Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • blauloretta 8:20 am on January 22, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Konser Intim Cinta Melulu | Efek Rumah Kaca | Common Room, 3 Februari 2008 

    Photobucket

     
  • blauloretta 7:54 am on January 22, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    Ganesha Film Festival | Campus Center ITB | 31 Januari – 2 Februari 2008 

    Photobucket

    Liga Film Mahasiswa ITB (LFM ITB) mempersembahkan Ganesha Film Festival 2008: INDIE EPIDEMIC, yang akan diselenggarakan mulai tanggal 31 Januari sampai dengan 2 Februari 2008. Program ini merupakan ajang festival film pertama yang diselenggarakan oleh LFM ITB dan akan secara khusus menyoroti perkembangan film independen yang mengedepankan semangat kebebasan dalam berekspresi.

    Adapun beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan dalam festival ini antara lain adalah:

    Pre-Event
    26 Januari 2008

    • Press Conference
    • Pembacaan Ganffest Official Films
    • Screening trailer film resmi Ganesha Film Festival dan video art
    • Lokasi: Common Room
      Jl. Kyai Gede Utama No. 8
      Bandung

    Ganffest Week
    31 Januari – 1 Februari 2008

    • Penjurian
    • Indie discussion
    • Screening Film
    • Screening Animation and video art
    • Lokasi: Multimedia Campus Center ITB
      Jl. Ganesha No. 10
      Bandung

    Ganffest Closing Night
    Sabtu, 2 February 2008

    • Penyerahan award dan gala dinner
    • Music concert
    • Lokasi: Campus Center ITB
      Jl. Ganesha No. 10
      Bandung

    Pendaftaran peserta Ganesha Film Festival dibuka untuk umum sampai tanggal 25 Januari 2008. Formulir pendaftaran bisa didownlod di link berikut ini. Silahkan kunjungi situs Ganesha Film Festival 2008: Indie Epidemic untuk informasi lebih lengkap.

     
  • blauloretta 6:03 am on January 22, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    Review Acara Bedah Buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death | Selasar Sunaryo Artspace | 19 Januari 2008 

    Burgerkill

    Setelah tertunda selama kurang lebih satu bulan, akhirnya acara bedah buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ jadi diselenggarakan di Selasar Sunaryo Artspace pada tanggal 19 Januari 2008. Sesuai rencana semula, acara ini menghadirkan beberapa pembicara dari berbagai kalangan, yang terdiri dari dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung (Penulis buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death). Selain itu, acara ini juga menampilkan pertunjukan musik akustik dari Burgerkill yang malam itu memainkan musik mereka dalam format akustik.

    Diantara para penggemar mereka, Burgerkill dikenal sebagai band cadas asal Ujungberung yang didirikan oleh Eben, Kimung, Ivan Scumbag (alm.) dan Toto pada tahun 1995. Sementara itu, buku ‘Myself: Scumbag, Beyond Life and Death’ merupakan biografi kehidupan Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill yang meninggal karena penyakit radang selaput otak pada tahun 2006. Saat ini posisi Ivan digantikan oleh Vicki yang sebelumnya pernah bergabung dengan Balcony dan Heaven Fall. Selain dihadiri oleh kerabat dan teman-teman dekat Ivan, acara ini juga dihadiri oleh ratusan Begundal/ BHC yang merupakan fans setia dari kelompok Burgerkill. Dimulai pada pukul 19.30, acara dibuka oleh Burgerkill yang membawakan lagu Angkuh (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) yang berhasil menghangatkan suasana malam yang cerah di amphitheater Selasar Sunaryo Artspace.

    Acara dilanjutkan dengan paparan dari dr. Teddy Hidayat yang memberikan pandangan tentang kondisi psikologis Ivan berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari buku yang ditulis oleh Kimung. Dokter Teddy menjelaskan secara panjang lebar bagaimana selama mengembangkan karirnya sebagai musisi, Ivan mengalami tekanan batin yang sangat mendalam. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kimung yang merupakan sahabat dekat dari Ivan Scumbag. Seperti yang diungkapkan oleh Kimung dan Dokter Teddy, tekanan psikologis yang dialami oleh Ivan terutama karena pertentangan nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga dengan situasi lingkungan yang beresiko tinggi dalam penggunaan obat-obatan dan zat psikotropika, seperti misalnya kebiasaan dalam mengkonsumsi alkohol, putaw, ganja, dsb. (NAPZA).

    Lebih jauh Dokter Teddy memaparkan bahwa masalah seperti ini memang lazim terjadi dalam dunia remaja. Hal ini setidaknya membuat dunia anak muda menjadi rentan bagi penyebaran penyakit HIV/AIDS, yang biasanya juga tersebar melalui penggunaan jarum suntik. Oleh karena itu, persoalan seperti ini harus ditangani secara hati-hati. Idealnya persoalan semacam ini tidak dilihat sebagai persoalan kriminal, tetapi harus dilihat sebagai persoalan masyarakat yang bisa ditangani secara medis. Salah satu solusi yang barangkali dapat dilakukan untuk mengantisipasi resiko penggunaan NAPZA di kalangan anak muda adalah dengan menyalurkan bakat dan kreatifitas yang mereka miliki. Hal ini setidaknya juga tercermin dari apa yang terjadi pada diri Ivan. Ketika masih hidup, Ivan menyalurkan berbagai kegelisahan yang ia alami melalui karya-karyanya bersama Burgerkill. Kembali menurut Dokter Teddy, adalah tugas bagi para orang tua dan guru untuk menemukan bakat anak muda sehingga mereka dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan terhindar dari resiko penggunaan NAPZA dan terjangkit HIV/AIDS.

    Diskusi

    Sebelum melanjutkan diskusi, Burgerkill kembali tampil dengan mempersembahkan lagu We Will Bleed (Beyond Coma and Despair, Revolt! Records, 2006) dan Something in the Way milik Nirvana yang telah diaransemen ulang. Setelah itu Drs. Reiza D. Dienaputra melanjutkan diskusi dengan menyoroti persoalan sejarah kecil (micro narratives) yang berhasil diungkap secara panjang lebar melalui buku ini. Saat ini, perbincangan mengenai sejarah kecil menjadi semakin relevan karena sejarah kemudian dilihat sebagai sumber pengetahuan yang secara langsung dapat merefleksikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini jauh berbeda dengan persoalan sejarah besar (grand narratives) yang biasanya membicarakan persoalan-persoalan yang berjarak dengan kenyataan hidup masyarakat kebanyakan. Dalam buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death, Drs. Reiza D. Dienaputra mendapati berbagai persoalan keseharian yang begitu intim, namun penuh dengan persoalan kemanusiaan, lengkap dengan berbagai kekonyolan dan tragedi yang menyertai kehidupan Ivan dan para sahabatnya di Ujungberung.

    Dalam diskusi ini Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto menyoroti wacana perlawanan yang selama ini kerap didengungkan oleh komunitas underground. Sebagai sebuah kritik, wacana perlawanan terhadap kapitalisme global bisa jadi merupakan persoalan yang absurd karena bagaimanapun paham kapitalisme juga dianggap telah berhasil menyulap semangat perlawanan menjadi komoditas. Disadari atau tidak, bagaimanapun harus diakui kalau berbagai ekspresi musik dan tanda-tanda yang terkait dengan ideologi perlawanan di Indonesia bisa jadi hanya sekedar imitasi yang memiliki konteks tersendiri dan dipahami secara berbeda dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Oleh karena itu, Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto lebih melihat berbagai ekspresi yang diungkap oleh komunitas underground sebagai sebuah fenomena keragaman pandangan politik pribadi dan ekspresi artistik yang juga layak untuk terus diapresiasi keberadaannya.

    Selepas diskusi, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Alex yang secara khusus didedikasikan untuk Ivan. Selanjutnya acara ditutup dengan doa bersama yang dipersembahkan untuk mendiang Ivan Scumbag. Semua pihak sepakat bahwa walaupun Ivan sudah meninggal, sebagai sebuah spirit semangatnya masih tetap ada. Untuk itu, Kimung sangat berharap kalau apa yang telah dibangun oleh Ivan dapat terus dikembangkan oleh mereka yang banyak terlibat dalam perkembangan musik underground di Indonesia. Sebagai penutup, Burgerkill kembali tampil membawakan lagu Tiga Titik Hitam (Berkarat, Sony Music, 2003), yang dibawakan bersama-sama dengan Andi Fadly. Sebelumnya Fadly sempat menceritakan sedikit pengalamannya ketika berkolaborasi dengan Ivan dalam lagu Tiga Titik Hitam. Acara ini merupakan bagian dari kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia yang diselenggarakan bersama oleh Minor Books, Common Room Networks Foundation, Rumah Cemara, Selasar Sunaryo Artspace dan Ujungberung Rebels. (Gustaff/CRNF)

     
    • ahmad bunda mulia school 7:39 am on July 29, 2008 Permalink

      wah bagus bgt tuch kapan kpan blh donk ke sekolah saya untuk bedah buku…..saya tunggu e mailnya

      Regards,

      Ahmad/ Librarian

  • blauloretta 8:00 am on January 21, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    Capo Exhibition | Galeri LIP Yogyakarta | 15 – 25 November 2008 

    Capo_yk

    Setelah dipamerkan di Common Room pada tanggal 2 November 2007, NLS/AEWORX bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, LIP Yogyakarta dan IVAA kembali memamerkan Capo di Galeri LIP Yogyakarta mulai tanggal 15 s/d 25 Januari 2008. Kali ini koleksi Capo yang dipamerkan bertambah menjadi 64 buah, yang terdiri dari 49 karya Capo dari seri pameran pertama, 11 Capo karya para peserta workshop yang diselenggarakan di Common Room pada tanggal 18 November 2007, dan Capo tambahan karya 4 seniman Yogyakarta; yaitu Arie Dyanto, Roli aka LoveHateLove, Pras aka Pixeliips-YORC dan Riono a.k.a Tatsoy.

    Beberapa saat sebelum pameran dibuka, panitia pameran di Yogyakarta menyelenggarakan diskusi mengenai Capo dan custom toy yang dihadiri oleh para mahasiswa desain produk tk. 2, Universitas Kristen Duta Wacana. Dalam kesempatan ini, Aji, Dini dan Ryoichi dari NLS/AEWORX memberikan penjelasan panjang lebar mengenai proses pembuatan Capo. Beberapa hal yang dibicarakan di dalam diskusi ini antara lain adalah proses brain storming, pembuatan sketsa, membentuk model dan prototype, sampai pada proses produksi yang dilakukan dalam jumlah yang terbatas.

    Menurut Aji, secara keseluruhan proses pembuatan Capo yang dibuat dari bahan resin ini memakan waktu selama kurang lebih 1 tahun lebih. Setelah itu, masing-masing peserta pameran membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk memodifikasi Capo sesuai dengan keinginan mereka. Untuk kegiatan ini, NLS/AEWORX melibatkan peserta pameran yang memiliki latar belakang yang beragam. Sebagian diantaranya adalah seniman, desainer, musisi, mahasiswa dan pelajar SD dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

    Kembali menurut Aji, kendala yang paling besar pada saat memproduksi Capo adalah menemukan bentuk dan bahan yang paling cocok dengan karakter Capo. Dalam diskusi ini juga diungkapkan kalau seri Capo yang dipamerkan sebetulnya masih dalam proses uji coba. Sebagai sebuah prototype, Capo seri ini masih memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan lebih jauh. Hal ini misalkan tercermin dari beraneka ragam desain Capo yang dihasilkan oleh para peserta pameran, sehingga sebagai sebuah custom toy, Capo juga dinilai telah berhasil merangsang kreatifitas yang mencerminkan keragaman ekspresi para pembuatnya, baik dari sisi teknis maupun bentukan ekspresi yang ada.

    Beberapa peserta pameran sepertinya memanfaatkan Capo sebagai wahana untuk mengekspresikan identitas pribadi, sementara ada juga beberapa peserta yang mencurahkan pandangan personal yang terkait dengan berbagai persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Lewat karya mereka, para peserta pameran memang diperkenankan untuk melakukan berbagai bentuk ekplorasi artistik dalam memodifikasi Capo, sesuai dengan aspirasi personal dan pendekatan teknis yang mereka kuasai. Melalui proyek mereka dapat dikatakan NLS/AEWORX telah berhasil memberikan warna bagi perkembangan custom toy di Indonesia.

    * Bagi teman-teman yang tertarik untuk menyaksikan pameran Capo di Yogyakarta silahkan mengunjungi LIP Yogyakarta di Jalan Sagan No. 3. Pameran akan berlangsung sampai tanggal 25 Januari 2008.

     
  • blauloretta 9:39 am on January 18, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Bedah Buku Myself: Scumbag, Beyond Life and Death | Selasar Sunaryo Artspace | 19 Januari 2008 

    Photobucket

    Dalam rangka kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia
    Minor Books bekerjasama dengan Common Room Networks Foundation, Rumah Cemara dan Selasar Sunaryo Art Space menyelenggarakan program bedah buku dan konser musik akustik, “My Self : Scumbag, Beyond Life and Death”. Sebagai bagian dari kampanye budaya toleransi dan kebebasan berekspresi di Indonesia, acara bedah buku ini juga akan menghadirkan beberapa pembicara yang berasal dari latar belakang yang beragam. Selain diskusi dan bedah buku, acara ini juga akan menampilkan Burgerkill, band cadas asal Ujungberung yang akan memainkan musik mereka dalam format akustik dan berkolaborasi dengan Fadly (Padi).

    Pembicara
    1. dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater)
    2. Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum (Ahli sejarah)
    3. Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf)
    4. Andy Fadly (Musisi)
    5. Kimung (Penulis)

    Waktu dan Tempat
    Hari/tanggal: Sabtu/19 Januari 2008
    Waktu: Pk.18.30 – 21.30 WIB
    Tempat: Amphitheataer – Selasar Sunaryo Art Space,
    Jl. Bukit Pakar Timur no.100
    Bandung

    Tempat Pengambilan Undangan
    Cronic Rock
    Jalan Kalimantan No. 11 (Sebelah SMA 3)

    Common Room
    Jl. Kyai Gede Utama No. 8
    Telp. +62.22.250.3404
    http://commonroom.info/

    Selasar Sunaryo Artspace
    Jl. Bukit Pakar Timur no.100
    Telp. +62.22.2507939
    http://www.selasarsunaryo.com/

     
    • kimun666 5:21 am on January 20, 2008 Permalink

      ceuyah anjissssssssssssss!

      maju terus commonroom!!!!!!!!!!!hajar jalanan!

  • blauloretta 7:59 am on January 17, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Terlilit Asa | Burgerkill (Cerahati, 2004) 

    Terlilit Asa oleh Burgerkill (Sony Music, Berkarat, 2004)
    Videoklip oleh Cerahati

     
    • fauzi 8:30 am on January 15, 2009 Permalink

      hay gua uzie…
      gyua tu sukaaaa banxet ma LaGun tErliliT asa

  • blauloretta 7:15 am on January 17, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    KRONIK FILMEDIA MOVIEROADSHOW | KINERUKU | Bandung | 18 – 26 Januari 2008 

    Bandung, 18-26 Januari 2008

    KRONIK FILMEDIA MOVIEROADSHOW merupakan program pemutaran film yang dilaksanakan di 3 kota yaitu Yogyakarta, Bandung, dan Purwokerto. Program ini memutar beberapa film alternatif dari beberapa negara, ditambah dengan program pemutaran film-film dan video hasil karya dari berbagai komunitas film di Bandung, Jakarta dan Semarang.

    Jumat, 18 Januari 2008
    pukul 15.00

    THE TUNNEL
    (Roland Suso Richter, Jerman, 2001, 135 min, VHS)
    Bersetting pasca Perang Dunia II, kisah tentang usaha beberapa warga Jerman Timur menyeberang ke Jerman Barat dengan membangun sebuah terowongan rahasia.

    Sabtu, 19 Januari 2008
    pukul 15.00

    OTESANEK
    (Jan Svankmajer, Ceko, 2000, 127 min, VHS)
    Sepasang suami istri merindukan kehadiran seorang anak. Suatu hari mereka akhirnya mendapatkan anugerah tersebut, yang berasal dari sebuah pohon!

    DE GROT
    (Martin Koolhoven, Belanda, 2001, 90 menit)
    Egon Water, ahli geologi, berteman dengan Axel van der Graaf, pengedar heroin. Pertemanan mereka menyeret Egon ke sebuah pilihan sulit berisiko tinggi.

    Sabtu, 26 Januari 2008
    pukul 15.00

    KOMPILASI VIDEO – OK! VIDEO MILITIA WORKSHOP SEMARANG 2007
    (DVD, didukung oleh ruangrupa)
    Kompilasi video dari sebuah workshop yang diadakan di Semarang, April 2007. Tentang penggambaran kota Semarang dan berbagai masalah yang dihadapinya.
    pukul 16.30

    KOMPILASI FILM PENDEK SEMARANG
    (60 menit, DVD)
    Kompilasi film pendek karya komunitas-komunitas film di Semarang.

    KRONIK FILMEDIA
    Jl. Singosari 2 No 12
    Semarang
    Email: kronikfilmedia@yahoo.com
    Website: kronikfilmedia.blogspot.com

    KINERUKU
    Jl. Hegarmanah 52
    Bandung
    Ph/F: 022.2039615
    Email: kineruku@yahoo.com
    http://www.rumahbuku.info

     
  • blauloretta 4:14 am on January 17, 2008 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Tatto Family | Komik Malaikat 

    Tatoo Family

    ** Silahkan menikmati karya Komik Malaikat yang lainnya di halaman berikut ini.

     
    • denny 3:24 am on November 11, 2008 Permalink

      buku komik – bukuk komik :D

  • blauloretta 12:19 am on January 13, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Ujungberung Update: …never let your friend fighting alone! 

    mbie

    Sore itu akhir tahun 1996. Sore yang cerah. Selesai latihan band di Studio Palapa saya langsung nongkrong dipinggir jalan. Ada Yayat Jasad, Iyang Bangke, Dinan, Ameng, Andris, Bebi, Ivan Scumbag dan beberapa teman yang lainnya. Lagi asik ngobrol ngalor ngidul, sebuah angkot berhenti tepat di depan kami. Andri Kadal turun bersama seseorang yang tidak kami kenal. Menyapa kami semua lalu ikutan nongkrong. Berbagi miras dan rokok. Temannya hanya diam memperhatikan kami. Hanya merokok sambil sesekali tersenyum ketika diantara kami saling melemparkan banyolan.

    Oh enya sori…kenalkeun ieu babaturan urang di komplek”, Andri Kadal baru tersadar saking mabuknya. Teman Andri Kadal bangkit dari jongkok lalu dia menyalami kami satu persatu. “Mbie!”, tangan kanannya erat menjabat tangan saya. Sekilas saya melihat tato motif tribal dipergelangan tangannya. Mirip tato Max Cavalera vokalis Sepultura. Setelah itu dia jongkok di pinggir saya. “Rokok ‘a ?”, Mbie menawari saya rokok. Menyodorkan bungkus garfitnya yang tinggal satu batang. “Oh nuhun, aya!”, jawab saya sambil mengacungkan rokok yang masih menyala. Setelah itu dia kembali terdiam. Asik memperhatikan kami yang tertawa-tawa membahas berbagai hal. Hingga malam menjelang dan jumlah botol kosong di depan kami makin bertambah banyak.

    Itulah awal saya kenal dengan Mbie. Seorang remaja tanggung dengan dandanan lusuh. Dia mengaku baru saja kabur dari sebuah pesantren di jawa timur. Berbekal baju yang melekat dibadan dan beberapa lembar rupiah disaku celananya dia memutuskan untuk cabut dari rumah. Atas jasa baik Yayat Jasad akhirnya Mbie ditampung di studio Palapa. Dari situlah awal Mbie tertarik dengan gitar. Oleh Yayat Jasad Mbie diajari beberapa tehnik dasar bermain gitar metal. Istilahnya grip gantung. Mbie juga serius belajar tentang teknik sound gitar.

    Pada saat itu hampir semua band Ujungberung memakai jasa Mbie sebagai teknisi gitar. Disamping sebagai mata pencaharian menjadi teknisi gitar adalah ajang mencari ilmu. Tak segan Mbie menghabiskan waktu berhari-hari di rumah Ferli Jasad atau Toteng Forgotten. Dengan tekun Mbie mempelajari setiap tehnik baru yang didapatkan dari mereka. Sementara usaha sampingannya yang lain adalah berjualan merchandise dan produk rekaman band Ujungberung. Bersama saya Mbie kerap menghabiskan waktu berkeliling ke setiap tongkrongan di Bandung. Berdagang t-shirt, kaset, fanzine dan foto-foto band. Hingga malam menjelang dan kami kembali terdampar dijalan berbagi selimut kain spanduk.

    Tahun 1998 akhirnya Mbie berhasil membuat band. Personilnya adalah Andi (vokal), Awan (gitar), Mbie (gitar), Rusli (drum) dan Dase (bass). Band pertama Mbie adalah Impure. Band death metal yang banyak terinspirasi dari Napalm Death, Malevolent Creation dan Suffocation. Bersama Impure Mbie banyak menimba pengalaman manggung. Suka duka bermain band kami lewati dengan sepenuh hati. Dalam keseharian itu saya makin kenal dengan sosok Mbie. Mbie yang sangat obsesif dan selalu mempunyai semangat yang menyala-nyala. Disisi lain Mbie adalah sosok yang sangat setia kawan dan mengerti betul makna dan arti sebuah pertemanan. Namun karir bermain band Mbie bersama Impure hanya berjalan beberapa tahun.

    Selepas membubarkan band-nya, Mbie bergabung bersama Jeruji. Posisinya sebagai gitaris mendampingi Useng. Hingga akhirnya posisi Mbie beralih menjadi basist selepas Jeruji ditinggal basistnya. Bersama Jeruji, Mbie makin malang melintang di dunia musik underground. Bagi komunitas Ujungberung Rebels, Mbie adalah salah satu aset yang berharga. Atas jasa Mbie pagelaran Bandung Berisik 3 dapat digelar dengan sukses. Begitu juga dengan semua kegiatan dan rencana kerja Ujungberung rebels. Mbie selalu ikut serta dan memberikan kontribusi yang sangat besar. Pengaruh Mbie pada musikalitas Jeruji juga membawa dampak yang besar. Pasca Mbie masuk komposisi lagu-lagu Jeruji makin bertambah sangar. Bisa disimak pada album “Jeruji” dimana hampir semua komposisi lagu yang terdapat dalam album tersebut adalah garapan Mbie. Boleh dibilang pada album tersebut adalah idealisme-nya Mbie.

    Keputusan Mbie masuk Jeruji sama mengagetkannya ketika dia memutuskan untuk keluar dari Jeruji. Semua orang berpendapat Mbie hengkang dari Jeruji dikarenakan kesibukan dia mengurus lahan bisnisnya. Ada juga yang menyatakan bahwa dia terlibat konflik dengan Themfuck dan personil lainnya. Saya melihatnya berbeda. Semua terlepas dari semua hal itu. Nampaknya Mbie sedang mempersiapkan sesuatu yang besar yang berhubungan dengan karir bermusiknya. Sama halnya ketika dia memutuskan untuk membubarkan band-nya dan masuk Jeruji yang secara teknis sangat jauh berbeda karakter dengan band Impure. Pribadi Mbie memang selalu penuh dengan kejutan.

    Namun semua rencana besarnya harus tertunda ditengah jalan. Tanggal 1 Desember 2007, pukul 1 malam, Mbie ditemukan terkapar disekitar pelataran pinggir jalan Merdeka dalam kondisi mengenaskan. Kepalanya terluka parah hingga membuatnya koma selama hampir tiga minggu diruangan ICU. Pasca operasi besar dikepala untuk mengangkat serpihan tulang tengkoraknya, Mbie mengalami trauma hebat dikepalanya. Memori dalam otak Mbie terganggu sehingga mempengaruhi kinerja sensor motorik yang berhubungan dengan kordinasi gerakan anggota badannya.

    Namun Mbie pantang menyerah. Seperti juga Indah istrinya yang selalu setia mendampingi Mbie. Seperti apapun kondisi Mbie dengan sabar Indah memberi motivasi dan harapan. Indah sangat mengerti dengan semua cita-cita Mbie. Indah juga sangat mengerti tentang makna pengorbanan dan kesetiaan. Seperti juga Mbie yang tidak pernah mengecewakan teman-temannya. Mbie yang selalu ada ketika kita membutuhkan pertolongan. Mbie yang rela berkorban demi semua impian dan harapan teman-temannya.

    Kita semua mengenal Mbie dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kita juga telah sama-sama mengerti tentang makna kesetiaan dan pengorbanan. Pemulihan Mbie pasca operasi membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk untuk berbagi dan memberi. Sebagai “teman”…jangan biarkan Mbie berjuang sendirian! (Addy Gembel)

    ** Bagi teman-teman yang ingin ikut menyumbang untuk proses penyembuhan Mbie, silahkan mengirimkan bantuan ke nomer rekening BCA No. 3461732745, atas sama Indah P.D.

     
    • kimun666 5:01 am on January 13, 2008 Permalink

      koreksi…nu nulisna lain kimung tapi addy gembel…si eta pohoeun nuliskeun penulis hehehehehe….

    • kimun666 5:06 am on January 13, 2008 Permalink

      kl saya ketemu mbie pertama kali di tirtawening. dia masih sd dan baru belajar gitar. tp dia sudah jago! dia kalo ga salah belajar dari arken, salah satu musisi muda paling berbakat di cilengkrang. saat itu dia udah bisa mainin sweet child o mine t baik! kami biasanya nongkrong di tanjakan deket rumah aming. saya juga kenal mbie dari andry kadal.
      sy belum terlalu deket sama mbie waktu itu. sy salut sama bakat musik dia. kami dekat pas mbie sering nongkrong di ujungberung, studio palapa, dan jalanan.
      satu yg selalu saya ingat…setiap puasa hari terakhir…pas menjelang takbiran…langit di barat selalau berwarna jingga…ketika semua orang berkumpul dengan keluarga dan ujungberung sangat sepi…tinggal saya, mbie dan addy gembel yg menikmati saat2 terakhir ramadhan itu…

      AYO BANTU MBIE!!!!!!

    • blauloretta 4:16 am on January 17, 2008 Permalink

      Sip..geus di koreksi ku urang…

  • blauloretta 2:27 pm on January 11, 2008 Permalink | Reply
    Tags:   

    OPEN CALL FOR APPLICATIONS: 5th Asia-Europe Art Camp | Bangkok | 21 – 30 Maret 2008 

    The Asia-Europe Art Camp project is an initiative set up by Asia-Europe Foundation (ASEF) in 2003 focusing on New Media Art. The project aims at developing a platform promoting dialogue for art students, to learn more about each other’s contexts, cultures and get inspired during a week of lectures, workshops and cultural visits.

    As part of the Asia-Europe Art Camp series, this Fifth edition of the camp: RE-VISION BANGKOK|NEW MEDIA ART AND INTERACTIVITY, will gather 20 emerging artists or last year students from various ASEM countries to explore the possibility of connecting new media art practices to the relational aesthetic concept.

    Led and facilitated by a team of Asia-Europe experts, specialised in new media and social art issues, participants will be guided to re-construct small communities in different social and cultural urban spaces in Bangkok during the fieldwork. They will explore potential interaction with all working sites through various new media art practices. In addition, the camp will include an open discussion to the public involving guest speakers from the region.

    DEADLINE: 28 Januari 2008

    For the full information on this open call for applications, please visit the website.

    For more information please contact:
    Azizah Fauziah
    Cultural Exchange Department
    Asia-Europe Foundation (ASEF)
    31 Heng Mui Keng Terrace
    Singapore 119595

    Tel : (65) 6874 9741
    Fax : (65) 6872 1207
    E-mail: azizah.fauziah@asef.org

    This camp is organised in partnership with the School of Fine and Applied Arts of Bangkok University.

     
    • lankara 3:14 am on January 28, 2008 Permalink

      tx buat infonya
      walau aga mepet, tapi kami sudah coba apply

      salam…

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel