Updates from January, 2008 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • blauloretta 8:20 am on January 22, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Konser Intim Cinta Melulu | Efek Rumah Kaca | Common Room, 3 Februari 2008 

    Photobucket

     
  • blauloretta 7:54 am on January 22, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Ganesha Film Festival | Campus Center ITB | 31 Januari – 2 Februari 2008 

    Photobucket

    Liga Film Mahasiswa ITB (LFM ITB) mempersembahkan Ganesha Film Festival 2008: INDIE EPIDEMIC, yang akan diselenggarakan mulai tanggal 31 Januari sampai dengan 2 Februari 2008. Program ini merupakan ajang festival film pertama yang diselenggarakan oleh LFM ITB dan akan secara khusus menyoroti perkembangan film independen yang mengedepankan semangat kebebasan dalam berekspresi.

    Adapun beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan dalam festival ini antara lain adalah:

    Pre-Event
    26 Januari 2008

    • Press Conference
    • Pembacaan Ganffest Official Films
    • Screening trailer film resmi Ganesha Film Festival dan video art
    • Lokasi: Common Room
      Jl. Kyai Gede Utama No. 8
      Bandung

    Ganffest Week
    31 Januari – 1 Februari 2008

    • Penjurian
    • Indie discussion
    • Screening Film
    • Screening Animation and video art
    • Lokasi: Multimedia Campus Center ITB
      Jl. Ganesha No. 10
      Bandung

    Ganffest Closing Night
    Sabtu, 2 February 2008

    • Penyerahan award dan gala dinner
    • Music concert
    • Lokasi: Campus Center ITB
      Jl. Ganesha No. 10
      Bandung

    Pendaftaran peserta Ganesha Film Festival dibuka untuk umum sampai tanggal 25 Januari 2008. Formulir pendaftaran bisa didownlod di link berikut ini. Silahkan kunjungi situs Ganesha Film Festival 2008: Indie Epidemic untuk informasi lebih lengkap.

     
  • blauloretta 6:03 am on January 22, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    Review Acara Bedah Buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death | Selasar Sunaryo Artspace | 19 Januari 2008 

    Burgerkill

    Setelah tertunda selama kurang lebih satu bulan, akhirnya acara bedah buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ jadi diselenggarakan di Selasar Sunaryo Artspace pada tanggal 19 Januari 2008. Sesuai rencana semula, acara ini menghadirkan beberapa pembicara dari berbagai kalangan, yang terdiri dari dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung (Penulis buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death). Selain itu, acara ini juga menampilkan pertunjukan musik akustik dari Burgerkill yang malam itu memainkan musik mereka dalam format akustik.

    Diantara para penggemar mereka, Burgerkill dikenal sebagai band cadas asal Ujungberung yang didirikan oleh Eben, Kimung, Ivan Scumbag (alm.) dan Toto pada tahun 1995. Sementara itu, buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ merupakan biografi kehidupan Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill yang meninggal karena penyakit radang selaput otak pada tahun 2006. Saat ini posisi Ivan digantikan oleh Vicki yang sebelumnya pernah bergabung dengan Balcony dan Heaven Fall. Selain dihadiri oleh kerabat dan teman-teman dekat Ivan, acara ini juga dihadiri oleh ratusan Begundal/ BHC yang merupakan fans setia dari kelompok Burgerkill. Dimulai pada pukul 19.30, acara dibuka oleh Burgerkill yang membawakan lagu Angkuh (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) yang berhasil menghangatkan suasana malam yang cerah di amphitheater Selasar Sunaryo Artspace.

    Acara dilanjutkan dengan paparan dari dr. Teddy Hidayat yang memberikan pandangan tentang kondisi psikologis Ivan berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari buku yang ditulis oleh Kimung. Dokter Teddy menjelaskan secara panjang lebar bagaimana selama mengembangkan karirnya sebagai musisi, Ivan mengalami tekanan batin yang sangat mendalam. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kimung yang merupakan sahabat dekat dari Ivan Scumbag. Seperti yang diungkapkan oleh Kimung dan Dokter Teddy, tekanan psikologis yang dialami oleh Ivan terutama karena pertentangan nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga dengan situasi lingkungan yang beresiko tinggi dalam penggunaan obat-obatan dan zat psikotropika, seperti misalnya kebiasaan dalam mengkonsumsi alkohol, putaw, ganja, dsb. (NAPZA).

    Lebih jauh Dokter Teddy memaparkan bahwa masalah seperti ini memang lazim terjadi dalam dunia remaja. Hal ini setidaknya membuat dunia anak muda menjadi rentan bagi penyebaran penyakit HIV/AIDS, yang biasanya juga tersebar melalui penggunaan jarum suntik. Oleh karena itu, persoalan seperti ini harus ditangani secara hati-hati. Idealnya persoalan semacam ini tidak dilihat sebagai persoalan kriminal, tetapi harus dilihat sebagai persoalan masyarakat yang bisa ditangani secara medis. Salah satu solusi yang barangkali dapat dilakukan untuk mengantisipasi resiko penggunaan NAPZA di kalangan anak muda adalah dengan menyalurkan bakat dan kreatifitas yang mereka miliki. Hal ini setidaknya juga tercermin dari apa yang terjadi pada diri Ivan. Ketika masih hidup, Ivan menyalurkan berbagai kegelisahan yang ia alami melalui karya-karyanya bersama Burgerkill. Kembali menurut Dokter Teddy, adalah tugas bagi para orang tua dan guru untuk menemukan bakat anak muda sehingga mereka dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan terhindar dari resiko penggunaan NAPZA dan terjangkit HIV/AIDS.

    Diskusi

    Sebelum melanjutkan diskusi, Burgerkill kembali tampil dengan mempersembahkan lagu We Will Bleed (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) dan Something in the Way milik Nirvana yang telah diaransemen ulang. Setelah itu Drs. Reiza D. Dienaputra melanjutkan diskusi dengan menyoroti persoalan sejarah kecil (micro narratives) yang berhasil diungkap secara panjang lebar melalui buku ini. Saat ini, perbincangan mengenai sejarah kecil menjadi semakin relevan karena sejarah kemudian dilihat sebagai sumber pengetahuan yang secara langsung dapat merefleksikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini jauh berbeda dengan persoalan sejarah besar (grand narratives) yang biasanya membicarakan persoalan-persoalan yang berjarak dengan kenyataan hidup masyarakat kebanyakan. Dalam buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death, Drs. Reiza D. Dienaputra mendapati berbagai persoalan keseharian yang begitu intim, namun penuh dengan persoalan kemanusiaan, lengkap dengan berbagai kekonyolan dan tragedi yang menyertai kehidupan Ivan dan para sahabatnya di Ujungberung.

    Dalam diskusi ini Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto menyoroti wacana perlawanan yang selama ini kerap didengungkan oleh komunitas underground. Sebagai sebuah kritik, wacana perlawanan terhadap kapitalisme global bisa jadi merupakan persoalan yang absurd karena bagaimanapun paham kapitalisme juga dianggap telah berhasil menyulap semangat perlawanan menjadi komoditas. Disadari atau tidak, bagaimanapun harus diakui kalau berbagai ekspresi musik dan tanda-tanda yang terkait dengan ideologi perlawanan di Indonesia bisa jadi hanya sekedar imitasi yang memiliki konteks tersendiri dan dipahami secara berbeda dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Oleh karena itu, Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto lebih melihat berbagai ekspresi yang diungkap oleh komunitas underground sebagai sebuah fenomena keragaman pandangan politik pribadi dan ekspresi artistik yang juga layak untuk terus diapresiasi keberadaannya.

    Selepas diskusi, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Alex yang secara khusus didedikasikan untuk Ivan. Selanjutnya acara ditutup dengan doa bersama yang dipersembahkan untuk mendiang Ivan Scumbag. Semua pihak sepakat bahwa walaupun Ivan sudah meninggal, sebagai sebuah spirit semangatnya masih tetap ada. Untuk itu, Kimung sangat berharap kalau apa yang telah dibangun oleh Ivan dapat terus dikembangkan oleh mereka yang banyak terlibat dalam perkembangan musik underground di Indonesia. Sebagai penutup, Burgerkill kembali tampil membawakan lagu Tiga Titik Hitam (Berkarat, Sony Music, 2003), yang dibawakan bersama-sama dengan Andi Fadly. Sebelumnya Fadly sempat menceritakan sedikit pengalamannya ketika berkolaborasi dengan Ivan dalam lagu Tiga Titik Hitam. Acara ini merupakan bagian dari kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia yang diselenggarakan bersama oleh Minor Books, Common Room Networks Foundation, Rumah Cemara, Selasar Sunaryo Artspace dan Ujungberung Rebels. (Gustaff/CRNF)

     
    • ahmad bunda mulia school 7:39 am on July 29, 2008 Permalink

      wah bagus bgt tuch kapan kpan blh donk ke sekolah saya untuk bedah buku…..saya tunggu e mailnya

      Regards,

      Ahmad/ Librarian

  • blauloretta 8:00 am on January 21, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    Capo Exhibition | Galeri LIP Yogyakarta | 15 – 25 November 2008 

    Capo_yk

    Setelah dipamerkan di Common Room pada tanggal 2 November 2007, NLS/AEWORX bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, LIP Yogyakarta dan IVAA kembali memamerkan Capo di Galeri LIP Yogyakarta mulai tanggal 15 s/d 25 Januari 2008. Kali ini koleksi Capo yang dipamerkan bertambah menjadi 64 buah, yang terdiri dari 49 karya Capo dari seri pameran pertama, 11 Capo karya para peserta workshop yang diselenggarakan di Common Room pada tanggal 18 November 2007, dan Capo tambahan karya 4 seniman Yogyakarta; yaitu Arie Dyanto, Roli aka LoveHateLove, Pras aka Pixeliips-YORC dan Riono a.k.a Tatsoy.

    Beberapa saat sebelum pameran dibuka, panitia pameran di Yogyakarta menyelenggarakan diskusi mengenai Capo dan custom toy yang dihadiri oleh para mahasiswa desain produk tk. 2, Universitas Kristen Duta Wacana. Dalam kesempatan ini, Aji, Dini dan Ryoichi dari NLS/AEWORX memberikan penjelasan panjang lebar mengenai proses pembuatan Capo. Beberapa hal yang dibicarakan di dalam diskusi ini antara lain adalah proses brain storming, pembuatan sketsa, membentuk model dan prototype, sampai pada proses produksi yang dilakukan dalam jumlah yang terbatas.

    Menurut Aji, secara keseluruhan proses pembuatan Capo yang dibuat dari bahan resin ini memakan waktu selama kurang lebih 1 tahun lebih. Setelah itu, masing-masing peserta pameran membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk memodifikasi Capo sesuai dengan keinginan mereka. Untuk kegiatan ini, NLS/AEWORX melibatkan peserta pameran yang memiliki latar belakang yang beragam. Sebagian diantaranya adalah seniman, desainer, musisi, mahasiswa dan pelajar SD dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

    Kembali menurut Aji, kendala yang paling besar pada saat memproduksi Capo adalah menemukan bentuk dan bahan yang paling cocok dengan karakter Capo. Dalam diskusi ini juga diungkapkan kalau seri Capo yang dipamerkan sebetulnya masih dalam proses uji coba. Sebagai sebuah prototype, Capo seri ini masih memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan lebih jauh. Hal ini misalkan tercermin dari beraneka ragam desain Capo yang dihasilkan oleh para peserta pameran, sehingga sebagai sebuah custom toy, Capo juga dinilai telah berhasil merangsang kreatifitas yang mencerminkan keragaman ekspresi para pembuatnya, baik dari sisi teknis maupun bentukan ekspresi yang ada.

    Beberapa peserta pameran sepertinya memanfaatkan Capo sebagai wahana untuk mengekspresikan identitas pribadi, sementara ada juga beberapa peserta yang mencurahkan pandangan personal yang terkait dengan berbagai persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Lewat karya mereka, para peserta pameran memang diperkenankan untuk melakukan berbagai bentuk ekplorasi artistik dalam memodifikasi Capo, sesuai dengan aspirasi personal dan pendekatan teknis yang mereka kuasai. Melalui proyek mereka dapat dikatakan NLS/AEWORX telah berhasil memberikan warna bagi perkembangan custom toy di Indonesia.

    * Bagi teman-teman yang tertarik untuk menyaksikan pameran Capo di Yogyakarta silahkan mengunjungi LIP Yogyakarta di Jalan Sagan No. 3. Pameran akan berlangsung sampai tanggal 25 Januari 2008.

     
  • blauloretta 9:39 am on January 18, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Bedah Buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death | Selasar Sunaryo Artspace | 19 Januari 2008 

    Photobucket

    Dalam rangka kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia
    Minor Books bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, Rumah Cemara dan Selasar Sunaryo Art Space menyelenggarakan program bedah buku dan konser musik akustik, “My Self : Scumbag, Beyond Life and Death”. Sebagai bagian dari kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia, acara bedah buku ini juga akan menghadirkan beberapa pembicara yang berasal dari latar belakang yang beragam. Selain diskusi dan bedah buku, acara ini juga akan menampilkan Burgerkill, band cadas asal Ujungberung yang akan memainkan musik mereka dalam format akustik dan berkolaborasi dengan Fadly (Padi).

    Pembicara
    1. dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater)
    2. Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah)
    3. Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf)
    4. Andy Fadly (Musisi)
    5. Kimung (Penulis)

    Waktu dan Tempat
    Hari/tanggal: Sabtu/19 Januari 2008
    Waktu: Pk.18.30 – 21.30 WIB
    Tempat: Amphitheataer – Selasar Sunaryo Art Space,
    Jl. Bukit Pakar Timur no.100
    Bandung

    Tempat Pengambilan Undangan
    Cronic Rock
    Jalan Kalimantan No. 11 (Sebelah SMA 3)

    Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama No. 8
    Telp. +62.22.250.3404
    http://commonroom.info/

    Selasar Sunaryo Artspace
    Jl. Bukit Pakar Timur no.100
    Telp. +62.22.2507939
    http://www.selasarsunaryo.com/

     
    • kimun666 5:21 am on January 20, 2008 Permalink

      ceuyah anjissssssssssssss!

      maju terus commonroom!!!!!!!!!!!hajar jalanan!

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel
porno ukash canta modelleri sabo terlik escort ankara escort ilan escort ankara ilan