 2008 

    Photobucket

    Dalam rangka pelaksanaan Ganesha Film Festival 2008, LFM – ITB bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation menyelenggarakan pemutaran kompilasi One Minute Video pada tanggal 31 Januari yang telah lalu. Acara ini menampilkan karya kompilasi video dari para pemenang One MinuteVideo Festival 2006 yang diselenggarakan oleh The One Minutes Foundation. Selain pemutaran, kegiatan ini juga disertai dengan diskusi mengenai perkembangan genre video berdurasi singkat yang berkembang pesat di beberapa negara selama beberapa waktu terakhir ini. Dapat dikatakan bahwa saat ini perkembangan karya film dan video berdurasi pendek telah memiliki tempat tersendiri diantara para penikmat karya audio-visual.

    Program pemutaran One Minute Video dalam acara ini menampilkan sekitar 30 karya film dan video berdurasi pendek yang mencerminkan beragam kecenderungan, baik dari segi teknis maupun cerita. Sebagian besar karya yang ditampilkan juga memperlihatkan beragam gaya dan teknik produksi semisal found footage, stop motion, still camera, animasi, dsb. Tampaknya perkembangan teknologi digital memiliki peran yang begitu besar dalam mendorong perkembangan genre film dan video berdurasi pendek. Hal ini misalkan tercermin melalui aspek produksi, penyebaran, maupun beragam kecenderungan bahasa visual yang tercermin dari setiap karya yang ada.

    Salah satu karya yang menarik untuk disimak barangkali adalah karya animasi yang berjudul “Pa-No-Rama” (Diego Zucchi/ IT), yang menceritakan pengalaman konyol seorang kakek tua yang tengah bepergian dengan kereta api. Karena kurang beruntung, sang kakek harus kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan yang indah selama di perjalanan. Selain itu, ada juga karya politis berjudul “Statement” (Stina Östberg/ SE), yang secara sengaja menampilkan rekaman perilaku penonton sepak bola yang dimanfaatkan sebagai media propaganda oleh seorang aktifis feminis sehingga menjadi tontonan yang kocak.

    Melalui karya-karya yang ditampilkan, terlihat bagaimana genre film dan video berdurasi singkat mampu mencerminkan refleksi subyektif tentang realitas kehidupan sehari-hari, selain berbagai pandangan yang bersifat puitis dan bahkan politis. Selain itu, ada juga beberapa karya yang hanya sekedar menonjolkan aspek eksplorasi bahasa artistik dan sensasi visual tertentu. Meskipun memiliki durasi yang sangat singkat, terbukti genre film dan video masih dapat dinikmati dan memberikan kesan tersendiri bagi para penikmatnya. Rencananya LFM – ITB bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, Kineruku dan VideoLab akan menyelenggarakan workshop “One Minute Video” dalam waktu dekat untuk ikut mendorong perkembangan genre film dan video berdurasi pendek di kota Bandung.

    Ganesha Film Festival 2008 merupakan festival film pertama yang diselenggarakan oleh LFM – ITB. Selain pemutaran film, festival ini juga menyelenggarakan kompetisi film independen yang melibatkan karya para sineas muda dari beberapa kota di Indonesia. Untuk festival kali ini, ada sekitar 98 karya film dan 4 video art yang diperlombakan. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan pre screening di Common Room pada tanggal 28 Januari 2008. Sementara itu, puncak dari kegiatan festival yang sekaligus menjadi ajang penyerahan penghargaan kompetisi diselenggarakan di Campus Center ITB pada tanggal 2 Februari 2008.

    Untuk informasi lebih lengkap mengenai Ganesha Film Festival 2008 silahkan mengunjungi halaman berikut ini:

     
  • blauloretta 10:48 am on February 11, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Pers Rilis Insiden Sabtu Kelabu | Gedung AACC Bandung, 9 Februari 2008 

    Photobucket

    Kami mewakili Solidaritas Independen Bandung (SIB)* mengucapkan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya atas insiden dalam konser Launching Album kelompok band BESIDE, yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 9 Februari 2008 dan bertempat di gedung Asia Africa Cultural Centre (AACC). Peristiwa yang terjadi dalam musibah tersebut merupakan insiden yang tidak diinginkan dan direncanakan oleh pihak manapun. Mudah-mudahan insiden tersebut merupakan peristiwa yang terakhir kalinya dan dapat kita jadikan sebagai pembelajaran bagi semua pihak. Kami juga mendoakan semoga para korban dapat diterima disisi-Nya dan keluarga korban dapat menghadapi musibah ini dengan lapang dada. Amin

    Kami memandang kejadian ini sebagai musibah yang tidak hanya terkait dengan kegiatan komunitas tertentu saja. Musibah tersebut juga bukan hanya merupakan sebuah insiden dalam pertunjukan musik, tetapi juga terkait dengan infrastruktur dan prosedur penyelenggaraan acara yang melibatkan masyarakat luas. Dalam hal ini, insiden tersebut di atas sebaiknya dipandang sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh banyak pihak, sehingga dapat dipandang sebagai pelajaran yang berharga bagi masyarakat umum maupun pemerintah.

    Insiden yang memakan korban jiwa 10 orang tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus kita tanggapi secara objektif. AACC selama ini dikenal sebagai tempat bagi penyelenggaraan konser musik yang mewadahi luapan ekspresi anak muda di kota Bandung. Selama ini sudah banyak kelompok band yang menjadikan AACC sebagai gelanggangnya. Dari keterangan-keterangan yang terhimpun baik dari saksi maupun media, untuk sementara dapat disimpulkan bahwa rata-rata korban meninggal akibat kekurangan oksigen akibat luapan massa yang membludak. Hal ini setidaknya memperlihatkan bahwa energi kreatif yang dimiliki oleh komunitas musisi di kota Bandung sudah tidak dapat ditampung oleh gedung AACC. Oleh karena itu, kota Bandung sudah selayaknya memiliki fasilitas publik yang dapat mengakomodasi energi kreatif yang berkembang di kota ini secara aman.

    * Solidaritas Independen Bandung (SIB) adalah forum ad hoc yang diinisiasi oleh beberapa komunitas, pelaku dan individu penggemar musik independen di kota Bandung.

     
  • blauloretta 11:09 am on February 9, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Selepas Konser Cinta Melulu: Efek Rumah Kaca Harus Masuk Major Label? 

    Photobucket

    Cholil dengan suara pelan memberi tahu penonton bahwa lagu berikut adalah lagu terakhir. Penonton menyanggah. Mereka tidak ingin menemui akhir yang datang terlalu dini.

    Nggak ada lagunya lagi,” ujar Cholil.

    Tidak berapa lama, lewat serangkaian komunikasi pendek dengan Akbar, sang drummer, mereka memainkan lagu Efek Rumah Kaca. Lagu itu tidak ada di dalam rencana mereka malam itu.

    Menjelang lagu Cinta Melulu, lagu yang seharusnya menjadi lagu terakhir mereka malam itu, penonton berdiri. Semuanya ingin mendekat ke arah panggung kecil itu. Orang yang dapat posisi agak ke belakang, pasti terhalangi. Saya beruntung, saya ada di baris kedua dari depan. Jadi, masih bisa merapat. Saya sedang menjalani salah satu konser menyenangkan dalam hidup saya. Seperti biasa, mata saya sudah mengarah pada setlist milik Cholil yang ada di samping efek gitarnya. Saya akan mengambilnya, maka langsung mencari posisi enak untuk langsung menyeruak ke depan setelah konser selesai.

    Koor penonton semakin membahana pada lagu ini. Lagu ini memang cukup menyenangkan. Terlepas bahwa ini merupakan singel radio paling baru mereka. Dan terlepas pula bahwa ERK bersama panitia membagikan lembaran lirik kepada setiap penonton yang datang.

    Lagu itu pun selesai. Penonton tidak ingin beranjak. Mereka sudah ingin mengakhiri konser itu. Tapi tidak dengan penonton. Mereka meminta encore. Saya termasuk orang yang berteriak meminta lagu tambahan.

    Duh, udah semua dimainin, gimana dong?” kata Cholil, lagi-lagi pelan.

    Ulang aja, ulang,” teriak banyak penonton, termasuk saya.

    Tidak perlu waktu lama, mereka memutuskan untuk mengulang lagu Di Udara.

    Ok, diulang. Cuma nyanyi bareng ya,” pinta Cholil. Penonton menurut, termasuk saya. Kata pertama sudah menjadi santapan bersama.

    Dan lagu itu membahana berulang-ulang. Keluar dari pakem standar mereka ketika bermain. Bahkan ada satu bagian di mana para personil ERK bingung harus menyanyikan apa. “Lupa gue,” ujar Cholil sembari terkekeh dan melanjutkan suara gitarnya.

    Entah berapa kali bagian reffrain lagu itu dimainkan. Entah berapa kuat suara penonton malam itu menganggu tetangga sekitar. Tapi, tidak perlu peduli terlalu banyak.

    Intimasi konser itu menemui ekspektasinya. Hampir semua orang di situ bernyanyi. Ruang pertunjukan pun terasa sesak, karena memang jadinya terlalu kecil untuk jumlah orang yang datang malam itu.

    Konser berakhir, band itu langsung diserbu banyak orang. Ada yang ingin berfoto bersama, ada yang ingin meminta tanda tangan. Mata saya langsung mengontak mata Cholil, karena ia sudah menyadari kesadaran saya di deretan penonton. Saya langsung memberi kode bahwa saya menginginkan setlist miliknya. Ia langsung mengamankan setlist itu, bahkan tanpa diminta pun langsung meminjam spidol seorang yang ingin meminta tanda tangan kepadanya dan menorehkan tulisan “To Felix” sebelum tanda tangannya.

    Saya mengambil setlist itu dan menyalaminya, “Terima kasih untuk konser yang menyenangkan, Lil,” ujar saya kalau tidak salah. Pekerjaan saya, menunggu dua orang lainnya menandatangani setlist itu. Saya harus mendapatkan tanda tangan mereka malam itu, kalau keluar dari malam itu rasa dan sensasinya pasti berbeda.

    Ini adalah lagu yang mereka mainkan di konser itu:

    INTRO
    DEBU-DEBU BETERBANGAN
    INSOMNIA
    BUKAN LAWAN JENIS
    DI UDARA
    DESEMBER
    HUJAN JANGAN MARAH
    JALANG
    JATUH CINTA ITU BIASA SAJA
    BELANJA TERUS SAMPAI MATI
    MELANKOLIA
    SEBELAH MATA
    EFEK RUMAH KACA
    CINTA MELULU
    ========
    DI UDARA

    Total ada lima belas lagu.

    Selepas menunggu mereka diwawancara oleh dua buah televisi, saya meminta tanda tangan kepada Akbar dan Adrian. Mereka tampak canggung memberikan tanda tangan.

    Malam itu saya baru saja menyaksikan sebuah konser calon band penuh talenta untuk pasar besar musik Indonesia. Sehabis konser itu, saya percaya bahwa band ini akan mengawali karir major label mereka satu hari nanti.

    Teman saya, Dimas Ario, meninggalkan sebuah komentar singkat, “Gila, Lix. Terakhir kali gue nonton konser diulang lagunya itu Indra Lesmana. Yang diulang lagu Selamat Tinggal.” Konser itu berlangsung tahun 90an. Sudah cukup lama untuknya.

    Terima ERK, untuk konser yang sangat sulit untuk dilupakan. (pelukislangit)

    *) Rumah Bandung, sebelum bekerja. 4 Februari 2008. Didedikasikan kepada Boit yang tidak bisa menyaksikan konser ini sampai selesai dan Satria Ramadhan yang urung mengabadikan ERK di konser ini karena alasan kesehatan. Kalian pasti menyesal!

    **) Artikel ini merupakan potongan review yang ditulis oleh pelukislangit. Simak review lengkap di http://pelukislangit.multiply.com

    ***) Foto oleh Dame Christina

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel